Pahlawan Berhijab

Tidak pernah ada literatur yang menjelaskan bahwa manusia terbaik adalah yang berhijab atau yang tidak berhijab, atau apa agamanya, apa rasnya dan sebagainya. Tidak ada literatur seperti itu, jadi buat apa diperdebatkan. Pikirkan bagaimana caranya menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.

—- Hajime Yudistira

Beberapa waktu yang lalu dunia maya sempat diributkan tentang berhijab atau tidak Cut Nyak Dien dan Cut Meutia? Satu pihak benar-benar ‘ngotot’ dan berusaha membuktikan bahwa kedua tokoh nasional tersebut berhijab, apalagi dikatakan bahwa kedua tokoh tersebut berasal dari tanah Aceh, yang diklaim sebagai serambi Makkah. Di pihak lain, penganut paham dejilbabisasi berusaha mematahkan pendapat bahwa kedua tokoh tersebut berhijab, dengan mengatakan bahwa mereka tidak menggunakan hijab.

Pada saat uang baru nominal Rp1.000 emisi 2016 dengan gambar Cut Meutia tidak berhijab juga sempat menjadi topik perbincangan cukup serius saat itu. Apa masalahnya gambar Cut Meutia digambarkan tidak berhijab? Lagi pula, pihak Bank Indonesia (BI) pastinya sudah mendiskusikan dengan seksama sebelum memunculkan seorang tokoh nasional dalam desain uang yang akan diterbitkan. Mereka pasti juga sudah berdiskusi dengan pihak keluarga atau ahli waris tokoh yang akan dipergunakan dalam desain uang tersebut.

Sedemikian pentingkah untuk membuktikan apakah kedua tokoh tersebut berhijab atau tidak? Dalam konteks kedua tokoh tadi sebagai pemimpin perang yang sangat prominen, saya tidak melihat adanya korelasi antara berhijab dengan perjuangan yang dilakukan tokoh tersebut di masanya.

Saya rasa jauh lebih bermanfaat jika pembahasan tentang Cut Nyak Dien dan Cut Meutia lebih kepada bagaimana tokoh tersebut berjuang di masa kolonial mengalahkan banyak pertempuran sehingga sosok Dien ini ditakuti banyak perwira Belanda. Strategi apa yang digunakan, bagaimana caranya memimpin pasukan di tengah keterbatasan yang ada, bagaimana cara bernegosiasi dengan pihak lawan dan masih banyak aspek yang bisa dipelajari dari sekedar membuktikan apakah mereka memakai hijab atau tidak.

Baca juga:   Syariah Tidak Sama dengan Murah

Sebenarnya tidak terlalu sulit juga untuk mengetahui apakah kedua tokoh tersebut berhijab atau tidak, walaupun sebenarnya tidak ada manfaatnya juga mengetahui mereka menggunakan atau tidak menggunakan hijab. Dalam konteks sejarah dan kerangka keilmuan, tentu semuanya harus didasarkan bukti otentik dan bukti yang sahih.

Harus diakui bahwa saat Belanda bercokol di Indonesia, mereka memiliki pencatatan sejarah lebih baik dibandingkan pencatatan sejarah Indonesia. Hal tersebut bisa dimaklumi karena memang saat itu negara mereka jauh lebih maju. Banyak sekali fakta sejarah Indonesia didasarkan kepada pencatatan yang mereka buat saat mereka berada Hindia Belanda (baca: Indonesia).

Kita bisa mengetahui bahwa banyak sekali perwira Belanda menaruh hormat kepada Cut Nyak Dien itu dari catatan yang mereka buat. Mereka mencatat banyak pertempuran yang dipimpin oleh Dien ini memperoleh kemenangan atas Belanda. Kemenangan-kemenangan yang diperoleh Dien ini membuat seorang jurnalis Belanda, C. vander Pol menjuluki Dien sebagai “[…] merkwaardigstevrouwen in Nederland-Indie” yang artinya “perempuan yang mengajaibkan Hindia-Belanda”.

Jurnalis tersebut juga menuliskan tentang Dien yang ‘bertakhta’ di hutan sebagai “[…] ratu hutan, dan menjalankan kekuasaan dari sana –[sesuatu] yang tiada seorang sultan pun yang dapat melakukan selama dua ratus tahun ini […]” setelah kematian suaminya, Teuku Umar (1899).

Catatan-catatan sejarah seperti itu kita dapatkan dari catatan sejarah yang dibuat Belanda dan saat ini tersimpan rapi di Perpustakaan Universitas Leiden. Foto-foto Cut Nyak Dien juga ada tersimpan di sana dan tidak mengenakan hijab
(https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/…/7835…). Bagi saya tidak penting juga mengetahui apakah Cut Nyak Dien berhijab atau tidak? Jauh lebih penting mengetahui atau mempelajari esensi dari nilai perjuangan beliau.

Baca juga:   Pindah Agama

Demikian juga dengan Cut Meutia, tidak perlu dipermasalahkan beliau berhijab atau tidak, tetapi kalaupun benar-benar ingin mengetahui, silakan ditelusuri dari jejak sejarahnya dengan bukti-bukti otentik tentunya. Jangan hanya tebak-tebak buah manggis. Jangan pula memastikan bahwa karena beliau dari Aceh, lantas sudah pasti mengenakan hijab, apa lagi dikaitkan dengan Aceh yang dikenal sebagai serambi Makkah dengan perda syariahnya (ingat zaman kolonial belum ada perda syariah).

Salah satu artikel yang saya baca, ahli waris atau keturunan Cut Meutia sudah mengkonfirmasikan bahwa tokoh nasional Cut Meutia tidak mengenakan hijab. Seorang anak keturunan dari keluarga Cut Meutia, bernama Teuku Ramli menjelaskan bahwa perempuan Aceh dulu tidak ada yang menggunakan hijab. Mereka hanya menggunakan semacam selendang yang diletakkan di kepala (Tirto.id, Desember 2016).

Saya tidak pro atau kontra terhadap kelompok, baik yang ingin membuktikan tokoh tersebut berhijab atau tidak, maupun kelompok yang ingin membuktikan apakah mereka tidak berhijab. Bagi saya, hal itu tidak seharusnya diperdebatkan. Saya menghargai orang yang memilih menggunakan hijab, seperti saya juga menghargai orang yang memutuskan tidak menggunakan hijab.

Nilai diri seseorang orang memang tidak seharusnya dinilai dari pakaiannya, dari agamanya, dari rasnya, atau dari apa pun identitas yang ada pada orang tersebut. Nilai diri seseorang seharusnya dilihat dari isi kepalanya, dari manfaat yang diberikan kepada lingkungan sekitar dan dari kemaslahatan yang diciptakan dengan adanya orang tersebut. Dalam Islam dikatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Tidak pernah ada literatur yang menjelaskan bahwa manusia terbaik adalah yang berhijab atau yang tidak berhijab, atau apa agamanya, apa rasnya dan sebagainya. Tidak ada literatur seperti itu, jadi buat apa diperdebatkan. Pikirkan bagaimana caranya menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain. [MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *