Telusur Islam Kediri (4): Syekh Ihsan-Jampes, Kiai Nyentrik yang Mendunia


Dari berkah tawasul dan riyadhah ini, Allah SWT menganugerahkan hidayah dan mengubah pribadi si Ihsan kecil menjadi sosok cerdas, alim, wira’i (menjauhi dosa-dosa kecil), dan penuh hikmah sebagaimana terpancar dari ucapan dan karya-karya beliau.

Saiful Mujab

Syekh Ihsan bin Dahlan Jampes adalah sosok ulama di Kediri yang karya-karyanya telah mendunia. Kebesaran nama beliau merambah kancah internasional, sampai-sampai Raja Farouk, penguasa Mesir kala itu, sekitar 1934 pernah mengirim utusan khusus ke Dusun Jampes; tujuannya meminta Syekh Ihsan-Jampes berkenan mengajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Syekh Ihsan-Jampes menolak tawaran ini dengan halus.

Karya-karya beliau banyak dibaca dan jadi rujukan di kalangan ulama dunia. Santri mana yang tidak mengenal kitab Sirâj al-Tâlibîn; sebuah kitab tasawuf yang ditulis oleh beliau dan pasti menghiasi daftar kitab-kitab yang dibaca dan dikaji di pesantren-pesantren. Hebatnya lagi kitab ini pernah menjadi menu wajib dalam proses pembelajaran di Universitas Al-Azhar, Mesir. Melalui kitab ini, Syekh Ihsan-Jampes memberi penjelasan ‘syarah’ terhadap kitab Minhaj al-Abidîn karya Imâm al-Ghazâlî.

Syekh Ihsan-Jampes juga melahirkan banyak karya lain, di antaranya adalah Tashrîh al-Ibârat, penjabaran dari kitab Natîjah al-Mîqât karangan KH Ahmad Dahlan; Manâhij al-Amdâd, penjabaran dari kitab Irsyâd al-Ibâd ilâ Sabîli al-Rasyad karya Syekh Zainuddin Al-Malibari (982 H), ulama asal Malabar, India; dan Irsyâd al-Ikhwân fî Syurbat al-Qahwah wa al-Dukhân. Karya yang terakhir ini bacaan wajib bagi mereka yang suka ngudut dan ngopi tapi ingin alim dan wara’ ala Syekh Ihsan-Jampes.      

Syekh Ihsan-Jampes adalah putra pertama dari Kiai Dahlan (Pengasuh Pesantren Jampes). Nama kecil beliau adalah Bakri; sebuah nama yang ternyata diambil oleh ayahnya dari Kiai Bakri-Mangunsari Nganjuk demi menghormati dan memuliakan sang gurunya tersebut. Kopi nama ini juga menyimpan pengharapan baik dari Kiai Dahlan; beliau ingin kelak sang putra alim dan panda seperti Kiai Bakri-Mangunsari. Melihat sosok Syekh Ihsan-Jampes, harapan itu ternyata bukan pepesan kosong. Perlu diketahui bahwa Kiai Dahlan adalah suami dari Nyai Artimah, putri Kiai Sholeh-Banjarmelati, dan juga ayahanda KH. Marzuki Dahlan, salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo.       

Baca juga:   Telusur Islam Kediri (5): Kiai Nawawi dan Pohon Beringin Angker

Syekh Ihsan-Jampes sejak muda dikenal sebagai sosok yang suka berpetualang dan nyantri di pelbagai pesantren di tanah Jawa. Beberapa pesantren yang pernah beliau ‘singgahi’ adalah: Pesantren Bendo-Pare, asuhan Kiai Khozin, paman beliau sendiri; Pesantren Jamsaren Solo; Pesantren Kiai Ahmad Dahlan, Semarang, yang terkenal mumpuni dalam ilmu falak; Pesantren Mangkang Semarang; Pesantren Gondang Legi, Nganjuk; dan Pesantren Demangan Bangkalan, asuhan Syekhona Kholil yang dijuluki ‘gurunya para ulama’.

Selama di pesantren, Syekh Ihsan-Jampes terkenal hobi membaca dan punya kecerdasan di atas rata-rata; beliau sangat gemar melahap buku dan kitab dari pelbagai bahasa. Selain itu beliau juga dikenal sebagai sosok nyentrik karena kebiasaannya yang ‘nyeleneh’ atau, dalam bahasa kekiniannya, anti-meanstream. Bayangkan saja, sebagaimana dilansir Mukti Ali dalam “Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes” (http://nu.or.id), beliau rata-rata tidak lama ngaji di pesantren tapi berhasil menguasai ilmu para gurunya; menguasai Alfiyah ibn Malik dari Kiai Kholil-Bangkalan hanya dalam kurun dua bulan atau ilmu falak dari KH Dahlan hanya dalam hitungan 20 hari. Bagi santri atau mereka yang akrab dengan dunia pesantren, barangkali inilah yang disebut ilmu laduni. Atau bila Anda tidak percaya dengan yang begituan, suka baca plus IQ tinggi bisa jadi penyebabnya—suka-suka Anda-lah bagaimana menafsirkan kejeniusan beliau.

Kebiasaan nyentrik Kiai Ihsan-Jampes tidak cukup di situ. Syahdan beliau merampungkan master piece-nya, Sirâj al-Tâlibîn, sambil menonton film di gedung bioskop Volta di Jalan Pattimura atau dulu dikenal Gedung Bioskop Sentral—sekarang sudah tutup. Beliau juga gemar merokok, minum kopi, nonton pagelaran wayang kulit dan film di gedung bioskop. Tapi dari kegemaran beliau ini, yang mungkin ‘tidak lazim’ dimiliki oleh seorang anak kiai, ternyata lahir karya-karya monumental semisal Sirâj al-Tâlibîn dan al-Qahwah wa al-Dukhân. Jadi teruslah berkarya wahai Anda ahl al-hisab wa al-qahwah.         

Masih menurut Mukti Ali, semasa remaja Syekh Ihsan-Jampes juga terkenal sebagai sosok anak bandel. Bahkan, beliau pernah terlibat dalam perjudian dan keluyuran malam hingga membuat khawatir orang tua-nya. Saking khawatirnya sang ayahanda, Kiai Dahlan sering mengajak si Ihsan kecil untuk berziarah ke makam sang kakek (Kiai Yahuda). Dari berkah tawasul dan riyadhah ini, Allah SWT menganugerahkan hidayah dan mengubah pribadi si Ihsan kecil menjadi sosok cerdas, alim, wira’i (menjauhi dosa-dosa kecil), dan penuh hikmah sebagaimana terpancar dari ucapan dan karya-karya beliau.

Baca juga:   Jejak Monoteisme Jawa

Sebagai ikhtitam, kita bisa belajar dari tulisan singkat ini bahwa di balik kebesaran nama Syekh Ihsan-Jampes, ada doa dan riyadhah dari sang ayah dan bunda. Wallâhu ‘Alam! [MFR]

One thought on “Telusur Islam Kediri (4): Syekh Ihsan-Jampes, Kiai Nyentrik yang Mendunia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *