Jejak Monoteisme Jawa

Orang Jawa Kuno, ketika bertemu dengan beragam tradisi keagamaan manca (luar Jawa) akan mencoba mengambil dan memilah tradisi mana yang sesuai dengan karakter spiritualitas mereka. Walhasil, apapun baju agama yang dikenakan orang Jawa, karakter ‘monoteisme’ dan ‘spiritualitas’ khas Jawa akan tetap kentara dan mewarnai keberagamaan mereka.

—–Saiful Mujab

Tema “Tuhan” adalah topik yang tak akan pernah kadaluarsa untuk didiskusikan. Hasrat untuk menenal Tuhan adalah kebutuhan yang paling primitif, meaningful, sekaligus kontekstual dalam ritme sejarah peradaban manusia.

Seorang mantan biarawati dari Inggris, yang juga pakar studi agama, Karen Amstrong, mengutip ungkapan Wilhelm Schemidt tentang awal keberadaan Tuhan dalam kilas sejarah peradaban manusia dalam bukunya yang fenomenal Sejarah Tuhan.  Dia mengatakan: “Pada mulanya, manusia menciptakan satu Tuhan yang merupakan penyebab pertama bagi segala sesuatu dan  sosok penguasa langit dan bumi. Dia tidak terwakili oleh gambaran apapun, serta tidak memiliki kuil atau pendeta yang mengabdi kepadanya” (Amstrong, 1993).

Tuhan, dalam pembacaan Schemidt (1912), benar-benar telah ada dalam tradisi paling primitif manusia. Manifestasi Tuhan, yang tak terwakili oleh ‘simbol’ apapun, merupakan bentuk monoteisme paling awal.

Rudolf Otto, filsuf dan ahli agama dari Jerman, dalam bukunya The Idea of The Holly (1917), meyakini bahwa perasaan ‘takjub’ dan ‘tak-terperikan’ tentang ‘Yang Maha Gaib’ (Nomineus) adalah dasar dari agama. Dari dorongan tersebutlah, menurut Otto, Tuhan bisa ‘disentuh’ oleh pengalaman manusia—atau dalam bahasa ekstrim, Tuhan ‘diciptakan’.

Monoteisme dalam Tradisi Agama

Sebelum kita mulai masuk pada pembahasan tradisi ‘monoteisme Jawa’, sebagai komparasi, saya akan menelisik pelbagai tradisi monoteisme masyarakat dunia sebagai awalan.

Bangsa pribumi Afrika dalam pengalaman ilahiah mereka telah mengenal ‘Sosok Tak Terperikan’ yang misterius. Suku-suku Afrika menggambarkan sosok ini sebagai dzat yang tidak bisa dicemari dan disentuh oleh ‘profanisme’ manusia dan dunianya.

Tidak hanya itu, tradisi Abrahamik (Yahudi, Kristen dan Islam) juga mengenalkan sosok Tuhan yang ‘Maha’ atas segalanya. Terminologi yang dipakai untuk menyebut-Nya ialah Allah, Ellohem dan Elly.

Sebagai perbandingan terakhir, penulis ingin menyebut beberapa nama bagi realitas tertinggi Tuhan dalam pelgabai tradisi agama di belahan dunia. Di antara nama-nama Tuhan adalah Brahman (Hindu-India), Mana (Kepulauan Laut Selatan), Ahura Masda (Zoroaster-Persia), Ompu Tuan Mula Jado Na Balon (Batak-Sumatera), Puang Matua (Sulawesi), Mori Agu Ngarang (Flores), dan Lowalangi (Nias-Sumatera).

Baca juga:   HRS dan Tantangan Negara Modern

Sejak awal, ketertarikan saya sebagai sarjana dan sekaligus pengajar di Program Studi SAA (Studi Agama-agama) IAIN Kediri, telah menggiring rasa ingin tahu untuk menapaki jejak monoteisme dalam pelbagai klaim agama. Namun, yang paling menggelitik perasaan saya adalah corak monoteisme dalam tradisi Jawa yang juga tanah kelahiran saya.

Jujur saja, hasrat ini muncul dari perasaan kurang sreg terhadap gagasan Geertz,  Ricklefs, dan juga beberapa ilmuan Barat. Mereka menggambarkan bahwa corak asli keberagamaan orang Jawa adalah sinkretik (baca: mencampuradukan agama) belaka!

Karakter Keberagamaan Orang Jawa

Secara pribadi, saya meyakini orang-orang Jawa Kuno bukanlah masyarakat negeri antah-berantah yang tak mengenal tradisi monoteisme sama-sekali. Orang Jawa, menurut saya, bukan pula penyembah batu, pohon, gunung dan benda-benda profan lainnya seperti didiktekan dalam mayoritas buku-buku sejarah sekarang.

Lebih dari itu, tradisi keberagamaan orang Jawa justru sangat subtil dan menekankan sisi-sisi spiritualitas dalam menyentuh yang transenden (gumam saya dalam hati). Asumsi ini seakan mendapat justifikasi setelah saya membaca disertasi Dr. H. Swardi Endrawarsa, seorang ‘haji’ sekaligus penghayat, yang diterbitkan dengan judul Agama Jawa: Menyusuri Jejak Spiritualitas Jawa.

Dalam karyanya tersebut, doktor lulasan UGM ini secara tlaten menjelaskan inti spiritualitas Jawa yang bercorak sufistik dan monoteistik. Katanya, inti keberagamaan orang Jawa adalah spiritualitas dan penyucian batin guna menemukan sangkan paran, yaitu kesempurnaan perjumpaan dengan ‘Realitas Tertinggi’ (Swardi; 2012).

Karakter keberagamaan orang Jawa, menurut Benedict Anderson dalam bukunya The Suluk Gatoloco (1982),  adalah hasil pengaruh banyak tradisi yang menghampiri orang Jawa, seperti Barat (Belanda), China, Turki, Arab dan lainnya. Orang Jawa menerima dan memasukkan tradisi-tradisi ini dalam keranjang khasanah kehidupan mereka. Tapi perlu dicatat, orang Jawa sebenarnya tidak pernah mengambil seluruhnya. Semua khasanah tersebut hanya diterima sebagai kaca benggala karena mereka meyakini kesempurnaan kaweruh Jawa. Nah, itulah sifat dasar orang Jawa yang saya maksud; meyakini ke-adiluhungan budaya sendiri sebagai falsafah hidup. Hal ini juga berlaku dalam hal spiritualitas mereka.

Baca juga:   Mencermati Obrolan Antaragama Warga Biasa, Pengalaman Menulis Disertasi

Penyebutan Tuhan dalam Spiritualitas Jawa Kuno

Menurut seorang Kristen yang sangat serius dalam mengkaji agama asli Indonesia, Rachmad Subagja, nama asali yang digunakan untuk menyebut Tuhan dalam tradisi Jawa adalah Hyang, artinya Yang Maha. Hal ini mengisaratkan kedalaman spiritualitas Jawa yang menemukan sosok ‘Realitas Tertinggi’ yang tak terjelaskan. Sosok misterius ini kemudian dinamai dengan Sang Hyang atau ‘Yang Maha’.

Berdasarkan penelusuran saya dalam pelbagai sumber tulisan, Sang Hyang dalam tradisi spiritualitas Jawa Kuno disandarkan pada sifat-sifat keagungan Tuhan Yang Maha. Sekali lagi mengutip ungkapan Rachmad Subagja, beliau mencontohkan beberapa nama yang sering digunakan orang Jawa Kuno dalam memanggil Tuhan mereka. Di antara nama-nama itu adalah Hyang Murbeng Dumadi,  Hyang Wenang Datan Wiwenang, Hyang Widdi, Hyang Sukma, Sang Purwa (Madya) Wisesa, Ingkang Paring Gesang, Sang Among Tuwuh, Syang Murbeng Jagad, Sangkan paraning Dumadi, Sing Nitahake, Ingkang Sumara Bumi, Syang Jagad Nata, Hyang Guru jagad, Sang Hyang Taya, Hyang Murbeng Rat dan lain-lain (Subagja, 1978).

Selain itu, tradisi spiritualitas Jawa juga mengenal nama-nama lain untuk Tuhan:  Hyang Moho Noso, Hyang Mahaluwih, Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Manoon, Sang Hyang Susma, Hyang Paratama, Sang Wekasing Wekas (Kartodipuro, 1963).

Bukti monoteisme dalam tradisi masyarakat Jawa Kuno bisa dijumpai hingga saat ini di dua daerah suaka di wilayah Jawa yang masih terjaga kemurniannya hingga sekarang: suku Badui dan Tengger. Masyarakat Tengger, misalnya, sampai sekarang menamai Realitas Tertinggi dengan sebutan Sang Hyang Tunggal atau Bathara Bromo, sedangkan masyarakat Badui menyebut Batara Tunggal atau Bapa Koso. Ungkapan-ungkapan punya makna yang hampir sama, yaitu Tuhan Yang Tunggal—monoteistik.

Nama-nama Tuhan dalam tradisi Jawa di atas meyakinkan kita bahwa dalam keberagamaan Jawa telah mengenal suatu konsep kekuatan Mahadahsyat yang ‘tak terperikan’. Hampir seluruh nama-nama Tuhan yang agung tersebut menggambarkan corak monoteisme (ketauhidan) yang khas Jawa.

Sebagai penutup, penulis hanya ingin menegaskan sebuah fakta bahwa, seiring gerak maju sejarah bangsa Jawa, khasanah spiritualitas keagamaan mereka secara bertahap digatukkan dengan pelbagai tradisi lain yang menghampiri mereka. Orang Jawa Kuno, ketika bertemu dengan beragam tradisi keagamaan manca (luar Jawa), seperti Hindu, Buddha, Islam dan Kristen, mencoba mengambil dan memilah tradisi mana yang sesuai dengan karakter spiritualitas mereka. Walhasil, apapun baju agama yang dikenakan orang Jawa, karakter ‘monoteisme’ dan ‘spiritualitasnya’ akan tetap kentara dan mewarnai keberagamaan mereka. [MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *