Makelar Surga

Bagi orang-orang yang bahagia, mereka tak perlu lagi kehadiran pembual yang menjajakan nama Tuhan secara sembarangan. Yakni orang-orang yang menggunakan nama Tuhan untuk menebar kebencian, permusuhan, hingga ajakan untuk melakukan perusakan.

— Ray Ariono

Anda tentu akrab dengan ungkapan berikut, “Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin”. Ungkapan tersebut kerap pula ditambahi dengan request “nol-nol, ya”. Tak ada yang aneh sesungguhnya dari ungkapan tahunan tersebut, hanya saja saya percaya, meminta maaf seharusnya tak dilakukan setahun sekali; kita kerap salah, akui saja, maka sering-sering meminta maaf justru bagus. Pastikan pula, permohonan maaf disampaikan kepada orang yang tepat. Jangan sampai seperti sindiran Benyamin, S. “Bikin dosanya di Jakarta, minta maafnya di kampung halaman”.

Momen lebaran memang hanya terjadi setahun sekali, namun pelajaran penting dari peristiwa besar ini tetap relevan di sepanjang tahun. Termasuk sekarang, di saat semakin banyak dari kita yang merasa sudah sanggup menjadi wakil Tuhan.

Kita mulai dari momen puasa, ya.

Hal pertama yang dilakukan orang-orang sebelum merayakan idulfitri adalah puasa, yang bisa dengan mudah dilihat dari perubahan waktu makan. Tak lagi jajan es di siang hari sebab sudah bersantap sahur saat sebagian orang masih asyik mendengkur.

Dalam bahasa Arab, puasa disebut dengan istilah “saum”, yang berarti “menahan diri”. Ingat, ya. Menahan diri, bukan menahan lapar. Artinya, poin utama dari ibadah ini adalah menahan diri dari melakukan hal-hal yang tak baik untuk diri sendiri –termasuk juga untuk orang lain dan lingkungan.

Maka puasa memang bukan hanya soal tak makan dan minum di siang hari, tetapi juga tidak mencuri, tidak menggunjing, dan tidak-tidak yang lain. Termasuk tidak berbohong pada diri sendiri. Itu sebabnya, jika masih ngeyel berpuasa namun nekat mengumbar keburukan orang lain, maka lapar dan dahaganya tak akan dianggap sebagai ibadah oleh Tuhan.

Baca juga:   Puasa, Antara Supremasi Ruhani dan 'Physical Distancing'

Tidak makan dan tidak minum di siang hari hanyalah simbol dari segala bentuk “menahan” tadi. Jika makan dan minum saja bisa ditahan, masa iya tak bisa menahan mulut untuk mengumpat, atau mengatakan hal-hal yang jahat? seharusnya bisa ditahan.

Meski berukuran kecil, mulut kerap menjadi penyulut untuk segala hal yang kalut. Kata-kata yang keluar dari lubang di muka ini –jika tak dijaga dengan baik—kerap terasa lebih tajam ketimbang belati maupun pedang. Barangkali, itu sebabnya Tuhan ingin ‘menghajar’ mulut kita terlebih dulu melalui perintah puasa. Agar kita semua belajar, kesalahan besar kerap kali dimulai dari hal kecil, yakni mulut.

Kini, lihatlah segala pertengkaran yang terjadi saat ini. Entah itu pertengkaran rumah tangga atau kisruh antarnegara, tak jarang ia hanya bermula dari luncuran kata-kata yang tak tertata. Kata-kata yang terasa lebih menyakitkan ketimbang sayatan senjata perang.

Dalam konteks digital saat ini, “mulut” tentu bisa diartikan pula sebagai jari, sebab jarilah mulut kita di sosial media. Itu sebabnya, jika dulu kita hanya mendengar “mulutmu harimaumu”, maka kini kita pun mendengar “jarimu harimaumu”.

Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan?

Mari hiasi mulut kita dengan syukur. Persis seperti perintah Tuhan ketika kita akan mengakhiri puasa. Yakni dengan bersyukur bahwa Tuhan masih memberi rezeki sehingga kita bisa berbuka puasa.  Dari pada menggunakan mulut untuk mengumpat sesama, mengapa tidak menggunakannya untuk bersyukur bahwa Tuhan masih menyayangi kita –apapun bentuknya?

Bersyukur, itulah yang kini mulai jarang kita saksikan. Padahal bersyukur, kata orang-orang tua, membuat nasib kita selalu mujur; beruntung terus-terusan.

Dengan bersyukur pula, kita akan semakin dekat dengan Tuhan sebab kita menyadari bahwa tak ada sedikit pun dari kenikmatan yang kita miliki saat ini yang tak berasal dari campur tangan-Nya. Dengan begitu, kita akan sadar betapa surga sebenarnya sudah ada sekarang, di kehidupan ini; bukan lagi nanti, setelah mati.

Baca juga:   Jarak Pencipta Rindu

Sebab, jika surga adalah kebahagiaan, maka syukur adalah puncak dari segala kebahagiaan.

Bahagia bukan soal kepemilikan, melainkan kondisi mental. Tak ada jaminan bahwa orang-orang berdasi yang ke mana-mana diantar oleh sopir pribadi itu lebih bahagia dari tukang becak yang tetap ngontrak meski dengkul sudah mulai retak. Bisa jadi, orang berdasi itu sebenarnya lebih merana. Hingga tak sadar sering ikat dasi di lehernya terlalu kencang agar bisa cepat mati saja. Sekali lagi, bisa jadi.

Bagi orang-orang yang bahagia, mereka tak perlu lagi kehadiran pembual yang menjajakan nama Tuhan secara sembarangan. Yakni orang-orang yang menggunakan nama Tuhan untuk menebar kebencian, permusuhan, hingga ajakan untuk melakukan perusakan.

Orang-orang yang bahagia ini mengerti, Tuhan –dengan nama apapun ia disebut—tak mungkin tega melihat umat-Nya saling menyakiti. Karenanya tak mungkin perusak kemanusiaan mendapatkan surga sebagai ganjaran.

Surga adalah buah dari segala kebaikan, ia adalah senja yang datang setelah siang menghilang. Dan untuk mencapai itu, masing-masing dari kita dituntut untuk berusaha semaksimal mungkin. Tak akan ada yang bisa membantu selain diri sendiri; surga bukan barang loak di pasar, ia tak akan bisa didapat dengan jasa dari makelar.

Karenanya, mari teruskan berpuasa, yakni menahan diri dari melakukan segala hal tercela. Akhiri dengan bersyukur dan terbukalah untuk meminta maaf, baik untuk kesalahan yang disengaja maupun tidak. Kita semua manusia, tak ada yang sempurna.[MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *