Religion and the Modern World

In the end, people can choose to believe in what they want to believe. People can choose to believe in religion or believe in science, and neither of them can fully understand what they believe.

—–Joelinus Jason Hidayat

Nowadays, people doubt the existence of religion and the relevance of religion in the modern era. Modern people argue that religion has shifted its purpose from bringing people to a better life in the opposite direction. They see religion can no longer provide solutions to social problems but it instead creates social troubles. Many behaviors from the religious perpetrators make people no longer consider religion a peaceful entity.

Abuse of power and injustice committed by religious leaders to their congregations, camping for religious people against the infidel, violence in the name of religion to oppose certain groups, or hostilities between religious communities to prove whose faith is right are among the many examples.  Because they feel religion cannot provide peace and comfort, people choose not to have religion rather than having to fall into disputes and discomfort. Therefore, modern people choose to renounce religious faith and prefer science as a substitute for religion for the betterment of human civilization. They assume science can be understood easily, unlike religion, and do not create unrest in the social environment.

Rapidly growing science is increasingly convincing people that the scientific phenomenon can now explain things that happened in the past that previously considered being God’s power. However, not all human needs can be satisfied by science alone. Modern people still need to believe in religion because religion provides more than an explanation of nature’s world or the world’s afterlife but also anything beyond it. Religion provides community and friends where everyone can be well received and treated like a brother/sister. Moreover, it is like glue that holds one’s identity together. For example, Muslims from various regions came to the holy land of Mecca and are well received by the people there and treated as families because they hold the same identity. This proves that the beauty of religion as providing community and holding identity that occurs in society is still closely interrelated.

Religion also provides psychological support that cannot be given from science. Religion gives mental strength and comfort to grieving people. For science, grieving is irrational, and people cannot dissolve in yearn. This is different in the view of religion; people can be sad, and religion will help them to get out of sadness and return to live a new life. In a desperate situation, people can rely on faith to give them hope in overcoming problems beyond their control. When people begin to lose direction and despair because of their failure, religions appear to provide motivation and support. Religion comes to calm fears of failure and invigorates the believer to keep moving.  Religion plays an essential role in emotional life that cannot be reached by science. For the most part, religion is an instrument to give mental peace, mental comfort, and mental satisfaction to the believer.

Religious practice is one of the ways to get mental peace and psychological support. However, many modern people cannot accept something they do not understand. Understanding religion is not like understanding science. It needs a different approach to understanding religion. Religion is learned in extraordinary ways. To understand religion, modern people need to believe it first. In fact, people often believe in something before they understand it, but they never realize it. For example, people know that the covid-19 outbreak is dangerous to human civilization. However, if they are required to explain in detail why the covid-19 virus can be life threatening and dangerous, it is likely they cannot answer clearly. They can believe that virus covid-19 is dangerous, but they do not know clearly, why this virus is dangerous. This is because they trust the scientist, doctor, or expert who said that.

Like religion, modern people can also believe in what they do not understand because they believe in someone else who understands. Believing in people who testify the truth of religion or religious leaders or religious authority will help modern people believe in religion without fully understanding it. Another thing is that life is too short; there are many things to know, and humans do not have much time to know everything. That is why humans have a limit, and sometimes they need a shortcut to understand something.

In the end, people can choose to believe in what they want to believe. People can choose to believe in religion or believe in science, and neither of them can fully understand what they believe. Agree to disagree seems to be a perfect phrase to respond to people’s different views toward belief. The most important thing is to understand each other and creating a peaceful environment.[MFR]

Kepemimpinan di Era Disrupsi

Era disrupsi cuma menyediakan dua pilihan: win or lose. Kita akan menjadi pemenang bila mampu beradaptasi cepat dengan perkembangan teknologi. Sebaliknya, kita akan kalah dan menjadi pecundang bila tidak membiasakan diri dengan perkembangan teknologi terkini

—- Achmad Faisol Haq

Berbicara tentang kepemimpinan tentu bukan hal baru. Tetapi bagaimana tipologi kepemimpinan dan perilaku pemimpin mengejewantah sejalan dengan zaman yang dihadapi, terutama di era digital saat ini, akan terus menarik diulas. Apabila seorang pemimpin masih menggunakan cara-cara lama yang tidak sesuai dengan zamanya, maka kepemimpinannya tidak bisa lagi dipandang relavan.

Pada era digital saat ini, penggunaan internet pada masyarakat sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Seorang anak yang baru berusia 2 tahun saja ketika sedang menangis kemudian disodori handphone secara mengejutkan tangisnya itu akan segera berhenti. Hal ini menandakan bahwa perangkat digital sudah merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Penggunaan internet di Indonesia sendiri melalui laman datareportal.com/reports/digital-2020-indonesia, per Januari 2020, sebanyak 175 juta pengguna dari jumlah penduduk Indonesia 272.1 juta. Artinya, hampir 65% penduduk Indonesia sudah memiliki akses internet dalam kehidupan keseharian mereka.

Akan tetapi, kalau dilihat dari laman hdr.undp.org dalam Human Devolepment Reports, posisi Indonesia berada di peringkat 111 dari 189 negara di dunia. Hal ini menandakan sumber daya manusia Indonesia masih sangat jauh tertinggal dari negara-negara maju lainnya. Di satu sisi penggunaan internet tinggi, akan tetapi dari sisi sumber daya manusia, terutama dalam hal tekonologi,  Indonesia masih sangat jauh tertinggal, bahkan tertinggal dari negara-negara di Asia Tenggara seperti Thailand. Oleh karena itu, lembaga-lembaga pendidikan juga dituntut bisa berperan aktif dalam meningkatkan sumber daya manusia masyarakat Indonesia dalam bidang teknologi.

Dampak Perkembangan Digital

Pada era digital, inovasi dalam bidang teknologi berubah dengan begitu cepat dan membawa perubahan yang sangat banyak pada kehidupan masyarakat. Banyak ahli menyebut fenomena ini dengan Distruption Era. Dampak dari perkembangan teknologi pada saat ini setidaknya memiliki empat dampak. yakni volatile, uncertain, complex, ambigue (VUCA). Dampak pertama, volatile (bergejolak), dicontohkan oleh sepak terjang Nadiem Makarim dengan Gojek-nya kala itu. Kemunculan Gojek di tenggah-tengah masyarakat membuat gejolak tersendiri antara ojek konvensional dan ojek online, bahkan sempat terjadi ketegangan antara keduanya.

Dampak yang kedua, uncertain (tidak pasti), mengasumsikan bahwa perkembangan teknologi yang begitu cepat dalam kehidupan masyarakat telah melahirkan ketidakpastian. Misalnya, kehadiran satu tipe smartphone baru diikuti dengan tipe baru lagi hanya dalam beberapa bulan saja. Teknologi  yang kita angap bagus pada hari ini belum tentu bagus pada tiga hingga empat bulan ke depan. Inilah imbas dari perkembangan teknologi yang berinovasi dengan begitu sangat cepat.

Dampak yang ketiga, complex, mendalil bahwa teknologi digital telah menciptakan ketakterbatasan. Kalau dulu komunikasi dilakukan dengan cara face to face, pada era digital saat ini tiap-tiap individu bisa saling langsung tersambung dengan cara video call tanpa terbatasi oleh jarak dan tempat; rapat online menggunakan aplikasi zoom, misalnya, membuat seseorang mampu berkomunikasi tanpa harus bertemu langsung atau berada di tempat yang sama. Dampak keempat dari perkembangan digital adalah ambigue (tidak jelas); dengan perkembangan informasi digital yang begitu cepat dan melimpah turut juga memunculkan pelintiran informasi (hoaxs) di tengah masyarakat.

Kepemimpinan Era Digital

James Brett, dalam bukunya Evolving Digital Leadership: How to Be a Digital Leader in Tomorrow’s Distruptive World, menjelaskan tiga komponen yang harus dimiliki seorang pemimpin pada era digital. Yang pertama adalah deeply understanding people; seorang pemimpin pada era digital itu harus dapat memahami dirinya dan orang lain secara mendalam. Individu dalam suatu lingkup organisasi harus memiliki kesadaran yang tinggi terhadap dirinya dan kepedulian yang tinggi terhadap organisasinya. Pada akhirnya mereka sadar bahwa mereka membutuhkan kolaborasi antara individu sehingga tidak ada yang merasa tidak penting dalam suatu tatanan organisasi; semua memiliki peran sesuai dengan tupoksi dan tugas masing-masing.

Komponen kedua yang harus dimiliki seorang pemimpin di era digital adalah kemampuan digital organization. Yaitu, bagaimana seorang pemimpin suatu organisasi mampu mengelola sumber daya, baik berupa manusia maupun nonmanusia seperti perangkat digital. Seorang pemimpin harus mampu meng-uprgade kompetensi anak buah supaya bisa melek terhadap teknologi. Pemimpin juga harus mampu mengembangkan sarana dan prasarana sesuai dengan teknologi mutakhir dan kebutuhan organisasi tersebut.

Komponen ketiga, ungkap James Brett, adalah dive and integrate tech-trends. Seorang pemimpin di era digital harus mampu mengendalikan dan mengintegrasikan tren teknologi yang berkembang. Seorang pemimpin di era digital harus adaptif dengan perubahan teknologi yang terjadi; dia dituntut harus segera memahami, mengeksplorasi dan mengembangkan perkembangan teknologi yang terjadi. Komponen-komponen kepemimpinan seperti ini akan melahirkan pemimpin yang mampu membawa organisasinya terus berkreasi dan berinovasi pada era digital ini.

Membangun Kepemimpin di Era Digital

Era digital yang berkembang begitu cepat serta langsung berdampak pada kehidupan masyarakat menuntut kita sebagai pendidik mempersiapkan anak didik kita menjadi pemimpin digital sehingga tidak gagap kelak dalam menghadapi perubahan zaman. Hal ini bisa kita lakukan dengan empat cara. Pertama adalah quick responses (repons cepat).  Kita, baik secara individu maupun kelompok, harus dapat merespons dengan cepat perkembangan teknologi terkini. Dengan berkembangnya teknologi, kebiasaan manusia juga akan berubah dengan begitu cepat. Maka dari itu, sejak kini kita harus mampu memberi respons cepat juga terhadap perkembangan teknologi kekinian.

Kedua adalah quick adaptation (beradaptasi cepat). Merespons dengan cepat perkembangan teknologi belum cukup karena harus juga ditopang dengan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi yang mutakhir. Kita harus juga mampu menguasai teknologi terkini sehingga kita tidak dianggap gagap teknologi.

Ketiga  adalah quick thinking (berfikir cepat). Seorang pemimpin digital harus mampu berpikir, berinovasi, dan berkreasi dengan cepat. Kebaruan dalam teknologi dapat digunakan dan dimanfaatkan dalam rangka untuk membangun sumber daya manusia yang dia pimpin.

Keempat adalahquick action (beraksi cepat). Di era disrupsikita tidak bisa lagi menunda-nunda pekerjaan. Prokrastinasi hanya akan membuat kesempatan dengan mudah hilang. Era disrupsi cuma menyediakan dua pilihan: win or lose. Kita akan menjadi pemenang bila mampu beradaptasi cepat dengan perkembangan teknologi. Sebaliknya, kita akan kalah dan menjadi pecundang bila tidak membiasakan diri dengan perkembangan teknologi terkini.[MFR]

Techno-Religion: Menggapai Ilahi Dengan Teknologi

Photo Source: https://www.learnreligions.com/technology-as-religion-4038599

Dalam sebuah acara bertajuk “Techno-Religions and Silicon Prophets” di Google Talks, Yuval Harari dengan berapi-rapi menjelaskan pola keberagaman masyarakat modern yang disebutnya telah mengalami banyak sekali perubahan, salah satu sebabnya adalah ketergantungan masyarakat modern, tak terkecuali yang religius, terhadap teknologi.

Ketergantungan ini bahkan telah menyebabkan banyak retakan pada pondasi keagamaan. Retakan yang pertama adalah fakta bahwa ‘kiblat’ untuk agama-agama besar telah bergeser. Tak lagi di Mekah, Israel atau wilayah-wilayah religius dan suci lainnya; kiblat untuk agama modern saat ini adalah Silicon Valley.

Barangkali, Silicon Valley dianggap lebih relevan untuk menjadi tumpuan pola keberagamaan masyarakat modern yang tak sabaran, tak sabar untuk menikmati surga, nanti setelah mati. Tak sabar untuk mereguk susu langsung dari sungai-sungai yang berserakan di surga sana, entah di mana. Ketaksabaran ini membikin banyak masyarakat modern mengusahakan berbagai cara untuk mencecap nikmat surga secara lebih cepat, termasuk dengan memindahkan image sang ilahi ke gulungan-gulungan kabel teknologi.

Harari tak sedang bilang bahwa agama yang lawas telah tewas, tidak. Yang ia tekankan adalah pergeseran pola keberagaman masyarakat yang telah berubah, khususnya dalam mengartikan agama, komplit dengan segala nilai-nilai sakralnya. Bagi sebagian masyarakat modern, tumpukan ajaran agama dianggap tak lagi relevan; ia hanya berisi panduan untuk menuju Tuhan, bukan tips and tricks menyelesaikan semua permasalahan di kehidupan yang sekarang; yang meskipun sementara, namun tetap saja menyiksa jika tak bisa menyelesaikan semua persoalannya.

Apalagi, manusia modern tak bisa dibujuk dengan janji-janji surga atau kebahagiaan tanpa akhir di kehidupan yang abadi nanti, sebab pilihannya adalah: jika bisa bahagia di dunia dan akhirat sana, untuk apa menanggung derita sebelum masuk surga?Karenanya, bahagia di dunia juga perlu menjadi prioritas yang tak boleh ditinggalkan, tak bisa digadai dengan kesalehan. Masyarakat modern yang masih menautkan diri pada agama, di mana pun berada, disatukan oleh keinginan yang sama; tetap relijius namun dengan banyak fulus.

Jalan di Tempat

Barangkali, para pendiri agama tak pernah membayangkan bahwa masyarakat bergerak begitu cepat; melakukan berbagai eksperimen dan berakhir dengan banyak penemuan penting. Seringkali, penemuan-penemuan ini berhasil mewujudkan gambaran surga sebagaimana kerap diobral para pemuka agama. Kata mereka, di surga nanti semua makanan sudah disediakan; apa yang dibutuhkan dapat segera didapat dengan satu-dua sentuhan. Dengan teknologi, manusia modern tak perlu menunggu surga untuk dapat merasakan fasilitas –yang dulunya—mewah ini. Tinggal klik Go-food atau Grab-food misalnya, makanan yang diinginkan akan segera datang. Tak perlu repot memasak, tak perlu pula antre lama di kedai makanannya; cukup tunggu saja di rumah, boleh sambil rebahan, seseorang akan segera datang mengantarkan makanan yang dipesan.

Hal lain yang membuat manusia tetap menautkan diri pada agama adalah keyakinan bahwa Tuhan lebih mengetahui apa yang baik bagi kita, sebab kita semua adalah ciptaan-Nya. Masalahnya, kebanyakan dari kita tak siap dengan kenyataan bahwa teknologi juga bisa melakukan peran itu; mengetahui diri kita lebih baik daripada diri kita sendiri. Sebabnya, perangkat-perangkat teknologi melihat tubuh kita bukan sebagai kesatuan antara jiwa dan raga dengan dimensi ilahiahnya, melainkan sebagai kumpulan algoritma biometrik.

Algoritma ini dapat dibaca, ditelusuri, dan dipahami. Sehingga teknologi, khususnya dalam bidang medis dan kesehatan, mampu memberikan pilihan solusi untuk berbagai potensi persoalan yang mungkin dihadapi oleh tubuh kita. Semisal, seseorang dapat melakukan langkah pencegahan berdasarkan hasil test medis yang menunjukkan bahwa ia berpotensi besar terkena serangan jantung dalam lima hingga tujuh tahun mendatang.

Hal ini menunjukkan bahwa ternyata bukan Tuhan saja yang bisa mengetahui diri kita secara lebih baik, teknologi juga bisa melakukan hal serupa, tentu dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Fakta ini tidak lantas berarti agama telah bisa dikalahkan oleh teknologi, deretan kenyataan ini hanya dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa di saat teknologi terus mengalami kemajuan dengan berbagai penemuan kelas kakap, agama masih saja jalan di tempat. Tak ada penemuan penting yang dihasilkan agama, masih saja berkutat soal surga dan neraka.

Kolaborasi

Namun agama bukan saja soal ajaran-ajaran Ilahi yang disekap dalam lembaran-lembaran kitab suci, tetapi juga perilaku umatnya yang mendaratkan ajaran-ajaran Ilahi ke bumi. Tentang ini, penjelasan Xuecheng penting untuk dihadirkan. Mantan presiden Buddhist Association of China itu menyebut agama memang barang kuno, namun orang-orangnya (umat beragama) adalah makhluk modern.

Karenanya, umat beragama sebaiknya mengakrabkan diri dengan teknologi, sebab dengan kemajuan teknologi, umat beragama justru makin mudah menggapai sang Ilahi. Dengan ditemukannya pesawat terbang, misalnya, orang dapat menempuh perjalanan jauh untuk berhaji dengan mudah dan menyenangkan. Tak perlu lagi menghabiskan waktu hingga berbulan-bulanmenyusuri daratan dan lautan untuk sampai ke tanah yang dimulaikan Tuhan.

Ini berarti, agama dan teknologi tak sepatutnya diletakkan di sudut-sudut yang berlawanan. Keduanya memang tak sama, namun bukan berarti tak mungkin untuk dikolaborasikan untuk kebaikan bersama.Jangan lupa, kemajuan teknologi tak hanya menghasilkan mesin-mesin canggih, tetapi juga berbagai aturan dan kesepakatan baru yang bermanfaat untuk hajat orang banyak. Itu sebabnya, menolak berkolaborasi dengan kemajuan jaman; dan malah asyik membenamkan diri pada ilusi jaman keemasan, justru membuat agama tampak tak relevan.

Semisal, jika perjalan suci dapat dilakukan dengan menggunakan kendaraan atau moda transportasi modern lainnya, kenapa masih lebih memilih menunggang kuda atau unta? Jika semua pendapat dan kepentingan orang banyak dapat diwadahi dalam sistem demokrasi, kenapa harus susah payah membangkitkan khilafah?

Agama dan teknologi sejatinya memiliki tujuan yang sama, yakni memudahkan hidup manusia. Karenanya, santai saja;tak perlu anti. Teknologi memudahkan kita menggapai ilahi. [MFR]