Telusur Islam Kediri (3): Kiai Sholeh Banjarmlati Buang Kanuragan demi Pesantren

Makam Kiai Sholeh Banjarmlati

Kiai Sholeh khawatir ilmu kesaktian justru kelak akan membuat anak-cucu beliau dihinggapi rasa congkak dan takabur sehingga jauh dari rida Allah SWT.

Saiful Mujab

Tulisan ini akan mengulas sejarah singkat para wali dan ulama penyebar dakwah Islam di wilayah Kediri. Catatan ini sekaligus menyambung tulisan terdahulu dalam rubrik #TelusurIslamKediri yang tayang dalam laman resmi prodi SAA IAIN Kediri.  

Penulis sendiri sangat senang dengan inisiasi dan antusiasme keluarga besar SAA-IAIN Kediri untuk menelusuri dan mengenal lebih dekat para kekasih Allah. Ini adalah upaya kecil memuliakan mereka dengan meneladani sirah hidup mereka. Semoga kita semua senantiasa mendapat berkah dan curahan kemuliaan mereka semua, sebagaimana sabda Nabi SAW:  “Muliakanlah ulama (orang-orang yang memiliki ilmu syariat/agama dan mengamalkannya, mereka baik ucapan dan perbuatannya) karena sungguh mereka menurut Allah adalah orang-orang yang mulia dan dimuliakan (di kalangan malaikat).”

Sebagian besar mereka yang tinggal di wilayah Kediri Raya pasti sudah akrab dengan nama-nama para kiai masyhur yang berhasil mencetak banyak generasi ulama berpengaruh di penjuru Indonesia. Sebut saja, misalnya, Kiai Abdul Karim-Lirboyo, Kiai Dahlan (ayahanda Syekh Ikhsan) Jampes, Kiai Ma’ruf-Kedunglo, Kiai Fadil-Bathokan-Petok, Kiai Ya’kub-Lirboyo, Kiai Ibrahim-Banjarmelati, Kiai Muhammad-Bandarkidul, Kiai Mansyur-Sumberpucung Blitar dan masih banyak lagi. Tentu saja semua tokoh ini dulu pernah muda dan mengalami masa-masa penggemblengan diri di bawah arahan guru yang mumpuni.

Kiai Sholeh-Banjarmelati adalah satu figur sentral di balik nama harum para kiai besar di atas. Kiai Sholeh sendiri merupakan salah satu pendiri pesantren tertua di Kota Kediri. Beliau masih keturunan dari Syekh Abdul Mursyad-Setonolandean (Tokoh auliya’ awal penyebar dakwah Islam di wilayah Kediri dan sekitarnya).

M. Solahudin, dalam tulisannya Napak Tilas Masyayyikh: Biografi 15 Pendiri Pesantren Tua di Jawa-Madura, menjelaskan bahwa Kiai Sholeh terkenal sangat alim dan wira’i (berhati-hati dari dosa kecil) di masanya. Beliau hidup sekurun dengan Syaikhona Kholil-Bangkalan dan Syekh Nawawi-Banten; beliau juga sangat akrab dengan Hadratush Syekh K.H. Hasyim Asy’ary-Tebuireng.

Kealiman dan semangat syiar Islam pada diri Kiai Sholeh diwarisi dari para leluhurnya, yang juga terkenal gigih dan istikamah memegang ‘dakwah Islam’ sebagai prinsip hidup. Silsilah Kiai Sholeh sendiri bermula dari Nyai Rofi’ah binti Nyai Musyarofah binti Kiai Zainal Abidin bin Mbah Ali Ma’lum bin Mbah Anbiya’ bin Mbah Abdurrahman bin Kiai Anom Besari-Caruban bin Syekh Abdullah Mursyad-Setonolandean.

Kiai Sholeh, selain terkenal dengan kealiman syari’at-nya, juga sangat disegani oleh masyarakat karena kehebatan kanuragannya. Yang demikian tidak mengherankan kalau kita menilik leluhur beliau: Syekh Abdul Mursyad. Selain dikenal sebagai pendiri padepokan yang mengkaji ilmu syariat Islam, Syekh Mursyad juga adalah ulama yang disegani para lawannya karena kesaktiannya yang mandraguna. Ilmu kanuragan memang pada saat itu telah menjadi media penting dakwah Islam ditengah banyaknya tantangan dari para tokoh-tokoh yang menolak penyebaran agama Islam.

