Perlukah Kita Berkonflik

Konflik membuat kita semakin matang dalam proses pendewasaan sehingga keputusan yang diambil untuk menyelesaikan masalah lebih bijak.

—Indra Latief Syaepu

Kita tentu sering mendengar istilah konflik yang sering diidentikan dengan permusuhan, debat karena beda pendapat, dan juga persaingan. Meskipun persaingan bukan salah satu jenis konflik, tetapi ia bisa memicu konflik apabila terjadi pelanggaran terhadap peraturan yang telah disepakati. Dalam realitas, konflik tidak bisa dihindari. Di mana-mana konflik pasti dijumpai, entah dalam skala kecil maupun besar. Kehidupan manusia seolah-olah tidak bisa lepas dari konflik dan ia bagian dari kebutuhan manusia untuk berinteraksi dan berevolusi (conflict is human needs).

Jika ada pertanyaan perlukah kita berkonflik, maka dalam paradigma masyarakat umum konflik sama sekali tidak ada manfaatnya. Ya, konflik memang berkonotasi negatif, seakan-akan ia tiada faedah. Bagi seseorang yang tidak menguasai teori atau resolusi konflik tidak gampang untuk menjawab pertanyaan semacam itu, begitu sebaliknya. Membaca buku, artikel, jurnal dan sebagainya adalah modal awal untuk bisa memahami watak sejati konflik. Tidak dipungkiri juga bahwa konflik merupakan warisan tradisi manusia; mulai dari kisah putra Nabi Adam dan Siti Hawa (konflik saudara sekandung atau antarindividu) hingga masa kekhalifahan yang melibatkan komunitas (konflik komunal).

Sebetulnya, tidak selamanya konflik mengarah pada ihwal yang destruktif (merusak), tetapi ia bisa juga konstruktif (bermanfaat). Buku-buku banyak mengulas dampak buruk konflik dan jarang sekali menyinggungnya dalam nuansa yang positif. Ini bisa dimaklumi karena biasanya konflik hanya dilihat dari sudut pandang yang sederhana: konflik pasti akan membawa kehancuran atau kerusakan, maka sebisa mungkin harus dihindari. Namun dalam pandangan baru, konflik menjadi suatu kebutuhan manusia. Fakta bahwa konflik ternyata tidak bisa dihindari maka mau tidak mau ia harus diarahkan ke arah yang membangun. Dalam bahasa resolusi konflik, jenis konflik seperti ini dinamakan dengan konflik-fungsional (konstruktif dan membangun), sebagai lawan dari konflik-disfungsional (destruktif atau menghancurkan).

Baca juga:   Dialog dan Seni Memahami Liyan

Berikut adalah satu contoh konflik fungsional. Sebut saja konflik terjadi antara kelompok A vs kelompok B. Dalam kondisi konflik seperti ini, biasanya tumbuh rasa solidaritas di antara masing-masing kelompok, menguatkan kekompakan di masing-masing kubu. Tapi ini berlaku jika konflik melibatkan beberapa individu. Lantas, jika konflik terjadi antarindividu maka bagaimana cara mengambil hikmah atau sisi positifnya? Saya yakin pasti selalu ada sisi positif yang bisa diambil, akan tetapi perlu penguasaan diri yang cukup atau dalam bahasa teorinya “managemen konflik”. Namun saya tidak akan menjelaskan secara detail karena pembahasannya bisa panjang sekali. Saya hanya akan menarik garis besarnya saja.

Untuk mempermudah dan terlihat islami, saya akan mengutip QS. Al-Baqarah: 216 “diwajibkan atas kamu berperang, padahal perang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh pula kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah lebih mengetahui sedangkan kamu tidak”. Secara tidak langsung ayat ini hendak mengatakan bahwa Allah SWT tidak pernah menciptakan keburukan atau kesia-siaan karena selalu ada nilai positif (hikmah) di baliknya. Konflik adalah sesuatu yang kebanyakan orang ingin hindari, namun kenapa Allah SWT membiarkan konflik meskipun itu buruk? Jawabannya karena pasti ada hikmah yang bisa dipetik oleh manusia.

Untuk mengetahui hikmah di balik hal ihwal yang negatif, Allah SWT menganugerahi manusia dengan akal supaya bisa mereka pergunakan untuk belajar dan merenungkan segala ciptaan. Artinya, tabir misteri yang terkandung bisa disingkap dengan cara kontemplasi-edukasi yang melibat akal sebagai sumber ilmu pengetahuan kedua setelah wahyu. Proses pembelajaran, penelitian, riset dan pengembangan temuan-temuan di lapangan bisa menjadi pembuka tabir tersebut. Pendayagunaan akal merupakan bagian dari sunnatullah yang wajib bagi manusia sebagai khalifah. Setiap manusia pasti memiliki potensi, dan potensi tersebut wajib digunakan untuk kemaslahatan. Pendayagunaan akal secara maksimal akan menguak takdir baik dan takdir buruk yang telah Allah SWT ciptakan. COVID-19, misalnya, awal mula dianggap sebagai takdir buruk (wabah), tetapi lama-kelamaan pandemi ini membuat sebagian orang mampu mengambil hikmah darinya. Begitu juga dengan konflik: awalnya wajib dihindari tetapi ternyata kemudian diperlukan (konflik-fungsional).

Baca juga:   Ibu Bukanlah Ratu

Konflik mendorong kita setidaknya memperluas wawasan (worldview). Pertama, ia menyadarkan kita bahwa permasalahan harus segera dipecahkan, dicarikan solusi bukan dihindari. Kedua, konflik mendorong kita melakukan perubahan dalam diri kita dan melakukan sesuatu yang baru. Ketiga, konflik membuat kita semakin matang dalam proses pendewasaan sehingga keputusan yang diambil untuk menyelesaikan masalah lebih bijak. Keempat, konflik bisa menjadi alat ukur kemampuan kita dalam menghadapi sesuatu sekaligus alat intropeksi dan evaluasi diri. [MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *