Menyapa Arwah dengan Sandingan

Arus modernisasi dan digitalisasi menjadikan budaya lokal sedikit banyak mengalami kelunturan atau bahkan menuju kepunahan.

—Abdur Rohman

Kata  sandingan  mungkin masih asing didengar oleh masyarakat Jawa, apalagi Indonesia. Padahal sandingan  adalah salah satu ritual masyarakat Jawa yang turun-temurun. Sandingan  adalah ritual Jawa yang dilakukan pada malam Jumat dan hari-hari tertentu dengan menyajikan beberapa  uborampe di kamar tengah yang dipersembahkan kepada para leluhur. Sayangnya, budaya ini sudah sulit ditemui. Arus modernisasi dan digitalisasi menjadikan budaya lokal sedikit banyak mengalami kelunturan atau bahkan menuju kepunahan.

Tulisan singkat akan akan mengulas budaya yang hampir punah ini. Penulis adalah penduduk asli kecamatan Mojo kabupaten Kediri yang mencoba menelusuri budaya tersebut. Sejauh yang penulis amati, di kecamatan Mojo hanya terdapat dua orang yang masih melestarikan budaya tersebut, yaitu di Desa Jugo dan Maesan.

Untuk masalah waktu, tradisi ini dibagi menjadi dua. Pertama, setiap, malam Jumat seperti dilakukan oleh Markonah (nama samara), seorang warga Desa Jugo Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri. Karena tradisi ini dilakukan rutin setiap malam Jumat, maka uborampe  yang dijadikan sandingan juga sederhana. Biasanya meliputi hal-hal yang disukai oleh almarhum keluarga sewaktu masih hidup, yaitu rokok dan kopi. Uborampe  tersebut diletakkan di kamar tengah sejak sore hari hingga pagi dengan penerangan dari lampu tradisional, ublik. Setelah pagi hari rokok dan kopi tersebut baru boleh dikonsumsi oleh keluarga yang masih hidup.

Kedua, setiap menjelang Idulfitri dan bulan Ramadan. Romelah (nama samaran), seorang warga Desa Maesan Mojo Kediri, melaksanakan upacara sandingan pada dua momentum, yaitu pada saat megengan  dan  maleman. Megengan adalah upacara kenduri menjelang bulan Ramadan. Umumnya kenduri bertujuan untuk mendoakan para leluhur yang telah meninggal dengan mengundang para kerabat di wilayahnya masing-masing. Sedangkan maleman adalah tradisi kenduri menjelang datangnya Idulfitri.

Tradisi sandingan yang dilakukan hanya dua kali dalam satu tahun ini tentu berbeda dengan pelaksanaannya setiap malam Jumat. Perbedaan yang mencolok berada pada banyaknya uborampe  yang digunakan. Warga desa Maesan ini menggunakan uborampe yang cukup banyak, yaitu nasi putih, lauk-pauk, jenang, rokok, kopi, air putih, ublik, marang  dan lain sebagainya.

Nasi putih yang digunakan untuk sandingan ini diletakkan di dalam suatu wadah yang disebut dengan marang.  Marang  adalah wadah nasi yang umumnya dipakai untuk kenduri dan terbuat dari dari plastik. Jumlah marang  yang diisi nasi putih ini disesuaikan dengan jumlah leluhur yang telah meninggal di rumah tersebut. Kebetulan di rumah Romelah tersebut jumlahnya ada tujuh. Jadi, jumlah marang  yang digunakan juga ada tujuh. Sementara untuk bentuknya, nasi putih yang ada di dalam marang  tersebut dibentuk menggunung atau bagian tenganya sedikit lancip dan diberi entong  (alat mengambil nasi) di sampingnya. Sedangkan jumlah tujuh ini juga menjadi barometer jumlah  uborampe yang lain. Kesan yang ditimbulkan dari persediaan nasi putih beserta enthong di marang ini adalah mirip dengan fungsi orang yang akan makan, yaitu tersedia makanan pokok sekaligus peralatan yang digunakan untuk mengambil nasi tersebut.

Adanya nasi putih kurang lengkap tanpa ada lauk-pauk yang menemani. Lauk-pauk yang ada di dalam acara ini adalah srondeng (parutan kelapa yang sangrai dengan diberi campuran gula), sambal goreng (biasanya terbuat dari kentang goreng yang dibumbui dengan rasa pedas), daging ayam atau daging sapi yang sudah diiris berdasarkan ukuran yang telah ditentukan. Semua lauk-pauk tersebut diletakkan di dalam piring yang disandingkan dengan nasi putih tersebut. Disamping lauk-pauk tersebut masih masih ada jenang, yaitu nasi putih yang diletakkan di dalam lepek (piring mini) sedangkan bagian tengahnya diberi nasi merah (campuran antara nasi dengan gula merah) sedikit. Kesan warna yang ditimbulkan oleh jenang ini adalah warna putih dengan sedikit merah atau coklat tua pada bagian tengahnya.

Selain lauk-pauk di atas, masih ada lagi tambahan yang lain, yaitu ungkusan jeroan yang jumlahnya ada dua.  Ungkusan  adalah bahan-bahan makanan yang di bungkus dengan daun pisang dan dikunci dengan lidi. Bentuk  ungkusan  ini pipih pada bagian atas dan sedikit melebar pada bagian bawahnya agar bisa ‘duduk’ dan tidak tumpah saat disajikan. Bahan-bahan yang dijadikan isi dari  ungkusan  biasanya adalah daging dan sayur-sayuran. Namun dalam konteks ini yang digunakan adalah jeroan ayam. Orang umum mungkin lebih familiar menyebutnya dengan istilah bothok.  Ungkusan  tersebut di taruh salam satu wadah lepek  dan didekatkan dengan  uborampe  yang lain.

Uborampe  selanjutnya adalah rokok. Definisi rokok yang digunakan dalam Sandingan adalah rokok tradisional, yaitu rokok yang masih belum dibungkus. Artinya rokok tersebut masih terpisah antara bahan satu dengan bahan yang lain. Bahan rokok yang terpisah tersebut adalah mbako  (tembakao), cengkeh, dan sek.  Sek  adalah lembaran kertas putih tipis yang berbentuk segi empat dengan ukuran kurang lebih selebar kartu ATM. Kertas ini digunakan untuk nglinting  (menggulung) tembakau dan cengkah sebagai bahan utama rokok racikan tersebut. Uborampe  ini merupakan ilustrasi sebuah tradisi kaum laki-laki Jawa kuno yang merokok dengan cara tradisinonal tersebut. Semua bahan-bahan rokok tersebut dijadikan dalam satu wadah yang dapat menampung bahan tersebut, yaitu piring. Kesan yang ditimbulkan dalam uborampe  ini adalah sebagai ilustrasi orang yang ingin bersantai dan bersenda gurau dengan keluarga yang lain sambil ditemani rokok kesayangan almarhum, linting.

Uborampe  selanjutnya yang wajib ada adalah kopi dan air putih. Kopi yang disediakan untuk sandingan di dalam hal ini adalah kopi tradisional yang belum dicampur susu. Biasanya yang digunakan adalah kopi hitam dengan campuran gula, tanpa susu atau campuran yang lainnya. Jumlah kopi tersebut disesuaikan dengan jumlah leluhur laki-laki yang telah meninggal. Di dalam keluagra Romlah desa Maesan ini jumlahnya leluhurnya ada tujuh dengan rincian lima laki-laki dan dua perempuan. Untuk kopi disediakan sebanyak lima gelas yang disesuaikan dengan jumlah leluhur laki-laki. Sementara untuk leluhur perempuan disediakan air putih, yaitu dua gelas berdasarkan jumlah leluhur tersebut. Ilustrasi sederhana dari uborampe ini adalah sebagai menu wajib hidangan yaitu tersedianya air minum yang digunakan sebelum atau sesudah makan. 

Selain uborampe  di atas, masih ada lagi yang wajib ada dalam sandingan dan kenduri yang lain dalam peringatan slametan  untuk mengenang dan mendoakan leluhur. Uborampe  wajib tersebut adalah apem. Kata apem  konon diambil dari bahawa Arab ‘afwun  yang memiliki arti ‘ampunan’. Nilai filosofis nama apem  tersebut dapat bermakna harapan dan doa yang dipanjatkan oleh keluarga agar para leluhur mendapatkan ampunan dari Yang Maha Kuasa. Jumlah  apem  di dalam hal ini disesuaikan dengan jumlah leluhur yang ada, tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Dalam keluarga ini jumlah apem  yang disediakan ada tujuh dengan ditaruh pada satu piring dan didekatkan dengan  uborampe  yang lain.

Salah satu tradisi Jawa kuno yang sekarang sudah jarang dilakukan atau bahkan punah adalah  nginang. Nginang  adalah proses perawatan gigi dengan bahan-bahan tradisional seperti  enjet (gamping/kapur basah), daun sirih, gambir, tembakau dan buah pinang. Bahan-bahan tersebut jika akan dibuat nginang  ditaruh di dalam satu wadah yang berbentuk mirip dengan lesung (tumbukan padi tradisional) yang berukuran mini. Alat ini digunakan untuk numbuk  (menghancurkan) bahan-bahan hingga halus, lalu dicampur dengan tembakau sehingga tembakau tersebut basah dan berwarna kemerah-merahan. Tembakau yang sudah bercampur aneka rempah tersebut dimasukkan ke dalam sela-sela gigi sehingga warna gigi bisa berubah menjadi kemerah-merahan. Dalam sandingan ini sebagian bahan-bahan nginang  tersebut juga disajikan, seperti  enjet, gambir dan suruh (daun sirih).

Uborampe  tambahan yang lain dalam acara ini adalah ublik.  Ublik  adalah lampu tradisional Jawa yang terbuat dari kaleng bekas atau botol kaca bekas yang diberi sumbu dan di dalamnya ada bahan bakar minyak tanah. Ublik  tersebut ditaruh di  senthong tengah  (kamar tengah) dan dinyalakan sebelum acara kenduri. Jika kenduri dilakukan jam 17.00, maka  ublik  tersebut sudah dinyalakan jam 16.30 atau bahkan sebelumnya dan dimatikan pada pagi hari keesokan harinya. Fungsi ublik adalah untuk menerangi kamar tengah yang digunakan untuk menaruh aneka bahan makanan tersebut. Kamar tengah dalam pandangan orang Jawa menempati posisi yang istimewa. Jika ada tamu orang terhormat dalam suatu acara, biasanya duduknya disediakan di depan kamar tengah. Begitu juga dengan upacara sandingan ini, seluruh menu tersebut diletakkan di kamar tengah sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.

Seluruh uborampe  tersebut menggambarkan sisi spiritual Jawa yang meyakini bahwa pada malam Jumat atau pada hari-hari tertentu para leluhur akan pulang untuk menjenguk keluarganya yang masih hidup. Oleh sebab itu, sebisa mungkin keluarga yang masih hidup juga harus menyediakan aneka makanan dan minuman sesuai dengan kesukaan leluhur sewaktu masih hidup di dunia. Mereka seoalah-olah seperti reuni dengan aneka macam makanan favorit. Lampu tidak diperkenankan menggunakan listrik, tetapi ublik  adalah untuk mengenang masa lalu orang yang sudah meninggal. Bahan-bahan nginang  yang telah ditinggalkan juga dihadirkan kembali sebagai bentuk penghormatan. Aneka makanan favorit, rokok tradisional dan minuman kesukaan dihadirkan dalam rangka penghormatan kepada leluhur agar damai dan bahagia di alam sana.[MFR]

Tradisi Tolak Bala Sebagai Olah Laku Spiritual

Ilham Akbar Habibie*

Peradaban manusia saat ini sepertinya tengah memasuki taraf penyelarasan dengan pelbagai realitas dalam kehidupan. Beragam penemuan mulai terlihat kontras baik dari sudut pandang akademik maupun kearifan lokal. Ragam kejadian muncul silih berganti dalam bentuk berbeda-beda, mewajibkan manusia mampu menangkap pelbagai perubahan sosial.

Sejak akhir tahun 2019, kita dikejutkan dengan kehadiran Covid-19. Informasi terkait virus ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. World Health Organization (WHO) mendeklarasikan darurat pandemik Covid-19 kerena persebaran koronavirus yang begitu cepat ke pelbagai negara disertai angka kematian yang mengerikan. Penularan virus ini melalui kontak langsung pada carrier (pembawa virus), baik yang diketahui positif maupun tanpa gejala.

Bagi teolog semacam al-Qusyairi, musibah atau seluruh kejadian merupakan perwujudan dari wahdaniyat fi al-af’al, artinya kehendak dari Yang Maha Kuasa. Bagi seorang fenomenolog Edmund Husserl, seluruh kejadian adalah realitas empirik yang menuntut seni pemahaman tertentu (a way of looking at things). Bagi Husserl, kejadian sehari-hari tidak melulu dilihat dari kacamata hukum alam maupun positivistik, tetapi juga dari macam gejolak batin dan kesadaran hidup. Edmund Husserl menolak asumsi pengalaman konkret manusia berikut praanggapan yang menyertainya. Baginya, segala sesuatu harus lepas dari seluruh preposisi budaya, sains, atau filsafat sebelum pengalaman itu bisa menjelaskan dirinya sendiri.

Masa pandemik Covid-19 masih berlangsung hingga kini. Di Indonesia sendiri sudah dilakukan beberapa aksi antisipatif, mulai dari jaga gara fisik dan sosial (sosial or physical distancing) hingga penggunaan amalan atau ritual tolak bala sebagaimana anjuran mereka yang dianggap punya ngelmu titen. Yang terakhir ini adalah reaksi karsa masyarakat yang biasa kita sebut tradisi lokal dalam menangkal pagebluk (wabah).

Di Desa Selosari, Kecamatan Kandat Kabupaten Kediri Jawa Timur pada awal April 2020 sebagian warga mengamalkan tradisi lokal mereka seperti membuat jenang sengkolo dan memasak sayur podomoro. Masakan seperti ini hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu, sebab makanan lokal ini punya simbol tolak bala atau sangkala. Di Sleman Yogyakarta pada 19 Maret 2020, beberapa kepala adat yang tergabung dalam paguyuban Lembaga Olah Kajian Nusantara (Lokantara) dan beberapa seniman Jawa Tengah juga melakukan upacara dengan tujuan menolak bala atau kolo. Pemimpin adat memberi arahan kepada tujuh perwakilan dari lembaga tersebut untuk membacakan Kidung Mantra Warawedha, diawali dari Gapura Prambanan menuju Kali Opak.

Fenomena tradisi lokal yang dilakukan oleh sebagian masyarakat di Indonesia ini merupakan olahan pendekatan kultural spiritual. Mereka yakin bahwa kekuatan magis mantra maupun simbol-simbol bisa mengembalikan situasi pada keadaan yang selaras, normal, seperti sedia kala. Kepercayaan mereka begitu kuat terhadap Yang Sakral. Penggunaan simbol-simbol tersebut adalah cara mereka mengekspresikan pengharapan hilangnya sengkolo (bala).

Tolak bala dilakukan dengan beragam cara. Tujuan dari diselenggarakan tradisi tolak bala ini adalah agar daerah yang ditempati terbebas dari segala macam malapetaka. Ia juga bermakna permohonan kepada Yang Sakral untuk memberikan keselamatan jasmani, kekuatan batin, dan jiwa yang tenang. Tradisi lokal di Indonesia tentu berbeda dengan negara lain. Di Indonesia ritual upacara dan doa tolak bala kebanyakan dibarengi dengan sedekah bumi, baik itu berupa kembang setaman (bunga tujuh warna) dan sajen (sesaji). Keyakinan turun-temurun mereka mengatakan bahwa jika alam, bumi, maupun segala penduduknya yang tak kasat diberikan sedekah berupa kembang setaman maupun sajen, maka ketenangan dan keselarasan akan kembali menyelimuti alam seperti sedia kala.

Tradisi tolak bala ini tidak hanya ditujukan sebagai komunikasi dengan Yang Sakral melalui ritual dan mantra-mantra khusus. Dari sisi personal, tradisi ini juga sarana untuk menghadirkan ketenangan batin sekaligus perasaan optimis. Tradisi ini juga berperan membentuk imunitas seseorang dalam melawan penyakit. Bukankah Ibnu Sina pernah berkata dalam karyanya, ‘Isy Allahzah (Athlas lin Nashri wal Intaji wal I’lamiy), bahwa awal dari segala penyakit adalah kepanikan atau gejolak batin yang tidak menentu.

Tradisi tolak bala ini juga mengandung harapan dan dapat pembelajaran bagi masyarakat mengenai siji roso tumindak ing becik lan pasrah dumateng Sang Kelaku, artinya satu rasa, satu keinginan, kekompakan dalam melakukan hal baik berupa sedekah, doa dan sikap pasrah kepada Yang Kodrati atau Yang Maha Berkehendak. [MFR]

Ilham Akbar Habibie adalah mahasiswa SAA-2017. Tulisan ini bagian dari tugas matakuliah Agama dan Kearifan Lokal.

Megengan: Rajutan Tradisi, Agama, dan Kemanusiaan

Yuli Darwati*

Bagi kami warga desa di Kabupaten Blitar, tentu tidak asing dengan tradisi ini. Tradisi megengan dilakukan secara rutin setiap tahun, bertepatan dengan bulan Sya’ban. Tradisi megengan dilakukan dengan tujuan untuk mengirim doa  bagi leluhur, sekaligus menyambut datangnya bulan Ramadhan yang agung dan suci. Tradisi ini dilakukan dengan cara slametan . Begitu memasuki bulan Sya’ban, setiap rumah tangga akan melakukan slametan. Mereka membuat tumpeng dan mengundang kenduri para tetangga sekitar rumah sekitar 20-30 orang. Maka tidak mengherankan jika tiap hari kita akan banyak mendapatkan “Berkat” bahkan bisa bertumpah ruah jika  megengan dilakukan berbarengan dengan yang lain. Tradisi megengan diakhiri dengan ziarah ke makam para leluhur di akhir bulan Sya’ban.

Tradisi semacam telah mengakar bertahun-tahun dan sulit dilakukan perubahan. Beberapa tokoh masyarakat mencoba merubah tradisi ini, karena  beberapa warga mungkin keberatan dengan tradisi ini,disamping juga alasan kemubaziran, namun mereka tidak berhasil.   Sebagian kecil masyarakat kadang harus “ngoyo” untuk melakukan ini, misalnya dengan berhutang untuk melakukan slametan. Mereka tak mampu untuk tidak melakukannya karena itu adalah bentuk penghormatan terhadap leluhur, di samping juga malu terhadap tetangga. “Mereka ngundang, masak kita gak ngundang,” tutur mereka. Mereka bahagia ketika telah melaksanakannya. Bagi masyarakat santri ini merupakan sedekah menyambut kegembiraan datangnya Bulan Ramadhan. Dengan demikian megengan adalah sebuah keharusan.

Rupanya, tradisi ini  semakin menguat di tengah  Pandemi  global  covid-19 di tanah air,yang kebetulan terjadi di bulan Sya’ban dan sebentar lagi memasuki Bulan Ramadhan 1441 H. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu  sebagai efek dari pandemi covid-10 tidak menyurutkan warga untuk melakukan slametan. Hanya saja, tradisi ini mengalami metamorfosa atau mengalami perubahan bentuk tanpa mengurangi makna dan tujuan dari tradisi itu dilakukan.

Metamorfosa “Megengan “ di Tengah Pandemi Covid-19

Penyebaran virus covid-19 mengalami perkembangan yang cepat di Indonesia sejak tanggal 2 Maret 2020. Hingga kini penduduk Indonesia yang terinfeksi virus ini sudah lebih dari 7 ribu orang, dan menurut prediksi akan mencapai puncaknya di akhir Bulan Mei 2020. Presiden Joko Widodo  mengatakan bahwa pandemi ini akan berakhir pada akhir 2020 , jika PSBB sebagai kebijakan pemerintah ditaati oleh masyarakat. 

Dalam masa PSBB ini masyarakat diminta untuk di rumah saja, melakukan social distancing, menjauhi kerumunan, mengenakan masker ketika harus keluar rumah, sering mencuci tangan  dengn sabun dan sebagainya untuk memutus rantai penyebaran covid-19. Tentu saja, hal ini akan mengancam tradisi megengan yang sudah biasa dilakukan oleh masyarakat setiap bulan Sya’ban, karena pemerintah melarang orang untuk kumpul-kumpul, hajatan dan lain-lain. Namun demikian, ternyata tidak mengurangi semangat mereka melakukan megengan.Hanya saja tradisi dilakukan dengan menyesuaikan situasi dan kondisi saat ini.

Mereka tidak mengadakan kenduri atau tahlilan bersama, tetapi “berkat” diantar ke rumah-rumah. Sebagian warga masyarakat mengantar ”berkat” berupa nasi, lauk pauk,dan kue. Sebagian lain, mereka mengantar paket sembako ke rumah-rumah. Hal ini sangat berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya. Pada waktu sebelumnya, ketika peserta mencoba mengedukasi masyarakat dengan memberikan sembako untuk mengurangi kemubaziran, mereka menolak, “yang namanya megengan itu ya kenduri, tahlilan, dan berkat nasi, apem, ketan kolak harus ada,” kata mereka. Sekarang  mereka memberikan sembako, beras, minyak,gula, mie, telor dsb. Mereka mengatakan, “kalau begini manfaatnya banyak, bisa untuk besok-besok, kasihan mereka yang kurang mampu.”

Sebagian warga menyadari saat ini adalah masa yang sulit, terutama bagi masyarakat kelas bawah. Bulan Sya’ban adalah momentum yang tepat untuk berbagi, menguatkan satu dengan yang lain. Mudah-mudahan semangat itu terus berlanjut sampai Ramadhan  bahkan kapan pun!  Aamiin YRA. Megengan bukanlah sekedar tradisi, tetapi juga juga aktualisasi hidup beragama bagi kemanusiaan. [MFR]

*Yuli Darwati adalah Dosen di Prodi Studi Agama-Agama (SAA), Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Kediri