Catatan Ramadan Djeng Fatma – Part 2

Ramadan bukan sekadar bulan yang melulu berhias ibadah. Tetapi ia juga menjadi momen bagi muslim untuk melakukan refleksi diri (muhâsabah), terutama di masa sulit selama pandemi ini. Kebijaksanaan bisa datang dari hal-hal kecil di sekeliling kita, tentu bagi mereka yang mau merenung dan belajar. “The Greatness in the Small Things,” kata pepatah.

“Catatan Ramadan Djeng Fatma” hadir sebagai bentuk refleksi dari penulisnya akan segala hal di sekitar kita; mulai dari masalah perempuan, keluarga, pekerjaan, kisah asmara dan sebagainya. Dikemas dalam bahasa yang renyah dan enak dibaca, semoga catatan ini menggugah kesadaran kita semua untuk menjadi pribadi yang lebih baik

Pengantar Admin

6#Menjadi Dewasa

Sejujurnya, menjadi dewasa itu susah-susah gampang. Ngeri sekaligus penuh tantangan. Takut tapi semangat. Ragu tapi penasaran. Ingin sukses, tapi seringkali gagal. Yah, kombinasi yang tak jauh-jauh dari itu.

Masa setelah kuliah, saya habiskan untuk bekerja. Gaya-gayaan ikut kakak, gaji pertama saya, semua saya serahkan ke ibu. Sombong sekali, padahal cuma 900 ribu. Lalu saya lanjut S2, dengan tesis yang (tentu saja) ujian ulang di tangan Pak Sami’an, Profesor Fendy, dan Mas Aryo. Persis seperti sidang skripsi saya yang harus mengulang. Makanya saya tidak pernah mengindentifikasi diri saya pintar akademik.

Menjadi dewasa menyenangkan juga. Pekerjaan memungkinkan saya mengunjungi tempat-tempat dan lingkaran pertemanan baru. Sebagai seorang introvert, saya merasa cukup bisa adaptasi walau tetap lebih senang menghabiskan waktu sendiri. Sebagian menganggap saya terlalu serius. Walau sebagian yang lain melihat kebalikannya.

Pekerjaan kedua saya sebagai dosen sekian tahun lalu, nyaris gajinya hanya bisa untuk bensin saja sebulan. Berpindah ke kampus lain, gajinya lebih banyak, tapi dibayarkan 3 bulan sekali. Namun rupanya tuhan memberi rizki lain. Kepuasan hidup, ketenangan batin, karena merasa hidup saya ada gunanya buat orang lain.

Di tengah gaji yang ngepres, saya selalu sisihkan membeli buku tiap bulan. Tiap ada penambahan penghasilan lain, saya beli buku.

Menjadi dewasa bagi saya, artinya bebas memilih karier. Menentukan peran apa yang ingin diambil di masyarakat. Berdiri di kaki sendiri secara finansial, emosi, dan kognisi. Menyadari bahwa tiap keputusan punya konsekuensi. Oya, jangan khawatir, dewasa artinya dapat paket lengkap sekalian gosipnya: kenapa pilih kerja itu, kenapa gajinya segitu, kenapa cuma jadi ibu rumah tangga, kenapa lelaki nggak kerja kantoran, dan kenapa2 yang lain :).

Sebagian pertanyaan kadang bisa dijawab secara logis kalau mood menjelaskan. Sebagian lain cukup dengan senyuman atau respon, “oo begitu ya?”. Dan seringkali, cukup diadukan pada tuhan dalam doa.

Jadi dewasa itu asyik, kok, teman2 mahasiswa.

Khususnya kalau sudah pelan-pelan menyiapkan diri sejak kanak2 dan remaja.

7#Kenangan di Bus AntarKota, Pariwisata, dan Mana Saja

Baca juga:   Catatan Ramadan Djeng Fatma - Part 1

Saya sedih harus melihat dua maestro musik Indonesia berpulang selama Corona. “Bapak Patah Hati” tanah air hari ini tutup usia.

Sebagai pelanggan tetap bus Harapan Jaya, patas maupun ekonomi, trayek Kediri-Surabaya selama 8 tahun, hidup saya di jalan diwarnai dengan per-Didi-Kempot-an. Jika beruntung mendapat bus yang punya televisi layar datar di depan, DVD Didi Kempot selalu menjadi favorit para sopir dan kenek untuk dibawa di dashboard-nya. Tembang campursari menemani nggrantes-e ati, mulai saya sadar, setengah sadar, tertidur pulas, terbangun lagi, sampai saya turun di alun-alun kota Kediri.

Itu juga terjadi di bus pariwisata yang membawa saya pergi melintasi propinsi, atau di tv, Youtube, radio di warung, dan dimana saja.

Siapa yang patah hatinya tidak pernah ditemani lagu-lagu menyayat mas Didi?

Beliau mungkin satu-satunya seniman campursari yang saya sukai. Lagunya punya diksi yang menarik benar. Bagaimana “Bojo Anyar” disandingkan rimanya dengan “Klambi Anyar” di dalam lemari, dalam lagu Pamer Bojo.

Belum lagi soal “Solo Balapan”… Siapa yang tidak pernah ditinggal pergi kekasihnya ketika dia berjanji akan kembali lagi? 

Atau juga seseorang yang mencari kekasihnya hingga melewati seribu kota dan menanyai seribu hati, dalam lagu “Sewu Kutha”. Walaupun saya masih sangsi seseorang betul-betul bisa ikhlas menerima mantannya bahagia bersama yang lain, dengan meninggalkan sebuah pengkhianatan yang besar.

Matur nuwun, Mas @didikempot_official
Karyamu abadi; Tembangmu menemani hati-hati kami.

Sugeng tindak. Bahagia, nikmat, dan tenang dalam kuburmu ??

8#Milea Rasa Kolonial

Saya tidak menyangka novel yang berdasarkan kisah nyata ini berlatar belakang penjajahan Belanda dan Jepang.

Prolognya membuat jengah. Saya sebagai pembaca tak perlu tahu penyebab awal #PidiBaiq membuat novel ini.

Pertemuannya dengan Helen di Belanda, lalu saling cerita, dan Pidi menawarkan untuk membukukan kisahnya. Saya lebih setuju itu di bagian epilog atau apa saja, asal tidak mengganggu ekspektasi pembaca sejak halaman pertama. Karena ini novel, bukan buku biografi.

Tersebutlah Helen, peranakan Belanda yang lahir dan besar di Tjiwidey (sekarang Ciwidey), beberapa jam dari Bandung. Ayahnya pengusaha. Mereka hidup rukun dengan pribumi, walau orangtuanya tetap ada perasaan punya kedudukan lebih tinggi karena orang Eropa

Saya mengutuk pelajaran sejarah yang saya dapat selama SD-SMA. Hafalan nama perang, nama pahlawan, agresi militer ini itu, tapi tak pernah ada yang menyebut bahwa Belanda yang telah menduduki Hindia (Indonesia) 3,5 abad juga ada yang berlaku baik kepada pribumi. Pribumi ada yang bekerja sebagai pegawai perkebunan, boleh bersekolah walau terbatas, dan sebagian menjadi baboe (pembantu) bagi mereka.

Helen, remaja cantik yang saya bayangkan mirip Eva Celia, jatuh cinta pada keponakan sopirnya, pribumi tampan bernama Sukanta. Entah kenapa lalu dia dipanggil Ukan, bukan Sukan atau Kanta. “Ukan” bagi saya terlalu imut. Terdengar ke-Dilan-Dilan-an.

Baca juga:   Catatan Ramadan Djeng Fatma - Part 1

Romansanya cute, saya deskripsikan memang seperti Milea dan Dilan. Mulai dari pemilihan bahasanya, atau aktivitas yang dilakukan bersama.

Beberapa kali saya meneteskan air mata. Terhubung dengan kisah cinta mereka. Secara alur, bagus. Rentang ceritanya panjang, dari Helen lahir tahun 1924 hingga hiruk pikuknya peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang (Amerika mengebom Pearl Harbour) dan kemerdekaan Indonesia 1945 (sekutu mengebom Hiroshima dan Nagasaki). Perih sih rasanya, kalau saya jadi Helen.

Ciri buku Pidi yang lain adalah seolah layouter enggan bekerja ekstra. Dipilihnya font Calibri 12, yang kita tahu itu default-nya Ms. Word. Ini juga terjadi pada 3 novel Dilan. Tapi secara umum, ini novel yang layak dibaca

#HelenDanSukanta

9# Puasa Pertama dan Ojek Menyebalkan

Sebetulnya ini cerita memalukan.Beberapa hari lalu saat saya butuh mengirim donasi sembako teman-teman ke suatu tujuan dengan ojek mobil online, si pengemudi bertingkah menyebalkan. Atau saya menganggap menyebalkan.

Dari luar pagar yang berjarak empat meter, pengemudi setengah berteriak dengan nada tidak bersahabat, masih di balik kemudi, “Siapa yang mau angkatkan itu?”

Saya kaget. Apa maksudnya? Bukankah wajar pengemudi membantu calon penumpangnya untuk mengangkat barang bawaan?

Dengan hati dongkol, saya jawab, “Saya sendiri, Mas! Masuk sini dulu!”
Kurang ajar nih pengemudi. Udah teriak sebelum sampai lokasi, nggak mau bantu, lagi.

Setelah membukakan bagasi, sambil berkacak pinggang, dia berkata, “Siapa yang ngangkatkan nanti pas sampai di tujuan?”

Saya jawab ketus, “Ada nanti temen saya sendiri yang angkat! Masnya nggak usah”. Oo, ini orang emang gak punya jiwa sosial. Gitu aja gak mau bantu, pikir saya.

“Soalnya saya habis operasi di perut, mbak. Jadi nggak bisa bantu angkat,” pungkas dia.

DEG!!!

Tapi karena terlanjur sebal, saya tak terlalu menghiraukan dan lanjut mengangkat barang yang totalnya tak kurang dari setengah kuintal itu.

Begitu mobil pergi, saya masih juga menularkan kekesalan dengan WA teman saya yang akan menerima barang, mengabarkan bahwa pengemudinya mbencekno (menyebalkan).

Ah, mungkin saya terlatih lapar.

Tapi belum cukup terlatih sabar, berprasangka baik, dan berkata baik dalam segala situasi.

Padahal itu baru puasa hari pertama.

10#Profesi Seumur Hidup

Jadi ingat pertanyaan teman-teman Madrasah Aliyah di Bekasi yang kapan hari saya mengisi sesi sharing profesi mereka. Mengenalkan beragam profesi untuk remaja yang akan masuk dunia kuliah dan kerja.

Menggelitik, bahkan pertanyaan ini jarang ditanyakan orang dewasa di sekitar saya:

“Apakah ibu memilih pekerjaan ini karena keinginan sendiri atau keinginan orangtua?”

“Apakah ibu akan menjadi dosen sampai pensiun?”

“Hal paling menarik apa dengan menjadi seorang dosen?”

Saya tersenyum.

Jujur, sayapun juga sering bertanya pada diri sendiri di kala sangat jenuh, stres, tidak cocok dengan rekan kerja, marah pada sistem kerja, atau tidak puas pada kinerja: “Akankah saya menjalani profesi ini hingga tua?

The End.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *