Pindah Agama

Perpindahan agama adalah hal biasa saja dan tidak berdampak apa pun terhadap agama yang ditinggalkan, maupun agama baru yang dipeluk. Agama tidak menjadi jaya dengan banyaknya jumlah pemeluk, tapi agama menjadi jaya karena kualitas pemeluknya.

—- Hajime Yudistira

Fenomena pindah agama terkadang disikapi masyarakat dengan berlebihan, terutama jika dilakukan oleh orang terkenal atau selebritas. Pindah agama seharusnya tidak perlu menjadi hal yang luar biasa, apa lagi sampai menjadi kehebohan. Seperti halnya seseorang yang hari ini memilih mengenakan pakaian warna apa, atau ingin makan apa, tentunya itu adalah hak dari orang itu. Dia bebas memilih warna pakaian yang ingin dia kenakan atau bebas memilih jenis makanan seperti apa yang ingin dimakannya. Hal ini juga termasuk soal agama apa yang ingin dia anut.

Dalam konteks Islam, sudah jelas termaktub bahwa dalam hal beragama itu tidak boleh ada pemaksaan. Jadi soal keimanan itu adalah ranah pribadi dan orang lain tidak punya hak sama sekali untuk mencampurinya. Pemaksaan di sini juga bukan hanya pemaksaan secara harfiah, tapi juga secara halus. Sering kali kita melihat jika ada yang pindah agama, pelakunya akan dirundung, diledek, bahkan dihujat tidak karuan. Keimanan seseorang itu adanya di dalam hati masing-masing persona, dan itu benar-benar urusannya dengan Tuhannya.

Perpindahan seseorang ke agama tertentu sama sekali tidak membuat perbedaan terhadap agama yang ditinggalkan, maupun agama baru yang dipilih. Misalnya, ada yang meninggalkan Islam dan masuk Hindu, apa Islam menjadi hancur karenanya? Atau Hindu jadi luar biasa? demikian juga sebaliknya, tentu tidak berpengaruh apa pun.

Sebagai seorang muslim, terkadang saya prihatin melihat fenomena ini. Jika ada orang Islam yang berpindah agama, maka orang tersebut akan dihujat habis-habisan, dan sebaliknya, jika ada orang dari agama lain masuk Islam maka ia akan dielu-elukan sedemikian rupa. Bahkan pernah saya lihat perpindahan agama yang disiarkan oleh media.

Kalau mau jujur, perpindahan agama seseorang tidak berpengaruh apa pun terhadap agama itu sendiri. Pengaruhnya akan terasa oleh diri yang bersangkutan dan bukan juga terhadap orang lain. Apakah perpindahan agama menjadikannya persona yang lebih baik dari sebelumnya? Jika Iya, bisa dikatakan perpindahan agama tersebut membawa dampak baik bagi dirinya.

Demikian pula dengan fenomena ‘berhijrah’ yang belakangan ini juga marak terjadi, banyak sekali fenomena itu dipertontonkan dan yang banyak terjadi adalah dalam hal berpakaian. Saya tidak mengatakan hal tersebut salah, tapi esensi dari berhijrah itu tentu bukan dalam cara berpakaian. Berhijrah dalam konteks ini tentu lebih dalam hal akhlak, yaitu mengubah tingkah laku ke arah yang lebih baik. Percuma saja mengubah gaya berpakaian jika tidak diiringi dengan perubahan akhlak yang lebih baik.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa tidak apa-apa berhijrah pakaiannya dulu, kalau hati/akhlak nanti bisa menyusul, yang penting berhijab saja dulu, begitu katanya. Hal ini membuat siapa pun yang memutuskan berhijrah mengenakan jilbab, lalu dielu-elukan bak pahlawan. Menurut saya hal ini justru salah kaprah, justru yang perlu berhijrah justru hatinya dulu, setelah hatinya berhijrah, maka secara otomatis fisik akan mengikuti. Tidak bisa dibenarkan logika yang mengatakan fisik dulu, lalu nanti hati akan mengikuti. Itu adalah logika yang terbalik.

Berhijrahlah mulai dari hati dengan memperbaiki akhlak, memperindah tingkah laku, membenarkan pola berpikir dan sebagainya, setelah itu biarkan dirinya sendiri yang akan mengubah tampilan fisiknya sesuai dengan apa yang dipahaminya. Tidak ada satu orang pun yang berhak memvonis seseorang itu benar atau salah, masuk surga atau masuk neraka dan seterusnya, karena itu bukan urusan manusia. Saya sering sekali melihat seseorang berperan sebagai Tuhan yang bisa mengatakan si A akan masuk surga atau neraka.

Tugas manusia hanya berbuat baik sesuai dengan apa yang dia pahami tentang kebaikan itu sendiri, selebihnya kita serahkan kepada Tuhan. Sebagai manusia, tidak ada seorang pun yang tahu seseorang akan masuk surga atau neraka, itu benar-benar hak prerogatif Tuhan. Seseorang yang di mata manusia selalu melakukan kesalahan atau ahli maksiat, belum tentu akan masuk neraka, begitu pula sebaliknya, seseorang yang selalu berbuat kebaikan atau ahli ibadah juga belum tentu masuk surga.

Saya ingat hadis Nabi yang menceritakan tentang seorang pelacur yang selama hidupnya melacur, tetapi pada akhirnya ternyata diangkat ke surga.Dalam cerita tersebut dikisahkan sang pelacur di akhir hidupnya pernah berbuat kebaikan, yaitu memberi minum seekor anjing yang kehausan dengan terompahnya. Ada pula hadis Nabi yang menceritakan seorang ahli ibadah yang di akhir hidupnya berkata bahwa dia layak masuk surga karena selama hidupnya selalu beribadah (ada kesombongan di hatinya), Nabi mengatakan bahwa orang tersebut merupakan orang yang bangkrut. Itu menunjukkan bahwa apa yang dia lakukan selama hidupnya tidak berguna karena di akhir hidupnya dia berbuat kesalahan, yaitu berlaku sombong.

Dari uraian di atas, jelas terlihat bahwa dalam agama Islam itu yang dilihat adalah kualitatifnya, bukan kuantitatif. Kembali kepada urusan perpindahan agama, jika ada seorang umat Islam yang berpindah agama, maka tidak lantas itu adalah kehancuran umat. Demikian juga sebaliknya, jika ada seorang yang masuk agama Islam, bukan berarti juga itu adalah kejayaan Islam. Sekali lagi, biasa saja dalam menyikapi fenomena perpindahan agama, baik dari Islam ke luar Islam atau dari luar Islam ke dalam Islam.

Banyaknya jumlah pemeluk suatu agama itu tidak serta merta menjadikan agama itu menjadi agama yang terbaik. Sekali lagi, lihat bagaimana kualitas pemeluk agama itu sendiri, karena itulah yang terpenting. Terkadang dengan banyaknya pemeluk suatu agama, itu justru membuat pemeluknya kehilangan kontrol terhadap dirinya karena merasa superior tadi. Seperti waktu kita kecil dulu, saat kita beramai-ramai, biasanya akan menjadi lebih berani menghadapi sesuatu hal. Hati-hati, semakin besar populasi suatu agama, maka semakin mudah tergelincir.

Permasalahan dalam keberagamaan kita di Indonesia yang mendasar adalah agama acap kali yang ditarik sedemikian rupa menjadi identitas, padahal agama itu hadir untuk menghabisi identitas-identitas yang tidak adil, misalnya identitas kulit hitam pada zaman Nabi Muhammad yang biasa dijadikan budak di masa itu. Dengan kehadiran agama Islam, identitas warna kulit itu justru dihapus dengan menjadikan Bilal bin Rabbah –sahabat nabi yang berkulit hitam–menjadi muazin. Juga identitas perempuan yang tidak berharga –bayi perempuan dibunuh–di zaman jahiliah.

Jadi Agama itu hadir untuk menghabisi identitas-identitas tidak adil seperti itu. Salah kaprah keberagamaan kita saat ini justru agama dijadikan identitas yang justru memerangi identitas yang lain. Bahkan oleh sebagian kalangan, Islam yang dijadikan identitas ini memiliki fesyen tersendiri, seperti misalnya bergamis atau bercelana cingkrang, berjanggut bagi yang laki-laki atau bercadar bagi yang perempuan. Padahal Islam tidak mengenal fesyen yang seperti itu. Pakaian Islam itu adalah pakaian terhormat yang menutup aurat, hanya itu.Ingat, Islam itu bukan Arab. Menjadi Islam itu bukan berarti Anda harus menjadi Arab yang bergamis, lalu berjanggut atau identitas Arab lainnya.

Kalau pun Anda ingin menjadikan agama sebagai identitas, maka itu adalah identitas transenden, bukan identitas imanen. Artinya bukan identitas kita dengan manusia lain, melainkan identitas kita terhadap Tuhan. Contohnya, dalam Islam sangat tegas dikatakan bahwa untuk menyebut Nabi Muhammad, maka harus disertai dengan gelar keagungannya, yaitu nabi atau rasul. Allah sendiri dalam Alquran selalu menyertakan gelar keagungan tersebut untuk menyebut Nabi Muhammad. Berbeda dengan nabi-nabi yang lain, sering kali beliau disebut hanya namanya saja.

Tadi dikatakan bahwa Islam itu adalah identitas transenden dan bukan imanen, terlihat saat Nabi Muhammad menandatangani Perjanjian Hudaibiyah dengan para musyrikin di wilayah Hudaibiyah, Makkah. Dalam perjanjian itu ditulis nama Nabi Muhammad Rasulullah sebagai orang yang menandatangani perjanjian tersebut. Orang musyrikin mengatakan kenapa harus menggunakan kata “Rasulullah”, padahal mereka tidak mengakui bahwa Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah dan meminta kata “Rasulullah” itu dihapus. Para sahabat sempat bingung atas permintaan kaum musyrikin itu, karena mereka berpendapat bahwa identitas Islam sedang diserang dengan permintaan tersebut.

Tanpa diduga, ternyata Nabi Muhammad sendiri yang mengatakan  kepada para sahabatnya bahwa kalau memang kaum musyrikin itu meminta kata “Rasulullah” itu dihapus, maka hapus saja. Tulis saja Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam ranah privat kita dengan Tuhan, maka kita begitu mengagungkan Nabi Muhammad sampai titik yang bersifat identitas, yaitu jangan menyebut tanpa gelar keagungannya, tapi di ranah publik dalam hubungan antar manusia, identitas itu tidak ada.

Jadi yang perlu digarisbawahi, bersikaplah biasa saja terhadap fenomena perpindahan agama. Perpindahan agama adalah hal biasa saja dan tidak berdampak apa pun terhadap agama yang ditinggalkan, maupun agama baru yang dipeluk. Agama tidak menjadi jaya dengan banyaknya jumlah pemeluk, tapi agama menjadi jaya karena kualitas pemeluknya.[MFR]

Moderasi Agama di Akar Rumput

Pemerintah desa seyogianya membentuk suatu forum atau kumpulan antar tokoh umat beragama yang diadakan rutin sebagai upaya agar hubungan antar tokoh bisa saling harmonis dan memahami.

—– Mohamad Saefudin, S.Ag

Sejarah telah membuktikan bila konflik dan ketidak harmonisan antar pemeluk agama telah membawa dampak yang sangat merugikan bagi bangsa, negara, dan agama itu sendiri. Jauh di atas semua itu, konflik keagamaan juga telah merembet pada menurunya kualitas kehidupan, termasuk menurunnya stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi, perkembangan sosial budaya dan kerukunan antar umat beragama. Ketidakharmonisan kehidupan keagamaan telah berdampak pada langgengnya situasi ketakutan, kecurigaan dan perasaan saling tidak mempercayai.

Kenyataan seperti ini membutuhkan upaya-upaya penyelesaian, dan pencegahan guna terciptanya kondisi keharmonisan yang penuh dengan sikap saling toleransi, hormat-menghormati dan hidup rukun. Salah satunya dengan mengedepankan sikap moderat dalam kehidupan beragama. Sikap ini merupakan perbuatan yang selalu menghindari jalan ekstrim (ekstrim kanan atau kiri) dan lebih memilih ke arah jalan tengah.

Skripsi yang ditulis oleh Mohamad Saefudin (SAA-2016) dengan judul “Menangkal Radikalisme: Studi Tentang Moderasi Keagaman di Desa Sekaran, Kayen Kidul, Kabupaten Kediri”, menelusuri bagaimana moderatisme keagamaan diejawantahkan di Desa Sekaran yang memiliki kehidupan keagamaan yang cukup variatif. Islam NU, Islam LDII, Kristen GKJW, Kristen Katolik dan Hindu di sana dapat saling hidup berdampingan secara rukun dan damai. Dari situasi ini tumbuh nilai-nilai moderat dalam bentuk sikap saling menghormati, gotong royong, dan kerja sama.

Penelitian ini menemukan bahwa masing-masing agama di sana mempunyai ajaran untuk saling menghormati, menghargai dan gotong royong, tanpa memandang status agama yang mereka anut, selama tidak bertentangan dengan ajaran agamanya. Sikap moderat juga diajarkan kepada generasi penerus atau pemuda melalui pembinaan dan pemahaman terkait dengan keberagaman yang sifanya formal maupun non formal, seperti di Islam mengadakan pengajian atau lewat sekolah dasar Islam (SDI), di Kristen melalui kegiatan gereja dan Hindu sendiri pada saat kegiatan di Pure atau di sekolah taman kanak-kanak.

Upaya penerapan sikap  moderat untuk menangkal radikalisme dari pemerintahan desa dilakukan dengan merangkul tokoh agama yang ada Di Desa Sekaran dan juga membuat sebuah tim khusus (pangrupti rayon) dari setiap agama untuk merawat jenazah jika ada salah satu warga yang meninggal. Setiap umat agama atau masyarakat juga melakukan anjangsana ke tokoh agama jika ada salah agama merayakan hari raya, mendatangi (bertakziah) jika ada warga yang meninggal dengan tanpa memandang status agamanya, selalu mengedepankan keterbukaan dan dialog bersama dengan mengundang tokoh agama, memasang umbul-umbul ketika ada salah satu agama merayakan hari raya sebagai simbol toleransi serta selalu menjaga rasa kekeluargaan meskipun berbeda keyakinan dengan mengadakan acara bersama dalam satu acara seperti bersih desa (nyadranan) dan pada saat memperingati hari kemerdekaan.

Hasil penelitian ini merekomendasikan bahwa perlunya perkumpulan antar umat beragama, khususnya di kalangan remaja, dalam penanaman sikap moderat. Perkumpulan semacam ini juga bisa diarahkan untuk memberi pelatihan khusus terkait agar generasi penerus bisa terus berkembang di desanya sendiri. Rekomendasi lain adalah pemerintah desa seyogianya membentuk suatu forum atau kumpulan antar tokoh umat beragama yang diadakan rutin sebagai upaya agar hubungan antar tokoh bisa saling harmonis dan memahami. Forum ini juga bisa menjadi langkah antisipasi bila mana ada konflik terhadap umat agama maupun masyarakat. [MFR]

Mencermati Obrolan Antaragama Warga Biasa, Pengalaman Menulis Disertasi

Buku ini lebih membicarakan mengenai hubungan antara Muslim dan Kristen, tentang bagaimana mereka saling “membicarakan” yang lain dan berbicara ketika bersama-sama. Fokus analisisnya adalah talks alias obrolan warga

—– Suhadi Cholil

Dua hari lalu Prof. Frans Wijsen, promotor doktoral saya, memberikan kabar bahwa buku yang dihasilkan dari disertasi saya bisa diakses leluasa di laman repositori kampus Universitas Radboud. Sebelumnya, buku yang diterbitkan oleh Lit-Verlag (2014) di Jerman itu hanya bisa dibeli dari toko buku seperti Amazon dan sejenisnya.

Awalnya, seorang kolega dari Indonesia tanpa sepengetahuan saya berkirim email kepada beliau kalau ingin mengakses buku itu, dan lebih dari itu, menyarankan agar buku itu bisa diakses oleh publik secara gratis. Kemudian, Prof. Frans meminta persetujuan saya, dan kalau saya setuju, perlu mengisi lembar persetujuan repositori. Tentu saya setuju dan senang dengan usulan itu.

Kini, buku itu nongol di lama kampus dan bisa diunduh secara cuma-cuma, seperti banyak disertasi lain baik yang terbit maupun tidak terbit versi cetaknya. Meskipun penampilan versi repositorinya di universitas yang terletak di Nijmegen Belanda itu kurang elok dibanding versi buku cetaknya–misalnya, bagian nomor halaman yang terpotong, halaman isi terlewat tidak ikut discan, dst.–secara umum buku bisa dinikmati dengan baik.

Saya hanya ingin memberikan pengantar singkat, siapa tahu bermanfaat. Sebab ada bagian yang penting, tapi ada yang kurang penting; ada yang enak dibaca, mungkin juga ada yang menjenuhkan. Jika Anda ingin membacanya, bisa langsung saja ke bagian yang dibutuhkan.

Isi buku ini utamanya tidak berisi dan mendiskusikan tentang Pancasila. Judulnya menjebak. Sekalipun judul besarnya I Come from a Pancasila Family, tetapi anak judulnya lebih mencerminkan isinya: A Discursive Study on Muslim-Christian Identity Transformation in Indonesian Post-Reform Era. Jadi, buku ini lebih membicarakan mengenai hubungan antara Muslim dan Kristen, tentang bagaimana mereka saling “membicarakan” yang lain dan berbicara ketika bersama-sama. Fokus analisisnya adalah talks alias obrolan warga.

Kajiannya mengambil lokasi di Solo, Jawa Tengah. Obrolan “direkam” dari 24 FGD kecil (total melibatkan 150 orang) dari berbagai kalangan lintas generasi, kelas sosial dan gender. Kelas sosial itu, sebagai gambaran, ada tukang parkir dan ada juga dosen; ada buruh pabrik, tapi ada juga pengusaha roti ternama di Solo.

Setelah bercuap-cuap sedikit di awal sebagai pengantar, bagian pendahuluan mulai mengajak diskusi pembaca tentang apa itu konsep agama yang secara teoritis dipahami sebagai hasil konstruksi (constructed). Para sarjana yang mengkaji agama secara kritis biasanya tak luput menyebut kata-kata mantra dari Jonathan Z. Smith (1982), “Religion is solely the creation of the scholar’s study”. Untuk konteks Indonesia, buku ini mengajak pembaca piknik singkat bagaimana kata dan konsep agama dibangun dalam sejarahnya di Indonesia.

Bagi yang masih agak asing dengan kajian Islam dan Kristen, buku ini menelaah singkat perkembangan dua kelompok itu dan juga hubungannya. Salah satu bagian yang mungkin juga menarik, khususnya bagi pengkaji studi agama adalah “the study of religion in Indonesia” yang memokuskan pada bagaimana agama dikaji secara akademik di kampus-kampus.

Bagian lain di bab awal mungkin biasa-biasa saja, seperti disertasi pada umumnya. Namun untuk pembaca yang sedang belajar teori kritis kajian agama, bagian “theoretical framework” bisa menjadi salah satu contoh bagaimana teori diotak-atik. Karena fokusnya pada analisis bahasa atau diskursus, para teoritikus yang disebut adalah mereka yang memiliki persinggungan dengan bidang itu seperti Flood, Bourdieu, Von Stuckard, Beatty, Bakhtin, Gramsci, Mall, Wijsen, dll. Para sarjana bidang teori kritis lain juga disinggung, termasuk Giddens dan Asad.

Bagian method of data analysis menjadi bekal penting untuk menelaah temuan penelitian, karena bidang ini cukup khas. Meskipun menyebut juga metode yang dikembangkan tokoh-tokoh lain, buku ini mengerucutkan pilihannya pada Norman Fairclough tentang analisa wacana. Bekal yang dimaksudkan adalah pendekatan “multi-perspective” dan “poly-methodological” dalam kajian bahasa agama.

Baru kemudian buku ini memasuki inti temuan penelitian dalam tiga bab (Bab 2 sampai Bab 4). Tiga bagian tersebut mengolak-alik obrolan warga: Bagaimana orang Kristen berbicara tentang orang Muslim (Bab 2); Bagaimana orang Islam berbicara tentang orang Kristiani (Bab 3); dan bagaimana orang Islam dan orang Kristen berbicara satu dengan yang lain saat bersama.

Sekilas cara pemaparan tiga bab tersebut terasa menjemukan, begitu juga kesan yang saya peroleh dari pembaca yang jujur. Tapi para pembaca saat bersamaan bisa jadi menemukan obrolan-obrolan yang ringan, jeli, menggelitik, bahkan kadang tak terduga.

Bisa kita pungut sedikit diantaranya, ketika orang Kristen membicarakan terorisme Islam sebagai abnormalitas (kegilaan) di era modern. Secara teoritis, ini bisa ditarik ke belakang dalam kajian Foucault tentang kegilaan di Abad Tengah. Sebaliknya, obrolan orang Islam mengenai umat Kristiani yang menurutnya tidak pernah akan bisa tulus. Di buku ini letupan oral seperti itu menjadi tanda bekerjanya “socio-cognitive effects” dari sejarah kolonialisme di Indonesia.

Obrolan-obrolan tak bertema di lapangan dengan warga di tiga bab itu terkesan berserakan, tak sistematis, morat-marit dan tak berujung. Namun itu malah bisa mengantarkan saya untuk menulis poin-poin penting di bab terakhir, berupa semacam perasan analisis dan temuan disertasi ini, yaitu: (1) Bagaimana transformasi agama terjadi, terutama selama satu setengah dekade pascaReformasi 1998, yaitu tarik ulur dan ketegangan antara kebebasan dan konservatisme; (2) Arus utama model keberagamaan warga yang lebih mengedepankan kelekatan pada aspek sosial dibanding identitas agama (belonging to society first); (3) Munculnya orientasi-orientasi baru model keberagamaan yang tidak ditemui dalam periode sebelum Reformasi; (4) Anggapan warga bahwa orang-orang ekstrim adalah orang-orang yang sakit mental; (5) Kuatnya efek retorik Pancasila dari rezim Orde Baru dan bagaimana reproduksinya setelah era Reformasi khususnya dari arus bawah warga; dan (6) Last but not least, bagaimana konflik di tingkat warga muncul dan lalu bagaimana strategi warga untuk cepat kembali pada tatanan yang harmoni.

Sebagai karya akademik, reviu terhadap buku ini muncul di beberapa jurnal, di antaranya di Exchange (Brill), Journal of Ecuminical Studies (University of Pennsylvania Press), Antropos (Nomos), Kawistara: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora Pascasarjana UGM dan beberapa yang lain.

Buku yang dimaksud dapat diunduh di tautan: https://repository.ubn.ru.nl/bitstream/handle/2066/123050/MMUBN000001_854849521.pdf?sequence=1&fbclid=IwAR20jJsUGFpiZNGTJU9mSl9xiyKqImgKaCsV6MOReci0lDAORgphruFMXhY

Lonceng Bahaya Agama

Jika agama tidak memberi ruang kepada pemeluknya untuk bersikap kritis, termasuk terhadap agamanya sendiri, pola beragama yang eksklusif dan tidak toleran menjadi tidak terelakkan.

—- Nurul Qolby Kurniawati

Dewasa ini, seringkali kita menjumpai fenomena yang menampilkan wajah agama yang tak lagi meneduhkan. Agama yang dipahami sebagai jalan keselamatan, saling mencintai, jalan menuju kasih menjadi sebuah jalan dan sumber dari kehancuran. Pembicaraan mengenai agama selalu berhubungan dengan manusia sebagai pemeluk agama. Agama dan manusia merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian, realitas agama tidak bisa dilepas dari sikap beragama dan ekspresi keberagamaan manusia. Manusia dalam hal ini memiliki peran dalam menentukan bagaimana wajah dari agama; apakah agama menjadi jalan keselamatan ataupun agama yang menjadi jalan kehancuran.

Kasus intoleransi, tindak kriminal, dan teror atas nama agama kerap kali terjadi. Fenomena seperti itulah yang kiranya membuat agama menjadi evil bagi pemeluknya.  Seperti halnya dalam buku karya Charles Kimball  When Religion Becomes Evil, yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia “Kala Agama Jadi Bencana” (Mizan, 2003).  Buku ini ditulis karena kegelisahan dan kekhawatiran Kimball atas peristiwa 11 September 2001 yang membawa agama kepada permusuhan, kekerasan; seolah atas nama agama, seseorang berhak meniadakan sesamanya. Buku When Religion Becomes Evil  lahir dari peristiwa dan pengalaman negatif tentang agama yang gagal memberikan keselamatan dan kedamaian.

Melihat fenomena tersebut, sangat menarik kiranya kita mencoba memahami dan menelaah pemikiran Kimball, seorang tokoh agama dan akademisi yang secara intensif menggeluti dunia perbandingan agama, khususnya hubungan agama Islam dan Kristen. Di tengah isu krisis kemanusiaan bernuansa agama melalui sejumlah insiden teror dan tindak kekerasan atas nama agama, Kimball mengemukakan gagasan  lima tanda peringatan (five warning signs) dan iman inklusif. Dalam buku ini, dia mencoba menawarkan jalan keluar dari jurang yang menganga antara manusia dan agama.

Menurut Kimball, ada lima hal yang membuat agama  menjadi evil. Pertama, klaim kebenaran mutlak dalam agama. Bila hal tersebut terjadi pada suatu agama, agama tersebut akan membuat apa saja untuk membenarkan dan mendukung klaim kebenarannya. Klaim kebenaran mutlak suatu agama disebabkan karena karena teks-teks kitab suci yang menyampaikan klaim-klaim kebenaran satu-satunya. Padahal, sesungguhnya pembacaan teks suci tidak bisa dibaca secara lahiriah dan mentahan begitu saja.

Kedua, ketaatan buta kepada pemimpin keagamaan mereka. Fenomena keagamaan seperti ini sering muncul pada kelompok masyarakat atau keagamaan yang mengisolasi diri dan kemudian membentuk sebuah komunitas eksklusif. Mereka kemudian beranggapan bahwa hanya kelompok mereka yang akan diselamatkan. Bagi mereka, pimpinan mereka punya kekuasaan dan kebijakan yang absolut dan nyaris menyamai Tuhan. Gerakan keagamaan semacam ini sering menggunakan doktrin tentang hari akhir. Doktrin tersebut digunakan sebagai alat untuk menakuti pengikutnya, sehingga semakin butalah ketaatan mereka kepada pimpinannya.

Ketiga, yaitu ketika agama menginginkan dan merindukan zaman ideal. Lalu bertekad untuk merealisasikan zaman tersebut ke dalam zaman sekarang. Keinginan untuk merealisasikan hal tersebut akan berbahaya dan menjadikan agama menjadi jahat ketika para pemeluk agama meyakini bahwa realisasi zaman ideal itu atas karena perintah dari Tuhan sendiri. Keinginan itu biasanya mendorong para pemeluk agama untuk mendirikan negara-agama, atau negara teokrasi. Keinginan perwujudan tersebut telah nyata aka mendorong agama pada bencana dan kejahatan. Misalnya rezim Taliban di Afganistan yang kejam kepada warganya sendiri demi ketaatan terhadap syariat Islam sebagai hukum negara.

Keempat, agama membenarkan dan memperbolehkan terjadinya “tujuan yang membenarkan segala cara”. Kejahatan agama ini berkaitan dengan penyalahgunaan komponen-komponen dari agama sendiri. Komponen agama meliputi beberapa hal, misalnya ruang dan waktu yang disakralkan, komunitas dan situasi keagamaan. Komponen tersebut sebenarnya hanyalah sarana dalam beragama, namun disalahpahami dan disalah manfaatkan sebagai tujuan, dan dipakailah segala cara untuk mencapainya. Perebutan tempat suci yang disakralkan seringkali menjadi awal agama sebagai bencana bagi pemeluknya. Tempat suci yang sebenarnya hanya sebagai sarana dianggap menjadi tujuan segalanya atas segalanya. Salah satu contoh terburuknya adalah sejarah inkuisisi yang terjadi di dalam gereja Katolik. Inkuisisi menjadi kejam dan brutal terhadap mereka yang dianggap tidak setia dan melawan institusi gereja.

Kelima, seruan perang suci. Inilah puncak dari tanda-tanda bahaya sebelumnya. Ketaatan buta pada pemimpin, realisasi jaman ideal dengan mendirikan negara-agama, dan membenarkan segala cara untuk sesuatu yang disakralkan merupakan alasan-alasan untuk menyerukan perang suci dalam institusi keagamaan. Peristiwa tersebut sangat mudah dijumpai dalam peristiwa keagamaan. Misalnya, sejarah perang salib, peristiwa terorisme 9/11 yang memakan banyak korban.

Five warnings yang jelaskan oleh Kimball merupakan kontribusi penting untuk diwaspadai oleh tiap-tiap umat beragama. Namun jauh lebih penting lagi kita ditugaskan untuk mengembalikan otentisitas agama yang membawa kedamaian, kasih sayang dan memberikan sumbangan besar terhadap pembangunan umat dunia. Untuk itu, umat manusia perlu untuk terus menggali keotentikan agama dan menemukan kebijaksanaan yang membawa pada rekonsiliasi antar umat manusia dan kedamaian. Dari beberapa poin yang dijelaskan diatas, dapat dipahami bahwa Kimball menyerukan agar tiap-tiap umat beragama memiliki cara beragama yang inklusif. Kimball mencontohkan Mahatma Gandhi yang merealisasikan tiap-tiap tujuannya tanpa mengecualikan kelompok manapun. Gandhi justru mengajak kelompok lain untuk membantu kelompoknya dalam mencapai tujuan.

Kesadaran ini mendorong tiap-tiap umat beragama memahami pluralitas keagamaan. Umat beragama haruslah menyadari bahwa pluralitas tidaklah menghambat masing-masing pemeluk agama untuk sampai pada tujuannya masing-masing, melainkan bisa memudahkan mereka. Tiap-tiap agama haruslah menghormati kebebasan dari hasil pemikiran akal sehat manusia. Jika agama tidak memberi ruang kepada pemeluknya untuk bersikap kritis, termasuk terhadap agamanya sendiri, pola beragama yang eksklusif dan tidak toleran menjadi tidak terelakkan. [MFR]

Susahnya Beragama di Indonesia

Mau sampai kapan kasus intoleransi beragama akan terus terjadi di Indonesia? Apakah kita akan menunggu datangnya Ratu Adil? Atau sampai Prodi Studi Agama-Agama (SAA) menjadi banyak peminatnya dan lulusannya menjadi pelopor toleransi di negeri tercinta kita ini.

—– Achmad Syafi’i

Belum lama ini di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, terjadi kasus diskriminasi terhadap penganut kepercayaan Sunda Wiwitan yang mendapat perlakuan tidak adil dari pemerintah setempat. Kasus tersebut menambah daftar panjang intoleransi dan diskriminasi terhadap kaum minoritas, khususnya penganut aliran kepercayaan di Indonesia.

Kasus tersebut bermula dari penyegelan oleh Satpol PP terhadap sebuah tugu yang akan dijadikan makam leluhur penganut aliran kepercayaan Sunda Wiwitan. Alasannya, bangunan berbentuk tugu itu belum memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Namun, menurut salah satu tokoh Sunda Wiwitan, bangunan tersebut bukan tugu, melainkan makam dari sesepuh mereka, dan ketika pihak Sunda Wiwitan hendak mengurus IMB malah dipersulit. Ditambah lagi, makam tersebut didirikan di atas tanah pribadi.

Sunda Wiwitan sendiri merupakan salah satu agama lokal etnis Sunda di wilayah Jawa Barat. Ajaran Sunda Wiwitan jika dideskripsikan berisi tentang keyakinan kepada kekuasaan tertinggi pada Sang Hyang Keresa (‘Yang Maha Kuasa’) atau Yang Nu Ngersakeun (Yang Menghendak). Tidak cuma kali ini saja, penganut aliran kepercayaan mendapat perlakuan diskriminatif. Seperti pada sekitar 60-an, mereka dicap sebagai komunis. Tindakan ini sangat menciderai keberagaman. Apalagi jika dilakukan oleh pemerintah dengan dalih penganut aliran kepercayaan bukan merupakan agama bila merujuk pada definisi yang ada di dalam Undang Undang Dasar (UUD) 1945.

Perlakuan diskriminatif terhadap Sunda Wiwitan dan penganut aliran kepercayaan lain tidak bisa dibiarkan. Bagaimanapun juga, mereka juga punya hak yang sama seperti warga negara lainnya, terutama dalam hal beragama dan berkeyakinan. Selain itu, hak mendapat perlakuan yang sama ketika mengurus administrasi yang berkaitan dengan kependudukan.

Mari kita sama-sama membuka pasal 29 ayat 2 yang berbunyi kurang lebih seperti ini, negara menjamin kemerdekaaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaanya itu. Sangat jelas sekali bahwa setiap warga negara memiliki kemerdekaan atau kebebasan untuk memeluk agamanya masing-masing. Tapi kenapa masih ada kasus diskriminatif seperti yang menimpa Sunda Wiwitan. Jawaban paling bisa diterima adalah karena di Indonesia yang sejahtera ini hanya ada enam agama yang ‘diakui’ oleh negara.

Lalu yang lain kemana? Mau tidak mau mereka harus nunut kepada enam agama tadi, apalagi ketika mengurus administrasi kependudukan: ditanya agamanya apa, kalau tidak dikosongkan ya harus mengisi dengan nama agama yang diakui oleh negara, miris sekali. Walaupun oleh MK kolom agama di dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) sudah boleh dikosongkan, tetap saja di beberapa daerah masih terjadi diskriminasi sebab agama yang mereka anut tidak masuk dalam daftar agama yang ‘diakui’ oleh negara.

Kata ‘diakui’ disini juga masih menurut saya kurang pas, apa maksud negara melakukan hal ini, apakah sama seperti ketika Orde Baru melakukan penyederhanaan partai menjadi tiga partai saja. Lalu yang lain secara tidak langsung dipaksa untuk gabung pada tiga partai yang diakui tersebut. Sama juga dengan masalah agama ini, yang tidak masuk dalam daftar agama yang ‘diakui’, ya mau tidak mau harus bergabung agar dapat melakukan administrasi tanpa terkendala, walaupun ajarannya sangat bertolak belakang dengan agama leluhurnya tersebut. Bayangkan perasaan pengikutnya bagaimana ketika harus melakukan hal itu. Padahal mereka juga punya kebebasan memeluk agamanya masing-masing. Memang sangat miris sekali. Punya hak yang sama sebagai warga negara tetapi haknya tidak pernah didapatkan. Haknya dirampas oleh negara yang seharusnya melindungi dan mengayomi.

Tidak sampai disitu saja. Diskriminasi juga dilakukan oleh ormas yang mengaku beragama. Mereka biasanya membongkar tempat peribadatan, memberhentikan peribadatan, atau yang paling parah adalah melakukan persekusi terhadap pengikutnya. Dalih mereka sejak dulu masih sama, penganut kepercayaan dianggap sesat dan dianggap akan melemahkan iman. Saya juga baru tahu, kalau iman dapat dilemahkan dengan adanya tempat ibadah agama lain atau adanya upacara adat penganut aliran kepercayaan. Aneh memang. Ini dalih murni dari keawaman masyarakat, provokasi dari oknum tertentu atau bersifat politis. Saya juga masih skeptis karena setiap kasus di beberapa daerah juga berbeda-beda akar permasalahannya. Tetapi sepanjang yang saya tahu, rata-rata bersifat politis.

Mau sampai kapan kasus seperti di atas akan terus terjadi di Indonesia? Apakah kita akan menunggu datangnya Ratu Adil? Atau sampai Prodi Studi Agama-Agama (SAA) menjadi banyak peminatnya dan lulusannya menjadi pelopor toleransi di negeri tercinta kita ini. Tapi kapan, kalau setiap mahasiswa baru selalu didoktrin agar melanjutkan kuliah S2 dan selanjutnya menjadi dosen. Bukannya didoktrin agar ketika lulus, lalu kembali ke kampung halaman dan menyebarkan bibit toleransi kepada warga sekitarnya agar kasus seperti di atas tidak terus berulang. Bagaimanapun juga, setiap warga negara harus bisa menjalankan ibadah agamanya tanpa dibayangi rasa was-was diserang atau lainnya. Kedilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus dapat terwujud hingga akar rumput.[MFR]

Belajar Toleransi dari Siwa-Buddha di Bejijong Mojokerto

Kerukunan dan toleransi di Desa Bejijong berakar pula pada prinsip Tri Hita Karana. Konsep ini merupakan abstraksi empiris dalam konteks hubungan orang Bali dengan alam, interaksi antarmanusia, dan interaksi dengan kekuatan adikodrati (Tuhan).

—-Fadhli Mubarok Zaini

Siwa-Buddha merupakan perkembangan dari agama Buddha aliran Tantrayana yang mengalami percampuran atau sinkretisme dengan agama Siwa. Sinkretisme agama merupakan salah satu penyebab terjadinya percampuran antara tradisi lokal dan luar. Sinkretisme Siwa (Hindu) dan Buddha yang terjadi di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto memberi bukti bahwa keyakinan ini tetap bertahan dan berdampingan dengan agama-agama lain di tengah masyarakat.

Masuknya Siwa-Buddha di Desa Bejijong Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto bermula dari transmigrasi penganut Siwa-Buddha dari Bali bernama Gusti Bagus Panuluh atau Mbah Suluh pada tahun 1903-1929 di Desa Tawangsari, sekitar 5 km dari Desa Bejijong. Mbah Suluh, yang juga seorang pengrajin, menginjakkan kaki di bumi Majapahit bukan karena ingin menyebarkan keyakinannya, melainkan murni karena ingin mengembangkan usaha kerajinannya di wilayah Trowulan.

Pemeluk Siwa-Buddha di Bejijong bisa hidup berdampingan dengan warga lain yang mayoritas Muslim. Namun demikian persoalan kadang timbul karena Siwa-Buddha merupakan agama minoritas. Kegiatan keagamaannya sering memicu ketegangan antar masyarakat sekitar karena cara dan prosesinya yang berbeda dengan adat masyarakat di Bejijong. Maka ritual-ritual yang dijalankan pemeluk Siwa-Buddha di sana tidak mencolok karena alasan toleransi. Penganut Siwa-Buddha berpegang teguh pada prinsip penyatuan ruhani dalam ritual keagamaan. Bagi mereka upacara sederhana saja sudah cukup asal hati ikut menyatu dalam upacara dan kegiatan ritual lainnya.

Ritual Siwa-Budha di Bejijong dalam keseharian mereka berupa sembahyang sebagai wujud syukur mereka.  Ritual-ritual ini antara lain: (1) Mesodan: setiap rumah memiliki pelinggih atau sanggah yang menjadi tempat pemujaan yang di dalamnya terdapat secangkir kopi dengan beragam jajanan. Persembahan mesodan ini tradisi yang dilakukan setiap pagi; (2). Mesaiban: menaruh nasi dan lauk di atas potongan daun kecil di luar rumah. Aktivitas ini dilakukan setelah proses memasak dan sebelum makan;  (3). Mejejaitan: aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat Siwa-Buddha sebagai sarana untuk keperluan keagamaan. Mejejaitan dibuat dengan beberapa bahan, seperti slepan atau daun kelapa tua, busung atau daun kelapa muda, semat yang berasal dari irisan bambu kecil, dan ibung yang memiliki bentuk seperti daun lontar. Mejejaitan biasanya hanya dilakukan oleh perempuan. Akan tetapi aktivitas ini jarang dilakukan masyarakat Siwa-Budha di Bejijong karena diganti dengan media lain; (4). Metanding canang: cara pengaturan sesajen yang kemudian digunakan untuk upacara keagamaan, biasanya dibuat dengan jejaitan daun pisang yang kemudian diberi taburan bunga di bagian atasnya; (5). Mebanten canang: aktivitas ibadah Siwa-Buddha yang dilakukan sebelum persembahyangan. Ketika melakukan ibadah ini, diperlukan bahan-bahan seperti canang, tirta, dupa, serta bunga yang ditempatkan pada pelinggih. Tidak ketinggalan juga, kita juga akan mendapati permen atau biskuit kecil sebagai persembahan.

Penganut Siwa-Budha di Bejijong menganggap kendala yang mereka hadapi adalah bagian dari proses kehidupan bagi orang yang meyakini akan suatu agama. Agama apapun pasti menghadapi permasalahan dalam hubungan agama. Mereka meyakini bahwa kerukunan bagi mereka terkait erat dengan ajaran tat twam asi dan ahimsa (nirkekerasan). Tat twam asi menekankan pada persaudaraan universal, artinya secara substansial manusia adalah bersaudara secara ketubuhan dan di dalamnya terdapat atman sebagai percikan Tuhan (Brahman). Ahimsa adalah larangan untuk melakukan kekerasan atau himsa dalam pikiran, ucapan dan tindakan.

Kedua konsep di atas melandasi kerukunan dan tolerasi yang dipegang teguh oleh mereka di Desa Bejijong. Tat twam asi menekankan gagasan bahwa kita semua bersaudara dan bahwa ahimsa wajib diterapkan pada semua manusia, tanpa membedakan agama, etnik, kelas sosial, dan identitas lainnya. Jika seseorang melakukan himsa (kekerasan) pada orang lain, berarti dia melakukan kekerasan terhadap dirinya sendiri. Sebab, kita adalah bagian dari mereka sehingga kita juga adalah mereka. Petampakan ketubuhan bisa berbeda, namun secara substansial kita semua sama sehingga membangun persaudaraan hukumnya wajib.  

Latar belakang kerukunan dan toleransi di Desa Bejijong berakar pula pada prinsip Tri Hita Karana. Konsep ini merupakan abstraksi empiris dalam konteks hubungan orang Bali dengan alam, interaksi antarmanusia, dan interaksi dengan kekuatan adikodrati (Tuhan). Kondisi ini menuntut seorang penganut Siwa-Budha meyakini bahwa hubungan harmonis antara tiga komponen, yaitu manusia, alam, dan kekuatan adikodrati, merupakan prasyarat penting bagi pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Kesejahteraan hidup manusia tergantung pada sejauh mana manusia bisa berhubungan harmonis dengan alam (palemahan), dengan sesama manusia (pawongan), dan dengan kekuatan Adikodrati (parahyangan). Pawongan tidak hanya menyangkut hubungan harmonis dengan sesama orang pemeluk Siwa-Buddha, tetapi juga dengan mereka yang berbeda keyakinan.

Di Bejijong, Islam dan Siwa-Buddha bisa hidup dengan rukun. Dalam pandangan H. Ali, seorang tokoh Muslim setempat, baik Islam dan Siwa-Buddha di Bejijong sesungguhnya telah ada sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Beliau juga menurutkan: “Selama ini warga Islam dan warga Siwa-Buddha hidup berdampingan dan saling menghormati. Kami hidup berdampingan sudah lama; sawa dan ladang adalah saksi bisu bagaimana kami bersama-sama menandu tanah lahan pertanian dan berinteraksi dengan saling percaya; setelah mendapat hasil diadakan pembagian.”

Menurut Putri Ayu Candini, Islam dan Siwa-Buddha di desa Bejijong sesungguhnya telah memiliki kematangan dalam relasi beragama. Dalam pandangan teori konflik Coser, mereka tidak pernah meredam-redam, mereka justru membiarkan semua mengalir dan berjalan sealami mungkin, sehingga dalam perjalanannya umat menjadi dewasa dan kebal dari dalam, bukan karena dirukunkan atau dipaksakan. Semua agama pada dasarnya memiliki doktrin yang sama, yakni melarang untuk menzalimi, menyakiti, menjelek-jelekkan, dan terlebih saling membenci sesama kaum.  Dalam susastra Hindu (Rg Weda X, 191: 3) dikatakan: “Wahai umat manusia pikirkanlah bersama, bermusyawarahlah bersama, satukanlah hati dan pikiranmu dengan yang lain, Aku anugerahkan pikiran yang sama untuk kerukunan hidupmu. Wahai umat manusia bersatulah dan rukunlah kamu seperti menyatunya para Dewa. Aku telah anugerahkan hal yang sama kepadamu oleh karena itu ciptakanlah persatuan di antara kamu”. [MFR]

Kartini dan Cahaya Toleransi Agama di Masa Pandemi

Fathimatuz Zahra*

Sumber Gambar: https://www.cnbcindonesia.

Pada peringatan hari istimewanya, Kartini menjadi sosok yang menginspirasi banyak peran yang sangat penting dalam penanganan wabah covid 19 ini. Kartini-Kartini medis, Kartini-Kartini pendidikan, serta Kartini-Kartini lain dalam berbagai peran baik domestik maupun karier, semuanya adalah cerminan perjuangan Kartini bagi emansipasi perempuan.

Dalam pandemi ini, menurut data Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan Reformasi tercatat 32 dokter dan 12 perawat wafat positif covid 19 per 12 April 2020. Perawat, kedua belas korban perawat serta sejumlah dokter adalah perempuan, kartini-kartini medis masa kini. Di sisi lain, kartini-kartini pendidikan baik para guru, orang tua pun melaksanakan tugas utamanya dengan Belajar Dari Rumah. Kedua peran ini, sama-sama pentingnya dalam keadaan masa kini.

Dalam surat-suratnya dengan Nyonya Abendanon dan enam sahabat pena lainnya dari Belanda, Kartini menunjukkan cara toleransi keagamaan yang sangat luar biasa. Beliau berteman dengan para putri-putri Belanda, tanpa mempermasalahkan latar belakang keyakinan dan agamanya.  Kartini menggunakan kesempatan dengan sahabat-sahabatnya ini agar membantu menghilangkan feodalisme pendidikan pada masa penjajahan.

Beliau salah seorang perempuan Indonesia yang berfikiran maju dan memperjuangkan seluruh perempuan pribumi. Beliau bukan hanya seorang nasionalis namun juga seseorang yang mendasarkan langkah hidupnya pada semangat keagaamaan. Beliau belajar keagamaan dengan Kyai Sholeh Darat. Kartini bertemu dengan Kyai Sholeh Darat hingga dihadiahi sebuah kitab pegon, atas permintaan dan kegelisahan Kartini terhadap pelarangan menerjemahkan Al-Qur’an dalam bahasa Jawa (Amirul Ulum, 2016). Jadi Kartini seorang nasionalis-religius.

Berdasarkan dua hal tersebut, Kartini tetap memegang teguh keyakinan agamanya bahkan memperjuangkan dengan cara yang sangat santun. Kartini menjaga toleransi keagamaan dengan sahabat-sahabat penanya. Beliau menceritakan peristiwa spiritual yang dialaminya setelah belajar QS. Al-Fatihah pada Kyai Sholeh Darat melalui bahasa sastra yang sangat istimewa.

Dalam memperingati hari lahir Kartini tahun ini, seluruh dunia sedang mengalami pandemi: wabah Covid-19. Semangat Kartini jelas juga terpancar dalam penanganan wabah ini. Apabila di masa itu, Kartini tidak memperjuangkan hak-hak pendidikan perempuan, bisakah terlahir ribuan paramedis perempuan? Kehadiran mereka sangat dibutuhkan dalam penanganan wabah ini. Bahkan sepersekian diantaranya telah menjadi martir ketika berada di garda depan perang lawan Covid-19.

Pandemi ini berada dalam situasi sama ketika Kartini memperjuangkan emansipasi Perempuan. Menurut Steven Taylor (2019), pandemi memunculkan situasi ketidakpastian. Begitu pula dengan Kartini masa itu, beliau mengalami situasi ketidakpastian dikarenakan feodalisme pendidikan pada masa penjajahan. Namun, Kartini mencontohkan beliau bisa mengubah kondisi ini bermanfaat bagi agama, sesama perempuan, bangsa dan negaranya.

Salah satu buah perjuangan Kartini di masa kini bisa dilihat dari tampilnya para pendidik perempuan dalam berbagai rupa profesi baik dalam ranah domestik maupun publik, seperti guru, mubaligah, ataupun pendeta perempuan. Di masa pandemi ini, semua  pihak merasakan peran yang dilakukan oleh seluruh pendidik. Salah satu di antaranya dengan proses Belajar di Rumah, yang saat ini ditayangkan oleh TVRI.

Selama Belajar Dari Rumah, kita juga dihadapkan pada problem toleransi keagamaan. Masih segar dalam ingatan salah satu tayangan keagamaan di TVRI sempat memicu kontroversi. Pada tayangan Belajar dari Rumah terdapat jeda mimbar agama Katolik yang dianggap mengusik isu toleransi beragama. Berbagai pihak mengkhawatirkan penjagaan keimanan putra putrinya apabila melihat tayangan yang berbeda dengan keyakinannya. TVRI mengambil keputusan mengubah jam tayang acara mimbar agama.

Berbagai interpretasi dan pendapat pun muncul, layak atau tidakkah? Bagaimana dengan keimanan masing-masing anak didik, demikian kekhawatiran sebagian orang tua. Dalam keadaan seperti ini, kita perlu mengingat Kartini, karena dalam emansipasi beliau bersemayam juga semangat toleransi di tengah situasi yang sama-sama tak menentu.

Lalu, selesaikah problema toleransi keagamaan ini apabila setiap muncul perbedaan dengan keyakinan yang kita pegang, meminta untuk menghormati satu ajaran saja? Bagaimanakah mengajarkan materi toleransi keberagamaan pada putra putri dan lingkungan kita? Merujuk pada Paul Knitter (2002) toleransi yakni proses saling memahami antar agama satu dengan yang lain. Proses ini perlu diajarkan sejak dini, bahwa kehidupan beragama di Indonesia ini beragam.

Mengkhidmati perjuangan Kartini dalam masa pandemi sangat diperlukan. Apabila Kartini tak memegang teguh nilai-nilai toleransi, tak dapat terbayangkan bagaimana perempuan yang berprofesi sebagai tenaga medis, guru, dan berbagai profesi lain. Haruskah kita mempertanyakan keyakinan? Kartini memberikan tauladan pada kita beliau mengajarkan toleransi, bahkan dalam situasi yang lebih sulit dari pandemi yang terjadi kini. Beliau mewarnai, namun juga tidak terwarnai. Kartini tidak hanya mengajarkan emansipasi, beliau mencontohkan resiliensi dalam segala situasi. [MFR]

Fathimatuz Zahra adalah Penulis Buku dan Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati

Perkuat Distingsi Prodi, eLSAA Terbitkan Dua Buku Baru!

Sebagai bagian upaya memperkuat distingsi keilmuan Prodi Studi Agama-Agama (SAA), eLSAA dengan bangga menghadirkan dua buku baru. Kedua buku ini adalah hasil penelitian dua dosen Prodi SAA: Dr. A. Shobiri Muslim dan Saiful Mujab, MA.

Buku Pertama berjudul Toleransi Yang Terangkai. Buku ini bercerita tentang potret kerukunan umat beragama yang terjalin lama dan indah antara Muslim, Kristen, dan Hindu di Dusun Kalibago, Grogol, Kab. Kediri. Buku Kedua mengambil judul Spiritualitas Kyai Pesantren. Buku ini mengupas laku spiritualitas di kalangan kyai pesantren yang ada di Jawa Timur, di antaranya Lirboyo dan Ploso. Kedua buku ini diterbitkan atas kerjasama antara eLSAA Prodi SAA dan Penerbit Perkumpulan Aksara (Akademi Pesantren Nusantara) yang beralamatkan di Kota Kediri.

Diharapkan kedua buku ini bisa memperkaya diskursus dalam kajian agama dan kearifan lokal yang selama ini menjadi visi dan misi Prodi SAA IAIN Kediri. Semoga buku-buku serupa akan lahir di kemudian hari. [MFR]