Membincang Teologi Bencana Dengan Mas Basar

Limas Dodi*

Photo Source: https://artikula.id

Beberapa waktu lalu, saya dihubungi kolega dari Madura; saya akrab memanggilnya mas Basar dari nama asli Basar Dikuraisyin. Penilaian saya, beliau orang hebat, ahli fiqh, mitra bebestari di jurnal-jurnal syari’ah, dan juga seorang di sebuah PTKIN. Begini kira-kira dialognya: “Mas Ade, lebih utama mana taat ulil amri (pemerintah) dengan perintah Tuhan?”, pertanyaan ini terdengar ringan, namun menjawabnya mesti hati-hati. Kolega saya bukan orang awam, masak lupa urutan taat dalam surat an-Nisa’: 59.

Pertanyaan ini wajar karena tersiar kabar saat itu wilayah paling ujung Madura baru saja ditetapkan sebagai zona merah. Seperti di daerah-daerah zona merah lainnya, ramai himbauan shalat tarawih, ngabuburit, sampai salat idul fitri di rumah saja. Sepertinya ini yang dikhawatirkan oleh kolega saya itu. Karena wabah ini banyak hal terkobankan; nuansa sosial shalat tarawih berjamaah, jagong maton sambil tadarus al-Quran, kehangatan buka puasa bersama hingga “salam-salaman” di hari raya Idul Fitri seperti tahun-tahun lalu, sepertinya bakal ambyar.

Saya jawab saja pertanyaan itu begini: “Sama-sama wajib dong, kebijakan pemerintah berdasar rasa kasih sayang Tuhan;” repotkalau menggunakan kacamata fiqih (hukum Islam), sebab bagaimanapun fiqih adalah produk pikiran. Penukilandari usul fiqih pun, terkesan hanya tembel sulam. Mengambil aturan UUD 1945, terlihat melanggar pasal “hak kebebasan beragama”. Situasi ini membuat saya berada pada posisi dilematis secara keilmuan. Maka, paling aman dan dapat diterima bagi saya adalah memotretnya dari sisi tasawuf.  Sampai di situ, kolega saya belum puas. “Apa benar ini kebijakan Tuhan juga?”, timpalnya.

Kebijakan jaga jarak fisik dan sosial (social and physical distancing), Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)—masih untung belum lockdown—sebenarnya tidak menjadi masalah bila dilihat dari aspek sosial. Yang menjadi masalah, jika ruang-ruang ibadah ikut terisolasi dengan protokol pemerintah. Lalu bagaimana agar protokol pemerintah tidak merusak ibadah? Ada caranya. Sekali-sekali dalam kondisi begini, ikutilah pendapat Imam Abu Hanifah. Melakukan shalat Jum’at empat orang saja (bagi desa zona merah) dalam tempo sesingkat-singkatnya, yang wajib-wajib saja! Intinya, dalam satu desa ada perwakilan. Dalam filsafat hukum Islam, hal itu dibolehkan. Analoginya adalah ibadah tawaf, sentuhan kulit laki-laki dan perempuan tak dapat dihindarkan, maka ikut pendapat Imam Malik adalah pilihan.

Baca juga:   Koronavirus dari Lensa Batin Penghayat

Islam di Madura dan Jawa itu lebih kultural, kental dengan sentuhan seni dari para  kanjeng Sunan dan kerajaan. Jiwa solidaritas, gotong-royong, song osong lombhung merupakan tradisi bermasyarakat sejak dahulu. Tradisi ini dihidupkan dalam ibadah melalui kegiatan-kegiatan slametan, syukuran, bancaan dan lain sebagainya. Tak dapat dibayangkan, bila kegiatan beribadah dibatasi apalagi mengikuti protokol pemerintah. Seperti kolega saya sebutkan, “masuk telinga kanan, keluar lewat telinga kiri”, bakal dianggap mimpi di siang bolong. Ujung-ujungnya, pemerintah menganggap rakyatnya masyarakat yang mangkelan.

Logikanya, setiap ibadah semua agama pasti punya nilai sosial, apalagi Ramadan bagi umat Islam. Shalat berjemaah, dapat menguatkan tali silaturrahim. Puasa, meningkatkan kepeduliaan terhadap nasib si miskin. Zakat, mensucikan dari sifat jelek dan menahan-nahan harta. Sadakah, membantu kaum miskin. Bagaimana mungkin euforia sosial ini dapat dibinasakan setelah, selama ini, dicekoki dengan kebiasaan sosial yang sifatnya ibadah. Inilah yang membuat bingung kolega saya, saat “madu beribadah” terengkuh oleh rasa kekhawatiran berlebihan.

Bukan hanya di Indonesia, beberapa sahabat yang merampungkan studi doktoralnya di Malaysia, Australia, Yaman dan Libia juga merasakan hal serupa. Tempat ibadah dibatasi pada jam-jam tertentu dengan protokol ketat. Ibadah dilakukan di rumah-rumah. Tidak ada lagi semangat shalat berjemaah di masjid-masjid. Bila dipikir-pikir, nuansa ibadah sekarang ini tidak memiliki energi seperti ilustrasi Agus Mustafa tentang filosofi baterai: energi sinar penerang menggunakan sepuluh baterai (shalat berjemaah) lebih menderang dibandingkan satu baterai (shalat sendirian).

Bila ditilik dari logika ketuhanan, apa yang kolega saya utarakan ada benarnya. Prinsip ilmu yang pertama hidup di dunia, adalah uluhiyyah, ketauhidan, manunggaling gusti. Kesehatan, rasa sakit, bahagia, sedih ataupun khawatir, tidak tercipta tanpa intervensi kekuatan supranatural. Wabah, bencana, energi dan rasa sehat merupakan kekuasaan Tuhan. Lalu apa yang dikehendaki Tuhan dengan mengirimkan wabah Covid-19? Di sisi lain, Tuhan sangat “menginginkan” makhluknya (manusia) beribadah total kepada-Nya. Inti seluruh penghambaan, adalah tunduk dan taat kepada-Nya. Apakah benar antara “wabah dengan ketundukan menghamba” berjalan pada jalur yang kontradiktif?  Satu sisi, Tuhan merintah untuk bersama-sama menghamba, namun di sisi lain menurunkan wabah. Yang salah, pemikiran kita atau pemikiran kita yang tidak sampai?

Baca juga:   Social Distancing dan Cermin Kemanusiaan

Beragam pertanyaan memang tampak membingungkan, namun sebenarnya tidak. Semua kegelisahan tak lebih dari sekadar rasa khauf (takut, khawatir) berlebihan dan melupakan raja’ (pengharapan, kabar gembira) seutuhnya. Apakah dengan shalat jum’atan dan tarawih di masjid kita akan terkena penyakit Covid-19? Jawabannya tentu “belum pasti”. Sementara melakukan shalat jum’at di masjid dan tarawih berjemaah adalah syariah yang “pasti dan nyata” memberikan kebaikan. Sesuai dengan kaidah, “maslahah yang sudah nyata, harus dimenangkan atas mafsadah yang belum nyata” (Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj, 6).

Terakhir, berpikir ala sufi diperlukan saat ini. Mereka yang meninggal karena Covid-19 berstatus syahid akhirat, yakni sebuah rahmat dari Allah Swt.  Sementara kita yang terhindar, belum tahu apakah dapat kemuliaan yang sama atau sebaliknya. Dalam suatu hadits, Rasulullah bersabda, “Zaman dulu, tha’un adalah siksa yang dikirimkan Allah Swt. kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, tetapi Allah menjadikan rahmat bagi orang yang beriman.”[MFR]

*Dr. Limas Dodi, M.Hum, penulis dengan sapaan akrab Ade ini adalah Editor-in-Chief pada Jurnal Didaktika Relegia, Pascasarjana, IAIN Kediri. Ia juga adalah dosen pada Prodi SAA, IAIN Kediri, dan bisa dihubungi di email: ade_elfa@ymail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *