Aroma Toleransi di Seporsi Nasi Lawar

Sejatinya makanan tidak beragama. Termasuk makanan tidak ingin berharap dimakan oleh siapa dan beragama apa meski sejak awal makanan sudah dipersepsi sedemikian rupa.

—- Bethriq Kindy Arrazy

Pada awal 2019, saat berkunjung ke Pulau Bali, saya mengamati setiap sudut di Bali bertebaran warung nasi lawar yang cukup populer sebagai salah satu kuliner khas Bali. Seperti halnya warung nasi tempong di kampung halaman saya di Banyuwangi yang beragam penjual serta cita rasanya.

Rasa penasaran tersebut kujawab sendiri dengan mendatangi warung nasi lawar di kawasan Jalan Pulau Belitung. Setiap sore hari nyaris di waktu penghujung petang, warung tersebut sering ramai dikunjungi pembeli, mulai dari tukang ojek, kuli bangunan, karyawan kantor, sampai ibu-ibu yang kehabisan lauk pauk di rumahnya.

Seusai mengantri cukup lama, tiba giliranku untuk memesan menu. Pak Nengah dan Bu Kadek, pasangan suami istri sekaligus pemilik warung sudah bersiap dengan posisinya masing-masing. “Maaf Pak apakah nasi lawar ini mengandung olahan.” “Tidak menggunakan daging babi Mas. Halal!” kata Nengah dengan suara tegas memotong kalimatku yang tak sempat kutuntaskan.

Tanpa memperkenalkan diri, Nengah seketika mengenaliku sebagai seorang muslim. Mungkin karena diamelihat jenggotku tumbuh di dagu, juga plat nomor kendaraanku yang tertera huruf P di depannya. Huruf tersebut mengasosiasikanku berasal dari Jawa Timur, kawasan tapal kuda paling timur yang melingkupi Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso yang dominan dengan warga muslim.

Mendengar pertanyaan itu, Nengah tak lantas tersinggung atau menunjukan ketidaksukaannya. Dia mengapresiasi keberanianku untuk bertanya sekaligus mengonfirmasikan keraguanku akan nasi lawar yang dijualnya. Baginya, hal tersebut wajar bila berhubungan langsung dengan keyakinan yang di dalamnya memuat doktrin perintah dan larangan.

“Selama ini dari sebagian saudara muslim, mohon maaf, kurang bergaul dan berinteraksi untuk memahami bahwa nasi lawar adalah makanan enak yang kaya bahan rempah,” katanya.

Nengah tidak menampik tudingan  tentang  nasi lawar dianggap makanan haram. Walau juga tidak menganggap sepenuhnya benar. Secara umum, penyajian lawar terbuat dari bahan baku utama daging cincang, sayur, parutan kelapa yang dicampur dengan sejumlah rempah-rempah. Tidak lupa sate lilit dan kuah ayam betutu sebagai pelengkap rasa nasi lawar.

Lawar juga memiliki dua jenis sajian berdasarkan warna. Pertama, lawar putih yang berisi bahan-bahan original yang sudah disebutkan sebelumnya. Kedua, yang menjadi kontroversial adalah lawar merah yang salah satu bahan bakunya menggunakan darah yang berasal dari daging hewan yang menjadi pelengkapnya—dengan cara mencampurnya bersama bahan original sehingga nampak berwarna merah.

Bagi keyakinan sebagian umat Hindu, lawar merah sebagai makanan dipercaya dapat memberikan tambahan tenaga hingga memberikan dampak positif untuk kesehatan. Darah yang digunakan juga bukan sembarang darah. Tidak bisa menggunakan darah ayam, bila daging cincang yang digunakan adalah daging babi, maka darah babilah yang digunakan sebagai campuran pelengkap.

Adapun penamaannya beragam, sesuai dengan jenis daging yang digunakan. Misalnya, sebutan lawar ayam berarti daging yang digunakan adalah daging ayam. Lawar kambing, maka daging yang digunakan adalah daging kambing, begitu seterusnya. Penamaan berdasarkan jenis daging seperti ini lebih populer digunakan di warung-warung nasi lawar pada umumnya, daripada berdasarkan jenis warna.

Selain diperjualbelikan, nasi lawar juga biasa dimanfaatkan sebagai hidangan keluarga. Tidak kalah penting nasi lawar juga dipergunakan untuk kegiatan adat, agama, dan hari raya. Bahkan, lawar juga dipercaya sebagai sarana atau medium untuk mendekatkan diri kepada Tuhan karena bahannya yang sebagian besar berasal dari alam. “Sebagai wujud syukur karena sudah dicukupkan,” kata Kadek.

Selama ini sebagian dari muslim beranggapan nasi lawar adalah makanan haram. Walau sesungguhnya ungkapan tersebut sebaiknya tidak untuk digeneralisasi sebagai sebuah ketakutan pikiran. Kalangan muslim perlu melakukan pembuktian empiris untuk mengklarifikasinya. Mengingat hasil olahan nasi lawar terdapat banyak varian jenis, termasuk bahan daging yang digunakan.

Nasi lawar saat ini tidak tepat lagi bila diasosiasikan secara brutal. Perihal nasi lawar adalah buatan warga umat Hindu Bali semata yang secara langsung disematkan atau distempel terdapat campuran darah binatang tertentu, dalam  hal ini adalah babi. Beragam kalangan non-Hindu dan non-Bali kini sudah dapat membuat sendiri. Walau barangkali dari aspek rasa mungkin saja berbeda.

Namun rasanya tidak hanya nasi lawar yang mendapatkan kecurigaan serupa. Beragam respons label makanan berbahan baku daging babi dapat ditemui sebuah warung menggunakan jargon, “100% haram” sebagai penanda menu yang dijual tidak layak disajikan kepada kalangan muslim. Pun sebaliknya, jamak ditemui kalangan muslim berdagang makanan dengan menggelar lapak bernuansa etnosentris seperti penyematan nama daerah dan agama, misalnya: Warung Muslim Banyuwangi.

Hal demikian sah-sah saja untuk dilakukan sebagai penentu segmentasi pembeli makanan. Selain juga sebagai bentuk keterbukaan atau transparansi penjual kepada pembeli. Sekalipun soal rasa, otoritas pembelilah yang paling berkuasa. Walaupun beberapa momentum tertentu, kita (pembeli) pernah merasakan kekecewaan yang luar biasa karena ulah pedagang nakal yang juga seiman turut menjual makanan dengan bahan daging babi sampai tikus.

Sejatinya makanan tidak beragama. Termasuk makanan tidak ingin berharap dimakan oleh siapa dan beragama apa meski sejak awal makanan sudah dipersepsi sedemikian rupa. Hanya bahan makanan apa yang dibuat dan dalam kondisi (waktu) seperti apa makanan ‘tertentu’ layak dimakan bisa terbuka dalam perdebatan. Maka, lawar dapat dibuat sesuai selera penganut agama mana pun, termasuk muslim. Maka pilihan selera kuliner yang berbeda perlu dihormati tanpa perlu mencaci.

Bila waktu Anda sedikit longgar dan sedang berlibur di Bali, cobalah sesekali jalan-jalan di beberapa sudut di Bali. Barangkali dengan cara demikian, Anda dapat menemukan warung nasi lawar langganan yang cocok dengan selera Anda untuk menjawab segala keraguan yang mengendap di kepala. Seperti saya yang sudah terlanjur cocok dan sesekali masih menikmati nasi lawar sembari mendengarkan Nengah dan Kadek berkisah seperti kepada kerabatnya sendiri.[MFR]

Sayur Podomoro: Amunisi Orang Jawa Tangkal Pagebluk

Fitrohana Nur’Isma Zubaeda*

Photo Source: https://lestariweb.com/Indonesia/SayurPodomoro.php

Saat ini, Indonesia tengah menghadapi bencana non-alam yang disebabkan adanya koronavirus (Covid-19). Untuk mengatasi persebaran virus ini, langkah-langkah medis-ilmiah terus digaungkan dan disosialisasikan oleh pemerintah. Di antaranya adalah kewajiban pemakaian masker ketika berkendara atau di tempat umum, penyemprotan desinfektan di tempat-tempat umum dan rumah, penggunaan handsanitizer atau mencuci tangan dengan sabun, melakukan physical distancing (renggang fisik). Bahkan, saat ini pemerintah menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di Provinsi DKI Jakarta. Kebijakan ini ditempuh karena jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Provinsi DKI Jakarta sudah mencapai 3.112, artinya menyumbang sekitar ± 46 % dari jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia, yaitu 6.760 per tanggal 20 April 2020 (dilansir dari website resmi https://corona.jakarta.go.id).

Bila pemerintah wajib menempuh cara-cara ilmiah dan terukur dalam melawan koronavirus, tidak selalu demikian dengan masyarakat. Masyarakat Jawa, misalnya, memahami segala melalui jejaring makna simbolis yang menyulam setiap aspek kehidupan mereka. Bagi masyarakat Jawa, dunia ini terlalu rumit untuk direduksi pada semata-mata pendekatan ilmiah. Maka adalah maklum jika pendekatan non-medis dalam menghadapi pagebluk ini juga lazim di kalangan masyarakat Jawa. Mereka meyakini benda atau barang tertentu sebagai penolak wabah bukan karena sudah ada bukti medis, tapi karena itu adalah bagian dari alam pikir masyarakat Jawa.

Fenomena ini bisa kita saksikan, misalnya, di Kota Kediri, khususnya Dsn. Bence. Seperti warga di tempat lain, warga di sana saling membantu dengan cara berbagi masker secara gratis dan membagikan sembako kepada tetangga yang usahanya terdampak Covid-19 imbas dari kebijakan stay at home. Tetapi ada sesuatu yang menarik dilakukan oleh warga di Bence, yaitu memasak “Sayur Podomoro” kemudian dibagikan kepada para tetangga mereka.

Kata “Podomoro” sendiri memiliki arti “datang semua”. Nama “Podomoro” diambil dari banyaknya sayur dan bumbu saat memasak Sayur Podomoro. Masyarakat Jawa memaknai Sayur Podomoro sebagai upaya mereka meminta keberkahan kepada Tuhan agar semua kebaikan berbondong-bondong mendatangi mereka. Hal tersebut terwujud dari banyaknya jenis sayuran yang terdapat dalam Sayur Podomoro di mana setiap sayur mewakili atau memiliki arti yang berbeda dari setiap harapan masyarakat. Pada zaman dulu, Sayur Podomoro sering dimasak pada saat warga memiliki hajatan besar denga harapan agar acara hajatan mereka berjalan lancar dan terhindar dari bala.

Namun, saat ini Sayur Podomoro dimasak dengan tujuan agar terhindar dari Covid-19. Dari sini terjadi perubahan suatu pemaknaan suatu budaya oleh masyarakat karena adanya perubahan situasi dan kondisi. Apabila kita pakai analisis Geertz, realitas ini menunjukkan bahwa Sayur Podomoro, bagi masyarakat Jawa, bukan sekadar makanan yang mengandung gizi tertentu, tapi ia juga simbol pengharapan akan hadirnya kebaikan dari Sang Maha Kuasa.

Bagi masyarakat Jawa, Sayur Podomoro setiap bahan dalam Sayur Podomoro memiliki makna tersendiri. Menurut tradisi lisan yang saya peroleh dari nenek dan orang tua saya, makna setiap bahan dari Sayur Podomoro sebagai berikut:

Godhong salam tegese ngge salam, Assalamualaikum,” artinya daun salam sebagai bentuk ucapan salam yaitu Assalamualaikum; “Godhong jeruk tegese ben nglumpuk” artinya daun jeruk supaya bisa berkumpul dengan orang sholeh dan baik; “Godhong eso, tegese pasrah marang sing Kuoso,” artinya daun eso artinya sebagai manusia kita harus pasrah pada Sang Pencipta (Allah); “Kulit mlinjo arane Tangkil, tegese ben tangkil-tangkilan,” artinya agar kita bisa berkumpul dan bersatu.  

Kacang dowo tegese ben umure dowo lan lek mikir dowo,” artinya kacang panjang agar kita diberi umur yang panjang dan berpikir panjang (matang) sebelum bertindak. “Kates tegese ben ethes,” artinya Pepaya agar kita sekeluarga lincah dan selalu diberi kesehatan oleh Allah. “Gambas tegese ben bebas,” artinya gambas agar kita terbebas dari segala masalah. “Waluh tegese ben atine iso luluh,” artinya labu agar hati kita luluh, rendah hati dan bisa mengambil hikmah dari masalah yang ada. “Kluwih tegese ben luwih-luwih,” artinya kluwih agar kita diberikan rejeki yang lebih oleh Allah.

Tewel tegese ben ora rewel,” artinya buah nangka muda tidak cengeng, tegar dalam menghadapi masalah. “Blonceng tegese ben oleh blonjo kenceng,” artinya labu air agar mendapat uang untuk belanja yang lancar. “Tempe lan tahu tegese ben regu,” artinya beregu, kumpul bersalam keluarga. “Telo rambat tegese ben rejekine iso mrambat,” ketela rambat artinya agar bisa mendapat rejeki yang datangnya tidak disangka-sangka. “Telo kaspe tegese rame ing gawe, karepe sepi ing pamrih,” artinya ketela pohon agar ikhlas berbagi dengan orang lain dan tidak mengaharapkan imbalan.

Brambang Bawang tegese ben gak grambyang angen-angene,” artinya bawang merah dan putih agar memiliki keyakinan yang kuat pada Allah. “Lombok tegese kalem marang si embok,” artinya cabai agar kita sopan dan patuh pada ibu. “Uyah tegese rejekine gembrayah,” artinya garam agar mendatangkan rejeki yang banyak. “Tumbar tegese ben tumbuh sabar,” artinya ketumbar agar kita bisa lebih sabar. “Merico tegese ben gak meri marang konco” artinya merica agar kita tidak iri dengan apa yang dimiliki teman. “Pete tegese ben gak sepet,” artinya petai agar hidup ini tidak hanya mengalami kepahitan. “Santen kelopo tegese sopo sing kangelan iso nompo” artinya santan kelapa orang yang mau bersusah-susah pasti akan mendapat kesenangan atau kebahagiaan.

Terlepas benar tidaknya bahwa Sayur Podomoro dapat menolak bala atau malapetaka, namun ketika warga memasak Sayur Podomoro tersebut merupakan bentuk usaha dan harapan mereka dalam melawan Covid-19 melalui kearifan lokal yang mereka miliki dan dalam prosesnya disertai do’a pada Tuhan agar mereka dapat terhindar dari wabah virus yang terjadi saat ini. Mungkin kepercayaan ini di luar nalar ilmiah, masuk sains semu (pseudosains), atau dianggap hanya cerita dari mulut ke mulut. Akan tetapi, bagi orang Jawa, Sayur Podomoro tidak hanya membuat fisik sehat tapi ia juga simbolisasi ikhtiar spiritual melawan serangan koronavirus dan optimisme bahwa, dengan bantuan Sang Kuasa, pagebluk ini pasti akan berakhir.  

Fitrohana Nur’Isma Zubaeda adalah mahasiswa SAA-2017. Tulisan ini adalah bagian dari tugas matakuliah “Agama dan Kearifan Lokal”