Syariah Tidak Sama dengan Murah

Riba tidak sama dengan kelebihan. Kelebihan itu tidak ada masalah jika didapatkan dengan cara sesuai syariat Islam. Sama halnya dalam urusan perniagaan, tentu dibenarkan mengambil kelebihan sebagai keuntungan perniagaan.

—- Hajime Yudistira

Pada suatu Sabtu telpon saya berdering, dan seprti biasa saya mengangkatnya dengan sigap. Terdengar suara disana “Assalamualaikum”, saya menjawabnya “Waalaikum salam”. “Saya membaca iklannya di Kaskus pak, katanya bisa terima gadai ya pak?” dia bertanya. “Benar pak, ada yang bisa kami bantu?” demikian saya menjawab pertanyaannya. “begini pak, kebetulan saya mau menggadai laptop, saya perlu uang Rp1.750.000. Saya bisa minta tolong dikirim alamat jelasnya pak, agar saya bisa datang” demikian dia melanjutkan pembicaraannya. Akhirnya saya memberikan alamat lengkap dan dia mengatakan akan datang saat itu juga.

Sekitar satu jam kemudian terlihat ada mobil datang ke tempat saya, mobil mewah keluaran terbaru. Saya agak kaget dan berpikir, “masa sih orang ini perlu uang Rp1.750.000”, padahal dia datang dengan kendaraan mewah yang saya perkirakan harganya tidak kurang dari Rp1 milyar. Seorang pria dengan pakaian rapi dan necis saya lihat turun dari kendaraan tersebut dan akhirnya masuk ke kantor saya yang sederhana.

Setelah sedikit berbasa-basi, akhirnya dia menjelaskan tujuannya datang, yaitu untuk bisa memperoleh dana sebesar Rp1.750.000. Dia menjelaskan bahwa sebenarnya dia punya uang cukup di bank, hanya masalahnya kartu ATMnya baru saja hilang sehingga dia tidak bisa mengakses uangnya di bank dan hari itu bank tutup. Padahal di hari itu dia sudah berjanji untuk melakukan pembayaran kepada seseorang dan tidak mungkin dia tidak membayarkannya, karena itu menyangkut reputasinya sebagai seorang pengusaha. Menurut dia, beberapa orang kawan sudah dihubungi untuk dimintai pertolongan, tapi tidak seorang pun yang bisa membantunya, sampai akhirnya dia menemukan iklan “Rumah Gadai Yudistira” di Kaskus –salah satu satu market place yang cukup terkenal saat ini.

Seperti biasa saya menjalankan prosedur standar yang biasa saya jalankan dalam konsep gadai syariah selama ini. Pertama adalah melakukan pengecekan terhadap jaminan komputer jinjing yang dibawanya. Semua dalam kondisi baik dan tidak kurang satu apapun dan sangat mencukupi untuk nilai gadai seperti yang disampaikan. Berikutnya saya bertanya mengenai jatuh tempo yang dikehendaki, “Ini jatuh temponya mau dibuat sampai kapan Pak?” Saya membuka percakapan dengannya. Spontan dia menjawab “sampai Senin saja pak”, dan itu artinya hanya dua hari saja. Berikutnya saya bertanya lagi “Kalau Bapak dapat dana Rp1.750.000 yang jatuh temponya sampai hari senin, Bapak ikhlasnya mengembalikan dengan jumlah berapa?” demikian saya bertanya. Tidak lama kemudian dia menjawab “Rp.2.500.000 boleh pak?”. Saya berpikir itu bukan jumlah yang sedikit. Lalu saya tegaskan kembali, “itu bukan jumlah sedikit lho pak, itu cukup besar”. Dia menjawab “boleh ngga?”, dengan agak gugup saya menjawab kembali, “boleh saja pak, masalahnya Bapak ikhlas ngga?”. Dia melanjutkan jawabannya, “Tentu saya ikhlas. Saya sudah berjanji akan memberikan sejumlah ini kepada siapa saja yang bisa membantu saya” begitu dia menjawab.

Baca juga:   Satu Musala, Dua Imam: Beda itu Indah

Akhirnya kami sepakat dengan kesepakatan tersebut. Kalau dihitung dengan kacamata kepantasan, jumlahnya sangat besar, secara persentase jumlahnya 42,5%. Jumlah yang tidak lazim dalam konteks pinjaman. Apakah itu sesuai dengan konsep Syariah? Dalam kacamata saya, itulah syariah, karena syariah itu tidak ada hubungannya dengan murah atau mahal, tidak ada hubungannya juga dengan besar atau kecil. Syariah adalah konsep yang mengedepankan musyawarah dan tentunya hasil musyawarahnya harus diikuti dengan ikhlas.

Kadang ada yang berpendapat bahwa pinjaman dalam kacamata syariah, tidak boleh ada kelebihan saat pengembaliannya, karena itu adalah riba, demikian banyak orang berpendapat. Saya tidak sependapat dengan pendapat tersebut. Dalam hal seseorang mendapatkan pinjaman, maka tentunya orang yang mendapatkan pinjaman tersebut mendapatkan manfaat dari pinjaman tersebut. Dan sudah sangat wajar jika saat peminjam mengembalikan pinjamannya, maka si peminjam juga harus memberikan manfaat balik kepada pemberi pinjaman, tapi cara mendapatkan manfaat balik tersebut, caranya harus sesuai dengan syariat Islam, yaitu bermusyawarah. Saya meyakini bahwa hukum Islam adalah hukum yang adil, jadi aplikasi hukum Islam juga harus merepresantasikan keadilan tersebut.

Harus bisa dibedakan mana yang riba dan mana yang syariah. Misalnya ada dua orang, sebutlah namanya Si A dan Si B, kedua orang tersebut meminjam uang Rp500 ribu kepada saya. Berikut contohnya,

Pertama, kepada Si A saya mengatakan seperti ini “ini A, saya pinjamkan Rp500 ribu, bulan depan kembalikan Rp550rb ya kepada saya”. Karena si A sedang ada kebutuhan mendesak, maka akhirnya dia mengatakan “baik Pak, saya akan kembalikan Rp550 ribu sesuai permintaan Bapak”.

Kedua, kepada Si B saya mengatakan seperti ini “ini B, saya pinjamkan Rp500 ribu, kira-kira kamu ikhlasnya mengembalikan dengan jumlah berapa di bulan depan?”. Lalu B menjawab “Pak, boleh enggak saya lebihkan Rp25 ribu, jadi pengembaliannya Rp525 ribu”. Saya menjawab kembali “wah B, jangan Rp25 ribu dong, sekarang enggak dapat apa-apa uang Rp25 ribu, tambahin lah sedikit”. Lalu B melanjutkan jawabannya, “oh begitu ya Pak? Bagaimana kalau saya lebihkan Rp50 ribu pak?”. Saya jawab kembali “kamu ikhlas ngga kalau Rp50 ribu”. Dia menjawab kembali “ikhlas Pak, sumpah! Dibantu Bapak saja saya sudah banyak terima kasih, saya ikhlas pak, lillahi ta’ala” Demikian B menjawab pertanyaan terakhir saya. Akhirnya saya katakana “oke deh saya sepakat”, lalu diakhiri dengan bersalaman tanda kesepakatan atau akad sudah terjadi.

Baca juga:   Selamat Jalan Syekh Ali Jaber

Kalau diperhatikan dua contoh di atas, keduanya sama persis dari jumlah yang dipinjamkan dan jumlah yang dikembalikan. Menurut saya, contoh pertama itu adalah praktik riba, dan contoh kedua itu adalah praktik syariah. Kebanyakan kita hanya memahami bahwa riba adalah haram, tanpa tahu mengapa riba diharamkan.

Menurut saya riba diharamkan karena dua hal. Dalam contoh diatas, yang pertama Si A belum tentu ikhlas, dan yang kedua, bisa jadi Rp50 ribu yang saya minta akan memberatkan Si A. Dua hal tersebut yang membuat Islam mengharamkan riba menurut saya. Apakan dua hal tersebut terjadi kepada si B? Apakah Si B ikhlas? Bisa dilihat lagi percakapan pada contoh di atas. Si B ikhlas karena sudah dibantu kesulitannya. Lalu apakah Rp50 ribunya memberatkan Si B?, tentu tidak, karena disepakati berdasarkan musyawarah. Kalau Si B keberatan, tentunya dia tidak akan menyepakatinya.

Menurut saya itulah yang membedakan antara riba dan syariah dalam konsep gadai yang saya jalankan selama ini. Riba tidak sama dengan kelebihan. Kelebihan itu tidak ada masalah jika didapatkan dengan cara sesuai syariat Islam. Sama halnya dalam urusan perniagaan, tentu dibenarkan mengambil kelebihan sebagai keuntungan perniagaan. Wallahualam bissawab.[MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *