Ummi, Imanku Dipatok Ular!

Bagi orang tua yang selama ini merasa sulit untuk mengajari anak-anaknya hapalan-hapalan surat pendek dan sebagainya itu, pasti merasa sangat terbantu. Dengan permainan Ular Tangga Anak Saleh ini si anak merasa bermain dan bukan sedang belajar, dan sang ibu juga senang, karena apa yang harapkan agar anak-anaknya bisa menghapal menjadi kenyataan.

—–Hajime Yudistira

Akhir-akhir ini ramai warganet membahas permainan ular tangga yang dimodifikasi menjadi Ular Tangga Anak Saleh sebagai metode untuk anak menghapal surat-surat pendek, doa-doa pendek dan hadis. Ada sebagian warganet yang mengatakan bahwa hal tersebut adalah hal yang baik dan kreatif, karena metode permainan ini membuat anak-anak senang bisa belajar sambil bermain. Akan tetapi, tidak sedikit pula warganet yang kontra dan mengatakan hal tersebut sangat tidak kreatif, karena bukan membuat metode baru, tapi meniru atau menjiplak permainan yang sudah ada.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan permainan ular tangga, karena permainan itu bersifat umum. Permainan ini menjadi masalah dan banyak dibahas karena oleh sebagian warganet dikatakan menjiplak. Permainan ini memang hasil modifikasi sebagai metode yang dipakai agar anak lebih mudah menghapal dalam konteks pengajaran dalam agama Islam. Menjadi masalah, karena yang menanggapi hal tersebut bukan dari kalangan muslim dengan mengatakan permainan itu menjiplak, meniru, plagiat atau apalah sebutannya. Inti masalah sebenarnya adalah pendapat tersebut ke-bablas-an, atau off side dalam istilah sepak bola.

Saya jadi berpikir, kalau dikatakan menjiplak, berarti tentu ada pemilik karyanya. Karena kalau tidak ada pemiliknya tentu tidak bisa dikatakan menjiplak. Lagipula sesuatu itu bisa dikatakan menjiplak kalau diakui sebagai karyanya. Ini kan hanya memodifikasi permainan menjadi metode pembelajaran yang membantu banyak pihak.

Baca juga:   Satu Musala, Dua Imam: Beda itu Indah

Saya jadi penasaran, permainan ular tangga yang waktu kecil juga sering saya mainkan ini sebenarnya siapa yang menciptakan? Saya berusaha mencari sumber-sumber informasi dan hasilnya saya tidak bisa menemukan sebuah nama sebagai orang yang menciptakan permainan ini. Hasil yang saya temukan hanya mengatakan bahwa permainan ular tangga ini sudah dimainkan di India sejak abad ke-2 SM (dilansir dari brilio.net).

Permainan ini dikenal dengan sebutan Mokshapat, Moksha Patamu, Vaikuntapaali, atau Paramapada Sopanam yang memiliki makna “mendalam”. Sebenarnya, permainan ini mengajarkan tentang karma dan pentingnya melakukan perbuatan baik di atas perbuatan jahat. Tangga mewakili kebaikan dalam ajaran Hindu, seperti kemurahan hati, iman dan kerendahan hati. Sedangkan ular mewakili sifat-sifat buruk manusia, seperti nafsu, amarah, dan perbuatan-perbuatan tidak baik lainnya.

Permainan ular tangga yang dulu ada di India berupa papan yang menyimpan simbol-simbol keTuhanan seperti dewa dan malaikat. Selain itu, juga muncul simbol tanaman, hewan dan juga manusia. Pesan dari permainan ini adalah untuk mencapai nirwana atau surga, perlu melakukan perbuatan baik setahap demi setahap. Selama melakukan perbuatan baik, maka akan bertemu dengan ular-ular yang menggambarkan godaan untuk berbuat tidak baik yang akan mengantarkan kepada tingkatan kehidupan yang lebih rendah, bahkan kematian. Setiap kotak dalam papan permainan tersebut yang mewakili kehidupan dapat hancur karena hal-hal kecil sekalipun.

Permainan dari India ini dibawa ke Inggris sekitar akhir abad ke-18 dan diubah sesuai nilai-nilai Victoria saat itu. Dari Inggrislah permainan ini menyebar ke seluruh dunia dengan segala modifikasi sesuai kebutuhan yang membuatnya. Demikian pula yang terjadi di Indonesia, permainan ini dibuat sesuai dengan apa yang diinginkan oleh yang memodifikasinya. Demikian kiranya sejarah singkat dari permainan ular tangga tersebut.

Baca juga:   Pahlawan Berhijab

Bagi orang tua yang selama ini merasa sulit untuk mengajari anak-anaknya hapalan-hapalan surat pendek dan sebagainya itu, pasti merasa sangat terbantu. Dengan permainan Ular Tangga Anak Saleh ini si anak merasa bermain dan bukan sedang belajar, dan sang ibu juga senang, karena apa yang harapkan agar anak-anaknya bisa menghapal menjadi kenyataan. Dalam Islam memang surat-surat pendek dan doa sehari-hari wajib dihapalkan untuk dipergunakan dalam salat dan beraktifitas sehari-hari.

Bagi si anak juga merupakan hal yang menyenangkan bisa menghapal sambil bermain. Saya pun berpendapat bahwa hal ini sangat baik, dalam arti ada sebuah metode untuk membantu anak dalam urusan menghapal ini. Apakah ini menjiplak? Saya tidak melihat ada yang salah dari hal ini. Memodifikasi sebuah permainan yang notabene juga tidak ada patennya untuk membuat hal baik dan berguna bagi orang lain. Kalau kita menjadi penjiplak karya orang lain yang memiliki paten, dan diakui sebagai karyanya, mungkin itu bisa dikatakan sebagai plagiator.

Bagaimana kalau saya membuat atau memodifikasi permainan, sebutlah misalnya permainan gasing –mainan terbuat dari kayu yang diberi pasak bagian bawahnya dan diputar dengan media tali—yang saya modifikasi dengan tujuan baik tertentu. Lalu hasil modifikasinya diikuti banyak orang karena dianggap berguna, apakah itu hal yang buruk atau saya dianggap penjiplak atau plagiat? Memangnya permainan gasing ada yang punya? Sudah tidak mungkin juga untuk melacaknya untuk mengetahui siapa penciptanya.

Lagi pula tidak ada relevansinya juga mengritik seperti itu, lihat sisi baiknya bahwa metode permainan Ular Tangga Anak Saleh yang “menjiplak” tersebut memberikan manfaat bagi banyak orang. Banyak orang tua terbantu, karena sekarang pelajaran menghapal bagi anaknya menjadi mudah dan menyenangkan.

Berpendapat itu boleh, tapi kalau dalam konteks keagamaan di ranah publik, berhati-hatilah dan jangan salah “masuk kamar” orang. Mari kita jaga keutuhan toleransi keberagamaan kita, salah satunya dengan apa yang disampaikan tadi, yaitu jangan ke-bablas-an dalam berpendapat yang bukan di ranahnya. Salam damai selalu…[MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *