Perlukah Kita Berkonflik

Konflik membuat kita semakin matang dalam proses pendewasaan sehingga keputusan yang diambil untuk menyelesaikan masalah lebih bijak.

—Indra Latief Syaepu

Kita tentu sering mendengar istilah konflik yang sering diidentikan dengan permusuhan, debat karena beda pendapat, dan juga persaingan. Meskipun persaingan bukan salah satu jenis konflik, tetapi ia bisa memicu konflik apabila terjadi pelanggaran terhadap peraturan yang telah disepakati. Dalam realitas, konflik tidak bisa dihindari. Di mana-mana konflik pasti dijumpai, entah dalam skala kecil maupun besar. Kehidupan manusia seolah-olah tidak bisa lepas dari konflik dan ia bagian dari kebutuhan manusia untuk berinteraksi dan berevolusi (conflict is human needs).

Jika ada pertanyaan perlukah kita berkonflik, maka dalam paradigma masyarakat umum konflik sama sekali tidak ada manfaatnya. Ya, konflik memang berkonotasi negatif, seakan-akan ia tiada faedah. Bagi seseorang yang tidak menguasai teori atau resolusi konflik tidak gampang untuk menjawab pertanyaan semacam itu, begitu sebaliknya. Membaca buku, artikel, jurnal dan sebagainya adalah modal awal untuk bisa memahami watak sejati konflik. Tidak dipungkiri juga bahwa konflik merupakan warisan tradisi manusia; mulai dari kisah putra Nabi Adam dan Siti Hawa (konflik saudara sekandung atau antarindividu) hingga masa kekhalifahan yang melibatkan komunitas (konflik komunal).

Sebetulnya, tidak selamanya konflik mengarah pada ihwal yang destruktif (merusak), tetapi ia bisa juga konstruktif (bermanfaat). Buku-buku banyak mengulas dampak buruk konflik dan jarang sekali menyinggungnya dalam nuansa yang positif. Ini bisa dimaklumi karena biasanya konflik hanya dilihat dari sudut pandang yang sederhana: konflik pasti akan membawa kehancuran atau kerusakan, maka sebisa mungkin harus dihindari. Namun dalam pandangan baru, konflik menjadi suatu kebutuhan manusia. Fakta bahwa konflik ternyata tidak bisa dihindari maka mau tidak mau ia harus diarahkan ke arah yang membangun. Dalam bahasa resolusi konflik, jenis konflik seperti ini dinamakan dengan konflik-fungsional (konstruktif dan membangun), sebagai lawan dari konflik-disfungsional (destruktif atau menghancurkan).

Berikut adalah satu contoh konflik fungsional. Sebut saja konflik terjadi antara kelompok A vs kelompok B. Dalam kondisi konflik seperti ini, biasanya tumbuh rasa solidaritas di antara masing-masing kelompok, menguatkan kekompakan di masing-masing kubu. Tapi ini berlaku jika konflik melibatkan beberapa individu. Lantas, jika konflik terjadi antarindividu maka bagaimana cara mengambil hikmah atau sisi positifnya? Saya yakin pasti selalu ada sisi positif yang bisa diambil, akan tetapi perlu penguasaan diri yang cukup atau dalam bahasa teorinya “managemen konflik”. Namun saya tidak akan menjelaskan secara detail karena pembahasannya bisa panjang sekali. Saya hanya akan menarik garis besarnya saja.

Untuk mempermudah dan terlihat islami, saya akan mengutip QS. Al-Baqarah: 216 “diwajibkan atas kamu berperang, padahal perang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh pula kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah lebih mengetahui sedangkan kamu tidak”. Secara tidak langsung ayat ini hendak mengatakan bahwa Allah SWT tidak pernah menciptakan keburukan atau kesia-siaan karena selalu ada nilai positif (hikmah) di baliknya. Konflik adalah sesuatu yang kebanyakan orang ingin hindari, namun kenapa Allah SWT membiarkan konflik meskipun itu buruk? Jawabannya karena pasti ada hikmah yang bisa dipetik oleh manusia.

Untuk mengetahui hikmah di balik hal ihwal yang negatif, Allah SWT menganugerahi manusia dengan akal supaya bisa mereka pergunakan untuk belajar dan merenungkan segala ciptaan. Artinya, tabir misteri yang terkandung bisa disingkap dengan cara kontemplasi-edukasi yang melibat akal sebagai sumber ilmu pengetahuan kedua setelah wahyu. Proses pembelajaran, penelitian, riset dan pengembangan temuan-temuan di lapangan bisa menjadi pembuka tabir tersebut. Pendayagunaan akal merupakan bagian dari sunnatullah yang wajib bagi manusia sebagai khalifah. Setiap manusia pasti memiliki potensi, dan potensi tersebut wajib digunakan untuk kemaslahatan. Pendayagunaan akal secara maksimal akan menguak takdir baik dan takdir buruk yang telah Allah SWT ciptakan. COVID-19, misalnya, awal mula dianggap sebagai takdir buruk (wabah), tetapi lama-kelamaan pandemi ini membuat sebagian orang mampu mengambil hikmah darinya. Begitu juga dengan konflik: awalnya wajib dihindari tetapi ternyata kemudian diperlukan (konflik-fungsional).

Konflik mendorong kita setidaknya memperluas wawasan (worldview). Pertama, ia menyadarkan kita bahwa permasalahan harus segera dipecahkan, dicarikan solusi bukan dihindari. Kedua, konflik mendorong kita melakukan perubahan dalam diri kita dan melakukan sesuatu yang baru. Ketiga, konflik membuat kita semakin matang dalam proses pendewasaan sehingga keputusan yang diambil untuk menyelesaikan masalah lebih bijak. Keempat, konflik bisa menjadi alat ukur kemampuan kita dalam menghadapi sesuatu sekaligus alat intropeksi dan evaluasi diri. [MFR]

Kisruh di Amerika dan Respons Diaspora Indonesia

Kematian Flyod memobilisasi masyarakat yang sudah muak dengan isu diskriminasi rasial yang telah lama menghantui Negeri Paman Sam, terutama sejak era kepemimpinan Donald Trump.

——Maufur

Demo besar-besaran di Amerika yang kadang disertai dengan aksi penjarahan dan pengrusakan sejumlah fasilitas publik terjadi hampir merata di seluruh negara bagian Amerika. Pemicunya adalah kebrutalan polisi yang makin parah dalam beberapa tahun terakhir ini. Advokasi terhadap isu ini bukan hal yang baru, tetapi emosi publik meledak saat menonton video pembunuhan tragis seorang pemuda kulit hitam, George Flyod, di tangan seorang polisi bernama Derek Chauvin; Flyod meregang nyawa dengan kepala ditindih kaki Derek saat dia diduga melakukan tindakan kriminal (penggunaan uang palsu senilai 20 dollar).

Tak pelak, tagar #WeCan’tBreathe berseliweran di media sosial sebagai bentuk keprihatinan. Alih-alih menenangkan, Presiden Donald Trump memberi komentar yang seolah-olah menyiram bensin pada nyala api yang siap berkobar. Dalam salah satu komentar di akun medsos-nya, Presiden dari Partai Republik ini memanggil para demonstran dengan sebutan ‘thugs’ ‘perusuh’ atau ‘kriminal’; dia juga mengancam akan menurunkan lebih banyak personel keamanan dengan izin tembak di tempat bagi perusuh.

Betul saja, tak berselang lama protes pun membesar dan meluas, terutama dari komunitas kulit hitam. Amuk masa tak terhadang; bentrok polisi dan para demonstran tak terhindarkan. Slogan #BlackLiveMatters kembali berkumandang sebagai bentuk protes terhadap kekerasan dan diskriminasi yang dialami oleh sejumlah warga kulit hitam. Kematian Flyod memobilisasi masyarakat yang sudah muak dengan isu diskriminasi rasial yang telah lama menghantui Negeri Paman Sam, terutama sejak era kepemimpinan Donald Trump.

Saya ingin menyoal bagaimana diaspora Indonesia menyikapi situasi yang demikian. Secara umum, berdasarkan riset kecil-kecilan di sosial media dan diskusi dengan beberapa teman yang tinggal di Amerika, respons diaspora Indonesia terbelah. Hanya saja, saya berfokus pada beberapa respons nyinyir yang menggelitik akal sehat. Argumen dalam tulisan ini berangkat dari dua contoh respons yang saya jaga anonimitasnya di bawah ini. Saya paham betul bahwa kedua kasus ini tidak mewakili suara diaspora Indonesia di sana. Dengan mengulas kedua kasus ini, saya ingin menawarkan refleksi kritis tentang rasisme terselubung (covert racism) yang sering tidak kita sadari.

Tepat di bawah sebuah tautan berita dari FoxNews tentang 50 ATM yang dibakar, seorang diaspora Indonesia mengutuk kejadian itu dan menganggap sebagai kegilaan nirnalar. Dia menyayangkan—dan tentu juga saya sendiri—pembakaran itu. Tapi komentar berikutnya membikin hati ini miris: dia mengatakan bahwa huru-hara itu seharusnya tak terjadi andai setiap orang sadar bahwa hidup mati ada dalam genggaman Tuhan. Bayangan saya bahwa selama ini orang Indonesia yang tinggal di Amerika itu open-minded—jika bukan karena pendidikan, minimal karena tempaan pengalaman tinggal di negara multikultual—jadi ambyar seketika.

Pandangan fatalistik seperti itu seolah hendak mengatakan bahwa Flyod tewas semata-mata takdir Tuhan, maka terimalah dengan lapang dada! Entah apa yang merasuki si pemilik komentar itu. Dia menutup mata bahwa kematian Floyd adalah tidak wajar bahkan bisa digolongkan sebagai pembunuhan—pelakunya pun kini dalam penyelidikan. Dia juga tidak menunjukkan rasa empati terhadap nilai-nilai perjuangan melawan white supremacy yang tengah mewabah sejak era Trump. Bukankah perjuangan mereka itu juga berarti pembelaan terhadap hak-hak kaum minoritas, termasuk orang Indonesia, yang tinggal di sana?

Komentar serupa dijumpai dalam status Facebook dari seorang diaspora Indonesia. Status ini agak panjang dan diawali dengan kalimat klisé soal kebebasan berekspresi dan berpendapat di Amerika Serikat. Tapi seperti komentar pertama, status ini menunjukkan pembelaan terhadap kepolisian. Si penulis menyebut demonstrasi damai telah disusupi para kriminal sehingga berujung kerusuhan, penjarahan, perampokan, bahkan pembunuhan. Dia ingin menunjukkan situasi di sana sudah benar-benar gawat, lawless, anarkis dan penuh teror, seolah-olah akan menjadi akhir dari bangsa besar bernama Amerika.  Sembari memberi puja-puji terhadap kinerja dan kebaikan mayoritas aparat kepolisian di sana, dia menyoal soal desakan ‘defund the police’ yang disuarakan para demonstran. Status ini ditutup dengan menyitir ayat Alquran yang berbunyi: “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,” sebuah kutipan yang indah sekali.

Bagi saya pribadi, status di atas adalah bentuk kegagalan melihat sebuah peristiwa dari perspektif yang lebih luas, malah terkesan menyalahkan pihak korban (blaming the victim).  Jika ditelisik, situasi kisruh yang terjadi saat ini di Amerika Serikat tidak bisa dilepaskan dari diskriminasi rasial yang kerap dialami oleh kelompok minoritas, terutama kulit hitam. Lebih jauh lagi, Achmad Munjid (Kompas, 7/06/2020), mengatakan bahwa ketimpangan ekonomi, konstelasi politik yang kian memanas, dan juga kebijakan Trump yang prorasial tertentu adalah biang keladi di balik peristiwa kisruh ini.

Dilansir dari https://www.washingtonpost (4/06/2020) tingkat kesenjangan ekonomi antara kaum kulit putih dan kulit hitam saat ini berada pada titik terendah seperti pada tahun 1968. Selain itu, masih dari laman yang sama, pandemi COVID-19 menjadi pukulan berat terutama bagi kaum kulit hitam di Amerika Serikat. Jadi, banyak faktor di balik peristiwa ini, bahkan bersifat sistemik karena menyangkut kebijakan pemerintah. Melihatnya hanya dari perspektif kericuhan dan penjarahan terlalu menyederhanakan persoalan.

Semua orang juga tidak memungkiri banyak sekali petugas kepolisian di Amerika yang bekerja secara baik dan profesional. Bahkan beberapa gambar beredar di media sosial bagaimana petugas kepolisian bergandengan tangan dan berpelukan dengan para demonstran. Saya pribadi pernah merasakan keramahan dan kebaikan aparat polisi dalam beberapa kunjungan ke sana. Meski demikian, bukan berarti kita harus menutup mata atas rapor merah aparat kepolisian baik sebagai individu maupun kelembagaan. Dalam pandangan saya, kedua diaspora Indonesia di atas memerlihatkan sikap acuh tak acuh—atau, memang tidak tahu—terhadap fakta tingginya angka kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian.

Laporan Tucker Higgins (CNBC, 4/06/2020) menyebutkan bahwa selama tahun 2019 rata-rata tiga orang per hari tewas akibat kekerasan yang dilakukan kepolisian. Di tahun yang sama, ada sekitar 1000 kasus pembunuhan yang melibatkan petugas kepolisian dan dari angka itu korban terbanyak (24%) berasal dari kaum kulit hitam. Dilaporkan juga bahwa dari total kasus kematian akibat kekerasan berlebihan oleh aparat kepolisian antara 2013-2019, 99% pelaku tidak dikenai sanksi pidana karena  alasan kekebalan yang memenuhi syarat (qualified immunity).  Maka dengan melihat data ini, kita bisa tunjuk jari siapa sebenarnya yang menjadi korban .

Narasi-narasi sumir dari segelintir orang diaspora Indonesia dalam menyikapi kasus Floyd di atas tidak mewakili kecenderungan diaspora Indonesia secara keseluruhan. Beberapa kawan Indonesia yang saat ini berada di sana memiliki sudut pandang berbeda. Sikap mereka menunjukkan empati dan tidak menghakimi, sambil tetap menyuarakan penolakan terhadap segala bentuk diskriminasi rasial dan kekerasan. Saya yakin masih ada banyak lagi orang diaspora Indonesia yang punya sikap sama seperti mereka, baik yang disuarakan maupun hanya disimpan dalam hati karena pelbagai alasan. Wallahu’alam.

Dialog dan Seni Memahami Liyan

Dengan pemahaman empatik, kita dapat membayangkan diri kita sendiri dalam kondisi dan perasaan yang sama. Dengan kata lain, kita harus melihat dari mana orang berasal.

—— Annisa Zuhra

Dalam tradisi Yunani Kuno dipercayai bahwa, andaikan orang mau berdialog maka perdamaian akan tercapai. Di era Yunani Kuno pula, orang-orang Athena belajar retorika (seni berkomunikasi) untuk mengalahkan lawan. Komunikasi tidak dimaksudkan untuk mengubah pikiran tentang suatu hal, tidak untuk memahami pemikiran lawan juga tidak untuk masuk ke dalam sudut pandang lawan. Di sini, wacana yang berkembang dalam dialog sebagian besar kita cenderung agresif.

Pada era itu, Socrates menemukan sebuah teknik dialog yang berbeda dengan teknik yang dikenal oleh mayoritas warga Athena. Socrates menawarkan sebuah teknik bahwa dialog yang benar adalah ketika para penutur harus menjawab dengan lemah lembut, atau lebih tepatnya berdiskusi.

Lebih lanjut, dialog ala Socrates adalah sebuah latihan ruhani yang dirancang untuk menghasilkan perubahan psikologis yang mendalam pada pesertanya. Menurut Socrates, setiap orang dalam ruang dialog harus menyelami kebodohannya sendiri; jadi tidak mungkin ada kalah-menang dalam sebuah dialog.

Sedangkan Plato menggambarkan dialog sebagai meditasi komunal, yang membutuhkan kerja keras, banyak waktu dan kerepotan. Meskipun begitu, dialog tetap bisa dilakukan dengan baik dan penuh kasih. Menurut Plato, dialog akan menjadi sarana bertukar wawasan bila di dalamnya terjadi proses pertukaran pertanyaan dan jawaban dengan iktikad baik dan tanpa kedengkian.

Dalam berdialog, Plato menekankan bahwa setiap orang harus benar-benar meluangkan diri dan membuka pikirannya untuk mendengar perspektif lawan bicara ketika berdialog; mendengar dengan seksama dan simpatik pada ide-ide lawan dialog.

Buddha dan Konfusius juga menerapkan metode diskusi yang sama. Konfusius selalu mengembangkan wawasannya dalam percakapan. Karena menurutnya, kita memerlukan interaksi ramah untuk mencapai kematangan. Konfusius juga setuju dengan pandangan Socrates bahwa dalam berdialog kita dituntut untuk menyerah kepada satu sama lain, bukan memegang secara kaku pendapat kita sendiri.

Dalam the Analects, kita menjumpai metode lain: memarahi murid dengan lemah lembut, mendorong mereka ke batas kemampuan mereka, tetapi tidak pernah mengejek mereka. Di sisi lain, Sang Buddha juga mengajarkan para bikkhunya untuk berkomunikasi dengan baik dan sopan satu sama lain.

Beberapa tokoh di atas telah menunjukkan betapa dialog yang menghargai pihak liyan telah eksis sejak dulu. Namun dewasa ini, kita tumbuh dalam ruang dialog yang kompetitif. Contohnya seperti perdebatan dalam lembaga parlemen, media, akademisi dan pengadilan hukum kita yang pada dasarnya bersifat kompetitif.

Ruang yang kompetitif tidak hanya untuk mencari kebenaran, juga menginginkan kekalahan dan bahkan memperlakukan lawan bicara. Socrates sangat mengecam kebencian dan taktik penggencetan lawan semacam ini.

Mengutip penjelasan Karen Amstrong dalam bukunya Compassion, di dunia kita yang sangat kontroversial, kita perlu mengembangkan bentuk wacana berbelas kasih. Alih-alih mencoba menghantam orang lain untuk menerima sudut pandang kita sendiri, kita mungkin perlu menemukan pertanyaan yang menggiring ke pencerahan pribadi; bukan hanya mengulangi fakta-fakta sebagaimana tampaknya oleh kita.

Kita harus berusaha bertanya pada diri sendiri apakah kita ingin menang berargumen atau mencari kebenaran?

Dan di atas segalanya, kita perlu mendengarkan. Mendengarkan yang sejati berarti lebih dari sekadar mendengar kata-kata yang diucapkan. Kita harus berusaha untuk mendengarkan rasa sakit atau ketakutan yang muncul dalam bahasa tubuh, nada suara, dan pilihan kiasan.

Sejarah menunjukkan bahwa menyerang setiap gerakan fundamentalis, baik secara militer, politik atau melalui media adalah kontraproduktif. Serangan itu hanya akan menyakinkan pengikutnya bahwa musuh mereka benar-benar bertekad untuk menghancurkan mereka.

Jika kita mau menganalisis wacana fundamentalis secermat kita menafsirkan sebuah puisi atau pidato politik yang penting, setiap emosi dan niat yang mendasari sang penyair atau pembicara, rasa takut dan penghinaan ini segera menjadi jelas.

Bahasa didasarkan pada kepercayaan. Kita harus berasumsi, setidaknya pada awalnya, bahwa lawan bicara kita mengucapkan kebenaran dan memberi tahu kita sesuatu yang bernilai. Para ahli bahasa menunjukkan bahwa dalam komunikasi sehari-hari kita kerap mendengar sebuah pernyataan, yang pada awalnya tampaknya aneh atau salah. Dalam situasi seperti ini, menurut mereka, kita akan secara otomatis mencoba menemukan konteks yang masuk akal karena kita ingin mengerti apa yang dikatakan kepada kita.

Kita tentu berupaya untuk memahami sesuatu yang aneh dan asing bagi kita.  Untuk itu, penting bagi kita untuk menganggap bahwa pembicara mempunyai sifat-sifat manusia yang sama seperti kita; walaupun sistem kepercayaan kita mungkin berbeda, kita mempunyai ide yang sama tentang apa yang dianggap sebagai kebenaran.

Donald Davidson, Profesor Filsafat di Universitas California di Berkeley menjelaskan bahwa, upaya untuk mengerti ucapan dan perilaku orang lain -bahkan perilaku mereka yang paling menyimpang—mengharuskan kita untuk menemukan banyak kebenaran dan alasan di dalamnya. Jika kita tidak bisa melakukan seperti itu, kita akan mengabaikan si pembicara dan menganggapnya irasional, tidak masuk akal, dan pada dasarnya tidak manusiawi. Entah suka atau tidak, jika kita ingin memahami orang lain, kita harus menganggap mereka benar dalam kebanyakan hal.

Dengan pemahaman empatik, kita dapat membayangkan diri kita sendiri dalam kondisi dan perasaan yang sama. Dengan kata lain, kita harus melihat dari mana orang berasal. Dengan cara ini, kita dapat memperluas perspektif dan meluangkan tempat untuk yang lain. Namun di sisi lain, prinsip amal juga tak semestinya membuat kita pasif dan pasrah di hadapan ketidakadilan, kekejaman, dan diskriminasi.

Ketika kita berbicara membela nilai-nilai yang kita anggap layak, harus dipastikan bahwa kita memahami konteksnya secara keseluruhan; tidak mengabaikan nilai-nilai lawan sebagai barbar, hanya karena tampak asing bagi kita. Kita mungkin menemukan bahwa kita memiliki nilai-nilai yang sama tetapi mengekspresikannya dengan cara yang sangat berbeda.

Dalam pembahasan ini, kita mencoba membuat diri kita memperhatikan cara berbicara kepada orang lain. Ketika kita berdebat, apakah kita terhanyut oleh kepintaran diri sendiri dan sengaja menimbulkan rasa sakit kepada lawan? Apakah argumen kita bertujuan mengembangkan pemahaman lebih lanjut atau memperburuk situasi yang sudah memanas? Apakah kita benar-benar mendengarkan lawan bicara dengan hati terbuka?

Dan sebelum kita memulai sebuah argumen, mari tanyakan dan jujur pada diri sendiri, apakah kita siap untuk mengubah pikiran kita?[MFR]

Ibu Bukanlah Ratu

Mengenal manusia sebagai dirinya sendiri, tanpa sekat-sekat yang menjerat, sangat penting untuk dilakukan. Bukan karena tak mau menghormati, tetapi untuk menyadari bahwa semua orang mengalami fase transisi. Hormati dan hargai tiap fase itu hingga kita akhirnya tahu, ibu tak selalu menjadi ratu.

—–Fitri Handayani

Hari ini, untuk ke sekian kalinya, Fitri terlibat konflik dengan ibunya. Ini adalah konflik panjang yang pasti akan menguras banyak tenaga jika harus diceritakan detailnya. Ibu dan anak ini sudah terlalu sering bertengkar; ada saja yang menjadi bahan bakarnya. Tiap kali pertengkaran terjadi, sang ibu selalu menimpakan kesalahan pada Fitri. Ibu juga tampak mudah saja menimpakan kesalahan pada adik-adik Fitri; dalam segala kondisi, ibu tak pernah salah; selalu anak-anaknya.

Meski begitu, kisah nyata ini tak hendak membahas cerita tentang konfliknya, tetapi justru ingin mendalami dinamika relasi anak yang sudah dewasa dengan orangtuanya. Jatuh-bangun dan pahit-manis dinamika hubungan orangtua—anak adalah masalah universal yang harus dihadapi oleh semua orang. Suka atau tak suka. Cepat ataupun lambat. Setidaknya, tulisan ini adalah analisis dari sudut pandang atas keadaan yang dialami oleh Fitri.

Pola asuh kebanyakan orangtua seringkali hanya meneruskan warisan nilai-nilai dari orangtua mereka sebelumnya. Padahal belum tentu pola asuh itu adalah pola terbaik untuk tumbuh kembang anaknya, yang masing-masingnya unik dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sayangnya, pola asuh ala “warisan” itu berlangsung dari generasi ke generasi. Termasuk pada kita saat kebagian giliran menjadi orangtua.

Belum lagi kalau ternyata pola-pola tersebut meninggalkan trauma. Belitan trauma akibat pola asuh masa kecil bisa mencengkeram seseorang meski usianya sudah lanjut. Tak pernah benar-benar selesai. Mungkin itu pula yang terjadi pada ibu Fitri. Sejak kecil, Fitri adalah tipe anak yang frontal, lebih suka speak up daripada memendam rasa; sangat vokal menyuarakan kehendak. Hal ini tentu bertentangan dengan pola asuh orangtuanya yang diktator, yang memaksa anak untuk menurut meski tak rela.

Tak jarang, deraan siksa fisik dialamatkan ke tubuh Fitri dan adik-adiknya jika mereka dianggap bersalah. Apa saja yang sedang nampak di pandangan, bisa rotan kemoceng, gayung, selang, semua sudah pernah kami rasakan sakit dan perihnya. Fitri menginginkan dialog, orangtuanya inginnya menekan. Maka begitu Fitri merasa menemukan seseorang yang dia rasa bisa memerdekakannya, dia tak ragu untuk memutuskan menikah di usia muda, 22 tahun. “Lari” dari kungkungan orang tua.

Hidup rumah tangga Fitri tak pernah mudah, tapi dia merdeka. Fitri merasa benar-benar bisa menjadi dirinya sendiri, berkompromi dalam banyak hal, meski kadang tak memungkiri banyak pertengkaran.  Fitri dan suami adalah pribadi yang sama-sama kuat. Tapi Fitri bebas, tak lagi merasa tertekan.  Di rumah tangganya itu, Fitri bisa berdiskusi apa saja, bertengkar tentang apa saja tanpa merasa terintimidasi karena apapun yang terjadi, Fitri merasa tetap dimanusiakan.

Aspek lainnya lagi adalah kejujuran yang utuh dan lengkap dalam relasi orangtua dan anak. Seringkali, karena takut sekali dicap sebagai anak durhaka, tekanan normatif dari lingkungan, dsb, kita, para anak, memilih untuk tidak terbuka seratus persen pada orangtua. Akibatnya, sebagai anak kita tetap tidak bisa menunjukkan otentisitas sebagai individu, dan orangtua pun terus ‘terperangkap’ dalam ilusi bahwa anaknya, mau berapa pun usianya sekarang, bahkan ketika uban sudah mulai menghiasi kepalanya, tetaplah Gendhuk dan Thole yang harus terus menerus dikendalikan, dipaksa menuruti kehendak dan terus menerus diawasi.

Padahal ketika anaknya punya masalah berat, orang tua cenderung abai; tak mengulurkan tangan, tak memberi solusi untuk membantu kesulitan, malah memberi masalah baru. Padahal jika tak bisa membantu, orang tua cukup diam dan mendoakan saja, itu lebih dari cukup. Fitri, sebagaimana juga banyak anak lainnya, pasti tak ingin orangtuanya terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangganya. Terlebih tentang keputusan-keputusan yang sifatnya besar dan pribadi.

Pagi tadi, usai pertengkaran hebat itu, Fitri menyadari; relasi hubungannya dengan ibu mengalami pergeseran; perubahan peran “anak” dan peran “orang tua” menuju individu-individu yang real, sejajar, dan apa adanya.

Kita jarang atau bahkan tak pernah mengenal orangtua kita sebagai manusia per se. Tentang sosok ibu sebagai manusia biasa, yang terikat embel-embel sebagai sosok yang mengandung kita, menyusui kita, melindungi kita, dsb. Sebaliknya, orangtua kita pun jarang, bahkan mungkin tak pernah, mengenal anak-anaknya sebagai manusia saja, bukan properti yang menyejukkan mata, sosok yang saleh/saleha, yang berguna bagi nusa dan bangsa, dst. Semua predikat tadi memang terdengar luhur dan mulia, tapi juga membius, melenakan dan membebani jika kita terus terjebak di dalamnya.

“Saya ini anak yang besar di luar rumah,” begitu kata Fitri tiap kali dia berusaha menguatkan dirinya sendiri. Nyatanya memang begitu. Sebagai anak yang dikenal paling cuek di antara tiga bersaudara, Fitri memang menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Segala macam kegiatan di luar rumah dia ikuti. Mulai dari menjadi bagian dari remaja masjid, kelompok ilmiah remaja, pencak silat, menari, OSIS, bermusik dan nyanyi, dkk. Fitri serius menekuni hampir semua kegiatan yang dia ikuti, utamanya menyanyi, hingga seringkali dia punya uang sendiri atas hasil menyanyi di berbagai kesempatan.

Semua itu dia lakukan untuk mengambil jarak dengan orangtua. Fitri merasa nyaman berada di luar rumah, jauh dari orang tuanya. Di luar rumah, Fitri mendapatkan apresiasi atas prestasi dan pencapaian yang ia peroleh. Sementara di rumah, ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali orang tuanya memuji. Fitri justru akrab dengan berbagai cercaan dan kata-kata kasar karena dianggap tak cukup membuat bangga orangtua. Di rumah, Fitri dianggap pemalas sebab tak menyapu rumah, tak cuci piring, dst.

Selama bertahun-tahun, banyak jawaban dan alasan yang sudah ia renungi. Namun hari ini, renungan itu kian menggenap. Fitri sepertinya sadar, konflik yang seringkali pecah dengan sang ibu semata-mata terjadi karena ia belum mengenal ibunya (bapaknya sudah lama wafat) sebagai manusia —titik. Dan yang paling menyakitkan adalah, setiap kali Fitri ingin mengenal sang ibu, dia selalu terbentur dengan tembok tebal yang diciptakan oleh aneka peran yang dimainkan ibu dalam hidupnya. Ditambah lagi dengan tameng dari posisi Fitri sebagai anaknya.

Selama Fitri hidup, dia hanya mengenal perempuan yang telah melahirkannya itu sebagai ibu. Fitri tidak kenal perempuan itu sebagai sosok dengan nama lain. Dan sebaliknya, Fitri pun merindu dan meradang untuk ia kenali sebagai manusia—saja. Bukan semata sebagai anak sulungnya yang hobi menulis dan menyanyi. Fitri ingin dilihat ibu dengan apresiasi atas segala tingkah-polahnya yang juga sudah bertransisi menjadi perempuan dewasa, lengkap dengan segala konflik, jatuh bangun dengan trial and error dan pertentangan batin yang turut menyertai proses tersebut. Dalam empat puluh enam tahun mereka berinteraksi, keduanya belum sempat menanggalkan topeng-topeng sebagai ibu dan anak, saling bergandeng tangan, berpelukan atau sekadar mengerti satu sama lain sebagai dua individu yang otentik, yang sejajar, yang real. Mereka belum bertransisi dari ibu dan anak menjadi manusia dan manusia, dengan segala kurang dan lebihnya.

Usai perenungan ini, Fitri meneguhkan tekad dalam diri, persembahan terbaik yang kelak bisa dia berikan bagi anaknya dan manusia di sekelilingnya adalah dikenali sebagai manusia. Mungkin tak selamanya berujung indah, tapi mengakui otentisitas antarjiwa sebagai manusia adalah satu-satunya jembatan antarhati yang tulus dan jujur. Hanya dengan demikian kita benar-benar tahu rasanya “dihargai”. Dan sungguh, itu adalah pengalaman yang nyaris punah, yang dia sendiri hingga kini masih berjuang mendapatkannya dari sang ibu.

Selama ibu dan anak masih bersembunyi dan terperangkap dalam topeng-topeng peran, selama itu pulalah interaksi yang terjadi hanya sebatas kewajiban dan tampak indah di permukaan. Hanya terjadi karena kondisi mengharuskan demikian. Seiring berjalannya waktu, bisa saja merasakan cinta, kedamaian, keindahan, dan perasaan positif lainnya. Namun ada sesuatu yang lebih dari itu semua.

Fitri, dan barangkali kita semua, tak tahu apakah hingga maut menjemput nanti, dia dan ibu masih memiliki kesempatan untuk dapat menanggalkan tembok-tembok peran dan bertransisi menjadi manusia saja, tanpa tembok-tembok itu lagi. Sungguh dia tak tahu sebab untuk ini, diperlukan kemauan dan usaha dari kedua belah pihak. Sementara ibu selalu menganggapnya dan adik-adiknya adalah anak-anak yang tak tahu diri. Ibu sanggup dan punya segudang koleksi cercaan untuk merendahkan mereka hingga ke titik nadir kemanusiaan jika mereka berselisih pendapat.

Mengenal manusia sebagai dirinya sendiri, tanpa sekat-sekat yang menjerat, sangat penting untuk dilakukan. Bukan karena tak mau menghormati, tetapi untuk menyadari bahwa semua orang mengalami fase transisi. Hormati dan hargai tiap fase itu hingga kita akhirnya tahu, ibu tak selalu menjadi ratu.[MFR]