Cewek Bercadar Tidak Sangar

Dari obrolan di banyak perjumpaan saya dengan perempuan-perempuan bercadar di Poso, saya tak merasa diintimidasi apalagi dihantui kecemasan bahwa saya akan disakiti. Mereka asyik dan sangat friendly.

—Khoirul Anam

Bagi sebagian orang, cadar yang dikenakan perempuan muslim masih dianggap sebagai ancaman. Saking mengancamnya, tak sedikit negara di Eropa yang melarang penggunaan cadar di tempat-tempat umum. Prancis, Belgia, Belanda, Swiss, Nigeria hingga Norwegia sudah beramai-ramai mengeluarkan larangan penggunaan cadar. Bahkan di Indonesia, Menteri Agama Fachrul Razi sempat mempersoalkan penggunaan cadar di kalangan pegawai negeri. Kain gelap yang menutup sebagian muka itu dianggap sebagai alarm bahaya.

Bagi Nevi (bukan nama sebenarnya), ketakutan terhadap cadar yang dikenakan perempuan merupakan sikap yang berlebihan. Sebabnya, ia mengaku satu-satunya alasan ia mengenakan cadar adalah perintah agama; tak ada niat untuk menakut-nakuti orang lain.

“Ini kan perintah syariat,” kata dia dalam sebuah obrolan ringan di kantor Pesantren Islam Amanah Putri, Tanah Runtuh, Poso belum lama ini.

Nevi hanyalah satu dari ratusan santri perempuan lain di Amanah yang mengenakan cadar. Baginya, cadar (niqab) adalah pelindung terbaiknya dari maksiat. Karenanya ia mengaku nyaman dengan niqabnya dan tak berniat untuk menanggalkannya.

“Ada beberapa pendapat sebenarnya di Islam tentang cara berpakaian muslimah, tetapi saya memilih mengenakan niqab karena merasa nyaman,” kata Nevi menjelaskan alasannya.

Pimpinan Yayasan Wakaf Amanatul Ummah yang membawahi pesantren Islam Amanah, Haji Muhammad Adnan Arsal mengaku tak pernah mewajibkan penggunaan cadar bagi santri dan ustazah di pesantrennya, ia bahkan melarang pengurus dan santri pesantren memaksakan penggunaan cadar, namun jika dengan mengenakan cadar mereka merasa aman dan nyaman, pihaknya tentu tak akan melarang.

Baca juga:   Class-Project Simbol-Simbol Agama

“Saya tidak pernah mewajibkan itu, bahkan saya larang kalau ada yang memaksakan santri untuk pakai cadar, tapi kalau mereka merasa nyaman, merasa lebih cantik, dan aman dari melakukan maksiat, ya silakan,” jelas dia.

Nevi mulai mengenakan cadar sejak kelas dua SMP atas kemauannya sendiri. Ia mengaku sudah lama memerhatikan muslimah-muslimah lain yang mengenakan cadar di lingkungannya, ia tertarik dan akhirnya memutuskan untuk ikut mengenakan kain penutup yang hanya menyisakan mata itu.

“Sebenarnya ya panas, tapi karena sudah terbiasa, jadi ya biasa saja,” kata dia saat ditanya bagaimana rasanya mengenakan niqab, model pakaian yang menjulur dari atas kepala hingga pangkal kaki.

Hal senada juga disampaikan Sari, perempuan yang mengajar di pesantren Amanah ini merasa niqab adalah pelindung dirinya yang paling lengkap. Pakaian ini disebutnya tak hanya mampu menutupi aurat, tetapi juga melindunginya dari melakukan maksiat.

Ia dan rekan-rekannya di pesantren mengaku tak pernah ambil pusing terkait tuduhan yang menyebut perempuan bercadar cenderung tertutup, tidak friendly atau bahkan radikal, “Cuekin saja,” katanya sambil tertawa.

Sari, Nevi, Intan, Ana, Fitri, Lia, Lala, Susan dan banyak lagi perempuan di Poso merasa cadar tak pernah membatasi mereka dalam bergaul. Mereka mengaku tetap terbuka dan mudah berteman dengan siapa saja. Sementara soal radikalisme dan terorisme, mereka sepakat menolak paham-paham yang mengajarkan kekerasan.

Di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah ada ratusan perempuan muslim yang mengenakan cadar sebagai pakaian keseharian mereka. Warga pun tampak sudah mulai terbiasa dengan model pakaian yang sebenarnya baru mulai marak dikenakan usai konflik komunal antara massa Kristen dan muslim sejak 1998 lalu.

Beberapa pengurus di Pesantren Islam Amanah menyebut cadar tak pernah menjadi penghalang bagi para santri untuk berprestasi. Santri-santri Amanah bahkan beberapa kali sampai di level-level tertinggi Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) yang mengantar mereka hingga ke banyak daerah untuk bertanding, seperti Batam, Jepara, dll.

Baca juga:   Laskar Pengung

Bukan Simbol Poligami

Pandangan miring lainmya yang kerap dialamatkan ke perempuan bercadar adalah poligami, yakni bahwa perempuan yang mengenakan cadar gampang ditinggal nikah lagi. Tentang ini, Sari bereaksi keras. “Semua perempuan sebenarnya sama, nggak mau diduakan. Berat,” kata dia.

Meski begitu, Sari mengaku bahwa poligami adalah bagian dari syariat agama. “Jadi, kalau suami mau nikah lagi, Anda dipoligami, mau nggak?”

“Nggak mau!”

Obrolan dengan perempuan-perempuan bercadar ini berjalan lancar, mereka tak tampak kaku apalagi menghindar. Beberapa pengajar pria yang turut dalam obrolan itu menyebut cadar bukan penghalang, artinya para perempuan ini tetap bisa berinteraksi seperti biasa. Cadar lebih berfungsi sebagai pembatas, ia membatasi pergaulan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram agar tak sampai pada level yang bukan-bukan.

Dari obrolan di banyak perjumpaan saya dengan perempuan-perempuan bercadar di Poso, saya tak merasa diintimidasi apalagi dihantui kecemasan bahwa saya akan disakiti. Mereka asyik dan sangat friendly.

Jadi, siapa yang bilang perempuan bercadar sangar? mainmu kurang jauh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *