Ramah Gender Bersama TikTok

Ruang gerak antara perempuan dan laki-laki tidak terbatas hanya pada persoalan jenis kelamin. Mereka dapat mengeksplorasi apapun dalam diri mereka sesuai dengan kehendak yang mereka miliki selama tidak merenggut atau melukai hak-hak orang lain.

—- Datin Rafiliah

Dengan globalisasi, kemajuan teknologi menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Kehidupan manusia pada abad ke-20 semakin dipermudah dengan berbagai kecanggihan teknologi. Hampir setiap elemen masyarakat dapat mengakses informasi dari berbagai belahan dunia. Seiring dengan berkembangnya teknologi internet, media sosial menjadi salah satu yang memiliki andil besar dalam memberikan kemudahan bagi manusia untuk berkomunikasi dan bersosialisasi.  Pola komunikasi yang terjadi pun tidak hanya pada komunikasi dalam lingkup yang kecil, namun juga pada level yang lebih tinggi. Dengan media sosial,  masyarakat dapat berpartisipasi, berbagi, serta menuangkan segala ekspresi dalam bentuk tekstual juga nontekstual.

Zaman yang semakin maju menuntut semua pihak di segala sektor untuk terus up-to-date tentang segala hal. TikTok menjadi salah satu parameter di dalamnya.  Aplikasi yang dirilis di Tiongkok pada 2016 kini telah merebak ke seluruh penjuru dunia dan menghiasi layar kaca setiap smartphone. Bahkan, di tengah himbauan stay at home selama pandemi corona, TikTok menjadi pilihan hiburan  untuk menghabiskan waktu di rumah. TikTok sebagai jaringan sosial dan  platform video pendek yang sebelumnya banyak digunakan di kalangan remaja, kini telah banyak digunakan oleh orang dewasa. Keindahan-keindahan visual yang ditonjolkan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Pengguna TikTok biasanya memposting video pendek yang berdurasi kurang lebih 60 detik, bahkan seringkali hanya 15 detik. Pengguna sering memamerkan keterampilan menari diiringi musik juga  pembuatan video yang dilengkapi dengan fitur-fitur menarik. Namun, di tengah merebaknya virus TikTok, muncul pula berbagai ragam streotipe yang menghiasi stigma masyarakat, terutama kepada para lelaki pengguna TikTok. Stereotip mengarah pada label yang kurang baik atau negatif sehingga laki-laki mendapat “cap” yang tidak menyenangkan, dari mulai “alay”, “jijik”, bahkan “banci”. Joget viral yang dihadirkan TikTok bahkan tak sedikit menimbulkan keresahan di antara teman dekat sesama laki-laki.

Baca juga:   Selamat Jalan Syekh Ali Jaber

Berbagai respons mencuat di kalangan masyarakat, memberikan kesan bahwa TikTok diperuntukkan bagi kaum hawa. Stereotip atau pelabelan negatif melalui ciri maupun sifat personal yang melekat pada jenis kelamin tertentu tentu saja menyulitkan, merugikan, membatasi, hingga memiskinkan golongan itu sendiri. Teman penulis sendiri mengisahkan bagaimana dia merasa kurang nyaman karena mendapat perlakuan buruk dari sesama temannya, hanya karena dia kerap kali mengunggah video yang disertai efek dan musik melalui aplikasi TikTok.

Titik persoalan terletak ketika laki-laki dengan lemah gemulai menirukan berbagai macam gerakan “joget” yang ditawarkan oleh aplikasi tersebut. Fenomena demikian merupakan hasil dari paradigma masyarakat yang memandang aplikasi TikTok hanya tepat digunakan oleh perempuan sebagai salah satu alat untuk membentuk identitas diri.  Identifikasi TikTok dengan dunia perempuan menjelma sebagai pola pikir yang dikonsumsi masyarakat , sampai-sampai jika ada pria yang mengunggah video “joget” TikTok kerap dianggap pria feminin.

Joget atau tarian hingga kini terlanjur mendapat stigma feminin. Senada dengan Irma Setya Ningsih dalam www.mitrakuliah.com, gerakan feminin pada tarian hanya boleh dilakukan oleh perempuan, sedangkan gerak maskulin hanya boleh dilakukan oleh kaum lelaki. Kaum lelaki yang menari dengan gerak feminin dipandang tidak pantas, bahkan tidak jarang sebutan banci dialamatkan pada pelakunya. Padahal, seni tari bersifat universal yang nyatanya bisa dilakukan semua orang, meskipun tidak semua orang bisa menari. Sebagaimana tidak semua perempuan bisa bergerak dengan feminin, tidak semua lelaki juga bisa melakukan gerak maskulin. Bahkan, tidak semua penari laki-laki ‘berperilaku banci’ pada kehidupan sehari-hari.

Pelabelan ini mirip dengan stigma warna pink yang diberikan terhadap laki-laki. Melansir dari tulisan Sammy Mantolas di tirto.id, tak jarang laki-laki yang berpakaian pink dianggap kemayu. Bahkan, banyak orang menganggapnya aneh karena ada cap bahwa pink adalah warna perempuan. Maka sejak bayi, semua sudah dikapling-kapling. Untuk bayi perempuan, kamar, baju, pernak-pernik, atau kadonya berwarna pink. Untuk bayi laki-laki, dipilih biru, atau warna lain yang lebih maskulin selain pink. Hingga dewasa, pemikiran bahwa pink adalah warna wanita pun melekat kuat. Tapi ada kalangan yang berani menabrak persepsi umum ini. Mereka percaya diri melakukan aktivitas yang dianggap maskulin dengan mengenakan pernak-pernik berwarna pink.

Baca juga:   Menakar Potensi Media untuk Agama di Masa Corona

Walau dengan ragam motif, kaum lelaki pengguna TikTok dan penyuka warna pink bisa jadi hanya ingin mengekspresikan kebebasan untuk berkarya secara totalitas serta menyalurkan potensi yang mereka miliki. Sebagaimana tuduhan masyarakat selama ini, perilaku mereka tidak harus dimaknai sebagai pelanggaran terhadap kodrat mereka sebagai laki-laki. Mengutip Mohammad Farirudin dalam sebuah jurnal, stigma semacam itu bisa digolongkan sebagai bentuk ketidakadilan gender, yakni ketidakadilan atau diskriminasi yang bersumber pada keyakinan gender. Ketidakadilan gender terjadi di mana-mana dan terkait dengan banyak faktor, mulai dari kebutuhan ekonomi, budaya, dan lain lain.

Sejatinya, persoalan gender sudah ada sejak jaman nenek moyang kita. Ia adalah masalah lama yang sulit untuk diselesaikan tanpa ada kesadaran dari berbagai pihak yang terkait. Oleh sebab itu, bentuk-bentuk pemikiran bias yang masih dilanggengkan di masyarakat perlu disegarkan dan dirombak. Setiap individu punya hak dalam mendefinisikan diri, termasuk bagaimana ia menciptakan dunianya untuk bisa berkarya dan berekspresi tanpa menerima stereotip negatif  yang berdampak pada mental. Lebih-lebih lagi, perlu kita tanamkan pula bahwa ruang gerak antara perempuan dan laki-laki tidak terbatas hanya pada persoalan jenis kelamin. Mereka dapat mengeksplorasi apapun dalam diri mereka sesuai dengan kehendak yang mereka miliki selama tidak merenggut atau melukai hak-hak orang lain.[MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *