Yang Fana Reisa, Yang Misterius Rasa

Pengalaman mistik adalah pengalaman kemenyatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri: Yang Ilahi, Tuhan, Allah, semata, atau sesuatu yang kita tidak ketahui, The Unknown. Sisi spiritualitas yoga ini yang akan membawa praktisinya pada kerendahan hati, sekaligus membebaskan dari penderitaan.

—-Yudhi Widdyantoro

“Per hari ini 47.896 orang terkonfirmasi positif Covid-19 dan 2.535 orang meninggal”. Coba Anda bayangkan kalimat itu juga keluar dari mulut dokter Reisa, selain anjuran menaati protokol kesehatan: menjaga jarak, memakai masker, dan cuci tangan pakai sabun. Reisa menyampaikan data kuantitatif yang terus berubah. Sehari turun, keesokan hari memecahkan rekor pertambahan pasien dalam pengawasan (PDP). Jumlah pesien yang meninggal terus bertambah. Penampilan Reisa membuat terpesona, itu sudah biasa. Namun berbagai pikiran dan perasaan bisa muncul setiap melihat dan mendengar informasi dari Reisa. Setiap kata-kata Reisa bisa menimbulkan perasaan kagum, ngeri, bisa juga jadi panik. Apa jadinya jika pandemik disikapi dengan panik? Kata-kata memang sering menunggangi makna. Karenanya, kata bisa menimbulkan aneka pikiran dan rasa.

Seperti itu juga ketika kita berlatih yoga. Setiap tahap latihan menimbulkan pikiran dan rasa. Perasaan yang mengikuti pikiran bisa muncul ketika berlatih asana, atau olah fisik yoga, karena pada umumnya pikiran dan perasaan mengikuti ke mana sensasi muncul di tubuh. Terkadang kita merasa sakit di suatu bagian tubuh akibat otot, syaraf, dan tulang aktif bekerja untuk membuat postur yoga. Kali lain ada rasa nikmat dan adiksi. Perasaan itu bisa tidak sama persis pada setiap orang ketika mempraktekkan suatu postur bersama sejumlah orang dalam waktu dan tempat yang sama, karena soal rasa ialah subjektif.

Asana atau postur yoga yang kasat mata, pada tahap tertentu, mungkin perlu dilakukan secara terukur dengan fokus pada ketepatan anatomis-fisiologis untuk menghindari cedera. Praktisi yoga dalam melakukan postur mengacu pada Yogasutra Patanjali, Bab Sadhana, atau soal latihan, “yoga sthiram  sukkham asanam”, “lakukanlah postur yoga dengan kokoh, mantap, tapi disertai dengan perasaan sukacita, sukkham” (YS II:47).

Dalam melakukan postur yang terkait dengan kerja aktif anatomi-fisiologi manusia, diperlukan ukuran yang objektif seperti dalam kajian dunia kedokteran medis. Di sini, akal sehat dan rasionalitas dibutuhkan untuk mengurai kerumitan hubungan organ dalam tubuh manusia; kerja syaraf, otot, tulang; dan juga gerak tubuh. Hal serupa berlaku juga pada bagaimana hubungan kerja bareng antara semua unsur fisik itu dengan efek terapis yang dapat bermanfaat bagi kesehatan mereka yang mempraktekkan asana.

Baca juga:   Yoga, Agama dan Coca-Cola

Namun demikian, yoga bukan melulu soal olah fisik asana yang tampak nyata. Selain soal tubuh yang telah disebut di atas, diri kita juga memiliki dunia batin, dunia spiritual, seperti soal rasa yang muncul ketika sedang melakukan suatu postur yoga. Tentu saja saat itu nafas, rasa, dan pikiran semuanya muncul silih berganti tanpa bisa dicerap namun bisa dikenali oleh indra penglihatan. Pikiran manusia tidak hanya punya kemampuan analitis, misalnya untuk menyelesaikan kerumitan, tetapi juga reflektif dan intuitif. Reflektif berati mampu mengamati dan menilai dirinya sendiri. Sedangkan intuitif diandaikan telah berkembangnya kepekaan perasaan sehingga mampu memahami sesuatu secara langsung tanpa selalu mengandalkan rasio dan pikirannya. Tubuh dan batin menjadi sesuatu yang paradoksal. Keduanya ada beriring bukan untuk saling meniadakan, tapi malah saling melengkapi.

Pikiran memang senantiasa memecah diri menjadi kepingan-kepingan dan menciptakan pemisah-misahan. Pikiran juga memutilasi apa yang dilihatnya untuk kemudian memasukkannya ke dalam ruang-ruang berbeda sebagai “aku” dan “Anda”; “milikku” dan “milik Anda”. Pikiran menciptakan dualitas. Dualitas juga bisa terjadi karena adanya konsep yang memisahkan body mind dan soul, tubuh dan batin.

Makna kata “yoga” dalam bahasa Sanskrit ialah penyatuan atau telah terjadinya keselarasan. Dalam sutra pembuka di dalam Yoga Sutra Patanjali, “yoga cittavriti nirodhah” (YS I.2), “yoga is cessasion of mind”, “yoga adalah ketika gejolak batin berhenti”. Gambaran tentang kondisi batin yang berhenti disebutkan dalam sutra III.3: Tadeva arthamantranirbhasam svarupasunyam iva samadhi. Artha, purpose, tujuan; nir, tidak, tanpa; svarupe, sva, sendiri, apa adanya, rupe, objek, bentuk, benda; sunyam, kosong, hening; iva, inilah; samadhi, liberation, pembebasan. “When the object of meditation engulf the meditator, appearing as the subject, self awereness is lost. This is samdhi.” Keheningan terjadi ketika subjek atau diri si pengamat terserap oleh objek yang diamati, atau sebaliknya. Dengan demikian, sang diri kehilangan identitas dirinya sendiri. Inilah yang disebut samadhi, kebebasan batin. Dua sutra ini bisa menggambarkan keseluruhan isi Yoga Sutra Patanjali. Tujuan dari perjalanan yoga sudah terkandung sejak dari awal melangkah, kebebasan batin dengan meredanya pikiran dan perasaan.

Baca juga:   Tetirah Hidup Orang Rimba

Seperti juga dalam sejarah peradaban manusia, pada dasarnya kita manusia selalu berusaha untuk memperoleh kebebasan. Bebas dari rasa takut, bebas dari cengkeram penguasa, bebas dari segala ikatan yang membelenggu. Penciptaan manusia sepertinya sudah satu paket dengan kebebasan.

Namun demikian, keinginan untuk bebas dari segala problem telah melahirkan problem lain bersama aliran waktu. Lalu, apakah yang menyebabkan problem itu? Jawabannya adalah ketakutan. Ketakutan bukan selalu berkonotasi buruk. Ketakutan, bersama keinginan, keraguan, dan kecemasan adalah kondisi batin yang selalu ada sepanjang kita hidup. Ketakutan itu ada selama ada dorongan untuk menjadi sesuatu di masa kini atau di masa depan.

Mungkin karena tidak tampak nyata, sisi spiritualitas yoga atau dunia batin praktisi menjadi tidak popular dan terabaikan, tertelan gelombang besar ritus perayaan tubuh. Walaupun, seperti makna atau nilai yang terkandung dalam Pratyahara, menarik objek di luar diri dan dibawa ke dalam batin adalah langkah awal untuk menyelami pengalaman mistis –yang sering dikatakan inti dari agama dan kepercayaan.

Pengalaman mistik memiliki dua sisi, yakni sisi misterius yang mengandung kekaguman sekaligus ketakutan, misterium tremendum fasinatum. Pengalaman mistik adalah pengalaman yang bisa mengubah dari dalam diri. Adanya rasa keterhubungan dengan lingkungan dan galaksi yang lebih luas. Pengalaman mistik adalah pengalaman kemenyatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri: Yang Ilahi, Tuhan, Allah, semata, atau sesuatu yang kita tidak ketahui, The Unknown. Sisi spiritualitas yoga ini yang akan membawa praktisinya pada kerendahan hati, sekaligus membebaskan dari penderitaan.

Pengalaman mistik adalah pengalaman kemenyatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri: Yang Ilahi, Tuhan, Allah, semata, atau sesuatu yang kita tidak ketahui, The Unknown. Sisi spiritualitas yoga ini yang akan membawa praktisinya pada kerendahan hati, sekaligus membebaskan dari penderitaan.

Saat ini, ketika pageblug wabah Covid-19 belum mereda, dan karena statistik fluktuatif, terus bergerak, biarlah angka-angka yang disampaikan Reisa dengan segala pesonanya berubah dan menjadi fana. Sementara itu, ketidaktahuan kita pada akhir kisah pandemi Covid-19 ialah sebagaimana kita menempatkan Yang Ilahi, Yang Transenden pada suatu ruang kosong tiada tepermanai dalam keheningan. The Unknown, ‘Yang Tak Dikenali’ biarlah tetap menjadi misteri dan abadi. Mungkin rasanya seperti puisi Rumi ini: Aku memilih mengindamkanmu dari kejauhan//
Aku memilih mendekapmu dalam mimpi//Karena di dalam mimpi engkau tak burujung. (MFR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *