Bincang Santai tentang Yahudi di Indonesia

Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama besar di dunia yang memiliki garis geneologis yang sama, yaitu Nabi Ibrahim. Makanya, ketika agama ini seringkali disebut sebagai agama Ibrahimik. Ketiga agama besar ini memiliki landasan teologis yang sama, yaitu monoteisme sekalipun memiliki kekhasan pada aspek penerapan. Sekalipun bersaudara, sejarah mencatat bahwa hubungan ketiga agama ini penuh dengan dinamika, mulai dari dialog hingga konflik. Bahkan, sejumlah konflik yang melibatkan tiga agama ini berujung pada hilangnya ribuan nyawa manusia baik karena klaim kebenaran masing-masing ataupun karena faktor eksternal semisal politik.

Di Indonesia, hubungan Yahudi dan Islam juga mengalami pasang surut. Sekalipun Yahudi di Indonesia termasuk minoritas dan dianut oleh sejumlah kecil orang Indonesia, isu Yahudi kerap menyeruak dalam setiap kontestasi yang melibatkan agama. Istilah-istilah seperti ‘konspirasi Yahudi’ dan ‘Yahudi Musuh Islam’, misalnya, kerap menghiasi wacana di Indonesia baik di dunia nyata maupun dunia maya. Selain isu-isu teologis, konflik Palestina-Israel juga seolah-seolah semakin melanggengkan narasi besar bahwa orang Yahudi dan Muslim itu sulit akur dan selalu saling curiga. Tidak heran jika di Indonesia jarang sekali dialog atau kerjasama lintas agama yang melibatkan dua agama ini.

Acara stadium generale ini dilaksanakan dengan tajuk “Yahudi di Indonesia”, dengan pembicara Rabbi Yakuv Baruch, berlangsung pada Selasa (15/12/2020) secara daring melalui Google Meeting.

Acara ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta yang berasal dari civitas akademika IAIN Kediri maupun luar dan masyarakat umum.

Rabbi Yakuv Baruch memulai presentasi dengan memaparkan sejarah kedatangan Yahudi di Indonesia, sebelum, selama, pascakemerdekaan RI. Setelah itu, dia menjelaskan pengetahuan umum tentang Yahudi, mulai dari doktrin keagamaan hingga ritual, khususnya di Indonesia.

Sesi tanya-jawab berlangsung intens antara peserta dan nara sumber. Isu-isu tentang Israel, hubungan Yahudi dengan Islam dan Kristen mengemuka. Antusiasme peserta membuat acara ini berlangsung lebih lama dari yang dijadwalkan karena banyak pertanyaan yang muncul. Acara serupa dianjurkan untuk dilakukan di masa-masa yang akan datang.

Quo Vadis Sarjana Muslim Zaman Now

Secara fasilitas situasi saat ini tentu saja lebih kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tapi mengapa belum lahir tokoh-tokoh sekaliber Al-Ghazâlî dan Ibn Khaldun? Saya pribadi kurang paham; benar-benar tidak mampu ataukah ada alasan lain yang lebih bersifat sistemik, entahlah.

——Mubaidi Sulaeman

Semua tokoh besar di dunia ini rata-rata lahir dari keadaaan sulit, bahkan terlampau sulit di masanya. Tetapi keteguhan hati dan passion menjadi pembeda mereka dengan manusia awam. Nabi Muhammad, tokoh panutan kita, lahir adalah keturunan salah satu suku Quraish yang paling miskin, Bani Hasyim. Ayah beliau wafat saat melakukan perjalanan dagang menuju Syam, ketika beliau masih berusia 6 bulan di kandungan sang ibunda. Abdullah, ayahanda beliau, adalah anak kesayangan kakeknya, Abdul Muthalib, yang kebetulan juga paling miskin di antara anak-anak Abdul Muthalib.

Keterbatasan yang dialami Nabi Muhammad saat masa kecil tidak menjadikan beliau kehilangan karakter atau menjadi pribadi yang hanyut dengan arus zaman. Beliau memang tidak bisa baca dan tulis, pembacaan beliau terhadap alam dan petuah-petuah sang kakek menjadikan dirinya pribadi yang luhur di tengah carut-marut pranata sosial masyarakat Makah kala itu. Selama 23 tahun berdakwah, pasang surut kehidupan tidak membuat padam passion beliau hingga akhirnya menjadi Nabi sekaligus penguasa Arab yang pengaruhnya menggema hingga saat ini.

Gairah keilmuan yang diwariskan Nabi Muhammad juga mengilhami banyak ilmuwan Muslim terkemuka dan berpangaruh hingga zaman ini, salah satunya al-Ghazâlî (w. 1111 M). Al-Ghazâlî adalah cendikiawan yang serba bisa; selain menguasai ilmu agama, dia mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan di zamannya. Al-Ghazâlî juga lahir dari keluarga kurang mampu; ayahnya adalah seorang pengrajin sepatu; sejak kecil al-Ghazâlî dan adiknya dititipkan kepada sang paman, seorang sufi terkenal di wilayahnya. Sang ayahanda menghabiskan segala harta benda demi pendidikan anak-anaknya. Dia juga rela memendam rindu dengan anak-anaknya selama betahun-tahun agar mereka jadi ulama besar dan berguna bagi agama dan masyarakat.

Al-Ghazâlî muda menghabiskan banyak waktunya dengan belajar dari satu guru ke guru yang lain.  Di usianya yang ke-25 tahun, dia juga pernah ikut perang melawan tentara Bizantium demi mempertahankan Masjid al-Aqsa. Ketika didaulat sebagai rektor Universitas Nizâmiyyah, Al-Ghazâlî pun tidak pernah lepas dari kesulitan; berkali-kali dia menjadi sasaran para penguasa negeri yang hendak menaklukkan wilayah Nizam Al-Mulk. Pergulatan batin akhirnya mendorong dia untuk melakukan uzlah dan meninggalkan karier akademik; dia memilih menjadi sebagai sufi.  Dalam pengembaraannya sebagai seorang sufi, dia mengarang sebuah mahakarya Ihyâ’ Ulumuddîn. Melalui karyanya ini, Al-Ghazâlî menancapkan pengaruhnya bukan hanya kepada kalangan umat Islam saja, tetapi juga umat Yahudi di bawah pimpinan Marmoenedes.

Ibn Khaldun adalah satu lagi cendekiawan muslim hebat yang berangkat dari kesulitan yang hampir sama kita hadapi di saat ini; pun demikian, dia tetap bisa berkontribusi penting bagi ilmu pengetahuan dan peradaban manusia. Ibn Khaldun adalah ahli historiografi, filsafat, dan peletak dasar ilmu sosiologi modern. Dia lahir di abad ke-8 H/14 M.  Ayahnya meninggal dunia pada tahun 749H/1348 M akibat wabah pes yang melanda Afrika Utara. Sang ayahanda meninggalkan lima orang anak, termasuk Abdurrahman Ibn Khaldun yang pada waktu itu berusia 18 tahun.

Wabah pes menyebabkan Ibn Khaldun gagal melanjutkan studi ke pusat ulama dan sastrawan besar di kota-kota di Mesir dan di kota-kota lain di jantung pusat peradaban Islam. Ada dua faktor di balik kegagalan ini. Pertama, wabah pes melanda sebagian besar dunia Islam mulai dari Samarkand hingga ke Magrib. Kedua, hijrahnya sebagian besar ulama dan sastrawan yang selamat dari wabah pes dari Tunisia ke Maroko pada tahun 750 M/1349 H, bersama-sama dengan Sultan Abu Al-Hasan, penguasa Daulah Bani Marin. Ibn Khaldun menganggap wabah pes ini sebagai bencana besar dalam hidupnya karena kehilangan kedua orang tuan dan sebagian guru-gurunya.

Dalam bagian awal Kitâb alIbar, Ibn Khaldun menggambarkan penyakit pes ini sebagai wabah yang telah merasuki peradaban manusia Abad Pertengahan, baik di Timur dan Barat. Wabah ini telah melenyapkan banyak generasi dan memporak-porandakan banyak keindahan peradaban manusia. Menurutnya,  pembangunan yang merusak sirkulasi dan kualitas udara adalah asal-muasal penyakit ini. Daerah perkoataan menjadi lebih lembab sehingga bakteri dan segala penyakit bisa dengan mudah berkembang. Kondisi udara yang demikian mengakibatkan orang-orang mudah terserang penyakit (hlm. 320).  Penyakit ini menimpa paru-paru dan dalam kondisi yang parah, penderita bisa mengalami kematian. Situasi ini sepertinya mirip dengan kondisi wabah Covid-19 yang tengah kita hadapi saat ini.

Namun demikian, semua keterbatasan yang ada—sarana belajar jelas tidak secanggih dan semudah zaman kita hidup saat ini—justru memompa semangat Ibn Khaldun untuk lebih keras belajar dan berkarya dibanding di “masa normal”. Muqadimmah adalah magnum opus-nya yang pengaruhnya terasa hingga zaman sekarang; kitab ini menjadi rujukan dalam historiografi, sosiologi, dan filsafat peradaban di kampus-kampus terkemuka dunia.

Lalu, bagaimana dengan sarjana muslim di era saat ini? Ribuan PTKIN dan PTKIS telah hadir di negeri ini dan eksistensinya telah lama mewarnai wajah pendidikan Indonesia. Tanpa mengecilkan kontribusi para alumninya bagi kemajuan bangsa ini, publik mulai menyoroti peran perguruan tinggi keislaman ini. Di masa pandemi ini, stigma semakin menguat bahwa sarjana PTKIN dan PTKIS hanya bisa bergelut di bidang agama saja dan tidak mampu menjawab tantangan di era pandemi saat ini. Belum lagi, ada anggapan bahwa sarjana lulusan dari dua lembaga ini kurang begitu diperhitungkan oleh masyarakat dalam mengatasi permasalahan yang ada. Secara fasilitas situasi saat ini tentu saja lebih kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tapi mengapa belum lahir tokoh-tokoh sekaliber Al-Ghazâlî dan Ibn Khaldun? Saya pribadi kurang paham, benar-benar tidak mampu ataukah ada alasan lain yang lebih bersifat sistemik, entahlah. [MFR]

Eklektisisme Kiai Sadrach

Pada akhirnya “Kebenaran” itu laiknya mentari dan manusia hanya dapat menangkap bayangannya pada lautan, telaga, sungai atau bahkan pada nyala di sepasang matanya sendiri.

Heru Harjo Hutomo

Di Jawa tampaknya agama tak pernah hadir sebagai sebuah ganjalan untuk mencari sebuah “kebenaran.” Mulai dari Ronggawarsita yang selain mesantren dan berguru pada Kanjeng Kiai Kasan Besari juga berguru pada para penganut kapitayan (penghayat kepercayaan—red) dan spiritualis Hindu (Ajar); R.P. Natarata yang selalu mempertanyakan dan berpolemik dengan kepercayaan-kepercayaan lainnya—sampai dia menemukan jawaban atas pengarahan Sayyid Oidrus di Betawi dan seorang kiai khos di Surabaya—; dan Kiai Sadrach yang selain mesantren di Tebuireng juga pernah berkontak dengan Kiai Ibrahim Tunggul Wulung yang akhirnya membabarkan apa yang disebut sebagai Kristen Jawa di Karangjoso, Purworejo. Semuanya ini seperti membuktikan tesis M.C. Ricklefs bahwa di Jawa agama pada dasarnya hadir lebih sebagai spiritualitas. Sejarawan yang baru saja meninggal dunia itu menamakan fenomena ini sebagai “mistik sintesis” (Polarizing Society: Islamic and Other Visions [C. 1830-1930], 2007).

Dengan segala divergensi sosok Kiai Sadrach itu, dalam kacamata saya, dia seperti seorang pemimpin sebuah tarekat. Sebagian tradisi protestan, sejauh yang saya tahu, melarang adanya ikonoklasme, tapi Kiai Sadrach justru menaruh cakra manggilingan bumi (lit. roda yang terus berputar—red) dan pasopati (senjata andalan Arjuna—red) di pucuk mustaka gerejanya yang berarsitektural laiknya sebuah masjid. Senjata cakra adalah senjata khas para titising Wisnu dan pasopati adalah lambang jumbuh-nya (keselarasan—red) Arjuna dengan Bathara Guru. Dahulu kala dalam jagat pewayangan terdapat dua lakon wayang yang dikategorikan kasepuhan: Dewa Ruci dan Ciptaning. Dan di masa lalu dua lakon wayang kasepuhan ini dipilih oleh dua gagrak (model—red) besaryang secara politik-kebudayaan merujuk ke keraton tertentu: Dewa Ruci dipilih Surakarta dan Ciptaning dipilih Ngayoyakarta—meskipun di hari ini keduanya tak lagi menjadi perdebatan.

Dalam sejarah Islam sendiri ada banyak sosok divergen dengan segala variannya, al-Hallaj yang konon terpengaruh ajaran Hindu dengan konsep hulul-nya yang dalam catatan Massignon kerap tak berbusana laiknya ulama Islam (Al-Hallaj Sang Sufi Syahid, 2001). Dia pun memiliki beberapa murid di India dan disebut sebagai “Pir” oleh masyarakat setempat yang setara dengan istilah mursyid dalam tarekat. Adapula, di nusantara, seorang Ronggawarsita yang tak hanya pernah terkenal sebagai seorang santri, tapi juga seorang yang salah satu karyanya, Wirid Hidayat Jati, menjadi kitab sakral para anak murid Ki Ageng Djoyopoernomo di Temuguruh (Perang Jawa Sebagai Tonggak Historis Islam Nusantara, Heru Harjo Hutomo, https://jurnalfaktual.id).

Apalagi di masa kolonial Belanda, tak lazim para penduduk memiliki secarik kartu identitas yang memuat pula kolom agama di dalamnya sebagaimana sekarang, di mana divergensi pada akhirnya adalah suatu hal yang lumrah. Dalam salah satu catatannya, Abdurrahman Wahid pernah mengetengahkan tilikannya atas karakteristik orang-orang nusantara di masa silam dan menyebutnya sebagai sebentuk “eklektisisme yang produktif” (Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Indonesia & Transformasi Kebudayaan, 2007).

Kiai Sadrach, tak pelak lagi, adalah salah satu sosok yang saya kira juga eklektik. Dia hadir sebagai seorang pengembara spiritual, dari seorang santri di Tegalsari dan Tebuireng hingga menjadi seorang penginjil yang secara kultural menata para pengikutnya laiknya masyarakat pedesaan: gereja yang berbentuk seperti masjid, sarung dan kualitas diri sebagaimana lazimnya orang yang dianggap sebagai sesepuh di pedesaan Jawa. Tentu dari kalangan Kristen sendiri divergensi ini bukan tanpa masalah mengingat puritanisme yang kuat dalam tradisi Protestan.     

Ruang ambang yang dipijak oleh Sadrach dan para pengikutnya memang terlihat tak mudah untuk dihidupi. Di satu sisi, mereka adalah orang Jawa yang lekat dengan kejawaannya. Di sisi lain, mereka adalah penganut Protestan yang waktu itu identik dengan kolonialisme Belanda. Sementara dari sudut pandang keyakinan, mereka adalah pemeluk iman kristiani, tapi ekspresi kehidupan keseharian mereka seperti halnya masyarakat muslim pedesaan Jawa pada umumnya: bentuk arsitektural dan penyebutan gereja sebagai “mesjid” serta sarungan sebagai bentuk busana keseharian—meskipun mereka tak mempraktikkan tradisi ruwahan dan ziarah kubur laiknya masyarakat pedesaan Jawa.

Terkadang, saya berpikir, bahwa pada akhirnya “Kebenaran” itu laiknya mentari dan manusia hanya dapat menangkap bayangannya pada lautan, telaga, sungai atau bahkan pada nyala di sepasang matanya sendiri.

Disclaimer: Tulisan ini pernah terbit dengan judul “Kyai Sadrach dan Divergensi” di portal https://jurnalfaktual.id. Diterbitkan ulang di laman ini seizin penulis.  

Orientasi Beragama di Tengah Pandemi dan Tantangan Bagi Studi Agama

Sumber Gambar: https://www.i24news.tv

“Terlepas dari berbagai kritik terhadap teori Allport tentang kematangan beragama dan dua macam orientasi beragama ekstrinsik dan intrinsik, tampaknya menarik jika para pegiat Studi Agama-Agama melakukan riset untuk mencari jawaban tentang kematangan dan orientasi beragama selama pandemi. “

Dr. Ahmad Muttaqin

Konsep orientasi beragama secara ekstrinsik dan instrinsik pertama kali dikemukakan oleh Gordon William Allport (1897–1967). Allport dilahirkan di Indiana, alumni Harvard University, pernah menjadi ketua jurusan Psikologi di Harvard dan presiden American Psychological Association pada 1939. Sepanjang kariernya, Allport mengkaji persoalan-persoalan kepribadian dan sosial, telah menelurkan berbagai teori tentang prasangka, kecurigaan, komunal, serta mengembangkan beragam tes kepribadian.

Dalam psikologi agama, Allport terkenal dengan teori Mature and Immature Religion. Pandangan Allport terhadap agama lebih positif dibandingkan para psikolog agama semacam Sigmund Freud dan William James. Seolah ingin mengkritik pandangan para psikoanalis tentang agama yang cenderung melihat agama secara negatif, dalam kata pengantar bukunya, The Individual and His Religion (1950), Allport menyatakan: “…I am seeking to trace the full course of religious development in the normally mature and productive personality. I am dealing with the psychology, not with the psychopathology of religion.” (hlm. viii). Dalam catatan Malony (1971), ada tiga kontribusi besar Allport dalam kajian psikologi agama: (1) perkembangan psikologi keagamaan pada individu; (2) pendefinisian kedewasaan beragama; dan (3) pengukuran dimensi keagamaan.

Di dalam The Individual and His Religion, Allport menguraikan perbedaan antara mature religion dan immature religion. Secara sederhana, keberagamaan yang matang/dewasa (mature religiosity) diantaranya dicirikan oleh sikap terbuka dan dinamis. Sedangkan keberagamaan yang “mentah”/tidak dewasa (immature religiosity) adalah keberagamaan yang kekanak-kanakan, salah satunya dicirikan oleh sikap mementingkan diri sendiri.

Dari kajian kematangan beragama ini Allport bersama koleganya, J. Michael Ross, pada tahun 1967 mengembangkan teori orientasi beragama yang diklasifikasikan menjadi intrinsik (I) dan ekstrinsik (E), melalui alat ukur tes skala orientasi keberagamaan. Penelitian Allport dan Ross ini dilakukan dalam rangka merespon temuan berbagai riset pada masa itu yang umumnya, secara simplistis, menyimpulkan ada korelasi positif antara agama dan prasangka rasial.

Allport dan koleganya mencoba mengklarifikasi bahwa yang berkorelasi positif dengan prasangka adalah mereka yang memiliki orientasi ekstrinsik dalam beragama, atau orang yang beragama secara instrumental dan utilitarian. Cara beragama semacam ini menjadikan agama hanya sebagai sarana untuk memenuhi tujuan tertentu, baik personal maupun sosial. Dalam kalimat Allport (1959), keberagamaan ekstrinsik:


“Religion is not the master-motive in the life. It plays an instrumental role only. It serves and rationalizes assorted forms of self-interest. In such a life, the full creed and teaching of religion are not adopted. The person does not serve his religion; it is sub-ordinated to serve him. The master-motive is always self-interest.”

Orientasi beragama ekstrinsik ditemukan pada orang yang menggunakan agama untuk memenuhi kebutuhan personal seperti memeroleh rasa aman, kenyamanan, dan perasaan “marem”, juga kebutuhan sosial seperti mendapatkan teman, dukungan masyarakat, status sosial, dll. Orientasi beragama semacam ini, menurut Allport, adalah bentuk dari beragama yang belum matang (immature religiosity).

Penelitian Allport dan Ross mengkonfirmasi bahwa orang dengan orientasi beragama intrinsik cenderung tidak memiliki sikap prasangka rasial. Orang yang memiliki orientasi beragama intrinsik (orientasi nilai, substantif) menjadikan agama sebagai jalan dan orientasi hidup. Orientasi beragama intrinsik merupakan bentuk beragama yang tulus, dihayati, tanpa pamrih dan matang (mature religiosity). Allport menjelaskan keberagamaan intrinsik: “…floods the whole life with motivation and meaning. It is no longer limited to single segments of self-interest. And only in such a widened religious sentiment does the teaching of brotherhood take root.”

Dalam risetnya, Alport menemukan empat macam kombinasi orientasi beragama: (1) Pure Intrinsic [intrinsik murni]; (2) Indiscriminately proreligious [pro-agama tanpa pandang bulu], (3) Nonreligious atau Indiscriminately antireligious [non-religius atau anti agama tanpa pandang bulu]; dan (4) Pure extrinsic [ekstrinsik murni]. Temuan Alport dan Ross menunjukkan bahwa kelompok (2) dan (4) memiliki prasangka rasial. Menariknya, yang paling tingggi prasangka rasialnya adalah kelompok 2. Kelompok 2 ini mengaku dalam beragama mereka menemukan dua hal sekaligus, seperti makna hidup (I) dan pengakuan sosial (E). Bila ukuran religiousitas itu dilihat dari frekuensi kehadiran di rumah ibadah (dalam penelitian Allport frekuensi kedatangan ke gereja), maka diperoleh data dalam bentuk kurva gunung yang menunjukkan bahwa prasangka rasial dimiliki oleh jamaah tipe “hit-and-miss” attenders (kadang datang kadang tidak, dalam istilah Jawa dhat-nyeng). Sedangkan jamaah yang konsisten selalu rajin datang ke rumah ibadah dan yang tidak pernah hadir sama sekali prasangka rasianya rendah. 

Lebih lanjut, Allport menjelaskan secara ringkas perbedaan orientasi beragama ekstrinsik dan intrinsik dalam uraian berikut:


Immature religion, whether in adult or child, is largely concerned with magical thinking, self-justification, and creature comfort. Thus it betrays its sustaining motives still to be the drives and desires of the body. By contrast, mature religion is less of a servant, and more of a master, in the economy of life. No longer goaded and steered exclusively by impulse, fears, and wishes, it tends rather to control and direct these motives toward a goal that is no longer determined by mere self-interest (1950, p. 63).

Dalam tradisi Sufi, keberagaamaan intrinsik, tulus, autentik dan tanpa pamrih tercermin dalam ungkapan Robiah Al-Adawiyah: “Wahai Tuhanku, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka-Mu, maka bakarlah aku dengannya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga-Mu, maka keluarkanlah aku darinya. Tetapi sekiranya aku menyembah-Mu semata-mata karena cintaku kepada-Mu, maka janganlah Engkau menutup keindahan wajah-Mu yang abadi dari pandanganku.”

***

Pada Ramadan hari ke-5 yang lalu, saya memeroleh pesan dari salah satu pengurus takmir musala perumahan yang meneruskan usulan dari salah satu jamaah yang bunyinya: “Bapak…, kalau (di Musala Perumahan) diadakan tarawih (berjamaah) dengan mengikuti prosedural kesehatan boleh enggak ya…?” Di atas pesan tersebut ada gambar hasil tracking yang menunjukkan bahwa perumahan kami berada di wilayah zona hijau.

Terhadap pertanyaan tersebut, saya jawab: “Maaf Bapak, saya kira masih beresiko, apalagi tren pasien Covid-19 masih naik dan sudah ada transmisi lokal di provinsi kita. Jadi, kita ikuti himbauan pemerintah, MUI dan alim ulama dari ormas-ormas Islam saja. Untuk sementara beribadah di rumah dulu. Desa/kelurahan kita mungkin berada di zona hijau, namun kita tidak bisa memastikan mobilitas warga selalu berada di zona hijau.”

Di beberapa grup WA yang saya ikuti, ada yang mengeluhkan bahwa ibadah Ramadan tahun ini terasa kurang marem sebab masjid tempat biasanya berjamaah ditutup. Pada grup WA yang lain ada yang dengan bangganya memamerkan kegiatan Ramadan 1441 H di masjid tempat ia tinggal masih normal seperti biasa mulai dari salatlima waktu, buka puasa, kajian, hingga tarawih, sambil menyebut bahwa mati dan sakit itu takdir Tuhan. Menariknya, mereka yang sering memamerkan tempat ibadahnya masih berjalan normal di masa pandemik ini juga gemar mengirimkan berita-berita tentang Covid-19 dari perspektif teori konspirasi.

***

Tulisan ini tidak akan mengulas masih aktifnya peribadatan di rumah ibadah sebagai bentuk perlawanan narasi mainstream tentang bahaya wabah Covid-19, namun mencoba mencermati masih tingginya hasrat beribadah bersama-sama (berjamaah) di tempat ibadah dari kacamata kematangan dan orientasi beragama versi Allport di atas.

Terlepas dari berbagai kritik terhadap teori Allport tentang kematangan beragama dan dua macam orientasi beragama ekstrinsik dan intrinsik, tampaknya menarik jika para pegiat Studi Agama-Agama saat ini melakukan riset untuk mencari jawaban tentang, misalnya, apakah yang saat ini masih kuat hasrat beribadahnya secara komunal cenderung memiliki orientasi beragama yang ekstrinsik (merasa lebih marem ibadahnya, menginginkan suasana gayeng, bangga bila jamaahnya banyak dan semarak dengan showoff di rumah ibadah)? Apakah umat beragama yang bisa menerima seruan untuk beribadah di rumah di tengah Pandemi Covid-19 ini adalah meraka yang orientasi beragamanya instrinsik? Apakah bisa dikatakan mereka yang menerima dengan ikhlas seruan tinggal dan beribadah di rumah di masa pandemik ini lebih matang keberagamaannya dibandingkan dengan mereka yang masih kuat hasrat beribadah jamaah di rumah ibadah?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas tidak bisa diperoleh hanya dengan asumsi dan dugaan. Diperlukan riset yang serius. Semoga ada pegiat Studi Agama-Agama yang tertarik melakukannya di waktu yang tepat saat ini.