Pesan Multikulturalisme dari “Upin & Ipin”

Dalam konteks Indonesia, banyak ragam suku, ras, agama, bahasa, dan budaya adalah dua belah mata pisau yang dapat diartikan sebagai sebuah kekayaan dan ancaman sekaligus. Kondisi yang demikian membuat multikulturalisme menjadi penting untuk dipahami dan dihayati oleh seluruh masyarakat Indonesia

Muhamad Fauzi Zakaria

Pandemi yang tak kunjung usai telah menyebabkan ruang gerak semakin terbatas; konsekuensinya pikiran semakin membuncah karena waswas. Saat bosan melanda, masyarakat cenderung beralih pada hobi-hobi yang menyenangkan untuk sekadar mengusir rasa bosan mereka. Baca buku, memasak, mendengarkan musik, menonton film, atau mengikuti wibinar yang sedang menjamur sedikit contoh dari aktivitas pengusir kejemuan.

Saat saya diterpa perasaan bosan, saya biasa mengusirnya dengan menonton animasi di televisi. The Powerpuff Girl, Steven Universe, The Amazing World of Gumball, Ben 10, We Bare Bears, dan Advanture Time adalah beberapa judul animasi yang acap kali saya tonton. Semua judul animasi tersebut  diproduksi oleh Warner Bross asal Amerika Serikat. Walaupun menonton animasi identik dengan tontonan anak-anak, tetapi saya tetap bisa menikmati alur cerita dan sering kali saya dibuatnya tertawa.

Tayangan animasi hasil garapan Amerika dan Jepang ternyata tidak membuat lesu animasi asal negara tetangga, Malaysia; serial Upin & Ipin tidak pernah sepi peminat, termasuk juga di Indonesia. Terbukti sejak pertama kali tayang di Indonesia tahun 2007, serial kartun ini tetap mendapatkan tempat khusus di hati pemirsanya.

Sesekali saya melihat tayangan Upin & Ipin yang disiarkan oleh MNCTV. Lalu saya berfikir “apa yang membuat serial ini begitu spesial sehingga ia tetap eksis di tengah ganasnya persaingan pertelevisian di Indonesia?” Pertanyaan patut diajukan karena animasi asal Malaysia lainnya seperti BoBoBoy dan Pada Zaman Dahulu malah pamornya meredup.

Baca juga:   Hidup 'Selow' dengan Filosofi Tao

Dalam beberapa artikel dan beberapa jurnal ilmiah, saya menemukan fakta menarik bahwa serial Upin & Ipin mendapatkan apresiasi yang baik di tengah masyarakat. Animasi besutan Les’ Copaque ini dianggap tidak hanya tayangan bergenre komedi saja, melainkan juga berisi edukasi terkait pentingnya pendidikan multikulturalisme. Pendidikan multikulturalisme yang disampaikan dalam Upin & Ipin disajikan dengan apik dan sederhana sehingga mudah diterima oleh masyarakat umum, terlebih anak-anak.

Tokoh-tokoh yang ditampilkan seperti Upin, Ipin, Ijat, Ismail, Mei Mei, Jarjit Singh, Fizi, Ehsan, Rajoo, Devi, Uncle Muthu, Koh Ah Tong, Atuk Dalang, Opah, Kak Ros, Cikgu Yasmin, hingga Susanti berhasil memberikan gambaran hampir utuh tentang keberagaman yang ada di Kampung Durian Runtuh. Hingga hari ini, Upin & Ipin telah diproduksi dalam tiga belas musim dan telah berhasil menyabet banyak penghargaan; salah satunya adalah menjadi Duta Besar Nasional UNICEF Malaysia pada tahun 2013.

Pesan-pesan tentang pentingnya laku hidup yang selaras dengan multikulturalisme dalam Upin & Ipin dapat dilihat dari penyajian alur cerita dan tokoh yang digambarkan memiliki latar belakang suku, ras, agama, serta budaya yang berbeda. Upin dan Ipin yang seorang melayu beragama Islam; Mei Mei seorang anak keturunan Tionghoa yang beragama konghuchu; Jarjit Singh seorang anak keturunan India dan beragama Budha; Susanti seorang murid pindahan asal Indonesia; dan Devi anak dari Uncle Muthu penjual ABCD keturunan India beragama Hindu. Inilah bukti bahwa perbedaan yang menghampar di Kampung Durian Runtuh bukanlah halangan untuk tetap hidup harmonis.

Dalam konteks Indonesia, banyak ragam suku, ras, agama, bahasa, dan budaya adalah dua belah mata pisau yang dapat diartikan sebagai sebuah kekayaan dan ancaman sekaligus. Kondisi yang demikian membuat multikulturalisme menjadi penting untuk dipahami dan dihayati oleh seluruh masyarakat Indonesia; kesadaran akan realitas yang beragam ini bisa meredam terjadinya konflik yang mengatasnamakan identitas, terlebih pada era post truth seperti sekarang ini. Perbedaan pendapat sedikit saja dapat menjadi penyulut konflik besar yang berkepanjangan.

Baca juga:   Kisruh di Amerika dan Respons Diaspora Indonesia

Multikulturalisme hadir sebagai bentuk keyakinan bahwa setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama. Daud Aris (2011) menyebutkan bahwa multikulturalisme menjamin warga negara untuk mempertahankan jati diri ‘identity’, memiliki kebanggaan terhadap nenek moyang ‘ancestry’, dan mempunyai rasa memiliki ‘sense of belonging’. Konsep multikulturalisme juga merupakan gerakan alternatif terhadap kebijakan asimilasi yang memaksa perbedaan-perbedaan yang ada untuk melebur menjadi satu budaya tunggal yang sesuai dengan narasi budaya mayoritas (Asworth et. al., 2007).

Michael Foucault (1978) menyebutkan bahwa sebuah wacana ‘discourse’ merupakan bentuk praktik sosial yang dilakukan secara verbal (tutur kata) maupun nonverbal (teks). Dari pengertian yang dikemukakan Foucault di atas, dapat dipahami bahwa setiap wacana pasti mengandung maksud dan kepentingan terpendam ‘ideology’. Serial ini memang kental sekali dengan dominasi kultur Melayu; tentunya ini tidak bisa dilepaskan dari kepentingan untuk mendefinisikan identitas ke-Melayu-an yang sejati dari sudut pandang si produser atau pihak terkait. Dalam konteks audiens di Malaysia, serial ini bisa dibaca sebagai upaya ‘mendisiplinkan’ mereka bagaimana seharusnya orang Melayu itu. Tapi ini bukan fokus tulisan saya di sini.

Wacana dalam Upin & Ipin kemudian tidak hanya ditafsirkan sebagai tayangan animasi komedi semata, melainkan juga membawa maksud tentang nilai-nilai keberagaman yang kental. Pesan-pesan tentang nilai pendidikan multikulturalisme dapat dijumpai di beberapa episode, antara lain adalah “Esok Hari Raya,” “Gong Xi Fa Chai,” dan “Deepavali”. Setiap episode tersebut mengandung nilai toleransi, demokrasi, tolong menolong, pluralisme, keadilan, kesetaraan, humanisme, dan mendahulukan dialog (Heri dan Yeni, 2019). Ipin & Upin bisa jadi tayangan edukasi bagi anak-anak maupun orang dewasa. “Betul, betul, betul!” [MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *