Pandemi dan Fajar Iman-Nalar

Allah SWT membekali manusia dengan akal supaya bisa berpikir. Maka menyikapi pandemi ini, iman harus disertai dengan nalar akal sebagai bentuk ikhtiarnya.

Indra Latief Syaepu

Benturan agama dan sains, yang kembali menyeruak di masa pandemi, sebetulnya pernah terjadi pada masa Abbasiyah, ketika paham okasionalisme berbenturan dengan kausalitas.  Al-Ghazâlî berhasil menyatukan dua faham ini dengan cara menarik jalan tengah, sebagaimana terungkap dalam sejarah filsafat Islam. Jika kita menerapkan pandangan Al-Ghazâlî tersebut ke dalam situasi pandemi sekarang, masyarakat bisa mengambil sisi positifnya. Menjaga kesehatan dan kebersihan bukan hanya sebagian dari iman, tetapi wujud awal peradaban.

Memang saat ini, Covid-19 memaksa semua orang untuk memperbaharui cara hidup, bahkan dalam cara yang ekstrim. Secara tidak langsung, problem ini memberi kita pelajaran. Kehidupan zaman yang serba modern dengan teknologi maju mengharuskan kita meninjau ulang pemahaman kita terhadap ajaran agama di tengah pandemi: kejumudankah yang terjadi atau sebaliknya?

Sains ialah satu tanda bahwa pemikiran manusia telah mengalami perubahan. Pada dasarnya perkembangan sains bertujuan untuk memperbaiki kualitas hidup manusia. Akan tetapi sains—dan  juga agama—ternyata sama-sama punya kelemahan. Dalam beberapa teori filsafat muncul ragam pernyataan mengenai hubungan sains dan agama: A) tidak bertentangan; B) saling bertentangan; C) bertentangan tapi bisa hidup berdampingan; D) saling mendukung. Jika kita mengamati fenomena sosial yang terjadi di masyarakat selama pandemi, teorema ini terwakili dalam cara pandang masyarakat, sesuai dengan ideologi mereka.

Kelompok fatalistik secara tidak langsung beranggapan bahwa kebenaran sains tak bisa dipercaya, bahwa keputusan pemerintah, melalui intruksi Badan Kesehatan Dunia—dinilai bertentangan dengan ajaran agama. Bagi mereka, Covid-19 merupakan ujian untuk meningkatkan keimanan dengan cara meramaikan masjid dengan salah berjamaah, pengajian, dan majlis taklim lainnya, bukan malah dibatasi atau ditutup. Bisa dibilang, kelompok seperti ini mewakili idiologi filsafat atau pola pikir okasionalisme, yaitu faham yang meyakini bahwa Tuhan, bukan makhluk, adalah sebab di balik sebuah kejadian (Yuana, 2010: 158).

Baca juga:   Malleability of Fate and Pandemic

Kubu lain menganggap ‘sains bertentangan, tapi bisa berdampingan’. Contoh kasusnya adalah saat kebenaran sains tidak terbantahkan dan kita masih memegang teguh keimanan, maka kita menerima kedua kebenaran keduanya (sains dan agama). Kelompok ini bisa dikatakan golongan Ghazâlian: tidak terlalu rasional tapi juga tidak terlalu fatalistik. Kelompok terakhir adalah mereka yang terlalu percaya pada sains tanpa memerhatikan agama; mereka bisa dikategorikan sebagai masyarakat sekular atau postivistik.

Hampir seluruh agama, terutama Islam, memerintahkan umatnya untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan. Selama pandemi Covid-19, umat Islam setidaknya bisa mengambil dua hikmah terkait seruan ibadah di rumah. Pertama, penutupan tempat ibadah seharusnya bukan menjadi penghalang umat Islam untuk beribadah dan meningkatkan keimanan. Justru dengan beribadah di rumah, secara tidak langsung kita telah menjadikan rumah kita seperti rumah Allah. Tentunya umat Islam sudah akrab sekali dengan istilah bayjannatî ‘rumahku, surgaku’. Maka kita yakin bahwa situasi pandemi bisa jadi ajang untuk membentengi rumah dari gangguan jin dan syetan. Bacaan al-Qur’an di rumah akan menjadikan rumah sejuk, harum dan dapat mengusir mahluk ghaib yang membawa anasir-anasir negatif terhadap keluarga. Inilah mengapa muslim diperintahkan untuk selalu menghiasi rumah dengan salat. ‘Jadikanlah bagian dari salat kalian di rumah kalian, jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan’ (HR Bukhari, No. 432; HR Muslim, No 1817). Maka dalam konteks pandemi, makhluk gaib ini bisa juga dipahami virus tak kasat yang membawa petaka bagi manusia (Covid-19).   

Kedua, beribadah di rumah paling tidak akan mengurangi risiko penularan Covid-19. Secara tidak langsung kita sedang melaksanakan perintah agama untuk memelihara kesehatan badan. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk selalu menjaga kesehatan badan guna meningkatkan imunitas. Dalam keadaan tertentu, Islam juga memberi kelonggaran, keringanan (toleransi), termasuk beribadah di rumah dan tidak rapatnya barisan salat selama pandemi dan Kenormalan Baru. Seperti sudah maklum, kita sedang memasuki masa Kenormalan Baru New normal; pemerintah telah membuka beberapa tempat, tak terkecuali masjid, yang semula ditutup tapi dengan syarat menerapkan aturan dan protokol kesehatan yang baru. Tidak dirapatkannya shaf salat bukan berarti fadilah berjamaah akan hilang (baca fikih), terlebih dalam situasi pandemi seperti ini, tentunya ada toleransi.

Baca juga:   Memaknai Halalbihalal kala Pandemi

Seperti dikatakan di awal, ada beberapa ulama atau filsuf pada masa Abbasiyah yang mengadopsi sudut pandang peripatetik yang mengedepankan kemampuan akal dalam penalaran. Hasil nyata dari filsafat ini adalah ilmu pengetahuan yang bersifat empiris (sains). Para filsuf dulu beranggapan bahwa dengan ilmu pengetahuan, kehidupan manusia akan lebih baik. Maka dari itu penulis tegaskan, iman saja tidak cukup untuk menghadapi pandemi ini, tetapi penalaran akal juga diperlukan karena pada dasarnya, Islam juga memuliakan akal.

Tidak dimungkiri bahwa ketika akal mampu memproduksi sains, maka ia bak menjadi duri dalam daging bagi agama dan kepercayaan yang sudah lama mapan. Oleh karena itu, manusia perlu untuk selalu mengambil hikmah positif dalam menyikapi pandemi. Akal dan keimanan harus diimbangi untuk memperbaiki kualitas hidup yang lebih baik. Di era digitalisasi ini, ilmu pengetahuan dan teknologi ialah sarana untuk memenuhi kebutuhan dan mengatasi permasalahan yang ada. Seperti ditegaskan dalam al-Qur’an, Allah SWT membekali manusia dengan akal supaya bisa berpikir. Maka menyikapi pandemi ini, iman harus disertai dengan nalar akal sebagai bentuk ikhtiarnya. [MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *