Teodise dan Benang Tipis Antara Baik dan Buruk

Adham H. Amrulloh*

Sumber Gambar: http://kapanpunbisa-news.blogspot.com

“… Aku selalu bahagia saat hujan turun, karena aku dapat mengenangmu, untuku sendiri”– Utopia – Hujan

Lirik ini beberapa hari bergentayangan dipikiran penulis, hingga sebuah kejadian ban meletus di Ponorogo, Sabtu lalu ketika hendak membagikan takjil di Kota Ponorogo. Kebetulan penulis dan teman-teman dari Pelajar Islam Indonesia sedang mengendarai mobil kala itu. Dari peristiwa ini, penulis belajar bahwa bahagia dan sengsara tidak lahir dari sebuah nilai formal semata, tapi juga dari kondisi sekitar kita, termasuk mulut yang terus berbisik.

Dalam kehidupan tidak ada nilai absolut atas baik-buruk dari suatu hal, bahkan bila itu ampas (sampah) sekalipun. Saat ini, kita berada dalam satu momen yang sangat spesial di mana keburukan (Koronavirus) dan kebaikan (bulan suci Ramadan) seolah-seolah sedang berebut panggung dunia. Hati, pikiran, kekuatan fisik diuji dengan porsi yang berbeda bagi tiap insan, baik Muslim maupun non-Muslim.

Inilah masa ketika semua orang mencoba all-out berbagi satu sama lain dalam ragam bentuk dan usaha. Sangat indah jika kita pikir bersama, namun sayang tidak semua orang mau melakukan itu. Setiap orang punya mimpi indah dan buruk sendiri-sendiri, sesuai dengan kenyataan yang sering digeluti sehari-hari. Baik atau buruk perbuatan seseorang bergantung pada paradigma berfikir yang dipakainya. Akal manusia bekerja berdasar apa yang dia rasa, dia pikir, dan dia nalar. Cara berpikir seseorang tidak akan terbatas pada satu model saja. Sebaliknya, ia bisa sangat beragam dan punya banyak pisau bedah untuk menyelesaikan sebuah persoalan.

Dalam teori stimulus-organisme-respons, komunikasi atau informasi yang diterima seseorang secara tidak sadar akan direspons dalam bentuk aksi oleh orang tersebut berdasar informasi yang telah diterima. Jika informasi tersebut memperlihatkan sebuah keburukan akan sesuatu hal, maka yang timbul adalah persepsi buruk akan sesuatu tersebut. Kesempurnaan sesuatu bisa dipersepsi terbalik atau bahkan negatif oleh si penerima informasi, sekalipun itu bertolak-belakang dengan kata hatinya.

Pepatah pernah mengatakan, “siapa yang menguasai informasi, dia yang menguasai dunia”. Penulis rasa ini bukan hanya soal apa isi informasi dan siapa yang menyampaikan informasi tersebut, tetapi juga kenapa dan apa tujuan dari disampaikan informasi tersebut. Seseorang bisa menganggap suatu kejadian sebagai hal yang dinanti dan dibutuhkan, atau bisa sebaliknya. Itu tergantung bagaimana pikiran kita merespons informasi. Contoh kasusnya adalah seorang yang beragama akan menganggap sebuah keburukan adalah cara Tuhan untuk menjauhkan kita dari keburukan yang lebih besar karena adanya informasi dari kitab. Berbeda dengan seorang yang tidak beragama, dia tidak akan menyikapi itu dengan pertanyaan kenapa tidak aku atau kenapa tidak dia.

Dalam berbagai kesempatan, agama memberi gambaran bahwa Tuhan selalu menciptakan semua hal dalam berpasangan, sebagai pelengkap atau penyeimbang satu sama lain. Yang demikian bisa ditelusuri dalam sejumlah teks dalam Kitab Suci, semisal  QS. Yasin: 35, Kitab Kejadian, atau Dhammapada, Thanha Vagga Syair ke-19, dan banyak lagi. Sejatinya, setiap agama selalu berpandanggan bahwa baik dan buruk adalah bagian dari perjalanan kehidupan, dan manusia bertugas untuk menciptakan keseimbangan. Ajaran serupa dijumpai dalam banyak tradisi lokal. Penulis teringat Bapak Dosen Qomarul Huda di IAIN Kediri, yang dalam satu kesempatan pernah mengatakan bahwa dalam filsafat Jawa dikenal istilah urep iku kudu seimbang sak sembarange (hidup itu harus seimbang semuanya). Konsep ini tidak hanya berlaku pada satu aspek saja, namun segala aspek kehidupan. Kehidupan tak bisa lepas dari baik dan buruk karena keduanya adalah penyeimbang kehidupan.

Dalam konsep ajaran Tao, juga ada ungkapan “isi adalah kosong, kosong adalah isi,” artinya nilai dari sesuatu berdasar sudut pandang apa yang kita pakai. Ajaran ini terkenal dengan symbol “Yin” dan “Yang”. Yin berarti lembut atau kebaikan, namun tidak sepenuhnya baik; dan Yang berarti kasar atau keburukan yang di dalamnya juga tidak sepenuhnya jahat. Yin dan Yang disimbolisasikan dengan lingkaran sempurna yang dibelah oleh lekukan ditengahnya, terbagi menjadi dua warna inti, hitam dan putih dengan titik putih dibagian hitam dan begitu juga di bagian putih ada titik hitam. Dalam beberapa logo, lingkaran Yin dan Yang sering pula digambarkan di tengah loan ta (segi delapan cina) yang menggambarkan delapan eleman yang ditengahnya perlu ada keseimbangan.

Dogma agama selalu mengajarkan bahwa dua sisi baik dan buruk pada diri sesuatu itu bersifat relatif. Pertentangan antara baik dan buruk, kebenaran dan kejahatan dalam doktrin agama kerap disebut dengan problem teodise (problem of theodecy). Keberadaan Tuhan disoal karena hadirnya realitas yang dianggap bertolak-belakang dengan atribut yang disematkan kepada-Nya. Jika Tuhan Maha Adil, mengapa penderitaan terjadi pada mereka yang tidak berdosa; jika Tuhan Maha Belas Kasih, mengapa Dia membiarkan terjadi kemalangan di muka bumi. Itulah beberapa pertanyaan yang menyeruak seputar problem ini. Bagi kelompok ateis, kontradiksi ini dianggap bukti bagi bualan mengenai eksistensi Tuhan. Tapi bagi kaum beriman, ia bukti kukuh bagi kemahakuasaan Tuhan. Sebagaimana kata Sayid Hosein Nasr, Tuhan menciptakan baik dan buruk, siang dan malam, pria dan wanita agar keduanya bisa saling melengkapi satu sama lain.

Akhirnya, manusia-lah yang selalu memberi label absolut pada baik dan buruk. Seperti lagu yang penulis kutip di awal, manusia akan mengalami suatu kondisi bahagia dan merasa bahwa dunia hanya miliknya. Padahal, sebuah kejadian juga akan meninggalkan hal lain juga: sedih, sakit, terluka dan lain sebagainya yang tidak selalu manis dan indah. Semua kembali pada masing masing individu lebih suka menerima dan menikmati kebaikan atau keburukan.  Barangkali, di sini pentingnya sikap tengah-tengah, seimbang, dan tidak berlebihan dalam segala hal. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan, bencilah orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai.” (HR. Muslim)

Adham H. Amrulloh adalah mahasiswa SAA-2017 dan pengurus Dema SAA 2019-2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *