Ngidung Keslametan dan Kabegjan

Ana kidung rumeksa ing wengi. Teguh hayu luputa ing lara. Luputa bilahi kabeh. Jim setan datan purun. Paneluhan tan ana wani. Miwah panggawe ala. Gunaning wong luput. Geni atemahan tirta. Maling adoh tan wani perak mring mawi. Guna duduk pan sirna”

“Allahumma sholli ‘ala sayyidina muhammadin. Thibbil qulubi wa dawaiha. Wa ‘afiyati-l-abdaani wa syifaaiha. Wa nuuril abshoori wadliyaaiha. Wa ‘alaa alihi wa shohbihi wa salim”

Awal 2020, dunia digegerkan dengan virus Corona (Covid-19). Virus dengan cepat mewabah ke sejumlah negara di dunia. Menurut data John Hopkins Corona Virus Resource Center, (per 7 November 2020) virus tersebut sudah menjangkau 190 Negara — tidak terkecuali Indonesia. Sejak awal Maret 2020, pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa Indonesia darurat wabah virus Corona. Mulai saat itu, jagad maya dan medsos gonjang-ganjing banjir informasi Covid-19, baik informasi yang sahih, semi-sahih, maupun hoaks. Pemerintah pun memutuskan beberapa kebijakan: social distancing, physical distanching, kantor-kantor dihimbau work from home, hinggasiswa dan mahasiswa belajar dari rumah saja melalui media daring.

Informasi banyu-mili melalui medsos, seperti apa sifat virus Corona, bagaimana penularannya, juga bagaimana ketika terpapar virus tersebut. Bahkan informasi jumlah positif Covid-19, jumlah yang mati, pun jumlah yang sembuh, selalu di-update setiap hari oleh pemerintah. Kewaspadaan, kecemasan, bahkan ketakutan pun turut menyebar. Percepatan penyebaran kondisi psikologis tersebut sepertinya tidak mau kalah, bahkan melebihi percepatan virus Corona itu sendiri. Wabah virus Corona-19 ini oleh orang Jawa disebut dengan istilah pagebluk mayangkara, pandemi penyakit.

Dalam situasi pagebluk seperti ini, penulis teringat dengan wejangan para sepuh, termasuk pesan yang penulis dapatkan dari Simbah Kakung (Mantingan), “No (Narno). Ben ora ketaman lara, maca o japa mantra. Insyaallah, Gusti Allah bakal mayungi”. Makasejak manusia dan dunia geger wabah Covid-19, penulis hampir setiap hari melantunkan kidung sarirahayu, atau yang oleh masyarakat dikenal dengan nama Kidung Rumeksa Ing Wengi.

Di Jawa, kidung, atau tembang, atau nyanyian yang berisi sastra adalah seni. Setiap kidung memiliki fungsinya masing-masing. Kidung Sarira Hayu, sesuai dengan isinya memiliki fungsi penangkal segala macam penyakit, musibah, dan mara bahaya. Para leluhur Jawa, memanfaatkan mantra—baik yang ditembangkan maupun yang diucapkan biasa—sebagai proteksi diri. Terlihat bahwa dalam pelangitan doa pun, para leluhur Jawa menggunakan seni.

Doa atau mantra adalah seni, wujudnya adalah sastra (bahasa). Seni, itu rasa. Sedangkan manusia itu ber-rasa. Rasa itu adalah Diri yang menangkap apa-apa yang masuk kepadanya, baik itu raga (rasa raga: panas, dingin, sakit), pikir (rasa pikir: keinginan, berpikir mengenai sesuatu), maupun hati (rasa manah: susah, senang, sumpek). Maka,  Diri adalah rasa Aku, yang merasakan rasa raga, rasa pikir, dan rasa manah. Jadi karena manusia itu rasa dan seni adalah rasa, sejak jaman dulu, manusia itu sudah nyeni (mencipta seni). Hal ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh Michel Lorblanchet (2007) dalam jurnal The Origin of Art, bahwa manusia pada dasarnya adalah seniman dan sejarah seni dimulai dengan manusia—manusia adalah homo aestheticus.

Seni, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) diartikan sebagai yang halus, lembut, enak didengar, juga create (mencipta) karya yang lembut. Dalam Oxford English Dictionary, Art (seni) diartikan sebagai penggunaan imajinasi untuk mengekspresikan ide-ide atau perasaan-perasaan. Dari pengertian-pengertian tersebut, bisa dipahami istilah artistik, estetik, pun etika. Sesuatu yang menifestasi jiwa (ide atau perasaan), maka disebut sebagai artistik, memiliki sifat estetik (indah, lembut, halus), dan muaranya adalah mewujud perilaku yang estetik (etika).

Mencipta (create) dengan demikian adalah akar seni. Bagaimana manusia dengan bahan-bahan yang dimiliki, yaitu ide dan perasaan (jiwa)—di Jawa disebut dengan cipta, rasa, karsadiolah untuk mencipta seni apapun wujudnya (bahasa, visual, gerak, musik). Dengan demikian, seni adalah salah satu sarana penting untuk mencipta dan mengembangkan kreativitas. Seni adalah sarana membangun kekuatan batiniah atau kejiwaan manusia.

Lalu, apa hubungan seni dengan psikologi? Seni sebagai karya olah jiwa yang mengalir ke muara perilaku (etika), sedangkan psikologi adalah ilmu perilaku sebagai manifestasi jiwa. Seni memberikan pengertian atas pikiran (ide-ide) dan apa-apa yang dirasakan oleh manusia. Maka, bagi psikologi, seni adalah sarana yang efisien untuk merawat psikologis baik pada anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Seni dapat menjelaskan sisi pikiran (ide) atau perasaan pada tataran individu dan kelompok masyarakat tertentu — lebih jauh, seni secara tidak sadar menunjukkan kepribadian individu, pun kepribadian suatu masyarakat. Dengan demikian, antara seni dan psikologi memiliki misi yang sama yaitu untuk menjelaskan secara obyektif pertumbuhan, perkembangan dan kesempurnaan jiwa seseorang atau masyarakat (Nader dan Moosa, 2012).

Apa yang perlu dilakukan?

Membuka kran kreativitas adalah kebutuhan pengembangan kekuatan jiwa, optimalisasi cipta, rasa, karsa dan karya. Psikologi, sejak tahun 1950, masih kesulitan mendefinisikan kreativitas. Salah satu sebab adalah karena pada tahun itu psikologi di Amerika masih didominasi aliran behavioristik, yakni oleh eksperimen psikolog Harvard B.F. Skinner yang notabene dilakukan kepada merpati dan tikus. Pada waktu itu semua orang menyadari bahwa kreativitas sulit dijelaskan oleh behavioris. Namun sebuah gerakan baru muncul, yaitu psikologi humanistik yang dimotori oleh Abraham Maslow dan Carl Rogers, yang mulai memiliki konsentrasi kajian terhadap pentingnya pengalaman puncak, motivasi batin, aktualisasi diri, dan kreativitas. Bagi kedua tokoh psikologi humanis tersebut, kreativitas adalah salah satu sifat kemanusiaan yang paling positif dan mampu meneguhkan kehidupan (Sawyer, 2006).

Kreativitas menurut Carl Rogers (2012) adalah kebutuhan sosial yang mendesak untuk melahirkan perilaku-perilaku kreatif pada individu. Maka, Rogers dalam bukunya On Becoming a Person mengritik serius tentang budaya yang memiliki kecenderungan tidak dengan baik mengembangkan kreativitas. Dua kritikan di antaranya adalah soal pendidikan yang cenderung menghasilkan pengikut, stereotip, bukan pemikir inovatif, kreatif, dan penuh kebebasan. Dan dalam kehidupan keluarga, terjadi situasi yang sama. Mulai dari pakaian, makanan yang dimakan, buku yang dibaca, dan gagasan yang dimiliki, terdapat kecenderungan mengikuti, mematuhi dan stereotip. Sedangkan untuk menjadi pribadi yang kreatif akan  dianggap berbeda dan “berbahaya”.

Kemana kreativitas seni menuju?

Seni sebagai pendaya-optimalan cipta, rasa, karsa, dan karya (kreatif) yang bersifat indah, lembut dan halus adalah intisari kebudayaan. Sebagaimana yang diartikan oleh Ki Hadjar Dewantara (1994), kebudayaan adalah segala apa yang berhubungan dengan “budaya”, sedangkan budaya berasal dari perkataan “budi” yang dimaksudkan sebagai budi yang telah masak atau matang. Kebudayaan adalah buah budi manusia. Masak atau matangnya budi (cipta, rasa, karsa dan karya) akan menunjukkan kebudayaan seseorang atau suatu masyarakat. Maka, seni bahkan kesenian yang ada menjelaskan kebudayaannya. Kebudayaan dengan demikian adalah erat dengan konteks seperti apa cipta, rasa, karsa, dan karya yang dimiliki oleh individu maupun suatu masyarakat.

Lahirnya seni, bahasa Jawa-nya ora isa ucul dari kebudayaan masyarakat setempat yang dicipta oleh individu-individu yang ada di dalamnya. Maka karya seni, selain ekspresi yang menjelaskan kebudayaan, juga untuk menjawab permasalahan-permasalahan masyarakat tertentu. Penulis mengambil contoh berbagai serat di Jawa, juga mantra dan doa dalam agama-agama, adalah karya seni yang menjelaskan kondisi-situasi dan menyelesaikan permasalahan masyarakat. Contoh terkini, karya Iwan Fals dengan lagu “Bongkar” yang memiliki kekuatan perlawanan terhadap praktik korupsi, serta lagu “Pancasila Rumah Kita”-nya Franky Sahilatua yang dirilis untuk menguatkan kembali kepada seluruh warga Negara Indonesia bahwa Pancasila adalah rumah untuk kita semua dan selamanya. Karya seni sebagai kebudayaan seharusnya dapat memberikan dampak kebudayaan. Sehingga misi besar kebudayaan dapat dicapai bersama, yaitu keselamatan dan kebahagiaan.

Dalam situasi masyarakat dunia, pun Indonesia yang saat ini dalam kecemasan dan ketakutan, karya seni dari masing-masing kebudayaan seharusnya dapat dijadikan sebagai jampi (obat) kejiwaan. Sehingga masyarakat dapat menghadapi pagebluk virus Corona dengan situasi yang tenang dan tatag (tabah). Pada akhirnya, karya seni seperti “Kidung Rumeksa Ing Wengi” dan “Sholawat Thibbi-l-Qulub” perlu dibaca dan dilantunkan kembali sebagai penguat jiwa, hingga individu-individu di dalam masyarakat merasakan selamat (keslametan) dan kebahagiaan (kabegjan). [MFR]

Dari Paus hingga Dewa Mabok

Instuktur Dewa Mabok itu, tidak merasa terbebani jika harus menimba ilmu lagi dari berbagai guru senior dari tradisi yang beragam.

—– Yudhi Widdyantoro

Karena peran sentral pengajar, atau guru yoga dalam sebuah yoga center, beberapa guru merasa mendapat amanat untuk menjaga kemurnian suatu tradisi atau style dari yoga yang telah mereka pelajari begitu dia deperkenankan mengajar. Dengan semangat partisan manusia besi, si guru menjalankan aturan dengan pengawasan ketat seperti penjara Alcatraz. Guru seperti itu menginginkan murid-murid yang belajar padanya melakukan yoga secara kaffah, menyeluruh, seperti aslinya di India sana tanpa kurang apapun, termasuk juga suasananya, sejak mereka memasuki center sampai meninggalkan pelataran parkir: seperti harus membaca invocation, pengucapan mantra yang nadanya harus persis seperti di India sana, instruksi-instruksi yang guru berikan: harus dengan suara keras yang cederung berkesan galak, properti atau alat-alat bantu dalam berlatih yang juga langsung didatangkan dari India, pakaian yang dikenakan ketika mereka mengajar sepertinya harus sama dengan yang dikenakan guru mereka di India.

Di Jakarta ini, guru-guru yoga center di atas sudah bak ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek) dan bertindak seperti seorang Paus dalam Katolik. Kepada murid-muridnya, guru di yoga ATPM itu membuat aturan yang sangat ketat, bahwa sekali si murid ikut menjadi muridnya, haram hukumnya belajar di yoga center yang lain selain di centernya. Baginya, barang siapa yang telah dipersatukan oleh sang guru tersebut tidak dapat dipisahkan lagi selain atas ijinnya. Ikatannya mirip seperti perkawinan dalam agama Katolik. Guru tersebut sering meng-claim bahwa aliran yoga yang diajarkan sebagai “yang terbaik” di setiap ada kesempatan. Dia dan pengikutnya sepertinya menganggap sebagai “umat pilihan”. Karenanya: “Kami harus eksklusif!”, begitu sepertinya keinginan mereka yang tersembunyi. Berani tampil beda, hanya “menyembah” pada satu “Tuhan”, yaitu guru besarnya yang telah menjadi legenda.

Setiap ada kesempatan–dalam kelas ketika mengajar atau menulis di media—para guru itu melulu mengutip dan menjejali kisah-kisah kehebatan gurunya, The Great Master, tersebut. Bahkan, guru kategori ATPM ini, segera setelah mendapat sertifikat yang paling awal, sudah berani membuat program “pencetakan” guru-guru yoga di center-nya dengan membuka kelas menjadi guru (teacher training). Dalam sistem parokial ini, Paus berarti hanya ada satu, atau jika dalam wilayah maka hanya ada satu Kardinal, jika ada orang lain yang juga maunya membawa ajaran yang sama, tentunya akan dianggap sebagai kompetitor yang berhak untuk dilenyapkan.

Padahal, sehebat-hebatnya guru yoga di suatu tempat, sekarang ini, kalau dirunut, tidak akan jauh-jauh, bersumber dari aliran yoga yang telah dikembangkan oleh Krishnamacarya, Shri Sivananda, BKS. Iyengar atau Shri Patabijois, tidak ada yang origin, asli hasil temuannya sendiri.  Karena belum ada asosiasi resmi, seperti di kota-kota di Amerika atau negara Barat lainnya yang tradisi beryoganya sudah lebih berpengalaman, dan karena tidak ada wasit yang menengahi, persaingan rebut pengaruh dan pembunuhan karakter di antara guru dalam tradisi yang sama menjadi tak terlelakkan, dan menjadi kisah menarik seru tersendiri, persis seperti dalam kisah silat shaolin.

Sementara guru-guru yoga di fitness center umumnya berpengalaman terlebih dahulu menjadi pelatih aerobic, taebo, body combat, body building dan sejenisnya yang riang dinamis. Mereka mengisi kebutuhan demand kelas yoga yang kurang di-supply oleh pelatih yoga yang sangat kurang banyak. Tidak jarang sekarang, guru yoga di Jakarta ini banyak yang berbadan gempal, tegap dan atletis. Kalau mereka berbicara di luar kelas, sangat antusias, provokatif, berapi-api diselingi humor seperti ketika sedang memberi instruksi kelas aerobic yang seperti beriringan dengan musik menghentak yang menyertainya. Selain para pengajar yoga saat ini usianya semakin memuda, seperti juga kecenderungan pada orang-orang yang berlatih, cukup menggembirakan bahwa pendidikan formal mereka banyak yang lulusan pascasarjana luar negeri dari negara-negara Barat, sehingga seharusnya lebih bernalar baik. Banyak dari mereka bergelar MBA, ahli dalam manajemen bisnis, selain ada yang masih aktif bekerja sebagai profesional di perusahaan multinasional; bahkan, tidak sedikit yang telah meninggalkan dunia kerja kantoran dan memilih mengajar yoga sebagai sebuah profesi

Pada sisi ekstrim yang lain, ada juga instruktur yoga yang tidak membawa ikatan pada tradisi atau asosiasi apapun. Mereka hanya berpikir bahwa segala tradisi, betapapun hebat inventor atau guru besar dari salah satu style yoga, dan betapapun style itu cukup memengaruhi cara instruktur tersebut mengajar, tetap saja berpotensi menghambat proses liberation atau kebebasan dan realisasi diri, seperti tertulis dalam teks-teks lawas kitab yoga. Oleh karenanya, dia melepaskan semua ikatan itu. Kebebasan dan kenyamanan mengajar baginya adalah yang paling penting, dan mungkin menjadi obsesinya.  Mungkin mirip pendekar Dewa Mabok (Drunken Master) dalam film laga Shaolin. Instuktur Dewa Mabok itu, tidak merasa terbebani jika harus menimba ilmu lagi dari berbagai guru senior dari tradisi yang beragam, lewat berbagai pelatihan yang diselenggarakan di yoga center yang bermacam-macam. Dia pun membuka diri untuk belajar ilmu lain yang komplementer bagi yoga, seperti meditasi atau juga anatomi tubuh, atau seperti pengikut agama yang inklusif, atau juga pada pengikut New Age.[MFR] 

Kapitalisme dan Jajanan Spiritualitas

Asketisme agama ini menjadi salah satu jalan masuk adanya perselingkuhan kapitalisme dengan dunia spiritual.

—- Yuddhi Widdyantoro

Yang menarik diamati dari perkembangan kehidupan keagamaan di tanah air ini adalah, bersama dengan meningkatnya kesalehan orang beragama, dan atau aktif pada kegiatan spiritual, kegiatan ekonomi kapitalis juga menonjol, kalau tidak dikatakan sangat agresif. Kegiatan perekonomian (neo) liberal ini sudah semakin telanjang dan menyebar ke segala penjuru. Peran dan daya kontrol negara pada penguasaan sumber daya alam kekayaan bangsa yang menjadi hajat hidup orang banyak sudah mengendur daya cengkeramnya, walaupun pada konstitusi dikatakan bahwa negara berhak menguasainya. Bagaimana penjelasan perselingkuhan logika kapitalisme dan agama quasi spiritual ini?

Marx, Weber, dan Anand Krishna

Inti logika kapitalisme ada pada etika Protestanisme, seperti dikatakan Max Weber dalam kredo Summum Bonum, “Bekerjalah segiat mungkin, tapi jangan kau umbar hasilnya agar kau dapat mendapat Kasih Tuhan, jadi nikmati hasilnya sesedikit mungkin”. Adanya represi pemuasan kenikmatan memperjelas keberadaan aura transendental kapitalisme di sini, seperti dalam agama Islam yang mengatakan bahwa pada setiap harta yang dimiliki oleh ummat, ada terkandung hak untuk anak-anak miskin yang kurang beruntung.

Asketisme agama ini menjadi salah satu jalan masuk adanya perselingkuhan kapitalisme dengan dunia spiritual. Berbeda dengan Weber yang merayakan agama secara positif, Karl Marx beranggapan agama bersifat intsrumental terhadap kapitalisme, sesuai pengamatannya pada kerja dan cara menikmatinya. Adanya jurang antagonisme kelas buruh versus pemodal yang mengakibatkan alienasi buruh, dan pada gilirannya, mereka kemudian melarikan diri pada Tuhan atau agama. Tuhan, pada akhirnya, seperti dikatakan Feurbach menjadi proyeksi atas keinginan-keinginan manusia marjinal yang telah teralienasi.

Adanya krisis kepercayaan diri membuat banyak orang merasa perlu dan membutuhkan Messiah, Ratu Adil, seseorang yang dapat membawa mereka pada jalan kebahagaian. Krisis sosial ekonomi pada jaman kontemporer ini menyebabkan orang-orang yang mengalaminya mencari-cari penyelesaian lewat berbagai cara sepanjang dapat menentramkan kegundahannya, baik lewat tokoh spiritual, atau aktivitas bernuansa agama dan spiritual, atau juga pelatihan motivasi diri dan hipnotis. Karena itu, tokoh spiritual seperti Anand Krishna, Osho atau Baghwan Rajnesh menjadi orang yang sangat digandrungi. Demikian juga para tokoh agama yang omongannya menjadi seperti mantra sakti yang siap diikuti walau rela mati.

Derivasi atau turunan dari ralasi Tuhan-tokoh-umat ini bisa juga dilihat dalam produk seni dan budaya sebagai interpretasi atau penjelasan pola pikir seperti itu. Tidak heran bila film-film hantu menakutkan, siksa kubur, atau religius romantis seperti “Ayat-ayat Cinta” menjadi sangat diminati sehingga perlu dibuatkan sequel-nya. Demikian juga pelatihan motivasi diri menjadi sangat laku, laris manis. Tokoh-tokoh pelatihan motivasi seperti Tung Desem Waringin, Ary Ginanjar, Mario Teguh, Andri Wongso menjadi seperti selebritis dengan penghasilan seperti pemain sepak bola liga Inggris. Jika melihat pola kerja di atas, mungkin bisa juga diberi perhatian bisnis MLM (multi level marketing) yang tak kalah gegap-gempitanya menjalar pada kelompok-kelompok keagamaan.

Hypermarket, Pasar Senen, dan Pengasong

Dari demikian banyaknya yoga center, jika dilihat dari peran mereka dalam membuat demam yoga melanda Jakarta, akan terlihat beberapa perbedaannya. Ada yang seperti warung kue subuh di Pasar Senen, karena kue-kue yang mereka jual akan dijual lagi di toko tingkat kampung. Yoga center  yang seperti toko kue Pasar Senen contohnya adalah Jawaharlal Nehru Indian Cultural Center (JNICC), Ananda Marga, Rumah Yoga dan Art of Living. Yoga centers ini bisa dibilang sebagai perintis yoga center yang sesungguhnya di Jakarta, dalam arti, kalau dianalogikan dengan komoditas barang dagangan, yang mereka “dagangkan” hanya satu komoditas, yaitu yoga.

Banyak peserta yoga yang berlatih di sini yang merasa sudah pintar, dengan rutin beratih dalam jangka waktu tertentu, walau tanpa melalui proses pelatihan menjadi guru (teacher training) mereka memberanikan diri melatih di kelas-kelas yang mereka bangun. Seperti pedagang kue di kampung yang belanja subuh-subuh di Pasar Senen, mereka mendagangkan kue tersebut di kampung daerah mereka tinggal, atau mengajar berdasar permintaan, mirip seperti pengasong keliling.

Mereka tidak mempunyai ikatan pada asosiasi atau satu center tertentu. Materi yang diberikan pun tidak ketat, bisa dikembangkan atau digabung dengan tradisi atau latihan sport lainnya, baik itu pilates, taebo, senam jazz dan lain sebagainya sesuai hasil pengembaraan guru-guru tersebut. Karena ada selisih waktu, tentunya pembeli di kampung tidak akan memakan kue se-fresh kalau beli subuh hari dan langsung makan di tempat, belum lagi ada margin keuntungan yang diambil dari pedagang antara tersebut.

Sedang dari kelas yang ditawarkan, beberapa center memfasilitasi beragam aliran atau style yoga dari beragam tradisi dalam Hatha Yoga: baik Hatha yoga klasik, Ashtanga yoga, Bikram yoga, atau Iyengar yoga, dan lainnya lagi. Tetapi ada juga yang mengkhususkan hanya mengajar satu style dengan ketat memegang tradisi, lebih mirip seperti agen tunggal pemegang merek (ATPM). Sementara di satu sisi yang lain, beberapa center telah membuka lebar-lebar jendelanya menjadi “partai terbuka”. Tentang keterbukaan center, beberapa yoga center bergerak ke ekstrem satunya dibanding dengan ATPM.

Center-center ini bahkan cenderung menjadi Hypermarket dimana yoga hanya menjadi salah satu dari beragam kegiatan oleh raga, seperti banyak ditemui di fitnes centers. Yoga yang diajarkan di sini menjadi sangat compact, dimodifikasi dengan olah fisik lainnya dan disesuaikan dengan iklim dan suasana di tempat itu, seperti penggunaan musik, gerak yang harus dinamis, waku berlatih yang menjadi lebih singkat. Peserta yoga yang berlatih di sini pun harus mengikuti aturan yang tidak tertulis, yaitu bawa mereka harus siapkan mental: “melihat dan sekaligus dilihat”.

Permodalan: Konglomerat vs Handphone

Dalam hal permodalan, seperti disingung di atas bahwa untuk mendirikan studio yoga, atau yoga center tentunya diperlukan investasi yang besar, karena itu para pemilik yoga center  tentunya para the haves, yang beberapa dari mereka membuat yoga center hanyalah investasi percobaan dari usaha perluasan konglomerasi bisnisnya. Namun demikian, menjalankan kelas yoga tidak melulu harus dengan modal besar dan di studio yang lavish atau mentereng, karena ada beberapa individu yang benar-benar karena kecintaannya pada yoga dan kebetulan punya modal, dengan segala risikonya dia bangun yoga center.

Ada juga yoga center yang malu-malu mengiklankan dirinya, tidak secara terang dengan beriklan di media massa, tapi telah rutin menggelar kelas berlatih yoga dengan murid yang cukup banyak. Beberapa instruktur yoga mendapatkan order mengajar karena seseorang telah merekomendasikan namanya kepada orang yang ingin berlatih secara privat, atau juga di yoga center tempat mereka mengajar. Modal instuktur seperti itu hanyalah handphone dan perlengkapan mengajarnya yang selalu dibawa-bawa, seperti matras, celana pendek dan kaos, serta kendaraan untuk moda transportasinya.[MFR] 

Yoga, Agama dan Coca-Cola

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari semarak gaya hidup beragama di tanah air ini. Sebagian orang beranggapan ini dipicu oleh peningkatan kesadaran orang yang beragama tersebut pada hal-hal yang subtil. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan pada kebenaran mutlak.

— Yudhi Widdyantoro

Dalam empat tahun terakhir ini, perkembangan tempat berlatih yoga (selanjutnya disebut yoga center) di Jakarta meningkat dengan pesat. Bahkan Jakarta jauh meninggali sesama kota-kota metropolitan di Asia Tenggara. Animo dan kegandrungan orang Jakarta—yang  berpenduduk delapan juta lebih—untuk beryoga menunjukkan grafik yang meningkat. Pemberitaan dan publikasi yoga di media, baik cetak maupun elektronik, seperti terus mengalir tiada henti.

Kalau sedikit ditarik lebih kebelakang, perhatian orang pada yoga atau “seni hidup dari timur” ini sudah menampakkan gejalanya di tengah dampak negatif krisis ekonomi nasional yang masif pada paruh dasawarsa 90-an. Dampak nyata dari kemerosotan ekonomi adalah penurunan pendapatan riil yang dialami sebagian besar penduduk seiring dengan angka pengangguran yang semakin menggelembung. Dari sini, krisis ekonomi tidak hanya menggoyahkan sendi perekonomian, namun juga kehidupan sosial, politik, bahkan kerukunan hidup bermasyarakat. Harga bahan pokok hidup yang meroket semakin mempersulit akses pada pelayanan kesehatan yang menjadi sangat mahal. Masyarakat semakin tidak berdaya (vulnerable) yang secara tidak langsung berpotensi memicu gejolak dan penyakit sosial. Selain berusaha mencari pengobatan yang relatif murah, masyarakat dilanda stres  menghadapi kenyataan bahwa pengobatan medis konvensioal dengan terapi obat-obatan kimia tidak cukup ampuh untuk menyembuhkan penyakit yang bersumber dari masalah psikis atau mental. Mereka mulai berpaling pada upaya mendapatkan kesehatan secara alami, salah satunya yoga. 

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari semarak gaya hidup beragama di tanah air ini. Sebagian orang beranggapan ini dipicu oleh peningkatan kesadaran orang yang beragama tersebut pada hal-hal yang subtil. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan pada kebenaran mutlak. Cak Nur—panggilan akrab Nurcholish Madjid—menyebutnya sebagai al-hanifiyyat al-samhah, yakni mencari kebenaran yang lapang dan toleran serta jauh dari sifat fanatik dalam beragama. Mereka yang sepaham dengan cara berpikir Cak Nur agak alergi pada fundamentalisme agama, karena mereka terbiasa beragama dengan cara inklusif. Kajian mereka lebih filosofis. Karenanya, perjumpaan atau dialog dengan agama lain bukan sesuatu yang tabu. Adanya semacam proses emanasi spiritualitas ini menjadi awal berkah bagi perkembangan yoga. Orang-orang seperti ini akan dengan ringan melangkahkan kakinya “melompati pagar tabu agama” untuk mengunjungi aktivitas keagamaan atau kegiatan spiritualitas dari agama atau tradisi yang berbeda.

Yang hampir sama dengan derap perkembangan keagamaan adalah gelombang kultural yang sangat konsern pada spiritualitas, yang biasa disebut New Age. Di Barat, New Age sudah marak di era 60-an hingga 70-an seperti kehadiran kelompok yang lebih dikenal sebagai flower generation (generasi bunga). Tapi entah bagaimana di Indonesia pada era 90-an gelombang New Age ini mulai dirayakan lagi. Panggilan “pengembaraan ke Timur” berdengung kembali. 

Vitamin lain bagi perkembangan yoga adalah kebiasaan yang dibawa oleh anak-anak Indonesia yang pernah belajar di luar negeri, khususnya Amerika Serikat. Anak-anak ini berasal dari keluarga A+, atau  kelompok paling atas dari menengah-atas, yang ketika sekolah atau tinggal di Amerika sudah mengenal dan berlatih yoga dan merasakan manfaatnya. Mereka meneruskan kebiasaan hidup itu sekembali ke tanah air. Selain mereka, tentunya banyak juga orang Indonesia yang, walaupun tidak ke Amerika, cukup terbuka pada perkembangan gaya hidup mondial dan turut menjadi amunisi ampuh bagi ledakan yoga di kota-kota besar Indonesia.

Di Amerika, yoga tentunya lebih dahulu berkembang dibanding di Indonesia. Gairah orang Amerika untuk beryoga sudah bukan lagi sekadar kebutuhan exercise atau kesehatan fisik, tapi sudah menjadi lifestyle, gaya hidup. Selain yoga centers yang sudah menyebar hampir di seluruh pelosok negeri, kelengkapan pendukung latihan pun turut tumbuh menyertainya, seperti t-shirt, celana, matras yoga, atau props (benda-benda untuk membantu latihan fisik), program retreat, workshop, teacher training, bahkan asuransi untuk para praktisi diiklankan dengan marak di majalah, seperti Yoga Journal, Living Yoga yang diterbitkan di negeri Paman Sam ini. Asosiasi-asosiasi yoga dari berbagai tradisi: Iyengar Yoga, Ashtanga Yoga, dan sebagainya dibentuk di hampir setiap negara bagian (state). Dan, least but not last adalah kehadiran International Yoga Alliance (IYA) yang dikreasi oleh orang-orang Amerika. Hampir seperti Perserikatan Bangsa-bangsa, organisasi ini seolah ingin menjadi payung bagi seluruh aliran dan tradisi yoga yang ada di muka bumi. Mereka membuat standar dan ketentuan, seperti kurikulum, dalam menyelenggarakan teacher training, pelatihan untuk menjadi pelatih yoga. Harus diakui bahwa orang Amerika sangat piawai dalam membuat sistematika,  mengemas dan kemudian “memasarkan” yogya, walaupun kita tahu yoga sejatinya berasal dari India, ribuan kilometer di seberang benua Amerika. 

Publikasi dan pemberitaan di media bahwa para pesohor atau celebrity Hollywood berlatih yoga menjadi hal penting bagi perkembangan yoga secara global. Sebut saja misalnya Madonna, Christy Turlington, Cyndy Crowford, Sarah  “Sex City” Jessica Parker, Breatny Spears, Gwyneth Paltrow dan Sting. Mereka ini adalah para trendsetter yang setiap kegiatannya mendapat sorotan media dan publik yang membuat segala apa yang mereka ucapkan, lakukan, atau kenakan di tubuhnya akan dengan mudah diikuti banyak orang.

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Di Indonesia, perkembangan yogya mengikuti pola di Amerika itu. Para pesohor Indonesia menjadikan para celebrity Hollywood kelas dunia itu sebagai referensi. Ada juga keinginan tersembunyi dari para pesohor Indonesia untuk diakui dan seterkenal bintang Hollywood. Celebrity dan golongan menengah atas, khususnya yang paling atas atau A+, adalah orang-orang yang sangat peduli pada citra diri atau image, oleh karenanya tubuh menjadi titik perhatian utama. Dengan perjuangan ekstra keras, mereka berusaha untuk mendapatkan tubuh permai dan penampilan yang aduhai, termasuk ramai-ramai berlatih yoga. Demam yoga ini juga menjangkiti pikiran banyak manusia urban yang sangat peduli pada bentuk tubuh, seperti orang-orang di Jakarta ini.

Tubuh masyarakat urban adalah arena pertarungan interior maupun eksterior. Pertarungan interior maksudnya arena pergulatannya ada di dalam diri si empunya tubuh, sementara eksterior berarti adanya pihak lain yang melihat tubuh sebagai objek yang empuk bagi ekstensifikasi atau pemasaran produk-produk industri modern. Untuk mendapatkan “cantik” seperti dalam pandangan masyarakat umum modern, si empunya tubuh merelakan dirinya menjadi sadomasokis, yakni menyakiti diri sendiri untuk mengejar kenikmatan diri. Para pemuja tubuh ini dalam waktu yang bersamaan menjadi narsistis atau mencintai diri sendiri. Setiap saat mereka mematut diri untuk tetap berada dalam koridor “cantik sesuai pandangan umum”. Di sini ada konflik internal secara psikis, antara pikiran dan tubuhnya sendiri. Pikiran mengkooptasi, melulu menuntut tubuh agar selalu sesuai dengan keinginannya, sementara secara awam diketahui bahwa tubuh mempunyai logika perkembangan sendiri yang mengikuti hukum alam. Bagi orang yang jeli tubuh akan dilihat sebagai target market untuk mamasarkan produk yang telah atau akan dihasilkannya. Secara masif para industrialis produk kecantikan melihat tubuh masyarakat urban sebagai arena ekstensifikasi modal yang menjanjikan keuntungan berganda. Dengan kecerdikannya pula, para pelaku industri ini dengan sengaja mengkonstruksi pengertian cantik ini setiap saat.

Dari sebagian para sosialita Jakarta yang berlatih yoga, dan kebetulan mereka juga punya uang, melihat peluang berinvestasi mendirikan yoga center  sebagai upaya diversifikasi dari aktivitas bisnis-bisnis sebelumnya. Semula mereka meniatkan agar diri mereka, dan juga teman-teman terdekat, dapat terus melanjutkan latihan yang sebelumnya mereka lakukan di rumah sekaligus mengkanalisasi gairah orang Jakarta beryoga-ria. Dalam waktu yang relatif singkat, kegiatan yoga mereka menyebar ke segala penjuru kota, merambah dari studio yoga ke gedung-gedung perkantoran, perumahan, dan mall.

Di atas telah disinggung bahwa perkembangan yoga di Jakarta tidak terlepas dari gaya hidup beragama di tanah air. Yoga adalah seni hidup, art of living, dan bukan atau diakui sebagai agama, tapi dapat juga (sementara) dimasukkan dalam genre yang sama, karena di dalamnya ada kepercayaan (belief system) dan semacam ritual berupa laku (practice). Dalam teks klasik yoga, yoga didefinisikan sebagai union dalam bahasa Sanskrit, artinya penyatuan keinginan kita (our will) dengan keinginan Tuhan (the will of God); atman (jiwa manusia biasa) dan Brahman (jiwa utama, supreme soul, Tuhan sang pencipta), seperti konsep manunggaling kawula gusti dalam kepercayaan Jawa, atau “menyatu dalam Tuhan” pada agama-agama samawi Abrahamik-monoteis: Yahudi, Kristen dan Islam. Konsep “manusia utama” atau insan kamil dalam konteks ini—juga dalam agama Hindu—adalah adanya unsur “kemenyatuan” itu, seperti juga dalam pengertian samadhi dalam yoga: “when our soul merge with the soul of universe”.

Ideologi berupa agama atau budaya dan seni diproduksi untuk menjembatani jurang antara Tuhan sang Pencipta dan manusia yang diciptakan sehingga insan kamil, manusia utama, bisa mewujud. Dalam ruang kosong yang menghubungkan Tuhan dan manusia dibangun jembatan hermeneutik sebagai penghubung karena Tuhan berbicara dalam bahasa wahyu yang termanifestasi dalam kitab suci, sementara bahasa manusia mempunyai logikanya sendiri. Dalam cara beragama di masa modern ini, ruang kosong itu diisi oleh para juru tafsir kitab suci yang sudah pasti ada “kekuasaan” (dan juga ambisi pribadi) yang sifatnya hierarkis-parokial yang terwujud pada pemimpin atau tokoh-tokoh agama.

Dari tuturan para pemimpin spiritual dan agama, dibangun dogma yang menuntut ditegakkannya disiplin dalam menjalankan tertib hukum agama sambil bersujud serendah-rendahnya di hadapan sang Pencipta. Seperti dalam teori termodinamika di mana arus kecil akan tersedot arus besar, untuk dapat “diterima dalam tangan Tuhan” manusia harus merendah serendah-rendahnya. Walhasil, cara beragamanya bersifat imperatif: “semakin larangan dijauhi dan perintah dipatuhi, orang bukan makin lega, malah justru makin gelisah dalam rasa dosa dan bersalah, yang darinya akan meningkat kualitas kesalehan”, seperti orang selesai minum coca cola: diminum, hilang dahaga dan segar (sejenak), tapi kemudian timbul rasa haus yang malah menjadi-jadi.

Hal ini nampak nyata pada pertemuan keagamaan dalam skala yang besar. Para pemimpin agama sering menggambarkan kengerian hasil perbuatan buruk manusia di dunia pada hari pembalasan atau kiamat (judgement day), hari ketika dunia dihancurkan oleh kuasa Tuhan. Sepertinya omongan agama melulu diproyeksikan untuk kehidupan masa depan, akhirat atau kematian dan bukan merayakan hari ini. Walaupun demikian, kengerian yang digambarkan tokoh-tokoh agama tersebut, toh tidak menyurutkan minat orang untuk mendatangi tempat ibadah pada hari-hari mereka lazim berkumpul.[MFR]  

Yang Fana Reisa, Yang Misterius Rasa

Pengalaman mistik adalah pengalaman kemenyatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri: Yang Ilahi, Tuhan, Allah, semata, atau sesuatu yang kita tidak ketahui, The Unknown. Sisi spiritualitas yoga ini yang akan membawa praktisinya pada kerendahan hati, sekaligus membebaskan dari penderitaan.

—-Yudhi Widdyantoro

“Per hari ini 47.896 orang terkonfirmasi positif Covid-19 dan 2.535 orang meninggal”. Coba Anda bayangkan kalimat itu juga keluar dari mulut dokter Reisa, selain anjuran menaati protokol kesehatan: menjaga jarak, memakai masker, dan cuci tangan pakai sabun. Reisa menyampaikan data kuantitatif yang terus berubah. Sehari turun, keesokan hari memecahkan rekor pertambahan pasien dalam pengawasan (PDP). Jumlah pesien yang meninggal terus bertambah. Penampilan Reisa membuat terpesona, itu sudah biasa. Namun berbagai pikiran dan perasaan bisa muncul setiap melihat dan mendengar informasi dari Reisa. Setiap kata-kata Reisa bisa menimbulkan perasaan kagum, ngeri, bisa juga jadi panik. Apa jadinya jika pandemik disikapi dengan panik? Kata-kata memang sering menunggangi makna. Karenanya, kata bisa menimbulkan aneka pikiran dan rasa.

Seperti itu juga ketika kita berlatih yoga. Setiap tahap latihan menimbulkan pikiran dan rasa. Perasaan yang mengikuti pikiran bisa muncul ketika berlatih asana, atau olah fisik yoga, karena pada umumnya pikiran dan perasaan mengikuti ke mana sensasi muncul di tubuh. Terkadang kita merasa sakit di suatu bagian tubuh akibat otot, syaraf, dan tulang aktif bekerja untuk membuat postur yoga. Kali lain ada rasa nikmat dan adiksi. Perasaan itu bisa tidak sama persis pada setiap orang ketika mempraktekkan suatu postur bersama sejumlah orang dalam waktu dan tempat yang sama, karena soal rasa ialah subjektif.

Asana atau postur yoga yang kasat mata, pada tahap tertentu, mungkin perlu dilakukan secara terukur dengan fokus pada ketepatan anatomis-fisiologis untuk menghindari cedera. Praktisi yoga dalam melakukan postur mengacu pada Yogasutra Patanjali, Bab Sadhana, atau soal latihan, “yoga sthiram  sukkham asanam”, “lakukanlah postur yoga dengan kokoh, mantap, tapi disertai dengan perasaan sukacita, sukkham” (YS II:47).

Dalam melakukan postur yang terkait dengan kerja aktif anatomi-fisiologi manusia, diperlukan ukuran yang objektif seperti dalam kajian dunia kedokteran medis. Di sini, akal sehat dan rasionalitas dibutuhkan untuk mengurai kerumitan hubungan organ dalam tubuh manusia; kerja syaraf, otot, tulang; dan juga gerak tubuh. Hal serupa berlaku juga pada bagaimana hubungan kerja bareng antara semua unsur fisik itu dengan efek terapis yang dapat bermanfaat bagi kesehatan mereka yang mempraktekkan asana.

Namun demikian, yoga bukan melulu soal olah fisik asana yang tampak nyata. Selain soal tubuh yang telah disebut di atas, diri kita juga memiliki dunia batin, dunia spiritual, seperti soal rasa yang muncul ketika sedang melakukan suatu postur yoga. Tentu saja saat itu nafas, rasa, dan pikiran semuanya muncul silih berganti tanpa bisa dicerap namun bisa dikenali oleh indra penglihatan. Pikiran manusia tidak hanya punya kemampuan analitis, misalnya untuk menyelesaikan kerumitan, tetapi juga reflektif dan intuitif. Reflektif berati mampu mengamati dan menilai dirinya sendiri. Sedangkan intuitif diandaikan telah berkembangnya kepekaan perasaan sehingga mampu memahami sesuatu secara langsung tanpa selalu mengandalkan rasio dan pikirannya. Tubuh dan batin menjadi sesuatu yang paradoksal. Keduanya ada beriring bukan untuk saling meniadakan, tapi malah saling melengkapi.

Pikiran memang senantiasa memecah diri menjadi kepingan-kepingan dan menciptakan pemisah-misahan. Pikiran juga memutilasi apa yang dilihatnya untuk kemudian memasukkannya ke dalam ruang-ruang berbeda sebagai “aku” dan “Anda”; “milikku” dan “milik Anda”. Pikiran menciptakan dualitas. Dualitas juga bisa terjadi karena adanya konsep yang memisahkan body mind dan soul, tubuh dan batin.

Makna kata “yoga” dalam bahasa Sanskrit ialah penyatuan atau telah terjadinya keselarasan. Dalam sutra pembuka di dalam Yoga Sutra Patanjali, “yoga cittavriti nirodhah” (YS I.2), “yoga is cessasion of mind”, “yoga adalah ketika gejolak batin berhenti”. Gambaran tentang kondisi batin yang berhenti disebutkan dalam sutra III.3: Tadeva arthamantranirbhasam svarupasunyam iva samadhi. Artha, purpose, tujuan; nir, tidak, tanpa; svarupe, sva, sendiri, apa adanya, rupe, objek, bentuk, benda; sunyam, kosong, hening; iva, inilah; samadhi, liberation, pembebasan. “When the object of meditation engulf the meditator, appearing as the subject, self awereness is lost. This is samdhi.” Keheningan terjadi ketika subjek atau diri si pengamat terserap oleh objek yang diamati, atau sebaliknya. Dengan demikian, sang diri kehilangan identitas dirinya sendiri. Inilah yang disebut samadhi, kebebasan batin. Dua sutra ini bisa menggambarkan keseluruhan isi Yoga Sutra Patanjali. Tujuan dari perjalanan yoga sudah terkandung sejak dari awal melangkah, kebebasan batin dengan meredanya pikiran dan perasaan.

Seperti juga dalam sejarah peradaban manusia, pada dasarnya kita manusia selalu berusaha untuk memperoleh kebebasan. Bebas dari rasa takut, bebas dari cengkeram penguasa, bebas dari segala ikatan yang membelenggu. Penciptaan manusia sepertinya sudah satu paket dengan kebebasan.

Namun demikian, keinginan untuk bebas dari segala problem telah melahirkan problem lain bersama aliran waktu. Lalu, apakah yang menyebabkan problem itu? Jawabannya adalah ketakutan. Ketakutan bukan selalu berkonotasi buruk. Ketakutan, bersama keinginan, keraguan, dan kecemasan adalah kondisi batin yang selalu ada sepanjang kita hidup. Ketakutan itu ada selama ada dorongan untuk menjadi sesuatu di masa kini atau di masa depan.

Mungkin karena tidak tampak nyata, sisi spiritualitas yoga atau dunia batin praktisi menjadi tidak popular dan terabaikan, tertelan gelombang besar ritus perayaan tubuh. Walaupun, seperti makna atau nilai yang terkandung dalam Pratyahara, menarik objek di luar diri dan dibawa ke dalam batin adalah langkah awal untuk menyelami pengalaman mistis –yang sering dikatakan inti dari agama dan kepercayaan.

Pengalaman mistik memiliki dua sisi, yakni sisi misterius yang mengandung kekaguman sekaligus ketakutan, misterium tremendum fasinatum. Pengalaman mistik adalah pengalaman yang bisa mengubah dari dalam diri. Adanya rasa keterhubungan dengan lingkungan dan galaksi yang lebih luas. Pengalaman mistik adalah pengalaman kemenyatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri: Yang Ilahi, Tuhan, Allah, semata, atau sesuatu yang kita tidak ketahui, The Unknown. Sisi spiritualitas yoga ini yang akan membawa praktisinya pada kerendahan hati, sekaligus membebaskan dari penderitaan.

Pengalaman mistik adalah pengalaman kemenyatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri: Yang Ilahi, Tuhan, Allah, semata, atau sesuatu yang kita tidak ketahui, The Unknown. Sisi spiritualitas yoga ini yang akan membawa praktisinya pada kerendahan hati, sekaligus membebaskan dari penderitaan.

Saat ini, ketika pageblug wabah Covid-19 belum mereda, dan karena statistik fluktuatif, terus bergerak, biarlah angka-angka yang disampaikan Reisa dengan segala pesonanya berubah dan menjadi fana. Sementara itu, ketidaktahuan kita pada akhir kisah pandemi Covid-19 ialah sebagaimana kita menempatkan Yang Ilahi, Yang Transenden pada suatu ruang kosong tiada tepermanai dalam keheningan. The Unknown, ‘Yang Tak Dikenali’ biarlah tetap menjadi misteri dan abadi. Mungkin rasanya seperti puisi Rumi ini: Aku memilih mengindamkanmu dari kejauhan//
Aku memilih mendekapmu dalam mimpi//Karena di dalam mimpi engkau tak burujung. (MFR)