Apakah Saya Kafir?

Asghar Ali Engineer menawarkan  pandangan yang sangat transformatif, tidak hanya memfokuskan pada masalah yang jauh tinggi di langit (ukhrawi), tetapi juga realitas dunia yang membumi. Tawaran ini patut untuk direnungkan dan diaplikasikan untuk menekan geliat kapitalisme dan menciptakan keadilan sosial.

—– Lucky Eno Marchelin

Al-Qur’an tidak pernah habis dikaji, karena sifatnya yang sâlih li kulli zamân wa makân. Sudah saatnya kita melakukan reinterpretasi teks-teks keagamaan dari tekstual ke konstektual, dari konservatif ke progresif, dari pemikiran-pemikiran langit ke pemikiran yang membumi. Ashgar Ali Engineer, seorang ahli teknik sipil menawarkan gagasan menarik dalam menafsirkan ulang terma ‘kafir’ dalam Al-Qur’an.

Asghar Ali Engineer lahir di Bohra, Rajashtan India pada 10 Mei 1939. Ashgar kecil telah belajar tafsir Al-Qur’an, ta’wil, dan hadits, selain juga belajar bahasa Arab pada ayahnya, Syaikh Qunan Husain yang juga seorang amil. Ia juga diajarkan karya-karya utama dari Fatimi Da’wah oleh Syedna Hatim, Syedna Qadi Nu’man, Syedna Muayyad Shirazi, Syedna Hamiduddin Kirmani, Syedna Hatim al-Razi, Syedna Ja’far Mansur al-Yaman, dan lain sebagainya. Asghar memperoleh pendidikan agamanya secara nonformal.

Asghar Ali menjalani pendidikan formalnya sampai memeroleh gelar sarjana teknik sipil (BSc Eng) dari Universitas Vikram di India pada 1962. Ia bekerja sebagai insinyur selama 20 tahun, kemudian mengundurkan diri untuk terjun ke dalam gerakan reformasi Bohra. Asghar merupakan penulis yang produktif, kurang lebih ia telah menghasilkan 40 buku. Beberapa artikelnya tentang gerakan reformasi juga mengisi media terkemuka di India seperti The Times of India, Indian Express, Statesman, Telegraph, The Hindu, dan lain sebagainya. Ia menghasilkan karya tentang kekerasan komunal dan komunalisme di India sejak pecahnya kerusuhan besar di Jabalpur, India tahun 1961. Karya tersebut kemudian diakui oleh Universitas Calcutta yang selanjutnya dianugerahi gelar kehormatan (D.Lit) pada Februari 1983. Asghar Ali diakui sebagai sarjana Islam terkemuka dan memiliki karir akademik yang luar biasa. Ia diundang untuk mengisi konferensi tentang Islam oleh institusi di berbagai belahan dunia.

Baca juga:   Paralelisme: Paradigma Alternatif dalam Studi Agama-Agama

Asghar Ali merupakan seorang pemimpin salah satu kelompok Syi’ah Ismailiyyah, Daudi Bohra yang berpusat di Bombay India. Asghar berusaha menerapkan gagasan-gagasannya meskipun ditentang oleh generasi tua yang konservatif dalam pemikiran dan mempertahankan kemapanannya. Untuk menjadi da’i atau pemimpin dalam kelompok Daudi Bohra, ia  harus memenuhi 94 kualifikasi yang terangkum dalam empat kelompok, yakni pendidikan, administrasi, moral, dan teoritikal. Yang paling menarik adalah seorang da’i harus tampil sebagai pembela umat yang tertindas dan berjuang melawan kezaliman.

Asghar Ali Engineer tampil menawarkan teologi tansformatif, yakni teologi pembebasan. Menurur Asghar, Islam datang untuk membebaskan kelompok yang tertindas dan tereksploitasi. Belum bisa disebut masyarakat Islam apabila mereka masih menindas kaum lemah meskipun taat menjalankan ritual Islam. Setidaknya terdapat lima pilar paradigma dalam teologi pembebasan yang digagas Asghar, yakni: kemerdekaan, persamaan, keadilan sosial, kerakyatan, dan tauhid. Pandangan ini berdasar pada hadis Nabi SAW, di mana Nabi saw menyamakan kemiskinan dengan kufur. Kewajiban untuk menghapus kemiskinan sama dengan kewajiban untuk menghapus kekufuran, dengan cara inilah dapat tercipta masyarakat Islam. Ia juga mendasarkan gagasannya pada hadis Nabi SAW bahwa sebuah negara dapat bertahan hidup meskipun di dalamnya terdapat kekufuran, namun tidak akan dapat bertahan apabila di dalamnya terdapat banyak penindasan.

Asghar mengutip tulisan Raif Khoury, seorang penganut agama Kristen pengikut Marx dari Libanon tentang Bilal dan suara adzan sebagai perubahan dan pembebasan:

“Betapa sering kita mendengar suara adzan dari menara di kota-kota Arab yang abadi ini: Allahu Akbar! Allahu Akbar! Betapa sering kita membaca atau mendengar Bilal, seorang keturunan Abyssinian, mengumandangkan adzan untuk pertama kalinya sehingga menggema di Jazirah Arab, ketika Nabi saw mulai berdakwah dan menghadapi penganiayaan serta hinaan dari orang-orang yang terbelakang dan bodoh. Suara Bilal merupakan sebuah panggilan, seruan untuk memulai perjuangan dalam rangka mengakhiri sejarah buruk bangsa Arab dan menyongsong matahari yang terbit di pagi hari yang cerah. Namun apakah kalian sudah merenungkan apa yang dimaksud dari panggilan itu? Apakah setiap mendengarkan panggilan suci itu, kamu ingat bahwa Allahu Akbar bermakna (dalam bahasa yang tegas): berilah sanksi kepada para lintah darat yang tamak itu! Tariklah pajak dari mereka yang menumpuk-numpuk kekayaan! Sitalah kekayaan para tukang monopoli yang mendapatkan kekayaan dengan cara mencuri! Sediakanlah makanan untuk rakyat banyak! Bukalah pintu pendidikan lebar-lebar dan majukan kaum wanita! Hancurkan cecungukcecunguk yang membodohkan dan memecah belah umat! Carilah ilmu sampai ke negeri Cina (bukan hanya Cina dahulu, namun juga sekarang)! Berikan kebebasan, bentuklah majelais syura yang mandiri, dan biarkan demokrasi yang sebenar-benarnya bersinar!”

Terma kufr pertama kali digunakan untuk menunjuk beberapa warga Makkah yang menghina dan menolak dakwah Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya kata ‘kafir’ diartikan sebagai penentangan atas kebenaran yang disampaikan Nabi SAW dan penolakan atas kerasulannya. Pada perkembangannya, kata kafir juga dimaknai sebagai orang yang tidak beragama Islam.

Baca juga:   Berpikir Komputasi dalam Beragama

Asghar memberi makna lain pada terma ‘kafir’. Menurutnya, Islam sangat tegas mengutuk tindakan penindasan. Orang kafir adalah orang yang tidak percaya pada Allah SWT dan Muhammad SAW. Orang kafir juga adalah orang yang tidak berperan dalam menentang segala bentuk penindasan, eksploitasi, dan penjajahan, dan tidak turut menciptakan masyarakat yang egaliter dan berkeadilan sosial. Maka dari itu, orang yang secara formal beriman kepada Allah SWT dan mengakui kerasulan Muhammad SAW namun menimbun kekayaan dengan cara menindas dan mengeksploitasi kaum lemah, ia termasuk orang kafir! Perbuatannya akan mengundang kemurkaan Allah SWT, berdasarkan Surat al-Maa’un [107]: 1-7.

Gagasan ini tentu saja menimbulkan pemikiran reflektif, benarkah saya seorang kafir? Asghar Ali Engineer menawarkan  pandangan yang sangat transformatif, tidak hanya memfokuskan pada masalah yang jauh tinggi di langit (ukhrawi), tetapi juga realitas dunia yang membumi. Tawaran ini patut untuk direnungkan dan diaplikasikan untuk menekan geliat kapitalisme dan menciptakan keadilan sosial.[MFR]

*Tulisan ini bagian dari program KKN-DR 48 IAIN Kediri 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *