Lonceng Bahaya Agama

Jika agama tidak memberi ruang kepada pemeluknya untuk bersikap kritis, termasuk terhadap agamanya sendiri, pola beragama yang eksklusif dan tidak toleran menjadi tidak terelakkan.

—- Nurul Qolby Kurniawati

Dewasa ini, seringkali kita menjumpai fenomena yang menampilkan wajah agama yang tak lagi meneduhkan. Agama yang dipahami sebagai jalan keselamatan, saling mencintai, jalan menuju kasih menjadi sebuah jalan dan sumber dari kehancuran. Pembicaraan mengenai agama selalu berhubungan dengan manusia sebagai pemeluk agama. Agama dan manusia merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian, realitas agama tidak bisa dilepas dari sikap beragama dan ekspresi keberagamaan manusia. Manusia dalam hal ini memiliki peran dalam menentukan bagaimana wajah dari agama; apakah agama menjadi jalan keselamatan ataupun agama yang menjadi jalan kehancuran.

Kasus intoleransi, tindak kriminal, dan teror atas nama agama kerap kali terjadi. Fenomena seperti itulah yang kiranya membuat agama menjadi evil bagi pemeluknya.  Seperti halnya dalam buku karya Charles Kimball  When Religion Becomes Evil, yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia “Kala Agama Jadi Bencana” (Mizan, 2003).  Buku ini ditulis karena kegelisahan dan kekhawatiran Kimball atas peristiwa 11 September 2001 yang membawa agama kepada permusuhan, kekerasan; seolah atas nama agama, seseorang berhak meniadakan sesamanya. Buku When Religion Becomes Evil  lahir dari peristiwa dan pengalaman negatif tentang agama yang gagal memberikan keselamatan dan kedamaian.

Melihat fenomena tersebut, sangat menarik kiranya kita mencoba memahami dan menelaah pemikiran Kimball, seorang tokoh agama dan akademisi yang secara intensif menggeluti dunia perbandingan agama, khususnya hubungan agama Islam dan Kristen. Di tengah isu krisis kemanusiaan bernuansa agama melalui sejumlah insiden teror dan tindak kekerasan atas nama agama, Kimball mengemukakan gagasan  lima tanda peringatan (five warning signs) dan iman inklusif. Dalam buku ini, dia mencoba menawarkan jalan keluar dari jurang yang menganga antara manusia dan agama.

Menurut Kimball, ada lima hal yang membuat agama  menjadi evil. Pertama, klaim kebenaran mutlak dalam agama. Bila hal tersebut terjadi pada suatu agama, agama tersebut akan membuat apa saja untuk membenarkan dan mendukung klaim kebenarannya. Klaim kebenaran mutlak suatu agama disebabkan karena karena teks-teks kitab suci yang menyampaikan klaim-klaim kebenaran satu-satunya. Padahal, sesungguhnya pembacaan teks suci tidak bisa dibaca secara lahiriah dan mentahan begitu saja.

Kedua, ketaatan buta kepada pemimpin keagamaan mereka. Fenomena keagamaan seperti ini sering muncul pada kelompok masyarakat atau keagamaan yang mengisolasi diri dan kemudian membentuk sebuah komunitas eksklusif. Mereka kemudian beranggapan bahwa hanya kelompok mereka yang akan diselamatkan. Bagi mereka, pimpinan mereka punya kekuasaan dan kebijakan yang absolut dan nyaris menyamai Tuhan. Gerakan keagamaan semacam ini sering menggunakan doktrin tentang hari akhir. Doktrin tersebut digunakan sebagai alat untuk menakuti pengikutnya, sehingga semakin butalah ketaatan mereka kepada pimpinannya.

Ketiga, yaitu ketika agama menginginkan dan merindukan zaman ideal. Lalu bertekad untuk merealisasikan zaman tersebut ke dalam zaman sekarang. Keinginan untuk merealisasikan hal tersebut akan berbahaya dan menjadikan agama menjadi jahat ketika para pemeluk agama meyakini bahwa realisasi zaman ideal itu atas karena perintah dari Tuhan sendiri. Keinginan itu biasanya mendorong para pemeluk agama untuk mendirikan negara-agama, atau negara teokrasi. Keinginan perwujudan tersebut telah nyata aka mendorong agama pada bencana dan kejahatan. Misalnya rezim Taliban di Afganistan yang kejam kepada warganya sendiri demi ketaatan terhadap syariat Islam sebagai hukum negara.

Keempat, agama membenarkan dan memperbolehkan terjadinya “tujuan yang membenarkan segala cara”. Kejahatan agama ini berkaitan dengan penyalahgunaan komponen-komponen dari agama sendiri. Komponen agama meliputi beberapa hal, misalnya ruang dan waktu yang disakralkan, komunitas dan situasi keagamaan. Komponen tersebut sebenarnya hanyalah sarana dalam beragama, namun disalahpahami dan disalah manfaatkan sebagai tujuan, dan dipakailah segala cara untuk mencapainya. Perebutan tempat suci yang disakralkan seringkali menjadi awal agama sebagai bencana bagi pemeluknya. Tempat suci yang sebenarnya hanya sebagai sarana dianggap menjadi tujuan segalanya atas segalanya. Salah satu contoh terburuknya adalah sejarah inkuisisi yang terjadi di dalam gereja Katolik. Inkuisisi menjadi kejam dan brutal terhadap mereka yang dianggap tidak setia dan melawan institusi gereja.

Kelima, seruan perang suci. Inilah puncak dari tanda-tanda bahaya sebelumnya. Ketaatan buta pada pemimpin, realisasi jaman ideal dengan mendirikan negara-agama, dan membenarkan segala cara untuk sesuatu yang disakralkan merupakan alasan-alasan untuk menyerukan perang suci dalam institusi keagamaan. Peristiwa tersebut sangat mudah dijumpai dalam peristiwa keagamaan. Misalnya, sejarah perang salib, peristiwa terorisme 9/11 yang memakan banyak korban.

Five warnings yang jelaskan oleh Kimball merupakan kontribusi penting untuk diwaspadai oleh tiap-tiap umat beragama. Namun jauh lebih penting lagi kita ditugaskan untuk mengembalikan otentisitas agama yang membawa kedamaian, kasih sayang dan memberikan sumbangan besar terhadap pembangunan umat dunia. Untuk itu, umat manusia perlu untuk terus menggali keotentikan agama dan menemukan kebijaksanaan yang membawa pada rekonsiliasi antar umat manusia dan kedamaian. Dari beberapa poin yang dijelaskan diatas, dapat dipahami bahwa Kimball menyerukan agar tiap-tiap umat beragama memiliki cara beragama yang inklusif. Kimball mencontohkan Mahatma Gandhi yang merealisasikan tiap-tiap tujuannya tanpa mengecualikan kelompok manapun. Gandhi justru mengajak kelompok lain untuk membantu kelompoknya dalam mencapai tujuan.

Kesadaran ini mendorong tiap-tiap umat beragama memahami pluralitas keagamaan. Umat beragama haruslah menyadari bahwa pluralitas tidaklah menghambat masing-masing pemeluk agama untuk sampai pada tujuannya masing-masing, melainkan bisa memudahkan mereka. Tiap-tiap agama haruslah menghormati kebebasan dari hasil pemikiran akal sehat manusia. Jika agama tidak memberi ruang kepada pemeluknya untuk bersikap kritis, termasuk terhadap agamanya sendiri, pola beragama yang eksklusif dan tidak toleran menjadi tidak terelakkan. [MFR]

Apakah Saya Kafir?

Asghar Ali Engineer menawarkan  pandangan yang sangat transformatif, tidak hanya memfokuskan pada masalah yang jauh tinggi di langit (ukhrawi), tetapi juga realitas dunia yang membumi. Tawaran ini patut untuk direnungkan dan diaplikasikan untuk menekan geliat kapitalisme dan menciptakan keadilan sosial.

—– Lucky Eno Marchelin

Al-Qur’an tidak pernah habis dikaji, karena sifatnya yang sâlih li kulli zamân wa makân. Sudah saatnya kita melakukan reinterpretasi teks-teks keagamaan dari tekstual ke konstektual, dari konservatif ke progresif, dari pemikiran-pemikiran langit ke pemikiran yang membumi. Ashgar Ali Engineer, seorang ahli teknik sipil menawarkan gagasan menarik dalam menafsirkan ulang terma ‘kafir’ dalam Al-Qur’an.

Asghar Ali Engineer lahir di Bohra, Rajashtan India pada 10 Mei 1939. Ashgar kecil telah belajar tafsir Al-Qur’an, ta’wil, dan hadits, selain juga belajar bahasa Arab pada ayahnya, Syaikh Qunan Husain yang juga seorang amil. Ia juga diajarkan karya-karya utama dari Fatimi Da’wah oleh Syedna Hatim, Syedna Qadi Nu’man, Syedna Muayyad Shirazi, Syedna Hamiduddin Kirmani, Syedna Hatim al-Razi, Syedna Ja’far Mansur al-Yaman, dan lain sebagainya. Asghar memperoleh pendidikan agamanya secara nonformal.

Asghar Ali menjalani pendidikan formalnya sampai memeroleh gelar sarjana teknik sipil (BSc Eng) dari Universitas Vikram di India pada 1962. Ia bekerja sebagai insinyur selama 20 tahun, kemudian mengundurkan diri untuk terjun ke dalam gerakan reformasi Bohra. Asghar merupakan penulis yang produktif, kurang lebih ia telah menghasilkan 40 buku. Beberapa artikelnya tentang gerakan reformasi juga mengisi media terkemuka di India seperti The Times of India, Indian Express, Statesman, Telegraph, The Hindu, dan lain sebagainya. Ia menghasilkan karya tentang kekerasan komunal dan komunalisme di India sejak pecahnya kerusuhan besar di Jabalpur, India tahun 1961. Karya tersebut kemudian diakui oleh Universitas Calcutta yang selanjutnya dianugerahi gelar kehormatan (D.Lit) pada Februari 1983. Asghar Ali diakui sebagai sarjana Islam terkemuka dan memiliki karir akademik yang luar biasa. Ia diundang untuk mengisi konferensi tentang Islam oleh institusi di berbagai belahan dunia.

Asghar Ali merupakan seorang pemimpin salah satu kelompok Syi’ah Ismailiyyah, Daudi Bohra yang berpusat di Bombay India. Asghar berusaha menerapkan gagasan-gagasannya meskipun ditentang oleh generasi tua yang konservatif dalam pemikiran dan mempertahankan kemapanannya. Untuk menjadi da’i atau pemimpin dalam kelompok Daudi Bohra, ia  harus memenuhi 94 kualifikasi yang terangkum dalam empat kelompok, yakni pendidikan, administrasi, moral, dan teoritikal. Yang paling menarik adalah seorang da’i harus tampil sebagai pembela umat yang tertindas dan berjuang melawan kezaliman.

Asghar Ali Engineer tampil menawarkan teologi tansformatif, yakni teologi pembebasan. Menurur Asghar, Islam datang untuk membebaskan kelompok yang tertindas dan tereksploitasi. Belum bisa disebut masyarakat Islam apabila mereka masih menindas kaum lemah meskipun taat menjalankan ritual Islam. Setidaknya terdapat lima pilar paradigma dalam teologi pembebasan yang digagas Asghar, yakni: kemerdekaan, persamaan, keadilan sosial, kerakyatan, dan tauhid. Pandangan ini berdasar pada hadis Nabi SAW, di mana Nabi saw menyamakan kemiskinan dengan kufur. Kewajiban untuk menghapus kemiskinan sama dengan kewajiban untuk menghapus kekufuran, dengan cara inilah dapat tercipta masyarakat Islam. Ia juga mendasarkan gagasannya pada hadis Nabi SAW bahwa sebuah negara dapat bertahan hidup meskipun di dalamnya terdapat kekufuran, namun tidak akan dapat bertahan apabila di dalamnya terdapat banyak penindasan.

Asghar mengutip tulisan Raif Khoury, seorang penganut agama Kristen pengikut Marx dari Libanon tentang Bilal dan suara adzan sebagai perubahan dan pembebasan:

“Betapa sering kita mendengar suara adzan dari menara di kota-kota Arab yang abadi ini: Allahu Akbar! Allahu Akbar! Betapa sering kita membaca atau mendengar Bilal, seorang keturunan Abyssinian, mengumandangkan adzan untuk pertama kalinya sehingga menggema di Jazirah Arab, ketika Nabi saw mulai berdakwah dan menghadapi penganiayaan serta hinaan dari orang-orang yang terbelakang dan bodoh. Suara Bilal merupakan sebuah panggilan, seruan untuk memulai perjuangan dalam rangka mengakhiri sejarah buruk bangsa Arab dan menyongsong matahari yang terbit di pagi hari yang cerah. Namun apakah kalian sudah merenungkan apa yang dimaksud dari panggilan itu? Apakah setiap mendengarkan panggilan suci itu, kamu ingat bahwa Allahu Akbar bermakna (dalam bahasa yang tegas): berilah sanksi kepada para lintah darat yang tamak itu! Tariklah pajak dari mereka yang menumpuk-numpuk kekayaan! Sitalah kekayaan para tukang monopoli yang mendapatkan kekayaan dengan cara mencuri! Sediakanlah makanan untuk rakyat banyak! Bukalah pintu pendidikan lebar-lebar dan majukan kaum wanita! Hancurkan cecungukcecunguk yang membodohkan dan memecah belah umat! Carilah ilmu sampai ke negeri Cina (bukan hanya Cina dahulu, namun juga sekarang)! Berikan kebebasan, bentuklah majelais syura yang mandiri, dan biarkan demokrasi yang sebenar-benarnya bersinar!”

Terma kufr pertama kali digunakan untuk menunjuk beberapa warga Makkah yang menghina dan menolak dakwah Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya kata ‘kafir’ diartikan sebagai penentangan atas kebenaran yang disampaikan Nabi SAW dan penolakan atas kerasulannya. Pada perkembangannya, kata kafir juga dimaknai sebagai orang yang tidak beragama Islam.

Asghar memberi makna lain pada terma ‘kafir’. Menurutnya, Islam sangat tegas mengutuk tindakan penindasan. Orang kafir adalah orang yang tidak percaya pada Allah SWT dan Muhammad SAW. Orang kafir juga adalah orang yang tidak berperan dalam menentang segala bentuk penindasan, eksploitasi, dan penjajahan, dan tidak turut menciptakan masyarakat yang egaliter dan berkeadilan sosial. Maka dari itu, orang yang secara formal beriman kepada Allah SWT dan mengakui kerasulan Muhammad SAW namun menimbun kekayaan dengan cara menindas dan mengeksploitasi kaum lemah, ia termasuk orang kafir! Perbuatannya akan mengundang kemurkaan Allah SWT, berdasarkan Surat al-Maa’un [107]: 1-7.

Gagasan ini tentu saja menimbulkan pemikiran reflektif, benarkah saya seorang kafir? Asghar Ali Engineer menawarkan  pandangan yang sangat transformatif, tidak hanya memfokuskan pada masalah yang jauh tinggi di langit (ukhrawi), tetapi juga realitas dunia yang membumi. Tawaran ini patut untuk direnungkan dan diaplikasikan untuk menekan geliat kapitalisme dan menciptakan keadilan sosial.[MFR]

*Tulisan ini bagian dari program KKN-DR 48 IAIN Kediri 2020