Hijab bukan Milik Islam Saja

Umat Islam tidak berhak memonopoli bahwa hijab hanya milik umat Islam, dan tidak perlu memaksakan penggunaannya kepada umat agama yang lain dengan mengatasnamakan “pendidikan”

—Mubaidi Sulaeman

Pada 2018, saya menulis sebuah artikel di jurnal ilmiah Spiritualis berjudul “Menjernihkan Posisi Hijab Sebagai Kritik Terhadap Ekspresi Keagamaan Fundamentalisme Islam”. Pada waktu itu, artikel ini sempat saya ikut sertakan dalam lomba karya tulis ilmiah di Pascasarjana IAIN Kediri dan mendapat penghargaan harapan ketiga.

Ada yang menarik komentar para juri ketika saya mempresentasikan karya ilmiah saya ini. Rata-rata para juri kurang setuju dengan beberapa pendapat yang saya ajukan dalam artikel ini. Entah, para juri telah membacanya dengan cara seksama atau mungkin memiliki padangan tersendiri terkait kewajiban berhijab bagi setiap muslim, yang pasti argumen para juri telah mengarah kepada kesimpulan bahwa saya tidak setuju dengan “kewajiban berhijab pada setiap Muslimah”—meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya demikian.

Memang  saya kurang setuju pemaksaan budaya berjilbab di kelompok masyarakat tertentu di luar institusi Lembaga Pendidikan Islam atau organisasi Islam yang tujuan mewajibkan hijab sebagai sarana pembelajaran bukan persekusi hak seorang muslimah. Sebab, hijab merupakan hak bagi seorang muslimah, bukan kewajiban yang dipaksakan atau dilembagakan untuk menilai keislaman seseorang, dengan alasan jilbab sebagai upaya menutup aurat muslimah. Artinya, ketika seorang muslimah menginginkan untuk berhijab, orang lain atau lembaga tertentu juga tidak boleh melarangnya.

Peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi di sebuah kota yang mewajibkan para siswinya, baik muslimah ataupun nonmuslimah, untuk mengenakan hijab merupakan sebuah persekusi hak seorang siswi. Hal tersebut tidak dapat lagi dikatakan sebagai sarana pembelajaran budi pekerti di sekolah. Pemerintah daerah yang mewajibkan hijab sebagai pakaian resmi di sekolah telah bertindak represif terhadap kebhinekaan yang ada di Indonesia.

Hijab yang akhir-akhir ini merepresentasikan golongan umat Islam pada hakikatnya tidak dapat secara semena-mena dipaksakan untuk diterima seluruh siswa yang bersekolah di kota tersebut, apalagi kepada para siswi yang nonmuslimah, karena sejak awal kita telah sepakat bahwa agama dan budaya yang ada di Indonesia bukan hanya agama Islam dan budaya agama Islam semata.

Kalaupun hijab dianggap sebagai ajaran agama Islam, pemerintah daerah tersebut seharusnya sadar dan melakukan kajian secara menyeluruh benarkah ada korelasi berhijab dengan ajaran agama Islam secara historis maupun teologis, untuk klaim kepemilikan hijab sebagai ajaran agama Islam dan muslimah wajib berhijab? Padahal masih terdapat “pertentangan” di kalangan ulama terkait kewajiban berhijab. Agar Perda yang dibuat tidak terkesan emosional dan terlihat rasional, bukankah sudah selayaknya sebuah perda dibuat berlandasakan riset yang kuat, bukan semata-mata dibuat berdasarkan “suka dan tidak suka” dari Pemerintah daerah tersebut. Realita menunjukkan bahwa banyak sekali perda dibuat oleh pemerintah tanpa riset sehingga terkesan demikian.    

Dalam riset yang saya jadikan artikel di jurnal ilmiah di atas, secara historis saya menemukan bahwa hijab bukanlah monopoli milik umat Islam semata. Tetapi, ia merupakan produk budaya dan bagian dari ekspresi kebudayaan masyarakat pra-Islam.  Hijab merupakan bentuk peradaban yang sudah dikenal beratus-ratus tahun sebelum datangnya Islam; ia memiliki bentuk yang sangat beragam. Hijab bagi masyarakat Yunani memiliki ciri khas yang berbeda dengan masyarakat Romawi. Demikian pula halnya dengan hijab pada masyarakat Arab pra-Islam (Muhammad Farid Wajdi, 1991: 335). Ketiga masyarakat tersebut pernah mengalami masa keemasan dalam peradaban jauh sebelum datangnya Islam. Hal ini sekaligus mamatahkan anggapan yang menyatakan bahwa hijab hanya dikenal dalam tradisi Islam dan hanya dikenakan oleh wanita-wanita muslimah saja.

Jauh sebelum ketiga peradaban tersebut hijab sudah menjadi wacana dalam Code Bilalama (3000 SM) kemudian berlanjut dalam Code Hamurabi (2000 SM) dan Code Asyiria (1500 SM) (Muhammad Sa’id al-‘Asymawi, 2003: 12). Saat terjadi perdebatan tentang hijab di Prancis tahun 1989, Maxime Radison, seorang ahli Islamologi terkemuka dari Prancis mengingatkan bahwa di Asyiria ada larangan berjilbab bagi wanita tuna susila. Dua abad sebelum masehi, Tertullen, seorang penulis Kristen apologetik, menyerukan agar semua wanita berjilbab atas nama kebenaran (Husein Muhammad, 2002: XIX). Dengan kata lain, kewajiban berhijab pada masa-masa tersebut merupakan upaya untuk membedakan strata sosial dari sebuah masyarakat dan bahkan menjadi budaya pada agama sebelum Islam hadir.

Pembedaan strata atau identitas sosial dengan menggunakan hijab pun terjadi di kalangan umat Islam pada masa awal Islam hadir. M. Quraisy Shihab menyatakan, bahwa wanita-wanita muslim pada awal Islam di Madinah memakai pakaian yang sama sebagaimana umumnya semua wanita, termasuk wanita tuna susila dan hamba sahaya. Mereka semua juga memakai kerudung, bahkan hijab, tapi leher dan dadanya mudah terlihat dan tak jarang juga mereka memakai kerudung tapi ujungnya dikebelakangkan hingga leher telinga dan dada mereka terus terbuka.

Keadaan inilah yang digunakan oleh orang-orang munafik untuk mengoda wanita muslimah. Ketika mereka diingatkan atas perlakuan yang mereka perbuat mereka mengatakan “kami kira mereka hamba sahaya”. Hal ini disebabkan oleh karena pada saat itu identitas wanita muslimah tidak terlihat dengan jelas, dan dalam keadaan inilah Allah SWT memerintahkan kepada wanita muslimah untuk mengenakan hijabnya sesuai dengan petunjuk Allah kepada Nabi SAW dalam QS. Al-Ahzab: 59 (Quraisy Syihab, 1998: 171-172.).

Hal ini mirip dengan hadis Nabi yang menganjurkan kaum muslimin untuk mencukur kumis dan memanjangkan jenggot; sebuah hadis yang hampir disepakati kebanyakan ahli fikih sebagai anjuran yang bermaksud temporal (liqasdil waqtiy). Inilah ketika itu salah satu simbol pembeda antara orang muslim dengan orang nonmuslim, yang notabene mempunyai ciri sebaliknya; biasa memanjangkan kumis dan mencukur jenggot.

Jadi, dari konteks ayat dan hadis tersebut, jelas terlihat maksud-maksud pembedaan dan identifikasi yang lebih jelas antara orang mukmin dengan yang nonmukmin, perempuan muslimah dengan perempuan nonmuslimah. Ini mengindikasikan bahwa hukum yang ditetapkan tersebut adalah  hukum yang bersifat temporal, selama masa dibutuhkannya pembedaan itu, bukan hukum yang kekal (hukm mu’abbad).

Dapat diambil kesimpulan bahwa memang benar menutup aurat adalah sebuah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah lewat firman-Nya atau lewat hadis Nabi Muhammad, akan tetapi cara menutup aurat tersebut sangatlah beragam. Adapun hijab bagi wanita muslim digunakan sebagai identitas keagamaannya memang mengalami pasang surut dalam penerapannya. Akan tetapi umat Islam, tidak berhak memonopoli bahwa hijab hanya milik umat Islam, dan tidak perlu memaksakan penggunaannya kepada umat agama yang lain dengan mengatasnamakan “pendidikan”, apalagi di Lembaga Pendidikan Pemerintah Daerah yang dengan jelas negara ini dibangun atas berbagai suku dan kemajemukan budaya keagamaan.[MFR]

Bagus Mana, Khatam atau Paham Al-Qur’an

Baca Al-Qur’an itu tak cukup cepat khatam, tetapi juga perlu paham kandungannya.

—- Emy Putri Alfiyah

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang diberikan Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat dan tanda kenabian. Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur selama 22 membaca Al-Qur’an itu tak hanya cepat khatam, akan tetapi juga paham , 2 bulan dan 22 hari sejak tanggal 17 Ramadhan lewat wahyu dengan perantara malaikat Jibril. Al-Qur’an merupakan Kitab Hidayah bagi manusia, artinya Al-Qur’an adalah sumber paling utama sebagai petunjuk yang menjawab segala persoalan hidup manusia. Al-Qur’an bisa membawa manusia sukses dunia dan akhirat jika ia dipelajari dengan benar dan sungguh-sungguh, karena Al-Qur’an merupakan kitab penyempurna dari kitab-kitab suci sebelumnya. Oleh karen itu, Al-Qur’an merupakan rahmat terbesar dari Allah SWT yang diberikan kepada manusia.

Selain sebagai Kitab Hidayah, Al-Qur’an mempunyai peran ganda sebagai Kitab Ibadah. Setiap muslim yang membaca Al-Qur’an, baik satu ayat, satu surah, satu juz maupun sampai 30 juz bahkan sesering mungkin membacanya,maka merupakan nilai ibadah dan mendapat pahala berlimpah. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan kebaikan satu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” (HR. At-Tirmidzi)

Penulisan Al-Qur’an

Al-Qur’an sebelum dituliskan dalam lembaran kertas senantiasa dilantunkan oleh para penghafal.Kemudian, Nabi Muhammad SAW memerintahkan sahabatnya, yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Ka’ab untuk menuliskan di media seperti pelepah kurma, kulit hewan, potongan tulang belulang maupun di lempengan batu.

Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq terjadi peperangan yang menyebabkan banyak dari para penghafal Al-Qur’an meninggal dunia. Dikhawatirkan Al-Qur’an juga akan hilang karena pada saat itu media penulisan Al-Qur’an juga masih sangat minim. Kemudian, mulailah dilakukan pembukuan Al-Qur’an dari para pengahafal yang masih hidup.

Sampai pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, Al-Qur’an berhasil disatukan kembali. Karena pada saat itu terdapat perbedaan dialek bahasa Arab yang ditakutkan nantinya akan menimbulkan fitnah dan perselisihan antar umat Islam. Akhirnya Utsman bin Affan mengambil sikap untuk menyatukan Al-Qur’an yang  dikenal dengan sebutan Mushaf Utsmani.

Memahami Substansi Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an terkandung begitu banyak ajaran-ajaran Islam, kisah orang-orang terdahulu, kisah para Nabi, para sahabat, hingga kisah orang-orang yang Allah azab. Setiap surat hingga ayat dalam Al-Qur’an mengandung makna yang bisa diambil pelajaran bagi orang-orangyang berakal, yaitu bagi manusia yang mau berpikir bahwa Al-Qur’an itu merupakan sebagai pedoman sekaligus petunjuk bagi manusia.

Makna yang terkandung di setiap ayat Al-Qur’an mempunyai banyak pesan moral untuk diambil pelajaran. Jalan yang diperoleh untuk memahami Al-Qur’an yaitu dengan membacanya. Perintah Allah SWT pada Nabi Muhammad SAW saat menurunkan wahyu pertamanya QS. Al-Alaq yang berjumlah lima ayat. Ayat pertama berbunyi Iqra’, yang artinya bacalah!. Kata Iqra’ dalam surat tersebut diulang hingga tiga kali, artinya jika seseorang membaca Al-Qur’an maka perlu diulang agar benar-benar memahami.

Seperti yang sudah diketahui, membaca Al-Qur’an merupakan salah satu kegiatan ibadah dalam agama Islam.Membaca Al Qur’an dalam bahasa Jawa biasa dikenal dengan nderes atau darus yang berasal dari bahasa Arab tadarus yang berarti membaca, merenungkan, menelaah dan memahami. Jadi, membaca Al-Qur’an itu harus diiringi dengan merenungkan, menelaah dan memahami isi sekaligus maknanya.

Memahami Al-Qur’an yang disertai menelaah arti, asbabun nuzul hingga makna tersirat dari yang tersurat dalam setiap ayat itu tak kalah pentingnya jika hanya sekedar dibaca. Seperti yang diungkapkan pemuka agama sekaligus mantan Menteri Agama, Quraish Shihab, “Mengkhatamkan Al Qur’an itu bagus, akan tetapi memahami maknanya itu lebih bagus.”, ujar Quraish Shihab dalam acara Shihab & Shihab di Narasi TV dengan presenter Najwa Shihab. Kemudian tambahnya, “Bahwa khatam Al-Quran itu bagus, akan tetapi akan lebih bagus jika membaca sedikit tapi paham.” Paham yang dimaksud adalah dengan membaca berulang-ulang hingga memahami makna tersirat maupun tersurat dari kitab suci Al-Qur’an.

Membiasakan membaca Al-Qur’an agar lancar memang bagus dan itu memang harus dilatih lewat tadarus. Di sisi lain, ada pesan moral dalam Al-Qur’an yang perlu dipelajari agar pengetahuan yang didapat bukan hanya dari sekedar membaca akan tetapi juga memahami isi dan maknanya. Karena Al-Qur’an adalah sumber hukum utama umat Islam, maka sudah semestinya mempelajari Al-Qur’an sudah ditanamkan pada diri seorang muslim.Senantiasa dilantunkan dengan baik,  dibaca dan dipelajari untuk membuka cakrawala keilmuan dalam berkehidupan maupun beribadah.

Kalau tidak memahami isi atau substansinya bagaimana melaksanakan kehidupan yang mencerminkan sebagai umat Islam itu sendiri, jikalau isi dari pedomannya itu belum dipahami. Maka membaca Al-Qur’an itu tak hanya cepat khatam, akan tetapi juga paham. [MFR]

Cewek Bercadar Tidak Sangar

Dari obrolan di banyak perjumpaan saya dengan perempuan-perempuan bercadar di Poso, saya tak merasa diintimidasi apalagi dihantui kecemasan bahwa saya akan disakiti. Mereka asyik dan sangat friendly.

—Khoirul Anam

Bagi sebagian orang, cadar yang dikenakan perempuan muslim masih dianggap sebagai ancaman. Saking mengancamnya, tak sedikit negara di Eropa yang melarang penggunaan cadar di tempat-tempat umum. Prancis, Belgia, Belanda, Swiss, Nigeria hingga Norwegia sudah beramai-ramai mengeluarkan larangan penggunaan cadar. Bahkan di Indonesia, Menteri Agama Fachrul Razi sempat mempersoalkan penggunaan cadar di kalangan pegawai negeri. Kain gelap yang menutup sebagian muka itu dianggap sebagai alarm bahaya.

Bagi Nevi (bukan nama sebenarnya), ketakutan terhadap cadar yang dikenakan perempuan merupakan sikap yang berlebihan. Sebabnya, ia mengaku satu-satunya alasan ia mengenakan cadar adalah perintah agama; tak ada niat untuk menakut-nakuti orang lain.

“Ini kan perintah syariat,” kata dia dalam sebuah obrolan ringan di kantor Pesantren Islam Amanah Putri, Tanah Runtuh, Poso belum lama ini.

Nevi hanyalah satu dari ratusan santri perempuan lain di Amanah yang mengenakan cadar. Baginya, cadar (niqab) adalah pelindung terbaiknya dari maksiat. Karenanya ia mengaku nyaman dengan niqabnya dan tak berniat untuk menanggalkannya.

“Ada beberapa pendapat sebenarnya di Islam tentang cara berpakaian muslimah, tetapi saya memilih mengenakan niqab karena merasa nyaman,” kata Nevi menjelaskan alasannya.

Pimpinan Yayasan Wakaf Amanatul Ummah yang membawahi pesantren Islam Amanah, Haji Muhammad Adnan Arsal mengaku tak pernah mewajibkan penggunaan cadar bagi santri dan ustazah di pesantrennya, ia bahkan melarang pengurus dan santri pesantren memaksakan penggunaan cadar, namun jika dengan mengenakan cadar mereka merasa aman dan nyaman, pihaknya tentu tak akan melarang.

“Saya tidak pernah mewajibkan itu, bahkan saya larang kalau ada yang memaksakan santri untuk pakai cadar, tapi kalau mereka merasa nyaman, merasa lebih cantik, dan aman dari melakukan maksiat, ya silakan,” jelas dia.

Nevi mulai mengenakan cadar sejak kelas dua SMP atas kemauannya sendiri. Ia mengaku sudah lama memerhatikan muslimah-muslimah lain yang mengenakan cadar di lingkungannya, ia tertarik dan akhirnya memutuskan untuk ikut mengenakan kain penutup yang hanya menyisakan mata itu.

“Sebenarnya ya panas, tapi karena sudah terbiasa, jadi ya biasa saja,” kata dia saat ditanya bagaimana rasanya mengenakan niqab, model pakaian yang menjulur dari atas kepala hingga pangkal kaki.

Hal senada juga disampaikan Sari, perempuan yang mengajar di pesantren Amanah ini merasa niqab adalah pelindung dirinya yang paling lengkap. Pakaian ini disebutnya tak hanya mampu menutupi aurat, tetapi juga melindunginya dari melakukan maksiat.

Ia dan rekan-rekannya di pesantren mengaku tak pernah ambil pusing terkait tuduhan yang menyebut perempuan bercadar cenderung tertutup, tidak friendly atau bahkan radikal, “Cuekin saja,” katanya sambil tertawa.

Sari, Nevi, Intan, Ana, Fitri, Lia, Lala, Susan dan banyak lagi perempuan di Poso merasa cadar tak pernah membatasi mereka dalam bergaul. Mereka mengaku tetap terbuka dan mudah berteman dengan siapa saja. Sementara soal radikalisme dan terorisme, mereka sepakat menolak paham-paham yang mengajarkan kekerasan.

Di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah ada ratusan perempuan muslim yang mengenakan cadar sebagai pakaian keseharian mereka. Warga pun tampak sudah mulai terbiasa dengan model pakaian yang sebenarnya baru mulai marak dikenakan usai konflik komunal antara massa Kristen dan muslim sejak 1998 lalu.

Beberapa pengurus di Pesantren Islam Amanah menyebut cadar tak pernah menjadi penghalang bagi para santri untuk berprestasi. Santri-santri Amanah bahkan beberapa kali sampai di level-level tertinggi Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) yang mengantar mereka hingga ke banyak daerah untuk bertanding, seperti Batam, Jepara, dll.

Bukan Simbol Poligami

Pandangan miring lainmya yang kerap dialamatkan ke perempuan bercadar adalah poligami, yakni bahwa perempuan yang mengenakan cadar gampang ditinggal nikah lagi. Tentang ini, Sari bereaksi keras. “Semua perempuan sebenarnya sama, nggak mau diduakan. Berat,” kata dia.

Meski begitu, Sari mengaku bahwa poligami adalah bagian dari syariat agama. “Jadi, kalau suami mau nikah lagi, Anda dipoligami, mau nggak?”

“Nggak mau!”

Obrolan dengan perempuan-perempuan bercadar ini berjalan lancar, mereka tak tampak kaku apalagi menghindar. Beberapa pengajar pria yang turut dalam obrolan itu menyebut cadar bukan penghalang, artinya para perempuan ini tetap bisa berinteraksi seperti biasa. Cadar lebih berfungsi sebagai pembatas, ia membatasi pergaulan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram agar tak sampai pada level yang bukan-bukan.

Dari obrolan di banyak perjumpaan saya dengan perempuan-perempuan bercadar di Poso, saya tak merasa diintimidasi apalagi dihantui kecemasan bahwa saya akan disakiti. Mereka asyik dan sangat friendly.

Jadi, siapa yang bilang perempuan bercadar sangar? mainmu kurang jauh!

Eklektisisme Kiai Sadrach

Pada akhirnya “Kebenaran” itu laiknya mentari dan manusia hanya dapat menangkap bayangannya pada lautan, telaga, sungai atau bahkan pada nyala di sepasang matanya sendiri.

Heru Harjo Hutomo

Di Jawa tampaknya agama tak pernah hadir sebagai sebuah ganjalan untuk mencari sebuah “kebenaran.” Mulai dari Ronggawarsita yang selain mesantren dan berguru pada Kanjeng Kiai Kasan Besari juga berguru pada para penganut kapitayan (penghayat kepercayaan—red) dan spiritualis Hindu (Ajar); R.P. Natarata yang selalu mempertanyakan dan berpolemik dengan kepercayaan-kepercayaan lainnya—sampai dia menemukan jawaban atas pengarahan Sayyid Oidrus di Betawi dan seorang kiai khos di Surabaya—; dan Kiai Sadrach yang selain mesantren di Tebuireng juga pernah berkontak dengan Kiai Ibrahim Tunggul Wulung yang akhirnya membabarkan apa yang disebut sebagai Kristen Jawa di Karangjoso, Purworejo. Semuanya ini seperti membuktikan tesis M.C. Ricklefs bahwa di Jawa agama pada dasarnya hadir lebih sebagai spiritualitas. Sejarawan yang baru saja meninggal dunia itu menamakan fenomena ini sebagai “mistik sintesis” (Polarizing Society: Islamic and Other Visions [C. 1830-1930], 2007).

Dengan segala divergensi sosok Kiai Sadrach itu, dalam kacamata saya, dia seperti seorang pemimpin sebuah tarekat. Sebagian tradisi protestan, sejauh yang saya tahu, melarang adanya ikonoklasme, tapi Kiai Sadrach justru menaruh cakra manggilingan bumi (lit. roda yang terus berputar—red) dan pasopati (senjata andalan Arjuna—red) di pucuk mustaka gerejanya yang berarsitektural laiknya sebuah masjid. Senjata cakra adalah senjata khas para titising Wisnu dan pasopati adalah lambang jumbuh-nya (keselarasan—red) Arjuna dengan Bathara Guru. Dahulu kala dalam jagat pewayangan terdapat dua lakon wayang yang dikategorikan kasepuhan: Dewa Ruci dan Ciptaning. Dan di masa lalu dua lakon wayang kasepuhan ini dipilih oleh dua gagrak (model—red) besaryang secara politik-kebudayaan merujuk ke keraton tertentu: Dewa Ruci dipilih Surakarta dan Ciptaning dipilih Ngayoyakarta—meskipun di hari ini keduanya tak lagi menjadi perdebatan.

Dalam sejarah Islam sendiri ada banyak sosok divergen dengan segala variannya, al-Hallaj yang konon terpengaruh ajaran Hindu dengan konsep hulul-nya yang dalam catatan Massignon kerap tak berbusana laiknya ulama Islam (Al-Hallaj Sang Sufi Syahid, 2001). Dia pun memiliki beberapa murid di India dan disebut sebagai “Pir” oleh masyarakat setempat yang setara dengan istilah mursyid dalam tarekat. Adapula, di nusantara, seorang Ronggawarsita yang tak hanya pernah terkenal sebagai seorang santri, tapi juga seorang yang salah satu karyanya, Wirid Hidayat Jati, menjadi kitab sakral para anak murid Ki Ageng Djoyopoernomo di Temuguruh (Perang Jawa Sebagai Tonggak Historis Islam Nusantara, Heru Harjo Hutomo, https://jurnalfaktual.id).

Apalagi di masa kolonial Belanda, tak lazim para penduduk memiliki secarik kartu identitas yang memuat pula kolom agama di dalamnya sebagaimana sekarang, di mana divergensi pada akhirnya adalah suatu hal yang lumrah. Dalam salah satu catatannya, Abdurrahman Wahid pernah mengetengahkan tilikannya atas karakteristik orang-orang nusantara di masa silam dan menyebutnya sebagai sebentuk “eklektisisme yang produktif” (Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Indonesia & Transformasi Kebudayaan, 2007).

Kiai Sadrach, tak pelak lagi, adalah salah satu sosok yang saya kira juga eklektik. Dia hadir sebagai seorang pengembara spiritual, dari seorang santri di Tegalsari dan Tebuireng hingga menjadi seorang penginjil yang secara kultural menata para pengikutnya laiknya masyarakat pedesaan: gereja yang berbentuk seperti masjid, sarung dan kualitas diri sebagaimana lazimnya orang yang dianggap sebagai sesepuh di pedesaan Jawa. Tentu dari kalangan Kristen sendiri divergensi ini bukan tanpa masalah mengingat puritanisme yang kuat dalam tradisi Protestan.     

Ruang ambang yang dipijak oleh Sadrach dan para pengikutnya memang terlihat tak mudah untuk dihidupi. Di satu sisi, mereka adalah orang Jawa yang lekat dengan kejawaannya. Di sisi lain, mereka adalah penganut Protestan yang waktu itu identik dengan kolonialisme Belanda. Sementara dari sudut pandang keyakinan, mereka adalah pemeluk iman kristiani, tapi ekspresi kehidupan keseharian mereka seperti halnya masyarakat muslim pedesaan Jawa pada umumnya: bentuk arsitektural dan penyebutan gereja sebagai “mesjid” serta sarungan sebagai bentuk busana keseharian—meskipun mereka tak mempraktikkan tradisi ruwahan dan ziarah kubur laiknya masyarakat pedesaan Jawa.

Terkadang, saya berpikir, bahwa pada akhirnya “Kebenaran” itu laiknya mentari dan manusia hanya dapat menangkap bayangannya pada lautan, telaga, sungai atau bahkan pada nyala di sepasang matanya sendiri.

Disclaimer: Tulisan ini pernah terbit dengan judul “Kyai Sadrach dan Divergensi” di portal https://jurnalfaktual.id. Diterbitkan ulang di laman ini seizin penulis.  

Class-Project Simbol-Simbol Agama

Perkuliahan di Prodi Studi Agama-Agama menganut filosofi output-based learning. Setiap kelas diupayakan menghasilkan output beragam media yang tujuannya untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa baik dari sisi teori maupun praktik. Di bawah ini adalah hasil class-project dalam matakuliah Simbol-Simbol Agama. Mahasiswa membuat mini-video yang menjelaskan makna dari simbol Tridharma. Data diperoleh langsung dari lapangan melalui metode dokumentasi dan juga wawancara. Check it Out!