Sabyan dan Jerat Fanatisme Arab

Sumber Foto: https://akurat.co/hiburan

Ada banyak orang Islam yang percaya bahwa agama ini identik dengan Arab, sehingga segala hal yang ada bau-bau Arabnya pasti dikira Islami, termasuk lagu patah hati tadi. Kejengkelan si penyanyi di lagu itu dianggap sebagai sesuatu yang Islami sebab ia disampaikan dengan bahasa Arab, bahasa yang diyakini digunakan pula oleh para nabi.

Belum lama ini publik digemparkan dengan ramai pemberitaan soal grup gambus Sabyan yang disebut melakukan blunder besar lantaran membawakan lagu yang tak bertema religi ketika tampil di sebuah acara Ramadan di salah satu stasiun televisi nasional. Alih-alih mendendangkan lagu bertema Ramadan atau sejenisnya, grup yang digawangi oleh Nisa dan beberapa temannya yang tak terlalu terkenal itu memilih menyenandungkan lagu patah hati berjudul “Ya Tabtab” milik Nancy Ajram, penyanyi pop Arab asal Lebanon.

Tak ada yang salah sebenarnya dari pilihan lagu ini, sebab hingga acara selesai pun, tak tampak teguran atau protes dari orang-orang yang ada di lokasi syuting. Bahkan ustaz yang duduk tak jauh dari lokasi tampak manggut-manggut menikmati alunan lagu yang sedang dinyanyikan. Terlebih, meski bertemakan patah hati, lagu ini berbahasa Arab, sehingga tampak seolah Islami. Okelah, tak ada masalah.

Teguran –atau lebih tepat disebut sentilan— baru muncul beberapa saat kemudian di jagat Twitter. Saya melihat sentilan ini pertama kali dari akun milik Iman Brotoseno di @imanbr. “Nisa Sabyan menyanyikan lagu Ya Tabtab dalam acara Syair Ramadhan. Apakah lagu berbahasa Arab pasti berkaitan dengan Islam?” tulisnya. “Itu lagu penyanyi Lebanon, Nancy Ajram, seorang Arab Kristen. Lagu tentang perempuan yang ngambek dan kesal sama pacarnya,” lanjut dia menjelaskan.

Seketika, warga di negeri twitter berkicau ramai membahas insiden ini; ada yang menyalahkan Sabyan lantaran tak cermat memilih lagu, namun ada pula yang mendukung kelompok gambus ini sebab yakin mereka tak melakukan kesalahan. Memangnya kenapa kalau Sabyan membawakan lagu bertema patah hati di acara religi? Bukankah patah hati juga memiliki dimensi religi sebab ia justru sangat bisa mendekatkan kita pada Sang ilahi? Lagipula, lagunya menggunakan bahasa Arab, kok! Sirik amat.

Nah, ini masalahnya. Ada banyak orang Islam yang percaya bahwa agama ini identik dengan Arab, sehingga segala hal yang ada bau-bau Arabnya pasti dikira Islami, termasuk lagu patah hati tadi. Kejengkelan si penyanyi di lagu itu dianggap sebagai sesuatu yang Islami sebab ia disampaikan dengan bahasa Arab, bahasa yang diyakini digunakan pula oleh para nabi.

Ganti Wadah

Perdebatan soal kaitan antara Islam dan Arab sesungguhnya adalah hal yang sudah sangat membosankan. Tema ini diulang berkali-kali seolah tak akan pernah tahu kapan semua ini akan berhenti. Yang kita tahu, perdebatan terkait tema ini melahirkan retakan besar di tubuh umat Islam Indonesia, dan barangkali di banyak negara lainnya. Sebagian kelompok percaya bahwa Islam harus dijalankan secara kaffah atau menyeluruh. Artinya, tak boleh setengah-setengah; hanya mengambil ajarannya tapi meninggalkan budaya yang membentuk ajaran tersebut; Arab.

Kelompok ini cenderung menempatkan bokongnya pada sudut tekstual. Mereka melekatkan keimanan hanya pada teks-teks agama berupa Alquran dan hadis yang diyakini telah berisi panduan lengkap dalam menjalani hidup; mulai bangun tidur hingga nanti tidur lagi. Kelompok ini cenderung anti terhadap penafsiran teks agama sebab teks-teks tersebut bersifat ta’abudi; harus ditaati begitu saja.

Kecintaan kelompok ini terhadap teks-teks agama yang kebetulan berbahasa Arab tentu berimplikasi pada kecenderungan untuk mencintai pula segala hal yang berbau Arab. Karenanya tak heran, kelompok pemuja Arab ini menolak keras segala hal yang tak berbau Arab, salah satunya adalah konsep Islam Nusantara. “Apa-apaan ini, Islam kok Nusantara segala. Tak ada dasarnya itu!” begitu kira-kira reaksi mereka tiap kali mendengar upaya pribumisasi Islam.

Di sisi lain, ada pula kelompok yang percaya bahwa Islam tak sekaku yang dibayangkan kelompok pertama. Bagi kelompok ini, Islam tak sama dengan Arab; mereka bahkan cenderung menolak segala bentuk Arabisasi Islam. Bahwa Islam berasal dari Arab, iya; tetapi ini tak serta merta berarti bahwa Islam harus Arab. Sebabnya, Islam tak hanya dihidupi oleh orang-orang Arab, tetapi juga orang-orang dari berbagai latar belakang; yang tentunya memiliki tantangannya masing-masing.

Memaksakan untuk menampilkan Islam dengan wajah Arab justru akan mematikan agama paling bontot di urutan agama Abrahamik ini. Itu sebabnya, kelompok kedua menawarkan untuk melakukan pribumisasi Islam. Yakni upaya untuk membumikan ajaran Islam agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Karenanya, pribumisasi Islam tak berarti mengubah ajaran inti dari Islam, tetapi melakukan kontekstualisasi atas ajaran-ajaran tersebut agar relevan dengan perkembangan zaman. Sebab agama harus ada gunanya, jika tidak, maka ia akan dilupakan, laiknya mantan yang tak layak bahkan untuk sekadar dikenang.

Salah satu tokoh yang paling getol menyuarakan pentingnya membumikan ajaran Islam dan menolak Arabisasi Islam adalah Gus Dur. Dalam pandangan beliau, Arabisasi menyimpan potensi bahaya yang tak main-main, yakni tercerabutnya masyarakat dari budayanya sendiri. Lagi pula, Arabisasi belum tentu cocok dengan kebutuhan masyarakat. Masyarakat butuh tuntunan agama yang tak menghapus akar-akar budaya dan sosial yang membentuk jari diri mereka. Yakni agama yang menghargai lokalitas tiap pemeluknya tanpa mengubah sedikit pun esensi dari agama itu sendiri.

Sampai sini kita tahu, Islam tak sama dengan Arab. Jika Islam adalah isi, maka Arab adalah wadahnya. Isi dapat berpindah wadah tanpa mengalami perubahan pada sisi substansi; ia tetaplah isi namun barangkali berbeda rupa sebab menyesuaikan dengan wadahnya.

Salah Sendiri

Kembali ke kontroversi terkait pilihan lagu yang dibawakan Sabyan, marilah kita anggap insiden ini sebagai pengingat agar kita tak terlalu gila Arab. Arab masa kini tak beda jauh dengan Indonesia, dihuni oleh masyarakat yang sangat beragam; yang tentu tak semuanya beragama Islam. Orang Arab juga tak melulu menghabiskan waktu untuk beribadah demi mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati, sebab ada pula yang merutuki nasib lantaran patah hati, seperti yang dilakukan oleh Nancy Ajram tadi.

Kita tak perlu ambil pusing soal Sabyan yang tak menyanyikan lagu religi di acara TV itu, bisa jadi, mereka memang benar-benar melakukan blunder dengan menyanyikan “Ya Tabtab Mak Tratab” sebab mereka juga tak tahu maksud lagu itu; yang penting berbahasa Arab, dah! Tetapi mungkin juga, Sabyan sengaja ngerjain kita yang sudah kadung gandrung pada segala hal yang bernuansa Arab. Seperti menyindir kecenderungan sebagian dari kita yang cekak dalam beragama.

Entahlah. Saya cuma heran, kenapa di Sabyan yang terkenal hanya vokalisnya saja?