Petualangan Ganesha: Reinterpretasi Keseimbangan Kosmik

Petualangan Ganesha bercerita tentang lima pelajar yang melakukan ekspedisi ke Gunung Wilis untuk mengisi liburan semester. Alih-alih mendapatkan pengalaman menikmati alam, mereka justru terlibat dalam pertentangan dua kelompok pada dimensi lain Gunung Wilis

—- Moh. Irmawan Jauhari

Antroposentrisme di satu sisi mampu mengantarkan manusia menjadi lebih baik dan memahami eksistensinya dalam kehendak bebas yang sistematis dan rasional. Akan tetapi, ketika perjalanan menjadi semakin jauh, hubungan manusia dengan alam cenderung eksploitatif dan tanpa kontrol karena semesta ada diperuntukkan buat manusia. Pengerukan SDA tanpa batas, pencemaran lingkungan, industrialisasi, adalah sebagian permasalahan yang bermula dari antroposentrisme. Ditambah globalisasi yang ingin melakukan percepatan putaran kapital sampai pelosok Negara Selatan menjadikan keadaan semakin rumit dan tidak semudah Shiva merubah keadaan dengan sepeda ajaibnya.

Petualangan Ganesha yang terbit pada Mei 2021 secara filosofis mencoba mengajak para pembaca untuk memahami hubungan alam dan manusia dengan lebih jernih. Buku ini mengambil latar Gunung Wilis dengan beberapa potensi wisata maupun folklore yang pernah penulis dapatkan ketika berkunjung ke Kawasan Lingkar Wilis. Semuanya disusun menjadi satu dalam bentuk dialektika fiksi sekaligus memberikan interpretasi akan makna antroposentris yang memperhatikan keseimbangan kosmik. Atau dalam mata kuliah Aliran Kepercayaan, keseimbangan manusia sebagai jagad alit dan semesta sebagai jagad ageng.

Tidak dapat dipungkiri hari ini atas nama keegoisan manusia, di Wilis sudah tidak terdapat hutan dalam arti kata yang sebenarnya. Sebabnya adalah banyaknya pembalakan liar beberapa tahun lalu, alih fungsi hutan menjadi lahan ekonomi, serta kurang pedulinya kita semua akan keberadaan gunung sebagai paku dari dunia. Bagaimana jika beberapa paku dalam meja kita ambil dan rusak? Jawabannya pasti meja tersebut turut rusak.

Petualangan Ganesha singkatnya bercerita tentang lima pelajar yang melakukan ekspedisi ke Gunung Wilis untuk mengisi liburan semester. Alih-alih mendapatkan pengalaman menikmati alam, mereka justru terlibat dalam pertentangan dua kelompok pada dimensi lain Gunung Wilis. Alkisah, Ki Barda ingin mencabut segel gunung sehingga menjadikan Wilis sebagai salah satu gunung berapi. Kelima pelajar tersebut pada akhirnya terlibat dalam upaya menyadarkan Ki Barda agar tidak meneruskan perbuatannya karena membawa dampak yang merugikan bagi manusia dan penghuni Wilis lain.

Pesan moral yang ingin disampaikan adalah manusia dengan segenap perbuatannya berpotensi merusak alam sekaligus bisa memperbaikinya. Kerusakan di Kawasan Gunung Wilis tidak semata kerusakan fisik, namun juga budaya, ekonomi, dan ruang sosial masyarakatnya. Melalui Petualangan Ganesha, kerusakan-kerusakan tersebut disamarkan dalam bentuk cerita agar menarik untuk dibaca dan dipahami oleh anak-anak dan para remaja.

Sebagai sebuah karya fiksi, tentu langkah yang diambil bukan taktis menangani bencana atau pelestarian lingkungan. Akan tetapi ini adalah langkah strategis yang bisa jadi buahnya setelah sepuluh dan dua puluh tahun lagi, terdapat kesadaran kolektif untuk memelihara lingkungan khususnya masyarakat Wilis. Diperlukan benang merah Gerakan-gerakan taktis serta strategis untuk menanamkan spirit kepedulian lingkungan. Dalam pandangan penulis, fiksi berbalut ilmiah adalah salah satunya. Sehingga pada akhirnya terdapat sinergi gerak antara akademisi, pegiat lingkungan, dan para stakeholder lain dalam memberikan edukasi terkait merawat lingkungan untuk generasi mendatang.

Rencananya, seri Petualangan Ganesha akan berlanjut di beberapa gunung lain serta mengangkat mitos maupun potensi lain yang ada. Dengan harapan muncul kecintaan pada lingkungan, kepedulian pada basis sejarah dan budaya, serta menguatnya budaya literasi. Dan untuk mendukung Gerakan kepedulian lingkungan, penulis menyarankan jika ingin membeli buku ini bisa di google books sehingga tidak perlu versi cetak. Mengingat dengan membeli di portal online, Sebagian keuntungan akan didonasikan untuk kegiatan literasi dan pelestarian alam. [MFR]

Tangkal Hoax dengan Kebenaran

Pesan Paus, “Datang dan Lihatlah”, mengajak kepada seluruh pembuat berita untuk menyampaikan kabar kebenaran.

— Rosita Sukadana

Pada Idulfitri kali ini, media sosial diramaikan dengan hoax lonjakan kasus Covid-19 di beberapa kabupaten/kota di Jatim. Hal ini mengingatkan pada hoax yang juga terjadi semasa Idulfitri tahun lalu. Informasi yang tidak benar tentang lima anak  yatim piatu dan miskin. Ayah mereka meninggal dunia karena Covid-19. Foto jenazah dan anak-anak tersebut melengkapi hoax yang tersebar melalui sejumlah media sosial.

Pada kenyataannya, kakak beradik yang diberitakan adalah anak-anak dari sepasang suami istri yang mendapat pendampingan dari tim Relawan Paliatif dan Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) paroki Kristus Raja Surabaya. Pendampingan sudah dilakukan beberapa tahun lalu dan semakin aktif pada saat hubungan suami istri ini sedang bermasalah. Persoalan mereka berawal dari lumpuhnya kedua kaki kepala rumah tangga akibat Hernia Nukleus Pulposus (HNP). Tidak berfungsinya anggota badan menjadi penyebab si istri pergi meninggalkan rumah sehingga mengharuskan si suami mengurus kelima anak mereka.

Situasi ini membuat si suami bertekad untuk dapat berjalan kembali. Keinginan untuk sembuh direalisasikan dengan menjalani operasi tulang belakang. Pada masa pemulihan pascaoperasi, terjadi infeksi yang akhirnya menjalar ke otak. Keadaan yang menyebabkannya menghembuskan nafas terakhir. Kondisi ini membuat tim melakukan pendampingan intensif pada kelima anaknya. Proses pendampingan meliputi pegurusan jenazah, pencarian ibunya dan juga  kerabat, sampai penyediaan tempat untuk bermalam; tempat tinggal sementara selama masa berkabung.

Pada hari kedua setelah kematian ayah mereka, ibunya ditemukan di Jogja. Sesudah proses negosiasi yang alot, akhirnya ibu mereka menyetujui permintaan tim dengan bersedia kembali ke Surabaya untuk mengasuh kelima anaknya. Keadaan yang sangat berbeda dengan hoax yang beredar.

Hoax tentang anak-anak ini, menyebabkan pastor kepala paroki Kristus Raja, RP. Dodik Ristanto, CM., terdorong untuk melakukan klarifikasi. Penjelasan secara tertulis mengenai kondisi yang sebenarnya, berdasarkan kronologi pendampingan. Tulisan dibuat menurut peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi, berupa pengalaman tim pendamping selama bersama dengan sumber berita. Surat klarifikasi ini kemudian disebarkan secara resmi di media sosial.

Beredarnya  surat klarifikasi menangkal hoax seputar peristiwa itu. Penangkalan yang meredakan peredaran dan akhirnya berhenti dengan sendiri.  Berhentinya hoax tersebut karena surat klarifikasi mempunyai kekuatan dari kebenaran informasi. Apalagi, kebenaran tersebut mendapat dukungan dari instansi resmi.

Kebenaran informasi menjadi perhatian Paus; pemimpin umat katolik sedunia. Terlihat pada pesannya dalam rangka hari Komunikasi Sosial Sedunia ke 55, tahun ini. Pesan Paus, “Datang dan Lihatlah”, mengajak kepada seluruh pembuat berita untuk menyampaikan kabar kebenaran. Kebenaran diperoleh dengan cara mendatangi dan melihat langsung di tempat peristiwa sebagai riset dan observasi, serta mewawancarai sumber berita sebagai verifikasi. 

Pada masa pandemi, kaidah tersebut tetap wajib dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan. Di samping itu, ia juga dapat dijalankan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi akan memberi dampak positif—asal tidak membuat terlena, yang kemudian mengabaikan cara untuk mendapat informasi yang benar.

Kebenaran informasi layak menjadi prioritas. Hal ini berlaku tidak hanya  bagi jurnalis. Pembuat berita di media sosial, termasuk penyebar dan penerima, layak mengutamakan kebenaran sebagai bentuk tanggung jawab moral. Semua yang terkait, perlu berubah, mengganti kebiasaannya dengan menjalankan riset, observasi, dan verifikasi untuk menulis ulang apa yang terjadi sesungguhnya.

Memperoleh informasi peristiwa yang sesungguhnya terjadi memang perlu waktu. Kecepatan menyampaikan sebuah berita bukanlah yang utama, meskipun menjadi tuntutan konsumen. Konsumen juga perlu mendapat edukasi dalam hal ini.

Dampak negatif dari hoax sudah banyak, bahkan ada yang menyangkut nyawa. Menghentikan hoax dengan mengabarkan berita yang benar adalah tugas bersama; tugas yang mulia.[MFR]

Membaca India dan Euforia Keagamaan

Pandangan egoisme keagamaan yang mengabaikan kesehatan dan terkait langsung dengan kemudaratan, pada akhirnya akan berpotensi memberikan dampak buruk kepada umat manusia.

—– Bethriq Kindy Arrazy

Seandainya sejak awal negara India mampu menahan diri dari kegiatan yang bersifat massal di tengah upaya vaksinasi penduduknya, barangkali krisis gelombang kedua pandemi Covid-19 di negara tersebut tidak akan berakhir nahas seperti yang terjadi pada dua pekan terakhir ini.

Pemilihan umum, demonstrasi politik, dan kegiatan keagamaan Kumbh Mela diduga sebagai faktor terbesar lonjakan kasus Covid-19 di India. Kegiatan massal keagamaan yang menjadi sorotan adalah Kumbh Mela. Pemerintah India tidak mampu membendung dengan melahirkan kebijakan larangan untuk meniadakan sementara waktu kegiatan tersebut karena kuatnya tekanan agamawan setempat.

Lemahnya kepemimpinan tersebut menyebabkan Kumbh Mela tidak terbendung lagi untuk diselenggarakan. Kita bisa melihat euforia keagamaan berlangsung secara bebas; protokol kesehatan nampak tidak berlaku di sana. Warga India yang berjumlah ratusan ribu bahkan mencapai jutaan terlihat bersuka cita menjalani setiap prosesi Kumbh Mela.

Tentang Kumbh Mela

Kumbh Mela, sebagaimana dikisahkan dalam mitologi Hindu, mencitrakan Dewa Wisnu sebagai penjaga alam semesta yang melakukan pertempuran dengan setan-setan di atas kendi berisi amrit. Dalam pertarungan tersebut Dewa Wisnu keluar sebagai pemenang dengan membawa candi tersebut terbang bersama makluk besar menyerupai burung garuda. Saat terbang itulah, empat tetes nektar jatuh ke empat kota kuno yakni Prayagraj, Nashik, Haridwar, dan Ujjain.

Kumbh Mela pada bagian kata Mela dalam bahasa Hindi memiliki arti adil. Di keempat kota kuno itulah kemudian tradisi Kumbh Mela diadakan secara bergilir sebagai manifestasi keadilan dalam penyelenggaraan. Selama 12 tahun, Kumbh Mela diadakan sebanyak empat kali. Artinya, dalam penyelenggaraan dilakukan sebanyak 3 tahun sekali di masing-masing keempat kota tersebut.

Secara ritus keagamaan, Kumbh Mela sesungguhnya memerintahkan umat Hindu di India untuk membasuh beberapa bagian tubuh hingga mandi di perairan suci tempat Sungai Gangga, Yamuna, dan Saraswati bertemu. Ini yang diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di India dapat mencapai moksha atau penyelamatan dari siklus hidup dan mati.

Dalam sepanjang waktu terselenggaranya Kumbh Mela, terdapat tiga atau empat hari yang dianggap spesial seperti membawa keberuntungan dan membebaskan dosa masa lalu. Hari-hari yang dianggap spesial ini memiliki kesamaan dengan malam Lailatul Qodar, dalam keyakinan agama Islam yang turun pada 10 hari terakhir di bulan Ramadan pada tanggal-tanggal ganjil.

Pada 2019, Kumbh Mela turut dihadiri sebanyak 120 juta penduduk India. Ini yang menyebabkan tradisi Kumbh Mela termasuk salah satu tradisi ziarah terbesar di dunia. Berdasarkan keunikannya itulah, UNESCO pada 2017 memasukannya sebagai daftar Intangible Cultural Heritage of Humanity.

Jadi kemudian dapat dipahami betapa sakral dan pentingnya tradisi Kumbh Mela bagi warga India. Sekalipun sesungguhnya memaksakan kegiatan keagamaan yang bersifat massal di tengah kondisi pandemi Covid-19 juga tidak tepat untuk dilakukan, terlebih bila tanpa standar protokol kesehatan yang ketat. Hal inilah yang kemudian menyebabkan gelombang penyebaran Covid-19 di India semakin meluas dan memakan korban

Konteks Indonesia

India dikenal sebagai negara dengan penduduk beragama Hindu terbesar di dunia. Sama seperti Indonesia yang dikenal sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Kedua negara memiliki kesamaan sebagai negara dengan penduduk yang taat dengan agamanya masing-masing. Termasuk sekaligus mempercayai bahwa ajaran agama bisa menjadi solusi atas permasalahan di dunia, salah satunya pandemi Covid-19.

Berkaca pada hal tersebut, dalam beberapa hari terakhir ini kita juga dikejutkan dengan peristiwa pengusiran seorang jamaah oleh pengurus Masjid Al-Amanah di Medan Satria, Kota Bekasi, pada Selasa lalu, 3 Mei. Hal ini disebabkan karena jamaah tersebut salat dengan menggunakan masker. Meski kemudian pengusiran berlangsung secara keras dengan dalih adab dalam salat, sekaligus pembeda antara di masjid dan di pasar.

Tak hanya itu, kita juga perlu mengingat bahwa sejak kasus Covid-19 masuk di Indonesia pada Maret 2020 —sebagian agamawan kita juga menyerukan agar lebih takut Tuhan daripada virus bernama Covid-19. Akibatnya, kasus Covid-19 klaster masjid bermunculan pada pertengahan 2020. Ketakutan sebagai bentuk manifestasi keimanan kepada Tuhan, rasanya tidaklah tepat bila disandingkan dengan keberadaan Covid-19.

Di sinilah kemudian sebaiknya nalar keagamaan juga perlu membaca realitas sosial dalam kacamata keduniawian secara progresif dan komprehensif. Bahwa yang tengah terjadi saat ini, dunia sedang tidak dalam kondisi baik yakni tengah terjadi pandemi Covid-19. Wabah ini menyebar secara sporadis di hampir seluruh sudut dunia. Ajaran agama, termasuk Islam harus memberikan kesadaran pentingnya menjaga jiwa dan raga umatnya.

Di tempat lain seperti di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, juga memberlakukan peraturan menggunakan masker saat salat berlangsung. Setahun lalu misalnya, banyak ulama ternama di kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi, Mesir, Kuwait, Uni Emirat Arab, Oman, Palestina, Lebanon, Yordania, yang memberikan fatwa tentang kelonggaran Salat Jumat digantikan Salat Zuhur dan Salat Idulfitri digantikan salat di tempat masing-masing.

Progresifitas nalar keagamaan di negara-negara Timur Tengah tersebut, tentu dilakukan berdasarkan pertimbangan yang mendalam berdasarkan aspek agama yang berkelindan dengan aspek sosial. Pandangan egoisme keagamaan yang mengabaikan kesehatan dan terkait langsung dengan kemudaratan, pada akhirnya akan berpotensi memberikan dampak buruk kepada umat manusia.

Kita bisa ambil contoh, sebagaimana kasus Covid-19 klaster Tarawih yang terjadi di Dusun Yudomulyo, Desa Ringintelo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi. Setidaknya sebanyak 53 orang dinyatakan positif Covid-19. Dari jumlah tersebut sebanyak tujuh orang dirawat secara intensif di rumah sakit, enam orang dinyatakan meninggal dunia —sedangkan sisanya sebagai orang tanpa gejala dianjurkan untuk isolasi mandiri dengan pengawasan yang ketat. Artinya, situasi gejolak pandemi yang terjadi saat ini, terutama dalam kegiatan keagamaan perlu untuk memperhatikan aspek kesehatan dengan mematuhi protokol kesehatan yang ketat.

Dalam kurang dari seminggu ke depan umat muslim akan menyambut Idulfitri umat muslim, hari raya Idulfitri merupakan momen kemenangan spiritual setelah sebulan penuh umat muslim melawan hawa nafsu di bulan Ramadan. Dalam kesempatan tersebut juga akan berpeluang terjadinya euforia keagamaan yang berpotensi menciptakan kerumunan massal atau transmisi lokal melalui aktivitas mudik ke kampung halaman.

Saya termasuk yang mendukung kebijakan pemerintah terkait larangan mudik yang di sepanjang tanggal 6 Mei hingga 17 Mei mendatang. Pasalnya, Presiden Jokowi menyebutkan berdasarkan pengalaman mudik Idulfitri pada Mei 2020, secara akumulasi terdapat peningkatan kasus Covid-19 sebesar 93 persen.

Angka tersebut tidaklah kecil mengingat kenaikan nyaris menyentuh 100 persen. Kenaikan kasus Covid-19 tersebut dapat diketahui pada dua pekan setelah puncak libur panjang hari raya Idulfitri. Terlebih saat ini Covid-19 mengalami beragam mutasi yang tengah terjadi di Inggris, India, Brazil, dan Afrika Selatan.

Rasanya dengan pengalaman Idulfitri tahun lalu dan tsunami Covid-19 yang menerjang India bisa menjadi pelajaran dan pertimbangan kita bagaimana memaknai euforia keagamaan dalam hal ini Idulfitri di Indonesia. Tidak mudik bukan berarti akan mereduksi makna hari kemenangan kita. Setidaknya spirit bulan Ramadan, ihwal menahan diri dan menahan hawa nafsu tetap bertahan hidup dalam diri kita masing-masing. Selain menjaga diri, kita juga wajib menjaga keluarga kita di kampung halaman. Pilihan kembali kepada Anda. Dan, pilihan terbaik adalah berdasarkan perenungan yang mendalam.[MFR]

Paralelisme: Paradigma Alternatif dalam Studi Agama-Agama

Paralelisme merujuk pada penekanan akan pentingnya mengeksplorasi kemiripan-kemiripan doktrin dalam tradisi agama yang berbeda, daripada mencari potensi penyatuan antara doktrin-doktrin tersebut.

—-Ali Ilham Almujaddidy

Di Indonesia, jurusan Studi Agama-Agama (SAA) adalah salah satu jurusan yang fokus mempelajari agama di dunia akademik, baik di PTS maupun PTN. Terlepas dari “polemik” akan penamaan jurusan—baik teologi, studi agama-agama, atau perbandingan agama[1]—paradigma yang dipakai umumnya cenderung mengikuti paradigma agama-agama dunia, yang derivasinya diturunkan dari pendekatan agama Kristen terhadap agama-agama lain. Sebagaimana dibahas oleh Masuzawa (2005),[2] paradigma ini cukup bermasalah setidaknya karena tiga hal; pertama, bias Kristianitas dan kolonialisme; kedua, pembacaan biner dan asimetris antara Barat dan Timur (baik secara geografis, maupun relasi beradab-belum beradab, dan bahkan klasifikasi bahasa yang begitu rasis) dan; ketiga, pembagian antara agama yang berdasarkan wahyu (semitik-samawi) dan agama berdasarkan kebijaksanaan (nonsemitik-wisdom).

Di antara paradigma yang sering dipakai sebagai pendekatan dalam melihat agama-agama lain adalah teologi Tripolar, atau dikenal juga dengan istilah theologia religionum yang dipopulerkan oleh Alan Race, seorang teolog Gereja Anglikan dan Uskup Leicester di Inggris. Teologi ini menjadi the grammar of faith atau standar umat Kristen dalam melihat agama-agama lain. Race membagi respon teologis Kristen terhadap keragaman agama-agama ke dalam tiga tipologi, yakni; eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralisme.[3] Tulisan ini ingin melihat bagaimana pendekatan teologi agama-agama tersebut, meskipun cukup berguna, perlu untuk dipikirkan ulang, terutama jika melihat konteks keragaman agama di Indonesia secara khusus, dan Asia Tenggara secara umum. Tulisan ini akan melihat apa saja batas-batas kelemahan dari teologi Tripolar ini dan kemudian mengajukan pendekatan Paralelisme sebagai alternatif dan pelampauan terhadap teologi tripolar tersebut.     

Teologi Agama-Agama Tripolar

Konsep dasar dari teologi tripolar ini adalah doktrin keselamatan (salvation) atau soteriologi. Adakah keselamatan bagi pemeluk agama non-Kristen? Eksklusivisme memandang bahwa tidak ada keselamatan di luar agama Kristen, sebagaimana dogma extra ecclesiam nulla sallus. Dalam bahasa yang sederhana, seseorang yang eksklusivis meyakini bahwa “tidak ada kebenaran dan keselamatan di luar agama saya.” Sementara itu, inklusivisme adalah paham yang memandang bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus. Jadi, batas dari keselamatan tidak lagi eksklusif pada agama Kristen atau Gereja saja, melainkan berfokus pada Kristus sebagai penyalur keselamatan. Seseorang yang inklusivis akan meyakini bahwa “ada kebenaran dan keselamatan di luar agama saya, tetapi berkat rahmat dari agama saya.”

Berbeda dengan dua paradigma teologi sebelumnya, pluralisme berkembang cukup belakangan sebagai respons terhadap semakin terbukanya akses untuk berjumpa dengan keragaman yang lebih luas. Pluralisme adalah paham yang membatasi keselamatan pada Allah saja, atau Tuhan Sang Pencipta, atau “Yang Ultim,” “Yang Nyata” (the Real), Wujud an sich, suatu realitas yang melampaui konsep dan pemahaman manusia. Ia bersifat tak terbatas, yang dialami secara beragam oleh manusia di berbagai tempat, budaya, dan pengalaman keagamaan. Hal ini berarti bahwa setiap sistem keagamaan memiliki konsepsi yang berbeda akan realitas “Yang Ultim” tersebut, dan kesemuanya sama-sama valid. Maka, seorang pluralis akan meyakini bahwa “kebenaran dan keselamatan hanya ada pada Tuhan sang pencipta, terserah bagaimana anda menyebut namaNya.”[4]  

Problem Teologi Agama-Agama

Semua paham atau pendekatan teologi ini, yang juga diadaptasi oleh sebagian sarjana Muslim dan sarjana studi agama-agama secara umum, masih memosisikan Tuhan sebagai batas dari keselamatan dan kebenaran (god-centered). Asumsi dasar ini akan mengeksklusi agama-agama nonteologis, seperti agama Buddha dan banyak ragam agama lokal. Faktanya, sebagaimana dibahas oleh Masuzawa dan W.C. Smith—untuk menyebut beberapa—yang terjadi selama ini dalam kesarjanaan studi agama-agama adalah adanya upaya penyeragaman konsep-konsep dan doktrin keagamaan ini. Selain itu, pendekatannya yang cenderung menekankan “doctrinal bridges” juga dapat berimplikasi berbeda pada tataran praksis. Misalnya, seseorang bisa sangat pluralis dalam pandangan, tetapi menjadi eksklusivis dalam tindakan.

Teologi agama-agama secara implisit juga mengandaikan banyak jalan pada satu tujuan yang sama sebagai “kebenaran final.” Hal ini tentu saja akan mengeksklusi beberapa ajaran agama yang tidak meyakini atau memiliki konsep eskatologi, sehingga pendekatan studi agama-agama seharusnya bisa melampaui pendekatan yang bersifat teologis dan eskatologis. Selain itu, konsep “kebenaran final” juga akan problematis ketika dihadapkan pada perbedaan tafsir dan klaim kebenaran dari dalam satu tradisi agama tertentu. Artinya, dalam satu tradisi agama saja terdapat banyak ragam kebenaran yang tidak bisa secara tegas diseragamkan.

Barangkali, penekanan terhadap ragam pengalaman keagamaan (religious diversity) lebih diutamakan daripada pendekatan yang berbasis teologi (theology of religions). Untuk itu, penting kiranya mempertimbangkan pendekatan baru dalam studi agama-agama sebagai alternatif pendekatan tanpa harus terjebak pada diskursus teologi dan eskatologi. Dalam hal ini, tulisan ini akan melihat Paralelisme sebagai pendekatan alternatif dalam melihat keragaman agama-agama.

Pendekatan Paralelisme

Paralelisme adalah pendekatan yang berfokus pada pemahaman akan kemiripan (similarities) konsep dan doktrin utama dalam tradisi agama-agama.[5] Pendekatan ini tidak membatasi diskusi pada konsep ketuhanan atau jalan yang bermuara pada satu tujuan yang sama sebagai “kebenaran final.” Selain itu, paralelisme juga menghindari pemaksaan pandangan akan satu kebenaran tunggal baik pada tradisi agama yang berbeda maupun pada satu tradisi agama yang sama. Dengan kata lain, pendekatan ini tidak berusaha menyesuaikan semua konsep dan doktrin agama-agama dalam satu pandangan dunia tertentu. Sebaliknya, seorang paralelis menyerahkan perspektif agama seseorang sesuai dengan yang dihayati oleh para pelakunya. Sehingga, hal ini menghindari potensi misinterpretasi akan doktrin-doktrin agama lain.

Salah satu pionir dari pendekatan paralelisme adalah Imtiyaz Yusuf, yang meneliti dialog antara Islam dan Buddhisme di Asia Tenggara.[6] Ia menjelaskan bahwa, kata paralelisme merujuk pada penekanan akan pentingnya mengeksplorasi kemiripan-kemiripan doktrin dalam tradisi agama yang berbeda, daripada mencari potensi penyatuan antara doktrin-doktrin tersebut. Sebagai studi kasus, ia telah mengeksplorasi konsep-konsep yang paralel antara Islam dan Buddha. Misalnya, untuk menyebut beberapa, Buddha/Arahant – Nabi/Rasul, Bodhisattva – al-Insan al-Kamil, Tathagatagarbha – Nur Muhammadi, Dharma – al-Haqq, Nirvana – Wahyu, Sunyata – Fana, Metta-Karuna – Rahma, Majjhima Pattipada – Ummatan Wasathan, Dukkha/Samsara – Kufr/Shirk, Mara – Syaitan.

Dari penelitiannya tersebut, Yusuf menyimpulkan bahwa selama ini Muslim berpikir kalau Allah adalah persona (person) sebagai reaksi terhadap Kristen yang mempersonifikasi Tuhan. Ini akibat dari perang antara kerajaan Kristen dengan Islam yang berlangsung cukup lama dan meninggalkan banyak luka. Konsep Allah yang person ini yang membuat Muslim cukup sulit untuk berdialog dengan agama Budha yang tidak memiliki konsep Tuhan. Padahal, mereka merupakan populasi mayoritas di Asia Tenggara dengan prosentase sebanyak 40/40 persen. Yusuf juga mengungkapkan bahwa, Muslim bisa berhasil hidup berdampingan dengan Budha di Jawa berkat similaritas antara Tauhid dan Sunyata, alih-alih jihad dan perang. Di dalam Tauhid, Allah tidak memiliki bentuk, begitu juga dengan Sunyata. Jika Budha meyakini bahwa ada sesuatu yang tidak terlahir dan abadi, yakni Dharma, hal ini sepadan dengan keyakinan Muslim bahwa Allah juga tidak terlahir dan abadi.[7]

Seorang paralelis lainnya, Alexander Berzin, yang oleh Yusuf disebut sebagai sarjana yang meneliti relasi antara Budha dan Islam paling detail sejauh ini, menyebut bahwa konsep adi buddha dalam masyarakat Buddhis di Indonesia—terlepas dari aspek politis dan ideologis yang mendorong lahirnya konsep tersebut—adalah padanan langsung dari konsep Tuhan yang diyakini oleh Muslim. Demikianlah, paralelisme menekankan kemiripan, dan bukan kesamaan, antara konsep dan doktrin keagamaan sebagai pendekatan dalam berdialog maupun membangun relasi antar umat beragama. Pendekatan ini tentu saja, bagi penulis, lebih sesuai dengan fakta sosiologis keragaman agama masyarakat Indonesia. Kecenderungannya dalam menghindari diskusi tentang konsep ketuhanan tentu seharusnya membuat Muslim lebih terbuka untuk berdialog dengan agama non-teologis atau agama-agama lokal di Indonesia yang begitu beragam. Oleh karena itu, penting kiranya untuk memperkenalkan pendekatan ini sebagai salah satu bahan studi dalam jurusan Studi Agama-Agama. Terlebih, belum banyak sarjana yang melakukan penelitian teoritis maupun empiris dengan menggunakan pendekatan paralelisme ini.

Catatan Penutup

Meskipun Paralelisme cukup potensial untuk dijadikan pendekatan dalam melihat agama lain, bukan berarti pendekatan ini tidak memiliki kelemahan. Salah satu kelemahan yang mungkin penulis ajukan sebagai kritik awal adalah belum mampunya para Paralelis melihat relasi kuasa, baik ekonomi-politik maupun wacana-ideologi, yang sangat mungkin menjadi prakondisi dari kesadaran atau pembentukan keagamaan seseorang atau masyarakat tertentu, seperti konsep adi buddha yang dibahas oleh Alexander Berzin. Di sisi lain, penting juga untuk mempertimbangkan kritik-kritik yang diajukan oleh para sarjana teologi pascakolonial mengenai hilangnya “perbedaan” (difference) dan “hibriditas” (hybrid) identitas seseorang, seperti fenomena Arabisasi Islam atau Baratisasi Kristen yang dapat kita temui dalam kehidupan keseharian. Ini mengasumsikan bahwa seseorang tidak bisa jadi Muslim dan menjadi Jawa sekaligus, misalnya. Dengan kata lain, ada simplifikasi kompleksitas identitas manusia.

Di samping itu, perlu juga kiranya bagi kita untuk tidak terjebak pada politik identitas saja, atau membahas perbedaan pada aspek identitas saja, misal, antara Muslim-Kristen, Jawa-Sumatra, pribumi-nonpribumi dan seterusnya. Selain fokus ini berpotensi untuk meliyankan (othering) identitas seseorang, penting juga untuk tidak mengabaikan analisis ketimpangan kelas sosial yang pada saat yang sama turut membentuk perbedaan identitas tersebut. [MFR]


[1] Lihat misalnya, Suhadi, “Dari Perbandingan Agama ke Studi Agama yang Terlibat,” dalam Studi Agama di Indonesia; Refleksi dan Pengalaman, Yogyakarta: CRCS, 2016, 1-14. Atau, Wijsen, F. J. S. “Theology as Religious Studies: A Plea for Methodological Conversion.” Mugambi, JNK (ed.), Endless Quest. The Vocation of an African Christian Theologian, 2014, 290-302.

[2] Masuzawa, Tomoko. The Invention of World Religions: Or, How European Universalism was Preserved in The Language of Pluralism. University of Chicago Press, 2005.

[3] Lihat Race, Alan. Christians and Religious Pluralism: Patterns in the Christian Theology of Religions. London: SCM Press, 1983. Dalam diskursus teologi agama-agama belakangan, ada beberapa alternatif pendekatan yang mencoba untuk keluar dari teologi tripolar ini, misalnya mutualisme dan partikularisme. Paul Knitter, seorang teolog Kristen kontemporer, juga telah meninggalkan teologi tripolar ini, dan memilih untuk memakai konsep baru yang ia bagi menjadi empat model; replacement, fullfilment, mutuality, dan acceptance. Lihat dalam bukunya; Knitter, Paul F. Introducing Theologies of Religion. Orbis Books, 2014. Lihat juga diskusi menarik tentang teologi tripolar ini oleh beberapa sarjana Kristen dalam Theovlogy #156: Pluralisme, Inklusivisme, Eksklusivisme, Relevankah?

[4] Konsep inklusivisme dan pluralisme sendiri cukup beragam, meski titik berangkatnya juga dimulai dari teologi ini.

[5] Untuk pembahasan paralelisme sebagai pendekatan secara khusus, baca: Obuse, Kieko. “Finding God in Buddhism: A New Trend in Contemporary Buddhist Approaches to Islam.” Numen 62.4 (2015): 408-430; dan Obuse, Kieko. “Theology of Religions in the Context of Buddhist-Muslims Relations,” dalam Yusuf. Imtiyaz (ed.), Asean Religious Pluralism: The Challenges of Building Socio-Cultural Community. Konrad-Adenaur-Stiftung-Thailand Office, 72-85.

[6] Penulis sempat berdiskusi dan membahas konsep paralelisme bersama Imtiyaz Yusuf selama mengikuti kuliah Advanced Study of Buddhism di CRCS, 2017 lalu. Untuk melihat salah satu tulisan beliau yang membahas paralelisme Islam dan Budha, baca di Yusuf, Imtiyaz. “Islam and Buddhism,” dalam Cornille, C. (ed). The Wiley-Blackwell Companion to Inter-Religious Dialogue, 2013, 360-375.

[7] Lihat juga wawancara Imtiyaz Yusuf dengan CRCS di https://crcs.ugm.ac.id/muslims-dont-study-buddhism-enough-an-interview-with-prof-imtiyaz-yusuf-part-1/

Berpikir Komputasi dalam Beragama

Berpikir komputasi menuntut seseorang untuk berpikir kritis, logis, dan efektif. Nugraha dkk. (2020) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir kritis berbanding lurus dengan sikap toleransi beragama.

—- Lucky Eno Marchelin

Permasalahan yang dihadapi manusia di era globalisasi dan digitalisasi saat ini semakin kompleks sehingga mengharuskan setiap orang meningkatkan kemampuan dirinya. Menurut Dede (2010), kemampuan tersebut meliputi pemecahan masalah, berpikir kritis, kolaborasi, dan lain sebagainya. TOKI (2017) menambahkan bahwa seseorang harus menguasai keterampilan berpikir, content knowledge, dan kompetensi sosial dan emosional dalam menghadapi Abad ke-21.

Masalahnya adalah apakah manusia Indonesia mampu mengarungi Abad ke-21? PISA (Program for International Student Assessment) pada 2018 melaporkan bahwa siswa usia 15 tahun (setara SMP) di Indonesia menduduki peringkat ke 72 dari 77 negara dalam kemampuan membaca dan peringkat 72 dari 78 negara dalam kemampuan sains dan matematik. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia masih tergolong rendah padahal tuntutan atas memecahkan masalah semakin tinggi. Salah satu teknik pemecahan masalah yang luas penerapannya adalah berpikir komputasi atau computational thinking (CT).

Berpikir komputasi (CT) menurut Malik, dkk (20218) bukan berarti berpikir seperti komputer, tetapi berpikir untuk merumuskan masalah dalam bentuk masalah komputasi, menyusun langkah penyelesauan yang baik (algoritma) atau menjelaskan alasan apabila tidak ditemukan solusi yang sesuai. TOKI (2018) merangkum indikator kemampuan berpikir komputasi meliputi dekomposisi, abstraksi, algoritma, dan pola.

Dekomposisi diartikan sebagai kemampuan memecah masalah yang kompleks menjadi masalah yang lebih kecil dan rinci. Misalnya, “kopi susu” yang dipecah berdasarkan komponennya yaitu kopi, gula, susu, dan air panas. Abstraksi adalah kemampuan untuk menyeleksi informasi mana yang dibutuhkan dan mana yang tidak dibutuhkan. Informasi tersebut digunakan untuk menyelesaikan masalah yang serupa. Algoritma adalah kemampuan menyusun langkah-langkah yang terstruktur dalan efisien dalam penyelesaian masalah. Pola adalah kemampuan untuk mengenali permasalahan yang sama pada kasus yang berbeda.

Permasalahan komputasi yang cukup terkenal diilustrasikan dalam kisah petani, sayuran, kambing, dan srigala: Pada suatu hari, terdapat seorang petani yang memiliki seekor kambing dan srigala. Pada saat itu, ia baru saja memanen sayurannya. Petani tersebut hendak menjual sayuran, kambing, dan srigala ke pasar. Untuk sampai ke pasar, ia harus menyeberangi sungai menggunakan perahu. Permasalahannya adalah, perahu yang tersedia hanya satu yang dapat memuat paling banyak dua penumpang (petani dan salah satu dari sayuran, kambing, dan srigala). Apabila sayuran, kambing, dan srigala ditinggal oleh petani, maka kambing akan memakan sayuran, dan serigala akan memakan kambing. Bagaimana cara supaya petani, sayuran, kambing, dan srigala dapat menyebrangi sungai dengan selamat?

Berpikir komputasi menuntut seseorang untuk berpikir kritis, logis, dan efektif. Nugraha dkk. (2020) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir kritis berbanding lurus dengan sikap toleransi beragama. Melimpahnya informasi di media sosial, khususnya informasi yang berkaitan dengan agama dan beragama mengharuskan seseorang untuk menerapkan CT. Kemampuan berpikir inilah yang akan menentukan sikap dan perilaku seseorang dalam beragama.

CT sendiri bukan merupakan hal baru, diperkenalkan pertama kali pada 1996 oleh Seymour Papert dan dipopulerkan oleh Jeanette Wing pada 2006 (Dagiene dan Setance, 2016). Di Indonesia, berpikir komputasi dipopulerkan oleh Prof. Inggriana Liem. Penerapan CT sangat luas lingkupnya, termasuk dalam beragama. Contoh sederhana penerapan CT dalam beragama, misalnya, bagaimana  membuat bak mandi sesuai kaidah supaya air tetap suci di lahan yang terbatas. Atau bagaimana cara membagi zakat supaya tepat sasaran di lingkungan yang hampir semua warganya menengah ke atas, atau bagaimana bank syariah menjalankan usahanya supaya mendapat keuntungan maksimal.[MFR]

Kesaksian Sahabat

Ditopang kualitas keagamaan, akademik, dan penampilan sederhana, Pak Shobir barang kali adalah sosok religius, ilmiah, dan toleran sebagaimana dicita-citakan oleh IAIN Kediri saat ini.

—- Dr. Sardjuningsih, M.Ag.

Kepergian Pak Shobir untuk selama-lamanya menyisakan kesedihan yang mendalam tidak hanya buat keluarga, tapi juga rekan maupun mahasiswa beliau. Berikut adalah kesaksian Dr. Sardjuningsih, sahabat sewaktu mahasiswa sekaligus kolega beliau di IAIN Kediri.  

Sejak awal menjadi mahasiswa Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya  pada 1979, Pak Shobir sudah  menunjukkan  kualitas yang luar biasa, melebihi  kompetensi seangkatannya.  Awal menjadi mahasiswa, beliau sudah  diangkat menjadi dosen honorer di Laboratorium Bahasa  IAIN untuk mengajar bahasa Arab. Kemampuan bahasa asing beliau  (Arab dan Inggris ) memang mengagumkan. Semua tahu beliau adalah santri dari Pondok Modern Gontor.  Sebagai mahasiswa baru, beliau sudah dibebaskan atau tidak dibebani untuk mengikuti mata kuliah wajib bahasa Arab dan Inggris.  Sebagai informasi, semua mahasiswa wajib lulus kuliah bahasa asing di IAIN, mulai dari tingkat elementary hingga  intermediate. Kewajiban ini harus dipenuhi oleh mahasiswa untuk mencapai gelar Sarjana Muda.

Keterampilan Pak Shobir sewaktu menjadi mahasiswa dituangkan dalam Buletin Mingguan Mahasiswa Ushuluddin bernama Empirisma (kebetulan saja sama dengan nama Jurnal Prodi SAA ) yang kehadirannya selalu ditunggu -tunggu mahasiswa setiap minggu ke-2 dan ke-4. Beliau aktif mencari penulis yang mau mem-publish tulisannya. Beliau membeli mesin ketik dari uang sendiri untuk kepentingan organisasi intrakampus dan menyalin tulisan tangan dari si penulis.  Saat itu, fakultas tidak menyediakan mesin ketik khusus bagi organisasi intrakampus karena dampak larangan politik masuk kampus yang dikenal dengan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Saat itu, kegiatan kemahasiswaan banyak yang diamputasi.  Zaman itu juga belum banyak mahasiswa yang mampu membeli mesin ketik sehingga karya ilmiah seperti Risalah maupun skripsi selalu diketikkan kepada seorang juru ketik.  

Kualitas akademik Pak Shobir  juga luar biasa. Beliau lulus Sarjana Muda (BA)  dan Sarjana Lengkap (Drs.) paling  cepat. Beliau mendapat beasiswa karena nilai akademiknya di atas rata-rata. Semua dosen di Fakultas Ushuluddin  mengakui  kelebihan yang beliau miliki, sehingga dosen pun segan pada beliau.  Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para dosen saya yang lain di Ushuluddin, bisa dibilang kecerdasan beliau melebihi rata-rata dosen beliau . Secara pemikiran, beliau berprinsip bahwa kebenaran agama berada di atas kebenaran ilmu pengetahuan karena bagi beliau manusia tidak akan pernah bisa menemukan kebenaran hakiki. 

Di samping dalam bidang bahasa dan akademik, Pak Shobir juga  memimiliki leadership yang sangat bagus.  Kemampuan orasi beliau memukau dan selalu mampu membuat terpana audiens. Sebagai aktifis organisasi intra dan ekstrakampus, beliau sangat disegani.  Tak heran, berkat kemampuan kepemimpinannya, beliau didaulat untuk mengetuai sejumlah organisasi di Kabupaten dan  Kota Madya Kediri, dan membuat beliau sangat dikenal oleh masyarakat hingga akhir hayat. 

Sebagai seorang pemimpin, beliau adalah sosok yang sangat mengayomi, sabar, ikhlas, rendah hati, dan amanah.  Beliau juga pandai merangkul  kelompok yang berbeda, sehingga beliau berterima di semua kalangan. Beliau juga sangat baik dalam menjaga lisannya. Selama  menjadi temannya, saya belum pernah mendengar ada orang yang  tersakiti  dengan kata–kata maupun tindakan beliau. Beliau sangat menghargai orang lain tanpa memandang usia.  Kami menghormati beliau  bukan hanya sebagai senior, tetapi juga sebagai  seorang intelektual, ulama, kiai, ustaz, dan dosen yang patut diteladani.

Selama berkuliah di Surabaya, beliau tinggal di PP. Darul Arqam, sebuah pondok kecil di belakang kampus, yang sering kebanjiran. Beliau  menjadi pengurus sekaligus ustaz di  pondok tersebut.  Bisa dibilang  adalah sosok berkharisma di lingkungannya.   Beliau menjadi panutan teman-teman beliau baik di pondok maupun di kampus. Dalam setiap riset kelompok, beliau biasanya diminta untuk menentukan lokasi, merumuskan topik,  dan selalu menjadi tumpuan dalam merumuskan hasil riset. Teman-teman beliau banyak sekali   karena beliau pribadi yang sangat ramah, terbuka, dan senang bersilaturahim.

Sejak mahasiswa, beliau sudah hobi membaca dan  mengoleksi buku–buku agama, terutama tentang Perbandingan Agama  dan Filsafat. Beliau mengidolakan seorang dosen filsafat, Drs. Lantip, insya Allah sampai sekarang masih sugeng. Beliau tidak hanya mengagumi pemikiran dosen beliau tersebut, tetapi juga keserhanaan hidup dan kerendahan hatinya. Mungkin inilah salah satu yang turut membentuk pribadi Pak Shobir.  Koleksi buku beliau sering menjadi jujukan teman-teman mahasiswa tatkala membutuhkan buku  untuk referensi  untuk menulis.

Ditopang kualitas keagamaan, akademik, dan penampilan sederhana, Pak Shobir barang kali adalah sosok religius, ilmiah, dan toleran sebagaimana dicita-citakan oleh IAIN Kediri saat ini.

Allaahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu. Syurga Allah buatmu guru!

Pak Shobir dalam Ingatan Saya

Berdiskusi dengan Pak Shobir menawarkan cara pandang lain dan menyadarkan saya untuk berimbang dalam menelaah secara kritis baik wacana keislaman maupun Barat.

—– Mubaidi Sulaiman

Pada 15 Februari 2021, tepat pukul 06.04 ada sebuah pesan masuk di WAG Alumni Perbandingan Agama (sekarang SAA–red.) STAIN Kediri angkatan saya. Pagi itu lebih cerah dibanding beberapa pagi sebelumnya. Tiba-tiba hari berubah kelabu gegara pesan tersebut. Seorang teman alumni memberikan kabar duka bahwa sekitar pukul 04.30 WIB, Bapak Drs. KH. Muhammad Shobiri Muslim, M.Ag telah meninggal dunia.

Pertemuan awal saya dengan beliau terjadi sewaktu saya menempuh S-1 di Prodi Perbandingan Agama pada 2009-2013. Beliau selalu tampil rapi, lengkap dengan setelan jas berangkat ke kampus untuk mengampu sejumlah mata kuliah, seperti Kristologi, Orientalisme, Oksidentalisme, dan Perkembangan Teologi Kristen Modern.

Ada kejadian lucu saat itu.  Di STAIN Kediri, khususnya di Prodi Perbandingan Agama, terdapat mata kuliah tentang agama lain dan biasanya diberikan oleh kalangan penganut agama tersebut. Ada Pak Totok, seorang Penyuluh Agama Buddha, yang mengajar mata kuliah Buddhisme, dan juga Pak Yuliana, seorang Pananditha, mengajar Hinduisme. Kami sempat mengira Pak Shobir seorang pastor yang hendak mengajar kami. Alasannya, beliau berpakaian rapi layaknya seorang pastur dan gaya bicara beliau bak seorang pastur yang berkhotbah. Apalagi, beliau sangat fasih dan hafal melantunkan ayat-ayat yang terdapat dalam injil beserta hapal nomor surat dan urutan ayat-ayatnya. Kami pun kaget dan tertawa saat beliau bernama Muhammad Shobiri Muslim dan mengaku berdakwah di beberapa masjid milik Pemerintah Kota Kediri.

Saya memang cukup dekat dengan beliau meski tidak tahu banyak tentang kehidupan pribadi beliau. Sampai saat ini saja, saya tidak tahu nama istri dan anak-anak beliau, meskipun hampir setiap bulan saya sempatkan untuk menemui beliau untuk “mencuri” ilmu yang tak sempat beliau sampaikan di kelas. Kebetulan juga rumah beliau yang berada di Dusun Grogol Kelurahan Singonegaran berada satu arah dengan perjalanan saya dari kampus menuju ke Pondok Salafiyah Bandar Kidul tempat saya bermukim bersama dengan teman-teman mahasiswa PA penerima beasiswa Kemenag waktu itu.

Mungkin beliau bukan satu-satunya dosen yang dekat dengan mahasiswanya. Tetapi pintu rumah beliau selalu terbuka bagi mahasiswa yang ingin berkunjung dan berdiskusi. Hal ini mungkin sangat jarang kita temui pada dosen-dosen muda saat ini, termasuk saya. Di sela-sela kesibukan beliau berdakwah dan mengajar di beberapa kampus, beliau selalu menyempatkan waktu untuk membuka ruang diskusi di rumah beliau dengan kami para mahasiswanya.

Saya memang bukan satu-satunya mahasiswa yang dekat dengan beliau, bahkan bisa dikatakan ada yang lebih dekat secara personal dengan beliau. Akan tetapi, saya bangga pernah menjadi mahasiswa beliau dan memiliki keterikatan secara emosional dengan beliau. Beliau juga yang mendorong saya dan beberapa orang teman untuk melajutkan studi S-2.

Beliau dikenal sebagai salah satu dosen yang selalu rapi dengan setelan jas saat mengajar, penyabar dan bersahaja, dan pergi meninggalkan kenangan yang mungkin sulit untuk dilupakan sebagai gambaran ideal seorang dosen sekaligus ulama. Beliau begitu dekat dengan para mahasiswanya; tak jarang beliau mengundang mahasiswa untuk berdiskusi di rumahnya. Koleksi buku di rumah beliau membuat saya iri, dan suasananya pun bahkan jauh lebih nyaman dibandingkan di perpustakaan kampus pada waktu itu.

Di dinding rumah beliau tersusun rapi berbagai macam buku yang saya tak tahu pasti berapa jumlahnya karena saking banyaknya. Satu ruangan tak cukup menampung koleksi buku yang beliau punya. Saya ingat ada dua ruang seukuran ruang tamu (bentuknya seperti rumah joglo kuno), berdinding penuh rak dan lemari buku. Satu ruang paling belakang biasanya dibuat untuk ruang pribadi beliau dan keluarga untuk bersantai dan membaca buku. Satu ruang lagi diperuntukkan untuk tempat diskusi dengan kami para mahasiswanya. Ruang diskusi itu pun dikelilingi buku-buku yang jumlahnya mengagumkan. Beliau yang saya kenal memang “gila buku”. Jika ada buku terbaru terkait ilmu perbandingan agama ataupun Kristologi, beliau selalu memberi tahu kami. Bahkan, beliau di kelas maupun di rumah sering menyarankan kami untuk membaca-baca buku ini dan itu.

Istri beliau pun juga gila buku. Sering kali saat datang ke rumah beliau, saya selalu disambut oleh istri beliau dengan menenteng sebuah buku di tangan. Tak jarang ketika saya bertamu ke rumah beliau, saya harus menunggu beliau beberapa saat di ruang diskusi yang penuh dengan buku karena jadwal beliau yang sangat padat dalam satu minggu. Beliau tidak hanya mengajar di STAIN Kediri saja waktu itu, tapi juga di beberapa kampus di luar kota. Belum lagi, beliau menjadi ketua FKUB Kabupaten Kediri dan Ketua MUI pada waktu itu. Pun demikian, beliau selalu menyediakan waktu untuk bertemu pada hari Sabtu sore sekitar pukul 15.00 sampai pukul 17.00.

Beliau dikenal sebagai sosok dosen senior yang teguh dengan prinsip. Pemikiran beliau khas kebanyakan alumni Pondok Modern Gontor yang dikenal getol membela pemikiran Islam vis-a-vis Barat yang begitu melekat dalam orientalisme periode awal. Ketika berdiskusi dengan beliau terkait orientalisme maupun tentang Kristologi, kita seolah juga sedang bertukar pikiran dengan KH. Zamarkasy Dhofier, Ahmad Deedat, Zakir Naik dan Adian Husaini. Beliau menawarkan lawan tanding bagi wacana liberalisme Islam yang tengah menggeliat di lingkungan kampus kala itu.

Pada waktu itu, saya memang lebih suka membaca buku-buku “kiri” dan karya-karya orientalis yang dengan mudah bisa saya dapatkan di perpustakaan kampus maupun saya beli sendiri. Saat itu bisa dikatakan saya dan beberapa teman tergila-gila atau gandrung dengan buku-buku karya pemikir Barat terkemuka, seperti Karl Marx, Theodor Adorno, Nietzche, Ludwigh Feuerbach, Jurgen Habermas, Montgomerry Watt, H.A.R Gibbs, Snouck Horgronje, Marshal Hudson, Mark Jurgen Mayer,  Charles Kuzman dan lain sebagainya. Berdiskusi dengan Pak Shobir menawarkan cara pandang lain dan menyadarkan saya untuk berimbang dalam menelaah secara kritis baik wacana keislaman maupun Barat yang saya tekuni.

Menjelang lulus S-1 di STAIN Kediri, intensitas saya untuk bertemu beliau menjadi sangat berkurang. Saya seperti hilang kontak dengan beliau karena sempat beberapa kali nomor HP beliau berganti. Kesibukan menulis skripsi dan menyiapkan studi S-2 pada waktu itu membuat saya jarang bertemu dengan beliau. Kalaupun bertemu, itu hanya terjadi ketika Hari Raya Idul Fitri dan untuk tujuan silaturahim. Tentu saja, situasi dan perbincangan sangat berbeda.  

Karena kesibukan kerja dan penyelesaian S-2 di Surabaya, saya sudah hampir tidak pernah lagi mengunjungi beliau di rumah. Saat ingin sowan ke rumah beliau tahun lalu, pandemi datang dan saya pun mengurungkan niat saya.  Beberapa waktu lalu, saya masih sempat menanyakan kabar beliau meskipun lewat teman-teman yang masih sempat bertemu dengan beliau. Terakhir menjenguk beliau adalah saat beliau pulang dari opname di rumah sakit.

Saya sempat juga saya mencuri-curi dengar tentang kondisi beliau dari para jamahnya yang aktif mengikuti kajian rutin beliau di beberapa masjid. Sebuah penyesalan bagi saya belum sempat bertemu beliau untuk sekadar berterima kasih dan menyambung silaturahim sebelum akhirnya beliau kembali ke Sang Khalik. Saya dan teman-teman kini hanya bisa mendoakan beliau serta mengamalkan ilmu yang beliau ajarkan.

Terima kasih Bapak Shobir. Bapak adalah teladan bagi kami; “orang tua” yang akan selalu kami rindukan. Semoga kelak kita bisa berkumpul kembali. Aamiin.[MFR]

Pesantren Tanpa Nama

Figur Kiai Dlowi sangat khas dan unik. Beliau anti-mainstream dan anti-formalitas, hingga membuat pesantren tersebut tak bernama hingga kini. Barangkali beliau berpandangan “Apalah arti sebuah nama. Yang penting lembaga ini bisa memberi manfaat kepada santri yang ingin menuntut ilmu agama”.

—–Mukhammad Zamzami

Desa Gedangsewu Pare barangkali kurang begitu popoler di mata para santri yang ingin menimba ilmu di pesantren. Di kalangan awam, wilayah ini memang cukup familiar sebagai desa yang di salah satu sudutnya pernah ada lokalisasi. Padahal tak jauh dari eks-lokalisasi tersebut ada pondok pesantren yang eksis hingga hari ini dan diasuh oleh sosok kiai karismatis bernama Kiai Baidlowi.

Pondok Pesantren tersebut berada di jalan Teuku Umar, Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Tidak cukup jelas kapan berdiri secara formal dan bahkan dilegalnotariskan, karena sesungguhnya Kiai Dlowi—sapaan akrab Kiai Baidlowi—sudah menerima santri sudah puluhan tahun yang lalu. Bagi beliau, tidak perlu nama untuk sebuah lembaga. Jika ada yang berminat belajar, ya tinggal datang ke pesantren ini.

Setidaknya dalam catatan saya—yang pernah nyantri dan ngaji kilatan di sana sekira tahun 2010—ada tiga nama untuk menyebut pesantren ini, antara lain: pertama, al-Asasyah. Nama ini dulunya hanya digunakan untuk pengurusan wesel dan barangkali untuk memudahkan santri mendapatkan kiriman uang dari orang tua pada alamat tertentu; kedua, al-Ishlah. Nama ini sesungguhnya diberikan oleh Gus Dur atau KH. Abdurrahman Wahid saat beliau menjabat presiden pada tahun 2000-an dan mengunjungi pesantren tersebut dua kali; dan ketiga, Alabama. Nama ini adalah akronim dari Alfiyah, Balaghah, dan Mantiq. Karena memang pesantren ini concern pada kajian tiga “ilmu alat” ini untuk memahami kesusastraan Arab. Untuk nama terakhir—sepanjang amatan penulis—dipopulerkan salah satu putra Kiai Dlowi, Agus Yazid. Akan tetapi dari ketiga nama itu tidak ada nama yang secara resmi dipakai dan diformalkan oleh Kiai Dlowi.

Figur Kiai Dlowi sangat khas dan unik. Beliau anti-mainstream dan anti-formalitas, hingga membuat pesantren tersebut tak bernama hingga kini. Barangkali beliau berpandangan “Apalah arti sebuah nama. Yang penting lembaga ini bisa memberi manfaat kepada santri yang ingin menuntut ilmu agama”.

Tempat ngaji di pesantren ini berbentuk rumah panggung yang bertembokkan udara segar—alias langsung berbaur dengan alam yang hijau di sekitar pondok. Suara deras sungai yang berada tepat di utara pondok kerapkali terdengar di sela-sela Kiai Dlowi memberikan pelajaran kepada santri-santrinya.

Pesantren ini terbilang unik. Santrinya berkisar puluhan, yang kadang datang dan pergi setelah beberapa selesai putaran ngaji kilatan, walaupun tidak jarang ada beberapa santri yang sampai bertahun-tahun nyantri di sana. Tawaran ngajinya sangat cepat. Untuk belajar ketiga komponen penting memahami bahasa dan sastra Arab, baik Alfiyah Ibnu Mālik, Balaghah (Jawhar al-Maknūn), dan Mantiq hanya dibutuhkan waktu sekira 40 hari/satu putaran. Padahal di pesantren lain, dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menekuni ketiga bidang tersebut. Ngaji di pesantren tersebut hanya difokuskan pada ketiga bidang tersebut, tidak ada materi lain. Para santri yang masih belum cukup mengikuti ngaji satu putaran akan mengulang hingga dua, tiga, atau banyak putaran untuk sekadar memaksimalkan pendalaman ketiga disiplin ilmu tersebut.

Pesantren ini memang masuk kategori pondok kilatan, sebab dalam sehari sang kiai bisa memberi materi (ngaji) hingga empat kali. Di pondok lain penyampaian materi untuk satu disiplin ilmu kadang hanya satu kali dalam sehari. Karena itu, dalam 40 hari materi ketiga disiplin ilmu bisa tuntas dipelajari. “Kalau sudah khatam, kita ulang lagi materi ketiganya itu. Dan terus berulang lagi”, ujar beliau. Tidak ada patokan waktu bagi para santri bisa lulus. Yang merasa belum maksimal penguasaan terhadap ilmu yang ditawarkan, santri biasanya akan terus mengulang lagi. Jika sudah merasa mantap dan bisa memahami, mereka akan pamit boyong.

Santri di sana rata-rata memang sudah cukup senior walaupun beberapa di antaranya juga ada yang tamatan Sekolah Dasar. Tidak ada ketentuan di pesantren tersebut bahwa santri yang mengaji harus mukim di sana, karena beberapa santri yang ikut mengaji, ada yang nyantri di pesantren lain atau mereka yang nyambi kursus bahasa Inggris di Tulungrejo Pare. Jarak Tulungrejo Pare dengan Gedangsewu Pare memang tidak jauh sekira 6 sampai 7 kilometer.

Kesederhanaan memang tampak pada figur Kiai Dlowi dan model pesantrennya. Kalau diamati sekilas, tidak ada fasilitas kamar mandi berdinding tembok yang dimanfaatkan oleh santri. Kiai Dlowi dan santri justru lebih sering menggunakan sungai dan kolam untuk aktivitas pemenuhan hajat di belakang. Walaupun di pesantren ada kamar mandi bertembok yang dibangun oleh salah satu wali santri tanpa sepengetahuan Kiai Dlowi saat beliau menunaikan ibadah haji, tetapi beliau–bersama santrinya–lebih memilih menyatu dengan alam bebas di sungai untuk memenuhi kebutuhan hajat, baik mandi ataupun yang lainnya. Sungguh, sebuah pemandangan unik yang “memutus” sekat relasi formal kiai-santri.

Di mata para santri, beliau dikenal sangat dekat dengan seluruh santrinya. Makan bersama dengan santri dalam satu nampan pun sering dilakukan. Beliau yang gemar memancing ini kalau mendapatkan ikan, hasil pancingannya pasti akan dimakan rame-rame. Makan di nampan besar bersama sangat sering terlihat oleh kami yang nyantri pada saat itu. Relasi hierarkis kiai-santri seolah-olah tidak ada sama sekali.

Tak jarang Kiai Dlowi dicurhati terkait segala ihwal problematika yang dihadapi santrinya. Apa yang dipikirkan santri bisa langsung dicurahkan kepada kiai, kapanpun. Kiai pun selalu antusias dan sering memberi pandangan-pandangan bijak pada santrinya. Seringkali ijazah doa diberikannya jika ada problem pelik yang dihadapi mereka. Pun dalam proses pembelajaran, jika ada isykāl pada satu pembahasan tertentu, pasti akan dibahas tuntas oleh beliau, baik pada saat momen pembelajaran atau di luar jam ngaji.

Jangan membayangkan bahwa ada aturan ketat yang mengikat santri yang mukim di pesantren tersebut, karena pesantren ini dibangun atas kesadaran dan kedewasaan santrinya. Saat mengaji, ya mengaji. Saat santai, ya santai. Santri akan malu jika tidak kelihatan mengaji atau memilih tidur, karena jumlah santri yang hanya puluhan saja. Kiai cukup mudah memantau apapun yang dilakukan para santrinya.

Salah satu yang khas di pesantren ini adalah kentongan. Setiap ada hal, mulai dari pengumuman hingga waktunya makan bersama maupun mengaji, kentongan selalu ditabuh. Tujuannya untuk memanggil para santri yang berada di rumah-rumah panggung/angkringan untuk turun atau berkumpul di aula panggung. Pun kalau ada santri atau tamu yang membawa makanan—atau haytsu dalam istilah santri Kedirian–kentongan pun langsung ditabuh. Maknanya, saatnya menikmati makanan bersama-sama.

Al-Fātihah untuk Kiai Baidlowi, semoga beliau selalu dianugerahi kesehatan agar dapat selalu membimbing para santrinya.

Catatan: esai ini terbit pertama kali di https://arrahim.id/mz/ulama-nusantara-kh-baidlowi-dari-gedangsewu-mendirikan-pesantren-tanpa-nama-dan-menghapus-sekat-relasi-kiai-santri/.