Cerita Tiga Kota: Kerikil Bom dalam Sepatu Laos (2)

Apabila diingat banyaknya ranjau darat yang dipasang selama perang dan mengandung ancaman kematian yang sama dengan bom yang dijatuhkan dari udara, hidup seharian orang Laos seperti selalu mengenakan sepatu yang ada kerikilnya, tapi kerikilnya adalah bom yang siap meledak setiap saat.

—- Yudhi Widdyantoro

Phonsavan

Delapan jam naik bis, kami sampai di Phonsavan. Kota ini berada di ketinggian 1300 m di atas permukaan laut; cukup dingin, terutama pada malam hari. Alamnya berbukit dan masih hijau oleh pepohonan. Dari bukit-bukit kapur sekitar kota banyak terdapat gua. Mungkin ini tempat ideal untuk sembunyi dalam perang gerilya, pikir saya. Dalam catatan perang Indochina yang berakhir 1975, daerah Phonsavan, khususnya sekitar Plain of Jars adalah basis perjuangan Pathet Lao. Daerah ini pula yang menjadi sasaran utama serangan bom armada Amerika yang dibantu tentara rahasia suku Hmong dengan pusat kendalinya di dekat Vang Vieng, 300 km barat daya Phonsavan.

Pada sore hari, saya mengunjungi kantor MAG (Mines Advisory Group), sebuah LSM internasional dengan kantor pusatnya di Manchester, Inggris, yang peduli pada upaya pencegahan korban ranjau bom dari adanya peperangan. Pada dinding kantor, terpasang poster besar peta persebaran bom. Dari data yang dimiliki MAG, ribuan metrik ton bom dari pihak-pihak yang berperang telah dijatuhkan, tapi hampir separuhnya tidak meledak seketika, namun tetap potensial meledak setiap saat, atau disebut UXO, unexploded ordnance. Di depan kantor, terparkir jeep Land Cruiser sebagai kendaraan operasional yang mengangkut para penjinak bom. Supir mobil itu seorang perempuan yang rajin memberi senyum pada banyak orang. Pakaian dinas lapangan pahlawan kemanusiaan ini berwarna abu-abu, ditambah topi ala Indiana Jones. Tidak terlihat oleh saya vihara di sini. Perang telah meluluh lantakkan kota, termsuk vihara yang tidak ada sangkut-pautnya dengan perang.

Dari guesthouse tempat saya menginap, mereka menawarkan bergabung dengan beberapa turis lain mengunjungi Plain of Jars, situs-situs batu megalitikum berbentuk kendi yang banyak terdapat di Phonsavan ini. Ada tiga lokasi persebaran kendi-kendi dari batu besar ini terkonsentrasi. Setiap menuju lokasi, dari jalan beraspal perhentian mobil kami harus berjalan di jalan setapak sebesar satu setengah meter yang di kiri-kanannya bertanda pal merah-putih bertuliskan MAG, sebagai indikasi bahwa di antara batas warna putih tanah itu telah dibersihkan dari bom sampai ke bawah permukaan tanah, sementara warna merah menandakan bahwa pembersihan ranjau hanya sebatas permukaan tanah, di sebelah luar batas merah, tidak ada yang menjamin kelangsungan hidup orang-orang yang melewatinya, tidak juga MAG. 

Dari satu lokasi ke lokasi yang lain, jaraknya cukup jauh. Dalam perjalanan itu, tampak dari kejauhan, laskar MAG, para penjinak bom sedang bekerja dalam panas terik, langkah demi langkah mendeteksi metal yang dapat membuat orang terpental, mati oleh ledakan karena tidak sengaja menginjaknya. Apabila diingat banyaknya ranjau darat yang dipasang selama perang dan mengandung ancaman kematian yang sama dengan bom yang dijatuhkan dari udara, hidup seharian orang Laos seperti selalu mengenakan sepatu yang ada kerikilnya, tapi kerikilnya adalah bom yang siap meledak setiap saat. Sungguh tidak nyaman. Betapa rentan bahaya hidup semua orang Loas, lebih khusus para penjinak bom ini.   

Jam tiga sore, saya sewa kendaraan ke desa Thajuk, lebih 60 km di luar kota. Di desa ini, penduduknya banyak menggunakan sisa-sisa bom untuk kelengkapan rumah: cangkang bom setinggi 2,5 m untuk pagar rumah, ada yang memakai untuk cagak kandang burung, penyangga meja dalam rumah, atau untuk pot tanaman, granat yang dimainkan anak-anak, tentunya tidak akan meledak. Desa ini nampak miskin, tidak ada rumah dari beton, namun penduduknya seperti selalu ceria. Di balik keceriaan itu, Thajuk seperti membari peringatan pada semua, batapa mengerikannya perang itu.

Vang Vieng

Destinasi saya berikutnya adalah Vang Vieng yang menurut cerita Christopher Robbins dalam bukunya The Ravens: Pilots of the Secret War of Laos bahwa CIA, agen rahasia Amerika membangun kota rahasia Long Cheng di pinggiran kota ini. Bersama dengan gerilyawan suku Hmong, Amerika mengendalikan perang melawan bangsa Laos dan Vietnam dari Long Cheng ini. Tanpa banyak diketahui sejarawan dunia, ternyata pada 1969 lapangan terbang di Long Cheng ini adalah yang tersibuk di seluruh jagat oleh lalu lintas terbang dan mendarat bagi kapal perang Amerika yang mereka gunakan untuk membombardir seluruh negeri Loas, atau seluruh negeri Indochina dengan alasan untuk menghentikan “bahaya” efek domino komunisme.

Dengan bis malam VIP saya menuju Vang Vieng yang akan memakan waktu tujuh jam. Pukul 19 lebih sedikit bis jurusan Vientiane via Vang Vieng ini mulai berjalan setelah penuh terisi, bahkan gang di dalam bis penuh oleh barang bawaan penumpang dan kursi tambahan dari plastik. Selang setengah jam, penumpang di depan saya mabuk darat, muntah-muntah dengan sangat ekspresif tanpa sungkan. Tidak tersedia plastik untuk menampung membuat lantai bis tergenang oleh “bubur encer” dari isi perut orang itu. Bau anyir menjadi aroma pengiring sepanjang perjalanan malam itu. Dalam hati saya tersenyum, saya pikir, pemilik bis itu mempunyai sense of humor yang baik, tanda VIP besar pada bis itu mungkin kependekan dari “Very Improper, Please”.  

Waktu berhenti untuk istirahat dan makan, dua awak bis bercakap-cakap pada penumpang mabuk, ada yang membersihkan lantai. Salah satu kernet membawa senjata laras panjang AK-47. Semua rute menuju atau dari Phonsavan adalah rawan perampokan, karenanya perlu menyertakan pemuda bersenjata. Ternyata istirahat tidak menghentikan mabuk orang itu, sehingga ketika harus turun di Vang Vieng saya harus berjalan sambil melompat menghindari muntahan.

Jam menunjukkan pukul 02.20 dini hari; gelap dan sepi. Hanya ada dua bangunan rumah yang diapit sawah. Ternyata itu bukan terminal bis. Saya tidur di emperan rumah itu. Setelah terlihat cahaya saya mulai berjalan menuju pasar untuk mencari toilet dan sekadar cuci muka dan gosok gigi. Dari pasar terlihat rangkaian bukit kapur yang hijau tertutup oleh pepohonan dengan puncak-puncaknya menyembul diantara kabut pagi, seperti lukisan China klasik.  Sempat juga sarapan buah, kueh dan minum kopi sebelum naik tuk-tuk ke penginapan, Jardin de Organic, vila-vila kecil di tepi sungai Nam Song.

Saya sewa sepeda untuk keliling kota, ke vihara-vihara dan pasar. Menyusuri satu sisi kota yang dipenuhi café dan bar bernama Inggris atau Perancis. Daftar menu pada papan menuju pintu masuk bertuliskan beragam bahasa, bahkan juga Hebrew. Memang banyak terlihat pemuda bertopi rabbi, yang hanya dipakai pemuda berdarah Yahudi. Banyak turis muda mancanegara bercengkerama di restoran dan café. Wajah mereka kusut seperti baru bangun tidur. Mungkin berpesta sampai dini hari, pikir saya. Banyak juga gerai yang menawarkan paket kegiatan luar ruang yang menantang adrenalin, seperti panjat tebing, rafting, tubing, menyusuri gua, dan kayaking sampai Vientiane. Mungkin ini sebabnya Vang Vieng menjadi sangat terkenal bagi turis muda usia. Dan dengan panorama yang cantik, tidak salah rupanya, tentara Amerika yang terjun di medan perang Indochina memilih Vang Vieng menjadi basisnya. 

Setelah makan siang, masih dengan sepeda, saya menyebrang sungai munuju bukit-bukit kapur yang mengesankan saya di pagi buta itu. Hampir di semua bukit, ada gua yang dijaga pemuda lokal yang menawarkan jasa memandu, dan sewa lampu senter. Di satu desa yang hidup berdampingan komunitas Loas dan Hmong, saya diajak makan bersama di halaman rumah satu keluarga. Menunya, ketan dengan sayur dan ikan sungai goreng kecil-kecil. Kemudian bergabung keluarga dari rumah lain. Kami duduk lesehan. Nikmat walau dengan menu sederhana.  Karena cukup lelah bersepeda, malam itu saya tidur lebih cepat, mengurungkan niat melihat kehidupan malam, berpesta-ria bersama turis muda.

Hari ke-2 di Vang Vieng saya lalui dengan hanya santai, membaca di beranda vila, atau taman tepi sungai melihat anak-anak bermain-main dengan air, mencari ikan. Sore hari melihat lomba perahu naga. Saya istirahat mengumpulkan tenaga untuk naik kayak menuju Vientiane keesokan harinya untuk kemudian pulang ke Jakarta.      

Dalam truk tertutup yang menjemput saya untuk memulai perjalanan menyusuri sungai dengan perahu dari fibreglass tanpa mesin, bermuatan dua orang itu, telah ada 10 orang, laki-laki dan perempuan berwajah Kaukasia. Perlu waktu dua jam untuk sampai ke tempat pemberangkatan. Pemandu yang mengaku bernama Johny, orang Laos asli cukup komunikatif dengan bahasa Inggris yang baik. Demikan juga ketika dia memberi arahan untuk keselamatan dalam ber-kayak-ria.

Arus sungainya tidak terlalu keras. Mungkin arung jeram sungai Citarik lebih menantang. Hanya beberapa kali kami bertemu pusaran air dan gelombang yang bergolak dalam perjalanan yang menempuh lima jam, tapi toh ada juga peserta yang terbalik beberapa kali. Dalam jam ke-4 ber-kayak, kami istirahat makan siang. Di sini kami berkesempatan naik bukit batu setinggi 10 meter untuk melompat ke sungai dan berenang dengan puas. Ini adalah perhentian terbaik untuk istirahat, karena hampir semua tour operator mengistirahatkan rombongannya di sini. Tempat ini menjadi sangat ramai. Penuh orang dari bermacam bangsa. Satu jam lagi kami akan sampai di Vientiane dan arus sungai, kata Johny, akan sangat tenang. Seiring arus sungai yang pelan, dalam hati saya bernyanyi lagu “Imagine” yang kerap dinyanyikan almarhum John Lennon dengan suara syahdu:  

Imagine there no countries

It isn’t hard to do

Nothing to kill or die for

No religion too

Imagine all the people living in peace

Imagine no posessions

I wonder if you can

No need for greed and hunger

A brotherhood of man

Imagine all the people sharing all the world

You may say

I am a dreamer, but I’m not the only one

I hope someday you’ll join us

And the world will be as one.

[Selesai]

“Burning”: Cerita Cinta Murakami di Sinema Korea

Jangan dikira sinema Korea hanya sinetron seri melodrama. Minimal dalam empat tahun terakhir, selalu ada film Korea memperebutkan Palm d’Or, penghargaan tertinggi di Festival Film Cannes. Puncaknya, film “Parasite” karya Bong Joon-ho menjadi film terbaik festival film bergengsi ini (Kompas, 28 Mei 2019). Tahun sebelumnya, sutradara Korea lainnya Lee Chang-dong, lewat film “Burning” mendapat penghargaan FIPRESCI sebagai kritik film terbaik, bahkan terbaik sepanjang sejarah Festival Film Cannes, selain masuk nominasi film berbahasa asing terbaik di Academy Award. Film yang dibahas kali ini adalah film “Burning”.

Setelah Jepang, perfilman Korea telah sangat maju dan cepat berkembang. Seperti juga di bidang ekonomi. Perlahan tapi pasti, Korea telah menjadi macan Asia di kancah dunia. Namun, setiap kemajuan ekonomi tanpa disertai usaha pemerataan dan keadilan akan menciptakan gap dan berpotensi merenggangkan kohesi masyarakat serta perasaan alienasi manusia-manusia yang berdiam di dalamnya.

Film “Burning” adalah upaya sutradara Chang-dong  mengeksplorasi cerita pendek sastrawan Jepang nominee Nobel, Haruki Murakami, “Barn Burning” ke dalam film layar lebar. Sebuah cerita tentang individu-individu, hubungan antarmanusia, persahabatan, cinta, dan hubungan keluarga dalam bingkai dekonstruksi sosial dari fenomena ekonomi Japan.Inc yang mengeksplorasi sistem ekonomi dengan kebebasan penuh kepada setiap orang untuk berproduksi dan mendapatkan keuntungan.

Korea adalah Jepang saat ini di bidang ekonomi pembangunan. Jika tahun 70-an mobil merek Toyota, Honda merajai jalan-jalan di seluruh dunia, khususnya di negara-negara dunia ketiga, sekarang ini produk asal Korea, antara lain handphone Samsung telah akrab di genggaman tangan orang seluruh dunia. Selain karena kedekatan budaya Korea dan Jepang, sepertinya tidak ada kesulitan bagi sutradara memindahkan setting cerita Jepang Murakami ke dalam suasana masyarakat Korea.

Tokoh utama dalam film ini adalah Jong-su, pemuda baru selesai kuliah. Dia mewakili pekerja serabutan yang mengalami keresahan seperti dalam suara menyayat Iwan Fals dalam lagu  “Sarjana Muda”. Dia bertemu dengan gadis Hae-mi, pekerja rendahan, teman sekampung di Paju, sebuah desa di perbatasan dengan Korea Utara.

Dalam fotografi, dikenal rumus jitu mengambil obyek foto, yaitu 1/3 emas, di mana obyek ditempatkan pada 1/3 frame. Film ini dibuka dengan gambar 3/4 layar diblok warna kuning. Sepertiganya warna remang, cenderung gelap dan (hanya) jari-jari dengan sebatang rokok yang mengepulkan asap. Sebuah pembukaan yang menjanjikan, seolah mengingatkan penonton akan kandungan misteri di cerita selanjutnya sampai selesai.

Itulah tangan tokoh protagonis, Jong-su yang sesaat kemudian muncul dengan wajah utuh, mematikan rokok, mengangkat kardus. Kamera kemudian mengikuti terus dari belakang dia mengantar ke tujuan. Pengambilan gambar dari belakang seolah pesan dari sutradara pada semua penonton akan kandungan misteri film ini dan perlu diikuti, dicermati. Kamera berganti kepada dua gadis berpakaian minim menari-nari di depan took, mengajak orang lewat untuk membeli. Salah satu dari dua gadis itu adalah Hae-mi. Suatu teknik pengenalan tokoh-tokoh karakter di film yang dilalui dengan smooth dan manis.

Jong-su tidak mengenali Hae-mi yang telah melakukan operasi plastik. Korea memang terkenal sebagai negeri yang bisa mengubah wajah dan penampilan fisik seseorang. Operasi plastik menjadi begitu banyak dan lumrah, mudah dijumpai di banyak orang, di banyak tempat, seperti nantinya kita akan melihat banyaknya greenhouse yang terbuat dari plastik di sekitar rumah Jong-su di kampung Paju.

Hae-mi meminta tolong kepada Jong-su untuk merawat kucing peliharaan di apartemennya, sementara dia akan traveling ke Kenya. Di unit apartemen yang sempit, Hae-mi membangkitkan ingatan Jong-su akan perkawanan mereka waktu kecil, antara lain dengan mengatakan bahwa Jong-su pernah bilang bahwa dirinya buruk rupa (ugly), dan pernah menolong dia ketika terperosok ke sumur. Sepertinya Hae-mi ingin membuat ada rasa bersalah Jong-su dengan dengan maksud tersembunyi ingin “menguasai” Jong-su. Sampailah kemudian mereka bermain seks—yang sepertinya pengalaman pertama bagi Jong-su. Dialog dan scene ini penting untuk memahami hubungan antarindividu yang timpang dan makna exploitation de l’homme par l’homme, ekploitasi manusia atas manusia dalam kapitalisme seperti dalam banyak karya Murakami.

Pulang dari traveling, Hae-mi datang bersama Ben, sesama orang Korea yang bertemu saat ada kerusuhan di Kenya. Cerita bergulir semakin intens dengan kehadiran Ben, lelaki tampan, kaya raya dan mapan, tapi misterius. Drama dibangun di antara mereka bertiga.

Dalam banyak karya Murakami, tokoh-tokohnya dibangun dengan obsesi untuk mengeksplorasi dan memahami inti dari identitas manusia. Tokoh yang dihadirkan sepertinya kerap melalui sebuah perjalanan ke tanah kematian, dunia mimpi, ke dunia metafisika yang digunakan untuk menelusuri lebih jauh ingatan akan sesuatu yang pernah dimiliki.  Karena itu, sutradara sangat cekatan menghadirkan benda-benda atau peristiwa dan tempat ke dalam scene yang semuanya memiliki makna dan terkait satu sama lainnya dengan keseluruhan cerita, dan kemudian mencoba masuk ke dalam pikiran dan kemauan Murakami yang terefleksi dalam layar, seperti jam tangan pink pemberian Jong-su kepada Hae-mi; mobil sport Porsche milik Ben yang kontras dengan mobil butut Jong-su sebagai simbol pertentangan kelas, sumur, kucing yang bernama “Boil”, propaganda politik Korea Utara yang terdengar di kampung Paju dan lebih terasa sebagai teror, koleksi pisau ayah Jong-su, greenhouse, jari-jari tangan membentuk burung terbang, semua memiliki makna semiotik dan saling-terkait.

Pengalaman pertama bercinta sepertinya sangat berkesan bagi Jong-su. Rasa itu menimbulkan cemburu Jong-su pada Ben yang dengan kepemilikan mobil mewah dan ketampanan “telah merebut” hati Hae-mi. Ben bagi Jong-su, bukan hanya penuh misteri: hidup sendiri, rumah mewah dan tertata rapi, bermobil mahal, tapi juga seperti sumur tanpa dasar yang menarik Hae-mi terserap masuk dan membikin Jong-su hanya bisa masturbasi setiap keinginan bercinta lagi dengan Hae-mi namun secara fisik tidak ada. Suatu reaksi dari sebuah fantasi guna menghadirkan pengalaman semu ke dalam pikiran namun gagal. Jong-su tidak berdaya. “Aku terjatuh ke dalam sumur”, kata Hae-mi.

Telah terbangun cinta segitiga yang ganjil dan tidak seimbang. Dari pembukaan film yang lambat dan monoton, ritme menjadi meningkat seiring konflik hubungan yang memanas seperti mendidihnya rasa cemburu Jong-su. Ingat nama kucing Hae-mi, “Si Boil” “Si Mendidih”, yang diberi nama karena ditemukan dekat pusat tungku pemanas di kompleks apartemennya.

Rasa sial Jong-su semakin menjadi ketika Ben dan Hae-mi pulang kampung ke Paju mengunjungi Jong-su. Bertiga mengisap ganja dan teror kata-kata Ben pada Jong-su tentang kerjaannya membakar greenhouse setiap dua bulan sekali tanpa pernah ketahuan sekali pun, “You can make it disappear as if it never existed,” seperti dikatakan Murakami sendiri.

Suatu kali Jong-su menerima telpon dari Hae-mi tapi segera terputus, untuk selanjutnya dia tak pernah bisa lagi menghubungi.

Jong-su menguntit Ben dengan bermain di sekitar rumah Ben. Dalam suatu dialog, Jong-su yang pernah mengaku ingin menjadi penulis dan mengidolakan William Foulkner, penulis Amerika, diperlihatkan oleh Ben novel Faulkner “Great Gatsby”. Secara halus Ben telah memberi peringatan pada Jong-su. Lewat Foulkner, Ben berkata, “The past is not dead. In fact, it is not even past. Fact and truth really don’t have much to do with each other”.

Dalam usaha pencarian, Jong-su bertemu keluarga Hae-mi yang berjualan mie. Ada dialog di antara mereka yang menyinggung cara mendapatkan uang dengan menjual organ tubuh. Apakah Ben yang kaya raya itu terlibat human trafficking dengan berbisnis organ tubuh? Wallahualam. Masih misteri. Inilah yang membuat film semakin asyik karena kepiawaian sutradara menjalin puzzle dan beberapa gambar yang cantik. Jong-su seperti masuk ke dalam lorong misteri karena terngiang ucapan Ben, “If you play with fire, you will get burned”.

Dalam jalinan cinta yang berbumbu misteri sutradara bersama kameramen masih bisa menghasilkan gambar-gambar efektif, berarti dan tetap cantik. Puncak gambar sinema indah adalah saat bertiga sambil menghisap ganja, selama empat menit lebih, dengan latar belakang senja lembayung, Hae-mi menari topless dengan iringan terompet Miles Davis membawakan “Generique”, membuat gestur tangan seperti elang terbang, sebagai signal perpisahan menuju ke kematian.

Dendam Jong-su pada Ben terus terbawa. Penggambaran pertentangan kelas dan polarisasi dalam masyarakat yang timpang dan menyedihkan. Setelah Jong-su menikam Ben dengan pisau yang dibawa dari desa Paju, dimasukkannya mayat Ben ke Porsche, Jong-su melucuti bajunya sendiri hingga telanjang bulat dan membakar mobil ikon kemewahan itu. Berlari ke mobil busuknya, dan menyetir, menjauh. Dari depan kamera menyorot wajah Jong-su dengan masih terlihat kobaran api mobil Ben namun udara masih berselimut dengan kabut. Seolah membayar tuntas dendamnya. Seolah tidak ada beban. Seolah mematikan “diri” dan egonya sendiri untuk memasuki dunia metafisik, persis juga apa yang pernah dikatakan Murakami, “Death is not the opposite of life, but a part of it”. Gambar yang puitis, seperti puisi masterpiece Chairil Anwar: “Aku”

Luka dan bisa kubawa berlari/Berlari/Hingga hilang pedih peri/

Dan aku akan lebih tidak perduli/Aku ingin hidup seribu tahun lagi/

Peringatan sutradara pada penonton di awal lewat pengambilan gambar yang mengikuti Jong-su, seperti juga mau mengatakan pada dunia bahwa sinema Korea bukan hanya sinetron yang membikin nangis penonton.[MFR]

Yoga, Agama dan Coca-Cola

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari semarak gaya hidup beragama di tanah air ini. Sebagian orang beranggapan ini dipicu oleh peningkatan kesadaran orang yang beragama tersebut pada hal-hal yang subtil. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan pada kebenaran mutlak.

— Yudhi Widdyantoro

Dalam empat tahun terakhir ini, perkembangan tempat berlatih yoga (selanjutnya disebut yoga center) di Jakarta meningkat dengan pesat. Bahkan Jakarta jauh meninggali sesama kota-kota metropolitan di Asia Tenggara. Animo dan kegandrungan orang Jakarta—yang  berpenduduk delapan juta lebih—untuk beryoga menunjukkan grafik yang meningkat. Pemberitaan dan publikasi yoga di media, baik cetak maupun elektronik, seperti terus mengalir tiada henti.

Kalau sedikit ditarik lebih kebelakang, perhatian orang pada yoga atau “seni hidup dari timur” ini sudah menampakkan gejalanya di tengah dampak negatif krisis ekonomi nasional yang masif pada paruh dasawarsa 90-an. Dampak nyata dari kemerosotan ekonomi adalah penurunan pendapatan riil yang dialami sebagian besar penduduk seiring dengan angka pengangguran yang semakin menggelembung. Dari sini, krisis ekonomi tidak hanya menggoyahkan sendi perekonomian, namun juga kehidupan sosial, politik, bahkan kerukunan hidup bermasyarakat. Harga bahan pokok hidup yang meroket semakin mempersulit akses pada pelayanan kesehatan yang menjadi sangat mahal. Masyarakat semakin tidak berdaya (vulnerable) yang secara tidak langsung berpotensi memicu gejolak dan penyakit sosial. Selain berusaha mencari pengobatan yang relatif murah, masyarakat dilanda stres  menghadapi kenyataan bahwa pengobatan medis konvensioal dengan terapi obat-obatan kimia tidak cukup ampuh untuk menyembuhkan penyakit yang bersumber dari masalah psikis atau mental. Mereka mulai berpaling pada upaya mendapatkan kesehatan secara alami, salah satunya yoga. 

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari semarak gaya hidup beragama di tanah air ini. Sebagian orang beranggapan ini dipicu oleh peningkatan kesadaran orang yang beragama tersebut pada hal-hal yang subtil. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan pada kebenaran mutlak. Cak Nur—panggilan akrab Nurcholish Madjid—menyebutnya sebagai al-hanifiyyat al-samhah, yakni mencari kebenaran yang lapang dan toleran serta jauh dari sifat fanatik dalam beragama. Mereka yang sepaham dengan cara berpikir Cak Nur agak alergi pada fundamentalisme agama, karena mereka terbiasa beragama dengan cara inklusif. Kajian mereka lebih filosofis. Karenanya, perjumpaan atau dialog dengan agama lain bukan sesuatu yang tabu. Adanya semacam proses emanasi spiritualitas ini menjadi awal berkah bagi perkembangan yoga. Orang-orang seperti ini akan dengan ringan melangkahkan kakinya “melompati pagar tabu agama” untuk mengunjungi aktivitas keagamaan atau kegiatan spiritualitas dari agama atau tradisi yang berbeda.

Yang hampir sama dengan derap perkembangan keagamaan adalah gelombang kultural yang sangat konsern pada spiritualitas, yang biasa disebut New Age. Di Barat, New Age sudah marak di era 60-an hingga 70-an seperti kehadiran kelompok yang lebih dikenal sebagai flower generation (generasi bunga). Tapi entah bagaimana di Indonesia pada era 90-an gelombang New Age ini mulai dirayakan lagi. Panggilan “pengembaraan ke Timur” berdengung kembali. 

Vitamin lain bagi perkembangan yoga adalah kebiasaan yang dibawa oleh anak-anak Indonesia yang pernah belajar di luar negeri, khususnya Amerika Serikat. Anak-anak ini berasal dari keluarga A+, atau  kelompok paling atas dari menengah-atas, yang ketika sekolah atau tinggal di Amerika sudah mengenal dan berlatih yoga dan merasakan manfaatnya. Mereka meneruskan kebiasaan hidup itu sekembali ke tanah air. Selain mereka, tentunya banyak juga orang Indonesia yang, walaupun tidak ke Amerika, cukup terbuka pada perkembangan gaya hidup mondial dan turut menjadi amunisi ampuh bagi ledakan yoga di kota-kota besar Indonesia.

Di Amerika, yoga tentunya lebih dahulu berkembang dibanding di Indonesia. Gairah orang Amerika untuk beryoga sudah bukan lagi sekadar kebutuhan exercise atau kesehatan fisik, tapi sudah menjadi lifestyle, gaya hidup. Selain yoga centers yang sudah menyebar hampir di seluruh pelosok negeri, kelengkapan pendukung latihan pun turut tumbuh menyertainya, seperti t-shirt, celana, matras yoga, atau props (benda-benda untuk membantu latihan fisik), program retreat, workshop, teacher training, bahkan asuransi untuk para praktisi diiklankan dengan marak di majalah, seperti Yoga Journal, Living Yoga yang diterbitkan di negeri Paman Sam ini. Asosiasi-asosiasi yoga dari berbagai tradisi: Iyengar Yoga, Ashtanga Yoga, dan sebagainya dibentuk di hampir setiap negara bagian (state). Dan, least but not last adalah kehadiran International Yoga Alliance (IYA) yang dikreasi oleh orang-orang Amerika. Hampir seperti Perserikatan Bangsa-bangsa, organisasi ini seolah ingin menjadi payung bagi seluruh aliran dan tradisi yoga yang ada di muka bumi. Mereka membuat standar dan ketentuan, seperti kurikulum, dalam menyelenggarakan teacher training, pelatihan untuk menjadi pelatih yoga. Harus diakui bahwa orang Amerika sangat piawai dalam membuat sistematika,  mengemas dan kemudian “memasarkan” yogya, walaupun kita tahu yoga sejatinya berasal dari India, ribuan kilometer di seberang benua Amerika. 

Publikasi dan pemberitaan di media bahwa para pesohor atau celebrity Hollywood berlatih yoga menjadi hal penting bagi perkembangan yoga secara global. Sebut saja misalnya Madonna, Christy Turlington, Cyndy Crowford, Sarah  “Sex City” Jessica Parker, Breatny Spears, Gwyneth Paltrow dan Sting. Mereka ini adalah para trendsetter yang setiap kegiatannya mendapat sorotan media dan publik yang membuat segala apa yang mereka ucapkan, lakukan, atau kenakan di tubuhnya akan dengan mudah diikuti banyak orang.

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Di Indonesia, perkembangan yogya mengikuti pola di Amerika itu. Para pesohor Indonesia menjadikan para celebrity Hollywood kelas dunia itu sebagai referensi. Ada juga keinginan tersembunyi dari para pesohor Indonesia untuk diakui dan seterkenal bintang Hollywood. Celebrity dan golongan menengah atas, khususnya yang paling atas atau A+, adalah orang-orang yang sangat peduli pada citra diri atau image, oleh karenanya tubuh menjadi titik perhatian utama. Dengan perjuangan ekstra keras, mereka berusaha untuk mendapatkan tubuh permai dan penampilan yang aduhai, termasuk ramai-ramai berlatih yoga. Demam yoga ini juga menjangkiti pikiran banyak manusia urban yang sangat peduli pada bentuk tubuh, seperti orang-orang di Jakarta ini.

Tubuh masyarakat urban adalah arena pertarungan interior maupun eksterior. Pertarungan interior maksudnya arena pergulatannya ada di dalam diri si empunya tubuh, sementara eksterior berarti adanya pihak lain yang melihat tubuh sebagai objek yang empuk bagi ekstensifikasi atau pemasaran produk-produk industri modern. Untuk mendapatkan “cantik” seperti dalam pandangan masyarakat umum modern, si empunya tubuh merelakan dirinya menjadi sadomasokis, yakni menyakiti diri sendiri untuk mengejar kenikmatan diri. Para pemuja tubuh ini dalam waktu yang bersamaan menjadi narsistis atau mencintai diri sendiri. Setiap saat mereka mematut diri untuk tetap berada dalam koridor “cantik sesuai pandangan umum”. Di sini ada konflik internal secara psikis, antara pikiran dan tubuhnya sendiri. Pikiran mengkooptasi, melulu menuntut tubuh agar selalu sesuai dengan keinginannya, sementara secara awam diketahui bahwa tubuh mempunyai logika perkembangan sendiri yang mengikuti hukum alam. Bagi orang yang jeli tubuh akan dilihat sebagai target market untuk mamasarkan produk yang telah atau akan dihasilkannya. Secara masif para industrialis produk kecantikan melihat tubuh masyarakat urban sebagai arena ekstensifikasi modal yang menjanjikan keuntungan berganda. Dengan kecerdikannya pula, para pelaku industri ini dengan sengaja mengkonstruksi pengertian cantik ini setiap saat.

Dari sebagian para sosialita Jakarta yang berlatih yoga, dan kebetulan mereka juga punya uang, melihat peluang berinvestasi mendirikan yoga center  sebagai upaya diversifikasi dari aktivitas bisnis-bisnis sebelumnya. Semula mereka meniatkan agar diri mereka, dan juga teman-teman terdekat, dapat terus melanjutkan latihan yang sebelumnya mereka lakukan di rumah sekaligus mengkanalisasi gairah orang Jakarta beryoga-ria. Dalam waktu yang relatif singkat, kegiatan yoga mereka menyebar ke segala penjuru kota, merambah dari studio yoga ke gedung-gedung perkantoran, perumahan, dan mall.

Di atas telah disinggung bahwa perkembangan yoga di Jakarta tidak terlepas dari gaya hidup beragama di tanah air. Yoga adalah seni hidup, art of living, dan bukan atau diakui sebagai agama, tapi dapat juga (sementara) dimasukkan dalam genre yang sama, karena di dalamnya ada kepercayaan (belief system) dan semacam ritual berupa laku (practice). Dalam teks klasik yoga, yoga didefinisikan sebagai union dalam bahasa Sanskrit, artinya penyatuan keinginan kita (our will) dengan keinginan Tuhan (the will of God); atman (jiwa manusia biasa) dan Brahman (jiwa utama, supreme soul, Tuhan sang pencipta), seperti konsep manunggaling kawula gusti dalam kepercayaan Jawa, atau “menyatu dalam Tuhan” pada agama-agama samawi Abrahamik-monoteis: Yahudi, Kristen dan Islam. Konsep “manusia utama” atau insan kamil dalam konteks ini—juga dalam agama Hindu—adalah adanya unsur “kemenyatuan” itu, seperti juga dalam pengertian samadhi dalam yoga: “when our soul merge with the soul of universe”.

Ideologi berupa agama atau budaya dan seni diproduksi untuk menjembatani jurang antara Tuhan sang Pencipta dan manusia yang diciptakan sehingga insan kamil, manusia utama, bisa mewujud. Dalam ruang kosong yang menghubungkan Tuhan dan manusia dibangun jembatan hermeneutik sebagai penghubung karena Tuhan berbicara dalam bahasa wahyu yang termanifestasi dalam kitab suci, sementara bahasa manusia mempunyai logikanya sendiri. Dalam cara beragama di masa modern ini, ruang kosong itu diisi oleh para juru tafsir kitab suci yang sudah pasti ada “kekuasaan” (dan juga ambisi pribadi) yang sifatnya hierarkis-parokial yang terwujud pada pemimpin atau tokoh-tokoh agama.

Dari tuturan para pemimpin spiritual dan agama, dibangun dogma yang menuntut ditegakkannya disiplin dalam menjalankan tertib hukum agama sambil bersujud serendah-rendahnya di hadapan sang Pencipta. Seperti dalam teori termodinamika di mana arus kecil akan tersedot arus besar, untuk dapat “diterima dalam tangan Tuhan” manusia harus merendah serendah-rendahnya. Walhasil, cara beragamanya bersifat imperatif: “semakin larangan dijauhi dan perintah dipatuhi, orang bukan makin lega, malah justru makin gelisah dalam rasa dosa dan bersalah, yang darinya akan meningkat kualitas kesalehan”, seperti orang selesai minum coca cola: diminum, hilang dahaga dan segar (sejenak), tapi kemudian timbul rasa haus yang malah menjadi-jadi.

Hal ini nampak nyata pada pertemuan keagamaan dalam skala yang besar. Para pemimpin agama sering menggambarkan kengerian hasil perbuatan buruk manusia di dunia pada hari pembalasan atau kiamat (judgement day), hari ketika dunia dihancurkan oleh kuasa Tuhan. Sepertinya omongan agama melulu diproyeksikan untuk kehidupan masa depan, akhirat atau kematian dan bukan merayakan hari ini. Walaupun demikian, kengerian yang digambarkan tokoh-tokoh agama tersebut, toh tidak menyurutkan minat orang untuk mendatangi tempat ibadah pada hari-hari mereka lazim berkumpul.[MFR]  

Yang Fana Reisa, Yang Misterius Rasa

Pengalaman mistik adalah pengalaman kemenyatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri: Yang Ilahi, Tuhan, Allah, semata, atau sesuatu yang kita tidak ketahui, The Unknown. Sisi spiritualitas yoga ini yang akan membawa praktisinya pada kerendahan hati, sekaligus membebaskan dari penderitaan.

—-Yudhi Widdyantoro

“Per hari ini 47.896 orang terkonfirmasi positif Covid-19 dan 2.535 orang meninggal”. Coba Anda bayangkan kalimat itu juga keluar dari mulut dokter Reisa, selain anjuran menaati protokol kesehatan: menjaga jarak, memakai masker, dan cuci tangan pakai sabun. Reisa menyampaikan data kuantitatif yang terus berubah. Sehari turun, keesokan hari memecahkan rekor pertambahan pasien dalam pengawasan (PDP). Jumlah pesien yang meninggal terus bertambah. Penampilan Reisa membuat terpesona, itu sudah biasa. Namun berbagai pikiran dan perasaan bisa muncul setiap melihat dan mendengar informasi dari Reisa. Setiap kata-kata Reisa bisa menimbulkan perasaan kagum, ngeri, bisa juga jadi panik. Apa jadinya jika pandemik disikapi dengan panik? Kata-kata memang sering menunggangi makna. Karenanya, kata bisa menimbulkan aneka pikiran dan rasa.

Seperti itu juga ketika kita berlatih yoga. Setiap tahap latihan menimbulkan pikiran dan rasa. Perasaan yang mengikuti pikiran bisa muncul ketika berlatih asana, atau olah fisik yoga, karena pada umumnya pikiran dan perasaan mengikuti ke mana sensasi muncul di tubuh. Terkadang kita merasa sakit di suatu bagian tubuh akibat otot, syaraf, dan tulang aktif bekerja untuk membuat postur yoga. Kali lain ada rasa nikmat dan adiksi. Perasaan itu bisa tidak sama persis pada setiap orang ketika mempraktekkan suatu postur bersama sejumlah orang dalam waktu dan tempat yang sama, karena soal rasa ialah subjektif.

Asana atau postur yoga yang kasat mata, pada tahap tertentu, mungkin perlu dilakukan secara terukur dengan fokus pada ketepatan anatomis-fisiologis untuk menghindari cedera. Praktisi yoga dalam melakukan postur mengacu pada Yogasutra Patanjali, Bab Sadhana, atau soal latihan, “yoga sthiram  sukkham asanam”, “lakukanlah postur yoga dengan kokoh, mantap, tapi disertai dengan perasaan sukacita, sukkham” (YS II:47).

Dalam melakukan postur yang terkait dengan kerja aktif anatomi-fisiologi manusia, diperlukan ukuran yang objektif seperti dalam kajian dunia kedokteran medis. Di sini, akal sehat dan rasionalitas dibutuhkan untuk mengurai kerumitan hubungan organ dalam tubuh manusia; kerja syaraf, otot, tulang; dan juga gerak tubuh. Hal serupa berlaku juga pada bagaimana hubungan kerja bareng antara semua unsur fisik itu dengan efek terapis yang dapat bermanfaat bagi kesehatan mereka yang mempraktekkan asana.

Namun demikian, yoga bukan melulu soal olah fisik asana yang tampak nyata. Selain soal tubuh yang telah disebut di atas, diri kita juga memiliki dunia batin, dunia spiritual, seperti soal rasa yang muncul ketika sedang melakukan suatu postur yoga. Tentu saja saat itu nafas, rasa, dan pikiran semuanya muncul silih berganti tanpa bisa dicerap namun bisa dikenali oleh indra penglihatan. Pikiran manusia tidak hanya punya kemampuan analitis, misalnya untuk menyelesaikan kerumitan, tetapi juga reflektif dan intuitif. Reflektif berati mampu mengamati dan menilai dirinya sendiri. Sedangkan intuitif diandaikan telah berkembangnya kepekaan perasaan sehingga mampu memahami sesuatu secara langsung tanpa selalu mengandalkan rasio dan pikirannya. Tubuh dan batin menjadi sesuatu yang paradoksal. Keduanya ada beriring bukan untuk saling meniadakan, tapi malah saling melengkapi.

Pikiran memang senantiasa memecah diri menjadi kepingan-kepingan dan menciptakan pemisah-misahan. Pikiran juga memutilasi apa yang dilihatnya untuk kemudian memasukkannya ke dalam ruang-ruang berbeda sebagai “aku” dan “Anda”; “milikku” dan “milik Anda”. Pikiran menciptakan dualitas. Dualitas juga bisa terjadi karena adanya konsep yang memisahkan body mind dan soul, tubuh dan batin.

Makna kata “yoga” dalam bahasa Sanskrit ialah penyatuan atau telah terjadinya keselarasan. Dalam sutra pembuka di dalam Yoga Sutra Patanjali, “yoga cittavriti nirodhah” (YS I.2), “yoga is cessasion of mind”, “yoga adalah ketika gejolak batin berhenti”. Gambaran tentang kondisi batin yang berhenti disebutkan dalam sutra III.3: Tadeva arthamantranirbhasam svarupasunyam iva samadhi. Artha, purpose, tujuan; nir, tidak, tanpa; svarupe, sva, sendiri, apa adanya, rupe, objek, bentuk, benda; sunyam, kosong, hening; iva, inilah; samadhi, liberation, pembebasan. “When the object of meditation engulf the meditator, appearing as the subject, self awereness is lost. This is samdhi.” Keheningan terjadi ketika subjek atau diri si pengamat terserap oleh objek yang diamati, atau sebaliknya. Dengan demikian, sang diri kehilangan identitas dirinya sendiri. Inilah yang disebut samadhi, kebebasan batin. Dua sutra ini bisa menggambarkan keseluruhan isi Yoga Sutra Patanjali. Tujuan dari perjalanan yoga sudah terkandung sejak dari awal melangkah, kebebasan batin dengan meredanya pikiran dan perasaan.

Seperti juga dalam sejarah peradaban manusia, pada dasarnya kita manusia selalu berusaha untuk memperoleh kebebasan. Bebas dari rasa takut, bebas dari cengkeram penguasa, bebas dari segala ikatan yang membelenggu. Penciptaan manusia sepertinya sudah satu paket dengan kebebasan.

Namun demikian, keinginan untuk bebas dari segala problem telah melahirkan problem lain bersama aliran waktu. Lalu, apakah yang menyebabkan problem itu? Jawabannya adalah ketakutan. Ketakutan bukan selalu berkonotasi buruk. Ketakutan, bersama keinginan, keraguan, dan kecemasan adalah kondisi batin yang selalu ada sepanjang kita hidup. Ketakutan itu ada selama ada dorongan untuk menjadi sesuatu di masa kini atau di masa depan.

Mungkin karena tidak tampak nyata, sisi spiritualitas yoga atau dunia batin praktisi menjadi tidak popular dan terabaikan, tertelan gelombang besar ritus perayaan tubuh. Walaupun, seperti makna atau nilai yang terkandung dalam Pratyahara, menarik objek di luar diri dan dibawa ke dalam batin adalah langkah awal untuk menyelami pengalaman mistis –yang sering dikatakan inti dari agama dan kepercayaan.

Pengalaman mistik memiliki dua sisi, yakni sisi misterius yang mengandung kekaguman sekaligus ketakutan, misterium tremendum fasinatum. Pengalaman mistik adalah pengalaman yang bisa mengubah dari dalam diri. Adanya rasa keterhubungan dengan lingkungan dan galaksi yang lebih luas. Pengalaman mistik adalah pengalaman kemenyatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri: Yang Ilahi, Tuhan, Allah, semata, atau sesuatu yang kita tidak ketahui, The Unknown. Sisi spiritualitas yoga ini yang akan membawa praktisinya pada kerendahan hati, sekaligus membebaskan dari penderitaan.

Pengalaman mistik adalah pengalaman kemenyatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri: Yang Ilahi, Tuhan, Allah, semata, atau sesuatu yang kita tidak ketahui, The Unknown. Sisi spiritualitas yoga ini yang akan membawa praktisinya pada kerendahan hati, sekaligus membebaskan dari penderitaan.

Saat ini, ketika pageblug wabah Covid-19 belum mereda, dan karena statistik fluktuatif, terus bergerak, biarlah angka-angka yang disampaikan Reisa dengan segala pesonanya berubah dan menjadi fana. Sementara itu, ketidaktahuan kita pada akhir kisah pandemi Covid-19 ialah sebagaimana kita menempatkan Yang Ilahi, Yang Transenden pada suatu ruang kosong tiada tepermanai dalam keheningan. The Unknown, ‘Yang Tak Dikenali’ biarlah tetap menjadi misteri dan abadi. Mungkin rasanya seperti puisi Rumi ini: Aku memilih mengindamkanmu dari kejauhan//
Aku memilih mendekapmu dalam mimpi//Karena di dalam mimpi engkau tak burujung. (MFR)