Mencermati Obrolan Antaragama Warga Biasa, Pengalaman Menulis Disertasi

Buku ini lebih membicarakan mengenai hubungan antara Muslim dan Kristen, tentang bagaimana mereka saling “membicarakan” yang lain dan berbicara ketika bersama-sama. Fokus analisisnya adalah talks alias obrolan warga

—– Suhadi Cholil

Dua hari lalu Prof. Frans Wijsen, promotor doktoral saya, memberikan kabar bahwa buku yang dihasilkan dari disertasi saya bisa diakses leluasa di laman repositori kampus Universitas Radboud. Sebelumnya, buku yang diterbitkan oleh Lit-Verlag (2014) di Jerman itu hanya bisa dibeli dari toko buku seperti Amazon dan sejenisnya.

Awalnya, seorang kolega dari Indonesia tanpa sepengetahuan saya berkirim email kepada beliau kalau ingin mengakses buku itu, dan lebih dari itu, menyarankan agar buku itu bisa diakses oleh publik secara gratis. Kemudian, Prof. Frans meminta persetujuan saya, dan kalau saya setuju, perlu mengisi lembar persetujuan repositori. Tentu saya setuju dan senang dengan usulan itu.

Kini, buku itu nongol di lama kampus dan bisa diunduh secara cuma-cuma, seperti banyak disertasi lain baik yang terbit maupun tidak terbit versi cetaknya. Meskipun penampilan versi repositorinya di universitas yang terletak di Nijmegen Belanda itu kurang elok dibanding versi buku cetaknya–misalnya, bagian nomor halaman yang terpotong, halaman isi terlewat tidak ikut discan, dst.–secara umum buku bisa dinikmati dengan baik.

Saya hanya ingin memberikan pengantar singkat, siapa tahu bermanfaat. Sebab ada bagian yang penting, tapi ada yang kurang penting; ada yang enak dibaca, mungkin juga ada yang menjenuhkan. Jika Anda ingin membacanya, bisa langsung saja ke bagian yang dibutuhkan.

Isi buku ini utamanya tidak berisi dan mendiskusikan tentang Pancasila. Judulnya menjebak. Sekalipun judul besarnya I Come from a Pancasila Family, tetapi anak judulnya lebih mencerminkan isinya: A Discursive Study on Muslim-Christian Identity Transformation in Indonesian Post-Reform Era. Jadi, buku ini lebih membicarakan mengenai hubungan antara Muslim dan Kristen, tentang bagaimana mereka saling “membicarakan” yang lain dan berbicara ketika bersama-sama. Fokus analisisnya adalah talks alias obrolan warga.

Kajiannya mengambil lokasi di Solo, Jawa Tengah. Obrolan “direkam” dari 24 FGD kecil (total melibatkan 150 orang) dari berbagai kalangan lintas generasi, kelas sosial dan gender. Kelas sosial itu, sebagai gambaran, ada tukang parkir dan ada juga dosen; ada buruh pabrik, tapi ada juga pengusaha roti ternama di Solo.

Baca juga:   Kartini dan Cahaya Toleransi Agama di Masa Pandemi

Setelah bercuap-cuap sedikit di awal sebagai pengantar, bagian pendahuluan mulai mengajak diskusi pembaca tentang apa itu konsep agama yang secara teoritis dipahami sebagai hasil konstruksi (constructed). Para sarjana yang mengkaji agama secara kritis biasanya tak luput menyebut kata-kata mantra dari Jonathan Z. Smith (1982), “Religion is solely the creation of the scholar’s study”. Untuk konteks Indonesia, buku ini mengajak pembaca piknik singkat bagaimana kata dan konsep agama dibangun dalam sejarahnya di Indonesia.

Bagi yang masih agak asing dengan kajian Islam dan Kristen, buku ini menelaah singkat perkembangan dua kelompok itu dan juga hubungannya. Salah satu bagian yang mungkin juga menarik, khususnya bagi pengkaji studi agama adalah “the study of religion in Indonesia” yang memokuskan pada bagaimana agama dikaji secara akademik di kampus-kampus.

Bagian lain di bab awal mungkin biasa-biasa saja, seperti disertasi pada umumnya. Namun untuk pembaca yang sedang belajar teori kritis kajian agama, bagian “theoretical framework” bisa menjadi salah satu contoh bagaimana teori diotak-atik. Karena fokusnya pada analisis bahasa atau diskursus, para teoritikus yang disebut adalah mereka yang memiliki persinggungan dengan bidang itu seperti Flood, Bourdieu, Von Stuckard, Beatty, Bakhtin, Gramsci, Mall, Wijsen, dll. Para sarjana bidang teori kritis lain juga disinggung, termasuk Giddens dan Asad.

Bagian method of data analysis menjadi bekal penting untuk menelaah temuan penelitian, karena bidang ini cukup khas. Meskipun menyebut juga metode yang dikembangkan tokoh-tokoh lain, buku ini mengerucutkan pilihannya pada Norman Fairclough tentang analisa wacana. Bekal yang dimaksudkan adalah pendekatan “multi-perspective” dan “poly-methodological” dalam kajian bahasa agama.

Baru kemudian buku ini memasuki inti temuan penelitian dalam tiga bab (Bab 2 sampai Bab 4). Tiga bagian tersebut mengolak-alik obrolan warga: Bagaimana orang Kristen berbicara tentang orang Muslim (Bab 2); Bagaimana orang Islam berbicara tentang orang Kristiani (Bab 3); dan bagaimana orang Islam dan orang Kristen berbicara satu dengan yang lain saat bersama.

Baca juga:   Gereja dan Semangkok Es Campur

Sekilas cara pemaparan tiga bab tersebut terasa menjemukan, begitu juga kesan yang saya peroleh dari pembaca yang jujur. Tapi para pembaca saat bersamaan bisa jadi menemukan obrolan-obrolan yang ringan, jeli, menggelitik, bahkan kadang tak terduga.

Bisa kita pungut sedikit diantaranya, ketika orang Kristen membicarakan terorisme Islam sebagai abnormalitas (kegilaan) di era modern. Secara teoritis, ini bisa ditarik ke belakang dalam kajian Foucault tentang kegilaan di Abad Tengah. Sebaliknya, obrolan orang Islam mengenai umat Kristiani yang menurutnya tidak pernah akan bisa tulus. Di buku ini letupan oral seperti itu menjadi tanda bekerjanya “socio-cognitive effects” dari sejarah kolonialisme di Indonesia.

Obrolan-obrolan tak bertema di lapangan dengan warga di tiga bab itu terkesan berserakan, tak sistematis, morat-marit dan tak berujung. Namun itu malah bisa mengantarkan saya untuk menulis poin-poin penting di bab terakhir, berupa semacam perasan analisis dan temuan disertasi ini, yaitu: (1) Bagaimana transformasi agama terjadi, terutama selama satu setengah dekade pascaReformasi 1998, yaitu tarik ulur dan ketegangan antara kebebasan dan konservatisme; (2) Arus utama model keberagamaan warga yang lebih mengedepankan kelekatan pada aspek sosial dibanding identitas agama (belonging to society first); (3) Munculnya orientasi-orientasi baru model keberagamaan yang tidak ditemui dalam periode sebelum Reformasi; (4) Anggapan warga bahwa orang-orang ekstrim adalah orang-orang yang sakit mental; (5) Kuatnya efek retorik Pancasila dari rezim Orde Baru dan bagaimana reproduksinya setelah era Reformasi khususnya dari arus bawah warga; dan (6) Last but not least, bagaimana konflik di tingkat warga muncul dan lalu bagaimana strategi warga untuk cepat kembali pada tatanan yang harmoni.

Sebagai karya akademik, reviu terhadap buku ini muncul di beberapa jurnal, di antaranya di Exchange (Brill), Journal of Ecuminical Studies (University of Pennsylvania Press), Antropos (Nomos), Kawistara: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora Pascasarjana UGM dan beberapa yang lain.

Buku yang dimaksud dapat diunduh di tautan: https://repository.ubn.ru.nl/bitstream/handle/2066/123050/MMUBN000001_854849521.pdf?sequence=1&fbclid=IwAR20jJsUGFpiZNGTJU9mSl9xiyKqImgKaCsV6MOReci0lDAORgphruFMXhY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *