Yoga, Agama dan Coca-Cola

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari semarak gaya hidup beragama di tanah air ini. Sebagian orang beranggapan ini dipicu oleh peningkatan kesadaran orang yang beragama tersebut pada hal-hal yang subtil. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan pada kebenaran mutlak.

— Yudhi Widdyantoro

Dalam empat tahun terakhir ini, perkembangan tempat berlatih yoga (selanjutnya disebut yoga center) di Jakarta meningkat dengan pesat. Bahkan Jakarta jauh meninggali sesama kota-kota metropolitan di Asia Tenggara. Animo dan kegandrungan orang Jakarta—yang  berpenduduk delapan juta lebih—untuk beryoga menunjukkan grafik yang meningkat. Pemberitaan dan publikasi yoga di media, baik cetak maupun elektronik, seperti terus mengalir tiada henti.

Kalau sedikit ditarik lebih kebelakang, perhatian orang pada yoga atau “seni hidup dari timur” ini sudah menampakkan gejalanya di tengah dampak negatif krisis ekonomi nasional yang masif pada paruh dasawarsa 90-an. Dampak nyata dari kemerosotan ekonomi adalah penurunan pendapatan riil yang dialami sebagian besar penduduk seiring dengan angka pengangguran yang semakin menggelembung. Dari sini, krisis ekonomi tidak hanya menggoyahkan sendi perekonomian, namun juga kehidupan sosial, politik, bahkan kerukunan hidup bermasyarakat. Harga bahan pokok hidup yang meroket semakin mempersulit akses pada pelayanan kesehatan yang menjadi sangat mahal. Masyarakat semakin tidak berdaya (vulnerable) yang secara tidak langsung berpotensi memicu gejolak dan penyakit sosial. Selain berusaha mencari pengobatan yang relatif murah, masyarakat dilanda stres  menghadapi kenyataan bahwa pengobatan medis konvensioal dengan terapi obat-obatan kimia tidak cukup ampuh untuk menyembuhkan penyakit yang bersumber dari masalah psikis atau mental. Mereka mulai berpaling pada upaya mendapatkan kesehatan secara alami, salah satunya yoga. 

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari semarak gaya hidup beragama di tanah air ini. Sebagian orang beranggapan ini dipicu oleh peningkatan kesadaran orang yang beragama tersebut pada hal-hal yang subtil. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan pada kebenaran mutlak. Cak Nur—panggilan akrab Nurcholish Madjid—menyebutnya sebagai al-hanifiyyat al-samhah, yakni mencari kebenaran yang lapang dan toleran serta jauh dari sifat fanatik dalam beragama. Mereka yang sepaham dengan cara berpikir Cak Nur agak alergi pada fundamentalisme agama, karena mereka terbiasa beragama dengan cara inklusif. Kajian mereka lebih filosofis. Karenanya, perjumpaan atau dialog dengan agama lain bukan sesuatu yang tabu. Adanya semacam proses emanasi spiritualitas ini menjadi awal berkah bagi perkembangan yoga. Orang-orang seperti ini akan dengan ringan melangkahkan kakinya “melompati pagar tabu agama” untuk mengunjungi aktivitas keagamaan atau kegiatan spiritualitas dari agama atau tradisi yang berbeda.

Yang hampir sama dengan derap perkembangan keagamaan adalah gelombang kultural yang sangat konsern pada spiritualitas, yang biasa disebut New Age. Di Barat, New Age sudah marak di era 60-an hingga 70-an seperti kehadiran kelompok yang lebih dikenal sebagai flower generation (generasi bunga). Tapi entah bagaimana di Indonesia pada era 90-an gelombang New Age ini mulai dirayakan lagi. Panggilan “pengembaraan ke Timur” berdengung kembali. 

Vitamin lain bagi perkembangan yoga adalah kebiasaan yang dibawa oleh anak-anak Indonesia yang pernah belajar di luar negeri, khususnya Amerika Serikat. Anak-anak ini berasal dari keluarga A+, atau  kelompok paling atas dari menengah-atas, yang ketika sekolah atau tinggal di Amerika sudah mengenal dan berlatih yoga dan merasakan manfaatnya. Mereka meneruskan kebiasaan hidup itu sekembali ke tanah air. Selain mereka, tentunya banyak juga orang Indonesia yang, walaupun tidak ke Amerika, cukup terbuka pada perkembangan gaya hidup mondial dan turut menjadi amunisi ampuh bagi ledakan yoga di kota-kota besar Indonesia.

Baca juga:   Santri Yoga, Ngaji Yoga Sutra

Di Amerika, yoga tentunya lebih dahulu berkembang dibanding di Indonesia. Gairah orang Amerika untuk beryoga sudah bukan lagi sekadar kebutuhan exercise atau kesehatan fisik, tapi sudah menjadi lifestyle, gaya hidup. Selain yoga centers yang sudah menyebar hampir di seluruh pelosok negeri, kelengkapan pendukung latihan pun turut tumbuh menyertainya, seperti t-shirt, celana, matras yoga, atau props (benda-benda untuk membantu latihan fisik), program retreat, workshop, teacher training, bahkan asuransi untuk para praktisi diiklankan dengan marak di majalah, seperti Yoga Journal, Living Yoga yang diterbitkan di negeri Paman Sam ini. Asosiasi-asosiasi yoga dari berbagai tradisi: Iyengar Yoga, Ashtanga Yoga, dan sebagainya dibentuk di hampir setiap negara bagian (state). Dan, least but not last adalah kehadiran International Yoga Alliance (IYA) yang dikreasi oleh orang-orang Amerika. Hampir seperti Perserikatan Bangsa-bangsa, organisasi ini seolah ingin menjadi payung bagi seluruh aliran dan tradisi yoga yang ada di muka bumi. Mereka membuat standar dan ketentuan, seperti kurikulum, dalam menyelenggarakan teacher training, pelatihan untuk menjadi pelatih yoga. Harus diakui bahwa orang Amerika sangat piawai dalam membuat sistematika,  mengemas dan kemudian “memasarkan” yogya, walaupun kita tahu yoga sejatinya berasal dari India, ribuan kilometer di seberang benua Amerika. 

Publikasi dan pemberitaan di media bahwa para pesohor atau celebrity Hollywood berlatih yoga menjadi hal penting bagi perkembangan yoga secara global. Sebut saja misalnya Madonna, Christy Turlington, Cyndy Crowford, Sarah  “Sex City” Jessica Parker, Breatny Spears, Gwyneth Paltrow dan Sting. Mereka ini adalah para trendsetter yang setiap kegiatannya mendapat sorotan media dan publik yang membuat segala apa yang mereka ucapkan, lakukan, atau kenakan di tubuhnya akan dengan mudah diikuti banyak orang.

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Di Indonesia, perkembangan yogya mengikuti pola di Amerika itu. Para pesohor Indonesia menjadikan para celebrity Hollywood kelas dunia itu sebagai referensi. Ada juga keinginan tersembunyi dari para pesohor Indonesia untuk diakui dan seterkenal bintang Hollywood. Celebrity dan golongan menengah atas, khususnya yang paling atas atau A+, adalah orang-orang yang sangat peduli pada citra diri atau image, oleh karenanya tubuh menjadi titik perhatian utama. Dengan perjuangan ekstra keras, mereka berusaha untuk mendapatkan tubuh permai dan penampilan yang aduhai, termasuk ramai-ramai berlatih yoga. Demam yoga ini juga menjangkiti pikiran banyak manusia urban yang sangat peduli pada bentuk tubuh, seperti orang-orang di Jakarta ini.

Tubuh masyarakat urban adalah arena pertarungan interior maupun eksterior. Pertarungan interior maksudnya arena pergulatannya ada di dalam diri si empunya tubuh, sementara eksterior berarti adanya pihak lain yang melihat tubuh sebagai objek yang empuk bagi ekstensifikasi atau pemasaran produk-produk industri modern. Untuk mendapatkan “cantik” seperti dalam pandangan masyarakat umum modern, si empunya tubuh merelakan dirinya menjadi sadomasokis, yakni menyakiti diri sendiri untuk mengejar kenikmatan diri. Para pemuja tubuh ini dalam waktu yang bersamaan menjadi narsistis atau mencintai diri sendiri. Setiap saat mereka mematut diri untuk tetap berada dalam koridor “cantik sesuai pandangan umum”. Di sini ada konflik internal secara psikis, antara pikiran dan tubuhnya sendiri. Pikiran mengkooptasi, melulu menuntut tubuh agar selalu sesuai dengan keinginannya, sementara secara awam diketahui bahwa tubuh mempunyai logika perkembangan sendiri yang mengikuti hukum alam. Bagi orang yang jeli tubuh akan dilihat sebagai target market untuk mamasarkan produk yang telah atau akan dihasilkannya. Secara masif para industrialis produk kecantikan melihat tubuh masyarakat urban sebagai arena ekstensifikasi modal yang menjanjikan keuntungan berganda. Dengan kecerdikannya pula, para pelaku industri ini dengan sengaja mengkonstruksi pengertian cantik ini setiap saat.

Baca juga:   Deradikalisasi Yoga [2]

Dari sebagian para sosialita Jakarta yang berlatih yoga, dan kebetulan mereka juga punya uang, melihat peluang berinvestasi mendirikan yoga center  sebagai upaya diversifikasi dari aktivitas bisnis-bisnis sebelumnya. Semula mereka meniatkan agar diri mereka, dan juga teman-teman terdekat, dapat terus melanjutkan latihan yang sebelumnya mereka lakukan di rumah sekaligus mengkanalisasi gairah orang Jakarta beryoga-ria. Dalam waktu yang relatif singkat, kegiatan yoga mereka menyebar ke segala penjuru kota, merambah dari studio yoga ke gedung-gedung perkantoran, perumahan, dan mall.

Di atas telah disinggung bahwa perkembangan yoga di Jakarta tidak terlepas dari gaya hidup beragama di tanah air. Yoga adalah seni hidup, art of living, dan bukan atau diakui sebagai agama, tapi dapat juga (sementara) dimasukkan dalam genre yang sama, karena di dalamnya ada kepercayaan (belief system) dan semacam ritual berupa laku (practice). Dalam teks klasik yoga, yoga didefinisikan sebagai union dalam bahasa Sanskrit, artinya penyatuan keinginan kita (our will) dengan keinginan Tuhan (the will of God); atman (jiwa manusia biasa) dan Brahman (jiwa utama, supreme soul, Tuhan sang pencipta), seperti konsep manunggaling kawula gusti dalam kepercayaan Jawa, atau “menyatu dalam Tuhan” pada agama-agama samawi Abrahamik-monoteis: Yahudi, Kristen dan Islam. Konsep “manusia utama” atau insan kamil dalam konteks ini—juga dalam agama Hindu—adalah adanya unsur “kemenyatuan” itu, seperti juga dalam pengertian samadhi dalam yoga: “when our soul merge with the soul of universe”.

Ideologi berupa agama atau budaya dan seni diproduksi untuk menjembatani jurang antara Tuhan sang Pencipta dan manusia yang diciptakan sehingga insan kamil, manusia utama, bisa mewujud. Dalam ruang kosong yang menghubungkan Tuhan dan manusia dibangun jembatan hermeneutik sebagai penghubung karena Tuhan berbicara dalam bahasa wahyu yang termanifestasi dalam kitab suci, sementara bahasa manusia mempunyai logikanya sendiri. Dalam cara beragama di masa modern ini, ruang kosong itu diisi oleh para juru tafsir kitab suci yang sudah pasti ada “kekuasaan” (dan juga ambisi pribadi) yang sifatnya hierarkis-parokial yang terwujud pada pemimpin atau tokoh-tokoh agama.

Dari tuturan para pemimpin spiritual dan agama, dibangun dogma yang menuntut ditegakkannya disiplin dalam menjalankan tertib hukum agama sambil bersujud serendah-rendahnya di hadapan sang Pencipta. Seperti dalam teori termodinamika di mana arus kecil akan tersedot arus besar, untuk dapat “diterima dalam tangan Tuhan” manusia harus merendah serendah-rendahnya. Walhasil, cara beragamanya bersifat imperatif: “semakin larangan dijauhi dan perintah dipatuhi, orang bukan makin lega, malah justru makin gelisah dalam rasa dosa dan bersalah, yang darinya akan meningkat kualitas kesalehan”, seperti orang selesai minum coca cola: diminum, hilang dahaga dan segar (sejenak), tapi kemudian timbul rasa haus yang malah menjadi-jadi.

Hal ini nampak nyata pada pertemuan keagamaan dalam skala yang besar. Para pemimpin agama sering menggambarkan kengerian hasil perbuatan buruk manusia di dunia pada hari pembalasan atau kiamat (judgement day), hari ketika dunia dihancurkan oleh kuasa Tuhan. Sepertinya omongan agama melulu diproyeksikan untuk kehidupan masa depan, akhirat atau kematian dan bukan merayakan hari ini. Walaupun demikian, kengerian yang digambarkan tokoh-tokoh agama tersebut, toh tidak menyurutkan minat orang untuk mendatangi tempat ibadah pada hari-hari mereka lazim berkumpul.[MFR]  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *