Muluk (Makan Pakai Tangan): Antara Tradisi dan Identitas Kesantrian

Apri Binti Rofi’ah (Mahasiswa SAA-2016). Tulisan ini adalah bagian dari tugas matakuliah “Agama dan Kearifan Lokal”.

Dalam masyarakat modern ini banyak sekali cara yang digunakan seseorang untuk menyantap makanannya, muluk (makan menggunakan tangan) adalah salah satunya. Tradisi ini masih tetap bertahan, terutama di kalangan santri pondok pesantren, yang senantiasa diajarkan cara hidup sederhana dalam banyak hal, termasuk adab atau perilaku di dalam makan. Tradisi muluk juga dipelihara karena dianggap bagian dari Sunnah Nabi.

Dunia sudah berkembang sedemikian rupa, kehidupan masyarakat pun juga banyak berubah. Bagaimana cara atau alat menyantap hidangan, misalnya, masyarakat dulu banyak menggunakan tangan atau muluk, tapi saat ini mereka sudah mulai beralih pada sendok karena dianggap lebih praktis dan mudah. Dampak perubahan zaman ini juga masuk ke dunia pondok pesantren. Para santri yang dulunya biasa makan dengan tangan atau muluk, sekarang ini banyak lebih suka pakai sendok. Pun demikian, tradisi muluk di kalangan santri tidak pernah kehilangan pesonanya. Bahkan tidak sedikit santri lebih suka makan dengan cara muluk daripada sendok. Sekalipun kadang dianggap merepotkan, para santri lebih menyukai karena ada nilai-nilai tertentu yang hilang ketika mereka makan pakai sendok.

Di pondok pesantren ada kebiasaan makan besar atau makan bersama dalam satu nampan. Dalam makan besar ini, para santri lebih suka menggunakan tangan atau muluk dalam menyantap makanan mereka, tak peduli apa bentuk makanannya. Misalnya, ketika makanan itu berkuah santri lebih memilih muluk daripada sendok, sekalipun sendok sudah disediakan buat mereka. Dalam keseharian, para santri juga lebih memilih cara muluk karena lebih memberi rasa nikmat. Bagi mereka, kelezatan makanan bukan semata-mata terletak pada jenis makanannya tapi juga pada bagaimana cara makanan itu disantap.

Tulisan ini hendak mengulas tentang apa sebenarnya makna muluk bagi kalangan santri, terlebih di Pondok Pesantren Al-Amien? Mengapa mereka lebih suka muluk, sekalipun agak merepotkan karena harus cuci tangan dulu sebelum dan sesudah makan? Apakah muluk sudah menjelma sebagai subkultur yang sudah menjadi identitas santri karena anggapan muluk juga pernah dipraktikkan oleh Nabi? Fungsi sosial apakah yang terkandung di dalam mulok? Sebuah tradisi lahir dari pengetahuan lokal (local genius) yang dimiliki oleh setiap masyarakat. Pengetahuan ini kemudian terejawantah dalam tradisi lokal yang terus dipelihara karena nilai-nilai baik dan arif yang terkandung di dalamnya. Dalam hal ini, tradisi muluk bukan sebuah pengecualian.

Makna mulok bagi santri Pondok Pesantren Al-Amien sangatlah beragam. Sebagian mereka memaknai mulok sebagai sebuah tindakan situasional, ketika tidak dijumpai alat makan yang lain. Sebagian lagi berujar bahwa mulok sudah menjadi kebiasaan bagi mereka sehingga tetap dipilih sekalipun ada sendok, misalnya. Ada juga santri yang memaknai mulok sebagai bentuk kesederhanaan. Sebagian lain menganggap mulok sebagai identitas kesantrian mereka. Ungkapan “jangan pernah ngaku santri bila tidak suka mulok,” berlaku bagi kelompok santri ini. Tradisi mulok juga dirasa lebih memberi kenikmatan ketika sedang makan. Mulok, bagi mereka, mewakili nilai keakraban dan persaudaraan yang lahir dari satu kesamaan identitas, yaitu santri. Di samping itu, ada alasan teologis mengapa santri memelihara tradisi mulok. Bagi mereka, mulok adalah sunnah rasul karena Nabi mengajarkan makan dengan menggunakan tangan semasa hidupnya. Selain itu, di dalam mulok terkandung ajaran hidup sederhana, sebagaimana perintah Allah Swt. Mulok juga mengajarkan pola hidup higienis, karena ada keharusan cuci tangan terdahulu sebelum dan sesudah makan, tidak memiliki  kuku panjang karena potensi kuman yang bisa mengganggu pencernaan.

Tradisi mulok juga memiliki fungsi sosial di kalangan para santri, seperti sikap saling menghormati, persamaan derajat, dan kerukunan. Para santi berasal dari lingkungan dan latar belakang yang berbeda-beda sehingga kerap memicu kesalahpahaman. Bagi mereka mulok bukan sekedar praktik makan, tetapi juga sebagai ruang sosial di mana mereka mengakrabkan diri melalui bincang santai, semisal kisah cinta, senda gurau, suka-duka di pondok, bahkan kesibukan sehari-hari. Mulok mengukuhkan rasa persaudaraan dan kerukunan di antara mereka. Sebagaimana kata Emile Durkheim, mulok di sini punya fungsi sosial menyatukan para pengamal mulok di lingkungan pondok pesantren.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *