Pesantren Tanpa Nama

Figur Kiai Dlowi sangat khas dan unik. Beliau anti-mainstream dan anti-formalitas, hingga membuat pesantren tersebut tak bernama hingga kini. Barangkali beliau berpandangan “Apalah arti sebuah nama. Yang penting lembaga ini bisa memberi manfaat kepada santri yang ingin menuntut ilmu agama”.

—–Mukhammad Zamzami

Desa Gedangsewu Pare barangkali kurang begitu popoler di mata para santri yang ingin menimba ilmu di pesantren. Di kalangan awam, wilayah ini memang cukup familiar sebagai desa yang di salah satu sudutnya pernah ada lokalisasi. Padahal tak jauh dari eks-lokalisasi tersebut ada pondok pesantren yang eksis hingga hari ini dan diasuh oleh sosok kiai karismatis bernama Kiai Baidlowi.

Pondok Pesantren tersebut berada di jalan Teuku Umar, Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Tidak cukup jelas kapan berdiri secara formal dan bahkan dilegalnotariskan, karena sesungguhnya Kiai Dlowi—sapaan akrab Kiai Baidlowi—sudah menerima santri sudah puluhan tahun yang lalu. Bagi beliau, tidak perlu nama untuk sebuah lembaga. Jika ada yang berminat belajar, ya tinggal datang ke pesantren ini.

Setidaknya dalam catatan saya—yang pernah nyantri dan ngaji kilatan di sana sekira tahun 2010—ada tiga nama untuk menyebut pesantren ini, antara lain: pertama, al-Asasyah. Nama ini dulunya hanya digunakan untuk pengurusan wesel dan barangkali untuk memudahkan santri mendapatkan kiriman uang dari orang tua pada alamat tertentu; kedua, al-Ishlah. Nama ini sesungguhnya diberikan oleh Gus Dur atau KH. Abdurrahman Wahid saat beliau menjabat presiden pada tahun 2000-an dan mengunjungi pesantren tersebut dua kali; dan ketiga, Alabama. Nama ini adalah akronim dari Alfiyah, Balaghah, dan Mantiq. Karena memang pesantren ini concern pada kajian tiga “ilmu alat” ini untuk memahami kesusastraan Arab. Untuk nama terakhir—sepanjang amatan penulis—dipopulerkan salah satu putra Kiai Dlowi, Agus Yazid. Akan tetapi dari ketiga nama itu tidak ada nama yang secara resmi dipakai dan diformalkan oleh Kiai Dlowi.

Figur Kiai Dlowi sangat khas dan unik. Beliau anti-mainstream dan anti-formalitas, hingga membuat pesantren tersebut tak bernama hingga kini. Barangkali beliau berpandangan “Apalah arti sebuah nama. Yang penting lembaga ini bisa memberi manfaat kepada santri yang ingin menuntut ilmu agama”.

Tempat ngaji di pesantren ini berbentuk rumah panggung yang bertembokkan udara segar—alias langsung berbaur dengan alam yang hijau di sekitar pondok. Suara deras sungai yang berada tepat di utara pondok kerapkali terdengar di sela-sela Kiai Dlowi memberikan pelajaran kepada santri-santrinya.

Pesantren ini terbilang unik. Santrinya berkisar puluhan, yang kadang datang dan pergi setelah beberapa selesai putaran ngaji kilatan, walaupun tidak jarang ada beberapa santri yang sampai bertahun-tahun nyantri di sana. Tawaran ngajinya sangat cepat. Untuk belajar ketiga komponen penting memahami bahasa dan sastra Arab, baik Alfiyah Ibnu Mālik, Balaghah (Jawhar al-Maknūn), dan Mantiq hanya dibutuhkan waktu sekira 40 hari/satu putaran. Padahal di pesantren lain, dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menekuni ketiga bidang tersebut. Ngaji di pesantren tersebut hanya difokuskan pada ketiga bidang tersebut, tidak ada materi lain. Para santri yang masih belum cukup mengikuti ngaji satu putaran akan mengulang hingga dua, tiga, atau banyak putaran untuk sekadar memaksimalkan pendalaman ketiga disiplin ilmu tersebut.

Pesantren ini memang masuk kategori pondok kilatan, sebab dalam sehari sang kiai bisa memberi materi (ngaji) hingga empat kali. Di pondok lain penyampaian materi untuk satu disiplin ilmu kadang hanya satu kali dalam sehari. Karena itu, dalam 40 hari materi ketiga disiplin ilmu bisa tuntas dipelajari. “Kalau sudah khatam, kita ulang lagi materi ketiganya itu. Dan terus berulang lagi”, ujar beliau. Tidak ada patokan waktu bagi para santri bisa lulus. Yang merasa belum maksimal penguasaan terhadap ilmu yang ditawarkan, santri biasanya akan terus mengulang lagi. Jika sudah merasa mantap dan bisa memahami, mereka akan pamit boyong.

Santri di sana rata-rata memang sudah cukup senior walaupun beberapa di antaranya juga ada yang tamatan Sekolah Dasar. Tidak ada ketentuan di pesantren tersebut bahwa santri yang mengaji harus mukim di sana, karena beberapa santri yang ikut mengaji, ada yang nyantri di pesantren lain atau mereka yang nyambi kursus bahasa Inggris di Tulungrejo Pare. Jarak Tulungrejo Pare dengan Gedangsewu Pare memang tidak jauh sekira 6 sampai 7 kilometer.

Kesederhanaan memang tampak pada figur Kiai Dlowi dan model pesantrennya. Kalau diamati sekilas, tidak ada fasilitas kamar mandi berdinding tembok yang dimanfaatkan oleh santri. Kiai Dlowi dan santri justru lebih sering menggunakan sungai dan kolam untuk aktivitas pemenuhan hajat di belakang. Walaupun di pesantren ada kamar mandi bertembok yang dibangun oleh salah satu wali santri tanpa sepengetahuan Kiai Dlowi saat beliau menunaikan ibadah haji, tetapi beliau–bersama santrinya–lebih memilih menyatu dengan alam bebas di sungai untuk memenuhi kebutuhan hajat, baik mandi ataupun yang lainnya. Sungguh, sebuah pemandangan unik yang “memutus” sekat relasi formal kiai-santri.

Di mata para santri, beliau dikenal sangat dekat dengan seluruh santrinya. Makan bersama dengan santri dalam satu nampan pun sering dilakukan. Beliau yang gemar memancing ini kalau mendapatkan ikan, hasil pancingannya pasti akan dimakan rame-rame. Makan di nampan besar bersama sangat sering terlihat oleh kami yang nyantri pada saat itu. Relasi hierarkis kiai-santri seolah-olah tidak ada sama sekali.

Tak jarang Kiai Dlowi dicurhati terkait segala ihwal problematika yang dihadapi santrinya. Apa yang dipikirkan santri bisa langsung dicurahkan kepada kiai, kapanpun. Kiai pun selalu antusias dan sering memberi pandangan-pandangan bijak pada santrinya. Seringkali ijazah doa diberikannya jika ada problem pelik yang dihadapi mereka. Pun dalam proses pembelajaran, jika ada isykāl pada satu pembahasan tertentu, pasti akan dibahas tuntas oleh beliau, baik pada saat momen pembelajaran atau di luar jam ngaji.

Jangan membayangkan bahwa ada aturan ketat yang mengikat santri yang mukim di pesantren tersebut, karena pesantren ini dibangun atas kesadaran dan kedewasaan santrinya. Saat mengaji, ya mengaji. Saat santai, ya santai. Santri akan malu jika tidak kelihatan mengaji atau memilih tidur, karena jumlah santri yang hanya puluhan saja. Kiai cukup mudah memantau apapun yang dilakukan para santrinya.

Salah satu yang khas di pesantren ini adalah kentongan. Setiap ada hal, mulai dari pengumuman hingga waktunya makan bersama maupun mengaji, kentongan selalu ditabuh. Tujuannya untuk memanggil para santri yang berada di rumah-rumah panggung/angkringan untuk turun atau berkumpul di aula panggung. Pun kalau ada santri atau tamu yang membawa makanan—atau haytsu dalam istilah santri Kedirian–kentongan pun langsung ditabuh. Maknanya, saatnya menikmati makanan bersama-sama.

Al-Fātihah untuk Kiai Baidlowi, semoga beliau selalu dianugerahi kesehatan agar dapat selalu membimbing para santrinya.

Catatan: esai ini terbit pertama kali di https://arrahim.id/mz/ulama-nusantara-kh-baidlowi-dari-gedangsewu-mendirikan-pesantren-tanpa-nama-dan-menghapus-sekat-relasi-kiai-santri/.

Jejak Monoteisme Jawa

Orang Jawa Kuno, ketika bertemu dengan beragam tradisi keagamaan manca (luar Jawa) akan mencoba mengambil dan memilah tradisi mana yang sesuai dengan karakter spiritualitas mereka. Walhasil, apapun baju agama yang dikenakan orang Jawa, karakter ‘monoteisme’ dan ‘spiritualitas’ khas Jawa akan tetap kentara dan mewarnai keberagamaan mereka.

—–Saiful Mujab

Tema “Tuhan” adalah topik yang tak akan pernah kadaluarsa untuk didiskusikan. Hasrat untuk menenal Tuhan adalah kebutuhan yang paling primitif, meaningful, sekaligus kontekstual dalam ritme sejarah peradaban manusia.

Seorang mantan biarawati dari Inggris, yang juga pakar studi agama, Karen Amstrong, mengutip ungkapan Wilhelm Schemidt tentang awal keberadaan Tuhan dalam kilas sejarah peradaban manusia dalam bukunya yang fenomenal Sejarah Tuhan.  Dia mengatakan: “Pada mulanya, manusia menciptakan satu Tuhan yang merupakan penyebab pertama bagi segala sesuatu dan  sosok penguasa langit dan bumi. Dia tidak terwakili oleh gambaran apapun, serta tidak memiliki kuil atau pendeta yang mengabdi kepadanya” (Amstrong, 1993).

Tuhan, dalam pembacaan Schemidt (1912), benar-benar telah ada dalam tradisi paling primitif manusia. Manifestasi Tuhan, yang tak terwakili oleh ‘simbol’ apapun, merupakan bentuk monoteisme paling awal.

Rudolf Otto, filsuf dan ahli agama dari Jerman, dalam bukunya The Idea of The Holly (1917), meyakini bahwa perasaan ‘takjub’ dan ‘tak-terperikan’ tentang ‘Yang Maha Gaib’ (Nomineus) adalah dasar dari agama. Dari dorongan tersebutlah, menurut Otto, Tuhan bisa ‘disentuh’ oleh pengalaman manusia—atau dalam bahasa ekstrim, Tuhan ‘diciptakan’.

Monoteisme dalam Tradisi Agama

Sebelum kita mulai masuk pada pembahasan tradisi ‘monoteisme Jawa’, sebagai komparasi, saya akan menelisik pelbagai tradisi monoteisme masyarakat dunia sebagai awalan.

Bangsa pribumi Afrika dalam pengalaman ilahiah mereka telah mengenal ‘Sosok Tak Terperikan’ yang misterius. Suku-suku Afrika menggambarkan sosok ini sebagai dzat yang tidak bisa dicemari dan disentuh oleh ‘profanisme’ manusia dan dunianya.

Tidak hanya itu, tradisi Abrahamik (Yahudi, Kristen dan Islam) juga mengenalkan sosok Tuhan yang ‘Maha’ atas segalanya. Terminologi yang dipakai untuk menyebut-Nya ialah Allah, Ellohem dan Elly.

Sebagai perbandingan terakhir, penulis ingin menyebut beberapa nama bagi realitas tertinggi Tuhan dalam pelgabai tradisi agama di belahan dunia. Di antara nama-nama Tuhan adalah Brahman (Hindu-India), Mana (Kepulauan Laut Selatan), Ahura Masda (Zoroaster-Persia), Ompu Tuan Mula Jado Na Balon (Batak-Sumatera), Puang Matua (Sulawesi), Mori Agu Ngarang (Flores), dan Lowalangi (Nias-Sumatera).

Sejak awal, ketertarikan saya sebagai sarjana dan sekaligus pengajar di Program Studi SAA (Studi Agama-agama) IAIN Kediri, telah menggiring rasa ingin tahu untuk menapaki jejak monoteisme dalam pelbagai klaim agama. Namun, yang paling menggelitik perasaan saya adalah corak monoteisme dalam tradisi Jawa yang juga tanah kelahiran saya.

Jujur saja, hasrat ini muncul dari perasaan kurang sreg terhadap gagasan Geertz,  Ricklefs, dan juga beberapa ilmuan Barat. Mereka menggambarkan bahwa corak asli keberagamaan orang Jawa adalah sinkretik (baca: mencampuradukan agama) belaka!

Karakter Keberagamaan Orang Jawa

Secara pribadi, saya meyakini orang-orang Jawa Kuno bukanlah masyarakat negeri antah-berantah yang tak mengenal tradisi monoteisme sama-sekali. Orang Jawa, menurut saya, bukan pula penyembah batu, pohon, gunung dan benda-benda profan lainnya seperti didiktekan dalam mayoritas buku-buku sejarah sekarang.

Lebih dari itu, tradisi keberagamaan orang Jawa justru sangat subtil dan menekankan sisi-sisi spiritualitas dalam menyentuh yang transenden (gumam saya dalam hati). Asumsi ini seakan mendapat justifikasi setelah saya membaca disertasi Dr. H. Swardi Endrawarsa, seorang ‘haji’ sekaligus penghayat, yang diterbitkan dengan judul Agama Jawa: Menyusuri Jejak Spiritualitas Jawa.

Dalam karyanya tersebut, doktor lulasan UGM ini secara tlaten menjelaskan inti spiritualitas Jawa yang bercorak sufistik dan monoteistik. Katanya, inti keberagamaan orang Jawa adalah spiritualitas dan penyucian batin guna menemukan sangkan paran, yaitu kesempurnaan perjumpaan dengan ‘Realitas Tertinggi’ (Swardi; 2012).

Karakter keberagamaan orang Jawa, menurut Benedict Anderson dalam bukunya The Suluk Gatoloco (1982),  adalah hasil pengaruh banyak tradisi yang menghampiri orang Jawa, seperti Barat (Belanda), China, Turki, Arab dan lainnya. Orang Jawa menerima dan memasukkan tradisi-tradisi ini dalam keranjang khasanah kehidupan mereka. Tapi perlu dicatat, orang Jawa sebenarnya tidak pernah mengambil seluruhnya. Semua khasanah tersebut hanya diterima sebagai kaca benggala karena mereka meyakini kesempurnaan kaweruh Jawa. Nah, itulah sifat dasar orang Jawa yang saya maksud; meyakini ke-adiluhungan budaya sendiri sebagai falsafah hidup. Hal ini juga berlaku dalam hal spiritualitas mereka.

Penyebutan Tuhan dalam Spiritualitas Jawa Kuno

Menurut seorang Kristen yang sangat serius dalam mengkaji agama asli Indonesia, Rachmad Subagja, nama asali yang digunakan untuk menyebut Tuhan dalam tradisi Jawa adalah Hyang, artinya Yang Maha. Hal ini mengisaratkan kedalaman spiritualitas Jawa yang menemukan sosok ‘Realitas Tertinggi’ yang tak terjelaskan. Sosok misterius ini kemudian dinamai dengan Sang Hyang atau ‘Yang Maha’.

Berdasarkan penelusuran saya dalam pelbagai sumber tulisan, Sang Hyang dalam tradisi spiritualitas Jawa Kuno disandarkan pada sifat-sifat keagungan Tuhan Yang Maha. Sekali lagi mengutip ungkapan Rachmad Subagja, beliau mencontohkan beberapa nama yang sering digunakan orang Jawa Kuno dalam memanggil Tuhan mereka. Di antara nama-nama itu adalah Hyang Murbeng Dumadi,  Hyang Wenang Datan Wiwenang, Hyang Widdi, Hyang Sukma, Sang Purwa (Madya) Wisesa, Ingkang Paring Gesang, Sang Among Tuwuh, Syang Murbeng Jagad, Sangkan paraning Dumadi, Sing Nitahake, Ingkang Sumara Bumi, Syang Jagad Nata, Hyang Guru jagad, Sang Hyang Taya, Hyang Murbeng Rat dan lain-lain (Subagja, 1978).

Selain itu, tradisi spiritualitas Jawa juga mengenal nama-nama lain untuk Tuhan:  Hyang Moho Noso, Hyang Mahaluwih, Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Manoon, Sang Hyang Susma, Hyang Paratama, Sang Wekasing Wekas (Kartodipuro, 1963).

Bukti monoteisme dalam tradisi masyarakat Jawa Kuno bisa dijumpai hingga saat ini di dua daerah suaka di wilayah Jawa yang masih terjaga kemurniannya hingga sekarang: suku Badui dan Tengger. Masyarakat Tengger, misalnya, sampai sekarang menamai Realitas Tertinggi dengan sebutan Sang Hyang Tunggal atau Bathara Bromo, sedangkan masyarakat Badui menyebut Batara Tunggal atau Bapa Koso. Ungkapan-ungkapan punya makna yang hampir sama, yaitu Tuhan Yang Tunggal—monoteistik.

Nama-nama Tuhan dalam tradisi Jawa di atas meyakinkan kita bahwa dalam keberagamaan Jawa telah mengenal suatu konsep kekuatan Mahadahsyat yang ‘tak terperikan’. Hampir seluruh nama-nama Tuhan yang agung tersebut menggambarkan corak monoteisme (ketauhidan) yang khas Jawa.

Sebagai penutup, penulis hanya ingin menegaskan sebuah fakta bahwa, seiring gerak maju sejarah bangsa Jawa, khasanah spiritualitas keagamaan mereka secara bertahap digatukkan dengan pelbagai tradisi lain yang menghampiri mereka. Orang Jawa Kuno, ketika bertemu dengan beragam tradisi keagamaan manca (luar Jawa), seperti Hindu, Buddha, Islam dan Kristen, mencoba mengambil dan memilah tradisi mana yang sesuai dengan karakter spiritualitas mereka. Walhasil, apapun baju agama yang dikenakan orang Jawa, karakter ‘monoteisme’ dan ‘spiritualitasnya’ akan tetap kentara dan mewarnai keberagamaan mereka. [MFR]

Mengintip Jalan Sunyi di Balik Vihara

Pernahkah terlintas dalam pikiran umat non-Buddha di Indonesia mengenai kehidupan para bhante, bikhu, atthasilani, samanera, biksu, atau biksuni? Mereka mendarmabaktikan dirinya di jalan sunyi, di balik dinding vihara, untuk melestarikan ajaran sang Buddha.

——– Latifah

Kehidupan di pesantren pada awalnya adalah misteri bagi orang-orang di luarnya. Misteri itu justru menjadi magnet bagi keingintahuan orang ‘human interests’. Kehidupan pesantren kemudian menyeruak menembus dinding-dinding pesantren yang kukuh dengan segenap batasan-batasannya melalui karya sastra. Saya pun –yang tidak pernah menjadi warga pesantren, jadi tahu kehidupan di sana.

Tetapi bagaimana pengalaman hidup kaum agamawan lain? Pernahkah terlintas dalam pikiran umat non-Buddha di Indonesia mengenai kehidupan para bhante, bikhu, atthasilani, samanera, biksu, atau biksuni? Mereka mendarmabaktikan dirinya di jalan sunyi, di balik dinding vihara, untuk melestarikan ajaran sang Buddha. Jika di Thailand, yang mayoritas penduduknya adalah pengikut Buddha, kehidupan mereka menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Namun, di Indonesia tidak banyak yang mengenal kehidupan para ruhaniawan Buddhis ini. Bisa dimaklumi karena dalam bermasyarakat mereka memang tidak ingin menonjolkan diri. Meskipun demikian, dalam hidup bersama seyogianya kita saling mengenal, karena “tidak kenal maka tak sayang”. Prasangka, kecurigaan, bahkan kekerasaan umumnya muncul dari kesalahpahaman dan kurangnya pengetahuan.

Wajar saja bila kita belum begitu mengenal Buddhis karena populasi memang tidak banyak dan tidak begitu menyebar. Saya sendiri baru mengenal orang Buddha saat berkuliah di Program Studi Agama dan Budaya. Hanya ada dua orang Buddhis di kelas saya saat itu. Satu orang berasal dari Banyuwangi dan seorang lagi dari Tibet. Sebelumnya, saya juga hanya mengenal satu orang Hindu, teman di bangku SD. Memang tidak baik mengidentifikasi teman berdasarkan agama. Namun, ingin saya sampaikan di sini, mempunyai teman dari latar beragam itu penting untuk mengembangkan empati dan simpati kita terhadap keberagaman, bukan cuma toleransi yang berbatas itu. Begitulah seharusnya kehidupan antar-beragama terbangun, “Berteman dan bekerja sama, bukan merasa lebih superior,” kata Paul Knitter. 

Berteman artinya membuka diri pada orang lain. Kita mendengar cerita teman untuk mengenal dan memahami mereka. Tidak hanya mengenal siapa mereka, tapi juga dapat mendalami perasaan mereka dengan memahami cara pandang dunianya. Seperti halnya sastra pesantren, sastra Buddhis menjadi jalan masuk untuk memahami kehidupan seorang Buddhis berdasarkan penghayatan mereka atas ajaran sang Buddha. 

Dalam antologi cerpennya, Sihir, Bhante Don Atthapiyo secara lugas menceritakan kehidupannya sejak menjadi samanera di sebuah vihara di Mendut. Bahkan, Bhante Atthapiyo menceritakan pergulatan spiritualnya jauh sebelum memasuki gerbang vihara. Tentu saja, keterbukaan jiwa dan pikiran menjadi prasyarat untuk “mendengarkan cerita” pergulatan batin orang lain yang mungkin saja menantang keyakinan yang selama ini kita pegang teguh. Dalam Kegelisahan Sang Domba, bhante pertama dari tanah Flores ini menuangkan berbagai pertanyaan eksistensialis terhadap tradisi dan keyakinan yang dipraktikkan dengan teguh di tanah kelahirannya itu. Di sinilah kita bisa melihat dialog antar-keyakinan terjalin melalui refleksi “seorang domba” yang berani melintas batas kenyamanannya.

Karya sastra sebagai refleksi dunia pengarangnya juga dapat kita telisik dalam buku puisi “Satu Buddha” karya Jo Priastana. Aktivis sosial yang juga Dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda, Jakarta, ini menuangkan penghayatannya atas ajaran sang Buddha dalam laku spiritual, baik ke dalam maupun ke luar. Baginya, perwujudan “Menyalakan api dharma dalam kesucian diri” bertujuan “pencerahan dan pembebasan umat manusia”. Jalan pembebasan yang diinginkannya bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan kebahagiaan semua makhluk, seperti tertuang dalam kutipan puisinya ini:

INGIN KUBAGIKAN
 
Ingin ku berparitta
Kepada pasien-pasien di rumah sakit
Agar nada getararannya
Meringankan penderitaan penyakitnya
 
Ingin ku berparitta
Untuk mereka yang gugur di medan perang
Agar nada getarannya
Membawanya ke alam bahagia
 
Ingin kubagikan bingkisan
Kepada tunawisma di malam waisak
Agar berkah suci bulan purnama
Memberinya sedikit kebahagiaan
 
Ingin kubagikan bingkisan
Kepada narapidana di malam asadha
Agar berkah roda suci kesunyataan
Membukanya akan makna jalan luhur sempurna
 
Ingin kubagikan bingkisan
Kepada anggota sangha du hari kathina
Agar berkah suci persembahan jubah
Melapangkan jalannya menuju pembebasa

“Satu Buddha” —- Jo Priastana

Sebagaimana Buddhadhamma yang terwujud dalam kasih sayang kepada semua makhluk dalam puisi Jo Priastana, “Bahagia Bersama” juga menjadi cita-cita Atthasilani Gunanandini yang terangkum dalam buku puisinya Kesatria Mulia dan Putri Sakya. Di sini bisa kita lihat bahwa agar “Bahagia Bersama” terwujud, secara pribadi kita perlu mengondisikan pikiran dan batin dengan baik secara terus-menerus dalam latihan kemoralan.

Karena tujuan kita bukan beda
Juga tidak perlu khawatir
Karena kita berjuang untuk kebahagiaan tanpa akhir
Bahagia bersama
Tanpa melekati, tanpa menyakiti, tanpa membenci, dan tanpa mendengki
Bahagia bersama
Dengan hati lapang, dengan batin tenang, dan dengan pikiran penuh
Kasih sayang, dan dengan pandangan terang
Inilah rasa bahagia bersama pada jalan Dhamma

“Bahagia Bersama” —– Sila Gunandi

Kesatria Mulia dan Putri Sakya ini menarik dikaji lebih mendalam dalam kaitannya dengan teks lain yang juga lahir dari inspirasi dialog antara Yasodhara dengan sang Buddha, yaitu buku puisi Meditasi Cinta: Yasodhara dan Siddharta Muda karya Jo Priastana. Namun, keduanya mempunyai karakteristik masing-masing. Sila Guna, begitu nama panggilannya, lebih menekankan perjuangan Dhamma dengan mengelaborasi berbagai landasan Buddhadhamma seperti melepas kelekatan dan penderitaan, kebijaksanaan, kebajikan, kesadaran, perhatian, dan kesetiaan.

Berbagai kosakata bahasa Pali pun bertebaran sebagai sarana ucapnya: dukkha, dosa, lobha, dan moha. Ajaran-ajaran tersebut tidak terasa asing karena universal dan nyata di kehidupan kita, sehingga justru dapat menjadi jembatan belajar dhamma, baik bagi umat Buddha maupun non-Buddhis.[MFR]

Jarak Pencipta Rindu

Meskipun di rumah saja tetaplah berlatih yoga dengan memerhatikan jaga-jarak. Karena jaraklah yang menciptakan rindu. Rindu yang memenuhi ruang batin kita akan menggetarkan sisi-sisi spiritualitas yang akan mengantar pada kepekaan sosial.

—–Yudhi Widdyantoro

Kebahagiaan sering kali bertolak dari krisis dan keterpurukan. Untuk sampai ke puncak gunung, orang sering kali harus melewati bukit terjal dan jalan berliku. Aufklarung, renaisans, dan zaman pencerahan Eropa datang setelah melewati zaman kegelapan abad ke-17; saat itu filsafat masih menjadi “budak” agama-penguasa, jauh dari kredo “Sapere Aude” “Beranilah Berpikir”.  Lebaran Idulfitri, kembali kepada kesucian; kebersihan diri didapat setelah tempaan puasa yang sering kali tidak selalu mudah ketika dijalani.

Pandemi menghadirkan PSBB, lockdown, portal jalan, ibadah di rumah; silaturahmi ke keluarga dan  teman ditunda, tidak mudik; pakai masker, rajin mencuci tangan, dan jaga-jarak. Semuanya adalah cara untuk meredam ego kita, seperti yang terkandung di dalam makna puasa, atau juga yoga.

Latihan yoga adalah soal pengendalian diri. Nilai-nilai yang terkandung di dalam Yama Niyama: tidak melakukan kekerasan, baik tindakan, ucapan, maupun pikiran; tidak mencuri, tidak berbohong. Yoga juga melatih kedisiplinan diri, seperti menjaga kebersihan dan kesucian diri, selain mendekatkan diri pada Yang Mahakuasa. 

Meskipun di rumah saja tetaplah berlatih yoga dengan memerhatikan jaga-jarak. Karena jaraklah yang menciptakan rindu. Rindu yang memenuhi ruang batin kita akan menggetarkan sisi-sisi spiritualitas yang akan mengantar pada kepekaan sosial.

Seluruh dunia saat ini sangat mengharap keberhasilan kerja-kerja saintis di laboratorium untuk menciptakan vaksin penyembuh Covid-19. Sebelum vaksin ditemukan, dunia tertolong oleh solidaritas global yang membuat krisis dan penderitaan tidak semakin nelangsa. Selain bantuan formal dan terorganisir, baik dari pemerintah atau lembaga, tidak sedikit pribadi dan komunitas saling membantu mereka yang terdampak pandemi Covid-19: menyumbang APD untuk tenaga medis yang kekurangan, memberi sembako, makanan, dan sebagainya. Solidaritas hanya mungkin terjadi pada mereka yang ‘berjiwa penuh’ ‘content’. Zakat, berderma, beramal, memberi adalah setelah kebutuhan utama diri terpenuhi. Pada akhirnya, Covid-19 menyentuh sisi kemanusiaan. Karena memang, beragama atau beryoga adalah juga soal manusia dan kemanusiaan.

Manusia unggul dalam yoga adalah dia yang menyadari kesalingterhubungan dirinya dengan masyarakat di mana dia berada, dan dengan alam raya yang melingkupinya. Cinta segitiga: diri-lingungan sosial-alam semesta perlu terus dihidupkan agar kehidupan berjalan secara lestari. Getaran cinta yang terbangun dari rindu harus terus ada. Cinta untuk memahami eksistensi diri ‘svadaya’; cinta pada kekasih-yang Mahakuasa, pada sesuatu yang transenden ‘Isvara Pranidhana’ tanpa ada intensi mengetahui dan menguasai segala. Spiritualitas adalah lautan. Sekecil apa pun perahu kita tetap terhubung dengan lautan. Tetap arungi agar sampai. Hanya sekadar menyadari.  Karena sesungguhnya matriks di semesta -jagat raya—terhubung juga dengan organ dan sistem fisiologis di dalam tubuh kita. “Everything in the universe is within you. Ask all from yourself,” kata Rumi.

Manusia yang tercerahkan dalam kacamata yoga adalah mereka yang telah terpenuhi tujuan hidupnya sehingga kesadaran diri terbangun dalam kesucian yang natural, seperti sabda Patanjali dalam sutra penutup, “purusatha sunyanam gunanam pratiprasavah kaivalyam svarupapratistha va citisakhtih iti” (YS: IV.34).

Setelah mendaki gunung, tentu saja kita harus turun. Segala pencapaian sampai di puncak gunung barulah separuh jalan. Pemandangan indah di puncak beserta segala ekstase kenikmatan tidaklah kekal sifatnya. Jalan menurun menuju pulang ke rumah bukan berarti selalu mudah. Begitu juga penuturan di atas, hanyalah interpretasi penulis, bukan fakta sebenarnya. Jalan pencapaian tertinggi dalam latihan yoga: samadhi, penerangan batin, pembebasan dari derita dunia –yang terbangun dari laku spiritual esoterik akan lebih lengkap hanya jika mewujud dalam laku sosial.

Seperti dalam melaksanakan ritual agama, hasil dari rutinitas ibadah berupa kesalehan spiritual, memunyai daya dorong untuk mewujud dalam relasi sosial di masyarakat: menjadi toleran, plural, dan menghargai kebinekaan. Menjadi tantangan besar pagi praktisi yoga agar selesai dari latihan yoga; bergeser dari matras yoga ukuran 80×180 cm; di luar studio, gym apakah nilai-nilai ideal yang terkandung dalam filosofi yoga dapat mengemanasi, meluber kasih dan sayangnya kepada orang di sekitarnya tanpa kecuali. Selain bahwa dia tidak menjadi buronan KPK, terlibat jaringan teroris, atau masuk bui karena mencuri.

Namun perlu diingat bahwa yang dikatakan di atas, hanyalah interpretasi penulis, bukan fakta. Anda, pembaca perlu menemukan sendiri kebenarannya. Kebenaran yang membebaskan tidak ditemukan lewat interpretasi, melainkan hubungan langsung dengan fakta. Pemandangan indah di puncak gunung, deritaan perjalanan menuju puncak, nafsu, keserakahan, kebencian, kekerasan, kecemasan, iri hati, rasa rakut, sakit hati atau semua rasa perasaan emosi adalah fakta. Apa yang kita pikirkan tentang fakta adalah interpretasi.

Setiap konflik batin bisa diselesaikan justru apabila batin dibersihkan dari interpretasi. Lupakan sementara Yogasutra Patanjali; singkirkan ayat-ayat kitab suci. Singkirkan pesan-pesan para pemuka agama; jangan terpaku ajaran master-guru yoga. Kesampingkan tradisi dan budaya. Lenyapkan semua otoritas di benak Anda. Amati secara pasif. Sinari setiap fakta dan lihatlah apa yang terjadi! Alami sendiri.[MFR]

Perkuat Distingsi Prodi, eLSAA Terbitkan Dua Buku Baru!

Sebagai bagian upaya memperkuat distingsi keilmuan Prodi Studi Agama-Agama (SAA), eLSAA dengan bangga menghadirkan dua buku baru. Kedua buku ini adalah hasil penelitian dua dosen Prodi SAA: Dr. A. Shobiri Muslim dan Saiful Mujab, MA.

Buku Pertama berjudul Toleransi Yang Terangkai. Buku ini bercerita tentang potret kerukunan umat beragama yang terjalin lama dan indah antara Muslim, Kristen, dan Hindu di Dusun Kalibago, Grogol, Kab. Kediri. Buku Kedua mengambil judul Spiritualitas Kyai Pesantren. Buku ini mengupas laku spiritualitas di kalangan kyai pesantren yang ada di Jawa Timur, di antaranya Lirboyo dan Ploso. Kedua buku ini diterbitkan atas kerjasama antara eLSAA Prodi SAA dan Penerbit Perkumpulan Aksara (Akademi Pesantren Nusantara) yang beralamatkan di Kota Kediri.

Diharapkan kedua buku ini bisa memperkaya diskursus dalam kajian agama dan kearifan lokal yang selama ini menjadi visi dan misi Prodi SAA IAIN Kediri. Semoga buku-buku serupa akan lahir di kemudian hari. [MFR]