Tradisi Tolak Bala Sebagai Olah Laku Spiritual

Ilham Akbar Habibie*

Peradaban manusia saat ini sepertinya tengah memasuki taraf penyelarasan dengan pelbagai realitas dalam kehidupan. Beragam penemuan mulai terlihat kontras baik dari sudut pandang akademik maupun kearifan lokal. Ragam kejadian muncul silih berganti dalam bentuk berbeda-beda, mewajibkan manusia mampu menangkap pelbagai perubahan sosial.

Sejak akhir tahun 2019, kita dikejutkan dengan kehadiran Covid-19. Informasi terkait virus ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. World Health Organization (WHO) mendeklarasikan darurat pandemik Covid-19 kerena persebaran koronavirus yang begitu cepat ke pelbagai negara disertai angka kematian yang mengerikan. Penularan virus ini melalui kontak langsung pada carrier (pembawa virus), baik yang diketahui positif maupun tanpa gejala.

Bagi teolog semacam al-Qusyairi, musibah atau seluruh kejadian merupakan perwujudan dari wahdaniyat fi al-af’al, artinya kehendak dari Yang Maha Kuasa. Bagi seorang fenomenolog Edmund Husserl, seluruh kejadian adalah realitas empirik yang menuntut seni pemahaman tertentu (a way of looking at things). Bagi Husserl, kejadian sehari-hari tidak melulu dilihat dari kacamata hukum alam maupun positivistik, tetapi juga dari macam gejolak batin dan kesadaran hidup. Edmund Husserl menolak asumsi pengalaman konkret manusia berikut praanggapan yang menyertainya. Baginya, segala sesuatu harus lepas dari seluruh preposisi budaya, sains, atau filsafat sebelum pengalaman itu bisa menjelaskan dirinya sendiri.

Masa pandemik Covid-19 masih berlangsung hingga kini. Di Indonesia sendiri sudah dilakukan beberapa aksi antisipatif, mulai dari jaga gara fisik dan sosial (sosial or physical distancing) hingga penggunaan amalan atau ritual tolak bala sebagaimana anjuran mereka yang dianggap punya ngelmu titen. Yang terakhir ini adalah reaksi karsa masyarakat yang biasa kita sebut tradisi lokal dalam menangkal pagebluk (wabah).

Baca juga:   Menyapa Arwah dengan Sandingan

Di Desa Selosari, Kecamatan Kandat Kabupaten Kediri Jawa Timur pada awal April 2020 sebagian warga mengamalkan tradisi lokal mereka seperti membuat jenang sengkolo dan memasak sayur podomoro. Masakan seperti ini hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu, sebab makanan lokal ini punya simbol tolak bala atau sangkala. Di Sleman Yogyakarta pada 19 Maret 2020, beberapa kepala adat yang tergabung dalam paguyuban Lembaga Olah Kajian Nusantara (Lokantara) dan beberapa seniman Jawa Tengah juga melakukan upacara dengan tujuan menolak bala atau kolo. Pemimpin adat memberi arahan kepada tujuh perwakilan dari lembaga tersebut untuk membacakan Kidung Mantra Warawedha, diawali dari Gapura Prambanan menuju Kali Opak.

Fenomena tradisi lokal yang dilakukan oleh sebagian masyarakat di Indonesia ini merupakan olahan pendekatan kultural spiritual. Mereka yakin bahwa kekuatan magis mantra maupun simbol-simbol bisa mengembalikan situasi pada keadaan yang selaras, normal, seperti sedia kala. Kepercayaan mereka begitu kuat terhadap Yang Sakral. Penggunaan simbol-simbol tersebut adalah cara mereka mengekspresikan pengharapan hilangnya sengkolo (bala).

Tolak bala dilakukan dengan beragam cara. Tujuan dari diselenggarakan tradisi tolak bala ini adalah agar daerah yang ditempati terbebas dari segala macam malapetaka. Ia juga bermakna permohonan kepada Yang Sakral untuk memberikan keselamatan jasmani, kekuatan batin, dan jiwa yang tenang. Tradisi lokal di Indonesia tentu berbeda dengan negara lain. Di Indonesia ritual upacara dan doa tolak bala kebanyakan dibarengi dengan sedekah bumi, baik itu berupa kembang setaman (bunga tujuh warna) dan sajen (sesaji). Keyakinan turun-temurun mereka mengatakan bahwa jika alam, bumi, maupun segala penduduknya yang tak kasat diberikan sedekah berupa kembang setaman maupun sajen, maka ketenangan dan keselarasan akan kembali menyelimuti alam seperti sedia kala.

Baca juga:   Megengan: Rajutan Tradisi, Agama, dan Kemanusiaan

Tradisi tolak bala ini tidak hanya ditujukan sebagai komunikasi dengan Yang Sakral melalui ritual dan mantra-mantra khusus. Dari sisi personal, tradisi ini juga sarana untuk menghadirkan ketenangan batin sekaligus perasaan optimis. Tradisi ini juga berperan membentuk imunitas seseorang dalam melawan penyakit. Bukankah Ibnu Sina pernah berkata dalam karyanya, ‘Isy Allahzah (Athlas lin Nashri wal Intaji wal I’lamiy), bahwa awal dari segala penyakit adalah kepanikan atau gejolak batin yang tidak menentu.

Tradisi tolak bala ini juga mengandung harapan dan dapat pembelajaran bagi masyarakat mengenai siji roso tumindak ing becik lan pasrah dumateng Sang Kelaku, artinya satu rasa, satu keinginan, kekompakan dalam melakukan hal baik berupa sedekah, doa dan sikap pasrah kepada Yang Kodrati atau Yang Maha Berkehendak. [MFR]

Ilham Akbar Habibie adalah mahasiswa SAA-2017. Tulisan ini bagian dari tugas matakuliah Agama dan Kearifan Lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *