Bahagia Tanpa Rasa Bersalah

Mari menjaga kewarasan untuk menciptakan suasana yang bahagia agar suami dan anak-anak juga merasa bahagia karena diasuh dengan bahagia

—— Nurul Intani

Sebagai ibu, istri, menantu, manajer keuangan, pekerja rumahan maupun kantoran, perempuan pun tentu ingin bahagia; menjalani hari dengan senang, enjoy dan tanpa beban. Mengutip Aristoteles (dalam Adler, 2003), happiness atau kebahagiaan berasal dari kata “happy” atau bahagia yang berarti feeling good, having fun, having a good time, atau sesuatu yang membuat pengalaman yang menyenangkan. Secara umum, bahagia adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens.

Bukankah ibu yang bahagia akan membesarkan anak-anak dengan bahagia? Ibu yang bahagia akan menyebarkan energi positif dalam mendidik anak-anaknya. Sebaliknya, ibu yang tertekan, lelah, kurang piknik, akan menciptakan suasana yang negatif, bahkan tak jarang pengasuhan akan diliputi dengan kemarahan; semua yang dilihat seolah salah dan rasanya hanya ingin uring-uringan saja.

Jelas hal tersebut menjadi tak baik untuk proses mendidik anak-anak. Untuk itu, ibu butuh cara untuk mencapai bahagia. Beberapa di antaranya adalah dengan tak terlalu menyibukkan diri dengan hal-hal yang membuat beban makin menggunung. Abaikan saja perasaan-perasaan yang membuat hati dan pikiran gelisah, sebab dimungkiri atau tidak, terkadang kita sendiri yang menjadikan hal ringan seolah berat, yang mudah seolah rumit. Tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak perlu dipikirkan, menuruti kata orang tidak akan ada habisnya.

Terima Kenyataan

Perubahan status dari lajang lalu menikah dan menjadi ibu terkadang membuat banyak perempuan jetlag, pada kondisi tertentu (sedang sensitif) kita tak sadar menyalahkan kondisi yang berbeda 180 derajat. Dari yang dulu bebas pergi ke mana-mana sendiri, sekarang ke mana-kemana diglendoti anak. Dulu mandi bisa berjam-jam, sekarang boro-boro, bisa mandi aja syukur, he.he. Mencari sela waktu untuk menikmati makan saja sudah sulit.

Merutuki keadaan bukanlah solusi untuk menjadikan hidup kita makin ringan, hidup harus tetap jalan. Caranya? ya terima kenyataan dan mulai membuat strategi dan rancangan baru yang bisa dilakukan dengan kondisi yang sekarang. Jika tetap ingin menjadi ibu pekerja, konsultasikan dengan suami dan sampaikan segala konsekuensinya lalu cari solusi bersama. Begitupun ketika kita memilih menjadi full day mom. Keduanya sama-sama pilihan yang tidak mudah, tapi ketika dikomunikasikan dengan baik, maka kita bisa menemukan win-win solution atas pilihan sulit tersebut.

Baca juga:   Ibu Bukanlah Ratu

Terkadang yang rumit adalah pikiran kita sendiri; kita terlalu sibuk memikirkan kata orang. Saat memutuskan tetap bekerja, kita sibuk memikirkan orang-orang yang akan menganggap kita perempuan egois karena hanya mengejar karier, mengesampingkan anak-anak dan suami. Begitupun ketika memutuskan menjadi full day mom, kita dihadapkan dengan identitas diri yang dipandang ‘hanya’, padahal jam kerjanya 24 jam, tanggungannya nggak kira-kira.

Kompak Bersama Pasangan

Ibu yang bahagia biasanya didukung oleh pasangan yang bisa memahami dan mau berbagi. Ketika ayah dan ibu bisa berbagi peran dan menjalankan roda pengasuhan bersama-bersama, pekerjaan ibu akan terasa jauh lebih ringan. Namun masih banyak orang yang tak beranggapan demikian. Secara normatif, masyarakat Indonesia masih menganut pemikiran bahwa tugas ayah adalah mencari nafkah dan ibu mengasuh serta mengurus rumah.

Padahal tugas pengasuhan bisa dilakukan bersama, begitupun urusan rumah, kalaupun kita merasa terbebani, kita bisa mencari asisten rumah tangga untuk meringankan tugas domestik. Tak jarang juga yang memilih membiarkan saja pekerjaan rumah menumpuk dan membereskannya lagi nanti saat mood sudah kembali, dan suami pun mengerti serta tak memaksakan rumah selalu rapi.

Tidak ada yang salah ketika anak-anak bermain dan terjatuh saat berlarian, makan tak beraturan, berhamburan dan mengotori lantai; di usia tertentu anak-anak memang belum cukup memiliki kematangan kemandirian, jadi kita sebagai orang tua harus mengerti, butuh waktu dan proses untuk belajar sampai bisa makan dengan rapi atau anak tak kunjung tidur karena memang belum mengantuk. Namun ini bisa menjadi salah ketika kondisi ibu sedang stres, jenuh dan lelah, anak-anak menjadi nampak salah sehingga memicu rasa marah.

Tak dimungkiri, anak-anak dekat dengan ibu di segala kondisi, baik saat ibu dalam kondisi senang ataupun garang. Kondisi mereka yang lemah dan masih sangat polos sering menjadi tempat pelampiasan meskipun berujung penyesalan. Belum lagi ketika ibu merasa pasangannya kurang bisa mengerti dan enggan berbagi, lagi-lagi anak yang menanggung kegundahan ibu. Bukankah tak ada yang berharap demikian?

Baca juga:   Mengakui Kesalahan Anak

Tugas berat ibu sebenarnya adalah mengatur kondisi diri dan mengasuh ‘bayi paling besar’ (bapaknya anak-anak) dengan super sabar. Ketika bersama suami kita sudah bisa saling mengerti, insyaallah keluhan soal berbagi tak akan ada lagi.

Menjaga Kewarasan

Pekerjaan rumah memang tidak ada habisnya, apalagi saat usia anak masih aktif-aktifnya; lagi senang-senangnya lari-larian, main dan makan berantakan, sering tantrum, bertanya ini-itu, dll. Seorang ibu butuh energi lebih untuk tetap menjaga kewarasan, untuk itu me-time sangat diperlukan. Dalam “Me-time, jangan dilewatkan (kompas.com 18-3-2009) dijelaskan bahwa me-time adalah waktu untuk diri sendiri tanpa kehadiran orang lain, sehingga kita bisa beraktivitas sendirian (atau bahkan tidak melakukan apa-apa).

Jenis aktivitasnya bisa sangat beragam, tergantung mana yang membuat seseorang merasa nyaman ataupun senang. Mengingat aktivitas ibu yang super padat, mencari waktu untuk me-time rasanya terlihat tidak mungkin. Bahkan kalaupun mungkin, akan muncul rasa bersalah dalam proses me-time.

Me-time tidak selalu harus dilakukan dengan pergi ke luar, jalan-jalan dan meninggalkan anak-anak dan suami selama beberapa hari atau jam. Me-time tidak melulu dengan belanja-belanja di mall, atau melakukan treatment di salon. Kita bisa melakukan me-time dengan lebih sederhana namun tujuannya terlaksana. Misalnya: bagi saya berlama-lama mandi sore saat anak-anak menikmati bermain bersama ayahnya adalah me-time, apalagi bisa dengan tenang membersihkan lantai dan tembok di kamar mandi tanpa teriakan dan gangguan.

Nampak sederhana tapi saat keluar dari kamar mandi pikiran sudah lebih ringan dan tidak meninggalkan rasa bersalah kepada siapapun. Ibu senang, suami dan anak-anak pun senang karena bisa menikmati waktu bermain bersama sambil meningkatkan bounding. Kita bisa memilih me-time yang tidak menyisakan rasa bersalah setelahnya, bersalah karena dompet terkuras misalnya, atau bersalah karena meninggalkan suami dan anak terlalu lama. Jadi, mari menjaga kewarasan untuk menciptakan suasana yang bahagia agar suami dan anak-anak juga merasa bahagia karena diasuh dengan bahagia.[MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *