Jambang Ideologis: Menyingkap Fenomena Urbanisasi Radikalisme di Indonesia

stuttering cold and damp
steal the warm wind tired friend
times are gone for honest men
and sometimes far too long for snakes
in my shoes a walking sleep
and my youth I pray to keep
heaven sent hell away
no one sings like you anymore

—“Black Hole Sun” (Soudgarden)

Dua lelaki muda tengah berjalan santai menikmati aroma pegunungan. Sesekali mereka terlihat tertawa, entah bicara apa. Tapi ada yang lebih menggelitik saya: jenggot yang menghiasi dagu dan t-shirt yang bertuliskan, alamak, ungkapan-ungkapan yang barangkali mereka pun malas untuk menggalinya lebih dalam.

Bagaimana lelaki semuda itu bisa dengan pede-nya membiarkan dagunya berewokan? Untuk ukuran saya pada masa seusia itu jelas tak normal. Barangkali, mereka menggunakan ramuan khusus. Dan, astaga, ketika saya mantengin facebook tiba-tiba nongol sebuah iklan untuk merangsang pertumbuhan jenggot. Celakanya, t-shirt yang bertuliskan ungkapan-ungkapan yang terkadang mengutip hadis, mahfudhat, dan ungkapan-ungkapan yang secara logis jelas tak nyambung dan terkesan merendahkan menyembul pula sebagai sponsor di Facebook (“Kaos Islami Ahad”). Belum lagi sepotong iklan “Kaos Bersurban 3D” di mana seorang pemuda “gaul” berewokan selera emak-emak nongol dengan berkalung surban—seperti citra laskar mujahidin kontemporer.  

Tahukah mereka bahwa banyak ungkapan yang dipampangkan di berbagai t-shirt itu sebentuk kampanye Islam ala wahabi salafi dan wahabi jihadi? Ketika saya ulik satu persatu iklan di berbagai t-shrit itu ada yang secara gamblang terbaca: “Leave The Beard Just grow it”(sembari ditampilkan sebuah siluet putih menyerupai kepala tanpa wajah, hanya rambut dan jenggot yang menjuntai), “MY PROPHET’S SUNNAH (dengan siluet jenggot pula di bawahnya).” Atau pun yang terang menyajikan “teologi maut” ala ISIS: “Hijrah Adalah Meninggalkan Segala Yang Dilarang Agama,” “Hijrah Tanpa Nanti Sebab Mati Tanpa Tapi,” juga “Barrakallahu Syam Negeri Akhir Zaman/ Syiria, Palestina, Yordania & Lebanon.”

Baca juga:   Laskar Pengung

Sedemikian terlambatkah kita untuk menyikapi radikalisme keagamaan di kalangan generasi milenial? Ketika saya menulis “Hikayat Kebohongan I” pada 2017 (https://islami.co), saya hanya menyambangi beberapa muda-mudi dan berdiskusi bebas dengan mereka, dan memang saat itu saya simpulkan bahwa radikalisme Islam telah ngepop. Tapi yang saya tak habis pikir adalah secepat itu gerakan mereka dikooptasi oleh kapitalisme. Maka pada titik ini dapat digarisbawahi bahwa radikalisme keagamaan tak hanya berlangsung di kampus-kampus, perumahan-perumahan kelas menengah, tapi juga sudah merambah “dunia gaul” khas kalangan milenial: ngepub, fashion, mall, café, atau bahkan mapala (mahasiswa pecinta alam). Untuk popularisasi salafi wahabi dan salafi jihadi di dunia perempuan telah saya analisis dalam “Mabuk Bentuk: Antara Komodifikasi dan Radikalisasi Jilbab” (http://jalandamai.org). Logikanya sebenarnya sama pada titik ini, hanya yang membedakan adalah corak fashionnya, antara lelaki dan perempuan.

Bagaimana mereka mendapatkan radikalisasi paham keagamaan seperti itu seandainya di sekolah, kampus, dan perumahan-perumahan kelas menengah tak lagi selonggar dahulu? Mereka berkerumun, belajar sendiri, pusing sendiri. Ada yang memicunya dengan menghujani “lontaran-lontaran verbal” untuk kemudian merembug dan mencarinya bersama-sama. Latar belakang pendidikan keagamaan mereka pun umumnya minim. Mayoritas mereka tak tahu apa itu varian atau tipologi dalam Islam. Mereka memandang bahwa Islam itu hanya satu, tanpa renik, tanpa varian di dalamnya. Tanyailah mereka satu persatu, apa perbedaan NU, Muhammadiyah, sufisme, FPI, IM, HTI, misalnya. Mereka pasti bungkam.

Saya tak anti jenggot, tentu saja, apalagi produk-produk t-shirt yang berhiaskan tulisan-tulisan nyleneh. Tapi, yang tak habis saya pikir, kenapa mesti menggunakan alasan-alasan keagamaan di baliknya? Logikanya, apakah seandainya tak berewokan menandakan ketakpatuhan pada nabi?

Baca juga:   Dosen SAA IAIN Kediri Mengikuti Rakor Penguatan Moderasi Beragama di Jawa Timur

Saya pribadi jemu sesungguhnya dengan perdebatan-perdebatan yang tak pakai akal sehat semacam ini. Kita menghadapi sebuah generasi yang nalar kritisnya sudah dibunuh terlebih dahulu, malas bertanya cepat menghakimi, generasi yang secara physically “gaul,” tapi secara nalar dan wawasan jumud. Kini mereka telah bertransformasi menjadi gerakan counter culture yang sebenarnya alasannya tetaplah klasik: dunia yang mereka pandang kian hari kian bobrok.

Persebarannya pun saya kira tak seperti di masa lalu, di zaman para senior-seniornya, tapi sudah serupa gerakan-gerakan counter culture: worldview, pola interaksi, fashion, dan bahkan musik yang khas. Halaqah di masa lalu kini sudah mereka transformasikan menjadi semacam gigs. Dan ingat, gerakan-gerakan counter culture berupaya “menguasai” ruang publik dengan menciptakan trendsetting, maka mereka pada dasarnya berkiblat atau mendudukkan figur-figur tertentu sebagai trendsetter untuk melangsungkan eksistensi dan agenda mereka. Persis gerakan grunge yang membutuhkan figur Kurt Cobain, Chriss Cornell, ataupun Eddie Vedder. Di tangan generasi ini sikap anti-kultus ternyata hanyalah gincu. Generasi inilah yang secara serius menggoreng figur-figur semacam Felix Siauw ataupun Hanan Attaki yang memenuhi standar mereka supaya tetap eksis. Bagaimana pun mereka tetap membutuhkan figur-figur tertentu untuk diikuti, mulai dari cara pandang hingga fashion. Terlalu jauh untuk menyimpulkan bahwa tauladan mereka adalah nabi. Sebab, untuk mengembalikan cara berpikir mereka, kombinasi jenggot, t-shirt dengan berhiaskan kutipan-kutipan hadis, dan ngepub, adalah sebentuk bid’ah. Dan celakanya, tak seperti cara berpikir nahdhliyyin, tak ada bid’ah hasanah dalam otak mereka. Dengan demikian, untuk membunuh seekor ular orang mesti menghancurkan kepalanya terlebih dahulu daripada ekornya—sebelum terlanjur “tua”. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *