Deradikalisasi Yoga [2]

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari maraknya gaya hidup beragama di tanah air ini. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami hanya sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan kepada kebenaran mutlak.

—– Yudhi Widdyantoro

Walaupun sering dikatakan bahwa yoga sifatnya universal dan dapat diikuti semua orang, tentunya dalam kasus-kasus tertentu ada pula keterbatasannya, yang umumnya karena sakit, atau sesuai dengan siklus kehidupan, seperti perempuan yang sedang mengalami masa haid tidak dianjurkan melakukan postur-postur inversion, seperti headstand (salamba sirsasana: salamba =topangan, sirsa=kepala), handstand (adhomuka vrikasana: adhomuka = pandangan menghadap ke bawah, vrika = pohon), bahkan shoulderstand (salamba sarvangasana: sarva = serba, semua, menyeluruh).

Perlu ada komunikasi yang baik antara murid dan guru. Peserta atau murid yang datang berlatih seharusnya memberitahukan terlebih dahulu pada pelatih kalau ada sakit atau problem fisik yang sedang dialami. Asana yang dilatih sesungguhnya lebih untuk mendengarkan tubuh sendiri dan merasakan sensasi serta rasa yang timbul ketika sedang melakukan postur itu. Persis seperti meditasi. Pergunakanlah setiap melakukan postur itu sebagai cermin untuk melihat diri kita sendiri, seperti kutipan di atas, yoga is a mirror to look at ourselves from within.

Jika kita masih dalam tahap awal berlatih, sebaiknya perlu mendapat bimbingan instruktur yang telah belajar lebih dulu dan berpengalaman yang akan memberi pemahaman dalam melakukan postur agar mendapatkan manfaat yang lebih maksimal, selain agar terhindar dari risiko cedera. Karena yoga bukanlah olahraga kompetitif, dan semata-mata untuk pengembangan diri sendiri. Dalam melakukan postur-postur itu, janganlah memaksakan diri. Sesuaikan tingkatan yang yoga center tawarkan dengan kemampuan kita masing-masing. Di sini memang diperlukan juga sifat kesabaran.

Di dalam berlatih asanas, pergunakanlah saat itu untuk berlatih meningkatkan kesadaran akan keberadaan diri kita sendiri, mengembangkan pemahaman mind-body connection, akan hubungan tubuh dan pikiran, serta rasa yang saling berkaitan. Dalam suatu kesempatan Bhikkhu Sri Pannyavaro berkata, “Kalau kita ingin memahami kehidupan, maka diri kita sendiri inilah bahan pengamatan yang sangat baik. Tidak perlu mencari jauh-jauh. Bukankah diri kita adalah kehidupan yang utuh juga? Dan kita sendiri mengalami kehidupan ini.”

Di dalam melakukan asana, kalau kita perhatikan dan rasakan, tentunya ada satu bagian atau sisi dari tubuh kita yang tidak sama persis, baik kekuatan maupun juga kelenturannya. Tentunya kita harus memperhatikan sisi atau bagian tubuh yang masih ada kekurangannya tersebut. Kita akan menzalimi diri kita sendiri jika hanya focus untuk menguatkan atau membuat lentur satu sisi yang relatif sudah lebih baik. Justru malah kita harus memberi perhatian lebih ekstra pada sisi yang dirasa masih kurang agar mencapai keseimbangan. Jika kita sadari ini, dan kemudian kita berada pada postur itu untuk sekian waktu tertentu, merasakan semua fenomena dan sensasi yang timbul, baik yang datang lewat indra kita, ataupun pikiran dan rasa: sakit, tidak nyaman, ataupun kenyamanan sebagai akibat dari melakukan postur tersebut, sadari saja, kelak kita akan merasa seperti dalam bermeditasi.

Baca juga:   Tetirah Hidup Orang Rimba

Dalam bermeditasi, praktisi yoga akan dapat mengatasi waktu, baik waktu kronologis maupun waktu psikologis. Mengutip BKS Iyengar, guru besar Iyengar Yoga: “Our body is the bow and the asanas are the arrows to hit the target…liberation, Samadhi”. Tubuh kita adalah seperti busur dan latihan asana adalah anak-anak panah yang siap dilesatkan untuk mencapai sasaran kita, pembebasan dan penerangan batin. Terbebas dari pengaruh atau perbuatan masa lalu, baik yang buruk maupun yang menyenangkan, dan juga ketakutan akan masa depan yang belum datang. Kita sendiri adalah sang pemanah itu, pengendali atas diri kita sendiri. Lupakan perbedaan, fokus pada latihan. Sesungguhnya yoga adalah rahmatan lil alamin, karunia bagi alam semesta dengan segenap isinya. Sekarang, tantangan para praktisi yoga adalah menjawab pertanyaan, apakah yoga dapat menjadi sarana berlatih menjadi manusia bebas namun tetap dalam koridor demokrasi tanpa melupakan kodrat perbedaan dari setiap manusia. Seharusnya bisa. Meminjam istilah Gus Dur: Gitu aja kok repot….!

Apa yang sudah lewat, entah baik, entah buruk, entah menyangkut diri kita sebagai individu, entah diri kita sebagai anggota suatu kelompok (agama, suku, bangsa, dsb) semua itu bermanfaat untuk memberikan suatu identitas dan memelihara identitas itu bagi diri kita. Manusia biasanya membutuhkan suatu identitas, yang dengan itu ia mengenali dirinya, dan melihat dirinya di dalam masyarakat, di dalam sejarah. Manusia tidak sanggup melihat dirinya tanpa identitas, tanpa harga diri, tanpa sesuatu yang memberi makna pada eksistensinya.

Untuk hidup di masyarakat, mungkin semua itu ada artinya dan perlu. Namun, dilihat dari perspektif yang lebih luas dan lebih dalam, dari perspektif pencerahan dan pembebasan, semua itu tidak ada artinya, karena tidak kekal, alih-alih malah memperkuat aku/ego, sekalipun secara positif. Selama si aku memiliki identitas yang dipertahankannya, seberapapun “baik”-nya, selama itu ia tidak akan pernah bebas!

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari maraknya gaya hidup beragama di tanah air ini. Sebagian orang menganggap itu karena adanya peningkatan kesadaran orang yang beragama pada hal-hal yang subtil. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami hanya sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan kepada kebenaran mutlak.

Dalam bahasa Cak Nur, panggilan akrab Nurcholish Madjid, sebagai al-hanafiyyah al-samhah, mencari kebenaran yang lapang dan toleran serta jauh dari sifat fanatik dalam beragama. Mereka yang sepaham dengan cara berpikir Cak Nur agak alergi pada gejala fundamentalisme, karena mereka terbiasa beragama dengan cara inklusif. Kajian mereka lebih filosofis. Karenanya, perjumpaan atau dialog dengan agama lain bukan sesuatu yang tabu. Adanya semacam proses emanasi spiritualitas ini, menjadi awal pembawa berkah bagi perkembangan yoga. Orang-orang seperti ini akan dengan ringan melangkahkan kakinya “melompati pagar tabu agama” untuk mengunjungi aktivitas keagamaan atau kegiatan spiritualitas dari agama atau tradisi yang berbeda.

Baca juga:   Hitam Putih Manusia Super

Yang hampir sama dengan derap perkembangan keagamaan, adalah sebuah gelombang kultural yang sangat konsern pada spiritualitas, yang biasa disebut New Age. Walaupun di barat New Age sudah marak di era 60-an hingga 70-an, seperti adanya kelompok yang lebih dikenal sebagai flower generation (generasi bunga) namun, entah bagaimana di Indonesia, pada era 90-an gelombang New Age ini mulai dirayakan lagi. Panggilan “pengembaraan ke Timur” seperti suara-suara yang didengungkan kembali. 

Hal lain yang menjadi vitamin perkembangan yoga adalah kebiasaan yang dibawa dari anak-anak Indonesia yang pernah belajar di luar negeri, khususnya Amerika Serikat. Anak-anak dari keluarga A+ atau kelompok paling atas dari menengah-atas yang ketika sekolah atau tinggal di Amerika sudah mengenal dan berlatih yoga, dan kemudian merasakan manfaatnya. Mereka meneruskan kebiasaan hidup itu sekembali ke tanah air. Selain mereka, tentunya banyak juga orang Indonesia, yang walaupun tidak ke Amerika, tapi cukup terbuka pada perkembangan gaya hidup mondial, turut menjadi amunisi ampuh bagi ledakan yoga di kota-kota besar Indonesia.

Di Amerika, yoga tentunya lebih dahulu berkembang dibanding dengan Indonesia. Gairah orang Amerika untuk beryoga sudah melampaui untuk sekadar kebutuhan exercise atau kesehatan fisik, tapi sudah menjadi lifestyle, gaya hidup. Selain yoga centers yang sudah menyebar hampir di seluruh pelosok negeri, kelengkapan pendukung latihan pun turut tumbuh menyertainya, seperti t-shirt, celana, matras yoga, atau props (benda-benda untuk membantu latihan fisik), program retreat, workshop, teacher training, bahkan asuransi untuk para praktisi diiklankan dengan marak di majalah, seperti Yoga Journal, Living Yoga yang diterbitkan di negeri Paman Sam ini. Asosiasi-asosiasi yoga dari berbagai tradisi: Iyengar Yoga, Ashtanga Yoga, dan sebagainya dibentuk di hampir setiap negara bagian (state).

Least but not last, keberadaanInternational Yoga Alliance (IYA) yang dikreasi oleh orang-orang Amerika. Hampir seperti Perserikatan Bangsa-bangsa, organisasi ini seolah ingin menjadi payung bagi seluruh aliran dan tradisi yoga yang ada di muka bumi. Mereka membuat standar dan ketentuan, seperti kurikulum dalam menyelenggarakan teacher training, pelatihan untuk menjadi pelatih yoga. Harus diakui, bahwa dalam membuat sistematika, mengemas dan kemudian “memasarkannya” orang Amerika sangat piawai, walaupun kita tahu, yoga berasal dari India, ribuan kilometer di seberang benua Amerika. [MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *