Perjalanan Musafir: Sebuah Novel

Perjalanan Musafir seperempatnya berbasis filasafat, seperempatnya tasawuf dan kejawen, seperempatnya racikan postkolonial dan humanisme, dan seperempatnya lagi adalah hasil penelitian beberapa pihak. Maka dari itu, wajar jika novel ini dihargai mahal.

—– Moh. Irmawan Jauhari

Saya pernah menjadi salah satu fasilitator dalam NaSReCD (National Seminar for Research Community Development) di STITNU Mojokerto akhir 2019 lalu. Di forum tersebut, saya memperkenalkan diri sebagai peneliti yang menggunakan hasil penelitiannya tidak semata dalam bentuk jurnal maupun buku ilmiah. Salah satu luaran dari beragam penelitian bisa dalam bentuk novel.

Tentu hal ini mengejutkan bagi para peserta, mengingat pemahaman yang lazim adalah penelitian ilmiah berorientasi pada karya-karya ilmiah seperti artikel dan buku. Kemudian saya meminta waktu sebentar bagi para peserta untuk melakukan penelusuran daring novel Perjalanan Musafir karya saya sendiri; saya meminta mereka mendialektikakan novel tersebut dengan slide yang telah dipersiapkan. Sebagai pemantik, saya mengarahkan para peserta untuk melihat sejenak paradigma kualitatif menurut Jhon W. Creswell (2014); meskipun dia memotret satu objek, dia bisa menghasilkan penelitian yang beragam. Di akhir seminar, ada pertanyaan yang menggelitik; mengapa harga novel saya lebih mahal dari buku-buku teori yang setebal batu bata?

Perjalanan Musafir adalah novel ketiga yang diterbitkan penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta, 2019. Umumnya, masyarakat melihat novel sebagai fiksi dan jauh dari kebenaran empiris. Namun perlu dipahami, novel ini merupakan refleksi perjalanan cukup panjang penulis dalam rentang waktu antara 2004-2016. Penulisannya sendiri terjadi antara 2014-2018; mengalami beberapa kali revisi dan diskusi dengan beberapa rekan yang punya minat pada sastra.

Manusia dalam makna umum dan khusus adalah musafir; terus berjalan dan mencari pemuas atas sumber kegelisahannya. Dalam masa pencarian yang tiada berujung tersebut, terjadi banyak dialektika kehidupan yang mendewasakan manusia. Dialektika ini juga tidak jarang melahirkan manusia pecundang karena kalah dari persaingan dalam perspektif positivistik, ‘survival of the fittest (Veeger, 1997:24). Perjalanan hidup manusia juga adalah soal konflik. Secara teoritis, konflik adalah bentuk wajar -mulai tingkat yang paling sederhana sampai paling rumit—dalam kehidupan manusia  (Soekanto, 2013:131). Sayangnya, sebagian dari kita kurang memahami dialektika dan esensi dari konflik. Jika dipahami dengan baik, konflik tidak lain adalah gerak zaman yang membenturkan persoalan filosofis antara das solen ‘yang seharusnya’ dan das sein ‘yang senyatanya’. Jadi, konflik adalah dialektika kehidupan.

Ketika berinteraksi di dalam masyarakat, manusia mengalami benturan upayanya menerapkan pemahaman berdasar pengetahuan kognitifnya. Contoh sederhananya adalah konsep toleransi dan moderat yang begitu indah terdengar di ruang-ruang kelas prodi SAA. Di lapangan, kata moderat dan toleran harus bersinggungan dengan banyak hal, khususnya kepentingan. Belum lagi ketika manusia berbicara tentang konsep idealisme dalam agama dan sila kelima yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Coba kita kentekstualisasikan, misalnya, dengan penerima Bansos Covid-19 di sekeliling kita saat ini.  

Hal-hal semacam itu menggugah kesadaran saya bahwa realitas sosial tidak sesederhana ungkapan Berger tentang tiga tahap pembentukan realitas sosial: eksternalisasi, internalisasi, objektivasi (2002). Pendidikan bukan sekadar model formal, informal, dan nonformal; pengetahuan juga tidak melulu dibangun berdasar perspektif rasionalisme maupun empirisme (Ahmad Baso, 2017). Karena merasa belum puas atas kesenjangan antara teks dan konteks, saya mengambil jalan lain untuk memahami realitas sosial sebagai lokus interaksi manusia. Beragam dialektika dalam kehidupan masyarakat pada akhirnya mendorong saya berani untuk merefleksikan, menginterpretasi, dan memberi ciri khas pada Perjalanan Musafir.

Bukan secara kebetulan, saya mengampu mata kuliah metode penelitian, dan juga penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan dan sumberdata dalam penelitian kualitatif sangat berperan penting dalam penelitian yang saya lakukan (dengan dibantu sejumlah mahasiswa). Saya menggunakan data-data yang diperoleh untuk kemudian dipakai dalam menulis fiksi, meskipun sebagian tetap saya pakai untuk kepentingan akademik. Beberapa bahan dalam Perjalanan Musafir diolah, disaring, dan dipadatkan dengan menggunakan teknik kualitatif. Semua bahan ini lalu dirajut dengan disiplin pengetahuan lain agar lebih berwarna dan punya unsur kebaharuan dalam memahami problem manusia dan kemanusiaan atau hidup dan kehidupan.

Perjalanan Musafir dibagi ke dalam tiga bagian. Bagian Pertama adalah “Dewa Ruci”, diambil dari saripati kisah pewayangan yang mengisahkan perjalanan Bima dalam menemukan ilmu hakikat kehidupan dalam inti samudera. Cerita “Dewa Ruci” dalam konteks Bima hampir sama dengan pandangan tasawuf al-Ghazâlî bahwa ilmu makrifat adalah intan berharga yang terletak di samudera. Kekhasan “Dewa Ruci” dalam novel saya dijumpai sebelum sampai pada Dewa Ruci; ada sebuah pulau bernama Pulau Perbatasan yang tak lain adalah pantulan dari kenyataan; sebuah jembatan untuk masuk ke dalam dimensi lain. Di Pulau Perbatasan, terdapat sosok misterius wanita penguasa dermaga yang merupakan simbol dari keragu-raguan serta godaan dalam melakukan perjalanan.

Bagian Kedua, “Pada Mulanya”, menceritakan awal mula sang musafir memutuskan untuk melakukan perjalanan. Dalam bagian ini, ungkapan Rudolf Otto –yang cukup familiar di telinga para mahasiswa SAA—mysterium tremendum et fascinans ‘Tuhan adalah misteri yang menggentarkan sekaligus memesona’ menemukan pijakannya. Konsep ketundukan dan kepasrahan seorang murid tarekat (sufi dan tasawuf) juga ditemukan di bagian ini.   

Bagian Ketiga, “Pada Akhirnya”, merupakan sintesis dari semua eksplorasi dalam Bagian Pertama dan Bagian Kedua mengenai manusia-kemanusiaan, dan hidup-kehidupan. Prinsip adaptasi dan pemahaman kritis-transformatif bisa dilihat dalam dialog ketika seorang murid berdiskusi dengan guru mengenai sebuah konsep pemahaman universal yang diterjemahkan ke dalam lokalitas maupun kesesuaian dengan pribadi yang bersangkutan. Mahasiswa Tarbiyah mengenal konsep ini dengan pembelajaran yang berorientasi pada murid ‘studentcentered approach’. Pendidikan dan pembelajaran adalah arus internalisasi pengetahuan dua-arah, dan murid bukan tabung kosong atau kertas putih tanpa bekal apapun. Keluarga dan lingkungan adalah penegak ruang afektif dan psikomotorik dari seseorang, dan lembaga pendidikan adalah pemoles dan penguat ranah kognitif mereka.

Perjalanan Musafir seperempatnya berbasis filasafat, seperempatnya tasawuf dan kejawen, seperempatnya racikan postkolonial dan humanisme, dan seperempatnya lagi adalah hasil penelitian beberapa pihak. Maka dari itu, wajar jika novel ini dihargai mahal. Naskah kedua, Percakapan Para Musafir di Sebuah Kedai, insya Allah akan tuntas dalam waktu dekat. Mohon doa dari Anda sekalian.[MFR]

Envisioning Prodi SAA di Era Industri 4.0: Mengukuhkan Kesadaran Kritis-Transformatif Mahasiswa

Moh. Irmawan Jauhari*

Mukadimah

Saya melihat hingga kini minat mahasiswa untuk masuk Prodi Studi Agama-Agama (SAA—dulu Perbandingan Agama/PA) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah tidak sebanyak di prodi lain pada fakultas Tarbiyah atau Syari’ah. Alasannya klasik, dalam dunia kerja dua fakultas ini dianggap memiliki lapangan kerja yang cukup banyak. Pendapat ini kemudian berpengaruh pada kuantitas mahasiswa SAA itu sendiri. Terlebih jika mereka tidak berproses dengan baik, tentu semakin melegitimasi apa yang sudah menjadi pandangan apriori masyarakat selama ini. Padahal, sebenarnya jika mau melihat lebih jauh, Prodi SAA berkontribusi penting dalam merawat realitas multikultural bangsa-negara Indonesia. Prodi ini memiliki kompetensi berbasis keilmuan yang cukup mumpuni untuk menjadi agent of change dan agent of control dalam kehidupan. Tentunya, untuk membentuk mahasiswa SAA menjadi kompeten di bidangnya, Tridharma Perguruan Tinggi adalah basisnya.

Dewasa ini, laju cepat perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi menuntut percepatan juga di berbagai bidang, termasuk SDM yang ada. Tuntutan demikian dibutuhkan bagi siapapun untuk bisa survive di era industri 4.0. Dorongan-dorongan yang ada memengaruhi pola pikir, idealisme, dan sampai pada perilaku mahasiswa pada umumnya, dan mendorong perubahan karakter mahasiswa SAA pada khususnya.

Tidak mengherankan apabila kemudian banyak mahasiswa yang kurang peduli terhadap lingkungan dan masa depan karena mereka terjebak dalam mainstream permukaan revolusi industri 4.0. Akan tetapi, untuk memahami mengapa ada perubahan zaman dan dampaknya bagi kehidupan, mahasiswa dewasa ini kurang memiliki kepekaan. Dalam ruang SAA, pergeseran yang cukup cepat ini perlu menjadi renungan bagi siapapun yang peduli akan akar kesejarahan IAIN Kediri yang tidak lain adalah Jurusan Ushuluddin (lebih tepatnya lagi, SAA). Sebagai alumni, kontribusi pemikiran yang terbatas ini bisa menjadi salah satu bahan renungan dan diskusi agar mahasiswa SAA IAIN Kediri memiliki kesadaran kritis yang transformatif dan konstruktif dalam masyarakat, serta mampu merawat realitas multikultural yang ada di Indonesia.

Mahasiswa, Karakter, dan Identitas Sosial

Mahasiswa adalah sebuat predikat bagi seseorang yang menempuh jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Menjadi mahasiswa berarti memiliki ciri yang bisa digunakan sebagai indentitas sosial ketika berada dalam masyarakat. Dengan ciri atau karakter tersebut, mahasiswa mendapatkan tempat tersendiri mengingat berbagai hal. Pertama, tidak semua orang bisa menembus perguruan tinggi. Kedua, berbagai proses mampu menentukan karakter mahasiswa; dan ketiga, tanggung jawab atas identitas sosial yang didapat sebagai akibat predikat menjadi mahasiswa.

Bahwa tidak semua orang bisa mengenyam pendidikan tinggi adalah sebuah fakta tak terbantahkan. Meskipun pemerintah memberikan pelbagai kemudahan untuk mengakses pendidikan tinggi, masih banyak orang yang memilih tidak melanjutkan studi dikarenakan berbagai hal. Kenyataan ini menjadikan mahasiswa sebagai sebuah kelompok elit di antara lingkungan pemuda dan pada masyarakat, sampai pada akhirnya menjadikan sebuah stigma apabila ada kegiatan, tentu mahasiswa yang diharapkan menjadi pemimpin. Padahal belum tentu mahasiswa tersebut mampu menjalankan tugas tersebut.

Berbagai proses yang wajib dilakukan oleh mahasiswa agar terbentuk karakter yang kuat, tercermin dalam Tridharama Perguruan Tinggi: Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian. Menjadi mahasiswa harus mau melakukan kegiatan pendidikan, di mana dalam konteks perguruan tinggi, model pembelajaran tidak sama dengan pendidikan dasar sampai menengah. Bentuk sederhana dari pendidikan adalah kuliah. Menjadi mahasiswa dengan demikian harus dan wajib mau kuliah. Perkuliahan yang dilakukan tentu pendekatannya berpusat pada mahasiswa (student-centered approach) dan mengadopsi orientasi yang konstruktif agar mereka menjadi lebih baik sesuai potensi yang ada pada diri mahasiswa. Dengan demikian, di satu sisi perkuliahan tidak boleh bergantung pada dosen (lecturer-centered), akan tetapi melibatkan unsur dialektis keilmuan. Namun perkuliahan harus tetap mengupayakan internalisasi nilai-nilai ke-ushuluddin-an, khususnya SAA, karena mahasiswa harus punya karakter khusus.


“Dukungan kebijakan pemerintah dan pimpinan kampus untuk keterlibatan mahasiswa dalam penelitian dan pengabdian bisa mengambil bentuk dukungan infrastruktur yang memadai, penguatan soft- dan hard-skills terkait kompetensi mahasiswa, pengembangan riset kolaboratif antara dosen dan mahasiswa, publikasi karya-karya dosen dan mahasiswa, dan penguatan kerjasama kelembagaan baik di tingkat nasional maupun internasional.”

Penelitian di wilayah mahasiswa ditandai dengan adanya tulisan kritis dari mahasiswa ketika ia melakukan pengamatan mendalam akan realitas sosial. Banyak yang mengasumsikan apabila penelitian sebatas pada tugas akhir mahasiswa. Pada jenjang pendidikan S1, maka skripsi adalah bentuk penelitian mahasiswa. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah meskipun memiliki beberapa kelemahan. Ketika mahasiswa melakukan perkuliahan dan mendapatkan tugas membuat makalah, misalkan materi perkuliahan Sosiologi Agama atau Filsafat Agama, ia boleh saja mengungkapkan pengalamannya atau hasil pengamatan terhadap fenomena sosial yang ada. Dialektika teori dan realitas ini akan memperkaya basis kognitif mahasiswa sehingga memberikan bekal pada mereka untuk mampu bersikap kritis kelak dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian sebagai bagian dari Tridharma Perguruan Tinggi mencoba mengarahkan mahasiswa SAA melakukan pengamatan atas realitas sosial yang tengah mekar di sekitar mereka. Dukungan kebijakan pemerintah dan pimpinan kampus untuk keterlibatan mahasiswa dalam penelitian dan pengabdian bisa mengambil bentuk dukungan infrastruktur yang memadai, penguatan soft- dan hard-skills terkait kompetensi mahasiswa, pengembangan riset kolaboratif antara dosen dan mahasiswa, publikasi karya-karya dosen dan mahasiswa, dan penguatan kerjasama kelembagaan di tingkat nasional maupun internasional.

Pengabdian oleh mahasiswa tidak sebatas ketika mereka melakukan KKN. Pengabdian dalam konteks perguruan tinggi, membutuhkan penterjemahan yang banyak karena orientasi dari pendidikan dan penelitian yang dilakukan mahasiswa mengarah pada pengabdian yang dilakukannya. Kepada siapa pengabdian tersebut ditujukan, jelas kepada manusia dan kemanusiaan. Manusia adalah obyek atau sasaran dari pengabdian, kemanusiaan adalah nilai dari eksistensi manusia seperti keadilan, kesetaraan, dan pengakuan atas yang lain. Indikator dari keadilan, kesetaraan, dan pengakuan atas yang lain adalah, mampu bekerjasama dengan baik, memberikan apresiasi, saling menghormati, saling menghargai, dan yang semisal. Tiga hal tersebut, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian, apabila dilakukan dengan baik dan serius akan menjadikan mahasiswa SAA memiliki karakter kuat sehingga ia memperoleh posisi strategis di dalam masyarakat.

Revolusi Industri 4.0 dan Problemnya dalam Perguruan Tinggi

Revolusi industri 4.0 memiliki unsur sinergi antara manusia dan sistem komputer berbasis internet untuk menjalankan produksi. Sistem produksi tidak sekedar mengarah pada inputs, proses, maupun outputs belaka, namun juga dampak (impacts) dari hasil produksi yang dilakukan. Apabila sebuah perusahaan, misalnya, tidak membuat barang yang bermanfaat, tentu hal ia akan kalah bersaing dengan perusahan lain.

Dalam lingkungan dunia pendidikan, persaingan antar lembaga pendidikan sampai perguruan tinggi sudah mengarah kepada seberapa bermanfaat lulusan atau alumni mereka dalam masyarakat. Kebermanfaatan alumni bisa menjadi citra positif lembaga tersebut di dalam masyarakat. Semakin bagus sebuah lembaga pendidikan, tentu tidak sekedar mempertimbangkan unsur inputs, proses, maupun outputs belaka, namun juga penempaan mahasiswa agar punya daya saing tinggi di dalam masyarakat.

Persaingan mutu alumni, dengan demikian, adalah persoalan kesungguhan mahasiswa, dosen, dan pengelola  untuk menjalankan proses Tridharma PT demi proses pembelajaran yang berkualitas. Luaran yang dihasilkan adalah alumni SAA IAIN Kediri yang hadir dan memberi kemanfaatan bagi sesama dan lingkungan tempat ia berkipran. Pada saat inilah, penguatan kesadaran kritis-transformatif pada diri mahasiswa SAA IAIN Kediri menemukan relevansinya. Jika semua ini dilakukan dengan benar dan sungguh-sungguh, niscaya lahir lulusan SAA yang berkompeten di bidangnya, memiliki kesadaran kuat akan peran sosial di masyarakat, dan mampu merawat realitas multikultural yang ada di Indonesia.[MFR]

Dr. Moh. Irmawan Jauhari, S.Th.I, M.Pd.I adalah Alumni SAA-2008, novelis dan dosen yang tinggal di Nganjuk.