Den Haag, Jandanya Indonesia: Sebuah Esai Sejarah

Dia memang janda. Tentu saja sudah tua, dan tidak bisa disebut janda kembang pula. Sudah tua, karena sudah diceraikan oleh suaminya sejak 1949. Namun ia tetap cantik menawan, memesona siapa pun yang memandangnya. Lebih hebatnya lagi, dia disebut jandanya Indonesia. Ya, betul. Indonesia, negara kita. Bukan yang lain. Demikianlah orang menyebut kota Den Haag, atau dalam bahasa Inggris disebut “The Hague”, letaknya di negeri Belanda.

—— Prof. Fauzan Saleh, Ph.D.

Dia memang janda. Tentu saja sudah tua, dan tidak bisa disebut janda kembang pula. Sudah tua, karena sudah diceraikan oleh suaminya sejak 1949. Namun ia tetap cantik menawan, memesona siapa pun yang memandangnya. Lebih hebatnya lagi, dia disebut jandanya Indonesia. Ya, betul. Indonesia, negara kita. Bukan yang lain. Demikianlah orang menyebut kota Den Haag, atau dalam bahasa Inggris disebut “The Hague”, letaknya di negeri Belanda. Kota tua itu memang sangat indah. Pada zaman kolonial, kota ini merupakan tempat tetirah kalangan elit ningrat Kerajaan Belanda untuk menikmati liburan mereka di musim panas. Bunga-bunga cantik aneka jenis dan rupa menghiasi taman-taman kota, membuat para pengunjungnya bak terbuai keindahan sekeping taman surga di muka bumi.

Mengapa disebut janda? Semula penulis pun tidak percaya. Tetapi pemandu yang mengantarkan penulis menelusuri jalan-jalan di kota Den Haag pada musim gugur beberapa tahun lalu dengan mantap menyebut kota itu adalah jandanya Indonesia. Namun, hal itu diekspresikan dengan nada sedikit kesal. Mengapa kesal? Pada masa penjajahan, menurut sang pemandu tadi, kekayaan negeri kita dikeruk habis-habisan oleh para kapitalis negeri penjajah itu. Kekayaan itu kemudian mereka gunakan untuk membiayai pembangunan kota-kota megah di negeri mereka, termasuk kota Den Haag. Sisa-sisa bangunan kuno nan megah dan tata kota yang indah dengan arsitektur klasik-menawan tampak cantik memesona. Dengan nada geram pula sang pemandu yang mengaku berasal dari Indonesia Timur itu menambahkan “semua gedung megah di kota ini dibangun dengan darah dan keringat nenek moyang kita. Mereka berhutang budi pada kita.”

Sebutan sebagai jandanya Indonesia tampaknya tidak hanya dikenali oleh si pemandu yang mengantar penulis bersama rombongan. Dalam Wikipedia disebutkan bahwa Indonesia, (dulu disebut the Dutch East Indies, atau Indies saja) yang menjadi koloni negeri Belanda, telah menorehkan tanda yang tak terhapuskan pada kota Den Haag. Sejak abad ke-19, para pejabat tinggi Belanda yang ditugaskan di negeri kita sering menikmati masa liburan mereka yang panjang di Den Haag. Disebutkan bahwa banyak ruas jalan yang diberi nama berdasarkan nama-nama tempat yang mereka kenali di Indonesia. Sayangnya, tidak dijelaskan seperti apa nama jalan itu, dan apakah nama jalan itu masih dipakai hingga kini atau tidak. Mungkin hanya warga kita yang pernah tinggal di kota itu yang bisa menjelaskan.

Sejak Belanda kehilangan haknya atas negeri jajahan mereka di India Timur (East Indies), sebutan “jandanya Indonesia” melekat pada kota The Hague atau Den Haag ini. Sebagai janda tentu ia sangat merindukan masa-masa indah yang pernah ia nikmati bersama suaminya dulu. Apalagi sang suami cukup baik hati dan terlalu memanjakan sang istri dengan membiarkannya menikmati kekayaan miliknya sampai ratusan tahun lamanya. Tidak heran jika sang istri tidak mau “diceraikan” dan masih ingin mendapatkan nafkah gratis dari suaminya. Ia resmi menjadi janda (yang kaya) sejak Belanda mau mengakui kedaulatan Negara Indonesia pada akhir 1949.  Akibat perceraian itu pula banyak warga campuran Indonesia-Belanda (disebut Indo) harus kembali ke Belanda. Mereka kemudian menetap di Den Haag. Kedatangan mereka dalam jumlah yang cukup besar ikut mewarnai pola kehidupan sosial di kota itu. Para Indo pendatang ini membawa serta kebiasaan yang mereka jalani ketika masih tinggal di Indonesia. Tampaknya mereka cukup berhasil menginternalisasikan nilai-nilai budaya timur dalam kehidupan mereka.

Sebagian besar dari Indo ini mungkin lahir dan dibesarkan di Indonesia. Tidak heran jika meski sudah bermigrasi ke Den Haag, kebiasaan hidup dengan nilai-nilai budaya timur itu masih melekat dalam kehidupan sehari-hari mereka. Di antaranya, jika memasak mereka selalu masak makanan cukup banyak karena sering kedatangan tamu secara tiba-tiba. Orang-orang tua, seperti kebiasaan di negeri kita, selalu mendapat perlakuan secara lebih sopan dan dihormati. Mereka juga selalu berjabat tangan dengan semua orang saat bertamu atau kedatangan tamu. Mereka tidak mau makan sambil berdiri, seperti kebiasaan orang Barat, dan beberapa tradisi lain yang hanya berkembang di negeri kita dan tidak dikenali dalam kehidupan sosial masyarakat Barat. Semua tradisi ini menjadi salah satu keunikan yang hanya didapat di kalangan pendatang Indo di Kota Den Haag. Keunikan ini pula yang menjadi alasan tambahan mengapa sebutan “the Widow of the Indies” layak disematkan pada kota ini. Label sebagai janda pun kemudian dimasukkan dalam sebuah lirik lagu: “Den Haag, Den Haag, die weduwe van Indie ben jij,” “Den Haag, Den Haag, you are the widow of the Indies.” Lagu yang digubah oleh Wieteke van Dort, seorang artis dan penyanyi Belanda berdarah campuran Eurasian, ini menandai salah satu fragmen perjalanan sejarah kota tua ini. Predikat sebagai “janda” tentu berkonotasi pejorative, ungkapan bernuansa sindiran sekaligus cemoohan. Sebagai jandanya Indonesia, Den Haag telah menjadi penanda khusus adanya pertalian budaya antara Belanda dan Indonesia.

Kota tua yang mulai dibangun tahun 1230 itu kini masih menjadi salah satu destinasi wisata utama di Negeri Kincir Angin tersebut. Para wisatawan, khususnya yang datang dari luar, tak mungkin melewatkan kunjungannya ke Negeri Belanda tanpa menikmati keindahan Kota Den Haag. Bunga-bunga tulip yang mekar pada musim semi selalu menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan. Di kota ini pula puluhan lembaga internasional di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berkantor, termasuk International Court of Justice dan International Criminal Court. Kedudukan The Hague pun bisa disejajarkan dengan New York, Genewa, dan Wina, Austria, sebagai kota yang banyak ditempati kantor-kantor perwakilan PBB. Dengan semakin mendunianya posisi Den Haag, kota ini pun mendapat status sebagai ibukota yuridis dunia. Selain itu, Den Haag juga menjadi kedudukan kantor kedutaan besar negara-negara sahabat, termasuk Indonesia.

Agresi Militer

Semula, Belanda tidak bersedia mengakui kemerdekaan negeri kita yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Pengakuan Belanda atas kemerdekaan negeri kita itu diperoleh setelah mereka gagal dalam upaya menduduki kembali bekas tanah jajahan mereka sejak tentara Jepang berhasil ditaklukkan oleh tentara sekutu. Melalui perang yang memakan korban jiwa cukup banyak terutama di pihak bangsa Indonesia dan dilanjutkan dengan perundingan yang sangat alot selama kurang lebih tiga bulan, akhirnya mereka bersedia mengakui kedaulatan itu dalam Konferensi Meja Bundar yang diselenggarakan di Kota Den Haag juga. Perundingan yang berlangsung dari 23 Agustus hingga 2 November 1949 itu akhirnya menghasilkan sejumlah dokumen, antara lain Piagam Kedaulatan, Statuta Persatuan, kesepakatan ekonomi, serta kesepakatan terkait urusan sosial dan militer. Pihak Belanda juga menyepakati penarikan mundur seluruh tentara Belanda dari wilayah yang diduduki dalam agresi militer sejak pertengahan 1947, dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Pada 1942, Belanda harus hengkang dari bumi Nusantara, karena kalah melawan tentara Jepang dalam Perang Asia Timur Raya, sebagai bagian dari fragmen Perang Dunia II. Negeri kita pun jatuh ke tangan penjajah berikutnya, tunduk di bawah kekuasaan Jepang yang mengaku sebagai saudara tua. Penjajahan Jepang yang berlangsung sekitar tiga tahun itu telah menorehkan kegetiran yang tiada tara, tidak kalah berat penderitaan kita dibandingkan dengan penderitaan di bawah kaki penjajah sebelumnya. Ketika akhirnya Jepang berhasil dikalahkan oleh tentara sekutu dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, bangsa Indonesia tidak ingin menyia-nyiakan momentum mahal itu untuk memproklamirkan diri sebagai bangsa yang merdeka dan berkedaulatan penuh. Maka berdirilah negara baru di kancah dunia internasional bernama Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945.

Namun, baru beberapa hari bangsa Indonesia menikmati kemerdekaannya, penjajah Barat datang kembali. Kali ini Belanda datang dengan berganti kostum dalam bentuk Netherland Indies Civil Administration (NICA). Mereka datang dengan membonceng tentara sekutu selaku pemenang perang Asia Timur Raya. Kedatangan tentara NICA ini semula dimaksudkan untuk membantu tentara sekutu melucuti persenjataan tentara Jepang yang sudah ditaklukkan. Namun itu hanya kedok belaka. NICA ternyata mempunyai misi tersembunyi untuk datang ke Indonesia, yaitu mewujudkan pesan pidato Ratu Wilhelmina yang disampaikan pada 6 Desember 1942. Dalam pidato itu sang Ratu sebagai penguasa tertinggi negeri penjajah tersebut menyatakan bahwa di kemudian hari akan dibentuk sebuah persemakmuran antara kerajaan Belanda dan Indonesia di bawah naungan Kerajaan Belanda.

Jenderal van Mook, selaku pimpinan NICA, berusaha merealisasikan misi tersembunyi tersebut dengan kekuatan penuh. Meskipun sempat digelar perundingan, van Mook tidak rela kehilangan wilayah jajahan yang dulu menghidupi negeri leluhurnya selama ratusan tahun. Ia pun segera menyiapkan serangan kilat untuk menduduki wilayah-wilayah strategis untuk mewujudkan misinya. Misi itu, menurut NICA, didasarkan pada asumsi bahwa bangsa Belanda masih berhak menguasai kembali wilayah jajahannya dulu. Menurut mereka, secara de jure, dilihat dari perspektif hukum internasional, pendudukan suatu negara dalam perang tidak mengubah kedudukan hukum wilayah yang dikuasai sebelumnya. Dengan asumsi seperti itu van Mook merasa yakin akan dapat menguasai kembali wilayah Indonesia dengan mudah. Namun van Mook harus gigit jari, karena respon rakyat Indonesia tidak seperti yang diharapkan. Dengan proklamasi kemerdekaan yang tersiar luas ke seluruh dunia, rakyat Indonesia telah menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat penuh atas seluruh tanah airnya. Didukung oleh puluhan juta rakyatnya dengan sistem pemerintahan yang telah mereka bangun, mereka tidak rela kehilangan kedaulatan negara, dan siap mempertahankan kemerdekaannya dari rongrongan kaum penjajah.

Perundingan resmi pertama, seperti tercatat dalam buku-buku sejarah nasional kita, ialah Perundingan Linggarjati. Van Mook bertindak mewakili pemerintah Kerajaan Belanda, sedangkan pihak Indonesia diwakili oleh Soetan Sjahrir, Mohammad Roem, Susanto Tirtoprojo, dan AK. Gani. Inggris ikut terlibat sebagai penengah, diwakili oleh Lord Killearn. Dalam perundingan ini disepakati, antara lain: (1) Secara de facto, Belanda mengakui Jawa dan Madura sebagai wilayah RI; (2) Belanda harus meninggalkan wilayah RI paling lambat tanggal 1 Januari 1949; (3) Belanda dan Indonesia sepakat untuk membentuk Negara Republik Indonesia Serikat (RIS). (4) RIS menjadi negara persemakmuran di bawah naungan negeri Belanda.

Isi perundingan ini jelas-jelas sangat merugikan pihak Indonesia karena dengan menjadi negara persemakmuran Indonesia tetap berada di bawah bayang-bayang Belanda. Para juru runding dari Indonesia tampaknya terpaksa mengambil jalan damai, mengingat bahwa angkatan perang RI belum cukup memadai untuk menghadapi kekuatan militer Belanda. Maka tidak heran jika hasil perundingan ini menimbulkan kekecewaan dan pertentangan luas di kalangan para pejuang RI. Apalagi, pihak Belanda sering melakukan pelanggaran teritorial dan memicu konflik bersenjata dengan para pejuang kita. Dengan seringnya terjadi bentrokan antara kedua belah pihak, van Mook akhirnya mengeluarkan ultimatum agar tentara Indonesia ditarik mundur sejauh 10 kilometer dari garis demarkasi yang telah disepakati. Ultimatum van Mook tersebut tentu memicu perlawanan lebih keras dari para tentara pejuang kita. Van Mook pun semakin murka, sehingga pada 20 Juli 1947 dia membuat pernyataan melalui radio bahwa pihaknya tidak terikat lagi dengan Perjanjian Linggarjati. Ia pun memerintahkan tentaranya untuk memulai serangan terhadap sasaran-sasaran strategis sebagai target penyerbuan. Mulailah apa yang disebut sebagai Agresi Militer Belanda I. Agresi ini berlangsung dari tanggal 21 Juli 1947 hingga 5 Agustus 1947.

Dari sudut pandang Indonesia, Agresi Militer ini merupakan pelanggaran dari hasil Perundingan Linggarjati. Maka pihak Indonesia pun segera melaporkan pelanggaran tersebut ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). PBB segera merespons laporan tersebut dengan mengeluarkan resolusi 1 Agustus 1947, yang berisi desakan agar konflik bersenjata itu dihentikan. Atas laporan itu pula PBB kemudian mengakui eksistensi negara kita dengan menyebut nama “Indonesia” sebagai ganti dari sebutan “Netherlands Indies,” atau Hindia Belanda. Nama “Indonesia” kemudian digunakan oleh PBB dalam setiap keputusan resminya terkait dengan posisi negara kita. Desakan PBB ini, di samping tekanan dunia internasional, ternyata cukup efektif menekan ambisi Belanda untuk menguasai kembali negara kita. Pemerintah Kerajaan Belanda akhirnya bersedia menerima Resolusi Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan agresi militernya. Namun gencatan senjata itu ternyata tidak berlangsung lama. Belanda kembali mengingkari janji dan mulai melancarkan serangan berikutnya terhadap sasaran-sasaran strategis di berbagai wilayah negeri kita. Inilah yang selanjutnya dikenal dengan Agresi Militer II.

Agresi Militer II, yang oleh pihak Belanda disebut sebagai “Operasi Gagak” (Operatie Kraai), terjadi karena kegagalan PBB dalam menyelesaikan konflik bersenjata antara Indonesia dan Belanda melalui meja perundingan. Belanda tetap bersikeras untuk menguasai Indonesia. Tindakan sepihak Belanda ini jelas-jelas telah melanggar Perjanjian Renville. Perjanjian Renville adalah perjanjian antara Indonesia dengan Belanda yang berlangsung dari tanggal 18 Desember 1947 sampai 17 Januari 1948, di atas geladak kapal perang Amerika Serikat, USS Renville. Kapal perang Renville yang sedang berlabuh di Tanjung Priok, Jakarta, ini dipilih karena dianggap sebagai zona netral bagi kedua belah pihak. Perjanjian ini diselenggarakan untuk menyelesaikan perselisihan akibat pelanggaran atas perjanjian Linggarjati. Perjanjian ini berisi batas antara wilayah Indonesia dengan Belanda, yang dikenal dengan Garis van Mook. Dalam garis van Mook tersebut dinyatakan bahwa wilayah Indonesia tinggal sepertiga Pulau Jawa dan sebagian besar Pulau Sumatera. Tetapi Indonesia tidak menguasai wilayah-wilayah penghasil makanan utama. Blokade oleh Belanda juga mencegah masuknya persenjataan, bahan makanan dan pakaian menuju ke wilayah Republik.

Dalam Agresi Militer II ini Belanda memulai serangannya dengan melumpuhkan Yogyakarta yang sudah ditetapkan sebagai ibukota Republik Indonesia. Setelah Yogyakarta berhasil dikuasai Belanda, mereka segera menangkap tokoh-tokoh penting Republik, termasuk Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya Yogyakarta sebagai pusat pemerintahan RI dan ditangkapnya para tokoh penting tidak harus berarti Negara Republik Indonesia sudah bubar. Sebab, Sukarno selaku Presiden RI, telah memberikan mandat kepada Sjafruddin Prawiranegara untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), berkedudukan di Bukittinggi, Sumatera Barat. Para tokoh Republik ini ditangkap kemudian diasingkan ke berbagai daerah secara terpisah-pisah. Inilah bagian dari upaya Belanda untuk melumpuhkan negara kita yang baru lahir tiga tahun sebelumnya.

Belanda konsisten dengan menyebut agresi militer ini sebagai aksi polisionil untuk mengelabui dunia internasional, bahwa semua tindakan militer Belanda ini adalah urusan dalam negeri semata, dan tidak perlu ada campur tangan dunia internasional. Belanda pun menganggap agresi militer dan penangkapan para tokoh sentral ini sebagai kemenangan besar yang mereka peroleh atas kekuatan Republik. Selain itu, Agresi Militer II ini juga dimaksudkan untuk membentuk Pemerintahan Interim Federal didasarkan pada Peraturan Pemerintah dalam Peralihan. Dengan agresi militer ini Belanda ingin menunjukkan kepada dunia luar bahwa Republik Indonesia dan kekuatan militernya telah hancur tak tersisa, dan dengan demikian Belanda bisa bertindak semaunya untuk mengatur bekas tanah jajahannya itu.

Menuai Kecaman Keras

Namun tindakan Belanda itu segera menuai kecaman keras dari dunia internasional. Hal itu tidak pernah mereka perhitungkan sebelumnya. Salah satu kecaman itu justru datang dari Amerika Serikat yang menunjukkan simpatinya pada Indonesia, dengan membuat beberapa pernyataan, antara lain: (1) Jika Belanda masih terus melancarkan agresi militer terhadap RI, Amerika Serikat akan menghentikan segala bentuk bantuan yang diberikan kepada pemerintah Belanda; (2) Mendesak Belanda agar segera menarik mundur pasukan militernya ke luar dari garis status quo Renville; (3) Mendesak agar para tokoh Republik yang ditawan segera dibebaskan, dan (4) Mendesak agar segera dibuka kembali perundingan yang jujur berdasarkan kesepakatan dalam Perjanjian Renville.

Di sisi lain, jatuhnya Ibukota Republik di Yogyakarta ke tangan Belanda ternyata tidak membuat semangat para pejuang kita runtuh begitu saja. Mereka masih tetap menggelorakan semangat perlawanan dengan melakukan serangan balik terhadap posisi-posisi Belanda di berbagai wilayah dengan melancarkan perang gerilya. Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman, seperti tercatat dalam memori kolektif bangsa kita, telah memimpin perang gerilya ini hingga ke pelosok-pelosok daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, meskipun dalam kondisi sakit dan harus ditandu. Kurang lebih satu bulan setelah Agresi Militer II, TNI mulai menyusun strategi guna melakukan pukulan balik terhadap posisi pertahanan tentara Belanda. Tentara pejuang kita menjalankan strategi perang gerilya dengan memutuskan sambungan telepon, merusak jaringan rel kereta api, menyerang konvoi Belanda, serta tindakan sabotase lainnya. Dalam posisi pasukan Belanda yang sudah semakin terpencar-pencar, mulailah TNI melakukan serangan mematikan pada pos-pos pasukan Belanda, terutama untuk merebut kembali Kota Yogyakarta. Peristiwa yang sangat heroik itu tercatat dalam sejarah perjuangan kita dengan sebutan Serangan Umum 1 Maret 1949.

Dengan serangan-serangan balik terhadap kedudukan tentara Belanda ini, pasukan TNI berusaha meyakinkan dunia, terutama Amerika Serikat dan Inggris, bahwa Negara Republik Indonesia masih kuat, masih mengendalikan pemerintahan (di bawah kendali PDRI), dan masih memiliki tentara reguler yang terorganisasi rapi dalam tubuh TNI. Untuk membuktikan hal tersebut perlu dilakukan serangan spektakuler yang tidak bisa ditutup-tutupi oleh Belanda, dan harus diketahui oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI), serta agar diliput oleh para wartawan asing untuk disiarkan ke seluruh dunia. Untuk kepentingan menyampaikan pesan tersebut kepada UNCI dan para wartawan asing diperlukan pemuda-pemuda berseragam TNI yang bisa berbahasa Inggris, Belanda, atau Perancis. Serangan spektakuler itu disepakati dilakukan dengan target untuk merebut kembali Kota Yogyakarta.

Ada tiga alasan penting mengapa target serangan itu adalah Kota Yogyakarta: (1) Yogyakarta adalah ibukota Republik Indonesia, sehingga jika berhasil direbut kembali, walaupun hanya beberapa jam, akan berpengaruh besar untuk melemahkan posisi tentara Belanda; (2) Adanya banyak wartawan asing yang tinggal di Hotel Merdeka Yogyakarta, dan masih ada sebagian anggota delegasi UNCI serta pengamat militer PBB yang bertahan di hotel tersebut; (3) Memudahkan koordinasi penyerangan karena Yogyakarta berada di bawah komando Divisi III/Gubernur Militer (GM) III, sehingga tidak perlu mendapatkan persetujuan panglima yang lain. Di samping itu, semua anggota pasukan sudah mengenali dan menguasai betul medan tempur di wilayah operasi tersebut.

Walaupun TNI hanya mampu bertahan selama enam jam menguasai Kota Yogyakarta, Serangan Umum 1 Maret 1949 tersebut telah berhasil memperkuat posisi tawar Indonesia, sekaligus mempermalukan Belanda. Sebelum Serangan Umum itu Belanda telah membuat pernyataan bahwa dengan adanya Agresi Militer II kekuatan Republik telah dilumpuhkan. Tidak lama setelah Serangan Umum 1 Maret, TNI melancarkan Serangan Umum Surakarta yang menandai kesuksesan besar para pejuang RI karena berhasil membuktikan pada Belanda bahwa dengan perang gerilya TNI bukan saja mampu melakukan penyergapan dan sabotase atas kekuatan Belanda, tetapi mereka juga mampu melakukan serangan secara frontal terhadap basis kekuatan militer Belanda di Kota Solo. Kota Solo yang dipertahankan mati-matian oleh Belanda dengan kekuatan militer penuh terdiri dari pasukan kavaleri, persenjataan artileri, pasukan infantri dan komando yang tangguh ternyata bisa dibobol oleh kekuatan TNI. Serangan Umum Surakarta ini disebut-sebut telah mampu mengunci posisi Hindia-Belanda untuk selamanya.

Peliputan Majalah Life

Berbeda dengan negara-negara Timur Tengah yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia segera setelah proklamasi, nama Indonesia bahkan tidak pernah dikenali oleh publik Barat hingga awal 1950. Itu pun terjadi, antara lain, atas jasa majalah Life, edisi 13 Februari 1950 yang secara khusus menempatkan judul berita (headline) di halaman depan: “The New Nation of Indonesia.” Tidak kurang dari 15 halaman (termasuk cover depan) dari edisi tersebut digunakan untuk memperkenalkan Indonesia ke masyarakat pembaca di Barat. Hampir seluruh liputan tentang Indonesia ini berupa gambar. Hanya ada sedikit narasi pada halaman 83, diberi judul “The New Indonesia: A ‘Girdle of Emerald’ Changes Owners but Keeps Its Charm,” atau “Indonesia Baru: Untaian Zamrud Berganti Pemilik tetapi Masih Mempertahankan Pesonanya.” Foto-foto itu ada yang menunjukkan eksotisme alam dan budaya Indonesia, di samping peta geografis negeri kita. Ada juga foto Presiden Sukarno dengan pakaian kebesarannya sedang memperhatikan dua orang anaknya yang masih kecil-kecil bermain di salah satu sudut halaman istana Bogor yang asri.

Namun di antara sekian banyak gambar itu ada sebuah gambar dengan keterangan di bawahnya tentang karakter budaya kerja kita yang ditulis dengan nada sinis, berbunyi: “People Work Slowly in Their Ancient Way.” Maksudnya, orang-orang [pribumi] bekerja dengan sangat lambat dan cara yang kuno. Dijelaskan lebih lanjut bahwa mereka masih menggunakan tangan—tanpa bantuan peralatan atau teknologi yang diperlukan—bahkan disebutkan dengan cara-cara primitif. Bagi bangsa Eropa cara kerja seperti itu sudah lama ditinggalkan, sejak satu abad yang lalu. Begitulah penilaian wartawan Life terhadap pola kerja dan gaya hidup bangsa kita.

Dalam narasi pada halaman 83 terasa sekali adanya bias pemberitaan dalam majalah ini. Di situ antara lain disebutkan bahwa Indonesia merupakan “anaknya” Belanda yang telah diasuh oleh ibunya selama 350 tahun: “All of this was Indonesia, the 350-year-old child of Mother Holland.” Jadi, berbeda dengan ungkapan di awal tulisan ini yang menyebut Den Haag (baca: Belanda) adalah jandanya Indonesia, oleh majalah Life ini justru disebut sebagai ibunya. Tentu ini sangat ironis dan melukai hati kita sebagai bangsa Indonesia. Belanda tidak pernah mengakui dirinya sebagai penjajah dengan segala kebrutalan dan kekejamannya terhadap penduduk pribumi. Selaku negara imperialis, Belanda juga telah mengeruk kekayaan alam kita habis-habisan untuk kemakmuran penduduk negeri itu.

Kelanjutan dari narasi itu juga lebih menyakitkan lagi. “But the child at last yearned to be free; it grew unruly and rejected discipline. Then neighbors encouraged the mother to help it grow up, to live peaceably by itself.” Dengan menganggap Indonesia sebagai anaknya negeri Belanda tentu ini sangat bertentangan dengan realitas sejarah. Mereka tidak mau mengakui penjajahan dan penjarahan kekayaan alam serta perbudakan yang kejam terhadap bangsa Indonesia selama 350 tahun tersebut. Dalam kutipan tersebut ditulis, “tetapi sang anak ingin merdeka. Dia kemudian menjadi sulit dikendalikan dan tidak mau diatur.” Atas desakan para tetangganya (maksudnya negara-negara Barat yang mengecam agresi militer tersebut) Belanda terpaksa melepaskan negeri jajahannya untuk bisa hidup sendiri secara damai. Jadi berita dalam Life tersebut jelas-jelas sangat bias, tidak obyektif, tidak mau mengakui perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaannya dan tidak mau menyebut Belanda sebagai penjajah.

Mungkin pemberitaan dalam Life tersebut didasarkan pada pernyataan dari Ratu Juliana sendiri yang mengatakan: “The assumption of sovereignty by the young State, the Republic of the United States of Indonesia, its relinquishment by the Kingdom of the Netherlands and the conclusion of the Union is one of the most deeply moving events of our times, piercing as it were to the very roots of our existence ….” Maksudnya, secara garis besar, anggapan bahwa bangsa Indonesia telah memperoleh kedaulatannya dan berdirinya Negara Republik Indonesia Serikat (saat itu) yang lepas dari Kerajaan Belanda merupakan suatu guncangan sangat keras dan telah merontokkan kewibawaan negeri itu. Ada juga sebuah gambar dengan keterangan di bawahnya berbunyi: “Dutch departure from the palace at Batavia (renamed Jakarta) ends with the removal of an old governor’s portrait.” Maksudnya, sisa-sisa kekuasaan Belanda di Batavia (diberi nama baru Jakarta) telah berakhir dengan dikeluarkannya gambar gubernur yang lama dari istana.

Negeri Belanda merasa sangat kehilangan dengan lepasnya Indonesia dari cengkeraman penjajahan mereka. Lebih dari itu semua, mereka harus mengakui bahwa lepasnya Indonesia melahirkan malapetaka bagi Belanda. Maka terjadilah Agresi Militer pertama dan kedua, seperti telah diuraikan di atas, yang dilakukan oleh tentara Belanda untuk dapat menguasai kembali negeri jajahan mereka. Agresi Militer ini bertujuan untuk merebut daerah-daerah perkebunan yang kaya dan daerah-daerah yang memiliki sumber daya alam, terutama minyak. Namun rakyat Indonesia sudah sangat geram dengan semua perilaku brutal Belanda selama masa penjajahan yang lalu. Para tentara pejuang telah mati-matian mempertahankan kedaulatan negeri kita, bahu-membahu dengan seluruh elemen bangsa. [MFR]

Den Haag, Den Haag, …
Ternyata engkau seorang janda.
Cukuplah predikat itu melekat pada dirimu. Selamanya.
Meskipun kau tetap menyimpan pesona.

Tetirah Hidup Orang Rimba

Apa makna kemerdekaan bagi suatu bangsa, atau suku bangsa? Pertanyaan klasik setiap kali bulan Agustus tiba, khusnya di tanggal 17. Pertanyaan ini terus mengusik akal sehat karena masih ada banyak sekali paradoks, justru ketika kita berada jauh dari hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan itu. Is Indonesia a nation in making?

—-Yuddhy Widdyantoro

Bagi Orang Rimba, yang hidup di tengah hutan raya, hari nasional kemerdekan itu hampir tidak ada artinya. Bahkan, mereka sepertinya tidak peduli. Bagi mereka, setiap hari adalah perjuangan untuk sekadar menyambung hidup di tengah kemajuan pembangunan. Tetirah hidup keaslian mereka dalam selubung modernitas.

Enam jam berkendara dan disambung dua jam berjalan kaki memasuki hutan belantara, waktu seperti balik ke zaman batu. Bertemu dengan Orang Rimba adalah perjumpaan yang menarik. Berkenalan dengan suku bangsa yang relatif “primitif” memperkaya hidupku. Aku mengenali wajah-ciri mereka, cara berpakaian mereka: bercawat, hanya seks organnya saja yang tertutup, bagaimana mereka mencari makan, berak; bagaimana mereka memperlakukan hutan sebagai rumah sekaligus ladang hidup mereka, mempelajari tabu-tabu mereka. Semua adalah pengetahuan yang tak mungkin didapat dari bangku sekolah. Sudah seharusnya kita menghormati mereka sebagai suatu entitas, atau malah berempati; anggaplah itu suatu teks yang dibarkan terbuka. “Anything goes,” seperti kata Fayerabend. Tidak seharusnya kalau kita memperdaya atau bahkan memanfaatkan mereka untuk kepentingan dan keuntungan sendiri.

Mengikuti mereka bekerja dan mencari manau (sejenis rotan). Kalau kita tahu betapa sulitnya untuk mendapatkannya, dan kemudian kita tahu perbedaan harga antara yang taoke beli dari Orang Rimba dengan harga jual kembali dari taoke ke industri yang lebih hilir, sungguh sangat memilukan hati. Betapa posisi tawar Orang Rimba sangat lemah, dengan margin keuntungan para taoke sangat besar. Para toke ini adalah pencari rente, raja-raja kecil yang juga feodal, pacet, lintah darat yang mengekploitasi Orang Rimba. Bedebah!.

Masalah disparitas terpampang sangat gamblang karena begitu nyata bedanya. Ada kekuatan dominan, dan ada sisi lain yang didominasi, yang menguasai versus yang dikuasai. Kupikir alinea pembuka Das Kapital-nya Karl Marx, bahwa sejarah peradaban manusia pada dasarnya adalah sejarah perjuangan kelas, ada benarnya. Dan memang, sejarah selalu dibuat oleh “orang yang menang”. Sejarah mencatat yang lemah akan selalu tergusur, seperti juga dalam teori evolusi yang klasik. Tapi masalah hidup bukan sekadar kalah-menang, tentunya jauh lebih kompleks. Seperti air mengalir, hidup bergulir ke depan, dan terus selalu maju ke depan. Gerak globalisasi tak mungkin dihambat, begitu juga laju pembangunan kaum pemodal, kapitalis. Ada atau tidak ada perlawanan dari proletar atau sosialis, mereka, para kapitalis itu tetap melenggang, karena memang begitu cara mereka bereksistensi. Tapi memang perlu diawasi! Ya, seperti dalam sepak bola, kalau kalah, jangan sampai kalah 4-0 lah, boleh kalah tapi cukup 1-2, artinya kita masih bisa memasukkan agenda.

Kalah dan berani mengaku kalah, mungkin secara psikologis lebih sehat dan realistis. Pada kasus-kasus seperti Orang Rimba, juga Baduy, atau Amish di Amerika, aku jadi berpikir, apa perlunya membangun benteng puritansi, pertahanan jiwa, kemudian mengharamkan bercampurnya suatu tradisi, atau peradaban, dengan unsur-unsur yang lain, apalagi dengan bumbu jargon, atau mitos-mitos keagungan masa lalu, model pidoto bapak-bapak pejabat itu, atau seperti Soekarno ketika meneriakkan Nasakom dulu, karena sekarang pasti akan kalah oleh teknologi dot.com. Walaupun juga harus diakui, mempertahankan tradisi, kesakralan, adalah usaha yang mulia, tapi aku lihat, gerakan mempertahankan purifikasi, seperti gerakan orang yang kalah dan gelisah. Tapi, siapa musuh mereka? Jelas, ada unsur luar, tapi ada pula problem internal mereka, anggota mereka sendiri (karena ada juga Orang Rimba yang di-Depsos-kan, disuruh pakai baju, dimukimkan dekat dusun, dan di-Islam-kan, mengikuti program pemerintah, dengan mereka yang memilih bertahan di dalam hutan. Sehingga tentunya ada ketegangan. Perlu juga ditanyakan, mengapa hidup mesti menyisihkan diri, menepi, menyingkir, sementara di luar orang merayakan kemajuan peradaban.

Mengikuti workshop fotografi “Tetirah Orang Rimba” bersama Galeri Foto Jurnalistik Antara menurutku sangat menarik. Bagi aku pribadi yang suka traveling, perjalanan ini sendiri sangat menantang: hutan belantara yang sudah pasti masih rimbun dan hijau, vegetasi yang kaya, juga faunanya. Perjumpaan dengan Orang Rimba itu sendiri, suatu suku bangsa yang baru aku kenal, sungguh suatu yang akan memperkaya hidup. Akan sulit sekali kalau datang ke sini sendiri, selain tidak tahu medan, problem komunikasi, dan tentunya akan menjadi mahal.

Hasil foto kami akan dipamerkan dengan hak cipta oleh GFJA. Ini memang suatu diktum mereka. Tapi, di sinilah titik kritisku. Bersama aku, 14 orang lainnya adalah fotografer profesional. Umumnya mereka alumni workshop/kursus/sekolah fotografi yang diselenggarakan GFJA, bahkan World Press Photo. Sehari-hari mereka bergulat dengan foto, ada yang menjadi editor foto di majalah, bekerja untuk biro foto, atau menjadi fotografer wedding, dsb. Artinya, secara tekis mereka sangat menguasai, belum lagi kelengkapan kamera: minimal mereka membawa 1 analog, 1 digital, dengan lensa yang beragam dan bagiku menyeramkan. Alat-alat penyimpan datanya bikin aku terheran-heran akan kemajuan teknologi. Sementara aku sendiri, secara teknis, kacau, 0 besar, lupa semua yang aku pelajari; kameraku cuma 1, analog dengan lensa standar. Semangat keikutsertaanku semata karena aku suka jalan berpetualang, dan dengan thema “Tetirah Orang Rimba” ini, suatu perjalanan spiritual untuk memperkaya hidup. Aku tidak menggebu-gebu fotoku ikut dipamerkan, kalau dapat yang bagus hasilnya, ya, anggaplah itu bonus.

Dari lima belas peserta kami dibagi tiga group. Untung, groupku adalah orang2 yang baik dan menyenangkan, penuh canda. Elik dan Chitra (satu-satunya cewek, kebetulan kenal di kantin sastra, karena dia anak sastra Rusia UI) lebih mengenal komunitas GFJA, anggota group lain. Karena lebih profesional, mereka lebih individualis dan ambisius. Aku tidak bayangkan digabung dengan mereka, akan lebih minder. Fasilitator, teman-teman LSM Warsi, pendamping Orang Rimba: Bubung, Wening, dua-duanya antropolog, dan Ninuk adalah pekerja tangguh, yang sangat kooperatif dan banyak membantu kami.

Yang lucu, karena aku tidak dikenal mereka, mereka terus mengira-ngira siapa aku; jangan-jangan aku dikiranya fotografer profesional, walaupun berkali-kali aku yakinkan bahwa aku gak bisa moto. Mereka heran karena aku kenal baik dengan Oscar Motuloh yang nota bene mentor, atau bahkan “dewa” mereka. Sempat juga mereka mengira jangan-jangan aku mata-matanya Oscar untuk ngawasi kerja mereka.

Sekembali dari Jambi, aku berpikir keras bagaimana memberi bantuan untuk saudara-saudaraku, Orang Rimba itu. Aku akan sarankan pada teman-teman fotografer kemarin bahwa hasil dari pameran nanti alangkah baiknya diberikan pada Orang Rimba.

Aku sudah ajak teman-teman di kelompokku, Umbo Karundeng, Chitra F, Elik Ragil, dan Robby Suharlim untuk menggelar pameran di Rumah Yoga. Kumaksudkan ini juga sebagai sarana untuk relief Orang Rimba. Pelan-pelan, niatku ini akan aku sampaikan kalau nanti ketemu, karena aku tidak tahu juga aspirasi teman-teman.

Ninuk, fasilitator pendidikan untuk Orang Rimba di LSM Warsi, kemarin sampai di Jakarta untuk mengikuti pertemuan nasional perempuan Indonesia. Kami, teman2 fotografer GFJA bertemu dengan Ninuk di Café Oh La La di Djakarta Theater. Senang juga betemu kembali dengan teman2 yang menyenangkan ini, kembali cerita-cerita lucu waktu di rimba. Aku teringat lagi pada anak-anak Rimba itu.

Aku Orang Rimba
Namaku Sokola
Jelas aksaranya
 
Di seluruh rimba raya
Kuguratkan namaku
Tidak ada alias lainnya
 
Nama itu mencengkeramku
menggantung di kudukku
Dialah nyala di dadaku
Denyut di nadiku
mengalir di darahku
Dan, nama itu memburu
cita anganku
Namaku Sokola
 
Walau gergaji itu mengikis rumahku
Menerbangkan burung-burungku
Walau Gergasi melumat ladangku
Walau asap pekat membekap mulutku
Dan, halamanku berganti rupa
Walau ke unggun dilempar aku
Dan mereka meludahi cita-citaku
Walau seribu walau
 
Aku Orang Rimba
Namaku Sokola
Jelas aksaranya!
 

Sokola adalah nama salah satu anak Orang Rimba. Gergasi adalah raksasa rakus seperti dalam novel Danarto, dan puisi ini diilhami puisi Palestina yang tiba-tiba saja aku teringat puisi jadul itu, mungkin karena nasib mereka sama.

Aku merasa seperti ikut mengeksploitasi Orang Rimba dengan memotoi aktivitas mereka sehari-hari. Aku banyak belajar dari mereka, terutama daya hidup Orang Rimba itu, jungle survival. Tapi mereka, Orang Rimba itu, juga terkena virus “Orang Kota”. Seperti dalam melukis cat air, sedikit saja warna lain menimpa warna sebelumnya, dengan segera melebur membuat realitas baru yang kita tidak tahu ke mana arah jadinya, blur bersama air terserap kertas lukis. Aku kok merasa terpanggil untuk membuat semacam proyek art for relief untuk Orang Rimba itu. Ya, semacam balas budil-ah setelah kita mengeksploitasinya.

Aku tidak tahu pikiran atau orientasi Orang Rimba setelah berinteraksi dengan “Orang Kota”, seperti dulu, belasan tahun yang lalu ketika pertama kali aku ke Baduy. Di dusun terakhir sebelum masuk ke perkampungan Baduy, setiap sore menjelang petang, Orang Baduy, khusunya anak-anak, dan orang mudanya turun gunung untuk menonton tivi, dengan wajah dogol, melongo. Mereka teracuni. Lucu juga, satu kaki mereka berpijak pada adat ketat, satu kaki lagi sudah melangkah (tapi belum) menjejak kemoderenan. Aku tidak tahu, apa yang mereka pikirkan menjelang tidur. Tapi yang jelas, aku sudah terkena virus, tapi virus dari teman-teman fotografer: virus digital kamera; semata-mata karena alasan praktis (dan canggih juga sih). Bayangkan, dengan enak mereka bisa moto malam hari tanpa flash, ketika anak-anak Rimba belajar dengan penerangan lilin. Momen yang indah sekali secara fotografis! Dengan digital kamera ISO bisa di-push sampai 1600 atau lebih lagi, sementara dengan kameraku, aku cuma memble saja, mentok ISO 400. Sialan! Virus itu sudah menjangkitiku, cukup sakit, karena aku tidak tahu kapan itu bisa terbeli. [MFR]

Cerita Tiga Kota: Kerikil Bom dalam Sepatu Laos (2)

Apabila diingat banyaknya ranjau darat yang dipasang selama perang dan mengandung ancaman kematian yang sama dengan bom yang dijatuhkan dari udara, hidup seharian orang Laos seperti selalu mengenakan sepatu yang ada kerikilnya, tapi kerikilnya adalah bom yang siap meledak setiap saat.

—- Yudhi Widdyantoro

Phonsavan

Delapan jam naik bis, kami sampai di Phonsavan. Kota ini berada di ketinggian 1300 m di atas permukaan laut; cukup dingin, terutama pada malam hari. Alamnya berbukit dan masih hijau oleh pepohonan. Dari bukit-bukit kapur sekitar kota banyak terdapat gua. Mungkin ini tempat ideal untuk sembunyi dalam perang gerilya, pikir saya. Dalam catatan perang Indochina yang berakhir 1975, daerah Phonsavan, khususnya sekitar Plain of Jars adalah basis perjuangan Pathet Lao. Daerah ini pula yang menjadi sasaran utama serangan bom armada Amerika yang dibantu tentara rahasia suku Hmong dengan pusat kendalinya di dekat Vang Vieng, 300 km barat daya Phonsavan.

Pada sore hari, saya mengunjungi kantor MAG (Mines Advisory Group), sebuah LSM internasional dengan kantor pusatnya di Manchester, Inggris, yang peduli pada upaya pencegahan korban ranjau bom dari adanya peperangan. Pada dinding kantor, terpasang poster besar peta persebaran bom. Dari data yang dimiliki MAG, ribuan metrik ton bom dari pihak-pihak yang berperang telah dijatuhkan, tapi hampir separuhnya tidak meledak seketika, namun tetap potensial meledak setiap saat, atau disebut UXO, unexploded ordnance. Di depan kantor, terparkir jeep Land Cruiser sebagai kendaraan operasional yang mengangkut para penjinak bom. Supir mobil itu seorang perempuan yang rajin memberi senyum pada banyak orang. Pakaian dinas lapangan pahlawan kemanusiaan ini berwarna abu-abu, ditambah topi ala Indiana Jones. Tidak terlihat oleh saya vihara di sini. Perang telah meluluh lantakkan kota, termsuk vihara yang tidak ada sangkut-pautnya dengan perang.

Dari guesthouse tempat saya menginap, mereka menawarkan bergabung dengan beberapa turis lain mengunjungi Plain of Jars, situs-situs batu megalitikum berbentuk kendi yang banyak terdapat di Phonsavan ini. Ada tiga lokasi persebaran kendi-kendi dari batu besar ini terkonsentrasi. Setiap menuju lokasi, dari jalan beraspal perhentian mobil kami harus berjalan di jalan setapak sebesar satu setengah meter yang di kiri-kanannya bertanda pal merah-putih bertuliskan MAG, sebagai indikasi bahwa di antara batas warna putih tanah itu telah dibersihkan dari bom sampai ke bawah permukaan tanah, sementara warna merah menandakan bahwa pembersihan ranjau hanya sebatas permukaan tanah, di sebelah luar batas merah, tidak ada yang menjamin kelangsungan hidup orang-orang yang melewatinya, tidak juga MAG. 

Dari satu lokasi ke lokasi yang lain, jaraknya cukup jauh. Dalam perjalanan itu, tampak dari kejauhan, laskar MAG, para penjinak bom sedang bekerja dalam panas terik, langkah demi langkah mendeteksi metal yang dapat membuat orang terpental, mati oleh ledakan karena tidak sengaja menginjaknya. Apabila diingat banyaknya ranjau darat yang dipasang selama perang dan mengandung ancaman kematian yang sama dengan bom yang dijatuhkan dari udara, hidup seharian orang Laos seperti selalu mengenakan sepatu yang ada kerikilnya, tapi kerikilnya adalah bom yang siap meledak setiap saat. Sungguh tidak nyaman. Betapa rentan bahaya hidup semua orang Loas, lebih khusus para penjinak bom ini.   

Jam tiga sore, saya sewa kendaraan ke desa Thajuk, lebih 60 km di luar kota. Di desa ini, penduduknya banyak menggunakan sisa-sisa bom untuk kelengkapan rumah: cangkang bom setinggi 2,5 m untuk pagar rumah, ada yang memakai untuk cagak kandang burung, penyangga meja dalam rumah, atau untuk pot tanaman, granat yang dimainkan anak-anak, tentunya tidak akan meledak. Desa ini nampak miskin, tidak ada rumah dari beton, namun penduduknya seperti selalu ceria. Di balik keceriaan itu, Thajuk seperti membari peringatan pada semua, batapa mengerikannya perang itu.

Vang Vieng

Destinasi saya berikutnya adalah Vang Vieng yang menurut cerita Christopher Robbins dalam bukunya The Ravens: Pilots of the Secret War of Laos bahwa CIA, agen rahasia Amerika membangun kota rahasia Long Cheng di pinggiran kota ini. Bersama dengan gerilyawan suku Hmong, Amerika mengendalikan perang melawan bangsa Laos dan Vietnam dari Long Cheng ini. Tanpa banyak diketahui sejarawan dunia, ternyata pada 1969 lapangan terbang di Long Cheng ini adalah yang tersibuk di seluruh jagat oleh lalu lintas terbang dan mendarat bagi kapal perang Amerika yang mereka gunakan untuk membombardir seluruh negeri Loas, atau seluruh negeri Indochina dengan alasan untuk menghentikan “bahaya” efek domino komunisme.

Dengan bis malam VIP saya menuju Vang Vieng yang akan memakan waktu tujuh jam. Pukul 19 lebih sedikit bis jurusan Vientiane via Vang Vieng ini mulai berjalan setelah penuh terisi, bahkan gang di dalam bis penuh oleh barang bawaan penumpang dan kursi tambahan dari plastik. Selang setengah jam, penumpang di depan saya mabuk darat, muntah-muntah dengan sangat ekspresif tanpa sungkan. Tidak tersedia plastik untuk menampung membuat lantai bis tergenang oleh “bubur encer” dari isi perut orang itu. Bau anyir menjadi aroma pengiring sepanjang perjalanan malam itu. Dalam hati saya tersenyum, saya pikir, pemilik bis itu mempunyai sense of humor yang baik, tanda VIP besar pada bis itu mungkin kependekan dari “Very Improper, Please”.  

Waktu berhenti untuk istirahat dan makan, dua awak bis bercakap-cakap pada penumpang mabuk, ada yang membersihkan lantai. Salah satu kernet membawa senjata laras panjang AK-47. Semua rute menuju atau dari Phonsavan adalah rawan perampokan, karenanya perlu menyertakan pemuda bersenjata. Ternyata istirahat tidak menghentikan mabuk orang itu, sehingga ketika harus turun di Vang Vieng saya harus berjalan sambil melompat menghindari muntahan.

Jam menunjukkan pukul 02.20 dini hari; gelap dan sepi. Hanya ada dua bangunan rumah yang diapit sawah. Ternyata itu bukan terminal bis. Saya tidur di emperan rumah itu. Setelah terlihat cahaya saya mulai berjalan menuju pasar untuk mencari toilet dan sekadar cuci muka dan gosok gigi. Dari pasar terlihat rangkaian bukit kapur yang hijau tertutup oleh pepohonan dengan puncak-puncaknya menyembul diantara kabut pagi, seperti lukisan China klasik.  Sempat juga sarapan buah, kueh dan minum kopi sebelum naik tuk-tuk ke penginapan, Jardin de Organic, vila-vila kecil di tepi sungai Nam Song.

Saya sewa sepeda untuk keliling kota, ke vihara-vihara dan pasar. Menyusuri satu sisi kota yang dipenuhi café dan bar bernama Inggris atau Perancis. Daftar menu pada papan menuju pintu masuk bertuliskan beragam bahasa, bahkan juga Hebrew. Memang banyak terlihat pemuda bertopi rabbi, yang hanya dipakai pemuda berdarah Yahudi. Banyak turis muda mancanegara bercengkerama di restoran dan café. Wajah mereka kusut seperti baru bangun tidur. Mungkin berpesta sampai dini hari, pikir saya. Banyak juga gerai yang menawarkan paket kegiatan luar ruang yang menantang adrenalin, seperti panjat tebing, rafting, tubing, menyusuri gua, dan kayaking sampai Vientiane. Mungkin ini sebabnya Vang Vieng menjadi sangat terkenal bagi turis muda usia. Dan dengan panorama yang cantik, tidak salah rupanya, tentara Amerika yang terjun di medan perang Indochina memilih Vang Vieng menjadi basisnya. 

Setelah makan siang, masih dengan sepeda, saya menyebrang sungai munuju bukit-bukit kapur yang mengesankan saya di pagi buta itu. Hampir di semua bukit, ada gua yang dijaga pemuda lokal yang menawarkan jasa memandu, dan sewa lampu senter. Di satu desa yang hidup berdampingan komunitas Loas dan Hmong, saya diajak makan bersama di halaman rumah satu keluarga. Menunya, ketan dengan sayur dan ikan sungai goreng kecil-kecil. Kemudian bergabung keluarga dari rumah lain. Kami duduk lesehan. Nikmat walau dengan menu sederhana.  Karena cukup lelah bersepeda, malam itu saya tidur lebih cepat, mengurungkan niat melihat kehidupan malam, berpesta-ria bersama turis muda.

Hari ke-2 di Vang Vieng saya lalui dengan hanya santai, membaca di beranda vila, atau taman tepi sungai melihat anak-anak bermain-main dengan air, mencari ikan. Sore hari melihat lomba perahu naga. Saya istirahat mengumpulkan tenaga untuk naik kayak menuju Vientiane keesokan harinya untuk kemudian pulang ke Jakarta.      

Dalam truk tertutup yang menjemput saya untuk memulai perjalanan menyusuri sungai dengan perahu dari fibreglass tanpa mesin, bermuatan dua orang itu, telah ada 10 orang, laki-laki dan perempuan berwajah Kaukasia. Perlu waktu dua jam untuk sampai ke tempat pemberangkatan. Pemandu yang mengaku bernama Johny, orang Laos asli cukup komunikatif dengan bahasa Inggris yang baik. Demikan juga ketika dia memberi arahan untuk keselamatan dalam ber-kayak-ria.

Arus sungainya tidak terlalu keras. Mungkin arung jeram sungai Citarik lebih menantang. Hanya beberapa kali kami bertemu pusaran air dan gelombang yang bergolak dalam perjalanan yang menempuh lima jam, tapi toh ada juga peserta yang terbalik beberapa kali. Dalam jam ke-4 ber-kayak, kami istirahat makan siang. Di sini kami berkesempatan naik bukit batu setinggi 10 meter untuk melompat ke sungai dan berenang dengan puas. Ini adalah perhentian terbaik untuk istirahat, karena hampir semua tour operator mengistirahatkan rombongannya di sini. Tempat ini menjadi sangat ramai. Penuh orang dari bermacam bangsa. Satu jam lagi kami akan sampai di Vientiane dan arus sungai, kata Johny, akan sangat tenang. Seiring arus sungai yang pelan, dalam hati saya bernyanyi lagu “Imagine” yang kerap dinyanyikan almarhum John Lennon dengan suara syahdu:  

Imagine there no countries

It isn’t hard to do

Nothing to kill or die for

No religion too

Imagine all the people living in peace

Imagine no posessions

I wonder if you can

No need for greed and hunger

A brotherhood of man

Imagine all the people sharing all the world

You may say

I am a dreamer, but I’m not the only one

I hope someday you’ll join us

And the world will be as one.

[Selesai]

Cerita Tiga Kota: Kerikil Bom dalam Sepatu Laos (1)

Terik matahari menggiring saya untuk mencari keteduhan di bawah rindang pohon bodhi di depan dhammasala sambil mengagumi keindahan bangunan yang terawat baik di hadapan saya itu, atau bergantian duduk di bawah atap vihara sambil memandangi daun-daun pohon bodhi yang bergerak oleh angin.

—– Yudi Widdyantoro

Hujan mengiringi perjalanan malam saya dari Vientiane ke Luang Prabang. Dari bis VIP ber-AC yang tidak terlalu penuh penumpang, tidak terlihat pemandangan Laos—negara termiskin di wilayah Asia Tenggara yang bersama Vietnam dan Kamboja pernah berubah menjadi ladang pembantaian dalam perang Indochina. Karena gelap, di luar jendela bus, perjalanan yang menempuh 11 jam tidak memberikan kesan sisa-sisa kerusakan akibat perang yang menewaskan jutaan manusia mati sia-sia.

Luang Prabang

Hari masih gelap sesampai saya di Luang Prabang. Hujan yang belum berhenti seperti memberi ucapan selamat datang di kota tua yang tertata dengan baik, dan merawat “ketuaanya” dengan sepenuh hati. Saya pinjam payung dari ibu pemilik Choumkong Guesthouse yang diklaim buku Lonely Planet sebagai yang mempunyai kloset terbersih di seluruh kota. Pagi itu, saya mulai dengan minum mix juice di café tepi sungai Mekong.

Seiring hujan yang mereda, sinar matahari mulai menombaki meja-meja deretan café sepanjang sungai yang menerobos dari celah-celah dedaunan. Lambat-lambat mulai tampak fisik kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan zaman monarki. Di hadapan saya, terbentang pemandangan menawan: bangunan beraroma kolonial Perancis yang menjadi restoran dan guesthouse, bergantian menyembul dengan biara-biara tua buddhis dengan arsitektur khas Indochina. Mulai banyak orang lalu-lalang memikul keranjang. Sambil tersenyum, terkadang disertai anggukan kepala atau badan merunduk serta telapak tangan terkatup di depan dada sebagai tanda hormat, mereka menyapa: “Sabaii-dii, sabaii-dii…”. Saya tersadar bahwa Luang Prabang yang menjadi tujuan utama datang ke Laos seperti menyilakan saya untuk segera dieksplorasi.

Menyusuri sedikit jalan di pinggir sungai, saya berbelok melalui jalan kecil yang tersusun dari batu bata merah untuk masuk ke Royal Palace Museum, sebuah museum yang memiliki kebun bunga asri dan luas, tempat dulu pusat kekuasaan monorki berjalan. Sejak memasuki halaman, sudah terasa bahwa bangunan itu menyimpan sisa kemegahan masa lalu. Arsitekurnya adalah paduan antara motif tradisional Laos dan bergaya seni Perancis. Setelah membayar tiket sebesar 30.000 kip (1 US$ = 8.500 kip), saya mulai menyambangi setiap ruang tempat dimana raja-raja Loas dulu tinggal sebelum mengungsi atas desakan Pathet Lao, sayap militer perjuangan rakyat Loas berhaluan Marxist yang semakin kuat pada dekade 70-an.

Tepat di tengah bangunan utama adalah singgasana raja yang terbuat dari emas. Dengan tetap memberikan kedudukan terhormat pada pendeta buddhis sebagai penasihat spiritual, ada meja tempat duduk pendeta yang sedikit lebih rendah dan diletakkan hanya beberapa langkah dari kursi raja. Selain kamar tidur keluarga raja, sebagian besar ruangan adalah tempat menyimpan benda-benda peninggalan dinasti kerajaan selama berkuasa, seperti pada umumnya alih fungsi istana yang telah dibuka untuk publik pariwisata di masa demokrasi modern menggantikan raja-raja. Bagi masyarakat lokal museum ini adalah bangunan yang menyeramkan. Mereka mempercayai sering terjadi penampakkan arwah keluarga raja.

Masih dalam kompleks istana, di bangunan yang terpisah bagian belakang adalah tempat menyimpan koleksi mobil-mobil raja dengan tahun pembuatan yang paling baru adalah Crysler tahun 1965. Ada empat mobil semuanya dengan peruntukan yang berbeda. Hampir sejajar dengan museum mobil, di bangunan yang lain adalah function hall yang ketika saya kunjungi sedang berlangsung pameran foto hitam putih karya fotografer dari Perancis tentang kehidupan rahib buddhis dalam biara.

Sambil mencari makan siang hari, saya menyusuri jalan utama yang pararel dengan sungai Mekong. Pengaruh Perancis yang pernah berkuasan di Indochina ini masih terasa dengan kuat. Setiap memasuki jalan baru, akan tertulis kata rue di penunjuk nama jalan yang artinya ‘jalan’ dalam bahasa Perancis. Dari bangunan, utamanya untuk restoran dan menjual kerajinan, aroma Perancis masih kental tercium. Demikian juga makanan, baguette, roti panjang khas Perancis, akan dengan mudah sekali mendapatkan.

Di restoran kecil depan vihara Wat Xieng Thong yang dipenuhi penduduk lokal, saya makan noodle soup dengan porsi yang jumbo. Selesai makan, saya segera memasuki kompleks vihara yang dibangun pada 1560. Walaupun berusia hampir 500 tahun, vihara ini masih berdiri dengan kokoh, termasuk juga fresco atau mural yang merepresentasikan ajaran Buddha di dinding dan langit-langit, masih nyata terlihat. Bukan hanya dhammasala, bangunan utama untuk meditasi dan persembahyangan yang terawat dengan baik, namun bangunan lain di dalam kompleks, seperti kuti atau tempat tinggal bhikhu, pendeta dan rahib juga masih asri dan bersih. Terik matahari menggiring saya untuk mencari keteduhan di bawah rindang pohon bodhi di depan dhammasala sambil mengagumi keindahan bangunan yang terawat baik di hadapan saya itu, atau bergantian duduk di bawah atap vihara sambil memandangi daun-daun pohon bodhi yang bergerak oleh angin.

Menjelang sore saya menapaki anak-anak tangga menuju vihara Phousy yang ada di puncak bukit. Dari seberang Royal Palace, anak tangga pertama bisa dimulai di pintu masuk ini, gratis. Pada anak tangga ke-105 baru ada petugas yang meminta membayar tiket sebesar 20.000 kip untuk sampai ke puncak bukit. Viharanya ada di atas tanah datar yang tidak terlalu luas, setelah kita menyelesaikan anak tangga yang berjumlah 300. Rasa lelah dan kesal menaiki bukit, segera terbayar oleh pemandangan indah seluruh kota. Susunan atap biara-biara yang selalu berjumlah ganjil, umumnya tiga atau lima, memberi impresi yang sangat menarik bila dilihat dari atas dan di kejauhan. Di halaman vihara ini kita akan mendengar beragam bahasa yang dituturkan pengunjung yang datang dari bermacam bangsa. Mereka sama-sama menanti matahari tenggelam. Udara sedikit mulai dingin oleh hembusan angin. Tidak ada peristiwa dramatis, tapi sekadar terpesona pada hal ihwal di sekitar kita, bahkan pada yang remeh-temeh. 

Sebelum gelap menghalangi jalan turun, saya menapaki anak tangga menuju pasar malam di sepanjang jalan di bawah bukit Phousy ini. Sesampai di bawah, seluruh badan jalan sudah dipenuhi lapak-lapak barang dagangan, hanya menyisakan selebar badan orang untuk berjalan. Pasar malam sifatnya seperti festival, mempertemukan beragam latar belakang juga kepentingan, antara penjual dan pembeli, turis berduit pemborong cendera mata, pengelana miskin seperti saya, backpacker yang sekadar ingin tahu, tentu ada fotografer pemburu momen, ada juga penjudi yang beradu permainan ketangkasan, tapi yang jelas semua ingin kegembiraan.

Tidak hanya di badan jalan, lapak juga merambah masuk ke halaman kompleks biara di sekitar istana. Para rahib buddhis tidak ketinggalan membuka stan untuk sekadar mendapatkan donasi. Di gang sedikit becek dan dipenuhi oleh pedagang makanan, saya menyantap dengan nikmat ikan bakar bersama lao vegetable salad dan sedikit ketan, serta menutup makan malam dengan sebotol kecil beer lao, salah satu bir paling enak yang pernah saya minum. Makanan asli Laos pada umumnya hampir mirip rasanya dengan makanan Vietnam atau Thailand. Demikian juga cara penyajiannya.

Pagi berikutnya, jam lima dini hari saya sudah menunggu di pinggir jalan untuk menyaksikan prosesi pindapata, ketika 325 pendeta dan rahib buddhis yang masih muda-muda, dengan jubah warna kuning kunyit separuh bahu terbuka berjalan mengumpulkan derma makanan dari penduduk. Di pinggir jalan, kaum perempuan sudah menunggu dengan keranjang berisi ketan untuk diisi ke mangkuk-mangkuk metal yang dibawa orang-orang suci tersebut. Dalam diam dan langkah yang pelan, mereka para rahib buddhis mendapat makan untuk konsumsi sampai siang hari, begitu setiap harinya. Prosesi itu dimulai dari Wat Xie Thong menyusuri jalan utama ke arah Royal Palace dan kembali ke biara melewati jalan lain yang paralel dengan sungai Mekong. Saya pikir tidak salah kalau UNESCO memasukkan Luang Prabang masuk dalam daftar warisan dunia.

Sambil jalan kembali menuju guesthouse, saya berhenti pada satu rumah yang pemiliknya, seorang ibu tua yang masih menyisakan garis kecantikannya sedang membeli panganan dari pedagang keliling. Banyak sekali makanan yang dijual itu sama persis dengan kue jajan pasar daerah Jawa: ketan hitam yang ditaburi kelapa parut dan gula pasir, ongol-ongol, gemblong, dan kue lapis pandan. Beruntung ibu itu masih berbahasa Perancis dengan baik, sementara bahasa Perancis saya sudah banyak lupa, tapi lumayan dapat membantu dalam berbelanja untuk sarapan pagi saya. Kue jajan pasar itu saya bawa ke warung angkringan di pasar pinggir sungai dekat kapal-kapal ditambatkan. Warung itu  menjual kopi dan teh serta makanan ringan. Seperti di Thailand dan Vietnam, cara menyajikan kopinya dengan menuangkan kopi kental yang telah diseduh dengan air panas terlebih dahulu ke dalam gelas yang berisi susu kental manis. Mantab sekali rasanya sarapan pagi saya itu sebagai bekal energi mulai melakukan tour kreasi sendiri dengan sepeda yang saya sewa dari pemilik guesthouse mengunjungi kampung-kampung dan keluar-masuk pasar mencoba keh-kueh khas lokal yang belum pernah saya rasakan, melihat-lihat anak sekolah bermain, juga vihara-vihara yang ada di luar pusat kota.

Saya tujukan kayuhan sepeda untuk mencapai vihara dengan stupa emas yang tampak cukup jauh dari bukit Phousy itu. Melewati kampung dan pasar, sering saya lihat, perempuan Laos melakukan menicure dan pedicure di banyak tempat oleh terapis yang memberikan jasanya dengan berkeliling. Di vihara stupa emas saya bertemu dua orang Italia, Valentina dan Daniela yang kemudian mengajak bersama-sama ke gua Pak Ou selepas makan siang.

Bersama juga satu kawan dari Indonesia, kami berempat menyewa perahu menuju gua. Dua jam melawan arus menyusuri sungai Mekong. Teringat film-film perang  Vietnam buatan Amerika: tentara Amerika yang sedang potroli sungai, ditembaki gerilya Vietcong dari semak-semak tepian sungai, tapi toh tentara di perahu yang hanya beberapa orang dapat membunuh ratusan gerilyawan. Di tengah perjalanan kami mengunjungi desa yang terkenal kepandaianya dalam membuat arak, Ban Xang Hai. Tidak disangka-sangka di gua yang tidak terlalu besar ini tersimpan patung Buddha dalam berbagai posisi yang berjumlah ribuan. Menjelang petang kami kembali ke Luang Prabang. Malam itu saya tutup dengan mengulangi “ritual” malam sebelumnya di pasar malam: sekadar jalan bersama orang yang berjejalan membeli souvenir, dan makan ikan bakar di gang becek dengan makanan penutup: kue lapis pandan hijau dan gemblong, tepung beras ketan berlumur gula jawa, hmmm…yummy! (MFR)

(Bersambung)

Traveling Manusia-Manusia

Traveling bukanlah hal sepele; tidak hanya soal perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Traveling adalah soal kehidupan dan penghidupan, soal keimanan dan proses meneguhkan keimanan dengan pengetahuan.

—– Hijroatul Maghfiroh

Ketika koronavirus memukul mundur umat manusia ke dalam kotak berbatas bernama rumah, barulah manusia sadar betapa sekadar ke luar rumah, apalagi traveling —melakukan perjalanan ke tempat baru—adalah salah satu aktivitas yang sangat berharga, menggairahkan dan penuh makna.

Untuk menguak kerinduan traveling, netizen rame-rame membuat gerakan memposting foto-foto kenangan ketika melakukan perjalanan. Saya yakin gerakan tersebut tidak hanya kerinduan mereka untuk mendatangi tempat baru, tapi lebih dari itu ia merupakan kerinduan akan sejarah dirinya.

Hampir bisa dipastikan sebagian besar dari kita pernah melakukan perjalanan, traveling. Sejarah umat manusia memang tidak bisa dipisahkan dari traveling. Lihatlah masa awal manusia pada zaman praaksara; mereka hidup berpindah-pindah, ‘traveling’, mengikuti sumber makanan atau yang kita kenal dengan nomaden. Bahkan awal peradaban manusia yang lazim diketahui berada di Mesopotamia, konon manusianya pun masih hidup seminomaden.

Seiring dengan gerak maju peradaban manusia, berkembang pula pengetahuan. Biasanya dalam perkuliahan filsafat dasar, kita akan disuguhi tentang sejarah peradaban pengetahuan Yunani kuno. Di sana terpancang tonggak awal pergeseran pola pikir manusia yang sebelumnya mitosentris menjadi rasional, dan kelahiran ilmu pengetahuan melalui filsafat. Salah satu tokoh filsafat awal di era ini adalah Thales yang konon mengobrak-abrik cara berfikir masyarakat Yunani yang masih ‘menyembah’ mitologi. Nah, konon Thales, yang juga seorang saudagar, sangat gemar melakukan traveling; dia bahkan pernah melakukan lawatan ke Mesir, salah satu kota peradaban kuno yang letaknya tentu tidak dekat dari Yunani.

Tidak hanya para filsuf yang melakukan traveling, para nabi dan pembawa risalah keagamaan-pun tidak bisa dipisahkan dari pengembaraan, ‘traveling’. Baik perjalanan mendapatkan wahyu maupun menyebarkan ajaran kebaikan yang mereka imani.

Sebut saja Hindu. Agama yang tercatat dalam sejarah sebagai salah satu agama tertua di dunia ini juga merekam banyak pembawa risalah melalui traveling. Agama ‘politeis’ (memuja banyak dewa) ini tidak memiliki tokoh sentral seperti agama-agama yang sering kita kenal. Tapi justru dalam serpihan rekaman sejarah, agama ini tersebar luas melintasi batas-batas benua, tentu melalui perjalanan para pembawa ajarannya. Tidak hanya itu, ajaran Hindu—yang meyakini banyak Dewa dan tempat suci—mendorong pengikutnya akrab dengan tradisi ziarah, ‘traveling’, ke tempat-tempat yang diyakini penuh berkah dari para Dewa-Dewi.

Begitu juga agama yang dianggap dekat dengan Hindu, yaitu Buddha. Kelahiran agama ini justru karena ‘pelanggaran’ sang pendiri, Siddharta Gautama, melakukan perjalanan ke luar istana. Dalam perjalanan tersebut beliau menemui empat keadaaan manusia: orang sakit, orang tua, orang mati, dan pertapa. Perjalanan ke luar istana pertama itulah yang mengilhami Sang Buddha melakukan pengembaraan lebih jauh, ‘traveling’, meninggalkan jabatan, harta dan keluarganya. Berbeda dengan Buddha, Konfusius bukanlah ‘pencipta’ agama yang dikenal di Indonesia sebagai Konghucu. Dia ‘hanyalah’ penyempurna tatanan nilai-nilai bijak bestari sebagai penuntun kehidupan. Dia menyebarkan ajaran etikanya dengan melakukan pengembaraan, ‘traveling’. Konon dia berjalan kaki  hingga puluhan tahun menyampaikan tuntunan nilai kebajikan dalam hidup.

Traveling tidak hanya dijumpai dalam tradisi agama-agama ‘bumi’. Agama-agama ‘langit’ pun sangat bergantung pada pengembaraan para pembawa risalah dalam menyampaikan ajaran ketauhidan. Untuk memudahkan dan menyingkat pembahasan, kita akan melihat bagaimana ‘traveling’ ini menjadi bagian tak terpisahkan dari para Nabi Ulul Azmi—para nabi yang diberi keteguhan hati—dalam  menemukan keesaan Tuhan.

Nabi Nuh alaihi salam dan sedikit pengikutnya diselamatkan Allah SWT dari banjir dahsyat dengan ‘traveling’ menggunakan perahu besar. Kita semua pasti akrab dengan banyak kisah pencarian Tuhan oleh Nabi Ibrahim alaihi salam. Setelah menghancurkan berhala, mencari jejak ilahi pada alam semesta, Ibrahim diusir oleh ayahnya yang menurut banyak kisah tidak mengimani ajarannya hingga akhir hayat. Ibrahim pun melakukan perjalanan jauh bersama istri setianya, Sarah.

Berbeda dengan Ibrahim, Nabi Musa alaihi salam justru melakukan perjalanan sejak masih bayi. Dia diselamatkan oleh Ibunya dari rencana pembunuhan si penguasa lalim, Firaun. Musa pertama kali melakukan ‘traveling’ menyusuri sungai Nil hingga akhirnya diselamatkan oleh perempuan mulia lainnya yang tak lain istri Firaun sendiri.

Musa dewasa kemudian meninggalkan kota dan keluarganya, melakukan perjalanan ke Madyan—konon sekarang antara Syiria dan Saudi Arabia—yang berjarak 1000 km dari Mesir tempat Musa tinggal saat itu. Di sana ia berguru kepada Nabi Syuaib, dan akhirnya menikahi putri gurunya tersebut. Setelah lama menetap di Madyan, Musa kembali ke Mesir, dan konon dalam perjalanan kembali itulah Musa menerima wahyu pertama di Gunung Sinai.

Perjalanan Nabi Isa lebih heroik lagi. Bahkan sejak dalam kandungan perempuan mulia, Maryam, Isa alaihi salam melakukan perjalanan untuk pengasingan dari tanah kelahirannya. Di perbukitan Bethlehem, Palistina, Nabi Isa kemudian dilahirkan. Tidak seperti nabi ulul azmi lainnya yang melakukan perjalanan ketika menyebarkan risalah kenabian, Nabi Isa, menurut banyak versi, hingga saat ini masih ‘dalam perjalanan ketuhanan’ dan kelak akan kembali  ke bumi.

Seperti laiknya nabi-nabi terdahulu, Sang Khatamul Anbiyâ juga banyak dikisahkan melakukan perjalanan. Jauh sebelum menerima kenabian, Nabi Muhammad alaihi salam menjadi ‘reseller’ saudagar perempuan mulia nan kaya, Khadijah. Beliau menjajakan barang-barang yang diambilnya dari Khadijah ke luar kota. Tetapi penanda paling kentara dari traveling Kanjeng Nabi adalah ‘hijrah’; berpindahnya nabi dan pengikutnya dari Mekah menuju Yastrib atau Madinah yang berjarak sekitar 450 km menggunakan unta yang konon memakan waktu sekitar 10 – 15 hari. Konon rute hijrah Nabi tidak lazim dilakukan orang yang melakukan perjalanan dari Mekah ke Madinah.

Tidak hanya rute yang berbeda, dari pelajaran tarikh Nabi yang disampaikan sejak di ibtidaiyah pun kita tahu bagaimana strategi menegangkan Nabi dan para Sahabat menghalau kebencian suku Quraisy yang menentang ajaran Nabi.

Budaya ‘traveling’ dalam agama-agama memang tidak bisa dipisahkan dari budaya ‘ekspansi’; kerja sama, penaklukan dan pengetahuan. Demikian pula dalam Islam. Ketika Nabi dan para pengikutnya berhijrah ke Madinah—kota beragam suku, agama, dan strata ekonomi—maka di situ terjadi saling berkunjung dan saling mengenal satu sama lain. Masa penaklukan ditandai dengan berkuasanya Sahabat Umar bin Khatab yang mampu menguasai jazirah Arab, Palestina, Syiria, dan sebagian wilayah Persia, dan Mesir. Kemudian diteruskan oleh penggantinya Utsman bin Affan hingga era Umayah dan Abbasiyah.

Sebenarnya budaya traveling yang paling saya sukai adalah di era pengetahuan, yang secara ringkas saya tandai di era imam mazhab. Dari empat imam mazhab, hanya Imam Malik-lah yang konon tidak pernah traveling ke luar Madinah (kecuali berhaji). Imam Abu Hanifah misalnya, sebagai keluarga saudagar kaya, beliau banyak melakukan perjalanan, tidak hanya perjalanan bisnis tapi juga keilmuan. Tercatat dalam salah satu kisah, beliau memiliki 4000 guru yang tentu didapatkan dari seringnya melakukan ‘traveling’.

Yang paling termasyhur dalam melakukan traveling pengembaraan pengetahuan adalah Imam Syafii. Lahir di wilayah Asqolan (konon dekat Gaza), beliau kemudian belajar di Mekah, berguru pada Imam Malik di Madinah, kemudian ke Yaman, menetap lama di Irak, hingga kemudian berpindah ke Mesir sampai akhir hayatnya. Berbeda dengan Imam Syafii, Imam Hanbali meninggal di kota kelahirannya Baghdad. Tetapi beliau bukan tidak pernah melakukan perjalanan. Pertemuan beliau dengan Imam Syafii yang menjadi salah satu gurunya, justru ketika Imam Ahmad bin Hanbal melakukan perjalanan ke kota-kota di luar Baghdad, seperti Mekah, Madinah, Suriah, dan Yaman.

Dari kisah perjalanan ‘traveling’ di atas, maka traveling bukanlah hal sepele; tidak hanya soal perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Traveling adalah soal kehidupan dan penghidupan, soal keimanan dan proses meneguhkan keimanan dengan pengetahuan. Pada masa awal penyebaran ajaran keagamaan, mereka–para pembawa risalah—melakukan ‘traveling’ karena pencarian dan mempertahankan ‘identitas’ keimanan. Maka, selayaknya perjalanan traveling yang kita lalui saat ini pun harus memberikan dampak bagi keimanan kita; traveling bisa jadi adalah jalan ruhani menuju yang hakiki.

Traveling tidak hanya sekedar memindahkan tubuh, tapi juga jiwa dan kesadaran menikmati dan mengenali tempat baru. Bagaimana sensitivitas sosial Siddharta terbangun ketika dia melakukan perjalanan ke luar istana. Ajaran-ajaran Konfusius pun selalu berkembang mengikuti refleksinya atas temuan-temuan di perjalanan ketika menyampaikan ajarannya. Kita harus belajar dari Nabi Nuh, bahwa traveling adalah tentang menyelamatkan, memberi kebahagiaan kepada siapa saja terutama kepada orang yang telah mempercayai kita. Ketika melakukan traveling bersama orang terdekat, hendaklah Anda selalu memberi rasa nyaman kepadanya.

Traveling juga media menemukan jati diri; bagaimana Ibrahim dan Musa harus ke luar dari keluarganya sampai kemudian dia menemukan siapa Tuhan yang ia yakini harus disembah dan diperjuangkan. Belajar dari perjalanan Nabi Isa dan Muhammad, traveling adalah juga tentang menyelematkan diri dari kepungan orang-orang jahat dan tidak bertanggung jawab. Nabi Muhammad menemukan ‘hidup baru’ yang lebih baik untuk dirinya dan pengikutnya setelah melakukan hijrah, ‘traveling’. Begitupun traveling yang dilakukan oleh para sahabat, tabi’in, dan ulama/imam mazhab. Perjalanan bukan tanpa tujuan, melainkan memenuhi rasa keingintahuan mereka terhadap luasnya pengetahuan.

Maka, lakukanlah perjalanan, penuhilah rasa keingintahuan kalian. Perhatikan hal-hal baru di setiap perjalanan yang kalian temui. Bukalah hati dan fikiran kalian untuk menerima hal-hal baru tersebut. Berikan waktu sejenak untuk merenungi dan berefleksi atas apa yang kalian temui dalam perjalanan. Niscaya traveling kalian bukanlah hal yang tiada faedah. Selamat mencoba.[MFR]