Tolstoy dan Cerita-Ceritanya

Saya sering mendorong mahasiswa untuk melakukan giat literasi demi meningkatkan kreatifitas serta memiliki nilai lebih. Tidak berhenti mendorong, saya juga memberi contoh bahwa sebagai dosen, saya terlebih dahulu harus membuktikan diri menulis baik ilmiah dalam bentuk artikel jurnal, buku, serta beberapa karya fiksi.

—— Moh. Irmawan Jauhari

Ada dua cerpen dalam kumpulan cerpen Leo Tolstoy yang akan saya coba sampaikan dan berikan analisis singkat. Pertama adalah Ziarah. Novel ini bercerita tentang dua orang bernama Efim Scheveloff dan Eliyah Bodroff yang memiliki niat beribadah ke Yerusalem. Keduanya terpisah di sebuah kampung kecil yang tengah dilanda masalah. Efim melanjutkan perjalanan dan sampai di Yerusalem, sedangkan Eliyah memilih melayani umat di kampung itu. Uang sakunya untuk ziarah digunakan untuk membantu masyarakat yang ada dan dia tidak pernah sampai ke Yerusalem.

Ketika keduanya pulang, Efim mencari Eliyah karena dia merasa di Yerusalem bertemu dengannya di sana selama tiga kali. Sedangkan Eliyah berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa dia pernah menolong masyarakat yang membuatnya gagal ke Yerusalem. Efim memeroleh gambaran dari masyarakat yang ditemuinya bahwa mereka kini menjadi lebih baik karena pertolongan seorang musafir yang lewat. Efim pun mendapatkan pengalaman ruhani yang luar biasa dari cerita yang dia dengar dari masyarakat dan penglihatannya di tanah suci. Akan halnya Eliyah menemukan makna dari ziarahnya yang gagal ke Yerusalem; dia menjadi lebih merdeka secara jiwani.

Ziarah mencoba melakukan kritik pada masyarakat yang cenderung mati-matian dalam ibadah yang mahdlah ‘murni’ tapi melupakan yang ghayru mahdlah ‘umum; sosial’. Kesalehan ritual yang tidak didukung dan ditopang oleh kesalehan sosial. Betapa banyak umat beragama memahami bahwa dimensi peribadatan cenderung melalui kesalehan ritual. Pada dasarnya pendapat ini benar, akan tetapi perlu keseimbangan agar manusia tidak sekedar menjadi seorang ‘abdun ‘hamba’; dalam perspektif kesalehan spiritual, manusia juga mengemban mandat sebagai khalîfah ‘pengganti’. Keseimbangan konsep ini yang coba diungkap melalui cerpen Ziarah. Bisa saja, kegiatan-kegiatan dalam bentuk kesalehan sosial justru memberikan dan meninggalkan kesan yang lebih mendalam bagi seseorang.

Baca juga:   Dr. Irmawan Jauhari [Alumni-SAA2008]: Sosok Akademisi-cum-Novelis

Kedua adalah Tuhan Mahatahu tapi Dia Menunggu. Cerpen ini bercerita tentang seorang pengusaha bernama Aksenov yang memiliki kegemaran minum alkohol yang difitnah membunuh temannya sendiri. Meskipun dia merasa tidak melakukannya tapi semua bukti mengarah padanya. Dia pun menjalani hukuman selama berpuluh tahun sampai akhirnya si pelaku pembunuhan tersebut satu penjara dengannya. Aksenov memang memiliki dendam yang dalam pada pembunuh tersebut. Namun dengan kesadaran mendalam pada akhirnya dia bisa menerima apa yang sudah terjadi padanya dan berlapang dada atas semuanya. Ketika si pembunuh itu meminta maaf dan berterus terang kepada penjaga penjara, Aksenov terlebih dahulu meninggal di dalam selnya.

Cerpen ini seakan memberikan kisah tragis bagi orang beriman dengan ujian berat yang datang kepadanya. Akan tetapi bukankah dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa manusia tidak dibiarkan sekedar mengaku beriman tanpa pernah diuji terlebih dahulu? Sebagaimana juga emas murni harus melalui beberapa ujian demi mengetahui kualitasnya?

Kedua cerpen tersebut saya kaitkan dengan beberapa pandangan teoritis seperti akidah, revolusi, teologi pembebasan, fikih sosial, hingga postkolonialisme. Buku-buku karangan Hassan Hanafi, Asghar Ali Engineer, Freire, Tan Malaka, dan tokoh semisal, adalah bacaan wajib mahasiswa untuk memompa pengetahuan mereka. Tanpa baca, mahasiswa akan kering dari pandangan teoritis. Tanpa memahami mereka, mahasiswa akan kering dengan kemampuan menganalisis sebuah peristiwa dengan berbasis teori yang dibacanya. Maka dari itu, membaca sangatlah penting. Selain itu, harus ada kepedulian dan keberpihakan kepada kemanusiaan dalam bentuk kesejahteraan sosial. Kepedulian sosial semacam ini sangat baik dan mendasar bila juga dilandasi oleh ajaran-ajaran agama. Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan sosial yang sekadar berpijak pada ideologi rasio manusia semata hanya akan melahirkan nestapa; betapa kita kecewa bagaimana komunisme dan kapitalisme di penghujung abad ke-20 bermufakat dalam menggasak Dunia Ketiga. Padahal lepas PD II, kedua ideologi ciptaan manusia ini terlibat perang dingin dengan negara-negara satelit sebagai korbannya.

Baca juga:   Perjalanan Musafir: Sebuah Novel

Saya sering mendorong mahasiswa untuk melakukan giat literasi demi meningkatkan kreatifitas serta memiliki nilai lebih. Tidak berhenti mendorong, saya juga memberi contoh bahwa sebagai dosen, saya terlebih dahulu harus membuktikan diri menulis baik ilmiah dalam bentuk artikel jurnal, buku, serta beberapa karya fiksi. Saya pun kerap mengajak mahasiswa untuk membuat antologi karya bersama, apapun bentuk tulisan mereka. Namun betapa tidak sedikit mahasiswa yang mengalami kemandegan ide dalam menulis. Ketika mereka bingung untuk menulis apa, dan bertanya bagaimana cara menulis yang baik, saya tegaskan terlebih dahulu untuk merasa butuh baca. Tanpa baca, apa yang akan ditulis? Ibaratnya ketika kita tidak punya beras untuk dimasak, apa yang akan diolah menjadi makanan?

Dalam beberapa kesempatan ketika menjadi fasilitator pelatihan tulis menulis, saya pernah bertanya kepada para peserta, lebih enak mana membaca buku teori dengan buku fiksi? Semua sepakat fiksi dengan berbagai genre. Saya bertanya lagi, lebih enak mana membaca buku dengan melihat film? Mereka juga menjawab lebih enak menonton film. Saya tegaskan bila fiksi dan novel sebenarnya berkaitan dengan buku teori. Tanpa pemahaman yang tuntas mengenai sebuah teori, seorang penulis tidak akan mampu membuat sebuah cerita yang baik. Dan tanpa analisis yang kuat berdasar teori, sebuah film tidak akan memiliki ruh yang kuat untuk menarik para penonton. Saya sebutkan sebuah film berjudul 3 Idiots yang banyak mengandung teori-teori pendidikan dan juga perlawanan terhadap kapitalisasi pendidikan.

Semua melongo dan seperti tidak percaya bahwa sebuah film disusun dari beberapa teori. Dan saya biarkan keterkejutan tersebut dengan menyebutkan beberapa film lain yang berasal dari produsen Indonesia. Oh iya, dalam cerpen Ziarah mungkin bisa menjadi refleksi religius ketika Kementerian Agama memutuskan untuk tidak mengirimkan jamaah haji tahun ini. Sedangkan Tuhan Mahatahu tapi Dia Menunggu, menurut saya, bisa menjadi sebuah alternatif jawaban ketika Prof. H. Fauzan Saleh, Ph.D bulan puasa kemarin mengirimkan tulisan yang cukup menarik dengan judul “Covid-19, Problem Teodisi, dan Sinar terang Iman”. Semoga saja.[MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *