Techno-Religion: Menggapai Ilahi Dengan Teknologi

Photo Source: https://www.learnreligions.com/technology-as-religion-4038599

Dalam sebuah acara bertajuk “Techno-Religions and Silicon Prophets” di Google Talks, Yuval Harari dengan berapi-rapi menjelaskan pola keberagaman masyarakat modern yang disebutnya telah mengalami banyak sekali perubahan, salah satu sebabnya adalah ketergantungan masyarakat modern, tak terkecuali yang religius, terhadap teknologi.

Ketergantungan ini bahkan telah menyebabkan banyak retakan pada pondasi keagamaan. Retakan yang pertama adalah fakta bahwa ‘kiblat’ untuk agama-agama besar telah bergeser. Tak lagi di Mekah, Israel atau wilayah-wilayah religius dan suci lainnya; kiblat untuk agama modern saat ini adalah Silicon Valley.

Barangkali, Silicon Valley dianggap lebih relevan untuk menjadi tumpuan pola keberagamaan masyarakat modern yang tak sabaran, tak sabar untuk menikmati surga, nanti setelah mati. Tak sabar untuk mereguk susu langsung dari sungai-sungai yang berserakan di surga sana, entah di mana. Ketaksabaran ini membikin banyak masyarakat modern mengusahakan berbagai cara untuk mencecap nikmat surga secara lebih cepat, termasuk dengan memindahkan image sang ilahi ke gulungan-gulungan kabel teknologi.

Harari tak sedang bilang bahwa agama yang lawas telah tewas, tidak. Yang ia tekankan adalah pergeseran pola keberagaman masyarakat yang telah berubah, khususnya dalam mengartikan agama, komplit dengan segala nilai-nilai sakralnya. Bagi sebagian masyarakat modern, tumpukan ajaran agama dianggap tak lagi relevan; ia hanya berisi panduan untuk menuju Tuhan, bukan tips and tricks menyelesaikan semua permasalahan di kehidupan yang sekarang; yang meskipun sementara, namun tetap saja menyiksa jika tak bisa menyelesaikan semua persoalannya.

Apalagi, manusia modern tak bisa dibujuk dengan janji-janji surga atau kebahagiaan tanpa akhir di kehidupan yang abadi nanti, sebab pilihannya adalah: jika bisa bahagia di dunia dan akhirat sana, untuk apa menanggung derita sebelum masuk surga?Karenanya, bahagia di dunia juga perlu menjadi prioritas yang tak boleh ditinggalkan, tak bisa digadai dengan kesalehan. Masyarakat modern yang masih menautkan diri pada agama, di mana pun berada, disatukan oleh keinginan yang sama; tetap relijius namun dengan banyak fulus.

Jalan di Tempat

Barangkali, para pendiri agama tak pernah membayangkan bahwa masyarakat bergerak begitu cepat; melakukan berbagai eksperimen dan berakhir dengan banyak penemuan penting. Seringkali, penemuan-penemuan ini berhasil mewujudkan gambaran surga sebagaimana kerap diobral para pemuka agama. Kata mereka, di surga nanti semua makanan sudah disediakan; apa yang dibutuhkan dapat segera didapat dengan satu-dua sentuhan. Dengan teknologi, manusia modern tak perlu menunggu surga untuk dapat merasakan fasilitas –yang dulunya—mewah ini. Tinggal klik Go-food atau Grab-food misalnya, makanan yang diinginkan akan segera datang. Tak perlu repot memasak, tak perlu pula antre lama di kedai makanannya; cukup tunggu saja di rumah, boleh sambil rebahan, seseorang akan segera datang mengantarkan makanan yang dipesan.

Hal lain yang membuat manusia tetap menautkan diri pada agama adalah keyakinan bahwa Tuhan lebih mengetahui apa yang baik bagi kita, sebab kita semua adalah ciptaan-Nya. Masalahnya, kebanyakan dari kita tak siap dengan kenyataan bahwa teknologi juga bisa melakukan peran itu; mengetahui diri kita lebih baik daripada diri kita sendiri. Sebabnya, perangkat-perangkat teknologi melihat tubuh kita bukan sebagai kesatuan antara jiwa dan raga dengan dimensi ilahiahnya, melainkan sebagai kumpulan algoritma biometrik.

Algoritma ini dapat dibaca, ditelusuri, dan dipahami. Sehingga teknologi, khususnya dalam bidang medis dan kesehatan, mampu memberikan pilihan solusi untuk berbagai potensi persoalan yang mungkin dihadapi oleh tubuh kita. Semisal, seseorang dapat melakukan langkah pencegahan berdasarkan hasil test medis yang menunjukkan bahwa ia berpotensi besar terkena serangan jantung dalam lima hingga tujuh tahun mendatang.

Hal ini menunjukkan bahwa ternyata bukan Tuhan saja yang bisa mengetahui diri kita secara lebih baik, teknologi juga bisa melakukan hal serupa, tentu dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Fakta ini tidak lantas berarti agama telah bisa dikalahkan oleh teknologi, deretan kenyataan ini hanya dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa di saat teknologi terus mengalami kemajuan dengan berbagai penemuan kelas kakap, agama masih saja jalan di tempat. Tak ada penemuan penting yang dihasilkan agama, masih saja berkutat soal surga dan neraka.

Kolaborasi

Namun agama bukan saja soal ajaran-ajaran Ilahi yang disekap dalam lembaran-lembaran kitab suci, tetapi juga perilaku umatnya yang mendaratkan ajaran-ajaran Ilahi ke bumi. Tentang ini, penjelasan Xuecheng penting untuk dihadirkan. Mantan presiden Buddhist Association of China itu menyebut agama memang barang kuno, namun orang-orangnya (umat beragama) adalah makhluk modern.

Karenanya, umat beragama sebaiknya mengakrabkan diri dengan teknologi, sebab dengan kemajuan teknologi, umat beragama justru makin mudah menggapai sang Ilahi. Dengan ditemukannya pesawat terbang, misalnya, orang dapat menempuh perjalanan jauh untuk berhaji dengan mudah dan menyenangkan. Tak perlu lagi menghabiskan waktu hingga berbulan-bulanmenyusuri daratan dan lautan untuk sampai ke tanah yang dimulaikan Tuhan.

Ini berarti, agama dan teknologi tak sepatutnya diletakkan di sudut-sudut yang berlawanan. Keduanya memang tak sama, namun bukan berarti tak mungkin untuk dikolaborasikan untuk kebaikan bersama.Jangan lupa, kemajuan teknologi tak hanya menghasilkan mesin-mesin canggih, tetapi juga berbagai aturan dan kesepakatan baru yang bermanfaat untuk hajat orang banyak. Itu sebabnya, menolak berkolaborasi dengan kemajuan jaman; dan malah asyik membenamkan diri pada ilusi jaman keemasan, justru membuat agama tampak tak relevan.

Semisal, jika perjalan suci dapat dilakukan dengan menggunakan kendaraan atau moda transportasi modern lainnya, kenapa masih lebih memilih menunggang kuda atau unta? Jika semua pendapat dan kepentingan orang banyak dapat diwadahi dalam sistem demokrasi, kenapa harus susah payah membangkitkan khilafah?

Agama dan teknologi sejatinya memiliki tujuan yang sama, yakni memudahkan hidup manusia. Karenanya, santai saja;tak perlu anti. Teknologi memudahkan kita menggapai ilahi. [MFR]