Lagu Aisyah dan Priska yang Katolik

Kalau narasi-narasi tentang Islam hanya disampaikan melalui artikel-artikel atau khotbah di masjid-masjid, maka itu tidak akan sampai ke generasi milenial muslim yang mungkin tidak menjangkau media tersebut. Apalagi generasi milenial yang non-muslim, hampir bisa dipastikan tidak akan sampai.

Habib Jafar

Sering sekali kita mendengar ungkapan, “Dalam Hukum Islam, Musik itu Haram”. Para ulama dan ustaz juga sering kita dengar membawakan topik ini dalam ceramah-ceramah mereka. Apa benar musik itu haram dalam kacamata Islam? Banyak sekali pendapat ulama mengenai hal ini; sebagian ulama mengatakan musik itu haram dan sebagian lagi mengatakan tidak apa-apa. Sampai hari ini urusan musik ini pun masih menjadi khilafiah di kalangan ulama. Masing-masing memiliki dalil untuk pendapatnya. Sebenarnya bukan topik mengenai halal atau haram yang ingin saya tuangkan dalam tulisan ini, karena sudah banyak sekali artikel yang membahas mengenai hal ini. Saya mau melihat dari perspektif yang lain.

Saya pernah menonton sebuah video di Youtube yang dirilis pada 17 April 2020 pada channel milik Habib Jafar, yaitu “Jeda Nulis”. Isinya adalah wawancara Habib Jafar dengan seorang non-muslim bernama Priska Baru Segu yang berasal dari Ende, Nusa Tenggara Timur. Dia adalah seorang stand up commedian atau lebih dikenal dengan istilah komika. Yang unik dari wawancara ini, ternyata Priska hapal lagu “Aisyah Istri Rasullullah”, lagu yang diciptakan oleh Razif bin Zainuddin, personil Projector Band dari negeri jiran Malaysia. Lagu ini begitu poluler, sehingga banyak sekali artis yang me-cover lagu tersebut.

Habib Jafar mengajukan pertanyaan, “Kenapa kamu tau-tau bisa hapal lagu Aisyah?” padahal Priska beragama Katolik. Dan Priska menjawab dengan mantap Insya Allah, hapal deh”. “Wow,…mantap,” demikian Habib Jafar mengomentari jawaban Priska yang menggunakan istilah ‘Insya Allah’ pada jawabannya.

Wawancara ini dilakukan Habib Jafar setelah sebelumnya beliau shooting bersama Priska ini dalam acara “Bincang Ramadan”, di mana Priska menjadi host dan Habib Jafar menjadi narasumbernya. Ini membuat Habib Jafar terkejut, karena menurut dia, belum pernah ada acara seperti itu, di mana host-nya adalah seorang non-muslim, ditambah lagi di saat break, Priska ini menyanyikan lagu “Aisyah Istri Rasulullah” dengan lancar. Ini yang membuat seorang Habib Jafar penasaran dan akhirnya membuat video wawancara tersebut.

Habib Jafar menjelaskan bahwa lagu tersebut dibuat pengarangnya karena mengikuti trend saat ini, yaitu keromantisan; banyak sekali kaum muda menggemari hal-hal yang romantis, seperti halnya drama Korea yang sangat digandrungi di tanah air karena penikmatnya dibawa naik turun emosinya. Pangsa pasar yang dituju memang kaum muda atau lebih dikenal dengan istilah milenial. Di Youtube sendiri lagu ini sangat booming dan pernah satu ketika 13 trending Youtube di Indonesia adalah tentang cover lagu ini seperti yang dinyanyikan oleh Nisa Sabyan, Sakir Daulay, Aya Ibrahim dan lain-lain.

Fakta tersebut jelas menunjukkan efektivitas terhadap sasaran yang akan dituju, yaitu kaum muda. Jangankan kaum muda muslim, bahkan yang non-muslim seperti Priska pun terpengaruh dengan tren lagu yang sempat viral tersebut. Dan saking kepo-nya, Priska ini browsing di Google untuk mencari tau segala sesuatu tentang sosok Sayyida Aisyah sebagai istri Rasulullah. Di sana Priska mengetahui bahwa istri Nabi ada 11 orang. Yang pertama adalah Sayyida Siti Khadijah dan yang kedua Sayyida Aisyah dan seterusnya.

Hal ini membuktian bahwa dakwah melalui lagu “Aisyah Istri Rasulullah” ini sangat efektif membuat seorang Priska yang notabene beragama Katolik mau mencari tahu informasi mengenai Nabi Muhammad SAW dan istri-istrinya. Terlepas apakah nantinya Priska ini mendapat hidayah atau tidak, minimal dia mendapatkan informasi yang benar mengenai Nabi Muhammad dan istri-istrinya, bagaimana karakter nabi, mengapa istri nabi sampai 11 orang dan lain sebagainya.

Pengakuan Priska dalam video itu menjelaskan bahwa dia baru tahu ternyata Nabi Muhammad SAW itu juga merupakan sosok yang romantis; beliau juga main lari-lari dan mencubit hidung istri juga seperti yang dijelaskan dalam lirik lagu tersebut. Sebelumnya, yang ada dalam pikiran Priska, Nabi Muhammad adalah pemimpin agama dengan sosok yang serius, seram, galak, suka berperang dan lain-lain.

Di video tersebut Habib Jafar juga menjelaskan kenapa media dia berdakwah salah satunya menggunakan media Youtube. Menurutnya, kalau narasi-narasi tentang Islam hanya disampaikan melalui artikel-artikel atau khotbah di masjid-masjid, maka itu tidak akan sampai ke generasi milenial muslim yang mungkin tidak menjangkau media tersebut. Apalagi generasi milenial yang non-muslim, hampir bisa dipastikan tidak akan sampai.

Jadi, umat muslim sudah seharusnya mengembangkan atau meluaskan jangkauan dakwah-dakwah Islam; dengan salah satunya adalah melalui musik/lagu dan menggunakan bahasa yang bisa dipahami generasi milenial. Caranya pun dengan menggunakan media-media saat ini, seperti sosial media yang memang saat ini hampir digunakan oleh semua kalangan.

Sudah bukan saatnya sekarang kita masih mempertentangkan apakah musik haram atau tidak, that’s so yesterday. Bagi kalangan yang masih mengatakan musik itu haram karena musik membuat orang lupa akan Tuhan, sebaiknya bisa bersikap lebih fleksibel. Kalau memang dikuatirkan musik akan menjauhkan kita dari Tuhan, maka marilah kita membuat musik atau lagu yang membuat kita ingat akan Tuhan, bukan malah mengharamkan musiknya. Sama halnya seperti pisau yang bisa dipakai untuk membunuh atau melukai orang lain, mari kita buat pisau itu berguna untuk hal positif, bukan jadi pisaunya yang diharamkan, tapi temukan cara agar pisau itu bermanfaat.

Seperti halnya Priska tadi, karena dia mendengar lagu “Aisyah Istri Rasulullah”, maka timbul keingintahuannya dan dia mencari serta membaca sumber-sumber lain. Dan hal tersebut akhirnya menghapus persangkaan Priska bahwa Nabi Muhammad SAW beristri banyak itu karena nafsu. Justru menurutnya, Nabi banyak menikahi janda-janda tua dengan tujuan menolong dan memuliakan, bukan karena nafsu.

Setelah menjelaskan kepada Habib Jafar, Priska mengaku jadi lebih mengenal sosok Nabi Muhammad SAW yang selama ini didengar bertolak belakang dengan apa yang dibacanya. Walaupun dia mengatakan, bahwa keimanan Katolik-nya belum tergoyang dengan membaca itu semua, minimal dia sudah mengetahui informasi mengenai Islam yang benar, itu yang terpenting. Karena memang dakwah itu seharusnya bertujuan memberikan informasi yang benar, bukan mengislamkan orang lain. Memberi hidayah itu bukan tugas dari pendakwah, itu adalah hak prerogatif Tuhan, demikian Habib Jafar menjelaskan.[MFR]

Tadabur Bencana lewat Lirik Ebiet G. Ade

Sumber Foto: http://lokadata.id

“Ada satu hal menarik dari lagu-lagu ciptaan musisi yang lahir dari romantisme Malioboro ini, yaitu liriknya yang memiliki makna spiritual dan relasional. Maksud dari relasional adalah bahwa lagunya berisi ajakan bagi para pendengarnya untuk merenung dan berpikir lebih dalam.”

Sosok Ebiet G. Ade mungkin tidak begitu dikenal oleh generasi milenial. Tetapi, bagi generasi yang lahir sebelum era reformasi, Ebiet adalah musisi yang legendaris. Kedahsyatan lirik dan kekhasan suara yang dilantunkan oleh Ebiet tak dapat diragukan lagi.

Sebagai generasi yang lahir di tahun 90-an, saya pertama kali mengenal sosok Ebiet dari lagu Berita Kepada Kawan. Tepatnya pada 2006 silam, ketika sedang marak pemilihan dai cilik (pildacil) untuk sebuah kontes. Singkat cerita, saya tampil dengan naskah ceramah yang dibuat oleh ibu saya. Naskah itu berisi kutipan dari lagu Ebiet, “mungkin Tuhan mulai bosan…,”. Bisa jadi karena barokah lagu Ebiet, saya memperoleh juara satu.

Itulah kisah pertama saya berkenalan dengan sosok yang bernama lengkap Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far ini. Setelah itu, saya mulai akrab dengan lagu-lagunya, selain karena keunikan pembawaannya, lirik lagu musisi asal Banjarnegara itu sungguh menggugah hati nurani.

Ada satu hal menarik dari lagu-lagu ciptaan musisi yang lahir dari romantisme Malioboro, yaitu liriknya yang memiliki makna spiritual dan relasional. Maksud dari relasional adalah bahwa lagunya berisi ajakan bagi para pendengarnya untuk merenung dan berpikir lebih dalam.

Nah, dalam situasi ini, lagu-lagu Ebiet G. Ade dapat menjadi salah satu playlist musik kita untuk menemani bekerja dan belajar di rumah. Berikut beberapa lagu yang maknanya sangat berkaitan dengan kondisi sekarang.

Berita Kepada Kawan

Lagu ini diciptakan 40 tahun yang lalu sebagai respons kesedihan atas meletusnya kawah Sinila di Dieng, Jawa Tengah yang memakan banyak korban. Meski demikian, lagu ini terus hidup dan dinyanyikan dari masa ke masa,. Boleh dikatakan, lagu ini adalah salah satu masterpiece dari Ebiet G. Ade.

Lagu yang masuk dalam album “Aku Ingin Pulang” ini kembali diputar di tahun 2004 ketika Tsunami menerjang Aceh. Lagu ini juga kerap dimunculkan untuk menguatkan dan membuka ruang refleksi kita dalam menghadapi bencana, termasuk wabah covid-19 yang melanda dunia hari-hari ini.

Sesampainya di laut kukabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak kepada matahari
Tetapi semua diam tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit

Awal Maret lalu, ketika covid-19 masuk ke Indonesia, kita semua panik, takut dan juga bingung. Apa yang harus dilakukan? Kemudian kita bertanya, mengapa semua ini terjadi? “Mengapa di tanahku terjadi bencana”.

Puncak dari lagu ini adalah mengajak kita berefleksi pada dua hal. Pertama, mengoreksi hubungan kita dengan Tuhan. Kedua, melihat kembali relasi kita dengan alam. Sungguh menakjubkan, bukan? Lirik ini seakan mengkritik kehidupan kita di tengah perkembangan teknologi yang kian menjadi.

Manusia modern semakin jauh dari nilai-nilai spiritualitas, tergerus oleh kesombongan materialistik yang mengakibatkan rusaknya alam raya. Pilihan kata yang dikemas oleh sahabat karib Emha Ainun Najib ini luar biasa. Coba tanyakan pada rumput yang bergoyang. Saat ini, imaji kita tentang rumput yang bergoyang mungkin tergantikan dengan kokohnya bangunan pencakar langit.

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Masih Ada Waktu

Selain lagu Berita Kepada Kawan, lagu Masih Ada Waktu juga mengajak kita untuk melihat dimensi spiritual dan mengasah kepekaan diri. Lagu yang diciptakan tahun 1988 ini mempunyai makna yang universal.

Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu
Entah sampai kapan tak ada yang bakal dapat menghitung
Hanya atas kasih-Nya, hanya atas kehendak-Nya
Kita masih bertemu matahari
Kepada rumput ilalang, kepada bintang gemintang
Kita dapat mencoba meminjam catatan-Nya

Membaca bait tersebut, mengingatkan kita untuk selalu bersyukur. Bahkan karena setiap pagi kita masih dapat melihat mentari, ini adalah wujud kenikmatan yang layak disyukuri. Lagu ini bisa menjadi teman ‘ber-jemuran’ di pagi hari. Seraya menikmati mentari, kita juga bersyukur atas limpahan kesehatan yang diberikan hingga detik ini. Entah sampai kapan, tak ada yang tahu.

Untuk Kita Renungkan

Lagu ketiga ini juga dapat menjadi bahan refleksi kita di tengah pandemi. Sebagaimana judulnya, mari kita renungkan lirik berikut.

Tengoklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat
Anugerah dan bencana adalah kehendakNya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar
Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat
Bahwa kita mesti banyak berbenah
Memang, bila kita kaji lebih jauh
Dalam kekalutan, masih banyak tangan
Yang tega berbuat nista… oh

Lagu ini meneguhkan kepada kita bahwa bencana yang terjadi adalah semata kehendak Tuhan. Ebiet menegaskan bahwa bencana itu bukan hukuman, melainkan tanda agar kita mau berbenah diri. Seringkali pola pikir kita melihat bencana adalah azab dari Tuhan. Alhasil, kita akan sibuk mencari siapa oknum yang patut disalahkan dari bencana yang ada.

Oleh karena itu, sudah selayaknya kita berbenah selama masa karantina ini. Apa saja yang kita refleksikan selama pandemi dan apa komitmen kita pascawabah ini. Setidaknya lagu-lagu Ebiet di atas dapat membuka mata hati kita untuk memaknai kehidupan. Selain rajin membaca kitab suci di bulan Ramadan, dapat dibarengi dengan mendengarkan untaian hikmah lagu Ebiet G. Ade agar imun kita semakin kuat dan iman tetap diruwat.