Tadabur Bencana lewat Lirik Ebiet G. Ade

Sumber Foto: http://lokadata.id

“Ada satu hal menarik dari lagu-lagu ciptaan musisi yang lahir dari romantisme Malioboro ini, yaitu liriknya yang memiliki makna spiritual dan relasional. Maksud dari relasional adalah bahwa lagunya berisi ajakan bagi para pendengarnya untuk merenung dan berpikir lebih dalam.”

Sosok Ebiet G. Ade mungkin tidak begitu dikenal oleh generasi milenial. Tetapi, bagi generasi yang lahir sebelum era reformasi, Ebiet adalah musisi yang legendaris. Kedahsyatan lirik dan kekhasan suara yang dilantunkan oleh Ebiet tak dapat diragukan lagi.

Sebagai generasi yang lahir di tahun 90-an, saya pertama kali mengenal sosok Ebiet dari lagu Berita Kepada Kawan. Tepatnya pada 2006 silam, ketika sedang marak pemilihan dai cilik (pildacil) untuk sebuah kontes. Singkat cerita, saya tampil dengan naskah ceramah yang dibuat oleh ibu saya. Naskah itu berisi kutipan dari lagu Ebiet, “mungkin Tuhan mulai bosan…,”. Bisa jadi karena barokah lagu Ebiet, saya memperoleh juara satu.

Itulah kisah pertama saya berkenalan dengan sosok yang bernama lengkap Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far ini. Setelah itu, saya mulai akrab dengan lagu-lagunya, selain karena keunikan pembawaannya, lirik lagu musisi asal Banjarnegara itu sungguh menggugah hati nurani.

Ada satu hal menarik dari lagu-lagu ciptaan musisi yang lahir dari romantisme Malioboro, yaitu liriknya yang memiliki makna spiritual dan relasional. Maksud dari relasional adalah bahwa lagunya berisi ajakan bagi para pendengarnya untuk merenung dan berpikir lebih dalam.

Nah, dalam situasi ini, lagu-lagu Ebiet G. Ade dapat menjadi salah satu playlist musik kita untuk menemani bekerja dan belajar di rumah. Berikut beberapa lagu yang maknanya sangat berkaitan dengan kondisi sekarang.

Berita Kepada Kawan

Lagu ini diciptakan 40 tahun yang lalu sebagai respons kesedihan atas meletusnya kawah Sinila di Dieng, Jawa Tengah yang memakan banyak korban. Meski demikian, lagu ini terus hidup dan dinyanyikan dari masa ke masa,. Boleh dikatakan, lagu ini adalah salah satu masterpiece dari Ebiet G. Ade.

Baca juga:   Pesan Damai dari Drakor

Lagu yang masuk dalam album “Aku Ingin Pulang” ini kembali diputar di tahun 2004 ketika Tsunami menerjang Aceh. Lagu ini juga kerap dimunculkan untuk menguatkan dan membuka ruang refleksi kita dalam menghadapi bencana, termasuk wabah covid-19 yang melanda dunia hari-hari ini.

Sesampainya di laut kukabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak kepada matahari
Tetapi semua diam tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit

Awal Maret lalu, ketika covid-19 masuk ke Indonesia, kita semua panik, takut dan juga bingung. Apa yang harus dilakukan? Kemudian kita bertanya, mengapa semua ini terjadi? “Mengapa di tanahku terjadi bencana”.

Puncak dari lagu ini adalah mengajak kita berefleksi pada dua hal. Pertama, mengoreksi hubungan kita dengan Tuhan. Kedua, melihat kembali relasi kita dengan alam. Sungguh menakjubkan, bukan? Lirik ini seakan mengkritik kehidupan kita di tengah perkembangan teknologi yang kian menjadi.

Manusia modern semakin jauh dari nilai-nilai spiritualitas, tergerus oleh kesombongan materialistik yang mengakibatkan rusaknya alam raya. Pilihan kata yang dikemas oleh sahabat karib Emha Ainun Najib ini luar biasa. Coba tanyakan pada rumput yang bergoyang. Saat ini, imaji kita tentang rumput yang bergoyang mungkin tergantikan dengan kokohnya bangunan pencakar langit.

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Masih Ada Waktu

Selain lagu Berita Kepada Kawan, lagu Masih Ada Waktu juga mengajak kita untuk melihat dimensi spiritual dan mengasah kepekaan diri. Lagu yang diciptakan tahun 1988 ini mempunyai makna yang universal.

Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu
Entah sampai kapan tak ada yang bakal dapat menghitung
Hanya atas kasih-Nya, hanya atas kehendak-Nya
Kita masih bertemu matahari
Kepada rumput ilalang, kepada bintang gemintang
Kita dapat mencoba meminjam catatan-Nya

Membaca bait tersebut, mengingatkan kita untuk selalu bersyukur. Bahkan karena setiap pagi kita masih dapat melihat mentari, ini adalah wujud kenikmatan yang layak disyukuri. Lagu ini bisa menjadi teman ‘ber-jemuran’ di pagi hari. Seraya menikmati mentari, kita juga bersyukur atas limpahan kesehatan yang diberikan hingga detik ini. Entah sampai kapan, tak ada yang tahu.

Baca juga:   Klepon dan Jatuh Cinta

Untuk Kita Renungkan

Lagu ketiga ini juga dapat menjadi bahan refleksi kita di tengah pandemi. Sebagaimana judulnya, mari kita renungkan lirik berikut.

Tengoklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat
Anugerah dan bencana adalah kehendakNya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar
Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat
Bahwa kita mesti banyak berbenah
Memang, bila kita kaji lebih jauh
Dalam kekalutan, masih banyak tangan
Yang tega berbuat nista… oh

Lagu ini meneguhkan kepada kita bahwa bencana yang terjadi adalah semata kehendak Tuhan. Ebiet menegaskan bahwa bencana itu bukan hukuman, melainkan tanda agar kita mau berbenah diri. Seringkali pola pikir kita melihat bencana adalah azab dari Tuhan. Alhasil, kita akan sibuk mencari siapa oknum yang patut disalahkan dari bencana yang ada.

Oleh karena itu, sudah selayaknya kita berbenah selama masa karantina ini. Apa saja yang kita refleksikan selama pandemi dan apa komitmen kita pascawabah ini. Setidaknya lagu-lagu Ebiet di atas dapat membuka mata hati kita untuk memaknai kehidupan. Selain rajin membaca kitab suci di bulan Ramadan, dapat dibarengi dengan mendengarkan untaian hikmah lagu Ebiet G. Ade agar imun kita semakin kuat dan iman tetap diruwat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *