Hidup ‘Selow’ dengan Filosofi Tao

“Setiap orang adalah jenius, tapi jika kamu menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, maka seumur hidupnya dia akan memercayai kalau dia bodoh”

——Albert Einstein

Pernahkah Anda mendengar ungkapan, “Setiap orang adalah jenius, tapi jika kamu menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, maka seumur hidupnya dia akan memercayai kalau dia bodoh”? Konon kalimat ini keluar dari mulut seorang fisikawan besar Albert Einstein; tapi tak soal dari mana ungkapan itu berasal. Jika Anda pernah, apa yang pertama kali terbesit di benak Anda?

Kita bisa saja menjadi manusia yang bernasib sama dengan ikan tersebut. Kita menjadi seekor ‘ikan’ yang terlanjur masuk ke dalam kubang penilaian orang lain; kita dibilang tidak punya bakat, tidak terampil, dan bodoh. Penilaian semacam itu tentunya  sangat menyakitkan dan membuat hidup kita tertekan.

Sebaliknya, kita juga bisa menjadi si ‘penilai’ yang secara angkuh mendaku sebagai penguasa atas segala hal. Kita merasa berhak menjatuhkan siapapun dan merusak apapun atas dalih memenuhi keinginan yang sayangnya tidak akan pernah merasa terpuaskan tersebut.

Lalu, bagaimana mengatasi tekanan dan keinginan berlebih sehingga hidup kita bisa damai dan bahagia? Filosofi Tao bisa jadi sebuah jawaban. Filosofi ini mengajarkan kita untuk bisa lepas dari “keruwetan” yang tampak semakin hari semakin berat.

Sebelum itu, mari kita lihat sejenak pengertian filosofi Tao sebagai pondasi pengetahuan untuk mengurai masalah pelik di atas. Taoisme merupakan kepercayaan tua asal Cina. Ia diperkiran telah ada sejak abad ke-6 SM. Tokohnya yang terkenal adalah Lao Zi/Lao Tzu (Pitoyo, 2006). Lao Tzu diyakini juga sebagai pengarang kitab masyhur rujukan penganut Taoisme: Tao Te Ching.

Tao/Dao sendiri berarti “jalan” ; suatu cara untuk bertindak. Konfusius memakai istilah Tao untuk mengacu pada cara bertindak yang benar dalam sekup moral, sosial, dan politik (Creel, 1989). Tao juga bisa diartikan sebagai jalan yang tidak kaku dan luwes; memberi kesempatan kepada manusia untuk mengubahnya sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing (Lasio, 1983). Pengertian di atas memberi arti secara eksplisit bahwa Tao bekerja dalam koridor filsafat etika. Di kalangan filsuf kontemporer, Tao terbagi ke dalam dua macam; Tao sebagai agama (Tao Chiao) dan Tao sebagai filsafat (Tao Chia).

Baca juga:   Pesan Multikulturalisme dari “Upin & Ipin”

Untuk memahami Taoisme sebagai filsafat etika, perlu merunut pengertian Tao dari sisi metafisika. Tao adalah sumber yang unik dari segala sesuatu; ia polos, tak berkehendak, murni, tanpa tujuan, “spontanitas” (Tzu Jan), dan impersonal (Pitoyo, 2006). Singkatnya, Tao adalah apa yang kita kenal dengan Yang Mutlak ‘Supreme Being’.  Di Jawa, istilah ini mungkin bisa disepadankan dengan ungkapan “Tan Kena Kinaya Ngapa” “Yang Tak Dapat Direka-reka dengan Pikiran” atau “Sang Hyang Suwung” “Yang Tak Terkatakan”.

Tao sebagai prinsip dasar realitas memberi ‘percikan’ kepada seluruh realitas yang ada. Percikan dari Tao disebut juga sebagai “Te”, artinya “daya” atau “kebajikan” (Fung Yu-Lan, 1990). Te terdapat dalam segala benda sebagai kepanjangan “diri” Tao. Dalam buku Chung Tzu Bab II dijelaskan bahwa Te ini pula yang kemudian menempatkan manusia setara dengan belut, ikan, monyet, dan burung (Creel, 1989).

Kebajikan dalam Te tidak diartikan sebagai lawan dari keburukan. Ia lebih tepat dimaknai “sederhana”, “kepolosan”, “kemurnian”, “kewajaran”, dan “kealamian”. Te adalah sintesis dari paradoks alam (Jawa: Rwabinedha) yang kemudian disimbolkan dengan Ying dan Yang. Ia adalah sesuatu yang menangkal segala “keruwetan” yang disebabkan oleh hal-hal yang saling kontradiktif dan berlebihan. Asumsi ini didasarkan pada esensi manusia yang merupakan bagian dari Tao. Te ibarat “rem” yang menghendaki manusia bertindak wajar, alamiah, polos, dan sederhana sesuai watak dari Tao.

Bagi Taoisme, segala hal yang direkayasa itu palsu. Tao sebagai filsafat etika bersumber dari sesuatu yang bersifat metafisik. Ia menegasikan klaim bahwa manusia adalah subjek dari alam semesta yang bisa dengan pongah mengeksploitasi alam dan berperilaku superior atas manusia yang lain.

Baca juga:   Kisruh di Amerika dan Respons Diaspora Indonesia

Secara praksis, Taoisme menawarkan konsep  “wu wei” sebagai solusi atas segala tekanan dan keinginan berlebih manusia. Istilah ini dapat diterjemahkan sebagai “tanpa bertindak”, “jangan berbuat apapun”, “tidak berbuat”, dan “jangan mencampuri” (Pitoyo, 2006). Namun agaknya pengertian ini tidak bisa dimaknai sebagai seruan bersikap pasif saja. Wu wei sebenarnya adalah anjuran untuk bersikap sewajarnya, sesuai dengan kodrat, alamiah, dan tidak mengejar pemuasan keinginan (baca: woles). Konsekuensi dari kewajaran melakukan sesuatu adalah tiada melakukan “agresi” terhadap apapun (Yosef, 1993). Segala sesuatu dibiarkan berlangsung apa adanya tanpa perlu disiasati, dicampuri,  atau dibuat-buat. Sederhananya, wu wei juga dapat diartikan sebagai “bertindak dengan tanpa tindakan”.

Kebijaksanaan wu wei sering diidentikan dengan air. Air adalah unsur terlemah sekaligus terkuat. Maksudnya, kelemahan dapat mengalahkan kekerasan, dan kelembutan dapat mengalahkan kekakuan (Tao Te Ching, Bab 78). Di India, filosofi ini mirip dengan konsep Ahimsa-nya Mahatma Gandhi.

Fahruddin Faiz menjelaskan dalam serial “Ngaji Filsafat” bahwa Taoisme mengajarkan tujuh prinsip: simplicity ‘kesederhanaan’; sensitivity ‘kepekaan’; flexibility ‘kelenturan’; independence ‘kemerdekaan’; focused ‘berpikir jelas’; cultivated ‘matang’; dan joyous ‘gembira’. Penganut Taoisme meyakini ketujuh prinsip ini mampu mendatangkan kehidupan yang bahagian dan alamiah.

Bila Taoisme diilustrasikan sebagai seni bela diri, ia mungkin serupa dengan Aikido asal Jepang. Dalam Aikido, orang bergerak mengikuti gerakan musuh dan sama sekali tidak melakukan perlawanan sedikit pun. Cara mengalahkan musuh bukanlah menyerangnya dengan kekerasan, melainkan secara pasif dan luwes menggunakan kekuatan musuh tersebut  untuk menjatuhkannya di saat yang tepat (Reza, 2010). Silakan temukan Tao Anda!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *