Selamat Jalan Syekh Ali Jaber

“Saya menyaksikan sendiri bagaimana konflik di Timur Tengah disebabkan oleh mereka yang tidak mau menerima perbedaan. Jika di suatu bangsa sudah tidak aman, pasti akan lama mengembalikan keamanan itu,”

—– Syekh Ali Jaber

Berita wafatnya Ali Saleh Mohammed Ali Jaber atau yang lebih dikenal dengan Syekh Ali Jaber cukup mengagetkan saya pagi ini. Ulama muda berusia 44 tahun yang juga seorang hafiz Alquran dan sering diminta menjadi juri pada acara-acara lomba pembacaan Alquran berpulang begitu cepat. Beliau adalah orang dari Madinah, Saudi Arabia yang sudah berkewarganegaraan Indonesia dan mendedikasikan dirinya untuk umat muslim di Indonesia. Beliau adalah seorang dari sedikit ulama yang cukup menyejukkan umat. Indonesia kehilangan seorang ulama yang saya rasa bisa merekatkan kebinekaan yang sudah terkoyak selama ini.

Pluralitas, kemajemukan atau kebinekaan adalah keniscayaan bagi bangsa Indonesia. Perbedaan di  Indonesia ini cukup lengkap, mulai dari suku, agama, ras hingga antargolongan (SARA). Suku yang ada di Indonesia juga sangat beragam, mulai dari Batak, Jawa, Madura, Sumatera, Dayak, Bugis, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dll. Agama juga seperti itu; ada enam agama yang saat ini diakui oleh pemerintah. Agama mayoritas memang Islam, tapi pemeluk Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu juga tidak sedikit.

Kemajemukan lain juga terlihat dalam keragaman lain, yaitu mulai dari masyarakat yang berpendidikan tinggi, hingga masyarakat yang tidak pernah merasakan pendidikan, mulai dari masyarakat yang sering bepergian ke luar negeri, hingga masyarakat yang hidupnya nomaden, dari hutan ke hutan, mulai dari masyarakat berkulit putih Dayak, hingga masyarakat berkulit hitam Papua, dsb.

Begitulah kemajemukan yang ada di negara ini, sungguh lengkap dan memang bukan perkara mudah untuk bisa diikat dalam suatu negeri. Meski bangsa memiliki semboyan Bineka Tunggal Ika sejak lama, tetapi belakangan ini mulai terkoyak akibat ulah kelompok tertentu yang dengan sengaja ingin merusaknya dan mengganti ideologi negara dengan ideologi berdasarkan agama tertentu, ditambah lagi belakangan ini berkembang “politik identitas” yang memaksakan kesamaan (keseragaman) sikap antikemajemukan/intoleran.

Sumanto al Qurtubi, seorang cendekiawan muslim Indonesia pernah mengatakan bahwa bibit-bibit intoleran itu dibawa oleh kaum islamis. Harap dicatat kaum islamis ini berbeda dengan umat Islam secara umum. Kaum islamis ini adalah para praktisi (baik individu maupun kelompok) islamisme yang oleh Bassam Tibi, professor ahli Islam di Universityof Gottingen, Jerman, dalam  Islamism and Islam didefinisikan sebagai a political ideology based on a reinvented version of Islamic law”.

Baca juga:   Syariah Tidak Sama dengan Murah

Dengan kata lain, dasar, basis atau fondasi yang digunakan oleh kelompok islamis untuk membangun “islamisme” atau “ideologi Islam politik” ini bukanlah hukum Islam atau syariat Islam itu sendiri, melainkan sebuah pemahaman kembali, tafsir ulang atau rekonstruksi atas sejumlah diktum dalam hukum Islam atau syariat tadi yang disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan politik di mana kaum islamis itu berada. Itulah sebabnya kenapa visi, platform, agenda dan tujuan berbagai kelompok islamis di berbagai negara itu berlainan antara satu dan lainnya.

Meskipun berlainan, kaum Islamis ini memiliki ciri-ciri umum, yaitu mempropagandakan sekaligus memaksakan (pemahaman) keislaman versi mereka agar dipraktikkan di pemerintahan maupun masyarakat. Sebagian lagi gigih ingin mengganti sistem politik-pemerintahan yang ada dengan sistem politik-pemerintahan yang mereka idealkan dan imajinasikan, baik dalam bentuk khilafah atau “Negara Islam” dan lainnya. 

Ciri mendasar lain dari kaum islamis adalah tidak mau kompromi dengan pluralitas karena keragaman dianggap dapat menghambat cita-cita mewujudkan ideologi Islam politik yang mereka usung. Keberagaman dipandang menghalangi tujuan membumikan “Syariat Islam” yang orisinal menurut versi mereka. Kebinekaan dianggap sebagai momok yang bisa merintangi tujuan menegakkan “Islam kafah” (tentu saja menurut versi mereka).

Bagi kaum islamis ini, masyarakat harus dibuat singular alias homogen untuk memuluskan jalan bagi tegaknya Islam yang sesuai dengan amanat, mandat Alquran dan Sunah Nabi (lagi, tentu saja Alquran dan Sunah Nabi menurut versi dan tafsir mereka). Dengan demikian, bagi kelompok islamis, singularis (bukan pluralis) adalah kunci utama bagi suksesnya merealisasikan jenis keislaman yang mereka dambakan dan idealkan.

Oleh karena itu, karena wataknya yang antipluralis, di mana pun kelompok ini bercokol, mereka akan selalu mengampanyekan jenis, pemahaman, dan praktik keislaman yang seragam dan sama dengan bentuk, tafsir dan praktik keislaman yang mereka lakukan.

Baca juga:   Ramah Gender Bersama TikTok

Jelas sekali gerakan ini sangat berbahaya bagi keutuhan negara Indonesia ini yang dulu dengan darah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa ini. Kita perlu tokoh-tokoh, baik tokoh pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh lainnya untuk bisa menjadi perekat dan pemersatu bangsa ini. Semoga terus bermunculan tokoh-tokoh pemersatu bangsa agar bisa menjaga dan merawat bangsa yang sedang terkoyak ini. Peran masyarakat atau penduduknya juga tentu diperlukan guna mewujudkan cita-cita luhur tersebut. Salah satu yang saya rasa sanggup menjadi tokoh pemersatu adalah Syekh Ali Jaber.

Syekh Ali Jaber sering menyampaikan dalam ceramah-ceramahnya agar Indonesia tidak menjadi seperti beberapa negara Islam mengalami konflik berkepanjangan. Menurutnya, konflik yang terjadi di Suriah, Yaman, Iraq, Mesir dan negara Timur Tengah lainnya pada awalnya disebabkan oleh perbedaan politik. Negara di Timur Tengah sulit menerima perbedaan hingga pada suatu hari konflik pecah dan sampai sekarang tidak kunjung ada perdamaian.

Pernah saya mendengar pada suatu ketika, beliau berkata, “Saya menyaksikan sendiri bagaimana konflik di Timur Tengah disebabkan oleh mereka yang tidak mau menerima perbedaan. Jika di suatu bangsa sudah tidak aman, pasti akan lama mengembalikan keamanan itu,” kata Ali Jaber.

Oleh karenanya, dia berpesan agar segenap masyarakat Indonesia untuk selalu menjaga keamanan negara. Dia memuji kehidupan di Indonesia yang beragam baik dari segi suku, bahasa dan agama namun tetap bisa menghormati sehingga tidak ada konflik. Dia mencontohkan Afghanistan yang hanya mempunyai tujuh suku namun sampai sekarang masih dilanda konflik.

“Saya salut dengan Indonesia karena bisa menghormati perbedaan. Saya juga kemarin lihat banyak orang ramai mencoblos calon kepala Daerah namun tetap dalam kondisi aman. Mudah-mudahan yang seperti ini tetap dijaga,” pesannya.

Dalam ceramahnya, Syekh Ali Jaber selalu menyampaikan dengan santun dan mengayomi, beliau berusaha merangkul semua pihak agar tidak fokus kepada perbedaan yang ada, tetapi kepada persamaan yang bisa merekatkan. Tidak banyak ulama seperti ini di Indonesia, karena kebanyakan ulama yang sering muncul justru merasa apa yang diketahuinya adalah hal yang benar dan sering kali menyalahkan pendapat yang berbeda dengannya.

Ulama-ulama seperti itu justru berbahaya bagi negara Indonesia yang sangat majemuk ini. Mungkin mereka tidak paham bahwa di Indonesia hidup enam agama, 187 kelompok penghayat kepercayaan, 1331 suku, 652 bahasa daerah dan ada lebih dari 400.000 organisasi kemasyarakatan. Dengan kemajemukan seperti itu, kita memerlukan tokoh-tokoh agama yang tentunya bisa mengayomi dan merekatkan semua kemajemukan tadi.

Selamat jalan Syekh Ali Jaber, Indonesia sangat berduka dan merasa sangat kehilangan seorang tokoh agama yang secara ilmu mumpuni dan bisa mengayomi dan merekatkan bangsa [MFR].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *