Quo Vadis Sarjana Muslim Zaman Now

Secara fasilitas situasi saat ini tentu saja lebih kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tapi mengapa belum lahir tokoh-tokoh sekaliber Al-Ghazâlî dan Ibn Khaldun? Saya pribadi kurang paham; benar-benar tidak mampu ataukah ada alasan lain yang lebih bersifat sistemik, entahlah.

——Mubaidi Sulaeman

Semua tokoh besar di dunia ini rata-rata lahir dari keadaaan sulit, bahkan terlampau sulit di masanya. Tetapi keteguhan hati dan passion menjadi pembeda mereka dengan manusia awam. Nabi Muhammad, tokoh panutan kita, lahir adalah keturunan salah satu suku Quraish yang paling miskin, Bani Hasyim. Ayah beliau wafat saat melakukan perjalanan dagang menuju Syam, ketika beliau masih berusia 6 bulan di kandungan sang ibunda. Abdullah, ayahanda beliau, adalah anak kesayangan kakeknya, Abdul Muthalib, yang kebetulan juga paling miskin di antara anak-anak Abdul Muthalib.

Keterbatasan yang dialami Nabi Muhammad saat masa kecil tidak menjadikan beliau kehilangan karakter atau menjadi pribadi yang hanyut dengan arus zaman. Beliau memang tidak bisa baca dan tulis, pembacaan beliau terhadap alam dan petuah-petuah sang kakek menjadikan dirinya pribadi yang luhur di tengah carut-marut pranata sosial masyarakat Makah kala itu. Selama 23 tahun berdakwah, pasang surut kehidupan tidak membuat padam passion beliau hingga akhirnya menjadi Nabi sekaligus penguasa Arab yang pengaruhnya menggema hingga saat ini.

Gairah keilmuan yang diwariskan Nabi Muhammad juga mengilhami banyak ilmuwan Muslim terkemuka dan berpangaruh hingga zaman ini, salah satunya al-Ghazâlî (w. 1111 M). Al-Ghazâlî adalah cendikiawan yang serba bisa; selain menguasai ilmu agama, dia mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan di zamannya. Al-Ghazâlî juga lahir dari keluarga kurang mampu; ayahnya adalah seorang pengrajin sepatu; sejak kecil al-Ghazâlî dan adiknya dititipkan kepada sang paman, seorang sufi terkenal di wilayahnya. Sang ayahanda menghabiskan segala harta benda demi pendidikan anak-anaknya. Dia juga rela memendam rindu dengan anak-anaknya selama betahun-tahun agar mereka jadi ulama besar dan berguna bagi agama dan masyarakat.

Baca juga:   Hijab bukan Milik Islam Saja

Al-Ghazâlî muda menghabiskan banyak waktunya dengan belajar dari satu guru ke guru yang lain.  Di usianya yang ke-25 tahun, dia juga pernah ikut perang melawan tentara Bizantium demi mempertahankan Masjid al-Aqsa. Ketika didaulat sebagai rektor Universitas Nizâmiyyah, Al-Ghazâlî pun tidak pernah lepas dari kesulitan; berkali-kali dia menjadi sasaran para penguasa negeri yang hendak menaklukkan wilayah Nizam Al-Mulk. Pergulatan batin akhirnya mendorong dia untuk melakukan uzlah dan meninggalkan karier akademik; dia memilih menjadi sebagai sufi.  Dalam pengembaraannya sebagai seorang sufi, dia mengarang sebuah mahakarya Ihyâ’ Ulumuddîn. Melalui karyanya ini, Al-Ghazâlî menancapkan pengaruhnya bukan hanya kepada kalangan umat Islam saja, tetapi juga umat Yahudi di bawah pimpinan Marmoenedes.

Ibn Khaldun adalah satu lagi cendekiawan muslim hebat yang berangkat dari kesulitan yang hampir sama kita hadapi di saat ini; pun demikian, dia tetap bisa berkontribusi penting bagi ilmu pengetahuan dan peradaban manusia. Ibn Khaldun adalah ahli historiografi, filsafat, dan peletak dasar ilmu sosiologi modern. Dia lahir di abad ke-8 H/14 M.  Ayahnya meninggal dunia pada tahun 749H/1348 M akibat wabah pes yang melanda Afrika Utara. Sang ayahanda meninggalkan lima orang anak, termasuk Abdurrahman Ibn Khaldun yang pada waktu itu berusia 18 tahun.

Wabah pes menyebabkan Ibn Khaldun gagal melanjutkan studi ke pusat ulama dan sastrawan besar di kota-kota di Mesir dan di kota-kota lain di jantung pusat peradaban Islam. Ada dua faktor di balik kegagalan ini. Pertama, wabah pes melanda sebagian besar dunia Islam mulai dari Samarkand hingga ke Magrib. Kedua, hijrahnya sebagian besar ulama dan sastrawan yang selamat dari wabah pes dari Tunisia ke Maroko pada tahun 750 M/1349 H, bersama-sama dengan Sultan Abu Al-Hasan, penguasa Daulah Bani Marin. Ibn Khaldun menganggap wabah pes ini sebagai bencana besar dalam hidupnya karena kehilangan kedua orang tuan dan sebagian guru-gurunya.

Baca juga:   Apakah Saya Kafir?

Dalam bagian awal Kitâb alIbar, Ibn Khaldun menggambarkan penyakit pes ini sebagai wabah yang telah merasuki peradaban manusia Abad Pertengahan, baik di Timur dan Barat. Wabah ini telah melenyapkan banyak generasi dan memporak-porandakan banyak keindahan peradaban manusia. Menurutnya,  pembangunan yang merusak sirkulasi dan kualitas udara adalah asal-muasal penyakit ini. Daerah perkoataan menjadi lebih lembab sehingga bakteri dan segala penyakit bisa dengan mudah berkembang. Kondisi udara yang demikian mengakibatkan orang-orang mudah terserang penyakit (hlm. 320).  Penyakit ini menimpa paru-paru dan dalam kondisi yang parah, penderita bisa mengalami kematian. Situasi ini sepertinya mirip dengan kondisi wabah Covid-19 yang tengah kita hadapi saat ini.

Namun demikian, semua keterbatasan yang ada—sarana belajar jelas tidak secanggih dan semudah zaman kita hidup saat ini—justru memompa semangat Ibn Khaldun untuk lebih keras belajar dan berkarya dibanding di “masa normal”. Muqadimmah adalah magnum opus-nya yang pengaruhnya terasa hingga zaman sekarang; kitab ini menjadi rujukan dalam historiografi, sosiologi, dan filsafat peradaban di kampus-kampus terkemuka dunia.

Lalu, bagaimana dengan sarjana muslim di era saat ini? Ribuan PTKIN dan PTKIS telah hadir di negeri ini dan eksistensinya telah lama mewarnai wajah pendidikan Indonesia. Tanpa mengecilkan kontribusi para alumninya bagi kemajuan bangsa ini, publik mulai menyoroti peran perguruan tinggi keislaman ini. Di masa pandemi ini, stigma semakin menguat bahwa sarjana PTKIN dan PTKIS hanya bisa bergelut di bidang agama saja dan tidak mampu menjawab tantangan di era pandemi saat ini. Belum lagi, ada anggapan bahwa sarjana lulusan dari dua lembaga ini kurang begitu diperhitungkan oleh masyarakat dalam mengatasi permasalahan yang ada. Secara fasilitas situasi saat ini tentu saja lebih kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tapi mengapa belum lahir tokoh-tokoh sekaliber Al-Ghazâlî dan Ibn Khaldun? Saya pribadi kurang paham, benar-benar tidak mampu ataukah ada alasan lain yang lebih bersifat sistemik, entahlah. [MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *