Kuliah Tamu: Semesta Simbol Yoga

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari maraknya gaya hidup beragama di tanah air ini. Sebagian orang menganggap itu karena adanya peningkatan kesadaran orang yang beragama pada hal-hal yang subtil. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami hanya sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan kepada kebenaran mutlak.

Dalam dunia saat ini, Yoga tidak hanya menjadi media untuk menumbuhkan spiritualitas tapi juga sarat dengan kepentingan ekonomi. Suburnya pusat-pusat meditasi dimanfaatkan oleh sebagian kalangan untuk mengeruk keuntungan dengan melakukan komodifakasi terhadap simbol-simbol Yoga yang bertebaran di media sosial maupun iklan-iklan. Kuliah tamu ini dimaksudkan untuk mengenalkan mahasiswa terhadap simbol-simbol utama dalam Yoga dan bagaimana ia beririsan dengan kepentingan ekonomi.

Acara kuliah tamu ini dilaksanakan dengan tajuk Semesta Simbol dalam Yoga: Spiritualitas dan Konsumerisme” dengan pembicara Yuddhi Widdyantoro dan berlangsung secara online pada Senin (07/12/2020).

Yudhi Widyantoro menjelaskan simbol-simbol utama dalam Yoga melalui slide presentasi. Simbol-simbol Yoga dilihat dari perspektif teori analisis wacana Roland Barthens. Setelah itu, nara sumber memaparkan bentuk-bentuk komodifikasi simbol Yoga oleh sejumlah pusat meditasi Yoga di perkotaan. Acara ini dihadiri oleh peserta yang berasal dari civitas akademika IAIN Kediri dan umum, terutama mahasiswa.

Deradikalisasi Yoga [1]

Pesan yang dibawa yoga sangat universal; tidak membedakan agama, jender, ras, golongan, usia, status sosial, atau label-label lainnya. Semua dapat berlatih yoga. Semua punya hak yang sama untuk mengambil manfaat dari yoga.

—– Yudhi Widdyantoro

Kasus kekerasan dan sikap intoleransi di masyarakat semakin sering terjadi. Kasus-kasus tersebut, dan juga kemudian tindak kriminal yang dilakukan oleh suatu kelompok pengikut agama, serta keinginan mengubah dasar negara pada agama tertentu nampaknya menjadi salah satu lembaran nyata dari kisah perjalanan bangsa Indonesia. Gambaran itu menjadi kontradiktif dengan keinginan para elite politik yang sering menekankan perlunya jati diri bangsa. Pemandangan di dalam negeri yang seperti ini terjadi juga di luar negeri secara global, yaitu gejala radikalisasi dan fundamentalisme agama.  

Di hampir semua agama dan sistem kepercayaan selalu ada gerakan purbanisasi. Suatu arah pergerakan dari para pengikutnya yang selalu mengacu pada masa awal dan daerah dari agama dan sistem kepercayaan itu bermula. Figur sentral rasul, sebagai pembawa wahyu bersama tatanan masyarakat yang dibangun akan menjadi rujukan utama, baik itu ajaran ideologis atau juga etika dan budayanya, termasuk cara berpakaian, etiket dan tatakrama kehidupan dalam keseharian, dan juga cara-cara dakwah untuk memperluas pengaruhnya, harus diikuti secara persis.

Seiring dengan perjalanan waktu, di dalam masyarakat yang berkembang dan menjadi multikultur, agama dan sistem kepercayaan akan selalu diterima dengan cara beragam. Ada semacam perebutan makna pada keyakinan yang mereka anut, walau berasal dari satu sumber yang sama. 

Situasi ini bisa diumpamakan seperti saat kita memasuki hutan di gunung. Di dalam hutan tumbuh beragam pepohonan. Kita akan menjumpai pohon-pohon besar menjulang bagai raksasa dengan batang yang kokoh; pohon-pohon tanaman lunak yang menghasilkan buah-buahan yang dapat dimakan; ada pula tanaman merambat, tumbuhan beledu, sampai jamur dan lumut; tidak ketinggalan pula hewan, burung dan unggas. Semua mahluk yang hidup ini bertahan dan tetap eksis karena adanya salingketergantungan antara satu dengan yang lain. Masing-masing mereka ada karena keberadaan yang lainnya. Mereka saling menghormati sesuai dengan bagian dan porsinya masing-masing. Lumut, benalu atau humus, rayap dan semut sekalipun, tetap saja ada manfaatnya bagi kelangsungan hidup keseluruhan ekosistem di hutan itu.

Sekarang perhatikan juga sebuah pohon. Suatu pohon yang tumbuh menjulang tentunya bermula dari akar di dalam tanah dan batang yang tegak dan kokoh. Pohon yang sehat akan menghasilkan bunga dan buah yang bermanfaat bagi mahluk lain. Semua itu bermunculan dari cabang dan ranting yang menyebar secara merata dari sebuah pohon. Di dalam khasanah yoga, akar dan batang pohon adalah fondasi filosofis Ashtanga Yoga dari Patanjali, yaitu yama dan niyama, suatu latihan disiplin diri dan pemahaman moral dalam hidup bermasyarakat, seperti: ahimsa = tidak melakukan tindak kekerasan; satya = kejujuran; asteya = tidak korupsi, menumpuk harta, atau mencuri apapun dari yang bukan haknya; brahmacharya = kontrol diri dari tindakan asusila; aparigraha = hidup sederhana sesuai kebutuhan.

Sedangkan batang pohon yang bentuknya beragam, ada yang lurus, lengkung, zig-zag, memanjang, bengkok, semua dinamakan cabang dari batang pohon. Itulah analogi asanas; postur yoga. Asana yang diajarkan guru-guru dari berbagai aliran itu tentunya sama, demikian juga nama-nama dari asana itu sama persis. Sekadar menyebut contoh dari asana dalam bahasa sanskrit: tadasana atau postur gunung, bhujangasana sebagai postur ular, salabasana berarti postur belalang dalam bahasa Indonesia, atau postur pohon adalah vrkasana jika disebut oleh guru yang menggunakan bahasa sanskrit.

Di dalam praktisi yoga, melakukan rangkaian postur-postur yoga bisa terlihat juga keragamannya pada style atau aliran, atau tradisi dalam Hatha Yoga. Sekadar menyebut aliran yang dikenal di Indonesia adalah: Classic Hatha Yoga, Yin Yoga, Yin-Yang Yoga, Sivananda Yoga, Iyengar Yoga, Hatha Iyengar, Ashtanga, Vinyasa Flow, Bikram atau Hot Yoga, Jivamukti, Anusara Yoga, Kundalini, Sri-Sri Yoga, Ananda Marga, Yogalates, Funky Yoga, dan lain sebagainya yang masih banyak sekali. Semua dalam kerangka Hatha Yoga, untuk sekadar membedakan dengan Raja Yoga, yang dalam masa awal perkembangan yoga, filsafat atau seni hidup ini, menekankan pengajarannya pada kontrol mental (mentally controle) dan nilai-nilai moral dengan prakteknya lewat meditasi dan sistem perkuliahan (talk).

Jika yoga center memberi pengajaran filosofi yoga, selain hanya asana, latihan gerak postur yoga, dan pranayama atau latihan pernafasan tentunya akan sama bahan yang diajarkan. Aliran dalam yoga ini seperti kulit buah pisang, sementara yoga itu sendiri adalah daging dari buah pisang yang kita makan. Ada orang yang lebih suka pisang ambon, atau pisang mas, sementara ada yang karena mengidap sakit tertentu dokter malah melarangnya, atau ada juga orang yang sangat suka makan pisang goreng ketika sedang panas kinyis-kinyis seperti selesai diangkat dari penggorengan, ada yang ketika makan lebih senang diiringi dengan musik, ada yang merasa tidak masalah kalau makan pasang sambil jalan atau lompat-lompat. Semua dikembalikan kepada masing-masing peserta yang seleranya beragam.

Yoga itu juga dapat dianalogikan sebagai spiritualitas dan aliran-aliran dalam yoga sebagai agama yang terorganisir (organized religion). Aliran yoga dan agama itu dicocok-cocokan. Adalah sesat pikir yang besar kalau seorang guru yoga, atau suatu aliran yoga yang mengklaim yoganya akan cocok untuk semua orang, dan karenanya sebagai yang paling baik, the best style. Hubungan antara praktisi yoga dengan style yang mereka ikuti persis seperti pengikut suatu agama. Ada yang mengikuti tradisi atau ritual agama dengan sangat ketat, tapi ada juga berpikir sangat progresif dan liberal, atau ada juga yang beragama dengan mengambil bentuk fundmental di satu sisi, dan sekular di sisi lainnya.

Terhadap perbedaan itu, alangkah baiknya kalau para praktisi bisa menerima dan terbuka terhadap keberagaman. Tidak perlu yoga center atau para instrukturnya menuntut sikap fanatik dan kataatan tanpa reserve pada anggotanya untuk hanya berlatih pada satu style, kemudian membuat perjanjian dengan studio lainnya secara ekslusif, untuk hanya berhubungan berdua, tidak diperkenankan lagi berhubungan dengan studio selain dengannya. Jika ini dipahami, sesungguhnya yoga dapat mengajarkan kita untuk lebih bersikap pluralis, bukan malah membangun benteng puritansi.

Pesan yang dibawa yoga sifatnya sangat universal, tidak membedakan agama, jender, ras, golongan, usia, status sosial, atau label-label lainnya. Semua dapat berlatih yoga. Semua punya hak yang sama untuk mengambil manfaat dari yoga. Sudah saatnya para praktisi yoga menderadikalisasi cara berhubungan dengan guru dan tradisinya dengan mengikuti salah satu pilar atau koridor dalam berlatih, yaitu vairagya, detachment, ketidakmelekatan.

Memang tidak dapat dipungkiri, dan hampir pasti bahwa dalam melakukan asana, setiap aliran yoga bisa sangat berbeda. Ada yang setiap postur dilakukan dengan harus menahan sekitar dua atau tiga menit atau bahkan lebih disertai dengan penjelasan untuk melakukannya dengan informasi yang banyak, ada yang perpindahan geraknya dari satu postur ke postur lainnya dalam satu rangkaian yang dilakukan dengan cepat dan melompat, ada yang mensyaratkan harus berlatih dalam suhu panas tertentu untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Semua sah-sah saja, tidak ada yang salah atau lebih benar. Masing-masing tentunya mempunyai alasan filosofis dibalik melakukan itu semua. Sekali lagi, semua masih melakukan postur yoga yang sama. Semua pilihan dikembalikan ke masing-masing peserta, praktisi yoga yang melakukannya. Namun perlu diingat, untuk orang yang baru akan memulai berlatih yoga, sebaiknya sebelum bergabung ke suatu yoga center carilah sebanyak mungkin informasi untuk menentukan kelas yang paling sesuai dengan minat, harapannya dan karakter atau kepribadian diri sendiri.

[Bersambung]

Dari Paus hingga Dewa Mabok

Instuktur Dewa Mabok itu, tidak merasa terbebani jika harus menimba ilmu lagi dari berbagai guru senior dari tradisi yang beragam.

—– Yudhi Widdyantoro

Karena peran sentral pengajar, atau guru yoga dalam sebuah yoga center, beberapa guru merasa mendapat amanat untuk menjaga kemurnian suatu tradisi atau style dari yoga yang telah mereka pelajari begitu dia deperkenankan mengajar. Dengan semangat partisan manusia besi, si guru menjalankan aturan dengan pengawasan ketat seperti penjara Alcatraz. Guru seperti itu menginginkan murid-murid yang belajar padanya melakukan yoga secara kaffah, menyeluruh, seperti aslinya di India sana tanpa kurang apapun, termasuk juga suasananya, sejak mereka memasuki center sampai meninggalkan pelataran parkir: seperti harus membaca invocation, pengucapan mantra yang nadanya harus persis seperti di India sana, instruksi-instruksi yang guru berikan: harus dengan suara keras yang cederung berkesan galak, properti atau alat-alat bantu dalam berlatih yang juga langsung didatangkan dari India, pakaian yang dikenakan ketika mereka mengajar sepertinya harus sama dengan yang dikenakan guru mereka di India.

Di Jakarta ini, guru-guru yoga center di atas sudah bak ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek) dan bertindak seperti seorang Paus dalam Katolik. Kepada murid-muridnya, guru di yoga ATPM itu membuat aturan yang sangat ketat, bahwa sekali si murid ikut menjadi muridnya, haram hukumnya belajar di yoga center yang lain selain di centernya. Baginya, barang siapa yang telah dipersatukan oleh sang guru tersebut tidak dapat dipisahkan lagi selain atas ijinnya. Ikatannya mirip seperti perkawinan dalam agama Katolik. Guru tersebut sering meng-claim bahwa aliran yoga yang diajarkan sebagai “yang terbaik” di setiap ada kesempatan. Dia dan pengikutnya sepertinya menganggap sebagai “umat pilihan”. Karenanya: “Kami harus eksklusif!”, begitu sepertinya keinginan mereka yang tersembunyi. Berani tampil beda, hanya “menyembah” pada satu “Tuhan”, yaitu guru besarnya yang telah menjadi legenda.

Setiap ada kesempatan–dalam kelas ketika mengajar atau menulis di media—para guru itu melulu mengutip dan menjejali kisah-kisah kehebatan gurunya, The Great Master, tersebut. Bahkan, guru kategori ATPM ini, segera setelah mendapat sertifikat yang paling awal, sudah berani membuat program “pencetakan” guru-guru yoga di center-nya dengan membuka kelas menjadi guru (teacher training). Dalam sistem parokial ini, Paus berarti hanya ada satu, atau jika dalam wilayah maka hanya ada satu Kardinal, jika ada orang lain yang juga maunya membawa ajaran yang sama, tentunya akan dianggap sebagai kompetitor yang berhak untuk dilenyapkan.

Padahal, sehebat-hebatnya guru yoga di suatu tempat, sekarang ini, kalau dirunut, tidak akan jauh-jauh, bersumber dari aliran yoga yang telah dikembangkan oleh Krishnamacarya, Shri Sivananda, BKS. Iyengar atau Shri Patabijois, tidak ada yang origin, asli hasil temuannya sendiri.  Karena belum ada asosiasi resmi, seperti di kota-kota di Amerika atau negara Barat lainnya yang tradisi beryoganya sudah lebih berpengalaman, dan karena tidak ada wasit yang menengahi, persaingan rebut pengaruh dan pembunuhan karakter di antara guru dalam tradisi yang sama menjadi tak terlelakkan, dan menjadi kisah menarik seru tersendiri, persis seperti dalam kisah silat shaolin.

Sementara guru-guru yoga di fitness center umumnya berpengalaman terlebih dahulu menjadi pelatih aerobic, taebo, body combat, body building dan sejenisnya yang riang dinamis. Mereka mengisi kebutuhan demand kelas yoga yang kurang di-supply oleh pelatih yoga yang sangat kurang banyak. Tidak jarang sekarang, guru yoga di Jakarta ini banyak yang berbadan gempal, tegap dan atletis. Kalau mereka berbicara di luar kelas, sangat antusias, provokatif, berapi-api diselingi humor seperti ketika sedang memberi instruksi kelas aerobic yang seperti beriringan dengan musik menghentak yang menyertainya. Selain para pengajar yoga saat ini usianya semakin memuda, seperti juga kecenderungan pada orang-orang yang berlatih, cukup menggembirakan bahwa pendidikan formal mereka banyak yang lulusan pascasarjana luar negeri dari negara-negara Barat, sehingga seharusnya lebih bernalar baik. Banyak dari mereka bergelar MBA, ahli dalam manajemen bisnis, selain ada yang masih aktif bekerja sebagai profesional di perusahaan multinasional; bahkan, tidak sedikit yang telah meninggalkan dunia kerja kantoran dan memilih mengajar yoga sebagai sebuah profesi

Pada sisi ekstrim yang lain, ada juga instruktur yoga yang tidak membawa ikatan pada tradisi atau asosiasi apapun. Mereka hanya berpikir bahwa segala tradisi, betapapun hebat inventor atau guru besar dari salah satu style yoga, dan betapapun style itu cukup memengaruhi cara instruktur tersebut mengajar, tetap saja berpotensi menghambat proses liberation atau kebebasan dan realisasi diri, seperti tertulis dalam teks-teks lawas kitab yoga. Oleh karenanya, dia melepaskan semua ikatan itu. Kebebasan dan kenyamanan mengajar baginya adalah yang paling penting, dan mungkin menjadi obsesinya.  Mungkin mirip pendekar Dewa Mabok (Drunken Master) dalam film laga Shaolin. Instuktur Dewa Mabok itu, tidak merasa terbebani jika harus menimba ilmu lagi dari berbagai guru senior dari tradisi yang beragam, lewat berbagai pelatihan yang diselenggarakan di yoga center yang bermacam-macam. Dia pun membuka diri untuk belajar ilmu lain yang komplementer bagi yoga, seperti meditasi atau juga anatomi tubuh, atau seperti pengikut agama yang inklusif, atau juga pada pengikut New Age.[MFR] 

Santri Yoga, Ngaji Yoga Sutra

Segala ihwal di dalam pesantren adalah ‘teks’ berharga yang harus dipelajari dengan penuh kesabaran dan tanpa keluhan.  Jadi seperti yoga, “ngaji” dalam tradisi santri adalah perihal mencari sesuatu yang berharga di balik kedukaan maupun kebahagiaan.  

—- Yudhi Widdyantoro

Saya akan membahas tentang complaining, mengeluh. Kenapa seseorang bisa mengeluh dapat diulik dari sumber keluhan yang berasal dari dalam diri, yaitu pikiran. Masalah pikiran dalam kajian yoga di Indonesia jarang sekali dibicarakan. Pembahasan paling sering adalah soal olah fisik, asana. Kalau kita ikuti sejarah perkembangan yoga, jauh sebelum postur-postur yang tidak jarang aneh dan terkesan akrobatis itu dikenal –dan dikatakan mempunyai manfaat yang banyak, sistem pengajaran yoga bermula dari pembahasan tentang pikiran, olah batin—dikenal dengan Raja Yoga. Bahkan arti kata yoga sendiri, seperti dalam Yoga Sutra of Patanjali, adalah cessation from the movement of the mind, seni menghentikan pikiran yang bergerak, selain istilah yang sudah menjadi basi: union. Union of our mind, body, and soul. Seperti juga arti dari Nirvana atau Nibbana, yang artinya padamnya pikiran, padamnya keinginan atau keadaan tanpa diri, tanpa ego. Dengan padamnya keinginan kita akan masuk dalam keadaan svatantriya, kebebasan yang dinamis dan tidak terikat. Kebahagiaan yang tertinggi.

Mengeluh dan melenguh-nya sapi memang seperti sebelas dua belas. Mirip-mirip. Sapi melenguh karena bereaksi terhadap sesuatu, biasanya karena ketidak-nyamanan yang dia rasakan, dari keenakan yang tiba-tiba terusik. Begitu juga kita manusia. Manusia mengeluh karena dihampiri rasa ketidaknyamanan.

Sepertinya sudah menjadi kebiasaan di banyak tradisi, adat atau budaya untuk mengeluh. Bukan hanya adat dan budaya, di setiap tingkat sosial, di komunal pun pernah mendengar keluhan orang lain, atau diri sendiri yang mengeluhkan sesuatu. Kalau disadari, mengeluh adalah indikasi dari menculnya ketidakpuasan, yang berarti, bersamaan dengan itu, hilangnya rasa kebahagiaan. 

Coba perhatikan pikiran kita sehubungan dengan fenomena yang terjadi dalam seminggu ini dengan adanya demo penolakan UU Omnibus Law, atau sedikit ditarik lebih jauh ke belakang sejak wabah korona merebak. Coba perhatikan irama keseharian kita beryoga. Begitu kita keluar rumah dan di jalan, dihadapkan pada kemacetan, kita akan mengeluh. Keluhan itu akan termanifestasikan dengan terciptanya orkestra bunyi klakson dari mobil dan motor. Sesuatu yang lumrah karena kemacetan di Jakarta sudah luar biasa. Sampai di gedung yang kita tuju, studio yoga, fitness center yang ada di dalam mal, kita susah mendapatkan parkir, kita mengeluh. Normal. Masuk ke studio, ke kamar ganti, sampai masuk ke ruangan, mungkin sekali bertemu dengan orang-orang yang tidak kita harapkan, atau banyak hal-hal yang tidak kita inginkan lainnya, biasanya kita akan mengeluh. Mengeluhkan pada studio yang mungkin kurang mewah dibanding rumah kita yang lebih mentereng, karyawan studio yang tidak seperti pembantu di rumah kita yang siap diperintah. Sekali lagi wajar-wajar saja. Di kelas yang kita ikuti, walaupun kelas itu adalah kelas favorit kita, baik style maupun gurunya, pasti tidak seluruh waktu latihan itu kita senang terus. Perhatikan dan sadari rasa-rasa itu semua detik demi detik. 

Mungkin ada postur-postur yang dinstruksikan guru untuk dilakukan, namun karena bakan postur favorit dan tidak sering kita lakukan, kita akan mengeluh. Ada keengganan untuk melakukannya. Jika instruktur meminta agar postur dilakukan dengan menahan lebih lama dari biasanya, di pikiran kita timbul berbagai keluhan. Jika posturnya kurang menantang, di dalam hati kita menuntut agar si instruktur untuk memberi postur-postur yang dapat memuaskan “dahaga asana”-nya. Memang bagi sebagian orang, baru merasa beryoga dengan “benar dan sesungguhnya” bila dapat melakukan postur aneh yang menuntut kelenturan yang tinggi, atau kekuatan yang super, seperti badan dilipat-lipat seperti karet, atau dapat melakukan headstand 10 menit lebih, dan sebagainya, dan seterusnya. Di dalam Yoga Sutra Patanjali, penjelasan tentang asana hanya satu kalimat, dan hanya itu :”stiram sukkham asanam”, lakukanlah postur dengan mantab dan nyaman. Tapi publikasi di media, di buku dan majalah, dvd dan tivi, telah menghipnotis jutaan pengikut yoga dengan tampilan postur yang super susah, sehingga timbil keinginan untuk menirunya.

Ketika timbul pikiran untuk meminta lebih, sesunguhnya ini adalah cermin dari sikap kita yang jauh dari sabar. Ada pemberontakan dalam diri kita. Kalau saja kita tidak dapat mentoleransi peristiwa yang ada di hadapan kita, keadaan yang kita sedang alami saat ini, kita akan terikat terus pada lingkaran keinginan. Diperlukan sedikit sikap sabar, karena kesabaran, tidak mengeluh, akan membawa rasa ringan dalam diri kita. “Patience means staying in a state of balance regardless of what is happening, staying easy, relaxed and alert”, kata Joseph Goldstein dalam buku mungilnya “Settling Back Into The Moment”.

Keinginan untuk menjadi super, termasuk merasa seolah berpengetahuan banyak, bisa membawa kita terperangkap pada keinginan yang tak berkesudahan. Bersikaplah sederhana. Mengutip salah satu filsafat hidup Tao yang sejalan dengan filsafat hidup yoga “satya”, contentment, di mana pengertian ‘tidak mengeluh’ terangkum di sini: “Kebaikan tertinggi seperti air yang memelihara benda seperti tanpa berusaha. Ia puas dengan tempat-tempat rendah yang dihina orang. Dalam berumah, tinggallah di dekat tanah. Dalam berpikir, tetap sederhana. Dalam bertikai, adil, dan murah hatilah. Dalam memerintah, jangan berusaha mengendalikan. Dalam bekerja, kerjakan apa yang engkau nikmati. Dalam kehidupan keluarga, jadilah sekarang yang sepenuhnya. Bila engkau puas menjadi dirimu saja dan tidak membandingkan dan tidak bersaing, setiap orang akan menghargaimu”.

Perihal ‘tidak mengeluh’, barangkali kita perlu belajar dari teman saya yang pernah ‘mondok’ di sejumlah pesantren. Baginya, mondok di pesantren bukan soal pintar ilmu agama, tapi lebih sebagai menempa atau melatih diri (riyadah). “Saya ingat betul, di awal mondok dulu orang tua pernah bilang: ‘Aku memondokkan kamu bukan supaya kamu pintar, tapi agar kamu bisa riyadah di sana!’” tuturnya. Maka segala keterbatasan atau ketidakpuasan di pondok pesantren tidak ia hadapi dengan keluhan. Tidur berdesakan di kamar sempit, bangun sepertiga malam sambil menahan ngantuk, atau makan ala kadarnya dihadapi dengan riang gembira. Maka tak jarang kita mendengar kredo di kalangan santri: “Semakin ‘menderita’ di pondok, semakin bagus buat masa depan santri”.  


Istilah “ngaji” dalam dunia pesantren berasal dari kata “aji”. Sesuatu yang dimuliakan, sakral, terhormat, mahal, atau “jimat”, semacam benda pusaka. Yoga Sutra Patanjali dalam dunia yoga adalah referensi utama, seperti kitab suci, dengan sutra bisa dipadankan dengan ayat. Proses pembuatannya mungkin seperti membuat undang-undang, karenanya “sakral”. Praktisi yoga yang non-sanskrit speaking hanya bisa mendekatinya, menginterpretasi teks-teks dari berbagai disiplin, semacam studi intertekstual, tidak bisa menambahkan atau mengurangi. Tapi bagi teman saya yang santri itu, “ngaji” bukan melulu soal mendalami teks-teks keagamaan. Segala ihwal di dalam pesantren adalah ‘teks’ berharga yang harus dipelajari dengan penuh kesabaran dan tanpa keluhan.  Jadi seperti yoga, “ngaji” dalam tradisi santri adalah perihal mencari sesuatu yang berharga di balik kedukaan maupun kebahagiaan.   

Selamat Hari Santri Nasional!

Kapitalisme dan Jajanan Spiritualitas

Asketisme agama ini menjadi salah satu jalan masuk adanya perselingkuhan kapitalisme dengan dunia spiritual.

—- Yuddhi Widdyantoro

Yang menarik diamati dari perkembangan kehidupan keagamaan di tanah air ini adalah, bersama dengan meningkatnya kesalehan orang beragama, dan atau aktif pada kegiatan spiritual, kegiatan ekonomi kapitalis juga menonjol, kalau tidak dikatakan sangat agresif. Kegiatan perekonomian (neo) liberal ini sudah semakin telanjang dan menyebar ke segala penjuru. Peran dan daya kontrol negara pada penguasaan sumber daya alam kekayaan bangsa yang menjadi hajat hidup orang banyak sudah mengendur daya cengkeramnya, walaupun pada konstitusi dikatakan bahwa negara berhak menguasainya. Bagaimana penjelasan perselingkuhan logika kapitalisme dan agama quasi spiritual ini?

Marx, Weber, dan Anand Krishna

Inti logika kapitalisme ada pada etika Protestanisme, seperti dikatakan Max Weber dalam kredo Summum Bonum, “Bekerjalah segiat mungkin, tapi jangan kau umbar hasilnya agar kau dapat mendapat Kasih Tuhan, jadi nikmati hasilnya sesedikit mungkin”. Adanya represi pemuasan kenikmatan memperjelas keberadaan aura transendental kapitalisme di sini, seperti dalam agama Islam yang mengatakan bahwa pada setiap harta yang dimiliki oleh ummat, ada terkandung hak untuk anak-anak miskin yang kurang beruntung.

Asketisme agama ini menjadi salah satu jalan masuk adanya perselingkuhan kapitalisme dengan dunia spiritual. Berbeda dengan Weber yang merayakan agama secara positif, Karl Marx beranggapan agama bersifat intsrumental terhadap kapitalisme, sesuai pengamatannya pada kerja dan cara menikmatinya. Adanya jurang antagonisme kelas buruh versus pemodal yang mengakibatkan alienasi buruh, dan pada gilirannya, mereka kemudian melarikan diri pada Tuhan atau agama. Tuhan, pada akhirnya, seperti dikatakan Feurbach menjadi proyeksi atas keinginan-keinginan manusia marjinal yang telah teralienasi.

Adanya krisis kepercayaan diri membuat banyak orang merasa perlu dan membutuhkan Messiah, Ratu Adil, seseorang yang dapat membawa mereka pada jalan kebahagaian. Krisis sosial ekonomi pada jaman kontemporer ini menyebabkan orang-orang yang mengalaminya mencari-cari penyelesaian lewat berbagai cara sepanjang dapat menentramkan kegundahannya, baik lewat tokoh spiritual, atau aktivitas bernuansa agama dan spiritual, atau juga pelatihan motivasi diri dan hipnotis. Karena itu, tokoh spiritual seperti Anand Krishna, Osho atau Baghwan Rajnesh menjadi orang yang sangat digandrungi. Demikian juga para tokoh agama yang omongannya menjadi seperti mantra sakti yang siap diikuti walau rela mati.

Derivasi atau turunan dari ralasi Tuhan-tokoh-umat ini bisa juga dilihat dalam produk seni dan budaya sebagai interpretasi atau penjelasan pola pikir seperti itu. Tidak heran bila film-film hantu menakutkan, siksa kubur, atau religius romantis seperti “Ayat-ayat Cinta” menjadi sangat diminati sehingga perlu dibuatkan sequel-nya. Demikian juga pelatihan motivasi diri menjadi sangat laku, laris manis. Tokoh-tokoh pelatihan motivasi seperti Tung Desem Waringin, Ary Ginanjar, Mario Teguh, Andri Wongso menjadi seperti selebritis dengan penghasilan seperti pemain sepak bola liga Inggris. Jika melihat pola kerja di atas, mungkin bisa juga diberi perhatian bisnis MLM (multi level marketing) yang tak kalah gegap-gempitanya menjalar pada kelompok-kelompok keagamaan.

Hypermarket, Pasar Senen, dan Pengasong

Dari demikian banyaknya yoga center, jika dilihat dari peran mereka dalam membuat demam yoga melanda Jakarta, akan terlihat beberapa perbedaannya. Ada yang seperti warung kue subuh di Pasar Senen, karena kue-kue yang mereka jual akan dijual lagi di toko tingkat kampung. Yoga center  yang seperti toko kue Pasar Senen contohnya adalah Jawaharlal Nehru Indian Cultural Center (JNICC), Ananda Marga, Rumah Yoga dan Art of Living. Yoga centers ini bisa dibilang sebagai perintis yoga center yang sesungguhnya di Jakarta, dalam arti, kalau dianalogikan dengan komoditas barang dagangan, yang mereka “dagangkan” hanya satu komoditas, yaitu yoga.

Banyak peserta yoga yang berlatih di sini yang merasa sudah pintar, dengan rutin beratih dalam jangka waktu tertentu, walau tanpa melalui proses pelatihan menjadi guru (teacher training) mereka memberanikan diri melatih di kelas-kelas yang mereka bangun. Seperti pedagang kue di kampung yang belanja subuh-subuh di Pasar Senen, mereka mendagangkan kue tersebut di kampung daerah mereka tinggal, atau mengajar berdasar permintaan, mirip seperti pengasong keliling.

Mereka tidak mempunyai ikatan pada asosiasi atau satu center tertentu. Materi yang diberikan pun tidak ketat, bisa dikembangkan atau digabung dengan tradisi atau latihan sport lainnya, baik itu pilates, taebo, senam jazz dan lain sebagainya sesuai hasil pengembaraan guru-guru tersebut. Karena ada selisih waktu, tentunya pembeli di kampung tidak akan memakan kue se-fresh kalau beli subuh hari dan langsung makan di tempat, belum lagi ada margin keuntungan yang diambil dari pedagang antara tersebut.

Sedang dari kelas yang ditawarkan, beberapa center memfasilitasi beragam aliran atau style yoga dari beragam tradisi dalam Hatha Yoga: baik Hatha yoga klasik, Ashtanga yoga, Bikram yoga, atau Iyengar yoga, dan lainnya lagi. Tetapi ada juga yang mengkhususkan hanya mengajar satu style dengan ketat memegang tradisi, lebih mirip seperti agen tunggal pemegang merek (ATPM). Sementara di satu sisi yang lain, beberapa center telah membuka lebar-lebar jendelanya menjadi “partai terbuka”. Tentang keterbukaan center, beberapa yoga center bergerak ke ekstrem satunya dibanding dengan ATPM.

Center-center ini bahkan cenderung menjadi Hypermarket dimana yoga hanya menjadi salah satu dari beragam kegiatan oleh raga, seperti banyak ditemui di fitnes centers. Yoga yang diajarkan di sini menjadi sangat compact, dimodifikasi dengan olah fisik lainnya dan disesuaikan dengan iklim dan suasana di tempat itu, seperti penggunaan musik, gerak yang harus dinamis, waku berlatih yang menjadi lebih singkat. Peserta yoga yang berlatih di sini pun harus mengikuti aturan yang tidak tertulis, yaitu bawa mereka harus siapkan mental: “melihat dan sekaligus dilihat”.

Permodalan: Konglomerat vs Handphone

Dalam hal permodalan, seperti disingung di atas bahwa untuk mendirikan studio yoga, atau yoga center tentunya diperlukan investasi yang besar, karena itu para pemilik yoga center  tentunya para the haves, yang beberapa dari mereka membuat yoga center hanyalah investasi percobaan dari usaha perluasan konglomerasi bisnisnya. Namun demikian, menjalankan kelas yoga tidak melulu harus dengan modal besar dan di studio yang lavish atau mentereng, karena ada beberapa individu yang benar-benar karena kecintaannya pada yoga dan kebetulan punya modal, dengan segala risikonya dia bangun yoga center.

Ada juga yoga center yang malu-malu mengiklankan dirinya, tidak secara terang dengan beriklan di media massa, tapi telah rutin menggelar kelas berlatih yoga dengan murid yang cukup banyak. Beberapa instruktur yoga mendapatkan order mengajar karena seseorang telah merekomendasikan namanya kepada orang yang ingin berlatih secara privat, atau juga di yoga center tempat mereka mengajar. Modal instuktur seperti itu hanyalah handphone dan perlengkapan mengajarnya yang selalu dibawa-bawa, seperti matras, celana pendek dan kaos, serta kendaraan untuk moda transportasinya.[MFR] 

Cerita Tiga Kota: Kerikil Bom dalam Sepatu Laos (1)

Terik matahari menggiring saya untuk mencari keteduhan di bawah rindang pohon bodhi di depan dhammasala sambil mengagumi keindahan bangunan yang terawat baik di hadapan saya itu, atau bergantian duduk di bawah atap vihara sambil memandangi daun-daun pohon bodhi yang bergerak oleh angin.

—– Yudi Widdyantoro

Hujan mengiringi perjalanan malam saya dari Vientiane ke Luang Prabang. Dari bis VIP ber-AC yang tidak terlalu penuh penumpang, tidak terlihat pemandangan Laos—negara termiskin di wilayah Asia Tenggara yang bersama Vietnam dan Kamboja pernah berubah menjadi ladang pembantaian dalam perang Indochina. Karena gelap, di luar jendela bus, perjalanan yang menempuh 11 jam tidak memberikan kesan sisa-sisa kerusakan akibat perang yang menewaskan jutaan manusia mati sia-sia.

Luang Prabang

Hari masih gelap sesampai saya di Luang Prabang. Hujan yang belum berhenti seperti memberi ucapan selamat datang di kota tua yang tertata dengan baik, dan merawat “ketuaanya” dengan sepenuh hati. Saya pinjam payung dari ibu pemilik Choumkong Guesthouse yang diklaim buku Lonely Planet sebagai yang mempunyai kloset terbersih di seluruh kota. Pagi itu, saya mulai dengan minum mix juice di café tepi sungai Mekong.

Seiring hujan yang mereda, sinar matahari mulai menombaki meja-meja deretan café sepanjang sungai yang menerobos dari celah-celah dedaunan. Lambat-lambat mulai tampak fisik kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan zaman monarki. Di hadapan saya, terbentang pemandangan menawan: bangunan beraroma kolonial Perancis yang menjadi restoran dan guesthouse, bergantian menyembul dengan biara-biara tua buddhis dengan arsitektur khas Indochina. Mulai banyak orang lalu-lalang memikul keranjang. Sambil tersenyum, terkadang disertai anggukan kepala atau badan merunduk serta telapak tangan terkatup di depan dada sebagai tanda hormat, mereka menyapa: “Sabaii-dii, sabaii-dii…”. Saya tersadar bahwa Luang Prabang yang menjadi tujuan utama datang ke Laos seperti menyilakan saya untuk segera dieksplorasi.

Menyusuri sedikit jalan di pinggir sungai, saya berbelok melalui jalan kecil yang tersusun dari batu bata merah untuk masuk ke Royal Palace Museum, sebuah museum yang memiliki kebun bunga asri dan luas, tempat dulu pusat kekuasaan monorki berjalan. Sejak memasuki halaman, sudah terasa bahwa bangunan itu menyimpan sisa kemegahan masa lalu. Arsitekurnya adalah paduan antara motif tradisional Laos dan bergaya seni Perancis. Setelah membayar tiket sebesar 30.000 kip (1 US$ = 8.500 kip), saya mulai menyambangi setiap ruang tempat dimana raja-raja Loas dulu tinggal sebelum mengungsi atas desakan Pathet Lao, sayap militer perjuangan rakyat Loas berhaluan Marxist yang semakin kuat pada dekade 70-an.

Tepat di tengah bangunan utama adalah singgasana raja yang terbuat dari emas. Dengan tetap memberikan kedudukan terhormat pada pendeta buddhis sebagai penasihat spiritual, ada meja tempat duduk pendeta yang sedikit lebih rendah dan diletakkan hanya beberapa langkah dari kursi raja. Selain kamar tidur keluarga raja, sebagian besar ruangan adalah tempat menyimpan benda-benda peninggalan dinasti kerajaan selama berkuasa, seperti pada umumnya alih fungsi istana yang telah dibuka untuk publik pariwisata di masa demokrasi modern menggantikan raja-raja. Bagi masyarakat lokal museum ini adalah bangunan yang menyeramkan. Mereka mempercayai sering terjadi penampakkan arwah keluarga raja.

Masih dalam kompleks istana, di bangunan yang terpisah bagian belakang adalah tempat menyimpan koleksi mobil-mobil raja dengan tahun pembuatan yang paling baru adalah Crysler tahun 1965. Ada empat mobil semuanya dengan peruntukan yang berbeda. Hampir sejajar dengan museum mobil, di bangunan yang lain adalah function hall yang ketika saya kunjungi sedang berlangsung pameran foto hitam putih karya fotografer dari Perancis tentang kehidupan rahib buddhis dalam biara.

Sambil mencari makan siang hari, saya menyusuri jalan utama yang pararel dengan sungai Mekong. Pengaruh Perancis yang pernah berkuasan di Indochina ini masih terasa dengan kuat. Setiap memasuki jalan baru, akan tertulis kata rue di penunjuk nama jalan yang artinya ‘jalan’ dalam bahasa Perancis. Dari bangunan, utamanya untuk restoran dan menjual kerajinan, aroma Perancis masih kental tercium. Demikian juga makanan, baguette, roti panjang khas Perancis, akan dengan mudah sekali mendapatkan.

Di restoran kecil depan vihara Wat Xieng Thong yang dipenuhi penduduk lokal, saya makan noodle soup dengan porsi yang jumbo. Selesai makan, saya segera memasuki kompleks vihara yang dibangun pada 1560. Walaupun berusia hampir 500 tahun, vihara ini masih berdiri dengan kokoh, termasuk juga fresco atau mural yang merepresentasikan ajaran Buddha di dinding dan langit-langit, masih nyata terlihat. Bukan hanya dhammasala, bangunan utama untuk meditasi dan persembahyangan yang terawat dengan baik, namun bangunan lain di dalam kompleks, seperti kuti atau tempat tinggal bhikhu, pendeta dan rahib juga masih asri dan bersih. Terik matahari menggiring saya untuk mencari keteduhan di bawah rindang pohon bodhi di depan dhammasala sambil mengagumi keindahan bangunan yang terawat baik di hadapan saya itu, atau bergantian duduk di bawah atap vihara sambil memandangi daun-daun pohon bodhi yang bergerak oleh angin.

Menjelang sore saya menapaki anak-anak tangga menuju vihara Phousy yang ada di puncak bukit. Dari seberang Royal Palace, anak tangga pertama bisa dimulai di pintu masuk ini, gratis. Pada anak tangga ke-105 baru ada petugas yang meminta membayar tiket sebesar 20.000 kip untuk sampai ke puncak bukit. Viharanya ada di atas tanah datar yang tidak terlalu luas, setelah kita menyelesaikan anak tangga yang berjumlah 300. Rasa lelah dan kesal menaiki bukit, segera terbayar oleh pemandangan indah seluruh kota. Susunan atap biara-biara yang selalu berjumlah ganjil, umumnya tiga atau lima, memberi impresi yang sangat menarik bila dilihat dari atas dan di kejauhan. Di halaman vihara ini kita akan mendengar beragam bahasa yang dituturkan pengunjung yang datang dari bermacam bangsa. Mereka sama-sama menanti matahari tenggelam. Udara sedikit mulai dingin oleh hembusan angin. Tidak ada peristiwa dramatis, tapi sekadar terpesona pada hal ihwal di sekitar kita, bahkan pada yang remeh-temeh. 

Sebelum gelap menghalangi jalan turun, saya menapaki anak tangga menuju pasar malam di sepanjang jalan di bawah bukit Phousy ini. Sesampai di bawah, seluruh badan jalan sudah dipenuhi lapak-lapak barang dagangan, hanya menyisakan selebar badan orang untuk berjalan. Pasar malam sifatnya seperti festival, mempertemukan beragam latar belakang juga kepentingan, antara penjual dan pembeli, turis berduit pemborong cendera mata, pengelana miskin seperti saya, backpacker yang sekadar ingin tahu, tentu ada fotografer pemburu momen, ada juga penjudi yang beradu permainan ketangkasan, tapi yang jelas semua ingin kegembiraan.

Tidak hanya di badan jalan, lapak juga merambah masuk ke halaman kompleks biara di sekitar istana. Para rahib buddhis tidak ketinggalan membuka stan untuk sekadar mendapatkan donasi. Di gang sedikit becek dan dipenuhi oleh pedagang makanan, saya menyantap dengan nikmat ikan bakar bersama lao vegetable salad dan sedikit ketan, serta menutup makan malam dengan sebotol kecil beer lao, salah satu bir paling enak yang pernah saya minum. Makanan asli Laos pada umumnya hampir mirip rasanya dengan makanan Vietnam atau Thailand. Demikian juga cara penyajiannya.

Pagi berikutnya, jam lima dini hari saya sudah menunggu di pinggir jalan untuk menyaksikan prosesi pindapata, ketika 325 pendeta dan rahib buddhis yang masih muda-muda, dengan jubah warna kuning kunyit separuh bahu terbuka berjalan mengumpulkan derma makanan dari penduduk. Di pinggir jalan, kaum perempuan sudah menunggu dengan keranjang berisi ketan untuk diisi ke mangkuk-mangkuk metal yang dibawa orang-orang suci tersebut. Dalam diam dan langkah yang pelan, mereka para rahib buddhis mendapat makan untuk konsumsi sampai siang hari, begitu setiap harinya. Prosesi itu dimulai dari Wat Xie Thong menyusuri jalan utama ke arah Royal Palace dan kembali ke biara melewati jalan lain yang paralel dengan sungai Mekong. Saya pikir tidak salah kalau UNESCO memasukkan Luang Prabang masuk dalam daftar warisan dunia.

Sambil jalan kembali menuju guesthouse, saya berhenti pada satu rumah yang pemiliknya, seorang ibu tua yang masih menyisakan garis kecantikannya sedang membeli panganan dari pedagang keliling. Banyak sekali makanan yang dijual itu sama persis dengan kue jajan pasar daerah Jawa: ketan hitam yang ditaburi kelapa parut dan gula pasir, ongol-ongol, gemblong, dan kue lapis pandan. Beruntung ibu itu masih berbahasa Perancis dengan baik, sementara bahasa Perancis saya sudah banyak lupa, tapi lumayan dapat membantu dalam berbelanja untuk sarapan pagi saya. Kue jajan pasar itu saya bawa ke warung angkringan di pasar pinggir sungai dekat kapal-kapal ditambatkan. Warung itu  menjual kopi dan teh serta makanan ringan. Seperti di Thailand dan Vietnam, cara menyajikan kopinya dengan menuangkan kopi kental yang telah diseduh dengan air panas terlebih dahulu ke dalam gelas yang berisi susu kental manis. Mantab sekali rasanya sarapan pagi saya itu sebagai bekal energi mulai melakukan tour kreasi sendiri dengan sepeda yang saya sewa dari pemilik guesthouse mengunjungi kampung-kampung dan keluar-masuk pasar mencoba keh-kueh khas lokal yang belum pernah saya rasakan, melihat-lihat anak sekolah bermain, juga vihara-vihara yang ada di luar pusat kota.

Saya tujukan kayuhan sepeda untuk mencapai vihara dengan stupa emas yang tampak cukup jauh dari bukit Phousy itu. Melewati kampung dan pasar, sering saya lihat, perempuan Laos melakukan menicure dan pedicure di banyak tempat oleh terapis yang memberikan jasanya dengan berkeliling. Di vihara stupa emas saya bertemu dua orang Italia, Valentina dan Daniela yang kemudian mengajak bersama-sama ke gua Pak Ou selepas makan siang.

Bersama juga satu kawan dari Indonesia, kami berempat menyewa perahu menuju gua. Dua jam melawan arus menyusuri sungai Mekong. Teringat film-film perang  Vietnam buatan Amerika: tentara Amerika yang sedang potroli sungai, ditembaki gerilya Vietcong dari semak-semak tepian sungai, tapi toh tentara di perahu yang hanya beberapa orang dapat membunuh ratusan gerilyawan. Di tengah perjalanan kami mengunjungi desa yang terkenal kepandaianya dalam membuat arak, Ban Xang Hai. Tidak disangka-sangka di gua yang tidak terlalu besar ini tersimpan patung Buddha dalam berbagai posisi yang berjumlah ribuan. Menjelang petang kami kembali ke Luang Prabang. Malam itu saya tutup dengan mengulangi “ritual” malam sebelumnya di pasar malam: sekadar jalan bersama orang yang berjejalan membeli souvenir, dan makan ikan bakar di gang becek dengan makanan penutup: kue lapis pandan hijau dan gemblong, tepung beras ketan berlumur gula jawa, hmmm…yummy! (MFR)

(Bersambung)

Yoga, Agama dan Coca-Cola

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari semarak gaya hidup beragama di tanah air ini. Sebagian orang beranggapan ini dipicu oleh peningkatan kesadaran orang yang beragama tersebut pada hal-hal yang subtil. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan pada kebenaran mutlak.

— Yudhi Widdyantoro

Dalam empat tahun terakhir ini, perkembangan tempat berlatih yoga (selanjutnya disebut yoga center) di Jakarta meningkat dengan pesat. Bahkan Jakarta jauh meninggali sesama kota-kota metropolitan di Asia Tenggara. Animo dan kegandrungan orang Jakarta—yang  berpenduduk delapan juta lebih—untuk beryoga menunjukkan grafik yang meningkat. Pemberitaan dan publikasi yoga di media, baik cetak maupun elektronik, seperti terus mengalir tiada henti.

Kalau sedikit ditarik lebih kebelakang, perhatian orang pada yoga atau “seni hidup dari timur” ini sudah menampakkan gejalanya di tengah dampak negatif krisis ekonomi nasional yang masif pada paruh dasawarsa 90-an. Dampak nyata dari kemerosotan ekonomi adalah penurunan pendapatan riil yang dialami sebagian besar penduduk seiring dengan angka pengangguran yang semakin menggelembung. Dari sini, krisis ekonomi tidak hanya menggoyahkan sendi perekonomian, namun juga kehidupan sosial, politik, bahkan kerukunan hidup bermasyarakat. Harga bahan pokok hidup yang meroket semakin mempersulit akses pada pelayanan kesehatan yang menjadi sangat mahal. Masyarakat semakin tidak berdaya (vulnerable) yang secara tidak langsung berpotensi memicu gejolak dan penyakit sosial. Selain berusaha mencari pengobatan yang relatif murah, masyarakat dilanda stres  menghadapi kenyataan bahwa pengobatan medis konvensioal dengan terapi obat-obatan kimia tidak cukup ampuh untuk menyembuhkan penyakit yang bersumber dari masalah psikis atau mental. Mereka mulai berpaling pada upaya mendapatkan kesehatan secara alami, salah satunya yoga. 

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari semarak gaya hidup beragama di tanah air ini. Sebagian orang beranggapan ini dipicu oleh peningkatan kesadaran orang yang beragama tersebut pada hal-hal yang subtil. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan pada kebenaran mutlak. Cak Nur—panggilan akrab Nurcholish Madjid—menyebutnya sebagai al-hanifiyyat al-samhah, yakni mencari kebenaran yang lapang dan toleran serta jauh dari sifat fanatik dalam beragama. Mereka yang sepaham dengan cara berpikir Cak Nur agak alergi pada fundamentalisme agama, karena mereka terbiasa beragama dengan cara inklusif. Kajian mereka lebih filosofis. Karenanya, perjumpaan atau dialog dengan agama lain bukan sesuatu yang tabu. Adanya semacam proses emanasi spiritualitas ini menjadi awal berkah bagi perkembangan yoga. Orang-orang seperti ini akan dengan ringan melangkahkan kakinya “melompati pagar tabu agama” untuk mengunjungi aktivitas keagamaan atau kegiatan spiritualitas dari agama atau tradisi yang berbeda.

Yang hampir sama dengan derap perkembangan keagamaan adalah gelombang kultural yang sangat konsern pada spiritualitas, yang biasa disebut New Age. Di Barat, New Age sudah marak di era 60-an hingga 70-an seperti kehadiran kelompok yang lebih dikenal sebagai flower generation (generasi bunga). Tapi entah bagaimana di Indonesia pada era 90-an gelombang New Age ini mulai dirayakan lagi. Panggilan “pengembaraan ke Timur” berdengung kembali. 

Vitamin lain bagi perkembangan yoga adalah kebiasaan yang dibawa oleh anak-anak Indonesia yang pernah belajar di luar negeri, khususnya Amerika Serikat. Anak-anak ini berasal dari keluarga A+, atau  kelompok paling atas dari menengah-atas, yang ketika sekolah atau tinggal di Amerika sudah mengenal dan berlatih yoga dan merasakan manfaatnya. Mereka meneruskan kebiasaan hidup itu sekembali ke tanah air. Selain mereka, tentunya banyak juga orang Indonesia yang, walaupun tidak ke Amerika, cukup terbuka pada perkembangan gaya hidup mondial dan turut menjadi amunisi ampuh bagi ledakan yoga di kota-kota besar Indonesia.

Di Amerika, yoga tentunya lebih dahulu berkembang dibanding di Indonesia. Gairah orang Amerika untuk beryoga sudah bukan lagi sekadar kebutuhan exercise atau kesehatan fisik, tapi sudah menjadi lifestyle, gaya hidup. Selain yoga centers yang sudah menyebar hampir di seluruh pelosok negeri, kelengkapan pendukung latihan pun turut tumbuh menyertainya, seperti t-shirt, celana, matras yoga, atau props (benda-benda untuk membantu latihan fisik), program retreat, workshop, teacher training, bahkan asuransi untuk para praktisi diiklankan dengan marak di majalah, seperti Yoga Journal, Living Yoga yang diterbitkan di negeri Paman Sam ini. Asosiasi-asosiasi yoga dari berbagai tradisi: Iyengar Yoga, Ashtanga Yoga, dan sebagainya dibentuk di hampir setiap negara bagian (state). Dan, least but not last adalah kehadiran International Yoga Alliance (IYA) yang dikreasi oleh orang-orang Amerika. Hampir seperti Perserikatan Bangsa-bangsa, organisasi ini seolah ingin menjadi payung bagi seluruh aliran dan tradisi yoga yang ada di muka bumi. Mereka membuat standar dan ketentuan, seperti kurikulum, dalam menyelenggarakan teacher training, pelatihan untuk menjadi pelatih yoga. Harus diakui bahwa orang Amerika sangat piawai dalam membuat sistematika,  mengemas dan kemudian “memasarkan” yogya, walaupun kita tahu yoga sejatinya berasal dari India, ribuan kilometer di seberang benua Amerika. 

Publikasi dan pemberitaan di media bahwa para pesohor atau celebrity Hollywood berlatih yoga menjadi hal penting bagi perkembangan yoga secara global. Sebut saja misalnya Madonna, Christy Turlington, Cyndy Crowford, Sarah  “Sex City” Jessica Parker, Breatny Spears, Gwyneth Paltrow dan Sting. Mereka ini adalah para trendsetter yang setiap kegiatannya mendapat sorotan media dan publik yang membuat segala apa yang mereka ucapkan, lakukan, atau kenakan di tubuhnya akan dengan mudah diikuti banyak orang.

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Di Indonesia, perkembangan yogya mengikuti pola di Amerika itu. Para pesohor Indonesia menjadikan para celebrity Hollywood kelas dunia itu sebagai referensi. Ada juga keinginan tersembunyi dari para pesohor Indonesia untuk diakui dan seterkenal bintang Hollywood. Celebrity dan golongan menengah atas, khususnya yang paling atas atau A+, adalah orang-orang yang sangat peduli pada citra diri atau image, oleh karenanya tubuh menjadi titik perhatian utama. Dengan perjuangan ekstra keras, mereka berusaha untuk mendapatkan tubuh permai dan penampilan yang aduhai, termasuk ramai-ramai berlatih yoga. Demam yoga ini juga menjangkiti pikiran banyak manusia urban yang sangat peduli pada bentuk tubuh, seperti orang-orang di Jakarta ini.

Tubuh masyarakat urban adalah arena pertarungan interior maupun eksterior. Pertarungan interior maksudnya arena pergulatannya ada di dalam diri si empunya tubuh, sementara eksterior berarti adanya pihak lain yang melihat tubuh sebagai objek yang empuk bagi ekstensifikasi atau pemasaran produk-produk industri modern. Untuk mendapatkan “cantik” seperti dalam pandangan masyarakat umum modern, si empunya tubuh merelakan dirinya menjadi sadomasokis, yakni menyakiti diri sendiri untuk mengejar kenikmatan diri. Para pemuja tubuh ini dalam waktu yang bersamaan menjadi narsistis atau mencintai diri sendiri. Setiap saat mereka mematut diri untuk tetap berada dalam koridor “cantik sesuai pandangan umum”. Di sini ada konflik internal secara psikis, antara pikiran dan tubuhnya sendiri. Pikiran mengkooptasi, melulu menuntut tubuh agar selalu sesuai dengan keinginannya, sementara secara awam diketahui bahwa tubuh mempunyai logika perkembangan sendiri yang mengikuti hukum alam. Bagi orang yang jeli tubuh akan dilihat sebagai target market untuk mamasarkan produk yang telah atau akan dihasilkannya. Secara masif para industrialis produk kecantikan melihat tubuh masyarakat urban sebagai arena ekstensifikasi modal yang menjanjikan keuntungan berganda. Dengan kecerdikannya pula, para pelaku industri ini dengan sengaja mengkonstruksi pengertian cantik ini setiap saat.

Dari sebagian para sosialita Jakarta yang berlatih yoga, dan kebetulan mereka juga punya uang, melihat peluang berinvestasi mendirikan yoga center  sebagai upaya diversifikasi dari aktivitas bisnis-bisnis sebelumnya. Semula mereka meniatkan agar diri mereka, dan juga teman-teman terdekat, dapat terus melanjutkan latihan yang sebelumnya mereka lakukan di rumah sekaligus mengkanalisasi gairah orang Jakarta beryoga-ria. Dalam waktu yang relatif singkat, kegiatan yoga mereka menyebar ke segala penjuru kota, merambah dari studio yoga ke gedung-gedung perkantoran, perumahan, dan mall.

Di atas telah disinggung bahwa perkembangan yoga di Jakarta tidak terlepas dari gaya hidup beragama di tanah air. Yoga adalah seni hidup, art of living, dan bukan atau diakui sebagai agama, tapi dapat juga (sementara) dimasukkan dalam genre yang sama, karena di dalamnya ada kepercayaan (belief system) dan semacam ritual berupa laku (practice). Dalam teks klasik yoga, yoga didefinisikan sebagai union dalam bahasa Sanskrit, artinya penyatuan keinginan kita (our will) dengan keinginan Tuhan (the will of God); atman (jiwa manusia biasa) dan Brahman (jiwa utama, supreme soul, Tuhan sang pencipta), seperti konsep manunggaling kawula gusti dalam kepercayaan Jawa, atau “menyatu dalam Tuhan” pada agama-agama samawi Abrahamik-monoteis: Yahudi, Kristen dan Islam. Konsep “manusia utama” atau insan kamil dalam konteks ini—juga dalam agama Hindu—adalah adanya unsur “kemenyatuan” itu, seperti juga dalam pengertian samadhi dalam yoga: “when our soul merge with the soul of universe”.

Ideologi berupa agama atau budaya dan seni diproduksi untuk menjembatani jurang antara Tuhan sang Pencipta dan manusia yang diciptakan sehingga insan kamil, manusia utama, bisa mewujud. Dalam ruang kosong yang menghubungkan Tuhan dan manusia dibangun jembatan hermeneutik sebagai penghubung karena Tuhan berbicara dalam bahasa wahyu yang termanifestasi dalam kitab suci, sementara bahasa manusia mempunyai logikanya sendiri. Dalam cara beragama di masa modern ini, ruang kosong itu diisi oleh para juru tafsir kitab suci yang sudah pasti ada “kekuasaan” (dan juga ambisi pribadi) yang sifatnya hierarkis-parokial yang terwujud pada pemimpin atau tokoh-tokoh agama.

Dari tuturan para pemimpin spiritual dan agama, dibangun dogma yang menuntut ditegakkannya disiplin dalam menjalankan tertib hukum agama sambil bersujud serendah-rendahnya di hadapan sang Pencipta. Seperti dalam teori termodinamika di mana arus kecil akan tersedot arus besar, untuk dapat “diterima dalam tangan Tuhan” manusia harus merendah serendah-rendahnya. Walhasil, cara beragamanya bersifat imperatif: “semakin larangan dijauhi dan perintah dipatuhi, orang bukan makin lega, malah justru makin gelisah dalam rasa dosa dan bersalah, yang darinya akan meningkat kualitas kesalehan”, seperti orang selesai minum coca cola: diminum, hilang dahaga dan segar (sejenak), tapi kemudian timbul rasa haus yang malah menjadi-jadi.

Hal ini nampak nyata pada pertemuan keagamaan dalam skala yang besar. Para pemimpin agama sering menggambarkan kengerian hasil perbuatan buruk manusia di dunia pada hari pembalasan atau kiamat (judgement day), hari ketika dunia dihancurkan oleh kuasa Tuhan. Sepertinya omongan agama melulu diproyeksikan untuk kehidupan masa depan, akhirat atau kematian dan bukan merayakan hari ini. Walaupun demikian, kengerian yang digambarkan tokoh-tokoh agama tersebut, toh tidak menyurutkan minat orang untuk mendatangi tempat ibadah pada hari-hari mereka lazim berkumpul.[MFR]  

Yang Fana Reisa, Yang Misterius Rasa

Pengalaman mistik adalah pengalaman kemenyatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri: Yang Ilahi, Tuhan, Allah, semata, atau sesuatu yang kita tidak ketahui, The Unknown. Sisi spiritualitas yoga ini yang akan membawa praktisinya pada kerendahan hati, sekaligus membebaskan dari penderitaan.

—-Yudhi Widdyantoro

“Per hari ini 47.896 orang terkonfirmasi positif Covid-19 dan 2.535 orang meninggal”. Coba Anda bayangkan kalimat itu juga keluar dari mulut dokter Reisa, selain anjuran menaati protokol kesehatan: menjaga jarak, memakai masker, dan cuci tangan pakai sabun. Reisa menyampaikan data kuantitatif yang terus berubah. Sehari turun, keesokan hari memecahkan rekor pertambahan pasien dalam pengawasan (PDP). Jumlah pesien yang meninggal terus bertambah. Penampilan Reisa membuat terpesona, itu sudah biasa. Namun berbagai pikiran dan perasaan bisa muncul setiap melihat dan mendengar informasi dari Reisa. Setiap kata-kata Reisa bisa menimbulkan perasaan kagum, ngeri, bisa juga jadi panik. Apa jadinya jika pandemik disikapi dengan panik? Kata-kata memang sering menunggangi makna. Karenanya, kata bisa menimbulkan aneka pikiran dan rasa.

Seperti itu juga ketika kita berlatih yoga. Setiap tahap latihan menimbulkan pikiran dan rasa. Perasaan yang mengikuti pikiran bisa muncul ketika berlatih asana, atau olah fisik yoga, karena pada umumnya pikiran dan perasaan mengikuti ke mana sensasi muncul di tubuh. Terkadang kita merasa sakit di suatu bagian tubuh akibat otot, syaraf, dan tulang aktif bekerja untuk membuat postur yoga. Kali lain ada rasa nikmat dan adiksi. Perasaan itu bisa tidak sama persis pada setiap orang ketika mempraktekkan suatu postur bersama sejumlah orang dalam waktu dan tempat yang sama, karena soal rasa ialah subjektif.

Asana atau postur yoga yang kasat mata, pada tahap tertentu, mungkin perlu dilakukan secara terukur dengan fokus pada ketepatan anatomis-fisiologis untuk menghindari cedera. Praktisi yoga dalam melakukan postur mengacu pada Yogasutra Patanjali, Bab Sadhana, atau soal latihan, “yoga sthiram  sukkham asanam”, “lakukanlah postur yoga dengan kokoh, mantap, tapi disertai dengan perasaan sukacita, sukkham” (YS II:47).

Dalam melakukan postur yang terkait dengan kerja aktif anatomi-fisiologi manusia, diperlukan ukuran yang objektif seperti dalam kajian dunia kedokteran medis. Di sini, akal sehat dan rasionalitas dibutuhkan untuk mengurai kerumitan hubungan organ dalam tubuh manusia; kerja syaraf, otot, tulang; dan juga gerak tubuh. Hal serupa berlaku juga pada bagaimana hubungan kerja bareng antara semua unsur fisik itu dengan efek terapis yang dapat bermanfaat bagi kesehatan mereka yang mempraktekkan asana.

Namun demikian, yoga bukan melulu soal olah fisik asana yang tampak nyata. Selain soal tubuh yang telah disebut di atas, diri kita juga memiliki dunia batin, dunia spiritual, seperti soal rasa yang muncul ketika sedang melakukan suatu postur yoga. Tentu saja saat itu nafas, rasa, dan pikiran semuanya muncul silih berganti tanpa bisa dicerap namun bisa dikenali oleh indra penglihatan. Pikiran manusia tidak hanya punya kemampuan analitis, misalnya untuk menyelesaikan kerumitan, tetapi juga reflektif dan intuitif. Reflektif berati mampu mengamati dan menilai dirinya sendiri. Sedangkan intuitif diandaikan telah berkembangnya kepekaan perasaan sehingga mampu memahami sesuatu secara langsung tanpa selalu mengandalkan rasio dan pikirannya. Tubuh dan batin menjadi sesuatu yang paradoksal. Keduanya ada beriring bukan untuk saling meniadakan, tapi malah saling melengkapi.

Pikiran memang senantiasa memecah diri menjadi kepingan-kepingan dan menciptakan pemisah-misahan. Pikiran juga memutilasi apa yang dilihatnya untuk kemudian memasukkannya ke dalam ruang-ruang berbeda sebagai “aku” dan “Anda”; “milikku” dan “milik Anda”. Pikiran menciptakan dualitas. Dualitas juga bisa terjadi karena adanya konsep yang memisahkan body mind dan soul, tubuh dan batin.

Makna kata “yoga” dalam bahasa Sanskrit ialah penyatuan atau telah terjadinya keselarasan. Dalam sutra pembuka di dalam Yoga Sutra Patanjali, “yoga cittavriti nirodhah” (YS I.2), “yoga is cessasion of mind”, “yoga adalah ketika gejolak batin berhenti”. Gambaran tentang kondisi batin yang berhenti disebutkan dalam sutra III.3: Tadeva arthamantranirbhasam svarupasunyam iva samadhi. Artha, purpose, tujuan; nir, tidak, tanpa; svarupe, sva, sendiri, apa adanya, rupe, objek, bentuk, benda; sunyam, kosong, hening; iva, inilah; samadhi, liberation, pembebasan. “When the object of meditation engulf the meditator, appearing as the subject, self awereness is lost. This is samdhi.” Keheningan terjadi ketika subjek atau diri si pengamat terserap oleh objek yang diamati, atau sebaliknya. Dengan demikian, sang diri kehilangan identitas dirinya sendiri. Inilah yang disebut samadhi, kebebasan batin. Dua sutra ini bisa menggambarkan keseluruhan isi Yoga Sutra Patanjali. Tujuan dari perjalanan yoga sudah terkandung sejak dari awal melangkah, kebebasan batin dengan meredanya pikiran dan perasaan.

Seperti juga dalam sejarah peradaban manusia, pada dasarnya kita manusia selalu berusaha untuk memperoleh kebebasan. Bebas dari rasa takut, bebas dari cengkeram penguasa, bebas dari segala ikatan yang membelenggu. Penciptaan manusia sepertinya sudah satu paket dengan kebebasan.

Namun demikian, keinginan untuk bebas dari segala problem telah melahirkan problem lain bersama aliran waktu. Lalu, apakah yang menyebabkan problem itu? Jawabannya adalah ketakutan. Ketakutan bukan selalu berkonotasi buruk. Ketakutan, bersama keinginan, keraguan, dan kecemasan adalah kondisi batin yang selalu ada sepanjang kita hidup. Ketakutan itu ada selama ada dorongan untuk menjadi sesuatu di masa kini atau di masa depan.

Mungkin karena tidak tampak nyata, sisi spiritualitas yoga atau dunia batin praktisi menjadi tidak popular dan terabaikan, tertelan gelombang besar ritus perayaan tubuh. Walaupun, seperti makna atau nilai yang terkandung dalam Pratyahara, menarik objek di luar diri dan dibawa ke dalam batin adalah langkah awal untuk menyelami pengalaman mistis –yang sering dikatakan inti dari agama dan kepercayaan.

Pengalaman mistik memiliki dua sisi, yakni sisi misterius yang mengandung kekaguman sekaligus ketakutan, misterium tremendum fasinatum. Pengalaman mistik adalah pengalaman yang bisa mengubah dari dalam diri. Adanya rasa keterhubungan dengan lingkungan dan galaksi yang lebih luas. Pengalaman mistik adalah pengalaman kemenyatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri: Yang Ilahi, Tuhan, Allah, semata, atau sesuatu yang kita tidak ketahui, The Unknown. Sisi spiritualitas yoga ini yang akan membawa praktisinya pada kerendahan hati, sekaligus membebaskan dari penderitaan.

Pengalaman mistik adalah pengalaman kemenyatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri: Yang Ilahi, Tuhan, Allah, semata, atau sesuatu yang kita tidak ketahui, The Unknown. Sisi spiritualitas yoga ini yang akan membawa praktisinya pada kerendahan hati, sekaligus membebaskan dari penderitaan.

Saat ini, ketika pageblug wabah Covid-19 belum mereda, dan karena statistik fluktuatif, terus bergerak, biarlah angka-angka yang disampaikan Reisa dengan segala pesonanya berubah dan menjadi fana. Sementara itu, ketidaktahuan kita pada akhir kisah pandemi Covid-19 ialah sebagaimana kita menempatkan Yang Ilahi, Yang Transenden pada suatu ruang kosong tiada tepermanai dalam keheningan. The Unknown, ‘Yang Tak Dikenali’ biarlah tetap menjadi misteri dan abadi. Mungkin rasanya seperti puisi Rumi ini: Aku memilih mengindamkanmu dari kejauhan//
Aku memilih mendekapmu dalam mimpi//Karena di dalam mimpi engkau tak burujung. (MFR)