Pindah Agama

Perpindahan agama adalah hal biasa saja dan tidak berdampak apa pun terhadap agama yang ditinggalkan, maupun agama baru yang dipeluk. Agama tidak menjadi jaya dengan banyaknya jumlah pemeluk, tapi agama menjadi jaya karena kualitas pemeluknya.

—- Hajime Yudistira

Fenomena pindah agama terkadang disikapi masyarakat dengan berlebihan, terutama jika dilakukan oleh orang terkenal atau selebritas. Pindah agama seharusnya tidak perlu menjadi hal yang luar biasa, apa lagi sampai menjadi kehebohan. Seperti halnya seseorang yang hari ini memilih mengenakan pakaian warna apa, atau ingin makan apa, tentunya itu adalah hak dari orang itu. Dia bebas memilih warna pakaian yang ingin dia kenakan atau bebas memilih jenis makanan seperti apa yang ingin dimakannya. Hal ini juga termasuk soal agama apa yang ingin dia anut.

Dalam konteks Islam, sudah jelas termaktub bahwa dalam hal beragama itu tidak boleh ada pemaksaan. Jadi soal keimanan itu adalah ranah pribadi dan orang lain tidak punya hak sama sekali untuk mencampurinya. Pemaksaan di sini juga bukan hanya pemaksaan secara harfiah, tapi juga secara halus. Sering kali kita melihat jika ada yang pindah agama, pelakunya akan dirundung, diledek, bahkan dihujat tidak karuan. Keimanan seseorang itu adanya di dalam hati masing-masing persona, dan itu benar-benar urusannya dengan Tuhannya.

Perpindahan seseorang ke agama tertentu sama sekali tidak membuat perbedaan terhadap agama yang ditinggalkan, maupun agama baru yang dipilih. Misalnya, ada yang meninggalkan Islam dan masuk Hindu, apa Islam menjadi hancur karenanya? Atau Hindu jadi luar biasa? demikian juga sebaliknya, tentu tidak berpengaruh apa pun.

Sebagai seorang muslim, terkadang saya prihatin melihat fenomena ini. Jika ada orang Islam yang berpindah agama, maka orang tersebut akan dihujat habis-habisan, dan sebaliknya, jika ada orang dari agama lain masuk Islam maka ia akan dielu-elukan sedemikian rupa. Bahkan pernah saya lihat perpindahan agama yang disiarkan oleh media.

Kalau mau jujur, perpindahan agama seseorang tidak berpengaruh apa pun terhadap agama itu sendiri. Pengaruhnya akan terasa oleh diri yang bersangkutan dan bukan juga terhadap orang lain. Apakah perpindahan agama menjadikannya persona yang lebih baik dari sebelumnya? Jika Iya, bisa dikatakan perpindahan agama tersebut membawa dampak baik bagi dirinya.

Demikian pula dengan fenomena ‘berhijrah’ yang belakangan ini juga marak terjadi, banyak sekali fenomena itu dipertontonkan dan yang banyak terjadi adalah dalam hal berpakaian. Saya tidak mengatakan hal tersebut salah, tapi esensi dari berhijrah itu tentu bukan dalam cara berpakaian. Berhijrah dalam konteks ini tentu lebih dalam hal akhlak, yaitu mengubah tingkah laku ke arah yang lebih baik. Percuma saja mengubah gaya berpakaian jika tidak diiringi dengan perubahan akhlak yang lebih baik.

Baca juga:   Susahnya Beragama di Indonesia

Ada pendapat yang mengatakan bahwa tidak apa-apa berhijrah pakaiannya dulu, kalau hati/akhlak nanti bisa menyusul, yang penting berhijab saja dulu, begitu katanya. Hal ini membuat siapa pun yang memutuskan berhijrah mengenakan jilbab, lalu dielu-elukan bak pahlawan. Menurut saya hal ini justru salah kaprah, justru yang perlu berhijrah justru hatinya dulu, setelah hatinya berhijrah, maka secara otomatis fisik akan mengikuti. Tidak bisa dibenarkan logika yang mengatakan fisik dulu, lalu nanti hati akan mengikuti. Itu adalah logika yang terbalik.

Berhijrahlah mulai dari hati dengan memperbaiki akhlak, memperindah tingkah laku, membenarkan pola berpikir dan sebagainya, setelah itu biarkan dirinya sendiri yang akan mengubah tampilan fisiknya sesuai dengan apa yang dipahaminya. Tidak ada satu orang pun yang berhak memvonis seseorang itu benar atau salah, masuk surga atau masuk neraka dan seterusnya, karena itu bukan urusan manusia. Saya sering sekali melihat seseorang berperan sebagai Tuhan yang bisa mengatakan si A akan masuk surga atau neraka.

Tugas manusia hanya berbuat baik sesuai dengan apa yang dia pahami tentang kebaikan itu sendiri, selebihnya kita serahkan kepada Tuhan. Sebagai manusia, tidak ada seorang pun yang tahu seseorang akan masuk surga atau neraka, itu benar-benar hak prerogatif Tuhan. Seseorang yang di mata manusia selalu melakukan kesalahan atau ahli maksiat, belum tentu akan masuk neraka, begitu pula sebaliknya, seseorang yang selalu berbuat kebaikan atau ahli ibadah juga belum tentu masuk surga.

Saya ingat hadis Nabi yang menceritakan tentang seorang pelacur yang selama hidupnya melacur, tetapi pada akhirnya ternyata diangkat ke surga.Dalam cerita tersebut dikisahkan sang pelacur di akhir hidupnya pernah berbuat kebaikan, yaitu memberi minum seekor anjing yang kehausan dengan terompahnya. Ada pula hadis Nabi yang menceritakan seorang ahli ibadah yang di akhir hidupnya berkata bahwa dia layak masuk surga karena selama hidupnya selalu beribadah (ada kesombongan di hatinya), Nabi mengatakan bahwa orang tersebut merupakan orang yang bangkrut. Itu menunjukkan bahwa apa yang dia lakukan selama hidupnya tidak berguna karena di akhir hidupnya dia berbuat kesalahan, yaitu berlaku sombong.

Dari uraian di atas, jelas terlihat bahwa dalam agama Islam itu yang dilihat adalah kualitatifnya, bukan kuantitatif. Kembali kepada urusan perpindahan agama, jika ada seorang umat Islam yang berpindah agama, maka tidak lantas itu adalah kehancuran umat. Demikian juga sebaliknya, jika ada seorang yang masuk agama Islam, bukan berarti juga itu adalah kejayaan Islam. Sekali lagi, biasa saja dalam menyikapi fenomena perpindahan agama, baik dari Islam ke luar Islam atau dari luar Islam ke dalam Islam.

Banyaknya jumlah pemeluk suatu agama itu tidak serta merta menjadikan agama itu menjadi agama yang terbaik. Sekali lagi, lihat bagaimana kualitas pemeluk agama itu sendiri, karena itulah yang terpenting. Terkadang dengan banyaknya pemeluk suatu agama, itu justru membuat pemeluknya kehilangan kontrol terhadap dirinya karena merasa superior tadi. Seperti waktu kita kecil dulu, saat kita beramai-ramai, biasanya akan menjadi lebih berani menghadapi sesuatu hal. Hati-hati, semakin besar populasi suatu agama, maka semakin mudah tergelincir.

Baca juga:   Ibadah Nonritual Tidak Kalah Penting

Permasalahan dalam keberagamaan kita di Indonesia yang mendasar adalah agama acap kali yang ditarik sedemikian rupa menjadi identitas, padahal agama itu hadir untuk menghabisi identitas-identitas yang tidak adil, misalnya identitas kulit hitam pada zaman Nabi Muhammad yang biasa dijadikan budak di masa itu. Dengan kehadiran agama Islam, identitas warna kulit itu justru dihapus dengan menjadikan Bilal bin Rabbah –sahabat nabi yang berkulit hitam–menjadi muazin. Juga identitas perempuan yang tidak berharga –bayi perempuan dibunuh–di zaman jahiliah.

Jadi Agama itu hadir untuk menghabisi identitas-identitas tidak adil seperti itu. Salah kaprah keberagamaan kita saat ini justru agama dijadikan identitas yang justru memerangi identitas yang lain. Bahkan oleh sebagian kalangan, Islam yang dijadikan identitas ini memiliki fesyen tersendiri, seperti misalnya bergamis atau bercelana cingkrang, berjanggut bagi yang laki-laki atau bercadar bagi yang perempuan. Padahal Islam tidak mengenal fesyen yang seperti itu. Pakaian Islam itu adalah pakaian terhormat yang menutup aurat, hanya itu.Ingat, Islam itu bukan Arab. Menjadi Islam itu bukan berarti Anda harus menjadi Arab yang bergamis, lalu berjanggut atau identitas Arab lainnya.

Kalau pun Anda ingin menjadikan agama sebagai identitas, maka itu adalah identitas transenden, bukan identitas imanen. Artinya bukan identitas kita dengan manusia lain, melainkan identitas kita terhadap Tuhan. Contohnya, dalam Islam sangat tegas dikatakan bahwa untuk menyebut Nabi Muhammad, maka harus disertai dengan gelar keagungannya, yaitu nabi atau rasul. Allah sendiri dalam Alquran selalu menyertakan gelar keagungan tersebut untuk menyebut Nabi Muhammad. Berbeda dengan nabi-nabi yang lain, sering kali beliau disebut hanya namanya saja.

Tadi dikatakan bahwa Islam itu adalah identitas transenden dan bukan imanen, terlihat saat Nabi Muhammad menandatangani Perjanjian Hudaibiyah dengan para musyrikin di wilayah Hudaibiyah, Makkah. Dalam perjanjian itu ditulis nama Nabi Muhammad Rasulullah sebagai orang yang menandatangani perjanjian tersebut. Orang musyrikin mengatakan kenapa harus menggunakan kata “Rasulullah”, padahal mereka tidak mengakui bahwa Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah dan meminta kata “Rasulullah” itu dihapus. Para sahabat sempat bingung atas permintaan kaum musyrikin itu, karena mereka berpendapat bahwa identitas Islam sedang diserang dengan permintaan tersebut.

Tanpa diduga, ternyata Nabi Muhammad sendiri yang mengatakan  kepada para sahabatnya bahwa kalau memang kaum musyrikin itu meminta kata “Rasulullah” itu dihapus, maka hapus saja. Tulis saja Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam ranah privat kita dengan Tuhan, maka kita begitu mengagungkan Nabi Muhammad sampai titik yang bersifat identitas, yaitu jangan menyebut tanpa gelar keagungannya, tapi di ranah publik dalam hubungan antar manusia, identitas itu tidak ada.

Jadi yang perlu digarisbawahi, bersikaplah biasa saja terhadap fenomena perpindahan agama. Perpindahan agama adalah hal biasa saja dan tidak berdampak apa pun terhadap agama yang ditinggalkan, maupun agama baru yang dipeluk. Agama tidak menjadi jaya dengan banyaknya jumlah pemeluk, tapi agama menjadi jaya karena kualitas pemeluknya.[MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *