Tetirah Hidup Orang Rimba

Apa makna kemerdekaan bagi suatu bangsa, atau suku bangsa? Pertanyaan klasik setiap kali bulan Agustus tiba, khusnya di tanggal 17. Pertanyaan ini terus mengusik akal sehat karena masih ada banyak sekali paradoks, justru ketika kita berada jauh dari hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan itu. Is Indonesia a nation in making?

—-Yuddhy Widdyantoro

Bagi Orang Rimba, yang hidup di tengah hutan raya, hari nasional kemerdekan itu hampir tidak ada artinya. Bahkan, mereka sepertinya tidak peduli. Bagi mereka, setiap hari adalah perjuangan untuk sekadar menyambung hidup di tengah kemajuan pembangunan. Tetirah hidup keaslian mereka dalam selubung modernitas.

Enam jam berkendara dan disambung dua jam berjalan kaki memasuki hutan belantara, waktu seperti balik ke zaman batu. Bertemu dengan Orang Rimba adalah perjumpaan yang menarik. Berkenalan dengan suku bangsa yang relatif “primitif” memperkaya hidupku. Aku mengenali wajah-ciri mereka, cara berpakaian mereka: bercawat, hanya seks organnya saja yang tertutup, bagaimana mereka mencari makan, berak; bagaimana mereka memperlakukan hutan sebagai rumah sekaligus ladang hidup mereka, mempelajari tabu-tabu mereka. Semua adalah pengetahuan yang tak mungkin didapat dari bangku sekolah. Sudah seharusnya kita menghormati mereka sebagai suatu entitas, atau malah berempati; anggaplah itu suatu teks yang dibarkan terbuka. “Anything goes,” seperti kata Fayerabend. Tidak seharusnya kalau kita memperdaya atau bahkan memanfaatkan mereka untuk kepentingan dan keuntungan sendiri.

Mengikuti mereka bekerja dan mencari manau (sejenis rotan). Kalau kita tahu betapa sulitnya untuk mendapatkannya, dan kemudian kita tahu perbedaan harga antara yang taoke beli dari Orang Rimba dengan harga jual kembali dari taoke ke industri yang lebih hilir, sungguh sangat memilukan hati. Betapa posisi tawar Orang Rimba sangat lemah, dengan margin keuntungan para taoke sangat besar. Para toke ini adalah pencari rente, raja-raja kecil yang juga feodal, pacet, lintah darat yang mengekploitasi Orang Rimba. Bedebah!.

Masalah disparitas terpampang sangat gamblang karena begitu nyata bedanya. Ada kekuatan dominan, dan ada sisi lain yang didominasi, yang menguasai versus yang dikuasai. Kupikir alinea pembuka Das Kapital-nya Karl Marx, bahwa sejarah peradaban manusia pada dasarnya adalah sejarah perjuangan kelas, ada benarnya. Dan memang, sejarah selalu dibuat oleh “orang yang menang”. Sejarah mencatat yang lemah akan selalu tergusur, seperti juga dalam teori evolusi yang klasik. Tapi masalah hidup bukan sekadar kalah-menang, tentunya jauh lebih kompleks. Seperti air mengalir, hidup bergulir ke depan, dan terus selalu maju ke depan. Gerak globalisasi tak mungkin dihambat, begitu juga laju pembangunan kaum pemodal, kapitalis. Ada atau tidak ada perlawanan dari proletar atau sosialis, mereka, para kapitalis itu tetap melenggang, karena memang begitu cara mereka bereksistensi. Tapi memang perlu diawasi! Ya, seperti dalam sepak bola, kalau kalah, jangan sampai kalah 4-0 lah, boleh kalah tapi cukup 1-2, artinya kita masih bisa memasukkan agenda.

Kalah dan berani mengaku kalah, mungkin secara psikologis lebih sehat dan realistis. Pada kasus-kasus seperti Orang Rimba, juga Baduy, atau Amish di Amerika, aku jadi berpikir, apa perlunya membangun benteng puritansi, pertahanan jiwa, kemudian mengharamkan bercampurnya suatu tradisi, atau peradaban, dengan unsur-unsur yang lain, apalagi dengan bumbu jargon, atau mitos-mitos keagungan masa lalu, model pidoto bapak-bapak pejabat itu, atau seperti Soekarno ketika meneriakkan Nasakom dulu, karena sekarang pasti akan kalah oleh teknologi dot.com. Walaupun juga harus diakui, mempertahankan tradisi, kesakralan, adalah usaha yang mulia, tapi aku lihat, gerakan mempertahankan purifikasi, seperti gerakan orang yang kalah dan gelisah. Tapi, siapa musuh mereka? Jelas, ada unsur luar, tapi ada pula problem internal mereka, anggota mereka sendiri (karena ada juga Orang Rimba yang di-Depsos-kan, disuruh pakai baju, dimukimkan dekat dusun, dan di-Islam-kan, mengikuti program pemerintah, dengan mereka yang memilih bertahan di dalam hutan. Sehingga tentunya ada ketegangan. Perlu juga ditanyakan, mengapa hidup mesti menyisihkan diri, menepi, menyingkir, sementara di luar orang merayakan kemajuan peradaban.

Baca juga:   Hitam Putih Manusia Super

Mengikuti workshop fotografi “Tetirah Orang Rimba” bersama Galeri Foto Jurnalistik Antara menurutku sangat menarik. Bagi aku pribadi yang suka traveling, perjalanan ini sendiri sangat menantang: hutan belantara yang sudah pasti masih rimbun dan hijau, vegetasi yang kaya, juga faunanya. Perjumpaan dengan Orang Rimba itu sendiri, suatu suku bangsa yang baru aku kenal, sungguh suatu yang akan memperkaya hidup. Akan sulit sekali kalau datang ke sini sendiri, selain tidak tahu medan, problem komunikasi, dan tentunya akan menjadi mahal.

Hasil foto kami akan dipamerkan dengan hak cipta oleh GFJA. Ini memang suatu diktum mereka. Tapi, di sinilah titik kritisku. Bersama aku, 14 orang lainnya adalah fotografer profesional. Umumnya mereka alumni workshop/kursus/sekolah fotografi yang diselenggarakan GFJA, bahkan World Press Photo. Sehari-hari mereka bergulat dengan foto, ada yang menjadi editor foto di majalah, bekerja untuk biro foto, atau menjadi fotografer wedding, dsb. Artinya, secara tekis mereka sangat menguasai, belum lagi kelengkapan kamera: minimal mereka membawa 1 analog, 1 digital, dengan lensa yang beragam dan bagiku menyeramkan. Alat-alat penyimpan datanya bikin aku terheran-heran akan kemajuan teknologi. Sementara aku sendiri, secara teknis, kacau, 0 besar, lupa semua yang aku pelajari; kameraku cuma 1, analog dengan lensa standar. Semangat keikutsertaanku semata karena aku suka jalan berpetualang, dan dengan thema “Tetirah Orang Rimba” ini, suatu perjalanan spiritual untuk memperkaya hidup. Aku tidak menggebu-gebu fotoku ikut dipamerkan, kalau dapat yang bagus hasilnya, ya, anggaplah itu bonus.

Dari lima belas peserta kami dibagi tiga group. Untung, groupku adalah orang2 yang baik dan menyenangkan, penuh canda. Elik dan Chitra (satu-satunya cewek, kebetulan kenal di kantin sastra, karena dia anak sastra Rusia UI) lebih mengenal komunitas GFJA, anggota group lain. Karena lebih profesional, mereka lebih individualis dan ambisius. Aku tidak bayangkan digabung dengan mereka, akan lebih minder. Fasilitator, teman-teman LSM Warsi, pendamping Orang Rimba: Bubung, Wening, dua-duanya antropolog, dan Ninuk adalah pekerja tangguh, yang sangat kooperatif dan banyak membantu kami.

Yang lucu, karena aku tidak dikenal mereka, mereka terus mengira-ngira siapa aku; jangan-jangan aku dikiranya fotografer profesional, walaupun berkali-kali aku yakinkan bahwa aku gak bisa moto. Mereka heran karena aku kenal baik dengan Oscar Motuloh yang nota bene mentor, atau bahkan “dewa” mereka. Sempat juga mereka mengira jangan-jangan aku mata-matanya Oscar untuk ngawasi kerja mereka.

Sekembali dari Jambi, aku berpikir keras bagaimana memberi bantuan untuk saudara-saudaraku, Orang Rimba itu. Aku akan sarankan pada teman-teman fotografer kemarin bahwa hasil dari pameran nanti alangkah baiknya diberikan pada Orang Rimba.

Baca juga:   Deradikalisasi Yoga [2]

Aku sudah ajak teman-teman di kelompokku, Umbo Karundeng, Chitra F, Elik Ragil, dan Robby Suharlim untuk menggelar pameran di Rumah Yoga. Kumaksudkan ini juga sebagai sarana untuk relief Orang Rimba. Pelan-pelan, niatku ini akan aku sampaikan kalau nanti ketemu, karena aku tidak tahu juga aspirasi teman-teman.

Ninuk, fasilitator pendidikan untuk Orang Rimba di LSM Warsi, kemarin sampai di Jakarta untuk mengikuti pertemuan nasional perempuan Indonesia. Kami, teman2 fotografer GFJA bertemu dengan Ninuk di Café Oh La La di Djakarta Theater. Senang juga betemu kembali dengan teman2 yang menyenangkan ini, kembali cerita-cerita lucu waktu di rimba. Aku teringat lagi pada anak-anak Rimba itu.

Aku Orang Rimba
Namaku Sokola
Jelas aksaranya
 
Di seluruh rimba raya
Kuguratkan namaku
Tidak ada alias lainnya
 
Nama itu mencengkeramku
menggantung di kudukku
Dialah nyala di dadaku
Denyut di nadiku
mengalir di darahku
Dan, nama itu memburu
cita anganku
Namaku Sokola
 
Walau gergaji itu mengikis rumahku
Menerbangkan burung-burungku
Walau Gergasi melumat ladangku
Walau asap pekat membekap mulutku
Dan, halamanku berganti rupa
Walau ke unggun dilempar aku
Dan mereka meludahi cita-citaku
Walau seribu walau
 
Aku Orang Rimba
Namaku Sokola
Jelas aksaranya!
 

Sokola adalah nama salah satu anak Orang Rimba. Gergasi adalah raksasa rakus seperti dalam novel Danarto, dan puisi ini diilhami puisi Palestina yang tiba-tiba saja aku teringat puisi jadul itu, mungkin karena nasib mereka sama.

Aku merasa seperti ikut mengeksploitasi Orang Rimba dengan memotoi aktivitas mereka sehari-hari. Aku banyak belajar dari mereka, terutama daya hidup Orang Rimba itu, jungle survival. Tapi mereka, Orang Rimba itu, juga terkena virus “Orang Kota”. Seperti dalam melukis cat air, sedikit saja warna lain menimpa warna sebelumnya, dengan segera melebur membuat realitas baru yang kita tidak tahu ke mana arah jadinya, blur bersama air terserap kertas lukis. Aku kok merasa terpanggil untuk membuat semacam proyek art for relief untuk Orang Rimba itu. Ya, semacam balas budil-ah setelah kita mengeksploitasinya.

Aku tidak tahu pikiran atau orientasi Orang Rimba setelah berinteraksi dengan “Orang Kota”, seperti dulu, belasan tahun yang lalu ketika pertama kali aku ke Baduy. Di dusun terakhir sebelum masuk ke perkampungan Baduy, setiap sore menjelang petang, Orang Baduy, khusunya anak-anak, dan orang mudanya turun gunung untuk menonton tivi, dengan wajah dogol, melongo. Mereka teracuni. Lucu juga, satu kaki mereka berpijak pada adat ketat, satu kaki lagi sudah melangkah (tapi belum) menjejak kemoderenan. Aku tidak tahu, apa yang mereka pikirkan menjelang tidur. Tapi yang jelas, aku sudah terkena virus, tapi virus dari teman-teman fotografer: virus digital kamera; semata-mata karena alasan praktis (dan canggih juga sih). Bayangkan, dengan enak mereka bisa moto malam hari tanpa flash, ketika anak-anak Rimba belajar dengan penerangan lilin. Momen yang indah sekali secara fotografis! Dengan digital kamera ISO bisa di-push sampai 1600 atau lebih lagi, sementara dengan kameraku, aku cuma memble saja, mentok ISO 400. Sialan! Virus itu sudah menjangkitiku, cukup sakit, karena aku tidak tahu kapan itu bisa terbeli. [MFR]

One thought on “Tetirah Hidup Orang Rimba”

  1. Pengalaman yg tidak dimiliki oleh sembarang orang, perlu kerendahan hati, respek terhadap hadirnya adat yang unik, kekuatan fisik yg memadai utk melakukan perjalanan yang jauh sehingga perlu jiwa petualang juga …., mas Yudhi mempunyai analisa yang tajam, tidak cuma dari lubuk hatiny tetapi juga dari pengetahuan kognitif yang luas …

Leave a Reply to Woro Aryati Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *