Kuliah Tamu: Semesta Simbol Yoga

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari maraknya gaya hidup beragama di tanah air ini. Sebagian orang menganggap itu karena adanya peningkatan kesadaran orang yang beragama pada hal-hal yang subtil. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami hanya sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan kepada kebenaran mutlak.

Dalam dunia saat ini, Yoga tidak hanya menjadi media untuk menumbuhkan spiritualitas tapi juga sarat dengan kepentingan ekonomi. Suburnya pusat-pusat meditasi dimanfaatkan oleh sebagian kalangan untuk mengeruk keuntungan dengan melakukan komodifakasi terhadap simbol-simbol Yoga yang bertebaran di media sosial maupun iklan-iklan. Kuliah tamu ini dimaksudkan untuk mengenalkan mahasiswa terhadap simbol-simbol utama dalam Yoga dan bagaimana ia beririsan dengan kepentingan ekonomi.

Acara kuliah tamu ini dilaksanakan dengan tajuk Semesta Simbol dalam Yoga: Spiritualitas dan Konsumerisme” dengan pembicara Yuddhi Widdyantoro dan berlangsung secara online pada Senin (07/12/2020).

Yudhi Widyantoro menjelaskan simbol-simbol utama dalam Yoga melalui slide presentasi. Simbol-simbol Yoga dilihat dari perspektif teori analisis wacana Roland Barthens. Setelah itu, nara sumber memaparkan bentuk-bentuk komodifikasi simbol Yoga oleh sejumlah pusat meditasi Yoga di perkotaan. Acara ini dihadiri oleh peserta yang berasal dari civitas akademika IAIN Kediri dan umum, terutama mahasiswa.

Deradikalisasi Yoga [2]

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari maraknya gaya hidup beragama di tanah air ini. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami hanya sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan kepada kebenaran mutlak.

—– Yudhi Widdyantoro

Walaupun sering dikatakan bahwa yoga sifatnya universal dan dapat diikuti semua orang, tentunya dalam kasus-kasus tertentu ada pula keterbatasannya, yang umumnya karena sakit, atau sesuai dengan siklus kehidupan, seperti perempuan yang sedang mengalami masa haid tidak dianjurkan melakukan postur-postur inversion, seperti headstand (salamba sirsasana: salamba =topangan, sirsa=kepala), handstand (adhomuka vrikasana: adhomuka = pandangan menghadap ke bawah, vrika = pohon), bahkan shoulderstand (salamba sarvangasana: sarva = serba, semua, menyeluruh).

Perlu ada komunikasi yang baik antara murid dan guru. Peserta atau murid yang datang berlatih seharusnya memberitahukan terlebih dahulu pada pelatih kalau ada sakit atau problem fisik yang sedang dialami. Asana yang dilatih sesungguhnya lebih untuk mendengarkan tubuh sendiri dan merasakan sensasi serta rasa yang timbul ketika sedang melakukan postur itu. Persis seperti meditasi. Pergunakanlah setiap melakukan postur itu sebagai cermin untuk melihat diri kita sendiri, seperti kutipan di atas, yoga is a mirror to look at ourselves from within.

Jika kita masih dalam tahap awal berlatih, sebaiknya perlu mendapat bimbingan instruktur yang telah belajar lebih dulu dan berpengalaman yang akan memberi pemahaman dalam melakukan postur agar mendapatkan manfaat yang lebih maksimal, selain agar terhindar dari risiko cedera. Karena yoga bukanlah olahraga kompetitif, dan semata-mata untuk pengembangan diri sendiri. Dalam melakukan postur-postur itu, janganlah memaksakan diri. Sesuaikan tingkatan yang yoga center tawarkan dengan kemampuan kita masing-masing. Di sini memang diperlukan juga sifat kesabaran.

Di dalam berlatih asanas, pergunakanlah saat itu untuk berlatih meningkatkan kesadaran akan keberadaan diri kita sendiri, mengembangkan pemahaman mind-body connection, akan hubungan tubuh dan pikiran, serta rasa yang saling berkaitan. Dalam suatu kesempatan Bhikkhu Sri Pannyavaro berkata, “Kalau kita ingin memahami kehidupan, maka diri kita sendiri inilah bahan pengamatan yang sangat baik. Tidak perlu mencari jauh-jauh. Bukankah diri kita adalah kehidupan yang utuh juga? Dan kita sendiri mengalami kehidupan ini.”

Di dalam melakukan asana, kalau kita perhatikan dan rasakan, tentunya ada satu bagian atau sisi dari tubuh kita yang tidak sama persis, baik kekuatan maupun juga kelenturannya. Tentunya kita harus memperhatikan sisi atau bagian tubuh yang masih ada kekurangannya tersebut. Kita akan menzalimi diri kita sendiri jika hanya focus untuk menguatkan atau membuat lentur satu sisi yang relatif sudah lebih baik. Justru malah kita harus memberi perhatian lebih ekstra pada sisi yang dirasa masih kurang agar mencapai keseimbangan. Jika kita sadari ini, dan kemudian kita berada pada postur itu untuk sekian waktu tertentu, merasakan semua fenomena dan sensasi yang timbul, baik yang datang lewat indra kita, ataupun pikiran dan rasa: sakit, tidak nyaman, ataupun kenyamanan sebagai akibat dari melakukan postur tersebut, sadari saja, kelak kita akan merasa seperti dalam bermeditasi.

Dalam bermeditasi, praktisi yoga akan dapat mengatasi waktu, baik waktu kronologis maupun waktu psikologis. Mengutip BKS Iyengar, guru besar Iyengar Yoga: “Our body is the bow and the asanas are the arrows to hit the target…liberation, Samadhi”. Tubuh kita adalah seperti busur dan latihan asana adalah anak-anak panah yang siap dilesatkan untuk mencapai sasaran kita, pembebasan dan penerangan batin. Terbebas dari pengaruh atau perbuatan masa lalu, baik yang buruk maupun yang menyenangkan, dan juga ketakutan akan masa depan yang belum datang. Kita sendiri adalah sang pemanah itu, pengendali atas diri kita sendiri. Lupakan perbedaan, fokus pada latihan. Sesungguhnya yoga adalah rahmatan lil alamin, karunia bagi alam semesta dengan segenap isinya. Sekarang, tantangan para praktisi yoga adalah menjawab pertanyaan, apakah yoga dapat menjadi sarana berlatih menjadi manusia bebas namun tetap dalam koridor demokrasi tanpa melupakan kodrat perbedaan dari setiap manusia. Seharusnya bisa. Meminjam istilah Gus Dur: Gitu aja kok repot….!

Apa yang sudah lewat, entah baik, entah buruk, entah menyangkut diri kita sebagai individu, entah diri kita sebagai anggota suatu kelompok (agama, suku, bangsa, dsb) semua itu bermanfaat untuk memberikan suatu identitas dan memelihara identitas itu bagi diri kita. Manusia biasanya membutuhkan suatu identitas, yang dengan itu ia mengenali dirinya, dan melihat dirinya di dalam masyarakat, di dalam sejarah. Manusia tidak sanggup melihat dirinya tanpa identitas, tanpa harga diri, tanpa sesuatu yang memberi makna pada eksistensinya.

Untuk hidup di masyarakat, mungkin semua itu ada artinya dan perlu. Namun, dilihat dari perspektif yang lebih luas dan lebih dalam, dari perspektif pencerahan dan pembebasan, semua itu tidak ada artinya, karena tidak kekal, alih-alih malah memperkuat aku/ego, sekalipun secara positif. Selama si aku memiliki identitas yang dipertahankannya, seberapapun “baik”-nya, selama itu ia tidak akan pernah bebas!

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari maraknya gaya hidup beragama di tanah air ini. Sebagian orang menganggap itu karena adanya peningkatan kesadaran orang yang beragama pada hal-hal yang subtil. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami hanya sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan kepada kebenaran mutlak.

Dalam bahasa Cak Nur, panggilan akrab Nurcholish Madjid, sebagai al-hanafiyyah al-samhah, mencari kebenaran yang lapang dan toleran serta jauh dari sifat fanatik dalam beragama. Mereka yang sepaham dengan cara berpikir Cak Nur agak alergi pada gejala fundamentalisme, karena mereka terbiasa beragama dengan cara inklusif. Kajian mereka lebih filosofis. Karenanya, perjumpaan atau dialog dengan agama lain bukan sesuatu yang tabu. Adanya semacam proses emanasi spiritualitas ini, menjadi awal pembawa berkah bagi perkembangan yoga. Orang-orang seperti ini akan dengan ringan melangkahkan kakinya “melompati pagar tabu agama” untuk mengunjungi aktivitas keagamaan atau kegiatan spiritualitas dari agama atau tradisi yang berbeda.

Yang hampir sama dengan derap perkembangan keagamaan, adalah sebuah gelombang kultural yang sangat konsern pada spiritualitas, yang biasa disebut New Age. Walaupun di barat New Age sudah marak di era 60-an hingga 70-an, seperti adanya kelompok yang lebih dikenal sebagai flower generation (generasi bunga) namun, entah bagaimana di Indonesia, pada era 90-an gelombang New Age ini mulai dirayakan lagi. Panggilan “pengembaraan ke Timur” seperti suara-suara yang didengungkan kembali. 

Hal lain yang menjadi vitamin perkembangan yoga adalah kebiasaan yang dibawa dari anak-anak Indonesia yang pernah belajar di luar negeri, khususnya Amerika Serikat. Anak-anak dari keluarga A+ atau kelompok paling atas dari menengah-atas yang ketika sekolah atau tinggal di Amerika sudah mengenal dan berlatih yoga, dan kemudian merasakan manfaatnya. Mereka meneruskan kebiasaan hidup itu sekembali ke tanah air. Selain mereka, tentunya banyak juga orang Indonesia, yang walaupun tidak ke Amerika, tapi cukup terbuka pada perkembangan gaya hidup mondial, turut menjadi amunisi ampuh bagi ledakan yoga di kota-kota besar Indonesia.

Di Amerika, yoga tentunya lebih dahulu berkembang dibanding dengan Indonesia. Gairah orang Amerika untuk beryoga sudah melampaui untuk sekadar kebutuhan exercise atau kesehatan fisik, tapi sudah menjadi lifestyle, gaya hidup. Selain yoga centers yang sudah menyebar hampir di seluruh pelosok negeri, kelengkapan pendukung latihan pun turut tumbuh menyertainya, seperti t-shirt, celana, matras yoga, atau props (benda-benda untuk membantu latihan fisik), program retreat, workshop, teacher training, bahkan asuransi untuk para praktisi diiklankan dengan marak di majalah, seperti Yoga Journal, Living Yoga yang diterbitkan di negeri Paman Sam ini. Asosiasi-asosiasi yoga dari berbagai tradisi: Iyengar Yoga, Ashtanga Yoga, dan sebagainya dibentuk di hampir setiap negara bagian (state).

Least but not last, keberadaanInternational Yoga Alliance (IYA) yang dikreasi oleh orang-orang Amerika. Hampir seperti Perserikatan Bangsa-bangsa, organisasi ini seolah ingin menjadi payung bagi seluruh aliran dan tradisi yoga yang ada di muka bumi. Mereka membuat standar dan ketentuan, seperti kurikulum dalam menyelenggarakan teacher training, pelatihan untuk menjadi pelatih yoga. Harus diakui, bahwa dalam membuat sistematika, mengemas dan kemudian “memasarkannya” orang Amerika sangat piawai, walaupun kita tahu, yoga berasal dari India, ribuan kilometer di seberang benua Amerika. [MFR]

Deradikalisasi Yoga [1]

Pesan yang dibawa yoga sangat universal; tidak membedakan agama, jender, ras, golongan, usia, status sosial, atau label-label lainnya. Semua dapat berlatih yoga. Semua punya hak yang sama untuk mengambil manfaat dari yoga.

—– Yudhi Widdyantoro

Kasus kekerasan dan sikap intoleransi di masyarakat semakin sering terjadi. Kasus-kasus tersebut, dan juga kemudian tindak kriminal yang dilakukan oleh suatu kelompok pengikut agama, serta keinginan mengubah dasar negara pada agama tertentu nampaknya menjadi salah satu lembaran nyata dari kisah perjalanan bangsa Indonesia. Gambaran itu menjadi kontradiktif dengan keinginan para elite politik yang sering menekankan perlunya jati diri bangsa. Pemandangan di dalam negeri yang seperti ini terjadi juga di luar negeri secara global, yaitu gejala radikalisasi dan fundamentalisme agama.  

Di hampir semua agama dan sistem kepercayaan selalu ada gerakan purbanisasi. Suatu arah pergerakan dari para pengikutnya yang selalu mengacu pada masa awal dan daerah dari agama dan sistem kepercayaan itu bermula. Figur sentral rasul, sebagai pembawa wahyu bersama tatanan masyarakat yang dibangun akan menjadi rujukan utama, baik itu ajaran ideologis atau juga etika dan budayanya, termasuk cara berpakaian, etiket dan tatakrama kehidupan dalam keseharian, dan juga cara-cara dakwah untuk memperluas pengaruhnya, harus diikuti secara persis.

Seiring dengan perjalanan waktu, di dalam masyarakat yang berkembang dan menjadi multikultur, agama dan sistem kepercayaan akan selalu diterima dengan cara beragam. Ada semacam perebutan makna pada keyakinan yang mereka anut, walau berasal dari satu sumber yang sama. 

Situasi ini bisa diumpamakan seperti saat kita memasuki hutan di gunung. Di dalam hutan tumbuh beragam pepohonan. Kita akan menjumpai pohon-pohon besar menjulang bagai raksasa dengan batang yang kokoh; pohon-pohon tanaman lunak yang menghasilkan buah-buahan yang dapat dimakan; ada pula tanaman merambat, tumbuhan beledu, sampai jamur dan lumut; tidak ketinggalan pula hewan, burung dan unggas. Semua mahluk yang hidup ini bertahan dan tetap eksis karena adanya salingketergantungan antara satu dengan yang lain. Masing-masing mereka ada karena keberadaan yang lainnya. Mereka saling menghormati sesuai dengan bagian dan porsinya masing-masing. Lumut, benalu atau humus, rayap dan semut sekalipun, tetap saja ada manfaatnya bagi kelangsungan hidup keseluruhan ekosistem di hutan itu.

Sekarang perhatikan juga sebuah pohon. Suatu pohon yang tumbuh menjulang tentunya bermula dari akar di dalam tanah dan batang yang tegak dan kokoh. Pohon yang sehat akan menghasilkan bunga dan buah yang bermanfaat bagi mahluk lain. Semua itu bermunculan dari cabang dan ranting yang menyebar secara merata dari sebuah pohon. Di dalam khasanah yoga, akar dan batang pohon adalah fondasi filosofis Ashtanga Yoga dari Patanjali, yaitu yama dan niyama, suatu latihan disiplin diri dan pemahaman moral dalam hidup bermasyarakat, seperti: ahimsa = tidak melakukan tindak kekerasan; satya = kejujuran; asteya = tidak korupsi, menumpuk harta, atau mencuri apapun dari yang bukan haknya; brahmacharya = kontrol diri dari tindakan asusila; aparigraha = hidup sederhana sesuai kebutuhan.

Sedangkan batang pohon yang bentuknya beragam, ada yang lurus, lengkung, zig-zag, memanjang, bengkok, semua dinamakan cabang dari batang pohon. Itulah analogi asanas; postur yoga. Asana yang diajarkan guru-guru dari berbagai aliran itu tentunya sama, demikian juga nama-nama dari asana itu sama persis. Sekadar menyebut contoh dari asana dalam bahasa sanskrit: tadasana atau postur gunung, bhujangasana sebagai postur ular, salabasana berarti postur belalang dalam bahasa Indonesia, atau postur pohon adalah vrkasana jika disebut oleh guru yang menggunakan bahasa sanskrit.

Di dalam praktisi yoga, melakukan rangkaian postur-postur yoga bisa terlihat juga keragamannya pada style atau aliran, atau tradisi dalam Hatha Yoga. Sekadar menyebut aliran yang dikenal di Indonesia adalah: Classic Hatha Yoga, Yin Yoga, Yin-Yang Yoga, Sivananda Yoga, Iyengar Yoga, Hatha Iyengar, Ashtanga, Vinyasa Flow, Bikram atau Hot Yoga, Jivamukti, Anusara Yoga, Kundalini, Sri-Sri Yoga, Ananda Marga, Yogalates, Funky Yoga, dan lain sebagainya yang masih banyak sekali. Semua dalam kerangka Hatha Yoga, untuk sekadar membedakan dengan Raja Yoga, yang dalam masa awal perkembangan yoga, filsafat atau seni hidup ini, menekankan pengajarannya pada kontrol mental (mentally controle) dan nilai-nilai moral dengan prakteknya lewat meditasi dan sistem perkuliahan (talk).

Jika yoga center memberi pengajaran filosofi yoga, selain hanya asana, latihan gerak postur yoga, dan pranayama atau latihan pernafasan tentunya akan sama bahan yang diajarkan. Aliran dalam yoga ini seperti kulit buah pisang, sementara yoga itu sendiri adalah daging dari buah pisang yang kita makan. Ada orang yang lebih suka pisang ambon, atau pisang mas, sementara ada yang karena mengidap sakit tertentu dokter malah melarangnya, atau ada juga orang yang sangat suka makan pisang goreng ketika sedang panas kinyis-kinyis seperti selesai diangkat dari penggorengan, ada yang ketika makan lebih senang diiringi dengan musik, ada yang merasa tidak masalah kalau makan pasang sambil jalan atau lompat-lompat. Semua dikembalikan kepada masing-masing peserta yang seleranya beragam.

Yoga itu juga dapat dianalogikan sebagai spiritualitas dan aliran-aliran dalam yoga sebagai agama yang terorganisir (organized religion). Aliran yoga dan agama itu dicocok-cocokan. Adalah sesat pikir yang besar kalau seorang guru yoga, atau suatu aliran yoga yang mengklaim yoganya akan cocok untuk semua orang, dan karenanya sebagai yang paling baik, the best style. Hubungan antara praktisi yoga dengan style yang mereka ikuti persis seperti pengikut suatu agama. Ada yang mengikuti tradisi atau ritual agama dengan sangat ketat, tapi ada juga berpikir sangat progresif dan liberal, atau ada juga yang beragama dengan mengambil bentuk fundmental di satu sisi, dan sekular di sisi lainnya.

Terhadap perbedaan itu, alangkah baiknya kalau para praktisi bisa menerima dan terbuka terhadap keberagaman. Tidak perlu yoga center atau para instrukturnya menuntut sikap fanatik dan kataatan tanpa reserve pada anggotanya untuk hanya berlatih pada satu style, kemudian membuat perjanjian dengan studio lainnya secara ekslusif, untuk hanya berhubungan berdua, tidak diperkenankan lagi berhubungan dengan studio selain dengannya. Jika ini dipahami, sesungguhnya yoga dapat mengajarkan kita untuk lebih bersikap pluralis, bukan malah membangun benteng puritansi.

Pesan yang dibawa yoga sifatnya sangat universal, tidak membedakan agama, jender, ras, golongan, usia, status sosial, atau label-label lainnya. Semua dapat berlatih yoga. Semua punya hak yang sama untuk mengambil manfaat dari yoga. Sudah saatnya para praktisi yoga menderadikalisasi cara berhubungan dengan guru dan tradisinya dengan mengikuti salah satu pilar atau koridor dalam berlatih, yaitu vairagya, detachment, ketidakmelekatan.

Memang tidak dapat dipungkiri, dan hampir pasti bahwa dalam melakukan asana, setiap aliran yoga bisa sangat berbeda. Ada yang setiap postur dilakukan dengan harus menahan sekitar dua atau tiga menit atau bahkan lebih disertai dengan penjelasan untuk melakukannya dengan informasi yang banyak, ada yang perpindahan geraknya dari satu postur ke postur lainnya dalam satu rangkaian yang dilakukan dengan cepat dan melompat, ada yang mensyaratkan harus berlatih dalam suhu panas tertentu untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Semua sah-sah saja, tidak ada yang salah atau lebih benar. Masing-masing tentunya mempunyai alasan filosofis dibalik melakukan itu semua. Sekali lagi, semua masih melakukan postur yoga yang sama. Semua pilihan dikembalikan ke masing-masing peserta, praktisi yoga yang melakukannya. Namun perlu diingat, untuk orang yang baru akan memulai berlatih yoga, sebaiknya sebelum bergabung ke suatu yoga center carilah sebanyak mungkin informasi untuk menentukan kelas yang paling sesuai dengan minat, harapannya dan karakter atau kepribadian diri sendiri.

[Bersambung]

Dari Paus hingga Dewa Mabok

Instuktur Dewa Mabok itu, tidak merasa terbebani jika harus menimba ilmu lagi dari berbagai guru senior dari tradisi yang beragam.

—– Yudhi Widdyantoro

Karena peran sentral pengajar, atau guru yoga dalam sebuah yoga center, beberapa guru merasa mendapat amanat untuk menjaga kemurnian suatu tradisi atau style dari yoga yang telah mereka pelajari begitu dia deperkenankan mengajar. Dengan semangat partisan manusia besi, si guru menjalankan aturan dengan pengawasan ketat seperti penjara Alcatraz. Guru seperti itu menginginkan murid-murid yang belajar padanya melakukan yoga secara kaffah, menyeluruh, seperti aslinya di India sana tanpa kurang apapun, termasuk juga suasananya, sejak mereka memasuki center sampai meninggalkan pelataran parkir: seperti harus membaca invocation, pengucapan mantra yang nadanya harus persis seperti di India sana, instruksi-instruksi yang guru berikan: harus dengan suara keras yang cederung berkesan galak, properti atau alat-alat bantu dalam berlatih yang juga langsung didatangkan dari India, pakaian yang dikenakan ketika mereka mengajar sepertinya harus sama dengan yang dikenakan guru mereka di India.

Di Jakarta ini, guru-guru yoga center di atas sudah bak ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek) dan bertindak seperti seorang Paus dalam Katolik. Kepada murid-muridnya, guru di yoga ATPM itu membuat aturan yang sangat ketat, bahwa sekali si murid ikut menjadi muridnya, haram hukumnya belajar di yoga center yang lain selain di centernya. Baginya, barang siapa yang telah dipersatukan oleh sang guru tersebut tidak dapat dipisahkan lagi selain atas ijinnya. Ikatannya mirip seperti perkawinan dalam agama Katolik. Guru tersebut sering meng-claim bahwa aliran yoga yang diajarkan sebagai “yang terbaik” di setiap ada kesempatan. Dia dan pengikutnya sepertinya menganggap sebagai “umat pilihan”. Karenanya: “Kami harus eksklusif!”, begitu sepertinya keinginan mereka yang tersembunyi. Berani tampil beda, hanya “menyembah” pada satu “Tuhan”, yaitu guru besarnya yang telah menjadi legenda.

Setiap ada kesempatan–dalam kelas ketika mengajar atau menulis di media—para guru itu melulu mengutip dan menjejali kisah-kisah kehebatan gurunya, The Great Master, tersebut. Bahkan, guru kategori ATPM ini, segera setelah mendapat sertifikat yang paling awal, sudah berani membuat program “pencetakan” guru-guru yoga di center-nya dengan membuka kelas menjadi guru (teacher training). Dalam sistem parokial ini, Paus berarti hanya ada satu, atau jika dalam wilayah maka hanya ada satu Kardinal, jika ada orang lain yang juga maunya membawa ajaran yang sama, tentunya akan dianggap sebagai kompetitor yang berhak untuk dilenyapkan.

Padahal, sehebat-hebatnya guru yoga di suatu tempat, sekarang ini, kalau dirunut, tidak akan jauh-jauh, bersumber dari aliran yoga yang telah dikembangkan oleh Krishnamacarya, Shri Sivananda, BKS. Iyengar atau Shri Patabijois, tidak ada yang origin, asli hasil temuannya sendiri.  Karena belum ada asosiasi resmi, seperti di kota-kota di Amerika atau negara Barat lainnya yang tradisi beryoganya sudah lebih berpengalaman, dan karena tidak ada wasit yang menengahi, persaingan rebut pengaruh dan pembunuhan karakter di antara guru dalam tradisi yang sama menjadi tak terlelakkan, dan menjadi kisah menarik seru tersendiri, persis seperti dalam kisah silat shaolin.

Sementara guru-guru yoga di fitness center umumnya berpengalaman terlebih dahulu menjadi pelatih aerobic, taebo, body combat, body building dan sejenisnya yang riang dinamis. Mereka mengisi kebutuhan demand kelas yoga yang kurang di-supply oleh pelatih yoga yang sangat kurang banyak. Tidak jarang sekarang, guru yoga di Jakarta ini banyak yang berbadan gempal, tegap dan atletis. Kalau mereka berbicara di luar kelas, sangat antusias, provokatif, berapi-api diselingi humor seperti ketika sedang memberi instruksi kelas aerobic yang seperti beriringan dengan musik menghentak yang menyertainya. Selain para pengajar yoga saat ini usianya semakin memuda, seperti juga kecenderungan pada orang-orang yang berlatih, cukup menggembirakan bahwa pendidikan formal mereka banyak yang lulusan pascasarjana luar negeri dari negara-negara Barat, sehingga seharusnya lebih bernalar baik. Banyak dari mereka bergelar MBA, ahli dalam manajemen bisnis, selain ada yang masih aktif bekerja sebagai profesional di perusahaan multinasional; bahkan, tidak sedikit yang telah meninggalkan dunia kerja kantoran dan memilih mengajar yoga sebagai sebuah profesi

Pada sisi ekstrim yang lain, ada juga instruktur yoga yang tidak membawa ikatan pada tradisi atau asosiasi apapun. Mereka hanya berpikir bahwa segala tradisi, betapapun hebat inventor atau guru besar dari salah satu style yoga, dan betapapun style itu cukup memengaruhi cara instruktur tersebut mengajar, tetap saja berpotensi menghambat proses liberation atau kebebasan dan realisasi diri, seperti tertulis dalam teks-teks lawas kitab yoga. Oleh karenanya, dia melepaskan semua ikatan itu. Kebebasan dan kenyamanan mengajar baginya adalah yang paling penting, dan mungkin menjadi obsesinya.  Mungkin mirip pendekar Dewa Mabok (Drunken Master) dalam film laga Shaolin. Instuktur Dewa Mabok itu, tidak merasa terbebani jika harus menimba ilmu lagi dari berbagai guru senior dari tradisi yang beragam, lewat berbagai pelatihan yang diselenggarakan di yoga center yang bermacam-macam. Dia pun membuka diri untuk belajar ilmu lain yang komplementer bagi yoga, seperti meditasi atau juga anatomi tubuh, atau seperti pengikut agama yang inklusif, atau juga pada pengikut New Age.[MFR] 

Santri Yoga, Ngaji Yoga Sutra

Segala ihwal di dalam pesantren adalah ‘teks’ berharga yang harus dipelajari dengan penuh kesabaran dan tanpa keluhan.  Jadi seperti yoga, “ngaji” dalam tradisi santri adalah perihal mencari sesuatu yang berharga di balik kedukaan maupun kebahagiaan.  

—- Yudhi Widdyantoro

Saya akan membahas tentang complaining, mengeluh. Kenapa seseorang bisa mengeluh dapat diulik dari sumber keluhan yang berasal dari dalam diri, yaitu pikiran. Masalah pikiran dalam kajian yoga di Indonesia jarang sekali dibicarakan. Pembahasan paling sering adalah soal olah fisik, asana. Kalau kita ikuti sejarah perkembangan yoga, jauh sebelum postur-postur yang tidak jarang aneh dan terkesan akrobatis itu dikenal –dan dikatakan mempunyai manfaat yang banyak, sistem pengajaran yoga bermula dari pembahasan tentang pikiran, olah batin—dikenal dengan Raja Yoga. Bahkan arti kata yoga sendiri, seperti dalam Yoga Sutra of Patanjali, adalah cessation from the movement of the mind, seni menghentikan pikiran yang bergerak, selain istilah yang sudah menjadi basi: union. Union of our mind, body, and soul. Seperti juga arti dari Nirvana atau Nibbana, yang artinya padamnya pikiran, padamnya keinginan atau keadaan tanpa diri, tanpa ego. Dengan padamnya keinginan kita akan masuk dalam keadaan svatantriya, kebebasan yang dinamis dan tidak terikat. Kebahagiaan yang tertinggi.

Mengeluh dan melenguh-nya sapi memang seperti sebelas dua belas. Mirip-mirip. Sapi melenguh karena bereaksi terhadap sesuatu, biasanya karena ketidak-nyamanan yang dia rasakan, dari keenakan yang tiba-tiba terusik. Begitu juga kita manusia. Manusia mengeluh karena dihampiri rasa ketidaknyamanan.

Sepertinya sudah menjadi kebiasaan di banyak tradisi, adat atau budaya untuk mengeluh. Bukan hanya adat dan budaya, di setiap tingkat sosial, di komunal pun pernah mendengar keluhan orang lain, atau diri sendiri yang mengeluhkan sesuatu. Kalau disadari, mengeluh adalah indikasi dari menculnya ketidakpuasan, yang berarti, bersamaan dengan itu, hilangnya rasa kebahagiaan. 

Coba perhatikan pikiran kita sehubungan dengan fenomena yang terjadi dalam seminggu ini dengan adanya demo penolakan UU Omnibus Law, atau sedikit ditarik lebih jauh ke belakang sejak wabah korona merebak. Coba perhatikan irama keseharian kita beryoga. Begitu kita keluar rumah dan di jalan, dihadapkan pada kemacetan, kita akan mengeluh. Keluhan itu akan termanifestasikan dengan terciptanya orkestra bunyi klakson dari mobil dan motor. Sesuatu yang lumrah karena kemacetan di Jakarta sudah luar biasa. Sampai di gedung yang kita tuju, studio yoga, fitness center yang ada di dalam mal, kita susah mendapatkan parkir, kita mengeluh. Normal. Masuk ke studio, ke kamar ganti, sampai masuk ke ruangan, mungkin sekali bertemu dengan orang-orang yang tidak kita harapkan, atau banyak hal-hal yang tidak kita inginkan lainnya, biasanya kita akan mengeluh. Mengeluhkan pada studio yang mungkin kurang mewah dibanding rumah kita yang lebih mentereng, karyawan studio yang tidak seperti pembantu di rumah kita yang siap diperintah. Sekali lagi wajar-wajar saja. Di kelas yang kita ikuti, walaupun kelas itu adalah kelas favorit kita, baik style maupun gurunya, pasti tidak seluruh waktu latihan itu kita senang terus. Perhatikan dan sadari rasa-rasa itu semua detik demi detik. 

Mungkin ada postur-postur yang dinstruksikan guru untuk dilakukan, namun karena bakan postur favorit dan tidak sering kita lakukan, kita akan mengeluh. Ada keengganan untuk melakukannya. Jika instruktur meminta agar postur dilakukan dengan menahan lebih lama dari biasanya, di pikiran kita timbul berbagai keluhan. Jika posturnya kurang menantang, di dalam hati kita menuntut agar si instruktur untuk memberi postur-postur yang dapat memuaskan “dahaga asana”-nya. Memang bagi sebagian orang, baru merasa beryoga dengan “benar dan sesungguhnya” bila dapat melakukan postur aneh yang menuntut kelenturan yang tinggi, atau kekuatan yang super, seperti badan dilipat-lipat seperti karet, atau dapat melakukan headstand 10 menit lebih, dan sebagainya, dan seterusnya. Di dalam Yoga Sutra Patanjali, penjelasan tentang asana hanya satu kalimat, dan hanya itu :”stiram sukkham asanam”, lakukanlah postur dengan mantab dan nyaman. Tapi publikasi di media, di buku dan majalah, dvd dan tivi, telah menghipnotis jutaan pengikut yoga dengan tampilan postur yang super susah, sehingga timbil keinginan untuk menirunya.

Ketika timbul pikiran untuk meminta lebih, sesunguhnya ini adalah cermin dari sikap kita yang jauh dari sabar. Ada pemberontakan dalam diri kita. Kalau saja kita tidak dapat mentoleransi peristiwa yang ada di hadapan kita, keadaan yang kita sedang alami saat ini, kita akan terikat terus pada lingkaran keinginan. Diperlukan sedikit sikap sabar, karena kesabaran, tidak mengeluh, akan membawa rasa ringan dalam diri kita. “Patience means staying in a state of balance regardless of what is happening, staying easy, relaxed and alert”, kata Joseph Goldstein dalam buku mungilnya “Settling Back Into The Moment”.

Keinginan untuk menjadi super, termasuk merasa seolah berpengetahuan banyak, bisa membawa kita terperangkap pada keinginan yang tak berkesudahan. Bersikaplah sederhana. Mengutip salah satu filsafat hidup Tao yang sejalan dengan filsafat hidup yoga “satya”, contentment, di mana pengertian ‘tidak mengeluh’ terangkum di sini: “Kebaikan tertinggi seperti air yang memelihara benda seperti tanpa berusaha. Ia puas dengan tempat-tempat rendah yang dihina orang. Dalam berumah, tinggallah di dekat tanah. Dalam berpikir, tetap sederhana. Dalam bertikai, adil, dan murah hatilah. Dalam memerintah, jangan berusaha mengendalikan. Dalam bekerja, kerjakan apa yang engkau nikmati. Dalam kehidupan keluarga, jadilah sekarang yang sepenuhnya. Bila engkau puas menjadi dirimu saja dan tidak membandingkan dan tidak bersaing, setiap orang akan menghargaimu”.

Perihal ‘tidak mengeluh’, barangkali kita perlu belajar dari teman saya yang pernah ‘mondok’ di sejumlah pesantren. Baginya, mondok di pesantren bukan soal pintar ilmu agama, tapi lebih sebagai menempa atau melatih diri (riyadah). “Saya ingat betul, di awal mondok dulu orang tua pernah bilang: ‘Aku memondokkan kamu bukan supaya kamu pintar, tapi agar kamu bisa riyadah di sana!’” tuturnya. Maka segala keterbatasan atau ketidakpuasan di pondok pesantren tidak ia hadapi dengan keluhan. Tidur berdesakan di kamar sempit, bangun sepertiga malam sambil menahan ngantuk, atau makan ala kadarnya dihadapi dengan riang gembira. Maka tak jarang kita mendengar kredo di kalangan santri: “Semakin ‘menderita’ di pondok, semakin bagus buat masa depan santri”.  


Istilah “ngaji” dalam dunia pesantren berasal dari kata “aji”. Sesuatu yang dimuliakan, sakral, terhormat, mahal, atau “jimat”, semacam benda pusaka. Yoga Sutra Patanjali dalam dunia yoga adalah referensi utama, seperti kitab suci, dengan sutra bisa dipadankan dengan ayat. Proses pembuatannya mungkin seperti membuat undang-undang, karenanya “sakral”. Praktisi yoga yang non-sanskrit speaking hanya bisa mendekatinya, menginterpretasi teks-teks dari berbagai disiplin, semacam studi intertekstual, tidak bisa menambahkan atau mengurangi. Tapi bagi teman saya yang santri itu, “ngaji” bukan melulu soal mendalami teks-teks keagamaan. Segala ihwal di dalam pesantren adalah ‘teks’ berharga yang harus dipelajari dengan penuh kesabaran dan tanpa keluhan.  Jadi seperti yoga, “ngaji” dalam tradisi santri adalah perihal mencari sesuatu yang berharga di balik kedukaan maupun kebahagiaan.   

Selamat Hari Santri Nasional!

Kapitalisme dan Jajanan Spiritualitas

Asketisme agama ini menjadi salah satu jalan masuk adanya perselingkuhan kapitalisme dengan dunia spiritual.

—- Yuddhi Widdyantoro

Yang menarik diamati dari perkembangan kehidupan keagamaan di tanah air ini adalah, bersama dengan meningkatnya kesalehan orang beragama, dan atau aktif pada kegiatan spiritual, kegiatan ekonomi kapitalis juga menonjol, kalau tidak dikatakan sangat agresif. Kegiatan perekonomian (neo) liberal ini sudah semakin telanjang dan menyebar ke segala penjuru. Peran dan daya kontrol negara pada penguasaan sumber daya alam kekayaan bangsa yang menjadi hajat hidup orang banyak sudah mengendur daya cengkeramnya, walaupun pada konstitusi dikatakan bahwa negara berhak menguasainya. Bagaimana penjelasan perselingkuhan logika kapitalisme dan agama quasi spiritual ini?

Marx, Weber, dan Anand Krishna

Inti logika kapitalisme ada pada etika Protestanisme, seperti dikatakan Max Weber dalam kredo Summum Bonum, “Bekerjalah segiat mungkin, tapi jangan kau umbar hasilnya agar kau dapat mendapat Kasih Tuhan, jadi nikmati hasilnya sesedikit mungkin”. Adanya represi pemuasan kenikmatan memperjelas keberadaan aura transendental kapitalisme di sini, seperti dalam agama Islam yang mengatakan bahwa pada setiap harta yang dimiliki oleh ummat, ada terkandung hak untuk anak-anak miskin yang kurang beruntung.

Asketisme agama ini menjadi salah satu jalan masuk adanya perselingkuhan kapitalisme dengan dunia spiritual. Berbeda dengan Weber yang merayakan agama secara positif, Karl Marx beranggapan agama bersifat intsrumental terhadap kapitalisme, sesuai pengamatannya pada kerja dan cara menikmatinya. Adanya jurang antagonisme kelas buruh versus pemodal yang mengakibatkan alienasi buruh, dan pada gilirannya, mereka kemudian melarikan diri pada Tuhan atau agama. Tuhan, pada akhirnya, seperti dikatakan Feurbach menjadi proyeksi atas keinginan-keinginan manusia marjinal yang telah teralienasi.

Adanya krisis kepercayaan diri membuat banyak orang merasa perlu dan membutuhkan Messiah, Ratu Adil, seseorang yang dapat membawa mereka pada jalan kebahagaian. Krisis sosial ekonomi pada jaman kontemporer ini menyebabkan orang-orang yang mengalaminya mencari-cari penyelesaian lewat berbagai cara sepanjang dapat menentramkan kegundahannya, baik lewat tokoh spiritual, atau aktivitas bernuansa agama dan spiritual, atau juga pelatihan motivasi diri dan hipnotis. Karena itu, tokoh spiritual seperti Anand Krishna, Osho atau Baghwan Rajnesh menjadi orang yang sangat digandrungi. Demikian juga para tokoh agama yang omongannya menjadi seperti mantra sakti yang siap diikuti walau rela mati.

Derivasi atau turunan dari ralasi Tuhan-tokoh-umat ini bisa juga dilihat dalam produk seni dan budaya sebagai interpretasi atau penjelasan pola pikir seperti itu. Tidak heran bila film-film hantu menakutkan, siksa kubur, atau religius romantis seperti “Ayat-ayat Cinta” menjadi sangat diminati sehingga perlu dibuatkan sequel-nya. Demikian juga pelatihan motivasi diri menjadi sangat laku, laris manis. Tokoh-tokoh pelatihan motivasi seperti Tung Desem Waringin, Ary Ginanjar, Mario Teguh, Andri Wongso menjadi seperti selebritis dengan penghasilan seperti pemain sepak bola liga Inggris. Jika melihat pola kerja di atas, mungkin bisa juga diberi perhatian bisnis MLM (multi level marketing) yang tak kalah gegap-gempitanya menjalar pada kelompok-kelompok keagamaan.

Hypermarket, Pasar Senen, dan Pengasong

Dari demikian banyaknya yoga center, jika dilihat dari peran mereka dalam membuat demam yoga melanda Jakarta, akan terlihat beberapa perbedaannya. Ada yang seperti warung kue subuh di Pasar Senen, karena kue-kue yang mereka jual akan dijual lagi di toko tingkat kampung. Yoga center  yang seperti toko kue Pasar Senen contohnya adalah Jawaharlal Nehru Indian Cultural Center (JNICC), Ananda Marga, Rumah Yoga dan Art of Living. Yoga centers ini bisa dibilang sebagai perintis yoga center yang sesungguhnya di Jakarta, dalam arti, kalau dianalogikan dengan komoditas barang dagangan, yang mereka “dagangkan” hanya satu komoditas, yaitu yoga.

Banyak peserta yoga yang berlatih di sini yang merasa sudah pintar, dengan rutin beratih dalam jangka waktu tertentu, walau tanpa melalui proses pelatihan menjadi guru (teacher training) mereka memberanikan diri melatih di kelas-kelas yang mereka bangun. Seperti pedagang kue di kampung yang belanja subuh-subuh di Pasar Senen, mereka mendagangkan kue tersebut di kampung daerah mereka tinggal, atau mengajar berdasar permintaan, mirip seperti pengasong keliling.

Mereka tidak mempunyai ikatan pada asosiasi atau satu center tertentu. Materi yang diberikan pun tidak ketat, bisa dikembangkan atau digabung dengan tradisi atau latihan sport lainnya, baik itu pilates, taebo, senam jazz dan lain sebagainya sesuai hasil pengembaraan guru-guru tersebut. Karena ada selisih waktu, tentunya pembeli di kampung tidak akan memakan kue se-fresh kalau beli subuh hari dan langsung makan di tempat, belum lagi ada margin keuntungan yang diambil dari pedagang antara tersebut.

Sedang dari kelas yang ditawarkan, beberapa center memfasilitasi beragam aliran atau style yoga dari beragam tradisi dalam Hatha Yoga: baik Hatha yoga klasik, Ashtanga yoga, Bikram yoga, atau Iyengar yoga, dan lainnya lagi. Tetapi ada juga yang mengkhususkan hanya mengajar satu style dengan ketat memegang tradisi, lebih mirip seperti agen tunggal pemegang merek (ATPM). Sementara di satu sisi yang lain, beberapa center telah membuka lebar-lebar jendelanya menjadi “partai terbuka”. Tentang keterbukaan center, beberapa yoga center bergerak ke ekstrem satunya dibanding dengan ATPM.

Center-center ini bahkan cenderung menjadi Hypermarket dimana yoga hanya menjadi salah satu dari beragam kegiatan oleh raga, seperti banyak ditemui di fitnes centers. Yoga yang diajarkan di sini menjadi sangat compact, dimodifikasi dengan olah fisik lainnya dan disesuaikan dengan iklim dan suasana di tempat itu, seperti penggunaan musik, gerak yang harus dinamis, waku berlatih yang menjadi lebih singkat. Peserta yoga yang berlatih di sini pun harus mengikuti aturan yang tidak tertulis, yaitu bawa mereka harus siapkan mental: “melihat dan sekaligus dilihat”.

Permodalan: Konglomerat vs Handphone

Dalam hal permodalan, seperti disingung di atas bahwa untuk mendirikan studio yoga, atau yoga center tentunya diperlukan investasi yang besar, karena itu para pemilik yoga center  tentunya para the haves, yang beberapa dari mereka membuat yoga center hanyalah investasi percobaan dari usaha perluasan konglomerasi bisnisnya. Namun demikian, menjalankan kelas yoga tidak melulu harus dengan modal besar dan di studio yang lavish atau mentereng, karena ada beberapa individu yang benar-benar karena kecintaannya pada yoga dan kebetulan punya modal, dengan segala risikonya dia bangun yoga center.

Ada juga yoga center yang malu-malu mengiklankan dirinya, tidak secara terang dengan beriklan di media massa, tapi telah rutin menggelar kelas berlatih yoga dengan murid yang cukup banyak. Beberapa instruktur yoga mendapatkan order mengajar karena seseorang telah merekomendasikan namanya kepada orang yang ingin berlatih secara privat, atau juga di yoga center tempat mereka mengajar. Modal instuktur seperti itu hanyalah handphone dan perlengkapan mengajarnya yang selalu dibawa-bawa, seperti matras, celana pendek dan kaos, serta kendaraan untuk moda transportasinya.[MFR] 

Hitam Putih Manusia Super

Nietzsche berkata lewat Pak Tua, “Jangan percaya pada mereka yang berbicara melebihi kehidupan di dunia ini, sebagaimana penceramah agama. Tetaplah setia pada hidup di dunia ini. Mereka yang berbicara seperti itu, hanyalah terpenjara oleh janji-janji para nabi”. “Kalian umat manusia harus menentukan sendiri hidupmu, meskipun itu sakit”.

—- “The Turin Horse”

Di Turin, filsuf besar Nietzsche menjadi gila. Melihat seorang petani tua memecuti kuda, Nietzsche berlari melindungi kuda tersebut dengan memeluk leher si kuda dengan penuh kasih sayang. Nietzsche begitu sedih. Sejak saat itu dia melakukan topo bisu, tidak mau bicara. Semua orang mengira Nietzsche menjadi gila. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1900 Nietzsche meninggal dunia. Di nisannya, di kota kelahirannya di Jerman tertulis, “Tuhan sudah mati. Nietzsche membunuhnya. Nietzsche juga mati. Di sini dikuburkan”.

Begitu cerita episode akhir hidup filsuf besar dan penting asal Jerman ini yang terkenal dengan kredonya, “Tuhan sudah mati”. Selain kredonya itu, Nietzsche dikenal dengan karya “Dan Berkata Zaratustra” dan pemikiran tentang Uebermens, “Manusia Super”.

Film “The Turin Horse” karya Bella Tarr, sutradara asal Hongaria ini, bukanlah film biopik, seperti “Bohemian Rhapsody”  yang merekam sejarah kehidupan Nietzsche, melainkan sisi hidup kuda Turin yang menyebabkan si filsuf kita itu menjadi gila dan hubungannya dengan tuan pemilik, petani tua dan miskin dan perempuan pendamping hidupnya.

Yang menarik sekali dari film ini, sutradara memproyeksikan filsafat dan seluruh pemikiran Nietzsche pada petania tua dan miskin itu, serta kudanya, sesuatu yang membuat Nietzsche menuju akhir hidupnya tamat. Sekilas wajah dan penampilan petani tua dan miskin itu seperti aslinya Nietzsche, tapi bukan.

Bagaimana si petani tua menjalani keseharian hidup,  hubungannya dengan benda sekitar: kentang, perempuan pendamping, alam, sumur-sember air, orang lain atau gypsy adalah refleksi filsafat dan buah-buah pemikiran pokok Nietzsche, yaitu soal “kebutuhan untuk percaya”, serta kesadaran akan kebertubuhan dan perlunya merayakan hidup.

Dengan memproyeksikan pemikiran pada obyek, benda—dalam hal ini, pak tua dan kuda, sesuatu yang berarti dalam hidup Nietzsche—sutradara yang juga menulis skripnya, memberi ruang untuk menganalisa filsafat Nietzsche dan sekaligus mempersilakan untuk mengkritisi pemikiran Nietzsche sendiri. Inilah jeniusnya Tarr, penonton seperti sedang mengikuti kuliah filsafat.

Film dalam format hitam-putih ini dibuka dengan sosok kuda. Hampir sepuluh menit kamera menyorot kuda dan lelaki tua yang naik di atas kereta yang ditarik kuda tersebut. Hanya itu. Hampir tanpa musik pengiring, hanya suara angin yang gemuruh di musim gugur.

Sampai di rumah tunggal di kota sunyi. Pak tua memasukkan kuda ke kandang. Kamera berganti mengarah ke perempuan mengambil air di sumur timba, bolak-balik. Scene seperti ini akan banyak sekali kita jumpai, seolah ingin menyampaikan pemikiran Nietzsche soal menyintai hadup atau nasib seutuhnya, “amor fati”; bahwa menjalani hidup ini, sekalipun menderita, meskipun mengandung kepedihan dan kekecewaan, harus tetap diterima. Penderitaan adalah bagian dari yang indah dan sejatinya keseluruhan hidup.

Diperlihatkan juga pak tua yang mengalami sakit. Memang Nietzsche bereksperimen dengan tubuh yang mengalami. Lewat pengamatan pada tubuh yang mengalami segala rasa, termasuk sakit, dia membangun filsafatnya. Tubuh adalah ekspresi demokrasi. Dari sini Nietzsche membuat simpulan betapa bernilainya kehidupan. Sakit adalah sesuatu yang niscaya, tak dapat dielakkan. Dalam kesakitan akan ada pemaknaan baru. Karenanya, sakit atau apapun rasa yang timbul dari tubuh tidak perlu ditolak, malah perlu dikembangkan sikap menerima, memeluk. Seperti dalam meditasi ala Sumarah-Laura Romano di Borobudur Writers and Cultural Festival yang baru saja lewat.

Bagi Nietzsche, tubuh dengan segala kontradiksinya punya kearifan. Karena lewat tubuh yang merasa dan mengalami dan menghasilkan naluri itu bukanlah sesuatu yang rendah dan nista, penuh najis, tapi tubuh sebagai kekuatan hidup dan sumber kehendak. Dari sinilah istilah “Uebermens” lahir.

Kehidupan keseharian Pak Tua dan perempuan pendampingnya yang terlihat monoton, dari ruang dalam rumah, mengambil air, berulang adalah gambaran filsafat Nietzsche yang merupakan antitesa dari Plato dan agama. Nietzsche atau Bella Tarr, lewat Pak Tua mau mengatakan bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya sangat menggairahkan, karenanya tidak diperlukan lagi akhirat. Ini jelas terlihat dalam scene ketika rombongan gypsy datang, mengajak ikut dan memberi kitab suci, dan oleh Pak Tua rombongan itu diusir. Nietzsche berkata lewat Pak Tua, “Jangan percaya pada mereka yang berbicara melebihi kehidupan di dunia ini, sebagaimana penceramah agama. Tetaplah setia pada hidup di dunia ini. Mereka yang berbicara seperti itu, hanyalah terpenjara oleh janji-janji para nabi”. “Kalian umat manusia harus menentukan sendiri hidupmu, meskipun itu sakit”.

Diperlihatkan pada suatu scene, setelah rombongan gypsy pergi dan sumur air sat, kering tidak ada lagi air, Pak Tua dan perempuan pendamping pindah, mencari tempat baru. Mereka boyongan, menaiki bukit. Tapi kita juga diperlihatkan, kemudian, mereka berdua kembali lagi. Adegan ini seperti mitologi Yunani, “The Myth Of Sisyphus”, Sisyphus yang mendorong batu ke bukit. Setiap mendekat puncak, batu itu akan menggelinding turun lagi, begitu seterusnya… Hidup di dunia ini sangat menggairahkan. Akhirat tidak diperlukan! Itulah tesisnya. Bagi sebagian orang, itulah atesime Nietzsche.

Pada lima belas sampai sepuluh menit sebelum film berakhir, dan Pak Tua sakit. Masih tanpa bicara, si perempuan menyuguhkan kentang rebus lagi, dan lagi. Saling berpandangan dalam diam. Sekali-sekali wajahnya berpaling ke luar, sebelum layar gelap, hanya suara benda bergeser. Dan baru film selesai. Namun, hidup masih tetap mengalir tak tepermanai, tetap penuh misteri. Nietzsche mau mengatakan, dengan Tuhan, segala berhala dan apapun yang diberhalakan mati, dan manusia menentukan sendiri, maka tidak ada kebenaran yang tunggal. Siapa saja bisa menentukan kebenaran. Dan kebenaran itu bisa di mana saja. Dan Tarr pun, seperti Nietzsche, dia mau bilang ke penonton, “Anda penonton punya kebenaran sendiri. Bebas menafsirkan film saya ini”.

Akan tetapi, sebagi sutradara, Tarr tidak otoriter memaksakan interpretasinya atas pemikiran Nietzsche dalam film ini sebagai final utuh, dan merasa paling benar. Dia memberi ruang juga pada kita penonton untuk mengkiritik pemikiran Nietzsche dan juga interpretasinya pada Nietzsche lewat karya filmnya ini. Kita bisa menikmati dialog atas dialog karena Tarr menyediakan ruang untuk itu lewat kamera yang intens menangkap setiap gestur, olah tubuh pemain dan dari sudut-sudut yang menyokong untuk menghasilkan gambar-gambar yang menawan dan kaya akan pemaknaan, termasuk angin keras dan segala kekuatan alam yang bisa dimaknai sisi spiritualitas Nietzshe. Jadi, apakah Nietzshe ateis? Nah, ini buah perenungan lain kali.

Selain interpretasi posmodernis ala Tarr pada pemikiran Nietzsche, film ini tiba tepat pada saat di Eropa, Amerika, atau dunia umumnya, “sayap kanan” dan populis memenangi pemilihan dan gairah keagamaan menguat dengan bermodalkan simbol-simbol ketuhanan dan bersinergi dengan kekuasaan politik. Tuhan yang diperalat untuk kekuasaan.

Selebihnya, silakan menonton saja.[MFR]

Tetirah Hidup Orang Rimba

Apa makna kemerdekaan bagi suatu bangsa, atau suku bangsa? Pertanyaan klasik setiap kali bulan Agustus tiba, khusnya di tanggal 17. Pertanyaan ini terus mengusik akal sehat karena masih ada banyak sekali paradoks, justru ketika kita berada jauh dari hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan itu. Is Indonesia a nation in making?

—-Yuddhy Widdyantoro

Bagi Orang Rimba, yang hidup di tengah hutan raya, hari nasional kemerdekan itu hampir tidak ada artinya. Bahkan, mereka sepertinya tidak peduli. Bagi mereka, setiap hari adalah perjuangan untuk sekadar menyambung hidup di tengah kemajuan pembangunan. Tetirah hidup keaslian mereka dalam selubung modernitas.

Enam jam berkendara dan disambung dua jam berjalan kaki memasuki hutan belantara, waktu seperti balik ke zaman batu. Bertemu dengan Orang Rimba adalah perjumpaan yang menarik. Berkenalan dengan suku bangsa yang relatif “primitif” memperkaya hidupku. Aku mengenali wajah-ciri mereka, cara berpakaian mereka: bercawat, hanya seks organnya saja yang tertutup, bagaimana mereka mencari makan, berak; bagaimana mereka memperlakukan hutan sebagai rumah sekaligus ladang hidup mereka, mempelajari tabu-tabu mereka. Semua adalah pengetahuan yang tak mungkin didapat dari bangku sekolah. Sudah seharusnya kita menghormati mereka sebagai suatu entitas, atau malah berempati; anggaplah itu suatu teks yang dibarkan terbuka. “Anything goes,” seperti kata Fayerabend. Tidak seharusnya kalau kita memperdaya atau bahkan memanfaatkan mereka untuk kepentingan dan keuntungan sendiri.

Mengikuti mereka bekerja dan mencari manau (sejenis rotan). Kalau kita tahu betapa sulitnya untuk mendapatkannya, dan kemudian kita tahu perbedaan harga antara yang taoke beli dari Orang Rimba dengan harga jual kembali dari taoke ke industri yang lebih hilir, sungguh sangat memilukan hati. Betapa posisi tawar Orang Rimba sangat lemah, dengan margin keuntungan para taoke sangat besar. Para toke ini adalah pencari rente, raja-raja kecil yang juga feodal, pacet, lintah darat yang mengekploitasi Orang Rimba. Bedebah!.

Masalah disparitas terpampang sangat gamblang karena begitu nyata bedanya. Ada kekuatan dominan, dan ada sisi lain yang didominasi, yang menguasai versus yang dikuasai. Kupikir alinea pembuka Das Kapital-nya Karl Marx, bahwa sejarah peradaban manusia pada dasarnya adalah sejarah perjuangan kelas, ada benarnya. Dan memang, sejarah selalu dibuat oleh “orang yang menang”. Sejarah mencatat yang lemah akan selalu tergusur, seperti juga dalam teori evolusi yang klasik. Tapi masalah hidup bukan sekadar kalah-menang, tentunya jauh lebih kompleks. Seperti air mengalir, hidup bergulir ke depan, dan terus selalu maju ke depan. Gerak globalisasi tak mungkin dihambat, begitu juga laju pembangunan kaum pemodal, kapitalis. Ada atau tidak ada perlawanan dari proletar atau sosialis, mereka, para kapitalis itu tetap melenggang, karena memang begitu cara mereka bereksistensi. Tapi memang perlu diawasi! Ya, seperti dalam sepak bola, kalau kalah, jangan sampai kalah 4-0 lah, boleh kalah tapi cukup 1-2, artinya kita masih bisa memasukkan agenda.

Kalah dan berani mengaku kalah, mungkin secara psikologis lebih sehat dan realistis. Pada kasus-kasus seperti Orang Rimba, juga Baduy, atau Amish di Amerika, aku jadi berpikir, apa perlunya membangun benteng puritansi, pertahanan jiwa, kemudian mengharamkan bercampurnya suatu tradisi, atau peradaban, dengan unsur-unsur yang lain, apalagi dengan bumbu jargon, atau mitos-mitos keagungan masa lalu, model pidoto bapak-bapak pejabat itu, atau seperti Soekarno ketika meneriakkan Nasakom dulu, karena sekarang pasti akan kalah oleh teknologi dot.com. Walaupun juga harus diakui, mempertahankan tradisi, kesakralan, adalah usaha yang mulia, tapi aku lihat, gerakan mempertahankan purifikasi, seperti gerakan orang yang kalah dan gelisah. Tapi, siapa musuh mereka? Jelas, ada unsur luar, tapi ada pula problem internal mereka, anggota mereka sendiri (karena ada juga Orang Rimba yang di-Depsos-kan, disuruh pakai baju, dimukimkan dekat dusun, dan di-Islam-kan, mengikuti program pemerintah, dengan mereka yang memilih bertahan di dalam hutan. Sehingga tentunya ada ketegangan. Perlu juga ditanyakan, mengapa hidup mesti menyisihkan diri, menepi, menyingkir, sementara di luar orang merayakan kemajuan peradaban.

Mengikuti workshop fotografi “Tetirah Orang Rimba” bersama Galeri Foto Jurnalistik Antara menurutku sangat menarik. Bagi aku pribadi yang suka traveling, perjalanan ini sendiri sangat menantang: hutan belantara yang sudah pasti masih rimbun dan hijau, vegetasi yang kaya, juga faunanya. Perjumpaan dengan Orang Rimba itu sendiri, suatu suku bangsa yang baru aku kenal, sungguh suatu yang akan memperkaya hidup. Akan sulit sekali kalau datang ke sini sendiri, selain tidak tahu medan, problem komunikasi, dan tentunya akan menjadi mahal.

Hasil foto kami akan dipamerkan dengan hak cipta oleh GFJA. Ini memang suatu diktum mereka. Tapi, di sinilah titik kritisku. Bersama aku, 14 orang lainnya adalah fotografer profesional. Umumnya mereka alumni workshop/kursus/sekolah fotografi yang diselenggarakan GFJA, bahkan World Press Photo. Sehari-hari mereka bergulat dengan foto, ada yang menjadi editor foto di majalah, bekerja untuk biro foto, atau menjadi fotografer wedding, dsb. Artinya, secara tekis mereka sangat menguasai, belum lagi kelengkapan kamera: minimal mereka membawa 1 analog, 1 digital, dengan lensa yang beragam dan bagiku menyeramkan. Alat-alat penyimpan datanya bikin aku terheran-heran akan kemajuan teknologi. Sementara aku sendiri, secara teknis, kacau, 0 besar, lupa semua yang aku pelajari; kameraku cuma 1, analog dengan lensa standar. Semangat keikutsertaanku semata karena aku suka jalan berpetualang, dan dengan thema “Tetirah Orang Rimba” ini, suatu perjalanan spiritual untuk memperkaya hidup. Aku tidak menggebu-gebu fotoku ikut dipamerkan, kalau dapat yang bagus hasilnya, ya, anggaplah itu bonus.

Dari lima belas peserta kami dibagi tiga group. Untung, groupku adalah orang2 yang baik dan menyenangkan, penuh canda. Elik dan Chitra (satu-satunya cewek, kebetulan kenal di kantin sastra, karena dia anak sastra Rusia UI) lebih mengenal komunitas GFJA, anggota group lain. Karena lebih profesional, mereka lebih individualis dan ambisius. Aku tidak bayangkan digabung dengan mereka, akan lebih minder. Fasilitator, teman-teman LSM Warsi, pendamping Orang Rimba: Bubung, Wening, dua-duanya antropolog, dan Ninuk adalah pekerja tangguh, yang sangat kooperatif dan banyak membantu kami.

Yang lucu, karena aku tidak dikenal mereka, mereka terus mengira-ngira siapa aku; jangan-jangan aku dikiranya fotografer profesional, walaupun berkali-kali aku yakinkan bahwa aku gak bisa moto. Mereka heran karena aku kenal baik dengan Oscar Motuloh yang nota bene mentor, atau bahkan “dewa” mereka. Sempat juga mereka mengira jangan-jangan aku mata-matanya Oscar untuk ngawasi kerja mereka.

Sekembali dari Jambi, aku berpikir keras bagaimana memberi bantuan untuk saudara-saudaraku, Orang Rimba itu. Aku akan sarankan pada teman-teman fotografer kemarin bahwa hasil dari pameran nanti alangkah baiknya diberikan pada Orang Rimba.

Aku sudah ajak teman-teman di kelompokku, Umbo Karundeng, Chitra F, Elik Ragil, dan Robby Suharlim untuk menggelar pameran di Rumah Yoga. Kumaksudkan ini juga sebagai sarana untuk relief Orang Rimba. Pelan-pelan, niatku ini akan aku sampaikan kalau nanti ketemu, karena aku tidak tahu juga aspirasi teman-teman.

Ninuk, fasilitator pendidikan untuk Orang Rimba di LSM Warsi, kemarin sampai di Jakarta untuk mengikuti pertemuan nasional perempuan Indonesia. Kami, teman2 fotografer GFJA bertemu dengan Ninuk di Café Oh La La di Djakarta Theater. Senang juga betemu kembali dengan teman2 yang menyenangkan ini, kembali cerita-cerita lucu waktu di rimba. Aku teringat lagi pada anak-anak Rimba itu.

Aku Orang Rimba
Namaku Sokola
Jelas aksaranya
 
Di seluruh rimba raya
Kuguratkan namaku
Tidak ada alias lainnya
 
Nama itu mencengkeramku
menggantung di kudukku
Dialah nyala di dadaku
Denyut di nadiku
mengalir di darahku
Dan, nama itu memburu
cita anganku
Namaku Sokola
 
Walau gergaji itu mengikis rumahku
Menerbangkan burung-burungku
Walau Gergasi melumat ladangku
Walau asap pekat membekap mulutku
Dan, halamanku berganti rupa
Walau ke unggun dilempar aku
Dan mereka meludahi cita-citaku
Walau seribu walau
 
Aku Orang Rimba
Namaku Sokola
Jelas aksaranya!
 

Sokola adalah nama salah satu anak Orang Rimba. Gergasi adalah raksasa rakus seperti dalam novel Danarto, dan puisi ini diilhami puisi Palestina yang tiba-tiba saja aku teringat puisi jadul itu, mungkin karena nasib mereka sama.

Aku merasa seperti ikut mengeksploitasi Orang Rimba dengan memotoi aktivitas mereka sehari-hari. Aku banyak belajar dari mereka, terutama daya hidup Orang Rimba itu, jungle survival. Tapi mereka, Orang Rimba itu, juga terkena virus “Orang Kota”. Seperti dalam melukis cat air, sedikit saja warna lain menimpa warna sebelumnya, dengan segera melebur membuat realitas baru yang kita tidak tahu ke mana arah jadinya, blur bersama air terserap kertas lukis. Aku kok merasa terpanggil untuk membuat semacam proyek art for relief untuk Orang Rimba itu. Ya, semacam balas budil-ah setelah kita mengeksploitasinya.

Aku tidak tahu pikiran atau orientasi Orang Rimba setelah berinteraksi dengan “Orang Kota”, seperti dulu, belasan tahun yang lalu ketika pertama kali aku ke Baduy. Di dusun terakhir sebelum masuk ke perkampungan Baduy, setiap sore menjelang petang, Orang Baduy, khusunya anak-anak, dan orang mudanya turun gunung untuk menonton tivi, dengan wajah dogol, melongo. Mereka teracuni. Lucu juga, satu kaki mereka berpijak pada adat ketat, satu kaki lagi sudah melangkah (tapi belum) menjejak kemoderenan. Aku tidak tahu, apa yang mereka pikirkan menjelang tidur. Tapi yang jelas, aku sudah terkena virus, tapi virus dari teman-teman fotografer: virus digital kamera; semata-mata karena alasan praktis (dan canggih juga sih). Bayangkan, dengan enak mereka bisa moto malam hari tanpa flash, ketika anak-anak Rimba belajar dengan penerangan lilin. Momen yang indah sekali secara fotografis! Dengan digital kamera ISO bisa di-push sampai 1600 atau lebih lagi, sementara dengan kameraku, aku cuma memble saja, mentok ISO 400. Sialan! Virus itu sudah menjangkitiku, cukup sakit, karena aku tidak tahu kapan itu bisa terbeli. [MFR]