Namun demikian, Kiai Sholeh dalam perjalanan hidupnya memutuskan agar para keturunan beliau tidak lagi menjadi orang sakti atau menguasai ilmu kanuragan. Kiai Sholeh khawatir ilmu kesaktian justru kelak akan membuat anak-cucu beliau dihinggapi rasa congkak dan takabur sehingga jauh dari rida Allah SWT. Menurut cerita tutur lisan yang penulis dapat ketika berziarah di makam beliau di Banjarmelati, Kiai Sholeh konon melarung seluruh pusaka dan benda-benda keramat yang beliau warisi dari leluhurnya di Sungai Brantas – Kediri. Kiai Sholeh kemudian mendidik putra dan putrinya menjadi generasi yang khusus mempelajari ilmu syariat dan tasawuf. Ketekunan dan kegigihan Kiai Sholeh membuahkan hasil; terbukti putra-putrinya kelak menjadi para figur penting di balik berdirinya pesantren-pesantren terkemuka penyebar khazanah keilmuan Islam.

Kiai Sholeh dikarunia 11 orang anak. Mereka adalah: 1. Nyai Hasanah, menikah dengan Kiai Ma’roef-Kedunglo; 2. Nyai Anjar, menikah dengan Kiai Fadhil-Bathokan-Petok; 3. Nyai Artimah, menikah dengan Kiai Muhammad Dahlan-Jampes; 4. Kiai Muhammad-Bandarkidul; 5. Nyai Nafisah, menikah dengan Kiai Mansyur-Kalipucung-Blitar; 6. Nyai Dlomroh atau Nyai Khadijah, diperistri oleh Kyai Abdul Karim-Lirboyo; 7. Kiai Rofii (wafat di Makkah); 8. Kiai Ya’kub-Lirboyo; 9. Kyai Asyari-Sumbercangkring-Gurah; 10. Kiai Abdul Haji-Banjarmelati; dan 11. Kiai Ibrahim-Banjarmelati.

Perlu diketahui bahwa kesebelas putra-putri Kiai Sholeh Banjarmelati tersebut adalah para muasis atau perintis sejumlah pesantren terkemuka di Kediri dan sekitarnya. Keberhasilan Kiai Sholeh dalam mendidik mereka merupakan pencapaian yang agung baik sebagai orang tua sekaligus ulama. Anugerah keturunan yang sangat baik (zurriyatan thayyiban) adalah perlambang kedudukan mulia beliau di sisi Allah SWT.

Semoga kita semua mendapat keberkahan dari sinar karamah beliau melalui wasilah mengenal dan mencintai beliau, Kiai Sholeh-Banjarmelati. [MFR]

Telusur Islam Kediri (1): Syekh al-Wasil dan Awal Islam di Kediri

Inskripsi Makam Setono Gedong

Ngali Samsujen berkata: “Sang Prabu Jayabaya, perkenankan saya memberi petuah padamu mengenai Kitab Musarar//Yang menyebutkan tinggal tiga kali lagi kemudian kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”.

Kutipan Kitab Musarar

Dakwah agama dalam suatu daerah tentu tidak selalu berjalan mudah; banyak rintangan menghadang sehingga sebuah agama sulit memeroleh tempat di hati masyarakat. Peran dan pendekatan seorang pendakwah akan menentukan sukses tidaknya syiar yang dilakukan.  Syekh Syamsudin al-Wasil -atau yang akrab dipanggil Mbah atau Syekh Wasil—adalah ulama yang diyakini sebagai tokoh pertama yang mengenalkan Islam di bekas Kerajaan Kadhiri ini.

Beliau adalah seorang wali sepuh yang hijrah dari Istanbul Turki untuk mendakwahkan ajaran Islam kepada masyarakat di pulau Jawa, khususnya bagian timur.  Sayangnya, tidak banyak bukti historis yang mengungkap keberadaan tokoh kharismatik ini, kecuali sebuah kompleks pemakaman tua yang terletak di jantung Kota Kediri dan ramai dikunjungi peziarah dari pelbagai penjuru daerah di Indonesia. Kajian akademik dengan pijakan fakta-fakta historis tentang figur ini juga sangat minim.

Penelitian terkini tentang figur penting ini dilakukan oleh Prof. Fauzan Saleh dan Dr. Nur Chamid (keduanya dosen IAIN Kediri), dan terbit dalam artikel berjudul, “Rekonstruksi Narasi Sejarah Syekh al-Wasil Syamsudin dan Peranannya dalam Penyebaran Islam di Wilayah Kediri dan Sekitarnya: Menggali Pijakan Mempertegas Identitas IAIN Kediri” (Prosiding Nasional, Pascasarjana IAIN, 2018).  Sekalipun data banyak berasal dari tradisi lisan ‘oral tradition’ hasil wawancara dari sejumlah tokoh di Kediri, penelitian ini sangat penting dalam upaya menemukan potret utuh dari Syekh Wasil. Tulisan singkat ini sedikit banyak berdasar pada hasil penelitian Prof. Fauzan Saleh tersebut.

Islam hadir di Kediri tepatnya pada abad ke-11 M, masa ketika wilayah ini masih berbentuk kerajaan Hindu-Buddha dan sedang berada pada puncak keemasannya. Tradisi Hindu-Buddha yang mengakar di masyarakat menjadi tantangan tersendiri bagi Syekh Wasil ketika memulai syiar Islam ke tanah Jawa. Mengingat kala itu adalah masa kejayaan kerajaan Hindu-Buddha di Kediri, maka kecil kemungkinan Islam bisa berterima dengan mudah dilihat dari segala sisi; sosial, politik, dan keagamaan.

Dalam beberapa kutipan dikatakan bahwa masyarakat Jawa pada saat itu gemar sekali melakukan sesembahan kepada roh-roh leluhur. Sekalipun tidak terlalu ‘ambil pusing’ dengan istilah agama, masyarakat sudah menerapkan etika atau unggahungguh layaknya masyarakat beragama. Sebelum kedatangan Syekh Wasil ke tanah Jawa dikatakan bahwa banyak orang Jawa sudah mengikuti ajaran Islam, tapi sejatinya itu hanyalah wujud dari rasa karsa mereka terhadap Sang Hyang-Nya.

Sebagaimana dilansir dari artikel Fauzan Saleh dan Nur Chamid, Syekh Syamsudin al-Wasil pertama kali datang ke tanah Jawa, khususnya bagian timur, atas undangan dari Prabu Sri Aji Jayabaya; kedatangan beliau adalah untuk menjelaskan isi Kitab Musarar (2018: 16). Kitab, yang juga dikenal dengan Serat Jangka Jayabaya ini, berisi ramalan tentang masa depan Nusantara. Masih diperdebatkan siapa sebenarnya pengarang kitab ini; apakah ditulis oleh Prabu Jayabaya sendiri atau gubahan Sunan Giri Pragen .

Secara geneologis, Syekh Wasil masih keturunan dari Siti Aisyah; “Mbah Wasil ini masih nyambung dengan Siti Aisyah, tapi urutan keberapa saya kurang tau; KH. Munzir yang paling paham silsilahnya,” ujar Yusuf, sang juru kunci. Beberapa kutipan mengaitkan Syekh Wasil dengan sosok Adipati Suryo Adigolo, Adipati Kediri kala itu. Menurut Fauzan Saleh, kemungkinan Syekh Syamsudin Wasil ini adalah guru spiritual dari Sri Aji Jayabaya; beliau punya peran dalam Ramalan Jayabaya atau Jangka Jayabaya. Yusuf mengamini pendapat ini.  Yusuf menambahkan bahwa Ramalan  Jayabaya bukan sekadar prediksi biasa dari Sri Aji Jayabaya melalui kesaktiannya, tapi juga bersumber dari ajaran Alquran melalui pembelajaran yang diperoleh dari Syekh Wasil.

Keberadaan Kitab Musarar sangat penting dalam penelusuran Syekh Wasil karena di dalamnya memuat sosok yang kita bahas ini. Kitab ini merekam perjumpaan antara Syekh Wasil dan Prabu Jayabaya sehingga muncul pendapat bahwa hubungan keduanya adalah guru-murid. Kutipan bait tersebut adalah sebagai berikut:

Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani//Beliau sakti sebab titisan Batara wisnu. Waktu itu Sang Prabu menjadi raja agung, pasukannya raja-raja//Terkisahkan bahwa Sang Prabu punya putra lelaki yang tampan. Sesudah dewasa dijadikan raja di Pagedongan. Sangat raharja negara-nya.//Hal tersebut menggembirakan Sang Prabu//Waktu itu tersebutkan Sang Prabu akan mendapat tamu, seorang raja pandita dari Rum bernama, Sultan Maolana//Lengkapnya bernama Ngali Samsujen// Kedatangannya disambut sebaik-baiknya//Sebab tamu tersebut seorang raja pandita lain bangsa pantas dihormati//Setelah duduk Sultan Ngali Samsujen berkata: “Sang Prabu Jayabaya, perkenankan saya memberi petuah padamu mengenai Kitab Musarar//Yang menyebutkan tinggal tiga kali lagi kemudian kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”. Sang Prabu mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Karena beliau telah mengerti kehendak Dewata//Sang Prabu segera menjadi murid sang Raja Pandita. Segala isi Kitab Musarar sudah diketahui semua. Beliaupun ingat tinggal menitis tiga kali. (Terjemahan Kitab Musarar bisa dilihat di link: https://ahmadsamantho.wordpress.com/2012/10/30/kitab-musarar-jayabaya/ )

Menurut Claude Guillot dan Ludvik Kalus  (dikutip dalam https://ganaislamika.com/), satu-satunya bukti arkeologis tentang sosok Syekh Wasil adalah inskripsi Makam Setono Gedong. Inskripsi ini berisi tulisan nama Nabi dan juga tulisan “Syeh Syamsudin Wasil” dengan bekas martilan yang tampak disengaja. Versi lain berasal dari cerita lisan yang berkembang di masyarakat. Juru kunci makam Syekh Wasil, misalnya, mengatakan bahwa kedatangan beliau adalah misi banding dalam rangka syiar Islam kepada masyarakat Jawa, khususnya bagian timur. Jika dicermati, dua versi ini barangkali sama-sama benar dan saling melengkapi: sebagai seorang ulama, kedatangan Syekh Wasil ke tanah Jawa jelas tidak bisa dilepaskan dari dorongan dakwah keagamaan.

OD-18041-Situs Setono Gedong Cemetery Ruins of a building and gravestones seen from southwest [KITLV-166028]-Kediri-195

Beberapa sumber menyatakan bahwa ketika menyebarkan Islam di Kediri, Syekh Wasil berkaul untuk mendirikan sebuah masjid agung; tetapi karena alasan yang belum diketahui masjid itu belum sempat beliau dirikan. Hal ini terbukti dengan dijumpainya pondasi bangunan masjid yang belum rampung di area Kompleks Makam Syech Wasil Syamsudin, Setono Gedong. Tetapi pendapat ini ditampik oleh Yusuf Wibisono selaku juru kunci makam. Menurutnya, bekas pondasi bangunan itu bukan masjid, tapi bangunan candi pada masa Kerajaan Kadiri dan sudah ada sebelum kedatangan Syekh Wasil ke Kediri.  Meski demikian, banyak orang tetap menganggap bangunan ini adalah bekas pondasi masjid yang belum selesai.

Terlepas dari silang pendapat mengenai perannya dalam syiar Islam di Kediri, ketokohan Syekh Syamsudin al-Wasil tak terbantahkan. Kompleks Makam Syekh Wasil hingga ini terus ramai dikunjungi oleh peziarah; bahkan ia sekarang menjadi salah satu destinasi andalan wisata ruhani yang ada di Kota Kediri.  Peziarah tidak hanya dari masyarakat lokal Kediri, tapi juga dari luar kota, bahkan luar Jawa. Inilah bukti pengakuan masyarakat terhadap ketokohan dan sumbangsih beliau dalam menyebarkan Islam di Pula Jawa, wabilkhusus Kediri. [MFR]